Baca Buku: Dilan 1990

screen capture cover dari aplikasi ipusnas

Dalam rangka memaksa diri membaca buku. Kemarin ingat lagi buat buka aplikasi ipusnas setelah sekian lama gak dibuka. Setelah melihat-lihat sekian lama dan tidak ada buku yang menarik untuk dibaca, eh tiba-tiba liat buku Dilan ini. Jadi ingat, buku yang sudah difilmkan ini pernah ramai dibicarakan di grup.

Kesan pertama: eh ini buku diceritakan dengan sudut pandang seorang gadis SMA kelas 2 dengan setting tahun 1990 di Bandung. Karena pernah tinggal di Bandung, beberapa tempat yang diceritakan bisa dibayangkan. Tapi karena di Bandungnya bukan masa SMA, jadi gak bisa juga bayangkan kehidupan anak SMA di Bandung seperti apa.

Gaya bahasa di buku Dilan ini terasa aneh buat saya. Karena sudah pernah menonton filmnya sekilas, jadi kebayang sih cara Milea dan Dilan berbicara (walaupun sudah lupa wajah-wajah pemerannya). Waktu menonton Dilan juga saya sebenarnya agak geli dengan gaya bahasanya. Tapi waktu itu saya tonton juga buat sekedar tahu hehehe.

Mungkin karena masa SMA sudah lama berlalu, agak sulit menerima kegombalan Dilan. Kalau saya jadi Milea, dari pertama Dilan datang mendekati dengan motornya, pasti saya udah lari menjauh. Waktu tau Dilan anak geng motor ataupun suka melawan guru, pasti saya bakal lebih gak suka lagi.

Waktu ada cerita ternyata Milea sudah punya pacar di Jakarta, nah ini kok saya makin gak suka dengan Milea. Jelas-jelas Milea ini tipe wanita gak setia (ups banyak yang protes gak ya hahaha). Beni, pacar Milea yang di Jakarta juga sepertinya bukan pemuda yang oke. Tipe cemburu buta tanpa bertanya, dan kata-katanya kasar. Saya setuju Milea putusin tuh Beni. Eh tapi karena Milea tidak pernah ceritakan apa yang bikin dia suka dengan Beni, saya tidak bisa menilai lebih banyak selain yang diceritakan Milea saja. Beni itu digambarkan kasar omongannya. Cowok kasar dibandingkan dengan cowok gombal seperti Dilan, tentu saja anak SMA bakal kesengsem sama yang pintar bermain kata.

Terlepas dari jalan ceritanya, betapa Milea lebih memilih Dilan si anak geng motor dibanding teman sekelasnya yang pintar, atau guru les nya yang anak ITB, cerita Dilan ini menarik karena ditulis oleh pria dengan mengambil sudut pandang wanita anak SMA pula. Sepertinya kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Bisa jadi penulisnya sebenarnya menggambarkan Dilan sebagai dirinya di masa SMA.

Saya tahu buku Dilan ini ada lanjutannya. Tapi saya kurang ingin cari tahu kelanjutan kisah Milea dan Dilan apakah bahagia selamanya atau cuma sampai di situ saja hehehe. Saya malah kepikiran, kira-kira berapa banyak anak SMA yang terinspirasi memberikan hadiah buku teka-teki silang yang sudah diisi ke pacarnya dengan alasan: supaya kamu gak pusing mikirinnya. Atau berapa banyak anak SMA yang malah jadi pengen pacaran dengan anak geng motor karena berharap mereka seperti Dilan?

Buat saya, Dilan itu tetap bukan tokoh ideal. Walaupun kata-katanya gak kasar, tapi dia suka main kekerasan (berantem dengan guru dan sibuk mengatur penyerangan geng motor buktinya). Kalau masih SMA suka kekerasan, gimana nanti besarnya?

Dari keseluruhan cerita itu, yang paling saya suka ibunya Dilan. Saya tapi tetap gak mengerti ibunya Dilan yang diceritakan seorang guru juga, ibu yang baik dan lembut begitu bisa membiarkan anaknya ikut geng motor. Ah namanya juga cerita ya, lebih baik dinikmati saja. Diambil baiknya dan belajar untuk menghindari yang gak baiknya.

Baca Buku: Keep Going

Ini buku pertama yang dibaca tahun 2020. Buku pertama yang dibacanya cukup cepat. Ceritanya di grup KLIP ada yang share buku yang dibaca ditahun 2019 yang berkesan dan ada yang menuliskan tentang buku ini. Berhubung bulan Desember lalu diserang kemalasan menulis jadi tertarik dengan buku ini yang memberikan tips-tips untuk tetap berkarya.

Judul lengkap buku ini Keep Going: 10 Ways to Stays Creative in Good Time and Bad. Buku ini ditulis oleh Austin Kleon seorang penulis yang juga menggambar. Saya baru tau setelah selesai membaca buku yang ini, ternyata dia sudah punya 2 buku sebelum buku ini. Buku dengan jumlah 224 halaman, bisa dengan cepat dibaca karena banyak halaman berupa illustrasi seperti komik. Buku ini juga merupakan buku pertama yang selesai saya baca di hari yang sama dengan hari belinya di Kindle (banyak buku yang walau tidak tebal tapi gak selesai-selesai membacanya sampai sekarang).

Dari judulnya aja udah ketahuan kalau ini isinya memberi motivasi biar kita gak berhenti berkarya. Walaupun mungkin dia memberi contohnya karya dalam bidang menulis ataupun menggambar, tapi sebenarnya tips yang dia berikan ini bisa untuk karya apa saja. Bukankah setiap manusia itu diciptakan untuk berkarya di bumi ini.

Buku ini menarik karena gaya bahasanya yang mudah dimengerti dan banyak ilustrasinya. Buku ini juga tidak menuntut kita untuk menciptakan karya yang sempurna, tapi kalau kata saya lebih realistis dan bagaimana membuat proses kreatif itu tetap terasa menyenangkan dan bukan jadi beban.

Berikut ini hal-hal yang berkesan buat saya dari buku ini. Saya tidak akan mengutip setiap bab seperti dari daftar isi, tapi apa yang saya ingat setelah diendapkan beberapa hari.

Rutinitas itu Penting

Biasanya paling sering mendengar keluhan tentang betapa membosankannya rutinitas. Tapi ternyata rutinitas itu penting dan malah lebih baik lagi kalau kita membuat jadwal yang sama setiap harinya untuk berkarya. Penulis buku ini mencontohkan bagaimana jika kita hidup di hari yang sama setiap harinya, seperti di film Groundhog Day?

Contoh daftar hal yang bisa dilakukan setiap hari dari buku Keep Going – Austion Kleon

Apa yang kita lakukan setiap harinya, itulah karya kita. Kita mau isi hari-hari kita tanpa berkarya, atau mau menghasilkan sesuatu yang berarti? Kadang-kadang untuk orang yang pernah sukses menghasilkan sesuatu karya, mereka sering berhenti dan merasa: aduh harusnya ini lebih baik dari yang sudah pernah saya buat. Perasaan seperti ini bisa membuat kita jadi berhenti berkarya. Padahal seharusnya ya tetap berkarya, mungkin hari ini hasilnya tak sebagus kemarin, tapi besok bisa jadi lebih baik dari hari ini karena kita sudah lebih terlatih mengerjakannya. Yang penting, lakukan saja setiap hari dengan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mulai setiap hari dengan karya baru.

Rutin itu penting, supaya kita tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Saya ingat, baca buku tentang membesarkan anak dari bayi, di sana juga disebutkan kita perlu membuat rutin anak yang sama setiap harinya, biar mereka tahu apa yang selanjutkan akan dilakukan. Dengan adanya rutin, anak jadi tahu bangun tidur harus apa, atau setelah selesai sikat gigi dan ganti baju tidur ya harus tidur. Untuk orang dewasa, rutin itu juga penting.

Kalau kita sudah tahu apa yang harus dilakukan berikutnya, kita tidak akan kelamaan mikir: ngapain ya abis ini, atau malah jadi tidak menghasilkan karya sepanjang hari. Oh ya, di buku ini juga disebutkan, kalau kita juga harus meluangkan waktu untuk berjalan di luar ruangan untuk memperhatikan hal-hal sekitar dan juga kalau lagi mentok ide, tidur siang/istirahat mata juga baik untuk merefresh diri.

Buat Daftar untuk Segala Hal

Kebiasaan membuat daftar itu baik. Misalnya mendaftarkan apa yang ingin dikerjakan, atau membuat daftar belanja. Bisa juga membuat daftar apa yang ingin dipelajari. Kalau sedang bepergian, bisa bikin daftar tempat menarik untuk dikunjungi. Bahkan bisa juga membuat daftar film yang ingin ditonton, atau buku yang ingin dibaca untuk hiburan.

Membuat daftar bisa membantu kita untuk mempermudah ketika membuat keputusan/pilihan. Kadang-kadang saya sudah mulai membuat daftar, misalnya membuat daftar topik yang bisa dituliskan di blog, supaya gak setiap hari bertanya-tanya: nulis apa yah hari ini. Sayangnya, setiap kali mau nulis, ide untuk menuliskan hal-hal yang ada di daftar seringnya terasa sulit dan akhirnya gak jadi deh dituliskan.

Punya Tempat Kerja yang Nyaman

Bagian yang ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Joe. Dulu saya ingat sering protes kenapa komputer menyala 24 jam, atau kenapa mejanya gak rapi. Terus Joe bilang: yang penting ketika mau kerja, komputer sudah siap sedia untuk dipakai. Tidak harus menunggu dulu menyalakan komputer, atau harus membereskan meja dulu. Waktu untuk menunggu itu bisa bikin teralihkan perhatian dan malah ga jadi kerja.

Tempat kerja yang nyaman itu tidak harus rapi ala Marie Kondo, tapi yang penting semua hal yang dibutuhkan untuk berkarya tersedia di sana dan bisa kita pakai dengan mudah. Hal ini kembali ke gaya bekerja masing-masing orang. Ada yang tidak bisa kerja kalau mejanya terlalu berantakan. Nah untuk orang seperti ini, diperlukan meja kerja yang selalu rapi. Atau ada juga orang yang tidak bisa kerja kalau terlalu hening, dan kebalikannya terlalu ramai juga gak bisa kerja. Yang pasti, temukan tempat kerja yang nyaman untuk kita masing-masing.

Merapikan barang-barang itu tetap perlu, tapi berbeda dengan Marie Kondo yang bilang kalau merapikan buku jangan sambil berhenti dan membaca, kita malah disarankan untuk mengunjungi kembali karya-karya kita sebelumnya. Kadang-kadang dari hal-hal yang pernah kita lakukan di masa lalu, yang mungkin saja sudah terlupakan, kita bisa mendapatkan ide baru untuk karya berikutnya.

Lakukan Saja, Karya Kita Tidak Harus Selalu Super

Saya ingat, dulu waktu rajin merajut saya sudah membuat banyak hasil. Kadang-kadang waktu menentukan mau merajut apa berikutnya, ada perasaan: ah ini terlalu mudah, pengen cari yang lebih menantang. Terus akhirnya, malah kelamaan nyari pola dan gak jadi merajut.

Hal lain yang bikin kita gak jadi berkarya adalah ketika kita mengandalkan respon orang lain terhadap karya kita. Misalnya, kita pengen menulis itu sesuatu yang dapat jempol like banyak dari orang lain. Pengennya bikin foto yang super indah dan bisa membuat orang berdecak kagum. Pengennya masak kue yang paling enak sedunia. Pengennya menjahit baju nan indah dengan detail yang super rumit.

Ketika kita kebanyakan pengen tapi gak mulai melakukannya, ya akhirnya karya kita gak ada yang jadi. Makanya disebutkan, lakukan saja apa yang kamu bisa hari ini, terlalu berharap jempol orang atau menunda mengerjakan sesuatu dengan alasan ah ini masih kurang super tidak akan membawa hasil apa-apa. Kadang-kadang bahkan app sederhana seperti flappy bird saja bisa sangat populer.

Berikan Hadiah untuk Orang Lain

Jaman berhobi merajut, kebanyakan rajutan saya itu bukan untuk saya pakai sendiri, tapi untuk diberikan ke orang lain. Waktu belajar menjahit, motivasinya juga bukan untuk terima jahitan, tapi untuk bisa menjahitkan baju untuk dipakai sendiri, Joe dan anak-anak. Menghasilkan karya untuk dihadiahkan ke orang lain itu terasa lebih menyenangkan daripada kejar setoran hehehe.

Gimana kalau pekerjaanya memang penjahit? masa harus menghadiahkan melulu? Ya, nggak dong, bikin hadiah untuk orang lain itu jadi sarana latihan. Kalau ada pekerjaan profesional, ya tetap harus dikerjakan secara profesional. Kalau misalnya kita jadi penulis, bukan berarti hasil tulisan kita harus selalu sempurna kan, bisa saja kita menulis cerita singkat untuk dihadiahkan ke orang-orang tertentu.

illustrasi dari buku Keep Going – Austin Kleon

Nah kalau punya pasangan programmer, bisa tuh minta hadiah dibikinin program aplikasi. Ada banyak aplikasi yang dibuatkan Joe atas permintaan saya, yang kemudian sebagian dia bagikan secara gratis.

Perhatikan Sekitar, jangan Online Selalu

Bagian ini sebenarnya dibahas agak di bagian awal buku, tapi saya tuliskan terakhir. Jaman sekarang, hal ini merupakan hal yang paling sulit. Buku ini menyarankan kita bangun pagi untuk tidak langsung membaca berita online di berbagai penjuru dunia, tapi disarankan untuk rutin pagi itu bangun, jalan-jalan sekitar rumah sambil memperhatikan sekitar kita.

Contoh yang saya pikirkan, saya bisa memperhatikan siklus pohon mangga misalnya, kapan mulai ada bunganya dan kapan jadi buah. Hidup ini juga seperti pohon mangga, ada siklusnya dan ada musimnya. Dari memperhatikan sekitar kita, biasanya akan ada banyak ide-ide untuk berkarya. Setelah kita memberikan waktu untuk diri sendiri, baru deh baca-baca berita dunia.

Tapi sejauh ini, prakteknya masih sulit. Bangun pagi masih lebih dulu nyari henpon buat online. Jalan-jalan sekitar rumah belum dilakukan juga. Ini saja sambil menulis, masih sambil online dan sering pindah ke halaman lain hehehe. Pelajaran dari buku ini, jadi punya motivasi untuk tetap berusaha berkarya setiap harinya.

Baca Buku: The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Baca buku ini sudah lama, maksudnya sudah lama mulai dan akhirnya selesai tahun lalu. Waktu itu mau nulis tentang buku ini, tapi karena sudah banyak yang nulis, malah jadi menunda. Tapi dipikir-pikir, ada baiknya menuliskan sendiri apa yang diingat dari buku ini.

Buku ini sebenarnya tidak tebal, cuma 224 halaman dan terdiri dari 9 chapters. Joe sudah membacanya duluan dan merekomendasikannya ke saya. Awalnya saya agak enggan membacanya karena buku ini kategori self help dan bahasanya terasa kurang sopan. Oh ya, kalau tidak salah, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang lebih sopan menjadi: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Masalah judul dan bahasa di awal yang terasa agak kasar itu yang bikin saya gak bisa fokus membacanya. Saya membaca versi e-booknya yang dibeli Joe di Google Playbook.

Biasanya, judul buku dalam kategori self help merupakan cerminan dari isi bukunya. Ternyata di buku ini, berbeda dengan buku self help lainnya, walaupun isinya mungkin mirip-mirip juga dengan isi buku self help lainnya. Bedanya, kalau buku self help lain tipenya selalu meyakinkan kamu pasti bisa! Kamu pasti berhasil. Tapi buku ini lebih realistis bahwa hidup ini tidak selalu indah, butuh usaha dan kerja keras kalau mau berhasil, dan tidak semua orang bisa jadi pemenang dan nomor 1.

Jadi sebenarnya gimana sih seni untuk bersikap bodo amat? Apa maksudnya kita cuek aja gitu kayak bebek, gak usah mikirin apapun di dunia ini dan hidup seenaknya?

Seperti saya sebutkan, sudah banyak yang membuat review dan kesimpulan dari buku ini, jadi saya akan menuliskan hal-hal yang walaupun saya sudah tahu, tapi masih bisa membuat saya mengangguk-angguk dan seperti menemukan hal baru.

Pilih yang Terpenting Dari yang Penting

Di bukunya sih disebut, kita harus bisa memisahkan apa yang penting dan tidak penting. Kita gak usah pusing dengan hal-hal yang gak penting, tapi fokus dengan hal yang penting saja. Tapi saya malah jadi teringat dengan pesan orangtua saya dari saya kecil.

Saya bukan berasal dari keluarga yang berlebih. Mama saya Pegawai Negeri Sipil, Papa saya Karyawan Swasta. Walaupun kami hidupnya gak susah-susah amat, tapi kami tidak punya kemewahan untuk membeli berbagai hal yang mungkin pada masa itu lagi trend. Orang tua saya selalu mengajarkan: banyak yang penting, tapi beli yang paling penting. Jadi dari kecil, saya sudah diajarkan untuk membuat skala prioritas kebutuhan. Saya ingat dulu waktu kakak saya minta dibelikan sepeda mini, papa dan mama saya suruh kami bikin proposal dulu kira-kira kenapa mereka butuh sepeda mini dan apa gunanya.

Buku ini bukan masalah keuangan saja, tapi secara umum dalam hidup ini kita harus bisa memilah-milah dan mengkategorikan apa hal yang penting untuk kita pikirkan, dan sisanya cuekin saja. Setiap orang sudah punya porsi masing-masing, kalau jadi ibu rumah tangga ya prioritaskan tugas jadi ibu rt. Kalau lagi jadi ibu guru pas homeschool anak, prioritaskan menjadwalkan dan memeriksa kegiatan homeschool. Setiap orang punya porsi masing-masing, makanya saya menghindari komentar di sosial media untuk hal-hal yang bukan urusan saya.

Hidup ini Penuh Pilihan

Dari mulai bangun pagi sampai mau tidur, kita harus memilih. Tidak semua pilihan kita sesuai dengan harapan. Banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup kita, tapi kita selalu bisa untuk memilih bagaimana respon kita terhadap apa yang terjadi (ini sering banget nih muncul di banyak buku self help). Dengan kata lain: kendalikan diri dan jangan terlalu reaktif kalau ada hal yang tidak kita harapkan terjadi.

Kadang-kadang kita merasa kesal dengan sikap seseorang ke kita, tapi kalau dipikir-pikir, pilihan kita untuk merasa kesal itu tidak akan mengubah sikap orang tersebut. Kita tidak punya kendali terhadap orang lain. Jadi kalau ada orang yang mengundang kekesalan mending dicuekin aja alias gak usah dipikirin. Kita bisa memilih untuk tidak merespon orang tersebut dengan perasaan kesal.

Masalah pilihan ini ada lagi bagian yang menarik. Dulu saya pernah dengar ada yang bilang ke saya, kalau mencari pasangan itu sebaiknya kita koleksi dulu baru seleksi. Katanya kalau semakin banyak koleksi kita bisa membanding-bandingkan untuk mendapatkan pilihan terbaik. Tapi sebenarnya ajaran itu salah! Semakin banyak pilihan, akhirnya kita semakin bingung dan gak jadi-jadi memilih.

sumber dari JimBenton.com

Contohnya ya, kalau kita buka Netflix dan belum tahu mau nonton apa, kita lihat-lihat ada film apa saja yang ada. Terus tak terasa, kita menghabiskan waktu beberapa jam untuk memilih dan akhirnya malah tidak jadi nonton karena harus melakukan hal lain. Coba kalau misalnya kita sudah tahu sebelumnya kalau kita mau nonton film yang sudah masuk Netflix, kita bisa langsung nyalakan dan dalam waktu 2 jam selesai deh nontonnya.

Prinsip: Do Something

Menulis blog setiap hari itu tidak selalu mudah. Walaupun tahun 2019 sudah banyak menulis dan hampir setiap hari, sampai sekarang tetap saja saya masih sering bingung mau nulis apa ya? Padahal sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin dituliskan, tapi ya kadang-kadang kalah dengan rasa malas atau rasa-rasa lain yang akhirnya ga jadi nulis. Padahal harusnya mulai saja menulis, mulai dengan 1 kalimat, lalu jadi paragraph. Kalau idenya mentok, mungkin bikin tulisan lain lagi, atau kadang-kadang tidak terasa jadi tulisan terlalu panjang yang bikin orang lain malas baca hahaha.

Prinsip ini bukan hanya untuk menulis. Dalam hidup, ketika kita menghadapi tantangan dan bingung mau ngapain, sebaiknya lakukan sesuatu, jangan diam saja atau bengong. Karena kalau kita diam saja dan tidak melakukan sesuatu, tidak ada aksi dan tidak akan ada motivasi. Tapi kalau kita melakukan sesuatu dan melihat hasil dari sesuatu yang kita kerjakan itu, biasanya kita jadi dapat motivasi maupun inspirasi untuk menyelesaikan tantangan yang kita hadapi.

Lakukan sesuatu, mulai dari hal yang paling sederhana. Melakukan sesuatu lebih baik daripada diam saja.

Selesaikan Masalah Masing-Masing

Setiap orang punya porsi masalah masing-masing. Masalah itu tanda-tanda kita masih hidup hehehe. Kita tidak bisa berharap orang lain menyelesaikan masalah kita dan kita juga ga usah ikut campur sama masalah orang lain. Kita tidak bisa membantu orang yang tidak membantu dirinya sendiri.

Kita bisa membantu orang yang minta bantuan, tapi tentunya yang minta bantuan harus lebih aktif menyelesaikan masalahnya. Nah kalau gak diminta bantuan gimana? ya kalau gak diminta bantuan kita selesaikan urusan sendirilah.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya buku ini apa? Kalau saya melihatnya, buku ini berusaha mengingatkan kita lagi untuk menentukan prioritas dalam hidup. Kita perlu menyaring informasi yang kita terima, apalagi di sosial media, gak usah semuanya mau dikomentari. Kita perlu memilih lingkungan pergaulan kita. Kita perlu fokus dengan apa yang sudah menjadi komitmen kita. Kita tetap melakukan sesuatu untuk menyelesaikan persoalan dan tantangan dalam hidup kita. Selain hal-hal yang sudah kita tetapkan menjadi prioritas kita, ya cuekin aja. Bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang tidak dalam prioritas kita itu perlu loh, daripada akhirnya jadi pusing sendiri.

Beli Buku Bonus Ilmu buat Ibu dan Calon Ibu

Masih ingat buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang pernah saya review sebelumya? udah jadi baca belum?

kalau mau baca review lainnya liat di instagramnya ya

Sedikit resume cerita, buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku ini buku yang menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang punya karir bagus lalu dihadapkan dengan pilihan dalam hidup dengan tanggung jawab yang lebih besar terhadap anak. Bukunya berisikan drama kehidupan yang sangat nyata untuk ibu-ibu muda termasuk masalah si mbak asisten yang mudik dan tak kembali. Dalam buku ini diceritakan bagaimana seorang wanita yang sukses dalam karir bertransformasi menjadi ibu rumahtangga yang awalnya sangat stress dengan semua yang terasa baru dan akhirnya bisa menjadi lebih baik setelah menemukan tips dan trik untuk mempermudah pekerjaan sebagai ibu di rumah. Yang menarik, tips-tips dituliskan bukan seperti membaca buku manual tapi masih tetap dengan cara bercerita keseharian. Tips yang bisa ditemukan termasuk cara mengurus cucian dari menjemur sampai menyetrika, mencuci piring, sampai pengelolaan waktu. Review lengkap semi curcol nya bisa di baca di tulisan sebelumnya.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa dan bisa mengerti situasi ibu-ibu punya anak ada ataupun tanpa asisten. Buku ini juga penting dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga.

Kalau belum jadi baca dan mulai penasaran, jangan ditunda lagi segera beli sekarang juga. Kenapa harus sekarang? karena dengan beli 1 buku, selain dapat ilmu dari bukunya juga lagi ada promosi bisa dapat ilmu tambahan dengan kesempatan mengikuti 4 kulwap dengan topik-topik yang perlu diketahui sebagai ibu (dan calon ibu). Kalau yang beli buku ini pria, bisa kasih kesempatan ikutan kulwapnya ke pasangannya, kakaknya, adiknya atau wanita terdekat yang dirasakan butuh (karena kulwapnya khusus untuk wanita).

Apaan sih kulwap itu? Kulwap itu singkatan dari Kuliah via WhatsApp, jadi gak perlu pergi kemana-mana dan materinya bisa diikuti dari manapun sambil dasteran di rumah. Kalau ga sempat ikutin pada saat kulwap berlangsung, ilmunya bisa dibaca kemudian kok. Pembicara/nara sumbernya biasanya orang yang berbagi ilmu dan ada sesi tanya jawab.

Narasumber kulwapnya 4 emak-emak yang juga psikolog

Nih informasi lengkap mengenai kulwap bonus dari buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku:

“Seorang ibu yang kuat bukanlah ibu yang tidak pernah meminta bantuan orang lain. Tapi ibu yang tahu kapan dia membutuhkan orang lain dan memiliki keberanian untuk mengekspresikannya.

Karena dibutuhkan satu desa untuk bisa membesarkan anak dengan baik. Maka, dibutuhkan juga satu desa untuk menghasilkan ibu yang baik pula.”

-Anna Maghusser-
Www.mother.ly

Kulwap ini hadir untuk memfasilitasi kebutuhan ibu akan hadirnya profesional melalui metode yang bisa diperoleh sambil mengerjakan tugas utama di rumah (dan bahkan sambil dasteran sekalipun) untuk membahas masalah sehari-hari. Nih catat topik, tanggal dan waktunya:

  1. Cara mengatasi stress pada ibu rumah tangga
    Pembicara: Citra Pratiwi, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Klinis Dewasa
    (Tanggal 23 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  2. Saat ibu ada dipersimpangan (Cara mengambil keputusan yang efektif)
    Pembicara: Ernawati, M.Psi., Psikolog
    (Tanggal 29 Oktober 2019 jam 9.00-11.00)
  3. Managemen Waktu bagi Ibu rumah tangga
    Pembicara: Feny Citra, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 30 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  4. Komunikasi dengan pasangan
    Pembicara: Ratih Sondari, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 31 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)

Bagaimana cara ikutan?
Biasanya untuk ikut 4 kulwap ini, anda perlu membayar Rp. 199.000.

Tapi kali ini, bisa didapatkan GRATIS.
Ya GRATIS!!!

Anda cukup membeli buku “Kupilih Jalan Terindah Hidupku” seharga Rp. 38.000 dan langsung bisa mendapatkan satu tempat duduk di masing-masing kulwap di atas.

Jadi, tunggu apa lagi?
Silahkan pesan bukunya dan daftar melalui WA ke +6282113997086

Persediaan terbatas! Jadi jangan sampai ketinggalan.

Review Buku: Catatan Harian Menantu Sinting

Ini salah satu buku genre MetroPop yang tidak sengaja saja temukan di ipusnas. Setelah selesai baca, saya baru tahu kalau buku ini awalnya juga dimulai dari wattpad. Saya tertarik membacanya karena kisahnya tentang wanita Batak menikah dengan orang Batak dan pernah tinggal serumah dengan mertua perempuannya yang pastinya orang Batak juga. Setelah mereka pisah rumah, mertuanya masih rajin juga datang ke rumah mereka, jadilah kerunyaman menantu dan mertua berkelanjutan, apalagi dengan penantian 8 tahun menunggu punya anak, jadilah mertuanya tambah bikin kesel dengan tuntutan supaya cepat-cepat punya anak dan segala mitos seputar orang hamil.

Penulisnya juga orang Batak

Saya tidak kenal sih dengan penulisnya, dan kurang tahu juga apakan ini berdasarkan kisah nyata. Tapi ya, mungkin buat yang tinggal sama mertua bisa merasakan beberapa hal terjadi juga. Saya walau Batak tidak menikah dengan pria Batak dan tidak pernah tinggal dengan mertua, kebetulan mertua saya juga baik-baik saja. Walau kami agak lama punya anak, mertua saya gak jadi mengesalkan nyuruh cepat-cepat punya anak. Di satu titik sebelum 50 halaman membacanya, saya merasa banyak bagian cerita yang kurang lucu karena terlalu berlebihan.

Secara umum ceritanya lucu, dialog-dialog ala Batak dengan bantuan footnote yang banyak cukuplah buat pembaca non batak mengerti, walaupun saya yakin kelucuannya akan terasa berkurang ketika harus mengecek maksud dari kata ‘apa’ yang terlalu banyak digunakan mertua si Minar. Tapi bagian yang bikin saya agak malas-malasan menyelesaikan buku ini adalah terlalu banyak bagian vulgar yang sebenarnya bisa saja dihilangkan tanpa mengurangi kesan kalau mertua si Minar ini sungguh luar biasa nyentrik dan cepat menghabiskan stok sabar menantu. Setelah selesai membaca, waktu saya mencari tahu lebih lanjut tentang buku ini, ternyata ada rating 21+, jadi ya… salah saya sendiri gak cari tahu tentang bukunya sebelum membaca ya. Buku ini cuma 231 halaman, tapi butuh beberapa hari menyelesaikannya. Beda dengan buku Resign! dan Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang buat saya lebih bikin penasaran dan bisa selesai dalam waktu 1 hari 1 buku.

Daftar isi

Kalau dilihat dari daftar isinya, sebenarnya judulnya bukan menantu sinting, tapi mertua yang bikin menantu sinting. Tapi ya, saya bisa mengerti kalau lebih sopan judulnya menantunya yang sinting daripada mertuanya.

Beberapa bagian dalam buku ini juga memberikan gambaran kelakuan orang Batak, misalnya pentingnya anak laki-laki buat orang Batak, penamaan yang berubah setelah mempunyai anak atau cucu, beberapa perubahan cara menyebut nama kalau terlalu susah di lidah menjadi ucok dan butet. Penjelasan tentang sapaan di keluarga Batak juga ada di buku ini. Untuk orang yang bukan Batak, selesai membaca buku ini kemungkinan bertambah kadar kebatakannya dengan huruf e tajam di sana sini.

Sebenarnya saya kurang suka menulis kritik, tapi ya mungkin ini namanya opini ya. Walaupun banyak yang memberikan pujian lucu dan kocak, tapi buat saya buku ini kurang direkomendasikan, apalagi kalau gak biasa dengan istilah Batak. Saya menuliskan ini siapa tahu ada yang berharap banyak dari buku ini dan ternyata gak sesuai dengan harapan. Hal-hal yang bikin saya kurang cocok itu antara lain:

  • saya gak menemukan si Minar ini boru apa. Padahal di dalam cerita, ada nama lengkap Sahat dan Mamaknya. Mungkin saya yang kelewat?, gak penting? ya pentinglah biar tau Minar ini asli Batak atau pura-pura Batak (hahaha apaan sih komentar gak penting juga).
  • Terlalu banyak generalisasi tentang orang Batak di buku ini. Saya kuatir kalau ada orang non batak mau nikah dengan orang Batak jadi keburu salah paham dan ambil asumsi yang salah. Misalnya nih ya tentang orang Batak makan daging anjing, ya… walaupun itu fakta, tapi saya gak pernah melihat ada orang Batak yang tiap lihat anjing hidup langsung menetes air liurnya dan pengen masak langsung itu anjing. Kalau udah terhidang aja kali di meja makan baru di makan.
  • Mertua si Minar ini ceritanya tinggal di Jakarta, kayaknya sejauh saya mengenal orang-orang Batak yang tinggal di Jakarta ataupun Bandung, mereka udah lebih modern dan ngomongnya udah gak Batak kali. Entahlah ya, kalau ternyata saya aja yang udah kurang banyak bergaul dengan orang batak. Tapi saudara-saudara saya yang Batak ada banyak banget tinggal di Jakarta, dan mereka udah gak kentara lagi loh bataknya kalau ngomong bahasa Indonesia.

Tapi ya sekali lagi, namanya juga review saya ini sifatnya opini, apa yang kurang pas buat saya bisa jadi lebih dari cukup buat yang lain. Kalau mau mencoba melihat sedikit isi dari buku ini sebelum repot-repot minjam di ipusnas ataupun membelinya, bisa baca sebagian isinya di wattpadnya. Untuk membacanya bisa dari browser tanpa harus login kok.

Sepertinya cukup dulu baca buku genre MetroPop nya, mau cari buku anak-anak dululah di ipusnas. Kalau ada yang punya rekomendasi, tuliskan di komentar ya.

Baca buku: Resign!

Gara-gara baca buku jadi bolos nulis, ini sih jelas alasan yang dicari-cari, padahal penyakit malas nulis datang lagi karena keseringan bolos. Harus mulai rutin lagi nulis biar gak kebawa malasnya. Hari ini saya akan menuliskan tentang buku yang sebenarnya saya baca sebelum buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku.

Buku Resign! di aplikasi ipusnas

Terakhir kali baca buku kategori MetroPop itu rasanya sebelum ke Chiang Mai, baca buku karya teman kuliah, udah lama banget ya. Nah beberapa hari lalu baca review buku ini dari salah satu anggota grup KLIP dan jadi teringat mencari di aplikasi ipusnas dan ketemu. Langsung deh pinjam dan baca 1 hari selesai.

Daftar isinya agak salah nih di aplikasinya

Buat yang mencari bacaan untuk berhenti dari nonton kdrama, buku ini boleh dicoba dibaca. Kisahnya mengambil tempat di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Jangan bayangkan akan ada pembahasan detail tentang apa yang mereka kerjakan, yang ditunjukkan lebih ke tingkat tekanan batin dari para anak buah menghadapi tuntunan deadline pekerjaan plus bos yang sering meminta review berkali-kali sampai sempurna.

Kelakuan bos yang bikin anak buah tertekan batin ini sebenarnya membuat anak buah pengen resign saja. Tapi urusan resign ini gak mudah, karena si bos punya radar kalau ada anak buah minta ijin dengan berbagai alasan apapun pasti bos tau dan menggagalkan proses interview mereka. Merekapun bikin kompetisi berlomba untuk duluan resign.

Ceritanya dibumbui dengan kisah cinta ala-ala kdrama. Kenapa saya bilang ala kdrama? karena seperti di kdrama ada klise di mana dari 2 tokoh yang seperti kucing dan anjing ternyata malah jadian. Prosesnya lebih cepet sih dari drama, gak nunggu 16 episode haha.

Oke daripada jadi spoiler, lebih baik berhenti memberitahu resensi ceritanya. Buku dengan 288 halaman ini dituliskan awalnya di media wattpad. Wattpad itu apalagi? Ini kapan-kapan deh dituliskannya ya. Kalau mau tau bisa langsung klik aja buat baca penjelasannya.

Kalau melihat dari jumlah pembaca di aplikasi ipusnas saja sudah lebih dari 1000 orang, saya yakin yang beli buku ini juga cukup banyak. Buku ini mungkin ceritanya terlalu spesifik dengan masa ini, tapi ya genre metropop umumnya seperti itu, berbeda dengan genre fantasi seperti Harry Potter, Narnia ataupun kisah detektif Agatha Christie yang ceritanya masih tetap menarik dibaca walau sudah lama terbitnya. Eh mau ngomong apa sih saya sebenarnya? Maksudnya ya kalau mau bacaan hiburan lumayanlah buku ini. Tapi kalau dibacanya 20 tahun mendatang, saya gak yakin masih bakal ada taxi online nggak hehe.

Ada istilah di buku ini yang baru buat saya, seperti halnya kacung kampret yang disingkat dengan cungpret, atau singkatan MT untuk Makan Teman. Dulunya saya tau istilah kacung ataupun makan teman, tapi ya gak disingkat begitu. Dialog dalam buku ini juga banyak menggunakan bahasa Inggris, dan memang jaman sekarang sudah biasa dalam percakapan sehari-hari bercampur memakai bahasa asing. Penggunaan taxi online dan memesan makanan juga menunjukkan ceritanya berlangsung di masa setelah ada taxi online.

Daya tarik buku ini buat saya sih dialog-dialognya yang lucu. Gaya bahasa anak buah yang pengen melawan bos tapi harus menahan diri, ataupun gaya bahasa gossip dengan teman kantor di saat makan siang ataupun menggunakan media online chat.

Saya pernah kerja di kantor, tapi kantor saya tekanannya gak kayak di buku ini, bos nya juga baik-baik hehehe. Tapi ya gaya bercerita penulis bisa diikuti dan cukup membuat saya menyelesaikan bukunya dengan cepat. Untuk pekerja kantoran yang sering lembur mungkin bisa lebih membayangkan situasinya dan akan ikut-ikutan sebel dengan tokoh bos nya.

Jadi kesimpulannya, bukunya direkomendasikan gak nih untuk dibaca? ya kalau mencari bacaan ringan untuk dibaca sambil nunggu atau di perjalanan di tengah kemacetan, daripada bengong lumayanlah buku ini bisa dicoba baca. Kalau mau lihat apakah bakal suka atau nggak, bisa baca dari aplikasi ipusnas.

Oh ya, sekedar pemberitahuan, aplikasi ipusnas ini isinya banyak sekali. Buku-buku dari jaman Lupus, Olga Sepatu Roda, Lima Sekawan, Agatha Christie juga ada. Tapi sayangnya, aplikasi ini masih agak bermasalah dan sering ketutup sendiri. Tips nya sih cuma sabar aja dan coba instal ulang aplikasinya hahaha. Kemarin malah pernah servernya yang bermasalah dan saya ga bisa download buku sama sekali. Ya namanya juga gratisan ya, jadi sabar aja dan semoga aplikasinya diperbaiki oleh ipusnas untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Review Buku: Kupilih Jalan Terindah Hidupku

Sudah 2 hari bolos nulis blog, ceritanya di grup KLIP ada yang share novel tentang dunia kerja, terus ternyata bukunya ada di app ipusnas. Ternyata karena ceritanya menarik, keterusan baca deh. Buku 200 an halaman selesai 1 hari (biasanya baca buku 1 bulan gak selesai haha). Tapi emang buku yang dibaca novel bahasa Indonesia jadi lebih cepat bacanya. Saya lupa terakhir baca novel bahasa Indonesia itu kapan.

Cover buku di aplikasi ipusnas

Kemarin, mbak Erna teman di grup menulis KLIP kasih tahu kalau bukunya yang baru terbit November 2018 lalu ada di ipusnas juga. Beberapa waktu lalu ada acara giveawaynya tapi gak bisa ikutan karena ntar pasti susah ongkir, terus mikirnya ntar aja nyari pas pulang. Tertarik beli karena kami di grup dapat cerita proses penulisan buku sampai terbit itu berapa lama dan bagaimana. Nah, waktu dikasih tau ada di ipusnas, saya langsung pinjam biar gak kehabisan stok.

Pengalaman baca di hari pertama, baca e-book di layar hp itu sungguh menyiksa. Jadi buat baca buku ini saya pinjam ipad Joe biar puas layarnya hehehe. Ternyata bacanya lebih cepat dari buku sebelumnya (buku sebelumnya ditulisnya besok aja ya). Saya mulai baca buku ini jam 3.30 sore waktu nungguin Jonathan les, eh waktu Jonathan selesai les udah selesai hampir setengahnya. Pulang ke rumah harus sediakan makanan dan makan malam dulu. Padahal hati ini penasaran. Selesai makan dan beberes semuanya, baru bisa baca lagi. Buku setebal 200 an halaman ini selesai hari itu juga. Bangga dengan diri sendiri tiba-tiba rajin baca hahaha.

Ah kebanyakan pengantar belum sampai ke review buku deh. Buku ini awalnya saya pikir kisah nyata, tapi waktu baca nama tokohnya loh kok namanya Mia bukan Erna. Terus baru menyadari kalau ini fiksi. Ceritanya diawali tentang seorang wanita bernama Mia yang punya tanggung jawab di kantor dan punya 2 anak di rumah. Walau saya tidak punya masa galau harus memilih pekerjaan dan anak, tapi saya bisa melihat kalau cerita ini bukan fiksi yang mengada-ada. Cerita ini bisa jadi kisah nyata kehidupan seorang wanita bekerja yang juga merangkap sebagai ibu muda. Mungkin bukan kisah nyata penulis, tapi bisa jadi kisah nyata seseorang deh.

Awal buku penuh drama

Setengah buku pertama bercerita drama suka duka dan perjuangan seorang ibu muda. Kegelisahan hati antara tanggung jawab di kantor dan di rumah. Keharusan memilih antara karir di kantor atau mengasuh anak, ditambah dengan bumbu salah paham dengan mama yang bantu jagain anak dan rasa cemburu karena anak sulung lebih dekat dengan neneknya, dan drama semakin lengkap dengan mbak yang ijin mudik dan tak kembali karena memutuskan kawin di kampung.

Kegalauan seorang Mia ini bukan hal yang baru dikalangan ibu-ibu muda. Dilema karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah dan keinginan untuk tetap berkarya di kantor terutama juga untuk membantu kebutuhan finansial keluarga.

Kesalahpahaman dengan ibunya yang akhirnya ngambek dan ga mau tinggal di rumahnya dan tidak adanya mbak yang membantu mengurus rumah, akhirnya membawa Mia menetapkan hati untuk memilih meninggalkan kantor dan fokus dengan keluarga.

Mungkin buat yang belum mengalami, atau buat yang tidak pernah mengalami, akan berpikir: ah enak ya berhenti kerja, di rumah kan gak ngapa-ngapain. Tapi buat saya yang kebagian jatah ngurus anak di rumah sepanjang hari, cerita tentang Mia ini sangat nyata. Mia yang biasanya kerja di kantor, udah jadi supervisor, tiba-tiba di rumah seharian ngurusin 2 anak tanpa mbak dan tanpa siapa-apa. Suaminya bantuin gak? Bantuin juga tapi dalam cerita ini suaminya kasih syarat kalau apapun keputusan Mia, rutin sang suami tidak akan berubah, termasuk bangun siang di akhir pekan. Waktu baca ini dalam hati saya pengen nimpuk tuh suaminya bilang: lah elu kerja Senin-Jumat terus minta santai di akhir pekan, terus istri lu kapan istirahatnya? lu kata istri lu kacung? hahaha. Tapi emang kenyataanya banyak kok suami yang begitu (untungnya Joe gak gitu dan saya masih ada mbak walau part time hihihi).

Setelah menjalani drama demi drama menjadi ibu rumah tangga tanpa pengalaman mengurus rumah tanpa asisten, Mia mulai tergoda untuk kembali kerja lagi saja karena katanya masih dibutuhkan di kantor. Di saat itu Mia mendapat mimpi sekaligus pencerahan. Mau tau pencerahannya apa? baca bukunya hahhaha.. gak mau spoiler.

baca sampai habis, terutama bagian rumus mengurus rumahtangga

Setelah mendapat pencerahan, dari bagian tengah ke akhir cerita, buku ini banyak ilmunya. Bukan berarti nggak ada drama lagi, tapi ya udah punya banyak bekal menghadapi dramanya. Dengan cara yang tidak membosankan, tips mengenai mencuci piring, menjemur pakaian, menyetrika baju diceritakan dalam buku ini. Kedengarannya sepele ya, tapi tips itu untungnya saya sudah pelajari dari mama saya jaman masih remaja. Tapi walaupun tips-tips tersebut bukan hal baru buat saya, saya yakin banyak ibu-ibu muda yang mungkin belum tahu tips tersebut. Penyajian tipsnya juga menarik, bukan dalam bentuk bullet poin presentasi hahaha.

Di bagian akhir buku ini, Mia merumuskan kehidupan keluarga seperti organisasi kantor. Nah bagian ini saya suka banget. Kalau bagian ini saya yakin hasil perenungan mendalam penulis di saat malam-malam bergadang sambil ngurus bayi hehehe.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa. Buku ini juga penting untuk dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga. Sukur-sukur, suaminya gak kayak suami Mia dalam cerita ini yang gak mau berubah rutin hanya karena Mia berhenti kerja. Padahal kan Mia biasanya ada asisten, nah ini gak ada mbak pula (tetep aja saya protes bagian itu hahaha).

Haduh jadi panjang nih review atau curhat sih? hahaha. Saya sih kesimpulannya suka dengan buku ini. Jarang menemukan buku tentang ibu rumah tangga dalam bentuk novel dengan berbagai percakapan yang saya bisa bayangkan kejadiannya.

Semoga ya, bagian terakhir buku ini jadi kenyataan buat penulis buku. Buku ini kalau difilmkan juga bisa jadi edukasi buat ibu-ibu rumahtangga dan sistem pendukungnya. Hal penting lain juga dalam buku ini diceritakan bagaimana pentingnya komunikasi dengan pasangan dan juga punya kemandirian ekonomi.

Saya sendiri gak mengalami dilema seperti Mia. Sebelum anak pertama lahir, kami dengan sadar memutuskan kalau saya harus berhenti kerja. Tinggal di negeri orang tanpa keluarga yang bisa dititipkan ataupun betapa tidak enaknya kalau harus punya pengasuh orang Thai, bisa-bisa anak kami jadi orang Thai. Saya lebih beruntung dibandingkan Mia, keputusan yang kami ambil berdua didukung penuh dengan Joe, dan Joe bukan tipe yang bilang: rutin saya tidak berubah ya. Waktu anak-anak masih bayi, ada hari-hari di mana saya bangun siang dan Joe yang sediakan sarapan hehehe. Prinsipnya punya anak berdua kita urus berdua dong. Setelah anak besar, ya kalau saya bangun siang, paling sarapannya jadi pada kesiangan hahahhaa.

Kesimpulannya buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca semua orang yang sedang galau menghadapi kerjaan rumah yang tak kunjung selesai, ataupun kegalauan antara pilihan rumah dan kantor. Semua drama akan berlalu kalau kita tahu caranya. Mungkin judul lain buku ini adalah: Yang perlu diketahui sebelum terjun bebas jadi ibu rumah tangga.