Buku-buku Baru

Post ini sekedar untuk catatan beberapa buku baru yg dibeli belakangan ini. Bulan lalu beli beberapa buku dari Asiabooks.com. Kebetulan lagi ada diskon 20 persen untuk semua buku kalau beli online (ada beberapa toko asiabooks offline juga di sini). Berhubung Jonathan sudah selesai membaca buku Harry Potter 1 dan 2, maka kami beli buku 3 dan 4. Selain itu kami membeli buku set Minecraft.

Semua buku yang dibeli ini sudah dibaca berulang-ulang oleh Jonathan. Untuk Joshua kami membelikan buku wipe and clean 1 set yang isinya ada 5 buku. Sejak buku datang sampai sekarang, entah sudah berapa kali bukunya ditulisin dan dihapus. Untuk papa dan mamanya kayaknya ga beli buku deh, papanya palingan ikutan baca buku Minecraft saja.

Karena buku Fat and Cat sudah beberapa kali dibaca oleh Joshua, pas jalan ke toko buku liat buku Cow Take a Bow dan beberapa cerita lainnya. Papanya langsung semangat beliin buat Joshua, dan benar saja, sejak beli sampai sekarang entah sudah berapa kali dibacakan dan dihapalkan oleh Joshua.

Beberapa waktu lalu ada acara Big Bad Wolf di Bangkok. Saya awalnya ga kepikiran untuk beli-beli, karena ongkos buat ke Bangkoknya saja mahal. Kalau di Jakarta, teman saya cerita antrinya minta ampun dan kalau pergi ke sana harus siap-siap bawa koper dan ya siap-siap pegel ngantri selain bisa kalap liat buku banyak banget. Nah ternyata dari seorang teman yang pernah tinggal di Bangkok dan sekarang pindah ke Chiang mai, saya dikasih tau ada grup buat nitip beli. Waaaah langsung deh ikutan kalap hahaha.

Kerjaan Joshua. Masih ada beberapa yang salah, lumayan lah untuk 3 tahun 2 bulan yang tidak diajari secara khusus

Sebenernya saya masih cukup sukses menahan diri, melihat foto buku banyak banget. Kadang-kadang saya bingung, itu banyak banget buku apa ada yang baca ya? terus bukunya judulnya mirip-mirip gitu modelnya. Buku aktivitas buat anak juga banyak selain buku cerita.

Dari Big Bad Wolf Bangkok akhirnya saya nitip buku dalam bentuk set, karena harganya memang jauh banget hematnya. Jonathan sudah kami belikan dan baca buku Captain underpants 1 sampai 3, tapi kami belum beli lagi karena alasan agak mahal. Akhirnya kemarin nitip beli Capt. Underpants yang set (10 buku). Harga setnya ini kira-kira cukup untuk beli 4 buku satuan.  Selain set itu kami juga beli buku Diary of Wimpykids set dan buku wipe and clean untuk menulis tulisan sambung (cursive). Buku-buku ini semua umumnya untuk Jonathan walaupun buku Capt. underpants saya ikutan baca buat hiburan. Oh ya, saya juga membeli buku The Famous Five-nya Enid Blyton, saya ingin bernostalgia sedikit sekalian mengenalkan ke Jonathan bacaan chapter book saya dulu.

Ketika paket buku BBW sampai, saya baru menyadari saya ga pesan apa-apa untuk Joshua, tapi Joshua ternyata malahan senang dengan buku latihan menulis sambung. Sejak buku itu sampai kayaknya lebih banyak Joshua yang pakai daripada Jonathan. Joshua secara umum lebih senang tulis-tulis daripada Jonathan.

Awalnya, saya kurang setuju Joe beliin buku Captain Underpants buat Jonathan, karena tokoh ceritanya 2 anak sekolah yang agak “usil”, tapi setelah dibaca-baca, sebenarnya mereka bukan usil tapi kreatif. Buku ini juga mengenalkan konsep flip-0-rama. Konsep flip-o-rama ini sebenarnya bukan hal baru, tapi baru buku ini yang saya temukan cukup serius memperkenalkan flip-0-rama.

Buku Captain Underpants ini juga ada ide-ide yang bisa mengembangkan imajinasi anak, misalnya mesin fotokopi dari gambar jadi benda 3dimensi, mesin membesarkan atau mengecilkan, formula untuk memberi kekuatan super, dan pernah juga ada dibahas percobaan science sederhana mencampurkan vinegar dengan baking soda. Setelah membaca beberapa bukunya, menurut saya buku ini masih baik-baik saja untuk hiburan, tapi kita perlu ingatkan anak kita apa yang tidak baiknya dan jangan ditiru.

Sebelumnya saya berusaha mencari buku Famous Five nya Enid Blyton di toko buku di Chiang mai tapi ga pernah ketemu, nah dari foto-foto jasa titip, saya lihat ada 1 buku Famous Five. Berhubung ini buku lama, buku ini udah ga populer lagi sekarang, hampir saja yang dititipin kelewat karena dia ga pernah dengar The Famous Five (ketauan beda generasi). Untung akhirnya dia menemukan dari buku pertama, dan lebih menyenangkannya karena ada versi collection, 1 buku isi 3 judul buku. Saya langsung beli 3 buku koleksi yang ada di pameran itu. Yay dapat deh 9 buku hahaha.

Buku Captain Underpants udah selesai dibaca Jonathan sampai nomor 10, sekarang dia jadi terinspirasi ikut-ikutan bikin komik seperti tokoh dalam cerita captain underpants walau masih agak susah dimengerti. Saya baru selesai baca buku pertama Lima Sekawan. Jonathan juga tertarik dengan cerita Lima Sekawan karena saya bacakan bersuara. Menarik membaca buku lima sekawan versi bahasa Inggris (dulu yang saya baca versi bahasa Indonesia). Saya kagum dengan Enid Blyton yang bisa menulis banyak sekali buku dan karya yang dia tulis sebelum tahun 42 bisa dibaca tanpa terasa janggal di jaman sekarang ini. Gak kalah deh dengan Harry Potter.

Buku Diary of Wimpykids belum saya berikan ke Jonathan, karena pas saya baca lagi reviewnya ternyata ada bagian yang perlu didampingi. Sekarang ini Jonathan masih belum minta juga, jadi ya disimpan dulu. Harapan saya nantinya setelah baca buku Diary of Wimpykids, Jonathan kembali lagi mengerjakan jurnalnya dan siapa tahu mulai rajin mengisi blognya. Kadang-kadang Jonathan punya semangat yang sesaat saja, dan perlu disemangati terus menerus supaya dia tetap kerjakan.

Saya ini bukan orang yang terlalu rajin membaca, tapi saya suka ga bisa menahan diri untuk membeli buku apalagi kalau ada potongan harga. Sekarang ini udah banyak tumpukan buku yang harusnya dibaca, tapi gara-gara baca FB dan kadang-kadang nonton Netflix, jadilah bukunya ga dibaca juga. Joe lebih rajin membaca dari saya, dia bisa baca buku elektronik tanpa terdistract dengan segala pop up yang muncul di HP (Joe lebih sering baca buku teknis dan udah langganan Safari books, jadi jarang beli buku cetak).

Sekarang ini kami juga subscribe ke Kindle Unlimited supaya bisa mengakses lebih banyak buku lagi tanpa harus membelinya. Jonathan sepertinya lebih rajin membaca daripada saya, sekarang ini dia sedang meneruskan baca buku Micro Adventure yang ke-7 yang ke-8 (waktu bikin draft posting ini masih yang ke-7). Saya masih belum meneruskan baca buku Micro Adventure di buku ke-4 dan beberapa buku yang belum selesai di Kindle.

Waduh catatan buku aja jadi panjang gini. Biar ingat punya buku apa aja dan dibaca semuanya hehee.

Ball Lightning dan trilogi The Three-Body Problem

Beberapa hari yang lalu buku Ball Lightning versi bahasa Inggris akhirnya diterbitkan dan dengan cepat saya selesaikan. Buku ini aslinya ditulis tahun 2004 oleh Liu Cixin dan bisa dibilang sebagai prequel dari  trilogi The Three-Body Problem yang sudah diterjemahkan duluan beberapa tahun yang lalu.

Dari dulu ingin menulis mengenai trilogi ini, tapi selalu ditunda, nah dengan adanya buku yang baru terbit ini, ada alasan untuk menulis seri ini.  Saya akan menyampaikan pendapat saya, dengan sedikit kutipan cerita yang semoga tidak menjadi spoiler (anggap saja seperti menonton trailer film). Semua buku ini saya baca secara elektronik di Kindle.

Hampir semua buku science fiction yang saya baca, terutama dalam kategori Hard science fiction (kategori sci-fi dengan penekanan pada akurasi sains) berasal dari negara barat. Buku seri trilogi The Three-Body Problem ini buku scifi pertama yang saya baca yang asalnya dari negeri China. Saya tidak bisa membaca dalam bahasa aslinya untungnya terjemahannya menurut saya sangat bagus, setidaknya tidak membuat saya bingung.

Biasanya buku scifi lain akan berfokus pada segala sejarah, teknologi dan lembaga yang ada di Amerika atau Eropa, tapi buku ini fokusnya adalah China. Hal ini saja sudah cukup membuat buku ini menarik, tapi scifi-nya juga sangat menarik dari berbagai sudut pandang.

Bagian pertama buku pertama (bab 1-3) memang agak membosankan dan kurang terasa aura buku scifi sampai akhir bab 3. Ceritanya di awali dengan masa Cultural Revolution di China dan menjadi pengantar pengembangan karakter. Tapi setelah melewati bagian ini ceritanya menjadi sangat menarik.

Judul buku ini dari masalah fisika: three-body problem, menentukan posisi dan gerakan 3 benda jika diketahui informasi awal (massa, kecepatan, dan posisi) benda-benda tersebut dengan menggunakan hukum Newton. Ini berhubungan erat dengan bagian dari cerita, mengenai peradaban alien yang tinggal di tata surya dengan 3 matahari, dan mereka memiliki masalah karena tidak bisa meramalkan posisi ketiga matahari tersebut.

Dari sudut pandang ilmu komputer, akurasi buku ini sangat baik. Ini wajar karena penulisnya adalah seorang computer engineer. Contohnya di buku pertama (The Three-Body Problem) dia menggambarkan sebuah komputer yang terdiri dari banyak prajurit. Ini cuplikan dari buku pertama di mana John Von Neuman bertemu Qin Shi Huang:

Von Neumann turned to the three soldiers again. “Let’s form another component. You, Output: if you see either Input 1 or Input 2 raise a black flag, you raise the black flag. There are three situations where that will be true: black-black, white-black, black-white. When it’s white-white, you raise the white flag. Understand? Good lad, you’re really clever. You’re the key to the correct functioning of the gate. Work hard, and the emperor will reward you! Let’s begin operation. Raise! Good, raise again! Raise again! Perfect. Your Imperial Majesty, this component is called an OR gate.”

Then, Von Neumann used the three soldiers to form a NAND gate, a NOR gate, an XOR-gate, an XNOR-gate, and a tristate gate. Finally, using only two soldiers, he made the simplest gate, a NOT gate, or an inverter: Output always raised the flag that was opposite in color from the one raised by Input.

Von Neumann bowed to the emperor. “Now, Your Imperial Majesty, all the gate components have been demonstrated. Aren’t they simple? Any three soldiers can master the skills after one hour of training.”

“Don’t they need to learn more?” Qin Shi Huang asked.
“No. We can form ten million of these gates, and then put the components together into a system. This system will then be able to carry out the calculations we need and work out those differential equations for predicting the suns’ movements. We could call the system… um…”
“A computer,” Wang said.

Dari sudut pandang computer security, buku kedua cukup menarik: apa yang harus dilakukan jika pihak musuh punya teknologi untuk memonitor semua aksi kita tidak peduli di mana kita berada dan teknologi komunikasi kita, tapi tidak mengetahui niat kita.

Meskipun bukunya banyak bercerita tentang sains dan teknologi, tapi cerita mengenai aspek manusianya juga sangat banyak (ada kisah cintanya juga). Bagaimana bumi akan bereaksi kalau ternyata alien itu nyata? buku ini mencoba menggali aspek sosialnya tidak hanya teknologinya.

Meskipun ditulis pertama, tapi buku Ball Lightning diterjemahkan belakangan. Seharusnya terjemahan bukunya selesai tahun lalu, tapi tertunda hingga baru dirilis beberapa hari yang lalu. Buku ball lightning ceritanya cukup menarik, tapi menurut saya tidak terlalu berhubungan dengan buku-buku berikutnya.

Ada karakter yang muncul di buku berikutnya dan ada kejadian yang berhubungan, tapi teknologi yang ada tidak dipakai di buku trilogi The Three-body Problem. Menurut saya buku Ball Lightning ini menarik tapi ceritanya tidak sedalam The Three-Body problem.

Demikian ulasan buku Trilogi Three-Body Problem. Semoga banyak yang tertarik untuk membaca bukunya, karena sepertinya film yang sudah direncanakan belum jadi juga.  Kalau belum tertarik juga, mungkin pujian dari Barack Obama ini bisa membantu memutuskan:

What are some of those books?

It’s interesting, the stuff I read just to escape ends up being a mix of things — some science fiction. For a while, there was a three-volume science-fiction novel, the “Three-Body Problem” series —

Oh, Liu Cixin, who won the Hugo Award.

— which was just wildly imaginative, really interesting. It wasn’t so much sort of character studies as it was just this sweeping —

It’s really about the fate of the universe.

Exactly. The scope of it was immense. So that was fun to read, partly because my day-to-day problems with Congress seem fairly petty — not something to worry about. Aliens are about to invade

Oh iya, selagi menunggu buku Ball Lightning ini, saya sempat membaca juga The Wandering Earth yang merupakan koleksi cerpen dari penulis yang sama. Cerita-ceritanya bervariasi, ada yang menarik, dan ada juga yang membosankan tapi secara keseluruhan cukup menarik.

Beberapa buku Roald Dahl

Siapa sih Roald Dahl? Singkatnya Roald Dahl itu penulis terkenal, lengkapnya lihat di wikipedia Roald Dahl ya. Dia menulis berbagai cerita dan cukup banyak menulis buku cerita pendek untuk anak-anak. Tapi waktu saya jadi anak-anak, manalah saya tahu buku Roald Dahl, taunya cuma Enid Blyton karena ada film Lima Sekawan diputar di TV, lalu jadi nyari buku Lima Sekawan. Kemungkinan waktu saya kecil, buku-buku Roald Dahl belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sejak mengenalkan chapter book ke Jonathan, saya jadi ikutan membaca buku-buku karya Roald Dahl. Waktu saya menonton film Charlie and the Chocolate Factory, saya tahu kalau film itu dari buku penulis terkenal, tapi saya ga caritahu siapa penulis bukunya dan apa karya lainnya. Tapi setelah tahu, akhirnya buku Roald Dahl Jonathan yang pertama dibeli adalah  buku Charlie and the Chocolate Factory. Sebagai reward selesai membaca buku, kami nonton filmnya di Netflix.

Buku Roald Dahl berikutnya yang Jonathan minta belikan adalah Charlie and the Glass Elevator, dan George’s Marvelous Medicine. Karena Jonathan  menyelesaikan dalam waktu singkat, berikutnya kami belikan buku Matilda. Ketika saya berencana untuk membeli lebih banyak buku Roald Dahl, kebetulan ada yang mau pindah dari Chiang Mai dan menjual satu set buku-buku Roald Dahl dengan harga murah, langsung deh saya beli tanpa pikir panjang. Buku Roald Dahl beli di toko sekitar 300 an baht, buku bekas 1 set yang saya beli ada 15 buku cuma 500 baht saja dan semua buku dalam kondisi bagus walaupun akhirnya ada beberapa buku yang sudah kami punya.

Karena merasa perlu untuk mengetahui apa yang di baca Jonathan, saya juga ikutan membaca buku Roald Dahl. Saya tidak membaca buku Charlie and the Chocolate Factory, soalnya saya sudah 2 kali menontonnya, saya pikir saya akan baca belakangan. Saya pilih baca buku Matilda, berikutnya buku  George’s Marvelous Medicine, Fantastic Mr. Fox, The Twits, The Girrafe and the Pelly and Me. Semua buku-buku itu sudah dibaca duluan oleh Jonathan. Bahkan ada beberapa buku Roald Dahl lainnya yang Jonathan sudah baca tapi saya belum sempat menyelesaikan juga.

Sebelum saya membeli bundle buku bekas harga murah, Joe awalnya berniat membelikan e-book saja. Tapi waktu mencari daftar bukunya Roald Dahl, kami baru menyadari kalau tidak semua buku Roald Dahl ini untuk anak-anak. Kalau masuk ke website officialnya Roald Dahl juga akan ada pertanyan apakah kita guru, anak-anak atau dewasa. Dan sayapun baru tahu kalau di official websitenya ada lesson plan untuk eksplorasi buku-bukunya di ruang kelas (bagian ini saya belum bisa cerita banyak karena saya juga baru tahu haha).

Kesan saya ketika membaca buku-buku Roald Dahl (peringatan: bakal ada spoiler mengenai beberapa buku, karena saya ga bisa menuliskan kesannya tanpa menuliskan bagian yang bikin kesan tersebut).

Awalnya saya merasa heran, apa iya buku ini untuk anak-anak? apalagi buku pertama yang saya baca Matilda. Kisahnya menurut saya sangat sedih dan banyak percakapan yang kurang pantas diucapkan oleh orangtua ataupun guru. Saya sempat heran, kenapa Jonathan ga nangis baca buku ini, mengingat dia nonton film pokemon aja bisa nangis hehehe. Cerita Matilda berakhir sepertinya bahagia tapi menurut saya menyedihkan karena orangtua Matilda meninggalkan Matilda begitu saja dengan gurunya. Memang sih Matilda lebih bahagia tanpa orangtuanya, dia bisa baca buku dan si ibu guru lebih mengerti dia daripada orangtuanya, tapi kan tetep aja sedih kalau ada cerita anak ditinggal orangtuanya.

Dari cerita George’s Marvelous Medicine, saya juga masih heran, apa iya ini buku anak-anak? kok ya George bikin ramuan dari isi obat-obatan di kamar mandi dan gudang lalu dikasih minum ke neneknya. Heran karena neneknya kok bisa ga langsung mati. Ketika neneknya akhirnya mati, sepertinya mereka ga diceritakan merasa sedih. Aduh ini ngajarin apa sih ke anak-anak?. Tapi saya menyadari, memberikan buku ke anak itu harus didampingi, jadi saya ajak Jonathan ngobrol untuk mengingatkan dia jangan pernah bikin campuran obat seperti di buku George’s Marvelous Medicine. Saya juga bertanya apakah dia merasa takut atau sedih ketika membaca bukunya. Intinya saya jadi punya bahan untuk mengajarkan hal-hal yang berbahaya dan sebaiknya tidak dilakukan.

Buku Fantastic Mr. Fox dan buku The Girrafe and the Pelly and Me jauh lebih baik jalan ceritanya dan tidak sedramatis buku-buku sebelumnya. Diantara membaca 2 buku itu, saya membaca buku The Twits yang lagi-lagi agak dramatis. Dramatis karena nasib tragis Mr. dan Mrs. Twits di akhir cerita walaupun kalau dibaca dari deskripsi tokohnya mereka bukan orang yang baik dan rasanya tidak ada yang akan merasa kehilangan mereka.

Akhirnya sebuah cerita hanyalah cerita, yang lebih perlu gimana kita memaknai cerita tersebut. Mengambil hal yang baiknya dan mengerti kalau di dunia ini ga semua orang baik. Bagaimana supaya bertahan hidup seperti keluarga Fox ketika mereka disudutkan dalam lubangnya dan bagaimana bisa seperti Matilda yang sangat rajin membaca sejak kecil.

Berikutnya masih banyak buku Roald Dahl yang belum saya baca, sejauh ini walaupun ceritanya gak semuanya berakhir bahagia, tapi cerita-ceritanya cukup menghibur.  Motivasi saya membacanya supaya bisa memilih juga mana buku berikutnya sebaiknya yang dibaca Jonathan, dan supaya saya jangan ketinggalan dari Jonathan hehehe.

Mengajak Jonathan Membaca

Sejak bisa membaca, Jonathan senang membaca berbagai buku. Buku yang dia paling senang model buku Usborne yang ada lift the flapnya. Berikutnya dia mulai suka membaca komik. Kami berusaha mengenalkan dia untuk membaca buku tanpa gambar (chapter book), awalnya dia bilang kurang suka dan ceritanya ga menarik.

Bulan Januari 2018, saya berusaha melatih Jonathan untuk membaca buku setiap hari 1 selama 10 menit, saya ikuti kegiatan challenge Read Aloud yang ada di internet tentunya dengan memberi reward buku yang dia pilih sendiri.  Walaupun  dia sudah bisa baca, waktu membacakan bersuara, kadang-kadang dia belum bisa berhenti ketika ada titik ataupun tanda baca lainnya. Dia cenderung membaca seperti kereta api yang tidak ada jeda walau ada titik koma. Semua diterobos aja gak berhenti sampai ganti halaman. Tentunya jadi tidak enak mendengarkannya dan saya harus mendampingi membacanya.

Buku yang saya berikan untuk dia baca selama sebulan Januari beraneka ragam. Kadang saya suruh dia membaca dongeng sebelum tidur yang cuma beberapa halaman, buku lift the flap, komik dan saya mulai kasih chapter book yang isinya berupa kumpulan cerita lepas dan membacanya tidak lebih dari 10 menit.

Seperti umumnya anak-anak, Jonathan ga suka dan bersungut-sungut ketika saya suruh baca. Tapi lama kelamaan, tanpa sepengetahuan saya, dia sering membaca tak bersuara sendiri  tanpa disuruh. Akhirnya saya menyerah memaksa dia membaca bersuara dan membiarkan saja dia memilih apa yang dia mau baca (lebih baik dia membaca daripada main game atau nonton TV doang). Untuk mengecek apakah Jonathan mengerti yang dia baca, kami ajak dia ngobrol dan menanyakan siapa tokohnya, bagian mana ceritanya yang dia suka atau tidak suka, siapa tokohnya dan apa peristiwa yang terjadi dalam buku yang dia baca.

Awalnya saya memberikan buku yang banyak direkomendasikan homeschoolers dengan kategori living books. Dia bilang bukunya tidak menarik dan mungkin dia belum mendapatkan klik dalam membaca buku. Kami juga berusaha memberi reward untuk memotivasi Jonathan membaca. Katanya Jonathan pengen punya uang buat dikumpulin dan nantinya dibelikan sesuatu, jadi kami setuju, kalau dia baca 1 chapter book akan kami berikan 10 baht. Kalau bukunya lebih tebal lebih dari 100 halaman nantiya bisa dikasih lebih.

Setelah mencoba memberikan berbagai chapter book dengan hasil yang ga terlalu signifikan (kadang dibaca kadang nggak), suatu hari Joe memberikan buku cerita yang mengajarkan pemrograman BASIC terbitan lama, seri Micro Adventure. Dalam buku ini, disertakan juga beberapa listing program BASIC yang bisa dicoba disalin dan dijalankan di komputer. Ternyata buku ini merupakan buku yang memberi klik untuk Jonathan menyukai membaca chapter book.

Sejak awal April atau Mei, dia sudah membaca 7 dari 10 serial Micro Adventure. Selain serial ini, dia juga membaca berbagai buku lainnya termasuk belakangan ini dia baca buku Harry Potter 1 dan 2 dalam hitungan beberapa hari saja. Untuk beberapa buku kami beri reward boleh menonton film dari buku itu. Sejauh ini Jonathan sudah menonton: Captain Underpants, Charlie and The Chocolate Factory dan Harry Potter pertama.

Saya mencoba catch up dengan Jonathan membaca buku-bukunya, tapi sejauh ini saya masih ketinggalan banyak hehehe. Jonathan sering bertanya “what is your favorite part in this book?” setelah selesai membaca buku yang dia tahu kami sudah baca (misalnya Harry Potter). Kecepatan membaca dia melesat seperti tak terbendung dan sekarang dia bahkan mulai membaca buku-buku kategori living books yang dulu dia bilang ga suka.

Berikut ini daftar buku yang dia baca dalam sebulan ini sebagai catatan buat kami:

 Micro Adventure Series:
  1. Space Attack: Micro Adventure Number One by Eileen Buckholtz and Ruth Glick (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33165-5)
  2. Jungle Quest: Micro Adventure Number Two by Megan Stine and H. William Stine (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33166-3)
  3. Million Dollar Gamble: Micro Adventure Number Three by Chassie L. West (1984; ISBN 0-590-33167-1)
  4. Time Trap (Micro Adventure, No 4) by Jean Favors (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33168-X)
  5. Mindbenders (Micro Adventure, Vol. 5) by Ruth Glick and Eileen Buckholtz (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33169-8)
  6. Robot Race (Micro Adventure, Vol. 6) by David Anthony Kraft (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33170-1)
Captain Underpants novels:
  1. The Adventures of Captain Underpants (1997)
  2. Captain Underpants and the Attack of the Talking Toilets (1999)
  3. Captain Underpants and the Invasion of the Incredibly Naughty Cafeteria Ladies from Outer Space (and the Subsequent Assault of the Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds) (1999)
Roald Dahl novels:
  1. Charlie and the Chocolate Factory (1964)
  2. The Magic Finger (1966)
  3. Fantastic Mr Fox (1968)
  4. Charlie and the Great Glass Elevator (1972)
  5. George’s Marvellous Medicine (1981)
  6. Matilda (1988)
Harry Potter novels:
  1. The Philosopher’s Stone (1997)
  2. The Chamber of Secrets (1998)

Dan yang terakhir dia menyelesaikan 12 buku dalam winnie the pooh library box set

Banyak juga buku yang dia baca dalam sebulan ini, semoga ke depannya Jonathan tetap semangat membaca dan dengan rajin membaca dia bisa belajar lebih banyak hal lagi.

Review buku: Randomness Inside My Head

Udah lama banget ga ngeblog. Beberapa post terakhir ditulis sama Joe, tapi ini tulisan khusus karena udah janji buat nulis review buku pertama sepupu saya Rijo Tobing hehe. Dari sejak tahun lalu udah dapat bukunya yang edisi self-published tapi belum sempat baca ketinggalan di Jakarta gara-gara packing pulang yang terburu-buru. Akhirnya pas pulang kemaren beli lagi edisi terbarunya yang diterbitkan oleh Tempo dan kebetulan baru launching juga. Saya titip langsung sama namboru (mamanya Rijo) yang kebetulan juga lagi ke Medan (ah ini hidup ini penuh dengan kebetulan ya). Begitu diterima dipastikan masuk koper biar ga ketinggalan lagi karena di Medan riweuh ga sempat baca buku dengan santai.

Nah karena buku ini ditulis dalam bahasa Inggris dan saya udah lama ga baca buku fisik, butuh waktu beberapa minggu sejak kembali dari liburan buat akhirnya inget baca buku hehe. Bukunya ga tebal kok cuma 124 halaman dan ada 12 cerita. Awalnya karena buku ini berupa kumpulan cerita pendek dan ga saling terkait saya pikir ya bisa mulai baca dari cerita mana saja. Lalu saya random pilih cerita ditengah-tengah. Pilihan cerita saya bikin saya pengen langsung tanya ke Rijo kenapa begini kenapa begitu. Kenapa ada orang tega benar seperti itu. Tapi biar bisa kupas tuntas akhirnya saya putuskan menunda dulu dan baca cerita lainnya.

Lalu saya kembali ke depan dan baca dari awal sampai akhir (dalam waktu 2 hari baru selesai baca karena dipotong digangguin Joshua). Ternyata ga cuma cerita tengah yg bikin saya emosi dan bertanya tanya, tapi keseluruhan isi buku bikin emosi terasa diaduk aduk. Ada cerita yang bikin baper kalau pinjem istilah jaman sekarang. Ada cerita yang bikin terkenang masa sekolah dan ada juga yang bikin reflek kalau naik mobil memastikan pintu langsung dikunci (walau mobil saya udah ada fitur otomatis terkunci dalam beberapa detik mobil berjalan). Ada juga cerita yang bikin merinding dikit hehehe. Saya sengaja ga menuliskan lebih detail apa ceritanya, nanti ga seru soalnya, mendingan kalau penasaran dan pengen tau beli aja bukunya di toko buku terdekat (bantuin promosi dapat komisi ga nih hehehehe).

Tadinya saya pikir bakal sulit menikmati buku berbahasa Inggris karena kemampuan baca bahasa Inggris saya sebatas baca artikel parenting dan textbook jaman mahasiswa, bukan cerita yang penuh deksripsi detail. Tapi ternyata saya ga perlu buka kamus buat bisa menamatkan bukunya. Kisah-kisah dalam buku ini digambarkan cukup detail dan yang saya suka dialog antar tokoh cerita kadang diluar dugaan. Jalan ceritanya juga gak klise.

Kalau mau dibilang ini bacaan ringan ya ga ringan secara emosi karena semua cerita digambarkan penuh penjiwaan. Kalau saya ga kenal sama penulisnya saya pikir semuanya berdasarkan pengalaman pribadi.

Ada beberapa cerita yang bikin gregetan karena buat saya ga ada closure itu ibarat blom ending, katanya sih bakal ada tokoh yang dilanjutkan dalam buku selanjutnya. Semoga buku selanjutnya cepet terbit biar ga penasaran hehehe.

Buat yang cari bacaan ringan tapi bermakna, buku ini saya rekomendasikan, karena tulisan di buku ini bukan random yang sangat random. Walaupun kategori fiksi, semua hal yang terjadi diriset dengan baik oleh penulis. Kalau merasa ragu karena ga biasa baca bahasa Inggris, ya bisa jadi tantangan untuk mencoba belajar bahasa Inggris, sukur-sukur jadi nambah kosa kata bahasa Inggrisnya. Terus buat RijoTobing, aku tunggu sekuel cerita yang belum ada closurenya di buku berikutnya ya, dan maapkan kalau baru sekarang akhirnya tulisan ini dipublish.

Kindle

Dari dulu saya suka membaca buku elektronik di PDA, jadi sejak jaman Palm OS sekitar 10 tahun yang lalu, Pocket PC, Symbian, Sony Reader, dan terakhir Kindle. Nah di posting ini saya cuma mau cerita mengenai Amazon Kindle.

Kindle adalah ebook reader (pembaca buku) dari Amazon. Pembaca buku ini sudah dirilis sejak tahun 2007 untuk Amerika, sedangkan secara internasional baru mulai awal 2010. Ada banyak seri kindle, hampir semua (kecuali Kindle Fire) memakai layar e-ink (elektronic ink) yang nyaman di mata dan baterenya tahan berminggu-minggu.

Buku-buku untuk kindle bisa dibeli di amazon, dan akan dikirimkan secara elektronik. Untuk versi Kindle 3G, pengiriman bisa dilakukan via jalur seluler, sedangkan untuk seri WIFI, pengiriman akan dilakukan jika ada WIFI. Bisa juga bukunya kita download ke PC, lalu dicopykan ke kindle via USB.

Amazon juga menyediakan Kindle for PC, for Android, iOS (iPhone/iPod Touch/iPad). Fiturnya hampir sama dengan device kindle yang dijual oleh Amazon. Jadi jika tidak punya uang untuk membeli Kindle, kita masih bisa menggunakan Kindle for PC untuk mendownload dan membeli buku dari Amazon. Amazon juga menyedikan Cloud Reader, supaya kita bisa membaca buku dari browser.

Kami sendiri agak jarang memakai kindle for PC karena capek membaca di depan layar komputer.

Sebagai catatan: meski tersedia internasional, saat ini Indonesia dan Singapore belum termasuk negara yang didukung. Kemarin teman saya tidak bisa mendownload Kindle For PC dari Indonesia. Sekarang ini saya tinggal di Thailand, dan Kindle Internasional baru didukung di Thailand sejak tahun lalu. Tentunya walaupun tidak didukung resmi, ada saja orang yang menjual Kindle di Indonesia, dan Anda bisa memasukkan buku (baik secara legal maupun tidak).

Lanjutkan membaca “Kindle”

The Hunger Games trilogy

Sejak Jonathan bertambah besar, waktu kami untuk membaca buku novel semakin sedikit. Sebagian besar waktu kami dipakai untuk membaca buku parenting, berbagai macam artikel di web mengenai makanan bayi, vaksinasi, kesehatan bayi, dsb. Sampai sekarang kami juga belum nonton lagi di bioskop. Kasihan Jonathan kalau harus ditinggal bersama orang lain beberapa jam. Dab sejujurnya kami belum menemukan orang yang cukup kami percaya untuk menjaga Jonathan (dan dipercaya oleh Jonathan).

Akhir-akhir ini lagi seru film The Hunger Games. Kebetulan waktu lagi baca reddit, nemu ada promo: 3 buku trilogi Hunger Games, harganya masing-masing 1.51 USD, 1.68 USD, dan 1.68 USD (totalnya: 4.87 USD harga aslinya totalnya: 32.47 USD). Sebenarnya sangat mudah menemukan buku bajakan di Internet, tapi sebisa mungkin kami tidak membajak, jadi tawaran ini sangat menggiurkan.

image

Awalnya bukunya saya baca di aplikasi Kobo for PlayBook, tapi lama-lama capek juga membaca di LCD. Akhirnya saya strip DRM-nya dan dikonversi agar bisa dibaca di Kindle. Ternyata bukunya menarik, dan saya bisa membacanya sangat cepat. Bukunya tipis jika dibandingkan dengan seri Harry Potter. Saking penasarannya, ketika saya nyetir, saya aktifkan text to speech di kindle walaupun suaranya seperti robot.

Setelah menyelesaikan buku pertama, Risna saya sarankan ikut membaca juga. Dan ternyata Risna juga tertarik membaca, dan Risna bisa menyelesaikan dengan cepat semua serinya. Kesimpulannya: ceritanya seru, cara berceritanya cukup menarik, dan ceritanya cukup banyak surprisenya. Kami juga cukup setuju dengan endingnya.

Setelah selesai membaca, baru saya cari-cari di Internet mengenai reviewnya (saya baca belakangan, karena takut ada spoiler). Banyak yang membandingkan ini dengan Battle Royale. Menurut saya sih ada sedikit kemiripan (terutama buku pertama), tapi banyak juga perbedaannya (terutama buku kedua dan ketiga). Silakan dibaca sendiri aja deh kalau mau membandingkan.

Sebenarnya kami sangat menikmati membaca buku cerita, tapi buku seperti itu cenderung menyita banyak waktu, kalausedang asik membaca kami jadi malas mengerjakan hal-hal lain. Kebetulan sekarang ini di kantor sedang ada banyak pekerjaan, jadi karena sudah capek memprogram di kantor, di rumah saya gunakan untuk menyelesaikan membaca buku. Sesekali enak juga membaca buku Novel, bisa agak rileks, tapi mungkin lain kali membaca buku yang satu aja, jangan yang trilogi, terlalu lama bacanya, dan begitu selesai satu buku, langsung penasaran dengan buku berikutnya.