Pertanyaan yang sulit dijawab

Hidup ini tak selalu mulus, ada saja masalah yang kita hadapi. Terkadang menghadapi masalah jauh lebih mudah daripada menghadapi manusia lainnya. Ya namanya manusia punya cara berpikir masing-masing, kadang-kadang kita tidak tahu apa yang mereka pikirkan ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit (bahkan lebih sulit dari ujian di sekolah ataupun masuk perguruan tinggi).

Mungkin ada orang yang hidupnya mulus sejak awal. Sekolah di sekolah terbaik, menemukan pasangan terbaik, menikah di usia seharusnya, memiliki anak yang lucu2 dan pintar2 dengan jumlah terbaik, mengawinkan anak pada waktunya, memiliki cucu dan cicit di masa hidupnya dan diapun mungkin berasal dari orangtua yang hidupnya sempurna. Akan tetapi, dari sekian banyak orang yang saya kenal, tidak ada yang saya tahu hidupnya sesempurna itu, ada saja di satu titik tertentu mereka mengeluh karena berhadapan dengan pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Lantas kenapa masih banyak orang yang suka bertanya dengan pertanyaan sulit itu kalau mereka sendiri berada di posisi itu mungkin belum tentu suka ditanya begitu.

Saya bukan orang yang suka basa-basi ataupun berkata manis untuk menyenangkan hati orang lain. Akan tetapi saya juga bukan orang dari kalangan barbar yang tidak tahu sopan santun. Ya..sering sih kehilangan kesabaran dan dalam hati pingin melakukan kekerasan atau menyakiti orang yang bertanya dengan pertanyaan yang kira-kira bisa menyakitinya lagi. Tapi…rasanya hal itu bukan hal yang baik.

Jangan salah, ini bukan spesifik kasus saya. Ada banyak teman-teman saya yang mengeluhkan hal yang sama. Pertanyaan yang pernah juga menjadi “jatah” saya sebelumnya. Pertanyaan yang tidak ada habis-habisnya.

Saya masih ingat, setelah saya lulus kuliah, setiap kali bertemu keluarga dan orang-orang yang merasa sempurna itu mereka akan bertanya: “kapan menikah?”, “siapa pacarnya?”, “udah jangan pilih-pilih segerakan menikah, menikah itu enak loh”, “kamu ngejar karir ya?”, “ntar kamu jadi perawan tua loh” bisa diliat aneka ragam pertanyaan mulai dari bertanya sampe menghakimi dan diakhiri dengan seolah-olah mendoakan jadi perawan tua.

Karena orangtua saya juga gerah ditanya kanan kiri dengan pertanyaan serupa soal saya, saya sampai harus meyakinkan orangtua saya kalau saya tidak mengejar karir dan sungguh-sungguh ingin menikah, tapi tidak ingin asal menikah yang mungkin diakhiri dengan perpisahan atau sakit hati. Untung saja orang tua saya mau mengerti saya dan tidak ikut-ikutan melanjutkan bertanya dengan pertanyaan aneh2 itu. Sebisa mungkin saya tersenyum dengan orang-orang lain yang menanyakan hal-hal yang mulai terasa kejam itu. Saya tahu, ada juga orang-orang yang tulus yang bertanya dan mau ikut mendoakan ketika saya minta. Tapi…entah kenapa saya pikir sebagian besar orang hanya senang “menteror” dan “sok tahu” ketika mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu. Mungkin mereka ingin membandingkan tingkat keberhasilannya dengan tingkat keberhasilan saya? ah maaf kalau ada yang merasa tertuduh.

Setelah pertanyaan kapan menikah berlalu (tentu setelah saya menikah), orang-orang mencari sasaran tembak berikutnya. Apalagi kalau bukan: “udah berapa anakmu?”, “kamu kb ya?”, “jangan tunda-tunda punya anak, menyenangkan loh punya anak itu”, “kapan rencana punya anak?”, sampai pada : “kalian ga mau punya anak ya, spertinya saya liat jalan-jalan mulu”, atau “jangan kerja mulu, ingat bikin anak”. Argh…apa perlu saya tuliskan di blog atau di fesbuk hal-hal yg pribadi seperti ini biar orang-orang itu diam? Kok rasanya ga etis ya pertanyaanya.

Saya tahu pertanyaan ini tak akan ada habisnya. Setelah anak pertama lahirpun masih akan ada pertanyaan: “kapan nambah lagi?” (kayak makan nasi aja pake nambah), atau.. setelah anaknya ada 2 tapi misalkan gendernya sama akan ditanya : “ga pengen punya anak lagi sapa tau kali ini beda gender?”. Atau bisa jadi udah punya 2 anak dengan gender yang berbeda maka pertanyaan berikutnya adalah: “wah anakku sekolah di sekolah ternama, anakmu kenapa ga ikutan sekolah di sana, keren loh sekolahnya”. Daaan pertanyaan itu akan berlanjut sampai ketika anak-anak itu menginjak usia menikah, dan kita akan diteror dengan pertanyaan: “kapan punya menantu?”. Lalu ketika sudah punya menantu akan ditanya lagi dengan: “sudah berapa cucumu?”

Sepertinya pertanyaan itu tidak akan ada akhirnya, dan orang-orang tetep aja suka mengukur keberhasilan dirinya dengan menyakiti orang lain dengan pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabnya. Semoga saya bisa belajar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masih akan banyak ke depan dengan jawaban: “Saya juga tidak tahu apa jawabnnya, maukah kamu ikut berdoa dengan saya agar kita bisa mendapat jawabannya?”

Pleaseeee berhentilah mempertanyakan pertanyaan yang sulit itu, dan mulailah berdoa untuk orang tersebut ketika mulai ada pertanyaan itu dihatimu.

5 thoughts on “Pertanyaan yang sulit dijawab”

  1. sama Ris.. suka sebel dgn pertanyaan yg bgt…
    maka marilah sama2 berdoa..
    supaya sama2 di beri jawaban….:)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.