Cara bertanya di dunia maya

Ini saya tuliskan karena sering sekali mendapatkan pertanyaan baik langsung maupun di group yang menurut saya tidak jelas dan kemudian membuang waktu semua orang. Jika seseorang bertanya dengan cara yang baik maka kemungkinan dijawabnya akan lebih besar dan lebih cepat.

Cari dulu di Google

Ada satu hal penting sebelum bertanya: cobalah dulu mencari dengan Google. Sekarang ini Google bisa ditanya dengan bahasa natural: “apa ibukota Indonesia?” dan akan dijawab “Jakarta”. Berbagai pesan error juga bisa dicopy paste ke Google untuk mencari jawabannya. 

Kalau sudah mentok, bisa bertanya ke group atau langsung ke seseorang. Misalnya: “saya berusaha mencari tahu tentang topik X, sudah saya cari di Google dengan kata kunci berikut, tapi tidak ketemu jawabannya. Apakah ada kata kunci lain yang lebih baik?”

Salam sambil bertanya

Hal pertama adalah mengenai salam. Di dunia nyata, biasanya kita memberi salam dulu, menunggu jawaban, lalu bertanya. Di dunia maya tidak perlu seperti itu, beri salam sambil bertanya akan lebih efisien. “Selamat siang”, nunggu saya menjawab beberapa jam kemudian, lalu saya jawab “Selamat sore”, beberapa jam kemudian orang tersebut sudah tidak online, tidak tahu tadinya ingin bertanya apa.  Kadang saya sedang online dan bisa langsung menjawab: “selamat siang”, lalu harus menunggu orang tersebut mengetikkan pertanyaan panjangnya.

Akan lebih efisien jika langsung: “Selamat siang, saya ingin bertanya mengenai <jelaskan masalahnya>”. Untuk sebagian pertanyaan, saya sudah tahu jawabannya dan bisa langsung saya jawab, atau bisa saya berikan linknya. Untuk pertanyaan yang lebih rumit, saya bisa mikir dulu untuk menjawab nanti (atau kadang perlu menunggu sampai rumah untuk mengirimkan suatu dokumen atau artikel di komputer saya). Jika pertanyaan via email, maka subjectnya harus jelas, bukan sekedar: “Halo”, “Salam kenal”, dsb.

Tanya di tempat yang benar

Tujuannya ada banyak group, dengan banyak sub group (misalnya untuk  security ada Forensic, Web Security, Reverse Engineering, dsb) adalah supaya diskusinya terfokus. Jika semua group dipakai untuk tanya apa saja, ya buat apa ada banyak group?

Buat apa ada group Python, Javascript, dsb kan sama-sama programming? kenapa nggak boleh nanya SQL injection di Reverse Engineering, kan sama-sama security? Sekalian aja kenapa gak boleh bertanya tentang memelihara burung di group botani, kan sama-sama mahluk hidup.

Kenali topik Anda apa dan tanyakan di group yang sesuai. Jangan maksa bertanya topik yang di luar group. Jika jawabannya adalah: carilah group lain, maka carilah group lain ada banyak daftar group telegram, Facebook dsb di berbagai website.

Pertanyaan harus jelas

Pertanyaan juga sebaiknya yang jelas. Sering kali di sebuah group yang anggotanya sudah beberapa ratus atau bahkan beberapa ribu (Group Telegram anggotanya bisa ribuan) seseorang datang cuma bilang: “Halo, ada yang tau XX” dengan XX adalah sesuatu yang sangat umum, misalnya “Ada yang tahu Tensorflow?” (di group Machine Learning), “ada yang tahu mysql?” (di group Database), “Ada yang tahu heap? (di group Reverse Engineering). 

Kalau setiap anggota group yang anggotanya 2000 orang harus menghabiskan 2 detik dari menerima notifikasi sampai membaca pesannya, Anda menghabiskan total 4000 detik di bumi ini dari semua orang. Ini seperti orang yang memblokir lift karena sedang ngobrol dengan temannya, atau parkir di pinggir jalan yang sudah sempit sehingga orang sulit lewat: semuanya membuang waktu orang lain.

Pertanyaan seperti itu nggak jelas, dan dari ribuan orang kemungkinan ada yang tahu jawabannya (apalagi bertanya di group yang memang membahas topik itu). Masalahnya adalah: Anda ingin tahu apa? misalnya bertanya “Ada yang tahu mysql?”, lalu dijelaskan “mysql adalah dbms bla bla bla”, lalu ternyata yang ingin ditanyakan adalah: “mysql saya gak jalan”. Biasanya kemudian ada yang mengambil asumsi tertentu (Mysql di Linux dengan systemd), dan kemudian langsung menjawab dengan systemcl, tapi ternyata Mysql-nya di Windows. 

Jadi pertanyaan harus jelas:  bukan dengan mulai “siapa yang tahu topik X”, tapi tanyakan dengan jelas apa yang ingin Anda ketahui. Lalu berikan konteks yang jelas: saya sedang berusaha melakukan X tapi gagal. Berikan informasi tambahan yang perlu misalnya: saya coba di Linux, atau saya coba dengan software versi X, atau apapun yang kira-kira penting. Contoh info yang penting: ini saya download dari situs lain karena situs resminya down (ternyata di situs itu cuma ada versi lama), saya compile sendiri (ternyata salah opsi ketika compile), dsb. 

Jika pertanyaan berhubungan dengan kode program, sertakan kode programnya. Jika sangat singkat (1 fungsi kecil) bisa langsung di teks pesan, tapi jika lebih panjang, masukkan ke gist atau pastebin. Jangan mengirimkan image/screenshot source code. Image sulit dibaca, tidak bisa copy paste dengan mudah untuk menunjukkan salahnya, dan kadang tidak lengkap. Jika ada pesan error: tunjukkan dengan lengkap (tapi jika errornya panjang, masukkan ke gist atau pastebin).

Bersiap menerima jawaban

Bagian berikutnya adalah: bersiaplah menerima jawaban. Tanyalah ketika Anda sedang di depan komputer, kadang sudah dijawab dengan sangat cepat, tapi kemudian dijawab lagi dengan “Oh saya lupa versinya, nanti saya cek lagi” atau “OK, nanti saya coba kalo sudah di desktop”. Kenapa nggak nanya pas sedang di depan desktop? Ini terutama jika pertanyaan diajukan ke group dengan ribuan orang di dalamnya, yang biasanya merespon dengan cepat. Yang lebih menyebalkan lagi adalah: sudah dijawab baik dengan jawaban yang sudah jelas, atau direspon dengan pertanyaan klarifikasi, tapi kemudian tidak dibalas sama sekali oleh penanya awal.

Jika jawaban semua orang adalah: pelajari dulu topik X. Maka jangan ngeyel. Jika ada yang bertanya: saya coba bongkar aplikasi X dengan ida pro, kok munculnya “db” semua ya? Setelah dijawab, kembali ke pertanyaan sederhana “ini artinya apa?” dst.  Bisa terlihat bahwa orang tersebut masih buta soal reversing. Semua orang menyarankan coba dulu bongkar aplikasi lain, supaya paham hal-hal dasar, lalu dijawab: tapi saya maunya langsung bongkar aplikasi X. Maunya disuapi belajar langkah demi langkah.

Ada banyak hal yang tidak bisa dijawab dengan singkat (pertanyaanya sangat umum). Coba jika ada yang bertanya: saya bingung konsep diferensial di kalkulus, tolong jelaskan ke saya? Apakah Anda bisa menjelaskannya dengan singkat dan bisa dipahami lewat chatting? (beberapa pertanyaan sejenis ini misalnya: saya bingung konsep managemen memori di C). Jadi jawaban yang bisa diberikan paling-paling: coba baca buku X atau Y, lihat video Youtube, lalu coba-coba sendiri.

Sharing

Terakhir: ucapkan terima kasih. Ini tujuannya selain untuk kesopanan juga untuk menutup topik (bahwa jawaban yang diberikan sudah cukup jelas dan membantu). Kadang masih ada beberapa jawaban ekstra karena dikira topiknya belum selesai.

Bentuk terima kasih yang paling bagus adalah dengan membagikan apa yang Anda tahu. Jika Anda tahu jawaban sesuatu, atau mengerti topik sesuatu, Anda bisa menuliskannya di blog misalnya, supaya orang berikutnya bisa membaca jawaban Anda. Jadi jangan cuma jadi orang yang pasif menerima jawaban  untuk kepentingan sendiri saja.

Jika tidak dijawab

Meskipun sudah bertanya dengan baik dan sopan, belum tentu pertanyaan Anda dijawab, dengan banyak alasan:

  • Memang tidak ada yang tahu jawabannya
  • Orang yang tahu jawabannya sedang tidak ada waktu untuk menjawab, atau mungkin terlewat membaca pertanyaan itu
  • Reputasi Anda jelek, orang sudah malas menjawab
  • Tidak ada kewajiban bagi orang lain untuk menjawab

Coba renungkan juga: berapa kali Anda menjawab seseorang, ketika ada yang bertanya dan Anda tahu jawabannya. Apakah Anda menunggu orang lain yang menjawabnya? atau Anda sendiri orang yang suka membantu orang lain? (bukan hanya mengenai menjawab pertanyaan, tapi secara umum berbuat baik pada orang yang tidak Anda kenal). Menjawab pertanyaan orang lain itu sekedar amal, tidak wajib.

Penutup

Sekalian saya ingin menyampaikan uneg-uneg mengenai berbagai kondisi group teknologi saat ini. Kebanyakan group ini noise nya sangat tinggi (banyak sampahnya) karena banyak anggota yang tidak peduli sopan-santun.

Untuk orang yang suka berjualan, mengirimkan pengumuman seminar dsb, tolong jangan memotong diskusi yang sedang berjalan. Jika ada seseorang sedang di tengah sesi tanya jawab, tiba-tiba ada yang nyelonong memforward message mengenai seminar, itu sangat mengganggu. Kalo saya admin groupnya, sudah saya ban orang yang seperti itu.

Orang-orang tersebut tidak peduli dengan isi group, yang kepikiran cuma begini: oh ternyata group itu aktif (ada message baru), saya forward deh info seminarnya tanpa peduli mengganggu diskusi (sering kali butuh 2-3 detik buat scroll message teks yang panjang sekali). Bahkan sering kali tidak melihat bahwa baru saja beberapa pesan sebelumnya info itu sudah diforward oleh orang lain.

Jangan ngejunk di group yang berfokus pada hal tertentu. Sudah ada group keluarga, group SD/SMP/SMU/jurusan/universitas, group kantor, group temen kompleks dsb yang bisa dipakai untuk ngejunk, kirim-kirim meme, politik, dsb. Kalau semua group hanya dipakai untuk meme politik, buat apa bikin group baru?

Mungkin sebagian akan mikir: ah ribet banget sih, santai aja lah ngejunk. Salah satu alasan banyak orang yang memiliki ilmu jarang mau sharing atau menjawab di group adalah: 90% waktunya dipakai untuk membaca sampah, jadi daripada waktunya dibuang percuma mereka memilih pergi. Ya silakan saja memiliki group penuh sampah, tapi jangan salahkan juga kalau tidak ada orang berkualitas yang mau join. Sebaliknya jangan sakit hati jika dikick dari group yang berkualitas karena sering tidak sopan atau ngejunk.

Hosting email

Meneruskan cerita sebelumnya tentang self hosting, kali ini saya ingin membahas lebih jauh lagi mengenai email. Sekarang ini email (dan nomor HP) menjadi “kunci” bagi banyak layanan. Kebanyakan layanan memerlukan email untuk login dan untuk fitur lupa password. Berbagai notifikasi transaksi keuangan juga masuk ke email. Jika kita kehilangan akses email, akibatnya cukup fatal.

Banyak layanan juga meminta verifikasi via email jika kita login di komputer baru atau IP yang baru. Jadi jika account email kita dihack atau diblokir, kita tidak bisa login. Email ini sangat penting, jika sampai kehilangan akses maka urusannya rumit, seperti jika kita kehilangan dompet. Sekarang setelah tahu betapa pentingnya email ini, kita perlu berusaha mengamankannya.

Contoh verifikasi dari Steam

Email gratisan

Sebagian besar orang menggunakan dua jenis email ini: email kantor dan email gratisan dari berbagai provider (Google/Yahoo/Outlook dsb). Sebenarnya kemungkinan account kita tiba-tiba ditutup oleh Google atau berbagai perusahaan ini cukup kecil, tapi tetap ada. Bisa saja kita sudah taat peraturan, tapi ada kesalahan pada sistem yang membuat account diblokir. Selama lebih dari 14 tahun memakai Google, baru sekali saya mengalami masalah.

Selain Google sebenarnya ada banyak layanan email gratis lain, misalnya protonmail yang terenkripsi, outlook.com dari Microsoft, bahkan Yahoo juga masih memberikan email gratis. Tapi semua email gratisan ini agak mengkhawatirkan karena sebagai pengguna gratis, kita ini “bukan siapa-siapa” dan bisa ditendang kapan saja.

Lanjutkan membaca “Hosting email”

Review Elfin Book 2.0

Awal tahun 2018, saya kepingin sekali punya agenda, tapi waktu itu saya masih belum bisa memutuskan apakah saya mau punya agenda digital atau agenda biasa. Saya coba mengetik di HP, tapi kok rasanya cape ya ngetik di HP (apalagi waktu itu saya belum tahu mengenai voice typing). Lalu saya pikir, coba beli buku kecil biasa, dan lihat apakah saya bisa terus menuliskan sesuatu di buku. Hasilnya? buku saya malah dipake Joshua untuk menulis A sampai Z dan angka. Untung beli bukunya bukan buku yang mahal hahaha. Lalu tidak sengaja lihat iklan mengenai buku yang bisa dihapus. Saya pikir, wah buku ini cocok nih buat saya bawa-bawa, karena kalaupun dipakai Joshua, nantinya bisa saya hapus.

Iklan yang saya lihat itu namanya Rocket Book, tapi Joe kasih tahu saya ada buku sejenis yang lebih murah namanya Elfin Book. Setelah baca-baca dan tidak menemukan perbedaan secara fungsi, akhirnya saya memutuskan beli yang lebih murah, karena kepikiran andaikata gak terus dipakai ya gak rugi-rugi amat hahaha. Minimal, bisa dipakai kalau Joshua butuh untuk coret-coret.

Lanjutkan membaca “Review Elfin Book 2.0”

Self hosting layanan online

Posting ini meneruskan cerita horor di posting saya sebelumnya di mana saya hampir kehilangan akses account Google tanpa sebab. Di sini saya ingin membahas mengenai self-hosting layanan online, supaya kendali atas layanan online sebisa mungkin ada di tangan kita, tidak mudah semena-mena ditutup pihak lain.

Posting kali ini lebih ditujukan bagi mereka yang memiliki kemampuan teknis mengadministrasi sistem (atau mau belajar melakukan itu). Saya berencana membuat posting lain untuk melindungi account online untuk orang awam.

Meskipun ada banyak layanan online (SAAS atau software as a service) baik gratis maupun berbayar mulai dari penyimpanan file, foto, sampai source code, banyak orang memilih untuk menghosting sendiri berbagai layanan tersebut (istilahnya self-hosting). Ada yang memakai komputer lokal di rumah, ada yang memakai VPS, dan ada juga yang menyewa dedicated server.

Beberapa contoh layanan online yang saya maksud misalnya: email (Gmail, Outlook, Yahoo), hosting blog (Blogspot, WordPress, Medium, dsb), hosting git (github, bitbucket), dan penyimpanan file online (Dropbox, Google Drive, OneDrive)., Tentunya masih banyak lagi jenis layanan online lainnya yang tidak saya sebutkan.

Buat apa hosting sendiri?

Ada banyak alasan kenapa seseorang mulai menghosting layanan sendiri. Ada yang shock karena account onlinenya ditutup sepihak, dan ada juga yang dari dulu merasa curiga dengan layanan gratis (kok bisa gratis?). Beberapa layanan gratis mendapatkan uang dari iklan, beberapa memberikan gratis sampai batas tertentu saja (misalnya untuk Dropbox, jika disk penuh, nanti lama-lama pengguna gratis akan membayar), dan beberapa dikhawatirkan menjual data usernya.

Memakai layanan dari pihak lain memiliki  satu kelebihan utama:  kita tidak perlu memikirkan apa-apa, tinggal pakai. Tapi memakai layanan pihak lain juga memiliki banyak kelemahan:

  • Semua data kita di tangan pihak tersebut, bisa saja dijual, diintip, dihilangkan
  • Pemerintah di negara tertentu bisa meminta pihak online provider memberikan data pada mereka (dan kita tidak tahu)
  • Pihak lain bisa secara sepihak menutup account kita, seperti contoh kejadian yang saya alami di posting sebelumnya
  • Bukan cuma account, tapi keseluruhan layanan online bisa ditutup sewaktu-waktu (ingat Friendster yang sempat memiliki ratusan juta member? Google Reader yang dulu jadi andalan membaca berita? Google Plus yang jadi alternatif Facebook bagi lebih dari 100 juta orang?)
  • Selain ditutup, layanan bisa juga dijual ke pihak lain dan bisa berubah total. Baru-baru ini Yahoo menjual Flickr, tadinya pengguna gratis bisa mengupload data sampai 1 TB, sekarang dibatasi 1000 foto saja

Tidak peduli seberapa besar layanannya, berapa banyak penggunanya (Tahun 2013 flickr memiliki 87 juta anggota, Google plus memiliki 111 juta pengguna aktif), seberapa besar perusahaannya (Google Reader dan Google plus dimiliki oleh Google, Flickr dimiliki oleh Yahoo). Jika sesuatu dirasa tidak menguntungkan, maka kita bisa dipaksa pindah.

Lanjutkan membaca “Self hosting layanan online”

Your Google Account is disabled

Kemarin pagi saya dapat notifikasi yang menyeramkan: Your Google Account is Disabled. Jika tidak meminta restore, ada konsekuensi seram. Ini bukan email phishing, ini email resmi dari Google.

We understand your account is important to you. So if you think this was a mistake, sign in to the disabled account and submit a request to restore it. You’ll need to do this soon, because disabled accounts are eventually deleted, along with your emails, contacts, photos, and other data stored with Google.

Isi email dari Google

Masalahnya ketika saya login, tidak ada penjelasan apapun seperti tertulis dalam dokumen support google di sini (If your account is disabled, you’ll get an explanation). Saya masih bisa mengakses email seperti biasa, setelah cukup panik, beberapa belas menit kemudian muncul email lain, bahwa account Youtube saya suspended. Nah sekarang saya jadi bingung: apakah keseluruhan account saya disabled, atau hanya Youtube saja suspended? atau malah kedua-duanya benar? Saya sempat khawatir mengenai ini

Katanya ada pelanggaran spam, scam, atau deceptive content (bukan copyright violation, atau pelanggaran lain). Dulu di awal saya pernah mengupload video mengenai editor Emacs, dan video beberapa karya saya yang lain , tapi selama 5 tahun  hanya 3 video dalam 3 tahun terakhir (Video yang saya upload juga di Page Facebook kami). Saya juga tidak pernah berkomentar di YouTube (baik positif atau negatif).

Mengenai security, saya juga yakin account saya tidak dihack. Semua komputer saya sudah update ke software terbaru. Bahkan HP utama yang saya miliki juga sudah memakai Android Security update terbaru.  Saya memakai Windows (yang rawan malware) hanya di komputer saya yang sudah terinstall antivirus (sisanya saya hanya mengakses dari Linux dan Ponsel).

Yubikey U2F yang saya gunakan untuk login Google Account

Saya memakai two factor authentication dengan hardware security key yang saya bawa di dompet saya. Saya mendaftarkan phone number recovery yang valid. Saya sering melakukan review terhadap Google Activity (dan juga Facebook Activity) siapa tau ada hal-hal yang tidak sengaja saya klik atau search dari ponsel (karena fitur autocomplete, salah tekan saja bisa membuat kita mencari sesuatu yang aneh). Saya juga bisa mengecek misalnya apakah saya tidak sengaja mengklik untuk membuat komentar di Facebook ataupun Youtube.

Ini juga bukan account baru, saya sudah 14 tahun memiliki email Gmail ini di tahun ketika Gmail diluncurkan. Dulu awalnya dapat dari temannya Risna yang tidak memakai link referal dari Blogger (Hi Dui). Saya suka email ini karena jelas (ejaannya sesuai nama depan saya), dan domain gmail.com sudah banyak dikenal orang.  Ketika mendaftarkan sesuatu secara offline, biasanya saya memakai email gmail ini, karena banyak orang tahu gmail dan jarang sekali salah eja domainnya. Jika saya memakai email lain, kemungkinan salah eja nama domain cukup besar.

Saya bukan sekedar pengguna gratisan, saya sudah subscribe Google Drive sejak beberapa tahun terakhir, saya memakai Google Account ini juga untuk Play Store di Android. Di Android saya sudah membeli banyak app dan buku,  bahkan di hari sebelumnya saya memperbarui subscription Simply Piano yang setahunnya sekitar 600 ribu rupiah.

Andaikan saya kehilangan account Youtube ya sudah saya relakan saja, tapi jika email gmail yang hilang maka ini akan sangat repot. Berbagai recovery email saat ini mengarah ke gmail. Setelah mengisi form untuk unsuspend, malam harinya saya mendapatkan email dari Google yang sedikit melegakan. Katanya tidak ada masalah dengan account Youtube saya, dan saat ini sudah dikembalikan seperti semula.

Tentunya hal seperti ini tetap membuat saya khawatir: jadi sebenarnya ada masalah apa? Apakah hal semacam ini bisa terjadi lagi? Jika terjadi lagi, apakah bisa cepat unsuspend karena insiden ini pasti sudah masuk catatan Google. Bagaimana jika berikutnya email yang tiba-tiba tidak bisa diakses?

Katanya tidak ada maslaah, tapi juga tidak diberitahu kenapa sempat diblok

Demi keamanan saya sudah menggunakan Google Takeout untuk mendownload semua data saya dari Google dan memindahkannya ke OneDrive (dan dari OneDrive saya synchronize ke harddisk di rumah saya). Sebenarnya saya sudah memiliki kekhawatiran hal semacam ini bisa terjadi, jadi selama ini yang saya lakukan:

  • Mendownload email offline secara berkala dengan offlineimap
  • Membuat autoforward semua email penting ke email lain sebagai arsip realtime
  • Mengupload foto tidak hanya ke Google Photos tapi juga ke OneDrive (dan disinkronisasi ke drive lokal di rumah), dan baru-baru ini memakai Seafile (ke server sendiri)

Beberapa layanan tertentu mengijinkan saya memasukkan dua atau lebih email (misalnya Facebook dan Paypal) jadi jika kehilangan akses ke satu email, maka tidak masalah, tapi sayangnya tidak semua layanan mengijinkan ini.

Seperti saya sebutkan di atas, saya memakai alamat @gmail.com karena tidak rawan salah eja di dunia offline ketika mengisi form tulis tangan. Untuk berbagai hal yang online alasan utama memakai email tersebut adalah karena gmail memiliki anti spam yang bagus, kemudian lama-lama jadi terlena karena menganggap akses gmail ini tidak akan hilang. Padahal saya sudah menghosting sendiri kebanyakan layanan yang saya pakai selain email (contohnya blog ini memakai WordPress sendiri, bukan layanan gratisan maupun berbayar).

Meskipun saat ini sepertinya semua sudah baik-baik saja, ini merupakan wake-up call bagi saya untuk mulai menggunakan email yang lain yang berada di bawah kendali saya, email yang memakai domain saya sendiri. Untuk urusan mailbox, saya bisa menyewa jasa dari tempat lain atau bisa saya hosting sendiri di dedicated server sendiri. Andaikan memakai domain milik sendiri dan memakai jasa mail dari layanan lain, saya tetap bisa mengubah MX Record andaikan suatu hari layanan tersebut tutup atau bermasalah.

Semoga pengalaman saya ini juga bisa menyadarkan pihak lain supaya tidak bergantung 100% pada layanan dari satu perusahaan. Saat ini Google memiliki sangat banyak layanan, Andaikan account Anda ditutup, apa yang akan terjadi? Bagaimana kalo kejadiannya ini terhadap sebuah account yang dimiliki perusahaan (banyak yang masih memakai email gratisan @gmail.com)? Di posting berikutnya saya akan membahas lebih banyak mengenai self-hosting layanan online (tidak hanya email).

SosMed, Dulu dan Sekarang

Ini masih nyambung dengan nostalgia dulu dan sekarang e-mail, tapi sekarang mau bahas jejaring pertemanan alias sosmed. Masa awal internet mulai bisa dipakai umum, dengan segala pembahasan positif dan negatif, kebanyakan orang masih menjaga anonimitas. Sekarang ini dunia online sudah jadi ekstensi keberadaan kita di dunia nyata.

Pertama kali join jaringan pertemanan Friendster. Friendster awalnya jauh berbeda dengan Facebook sekarang. Jari kita menambahkan teman, dan diharapkan kita memberi testimony mengenai teman kita tersebut. Friendster berusaha menggabungkan platform blog juga ke jaringan pertemanannya, saya juga sempat ngeblog di Friendster, tapi pada akhirnya saya memilih kembali ke blog ini.

Lanjutkan membaca “SosMed, Dulu dan Sekarang”

E-mail, Dulu dan Sekarang

Saya punya e-mail pertama dulu di layanan e-mail gratisan yahoo. User id e-mail pakai nick name karena merasa anonimity di Internet itu penting. Sempat punya beberapa e-mail gratisan dari layanan lainnya termasuk forwarder supaya e-mailnya lebih singkat ataupun terasa lebih keren. Dari sekian banyak alamat e-mail yang dipakai, yang akhirnya bertahan ya cuma yang pertama dibuat itu. E-mail itu bertahan karena user id nya dipakai juga untuk Yahoo Messenger. 

credit: foto dari huffpost.com
Lanjutkan membaca “E-mail, Dulu dan Sekarang”