Sony Portable Reader System PRS-500

Sony Portable Reader System PRS-500Ini adalah anggota baru keluarga gadget yang kumiliki. Meskipun sudah punya banyak PDA yang bisa dipakai untuk membaca ebook, aku tetap merasa lelah membaca di PDA. Layar LCD yang berwarna mengeluarkan cahaya yang membuat mata lelah. Tertarik dengan teknologi e-Ink yang dipakai di Sony Reader, maka aku membeli benda ini dari tawaran iklan di Internet. Aku kesulitan mencari benda ini di Thailand, dan bahkan nggak bisa pesan dari Amazon, katanya hanya bisa untuk alamat US (kalaupun bisa, pasti ongkos kirimnya sangat mahal). Kalau Anda punya duit ekstra, mungkin seri terbaru (PRS-505) akan lebih baik untuk Anda, tapi menurut review, PRS-505 tidak jauh lebih baik dari PRS-500 untuk benda yang harganya lebih mahal 100 USD.

Aku dapetin benda ini nggak terlalu murah dan gak terlalu mahal, tapi mengingat kalau sekali aku ke toko buku bisa menghabiskan 300-600 ribu, rasanya benda ini gak terlalu mahal. Ada banyak penyedia buku gratis di Internet, dan ada banyak yang menjual versi ebook buku-buku baru dengan harga lebih murah dibanding versi cetaknya.

Teknologi e-Ink ini sangat nyaman untuk membaca ebook. Aku bisa bilang bahwa benda ini lebih baik dari yang lain karena aku dah mencoba aneka benda untuk membaca ebook. Aku udah menyelesaikan baca beberapa seri Hitchiker’s Guide To The Galaxy di Nokia 3650 (layar kecil, 4096 warna), aku dah baca Story of My Life Helen Keller, Time Machine (H.G Wells), dan beberapa buku lain di Handspring Visor (layar cukup besar, 4 grayscale level), pernah baca Life of Pi di Pocket PC (layar sebesar Palm, kalo gak salah 65 ribu warna), Every mans Battle di Nokia E61 (layar cukup besar, 16 juta warna), baca Jumper di Palm Tungsten E (layar warna, resolusi tinggi).

Sony PRS-500 bisa dipakai di Linux, Mac, dan Windows dengan menggunakan libprs500. Program tersebut juga mampu mendownload berita terbaru dari aneka sumber berita, dan memasukkannya ke Sony Reader secara otomatis. Dengan fitur itu, rasanya jadi seperti membaca koran sungguhan.

Weekend kemarin sibuk banget, bahkan minggu juga masih harus kerja di rumah, tapi di tengah kesibukan, aku dah berhasil membaca Novel 1984 di Sony Reader ini dan rasanya nyaman sekali. Beberapa catatan dari pemakaian ebook selama 5 hari adalah sebagai berikut:

  • Benda ini nggak cocok untuk membaca PDF teknis (tidak ada fitur search, PDF harus diformat agar sesuai layar Sony Reader)
  • Benda ini enak untuk membaca Novel dan berita Internet (benda ini sendiri gak punya koneksi Internet, jadi harus dibantu oleh program libprs500)
  • Libprs500 bisa mengkonversi aneka format menjadi format lrf yang merupakan native format Sony Reader (memflip page di ebook lrf lebih cepat dibanding PDF)
  • Situs feedbooks menyediakan buku-buku yang sudah diformat khusus untuk Sony Reader. Hati-hati dengan buku yang bergambar, karena gambar tidak disertakan (baru menyadari ini waktu mau baca Flatland).
  • Waktu membalik halaman bisa bervariasi bisa 0.8 sampai beberapa detik. Keterbatasan ini karena dua hal: pertama untuk merefresh halaman e-ink memang butuh waktu sekitar beberapa ratus millisecond, dan kedua diperlukan waktu untuk memparsing file (PDF butuh waktu lama) dan untuk memformat halaman (terutama halaman yang berisi gambar). Prosessor yang dipakai hanya ARM 200Mhz, ini lambat dibanding Kindle yang memakai ARM 400 Mhz.
  • Waktu pindah halaman, layar akan gelap (invert), lalu baru muncul halaman berikutnya, ini juga keterbatasan teknologi e-ink
  • Tidak ada backlight (tidak seperti LCD)
  • Benda ini tidak menggunakan touch screen
  • Batere bisa bertahan lama, karena untuk mempertahankan gambar di layar, tidak dibutuhkan energi. Benda ini membutuhkan energi hanya untuk berpindah halaman. Katanya sih bisa membalik/berpindah 7500 halaman sekali charge. Pada kenyataannya, batere lithium yang didiamkan (tidak dipakai sama sekali) kapasitasnya akan berkurang dengan sendirinya, jadi secara praktis benda ini bisa dipakai 1-2 minggu tanpa dicharge.

Sekarang ini Amazon menjual Kindle, yang juga memakai teknologi e-Ink. Teknologi layar yang dipakai tidak jauh berbeda dari yang dipakai PRS-500 (resolusi, dan jumlah warna sama, bedanya flip antar halaman lebih cepat), tapi dibarengi teknologi lain serti EDGE untuk download langsung dari Internet, dan dibarengi dengan toko buku Kindle yang cukup lengkap. Sayangnya Kindle ini masih mahal, dan hanya bisa dipakai di US, atau oleh orang yang punya kartu kredit US. Semoga ada banyak benda e-Ink di masa depan yang murah dan memiliki fitur yang jauh lebih baik.

5 thoughts on “Sony Portable Reader System PRS-500”

  1. Woww.. nice information, joe 😀
    Btw.. boleh tau harga total yg km bayar disitu gk? Aku liat di sonystyle.com sekitar $300 dollar.. belum ongkir, dsb.. 😀
    Oh iya, beli di internetnya di mana tuh? Sapa tau bs dibeli juga dari indonesia, hehe… di bhinneka.com belum ada sih…
    thanks 😉

    1. Beli dari iklan baris di Thailand, harganya 7000 baht (kurang dari 2 juta rupiah) dah termasuk ongkos kirim dari Pattaya ke Chiang Mai.

  2. mao nanya nih, tertarik juga. beli dimana?kisaran harga berapa?, kalo baca asli format pdf enak gak, liat review gak bisa di zoom. kalo di format ke lrf susunannya jadi ngaco gak?. Thx, gua juga seneng baca e-book, tapi cape ngeliat komp mulu.

    1. Halo Joni Boi,

      Belinya dari seseorang yang menawarkan di Internet (di Thailand, saya tinggal di Chiang Mai). Harganya 7000 baht (dah termasuk ongkos kirim). Kalo baca PDF yang memang diformat untuk sony reader (misalnya dari feedbooks) rasanya enak, tapi kalo pdf biasa (ukuran A4) jadi kecil banget.

      Soal Zoom: Format tertentu bisa dizoom teksnya (termasuk PDF) tapi biasanya lambat dan jadi 2 halaman.

      Kalo PDF atau DOC atau RTF yang ormatnya nggak aneh-aneh, susunannya gak ngaco. Kalo konversi PDF yang banyak gambar, hasilnya gak bagus. Dari hasil percobaan, kalo file PDF terlalu besar, bisa bikin sony readernya error (hang atau akan restart sendiri).

      intinya sih: sony reader atau yg sejenis itu lebih enak baca buku fiksi atau buku lain yg bacanya linear (nggak lompat2 dari satu topik ke topik ke yang lain). Lebih bagus lagi kalo bukunya nggak pake gambar yang banyak (kalo gambar kecil sih gpp asal gak terlalu banyak).

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.