Beli Buku Bonus Ilmu buat Ibu dan Calon Ibu

Masih ingat buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang pernah saya review sebelumya? udah jadi baca belum?

kalau mau baca review lainnya liat di instagramnya ya

Sedikit resume cerita, buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku ini buku yang menceritakan tentang perjalanan seorang wanita yang punya karir bagus lalu dihadapkan dengan pilihan dalam hidup dengan tanggung jawab yang lebih besar terhadap anak. Bukunya berisikan drama kehidupan yang sangat nyata untuk ibu-ibu muda termasuk masalah si mbak asisten yang mudik dan tak kembali. Dalam buku ini diceritakan bagaimana seorang wanita yang sukses dalam karir bertransformasi menjadi ibu rumahtangga yang awalnya sangat stress dengan semua yang terasa baru dan akhirnya bisa menjadi lebih baik setelah menemukan tips dan trik untuk mempermudah pekerjaan sebagai ibu di rumah. Yang menarik, tips-tips dituliskan bukan seperti membaca buku manual tapi masih tetap dengan cara bercerita keseharian. Tips yang bisa ditemukan termasuk cara mengurus cucian dari menjemur sampai menyetrika, mencuci piring, sampai pengelolaan waktu. Review lengkap semi curcol nya bisa di baca di tulisan sebelumnya.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa dan bisa mengerti situasi ibu-ibu punya anak ada ataupun tanpa asisten. Buku ini juga penting dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga.

Kalau belum jadi baca dan mulai penasaran, jangan ditunda lagi segera beli sekarang juga. Kenapa harus sekarang? karena dengan beli 1 buku, selain dapat ilmu dari bukunya juga lagi ada promosi bisa dapat ilmu tambahan dengan kesempatan mengikuti 4 kulwap dengan topik-topik yang perlu diketahui sebagai ibu (dan calon ibu). Kalau yang beli buku ini pria, bisa kasih kesempatan ikutan kulwapnya ke pasangannya, kakaknya, adiknya atau wanita terdekat yang dirasakan butuh (karena kulwapnya khusus untuk wanita).

Apaan sih kulwap itu? Kulwap itu singkatan dari Kuliah via WhatsApp, jadi gak perlu pergi kemana-mana dan materinya bisa diikuti dari manapun sambil dasteran di rumah. Kalau ga sempat ikutin pada saat kulwap berlangsung, ilmunya bisa dibaca kemudian kok. Pembicara/nara sumbernya biasanya orang yang berbagi ilmu dan ada sesi tanya jawab.

Narasumber kulwapnya 4 emak-emak yang juga psikolog

Nih informasi lengkap mengenai kulwap bonus dari buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku:

“Seorang ibu yang kuat bukanlah ibu yang tidak pernah meminta bantuan orang lain. Tapi ibu yang tahu kapan dia membutuhkan orang lain dan memiliki keberanian untuk mengekspresikannya.

Karena dibutuhkan satu desa untuk bisa membesarkan anak dengan baik. Maka, dibutuhkan juga satu desa untuk menghasilkan ibu yang baik pula.”

-Anna Maghusser-
Www.mother.ly

Kulwap ini hadir untuk memfasilitasi kebutuhan ibu akan hadirnya profesional melalui metode yang bisa diperoleh sambil mengerjakan tugas utama di rumah (dan bahkan sambil dasteran sekalipun) untuk membahas masalah sehari-hari. Nih catat topik, tanggal dan waktunya:

  1. Cara mengatasi stress pada ibu rumah tangga
    Pembicara: Citra Pratiwi, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Klinis Dewasa
    (Tanggal 23 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  2. Saat ibu ada dipersimpangan (Cara mengambil keputusan yang efektif)
    Pembicara: Ernawati, M.Psi., Psikolog
    (Tanggal 29 Oktober 2019 jam 9.00-11.00)
  3. Managemen Waktu bagi Ibu rumah tangga
    Pembicara: Feny Citra, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 30 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)
  4. Komunikasi dengan pasangan
    Pembicara: Ratih Sondari, M. Psi., Psikolog
    Psikolog Anak dan Remaja
    (Tanggal 31 Oktober 2019 jam 09.00-11.00 Wib)

Bagaimana cara ikutan?
Biasanya untuk ikut 4 kulwap ini, anda perlu membayar Rp. 199.000.

Tapi kali ini, bisa didapatkan GRATIS.
Ya GRATIS!!!

Anda cukup membeli buku “Kupilih Jalan Terindah Hidupku” seharga Rp. 38.000 dan langsung bisa mendapatkan satu tempat duduk di masing-masing kulwap di atas.

Jadi, tunggu apa lagi?
Silahkan pesan bukunya dan daftar melalui WA ke +6282113997086

Persediaan terbatas! Jadi jangan sampai ketinggalan.

Review Buku: Catatan Harian Menantu Sinting

Ini salah satu buku genre MetroPop yang tidak sengaja saja temukan di ipusnas. Setelah selesai baca, saya baru tahu kalau buku ini awalnya juga dimulai dari wattpad. Saya tertarik membacanya karena kisahnya tentang wanita Batak menikah dengan orang Batak dan pernah tinggal serumah dengan mertua perempuannya yang pastinya orang Batak juga. Setelah mereka pisah rumah, mertuanya masih rajin juga datang ke rumah mereka, jadilah kerunyaman menantu dan mertua berkelanjutan, apalagi dengan penantian 8 tahun menunggu punya anak, jadilah mertuanya tambah bikin kesel dengan tuntutan supaya cepat-cepat punya anak dan segala mitos seputar orang hamil.

Penulisnya juga orang Batak

Saya tidak kenal sih dengan penulisnya, dan kurang tahu juga apakan ini berdasarkan kisah nyata. Tapi ya, mungkin buat yang tinggal sama mertua bisa merasakan beberapa hal terjadi juga. Saya walau Batak tidak menikah dengan pria Batak dan tidak pernah tinggal dengan mertua, kebetulan mertua saya juga baik-baik saja. Walau kami agak lama punya anak, mertua saya gak jadi mengesalkan nyuruh cepat-cepat punya anak. Di satu titik sebelum 50 halaman membacanya, saya merasa banyak bagian cerita yang kurang lucu karena terlalu berlebihan.

Secara umum ceritanya lucu, dialog-dialog ala Batak dengan bantuan footnote yang banyak cukuplah buat pembaca non batak mengerti, walaupun saya yakin kelucuannya akan terasa berkurang ketika harus mengecek maksud dari kata ‘apa’ yang terlalu banyak digunakan mertua si Minar. Tapi bagian yang bikin saya agak malas-malasan menyelesaikan buku ini adalah terlalu banyak bagian vulgar yang sebenarnya bisa saja dihilangkan tanpa mengurangi kesan kalau mertua si Minar ini sungguh luar biasa nyentrik dan cepat menghabiskan stok sabar menantu. Setelah selesai membaca, waktu saya mencari tahu lebih lanjut tentang buku ini, ternyata ada rating 21+, jadi ya… salah saya sendiri gak cari tahu tentang bukunya sebelum membaca ya. Buku ini cuma 231 halaman, tapi butuh beberapa hari menyelesaikannya. Beda dengan buku Resign! dan Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang buat saya lebih bikin penasaran dan bisa selesai dalam waktu 1 hari 1 buku.

Daftar isi

Kalau dilihat dari daftar isinya, sebenarnya judulnya bukan menantu sinting, tapi mertua yang bikin menantu sinting. Tapi ya, saya bisa mengerti kalau lebih sopan judulnya menantunya yang sinting daripada mertuanya.

Beberapa bagian dalam buku ini juga memberikan gambaran kelakuan orang Batak, misalnya pentingnya anak laki-laki buat orang Batak, penamaan yang berubah setelah mempunyai anak atau cucu, beberapa perubahan cara menyebut nama kalau terlalu susah di lidah menjadi ucok dan butet. Penjelasan tentang sapaan di keluarga Batak juga ada di buku ini. Untuk orang yang bukan Batak, selesai membaca buku ini kemungkinan bertambah kadar kebatakannya dengan huruf e tajam di sana sini.

Sebenarnya saya kurang suka menulis kritik, tapi ya mungkin ini namanya opini ya. Walaupun banyak yang memberikan pujian lucu dan kocak, tapi buat saya buku ini kurang direkomendasikan, apalagi kalau gak biasa dengan istilah Batak. Saya menuliskan ini siapa tahu ada yang berharap banyak dari buku ini dan ternyata gak sesuai dengan harapan. Hal-hal yang bikin saya kurang cocok itu antara lain:

  • saya gak menemukan si Minar ini boru apa. Padahal di dalam cerita, ada nama lengkap Sahat dan Mamaknya. Mungkin saya yang kelewat?, gak penting? ya pentinglah biar tau Minar ini asli Batak atau pura-pura Batak (hahaha apaan sih komentar gak penting juga).
  • Terlalu banyak generalisasi tentang orang Batak di buku ini. Saya kuatir kalau ada orang non batak mau nikah dengan orang Batak jadi keburu salah paham dan ambil asumsi yang salah. Misalnya nih ya tentang orang Batak makan daging anjing, ya… walaupun itu fakta, tapi saya gak pernah melihat ada orang Batak yang tiap lihat anjing hidup langsung menetes air liurnya dan pengen masak langsung itu anjing. Kalau udah terhidang aja kali di meja makan baru di makan.
  • Mertua si Minar ini ceritanya tinggal di Jakarta, kayaknya sejauh saya mengenal orang-orang Batak yang tinggal di Jakarta ataupun Bandung, mereka udah lebih modern dan ngomongnya udah gak Batak kali. Entahlah ya, kalau ternyata saya aja yang udah kurang banyak bergaul dengan orang batak. Tapi saudara-saudara saya yang Batak ada banyak banget tinggal di Jakarta, dan mereka udah gak kentara lagi loh bataknya kalau ngomong bahasa Indonesia.

Tapi ya sekali lagi, namanya juga review saya ini sifatnya opini, apa yang kurang pas buat saya bisa jadi lebih dari cukup buat yang lain. Kalau mau mencoba melihat sedikit isi dari buku ini sebelum repot-repot minjam di ipusnas ataupun membelinya, bisa baca sebagian isinya di wattpadnya. Untuk membacanya bisa dari browser tanpa harus login kok.

Sepertinya cukup dulu baca buku genre MetroPop nya, mau cari buku anak-anak dululah di ipusnas. Kalau ada yang punya rekomendasi, tuliskan di komentar ya.

Baca buku: Resign!

Gara-gara baca buku jadi bolos nulis, ini sih jelas alasan yang dicari-cari, padahal penyakit malas nulis datang lagi karena keseringan bolos. Harus mulai rutin lagi nulis biar gak kebawa malasnya. Hari ini saya akan menuliskan tentang buku yang sebenarnya saya baca sebelum buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku.

Buku Resign! di aplikasi ipusnas

Terakhir kali baca buku kategori MetroPop itu rasanya sebelum ke Chiang Mai, baca buku karya teman kuliah, udah lama banget ya. Nah beberapa hari lalu baca review buku ini dari salah satu anggota grup KLIP dan jadi teringat mencari di aplikasi ipusnas dan ketemu. Langsung deh pinjam dan baca 1 hari selesai.

Daftar isinya agak salah nih di aplikasinya

Buat yang mencari bacaan untuk berhenti dari nonton kdrama, buku ini boleh dicoba dibaca. Kisahnya mengambil tempat di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Jangan bayangkan akan ada pembahasan detail tentang apa yang mereka kerjakan, yang ditunjukkan lebih ke tingkat tekanan batin dari para anak buah menghadapi tuntunan deadline pekerjaan plus bos yang sering meminta review berkali-kali sampai sempurna.

Kelakuan bos yang bikin anak buah tertekan batin ini sebenarnya membuat anak buah pengen resign saja. Tapi urusan resign ini gak mudah, karena si bos punya radar kalau ada anak buah minta ijin dengan berbagai alasan apapun pasti bos tau dan menggagalkan proses interview mereka. Merekapun bikin kompetisi berlomba untuk duluan resign.

Ceritanya dibumbui dengan kisah cinta ala-ala kdrama. Kenapa saya bilang ala kdrama? karena seperti di kdrama ada klise di mana dari 2 tokoh yang seperti kucing dan anjing ternyata malah jadian. Prosesnya lebih cepet sih dari drama, gak nunggu 16 episode haha.

Oke daripada jadi spoiler, lebih baik berhenti memberitahu resensi ceritanya. Buku dengan 288 halaman ini dituliskan awalnya di media wattpad. Wattpad itu apalagi? Ini kapan-kapan deh dituliskannya ya. Kalau mau tau bisa langsung klik aja buat baca penjelasannya.

Kalau melihat dari jumlah pembaca di aplikasi ipusnas saja sudah lebih dari 1000 orang, saya yakin yang beli buku ini juga cukup banyak. Buku ini mungkin ceritanya terlalu spesifik dengan masa ini, tapi ya genre metropop umumnya seperti itu, berbeda dengan genre fantasi seperti Harry Potter, Narnia ataupun kisah detektif Agatha Christie yang ceritanya masih tetap menarik dibaca walau sudah lama terbitnya. Eh mau ngomong apa sih saya sebenarnya? Maksudnya ya kalau mau bacaan hiburan lumayanlah buku ini. Tapi kalau dibacanya 20 tahun mendatang, saya gak yakin masih bakal ada taxi online nggak hehe.

Ada istilah di buku ini yang baru buat saya, seperti halnya kacung kampret yang disingkat dengan cungpret, atau singkatan MT untuk Makan Teman. Dulunya saya tau istilah kacung ataupun makan teman, tapi ya gak disingkat begitu. Dialog dalam buku ini juga banyak menggunakan bahasa Inggris, dan memang jaman sekarang sudah biasa dalam percakapan sehari-hari bercampur memakai bahasa asing. Penggunaan taxi online dan memesan makanan juga menunjukkan ceritanya berlangsung di masa setelah ada taxi online.

Daya tarik buku ini buat saya sih dialog-dialognya yang lucu. Gaya bahasa anak buah yang pengen melawan bos tapi harus menahan diri, ataupun gaya bahasa gossip dengan teman kantor di saat makan siang ataupun menggunakan media online chat.

Saya pernah kerja di kantor, tapi kantor saya tekanannya gak kayak di buku ini, bos nya juga baik-baik hehehe. Tapi ya gaya bercerita penulis bisa diikuti dan cukup membuat saya menyelesaikan bukunya dengan cepat. Untuk pekerja kantoran yang sering lembur mungkin bisa lebih membayangkan situasinya dan akan ikut-ikutan sebel dengan tokoh bos nya.

Jadi kesimpulannya, bukunya direkomendasikan gak nih untuk dibaca? ya kalau mencari bacaan ringan untuk dibaca sambil nunggu atau di perjalanan di tengah kemacetan, daripada bengong lumayanlah buku ini bisa dicoba baca. Kalau mau lihat apakah bakal suka atau nggak, bisa baca dari aplikasi ipusnas.

Oh ya, sekedar pemberitahuan, aplikasi ipusnas ini isinya banyak sekali. Buku-buku dari jaman Lupus, Olga Sepatu Roda, Lima Sekawan, Agatha Christie juga ada. Tapi sayangnya, aplikasi ini masih agak bermasalah dan sering ketutup sendiri. Tips nya sih cuma sabar aja dan coba instal ulang aplikasinya hahaha. Kemarin malah pernah servernya yang bermasalah dan saya ga bisa download buku sama sekali. Ya namanya juga gratisan ya, jadi sabar aja dan semoga aplikasinya diperbaiki oleh ipusnas untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Review Buku: Kupilih Jalan Terindah Hidupku

Sudah 2 hari bolos nulis blog, ceritanya di grup KLIP ada yang share novel tentang dunia kerja, terus ternyata bukunya ada di app ipusnas. Ternyata karena ceritanya menarik, keterusan baca deh. Buku 200 an halaman selesai 1 hari (biasanya baca buku 1 bulan gak selesai haha). Tapi emang buku yang dibaca novel bahasa Indonesia jadi lebih cepat bacanya. Saya lupa terakhir baca novel bahasa Indonesia itu kapan.

Cover buku di aplikasi ipusnas

Kemarin, mbak Erna teman di grup menulis KLIP kasih tahu kalau bukunya yang baru terbit November 2018 lalu ada di ipusnas juga. Beberapa waktu lalu ada acara giveawaynya tapi gak bisa ikutan karena ntar pasti susah ongkir, terus mikirnya ntar aja nyari pas pulang. Tertarik beli karena kami di grup dapat cerita proses penulisan buku sampai terbit itu berapa lama dan bagaimana. Nah, waktu dikasih tau ada di ipusnas, saya langsung pinjam biar gak kehabisan stok.

Pengalaman baca di hari pertama, baca e-book di layar hp itu sungguh menyiksa. Jadi buat baca buku ini saya pinjam ipad Joe biar puas layarnya hehehe. Ternyata bacanya lebih cepat dari buku sebelumnya (buku sebelumnya ditulisnya besok aja ya). Saya mulai baca buku ini jam 3.30 sore waktu nungguin Jonathan les, eh waktu Jonathan selesai les udah selesai hampir setengahnya. Pulang ke rumah harus sediakan makanan dan makan malam dulu. Padahal hati ini penasaran. Selesai makan dan beberes semuanya, baru bisa baca lagi. Buku setebal 200 an halaman ini selesai hari itu juga. Bangga dengan diri sendiri tiba-tiba rajin baca hahaha.

Ah kebanyakan pengantar belum sampai ke review buku deh. Buku ini awalnya saya pikir kisah nyata, tapi waktu baca nama tokohnya loh kok namanya Mia bukan Erna. Terus baru menyadari kalau ini fiksi. Ceritanya diawali tentang seorang wanita bernama Mia yang punya tanggung jawab di kantor dan punya 2 anak di rumah. Walau saya tidak punya masa galau harus memilih pekerjaan dan anak, tapi saya bisa melihat kalau cerita ini bukan fiksi yang mengada-ada. Cerita ini bisa jadi kisah nyata kehidupan seorang wanita bekerja yang juga merangkap sebagai ibu muda. Mungkin bukan kisah nyata penulis, tapi bisa jadi kisah nyata seseorang deh.

Awal buku penuh drama

Setengah buku pertama bercerita drama suka duka dan perjuangan seorang ibu muda. Kegelisahan hati antara tanggung jawab di kantor dan di rumah. Keharusan memilih antara karir di kantor atau mengasuh anak, ditambah dengan bumbu salah paham dengan mama yang bantu jagain anak dan rasa cemburu karena anak sulung lebih dekat dengan neneknya, dan drama semakin lengkap dengan mbak yang ijin mudik dan tak kembali karena memutuskan kawin di kampung.

Kegalauan seorang Mia ini bukan hal yang baru dikalangan ibu-ibu muda. Dilema karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah dan keinginan untuk tetap berkarya di kantor terutama juga untuk membantu kebutuhan finansial keluarga.

Kesalahpahaman dengan ibunya yang akhirnya ngambek dan ga mau tinggal di rumahnya dan tidak adanya mbak yang membantu mengurus rumah, akhirnya membawa Mia menetapkan hati untuk memilih meninggalkan kantor dan fokus dengan keluarga.

Mungkin buat yang belum mengalami, atau buat yang tidak pernah mengalami, akan berpikir: ah enak ya berhenti kerja, di rumah kan gak ngapa-ngapain. Tapi buat saya yang kebagian jatah ngurus anak di rumah sepanjang hari, cerita tentang Mia ini sangat nyata. Mia yang biasanya kerja di kantor, udah jadi supervisor, tiba-tiba di rumah seharian ngurusin 2 anak tanpa mbak dan tanpa siapa-apa. Suaminya bantuin gak? Bantuin juga tapi dalam cerita ini suaminya kasih syarat kalau apapun keputusan Mia, rutin sang suami tidak akan berubah, termasuk bangun siang di akhir pekan. Waktu baca ini dalam hati saya pengen nimpuk tuh suaminya bilang: lah elu kerja Senin-Jumat terus minta santai di akhir pekan, terus istri lu kapan istirahatnya? lu kata istri lu kacung? hahaha. Tapi emang kenyataanya banyak kok suami yang begitu (untungnya Joe gak gitu dan saya masih ada mbak walau part time hihihi).

Setelah menjalani drama demi drama menjadi ibu rumah tangga tanpa pengalaman mengurus rumah tanpa asisten, Mia mulai tergoda untuk kembali kerja lagi saja karena katanya masih dibutuhkan di kantor. Di saat itu Mia mendapat mimpi sekaligus pencerahan. Mau tau pencerahannya apa? baca bukunya hahhaha.. gak mau spoiler.

baca sampai habis, terutama bagian rumus mengurus rumahtangga

Setelah mendapat pencerahan, dari bagian tengah ke akhir cerita, buku ini banyak ilmunya. Bukan berarti nggak ada drama lagi, tapi ya udah punya banyak bekal menghadapi dramanya. Dengan cara yang tidak membosankan, tips mengenai mencuci piring, menjemur pakaian, menyetrika baju diceritakan dalam buku ini. Kedengarannya sepele ya, tapi tips itu untungnya saya sudah pelajari dari mama saya jaman masih remaja. Tapi walaupun tips-tips tersebut bukan hal baru buat saya, saya yakin banyak ibu-ibu muda yang mungkin belum tahu tips tersebut. Penyajian tipsnya juga menarik, bukan dalam bentuk bullet poin presentasi hahaha.

Di bagian akhir buku ini, Mia merumuskan kehidupan keluarga seperti organisasi kantor. Nah bagian ini saya suka banget. Kalau bagian ini saya yakin hasil perenungan mendalam penulis di saat malam-malam bergadang sambil ngurus bayi hehehe.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa. Buku ini juga penting untuk dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga. Sukur-sukur, suaminya gak kayak suami Mia dalam cerita ini yang gak mau berubah rutin hanya karena Mia berhenti kerja. Padahal kan Mia biasanya ada asisten, nah ini gak ada mbak pula (tetep aja saya protes bagian itu hahaha).

Haduh jadi panjang nih review atau curhat sih? hahaha. Saya sih kesimpulannya suka dengan buku ini. Jarang menemukan buku tentang ibu rumah tangga dalam bentuk novel dengan berbagai percakapan yang saya bisa bayangkan kejadiannya.

Semoga ya, bagian terakhir buku ini jadi kenyataan buat penulis buku. Buku ini kalau difilmkan juga bisa jadi edukasi buat ibu-ibu rumahtangga dan sistem pendukungnya. Hal penting lain juga dalam buku ini diceritakan bagaimana pentingnya komunikasi dengan pasangan dan juga punya kemandirian ekonomi.

Saya sendiri gak mengalami dilema seperti Mia. Sebelum anak pertama lahir, kami dengan sadar memutuskan kalau saya harus berhenti kerja. Tinggal di negeri orang tanpa keluarga yang bisa dititipkan ataupun betapa tidak enaknya kalau harus punya pengasuh orang Thai, bisa-bisa anak kami jadi orang Thai. Saya lebih beruntung dibandingkan Mia, keputusan yang kami ambil berdua didukung penuh dengan Joe, dan Joe bukan tipe yang bilang: rutin saya tidak berubah ya. Waktu anak-anak masih bayi, ada hari-hari di mana saya bangun siang dan Joe yang sediakan sarapan hehehe. Prinsipnya punya anak berdua kita urus berdua dong. Setelah anak besar, ya kalau saya bangun siang, paling sarapannya jadi pada kesiangan hahahhaa.

Kesimpulannya buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca semua orang yang sedang galau menghadapi kerjaan rumah yang tak kunjung selesai, ataupun kegalauan antara pilihan rumah dan kantor. Semua drama akan berlalu kalau kita tahu caranya. Mungkin judul lain buku ini adalah: Yang perlu diketahui sebelum terjun bebas jadi ibu rumah tangga.

Jonathan dan Buku Harry Potter

Rasanya baru tahun 2018 lalu saya mulai mengenalkan chapter books ke Jonathan, dan baru tahun lalu dia mulai kenal buku Harry Potter, eh hari ini dia menyelesaikan membaca semua buku Harry Potter sampai buku ke-7 The Deathly Hallows.

Waktu dia mulai baca di awal tahun 2018 lalu, dia baca 2 buku pertama dengan cepat. Memasuki buku ke-3 dia mulai merasa ada bagian yang bikin dia takut, nah buku itu dia bacanya agak random dan dilewatkan bagian yang dia takut dan setelah itu dia berhenti. Nah setelah main game Harry Potter Wizards Unite, dia jadi suka banyak pertanyaan dan bertanya dementor itu apa, jadi kami bilang: baca lagi aja terusin bukunya, nanti itu ada di buku selanjutnya.

Minggu lalu, dia mencari lagi buku Harry Potter ke-3 dan baca tanpa melewatkan bagian dementor. Selesai buku ke-3 dia lanjut buku ke-4. Waktu belanja buku di promosi AsiaBooks tahun lalu, kami beli Harry Potter sampai buku ke-4. Selesai buku ke-4 dia minta lagi buku ke-5, akhirnya kami kasih versi kindlenya saja. Selesai baca di Kindle, dia baca buku fisik lagi. Buku ke 6 dan 7 kami masih ada karena 1 buku itu kami beli setelah di Chiang Mai dan 1 buku kami bawa dari Indonesia waktu pulang kemarin.

Sebenarnya, Jonathan bisa baca semua versi di Kindle, karena kami langganan Kindle Unlimited dan semua buku itu bisa di baca gratis dengan Kindle Unlimited, tapi Jonathan memilih buku fisik.

Setiap kali ada bagian yang menarik, dia dengan semangat mengetes kemampuan kami akan cerita Harry Potter. Saya sudah banyak lupa ceritanya, tapi Joe tentunya ga mau kalah dengan cepat menjawab setiap pertanyaan dengan bantuan Google hehehe. Momen paling lucu adalah: Jonathan membuat percakapan imajiner suatu hari anaknya akan dia suruh baca buku Harry Potter, dan mungkin dia sudah lupa, tapi dia akan menggoogle supaya tetap tau menjawab kalau lupa ceritanya. Bagian ini sepertinya dia membayangkan dia seperti papanya. Memang benar ya, anak kecil itu mencontoh orangtua, tugas kita jadi orangtua jadi role model dan hati-hati jangan sampai anak meniru bagian yang salahnya hehehe.

Jonathan kalau sudah baca agak susah disuruh yang lain. Bukunya juga akan dibawa-bawa di mobil dan dibaca di mana saja. Hari Sabtu lalu, waktu di mobil, saya heran dia terbatuk-batuk, saya pikir dia keselek. Ternyata dia menahan tangis sampai terbatuk-batuk. Saya tanya, eh kenapa nangis? Dia sedih karena Dumbledore died katanya. Aduh ya saya harusnya simpati malah jadi ketawa terbahak-bahak (bukan contoh yang baik). Setelah sampai dirumah saya ajak ngobrol kalau boleh saja sedih, tapi itu cuma cerita dan tadi mama kaget kirain ada apa sampai nangis gitu. Untungnya dia sedihnya cuma sebentar. Sekarang kalau saya tanya kamu masih sedih Dumbledorenya mati? dia bilang udah nggak lagi kok.

Setelah menyelesaikan semua buku, saya bertanya ke Jonathan dia lebih suka buku fisik atau buku di Kindle. Dia jawabnya lebih suka buku fisik, jadi gak usah tap layar dan kalau mau balik ke halaman-halaman sebelumnnya bisa mudah liat 2 halaman sekaligus. Tapi gak berapa lama kemudian dia jawab lagi, Kindle juga dia suka karena bisa dengan mudah mencari kata dan menemukannya gak harus balik-balik semua halaman dan baca ulang kata demi kata. Tapi kalau dari beberapa hari melihat dia membaca, bisa dibilang dia memang lebih menikmati baca buku fisik. Kata Joe, jadi kita memang sebaiknya tetap beli buku fisik walau ada di Kindle Unlimited. Saya sih gak masalah, tapi kadang suka bingung aja nyusun bukunya kalau rak udah kepenuhan.

Saya juga lebih suka buku fisik, tapi kadang-kadang kurang rajin buat nenteng buku. Apalagi kalau sudah bawa-bawa buku, tapi ternyata gak sempat juga dibaca, jadinya mikirnya ah baca di HP aja aplikasi Kindle kan ada, waktu buka HP malah lupa buat buat aplikasinya hahaha.

Kalau kalian sukanya baca buku fisik atau buku elektronik?

Buku: The Wimpy Kid Do-It-Yourself Book

Buku Diary of Wimpy Kid ini belinya udah dari akhir tahun lalu di acara big bad wolf yang diadakan di Chiang Mai. Kami beli 1 set yang berisi 12 buku. Tapi karena bukunya untuk umur 9 tahun dan buku lainnya masih banyak, jadi saya simpan dulu. Nah karena sekarang Jonathan sedang liburan sekolah dan beberapa bulan lagi dia akan berumur 9 tahun, supaya gak main game terus-terusan, saya kepikiran mulai memberikan buku ini buat dia. Tentunya sebelum diberikan, saya perlu untuk melihat isi bukunya juga.

Sebelum mulai membaca buku ceritanya, saya terlebih dahulu memberikan buku versi DIY ini, tujuannya ya siapa tahu Jonathan jadi semangat juga untuk meniru bikin Jurnal bukan diary yang nantinya bisa jadi buku seperti ini hehehe. Lagipula walaupun libur sekolah, nulis Jurnal tiap hari kan jalan terus.

Buku ini cukup menarik dan memberikan banyak ide tentang apa saja yang bisa dituliskan dalam jurnal. Setiap kali buku ini menekankan walaupun judulnya Diary of Wimpy Kid, tapi buku ini bukan diary tapi jurnal. Menurut sudut pandang si anak penulis buku kalau diary itu lebih menceritakan masalah perasaan.

Ini salah satu contoh yang bisa dituliskan di dalam jurnal. Ada banyak bagian yang tinggal diisi. Saya juga jadi kepengen nulis langsung di buku ini, tapi sekarang saya cuma suruh Jonathan baca dan pilih mana yang mau dia tiru dan tuliskan di buku Jurnalnya. Oh ya, sudah beberapa bulan ini Jonathan kembali lagi menuliskan jurnalnya setelah dimarahin karena kelamaan libur nulis jurnal hehehe.

Contoh ide yang bisa dituliskan di dalam Jurnal

Ada banyak ide-ide di dalam buku ini yang terkadang hanya butuh memberi tanda ya dan tidak. Tapi ada juga bagian seperti memikirkan masa depan atau mengingat masa lalu. Intinya buku ini memberikan ide-ide apa saja yang bisa dituliskan di sebuah jurnal.

Halaman Predict Your Future ini mengajak anak membayangkan kira-kira di umur 30 tahun nanti dia akan menjadi seperti apa. Hal ini seperti menuliskan cita-cita dan harapan nantinya akan jadi seperti apa. Menurut saya, mungkin memikirkan jauh ke usia 30 tahun masih akan sulit untuk Jonathan, tapi buku ini juga bisa menjadi jembatan menceritakan papa mamanya seperti apa di usia 30 tahun, dan apa yang bisa dicapai atau diharapkan untuk seorang yang berusia 30 tahun. Saya juga bilang ke Jonathan, kita bisa memprediksi misalnya untuk 5 tahun ke depan kira-kira Jonathan inginnya seperti apa.

Bagian ini seperti menuliskan cita-cita

Nah ini contoh memikirkan masa lalu. Sejauh ini Jonathan sudah belajar juga sedikit tentang sejarah, baik itu sejarah dari cerita kehidupan orang jaman dulu, maupun cerita dinosaurus yang katanya hidup di jaman prasejarah. Bagian ini mungkin agak lebih sulit untuk sekarnag ini diisi, karena yang diingat Jonathan paling cerita mulai dia sekitar 5 tahun.

Bagian ini untuk mengingat masa lalu atau belajar sejarah

Hal lain yang bisa dituliskan dalam jurnal juga berupa komik. Untuk anak yang suka menggambar, mungkin cara bercerita dengan komik ini bisa dieksplorasi juga. Dibuku ini selai nada komik yang tidak selesai, yang mana kita bisa meneruskan sendiri kira-kira apa percakapannya, ada juga bagian kotak-kotak komik kosong yang bisa digambar sendiri.

Mengajak anak bercerita melalui komik

Selain ide-ide mengenai isi sebuah jurnal, di buku ini juga ada komik bergambar beberapa halaman, dan juga halaman kosong yang bisa diisi dengan apa saja. Buku ini cukup membuat Jonathan tertarik untuk meneruskan menulis jurnalnya. Hari ini misalnya Jonathan menuliskan cerita lucu mengenai bilangan romawi II yang di baca ay-ay captain.

Untuk buku ceritanya, saya baru baca sedikit buku pertamanya. Kalau sudah selesai nanti akan dituliskan terpisah. Tapi saya pernah baca review buku ini, bahasa yang digunakan kadang-kadang kurang baik, contohnya di bagian unfinished comic mengenai The Amazing Fart Police. Saya tahu kalau buang angin itu merupakan sesuatu yang terjadi secara natural oleh tubuh, tapi ketika dijadikan lelucon kadang tidak semua orang bisa menerima dan menganggap itu lelucon yang tidak lucu. Jadi ya kalau memberikan buku ini, kita orangtua harus sambil memberitahukan batas-batas bercanda ke orang lain supaya tidak sampai menimbulkan salah paham.

Buku: People Can’t Drive You Crazy If You Don’t Give Them the Keys

cover buku

Kesan pertama saya: panjang banget ya judulnya. Padahal buku ini cuma 210 halaman. Dari judulnya saja udah kebayang kan isinya kalau buku ini kategori selfhelp. Saya dapat buku ini pas ada teman yang share sedang ada promosi gratisan versi kindle-nya, jadi saya pikir, ya cobalah dibaca, apakah ada tips-tips menghindari orang-orang yang kadang bikin kita merasa lepas kontrol karena gak bisa mengatasi emosi. Buku ini juga bisa dibaca gratis kalau berlangganan kindle unlimited. Ada versi audible nya juga buat didengarkan.

Banyak yang merasa semakin lama dunia ini semakin gila dan banyak orang yang bikin kita kehilangan kesabaran dan ikutan gila. Sebenarnya sejak tinggal di Chiang Mai, bisa dibilang saya secara ga langsung mempraktikkan judul buku ini dengan tidak mudah bereaksi kalau ada hal yang bikin frustasi. Kadang-kadang kayaknya menghadapi anak balita rasanya lebih bikin emosi daripada orang dewasa yang banyak tingkah.

daftar isi buku

Dari daftar isi buku ini, semakin kebayang isi bukunya seperti apa. Contoh-contoh yang diberikan cukup menarik dan ada juga yang memang pernah terjadi dengan saya. Contoh yang paling nyata saya praktikkan adalah: kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan apa yang respon kita terhadap suatu keadaan. Kita juga harus bisa menerima ada hal-hal yang diluar kendali kita, dan kalau memang ada orang super ngeselin sebaiknya dihindari saja daripada kita berusaha keras membuat dia gak ngeselin tapi tanpa hasil.

Ada contoh mengenai berurusan dengan keluarga. Kalau cuma kenalan atau orang lain bahkan teman di facebook, kita bisa dengan mudah hindari berhubungan dengan mereka dengan cara memutuskan hubungan pertemanan atau gak usah ajakin ngobrol. Nah gimana dengan keluarga ? kita ga mungkin kan memutuskan hubungan dengan keluarga kita. Nah untuk hal ini akhirnya kembali ke mengubah perspektif kita dan berusaha meminimalisasi ketemu/kontak biar gak sering rusuh hehehe. Kalaupun tahu akan bertemu, kita perlu mempersiapkan mental kita untuk tidak cepat bereaksi dan menerima kalau kadang-kadang kita akan menerima komentar-komentar yang belum tentu sesuai dengan prinsip kita (ini sih lebih gampang teori daripada praktik ya).

Banyak contoh-contoh dalam buku ini yang bikin saya mengangguk-angguk setuju. Tapi saya juga belum bisa 100 persen melakukannya terutama kalau lagi lelah dan menghadapi anak bertingkah. Tapi ya kuncinya mungkin jangan tidur larut biar besoknya punya energi menghadapi anak hehehe.

Di akhir buku ini disebutkan 7 kunci untuk memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, bisa dilihat dari daftar isinya. Tapi diakhir buku ada kesimpulan bagaimana 12 tips untuk memiliki melakukan 7 kunci itu.

12 tips untuk memiliki hubungan yang sehat

Saya coba tuliskan lagi 12 tips untuk memiliki hubungan yang sehat:

  • pisahkan kebiasaan gila dari orangnya, kemungkinan kita juga punya (hindari kegilaanya bukan orangnya)
  • percayalah perubahan selalu mungkin dilakukan
  • jangan merasa bertanggung jawab atas pilihan orang lain (yang mungkin saja salah)
  • jangan bergantung pada orang lain
  • jangan berharap orang lain berubah, lebih memungkinkan untuk mengubah diri sendiri
  • kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mengubah bagaimana respon kita atas apa yang telah terjadi di masa lalu
  • percaya selalu ada harapan untuk masa depan
  • jangan mau jadi korban dengan membiarkan orang lain mengendalikan hidup kita
  • perubahan itu butuh waktu (belajar sabar)
  • semua sukses butuh usaha dan selalu ada risiko gagalnya
  • selalu persiapkan diri kalau tahu akan ketemu orang yang sering bikin kita emosi, pilih kata yang baik untuk hasil yang lebih baik
  • pilih untuk berpikir lalu merespon daripada langsung bereaksi menghadapi kegilaan yang ada

Saya tidak tahu apakah buku ini sudah ada versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia atau belum, tapi bahasa Inggrisnya cukup mudah dicerna dan tidak banyak istilah yang sulit seperti buku-buku selfhelp lain. Kalaupun tidak baca bukunya, semoga dari tulisan ini ada hal yang bisa dipakai untuk membantu kita menghadapi orang-orang yang bikin kita jadi ‘gila’.