Too Much Information di FB

Tulisan ini sekedar opini melihat perkembangan pemakai internet sekarang ini, terutama sejak hampir setiap orang bergabung di FB. Ada banyak orang yang tanpa menyadari postingan mereka sifatnya tmi (too much information), memberitahu hal-hal pribadi secara detail yang tidak perlu diketahui oleh publik. Ada juga yang suka share berita tanpa cek kebenarannya.

Saya perhatikan, belakangan ini banyak pasangan suami istri menggunakan account bersama di FB. Nama profilnya ya pake nama berdua. Alasannya bisa beda-beda, tapi yang saya perhatikan masalahnya kadang-kadang ada group FB yang saya ikuti itu khusus untuk ibu-ibu. Nah, di group yang khusus ibu-ibu ini, terkadang adalah banyak ibu-ibu yang kalau cerita masuk kateogori too much information (tmi). Kadang-kadang saya jadi pengen bilangin ke admin, kalau orang yang pakai sharing account harusnya ga boleh dong gabung ke group khusus ibu-ibu, tapi dipikir-pikir lagi, salah siapa kalau ada orang yang suka bersosmed terus nulis hal-hal yang tmi?

Saya sendiri suka bingung kalau temenan dengan account yang pake nama sepasang gitu. Kalau mereka posting, ya mungkin memang posting berdua, tapi kalau komen? jadi bingung ini yang komen si istri atau si suami. Nah, jadi kepikiran juga, mungkin ada yang bingung baca tulisan di blog ini kok gado-gado topiknya, ada banyak hal teknis, tapi ada juga sampai bumbu dapur segala. Ya sebenarnya di sini masih bisa jelas, setiap posting ada nama siapa yang nulisnya apakah itu Joe atau saya.

Tulisan saya ini sekedar mengingatkan buat ibu-ibu aktif di FB Group, kalaupun ada group yang judulnya isinya perempuan doang, lebih baik gak usah cerita hal-hal yang bukan konsumsi umum. Buat ibu-ibu yang punya account join dengan suami, ya saya gak tau gimana caranya biar suami gak baca postingan group yang khusus wanita itu. Mungkin suaminya sibuk juga ga sempat buka group, tapi kalau suami lagi iseng kebuka group gimana hayo? Buat ibu-ibu yang jadi admin group yang isinya khusus wanita, ya mungkin bisa dipertimbangkan untuk tidak menerima account yang namanya aja udah sepasang gitu.

Ah tapi, dipikir-pikir lagi, pada akhirnya mau ibu-ibu atau bapak-bapak, namanya posting di sosial media gak usah terlalu banyak informasi detail. Bisa saja kita merasa, tapi kan saya sudah set account saya privat, hanya teman saya yang bisa baca. Ya, tetap aja kalau udah di post, udah bisa di copas, di screen capture, di share ulang dan beredar. Salah-salah, tulisan jadi viral tanpa sengaja.

Saya ingat, waktu pertama kali dulu belajar memakai e-mail dan internet, ada pelajaran yang namanya netiquette. Pada dasarnya netiquette ini sama juga dengan etiket kita di dunia nyata. Sopan santun tetap harus di jaga. Masalahnya, sekarang ini semua orang bisa akses internet, tanpa pernah belajar mengenai netiquette. Mungkin ini salah satu sebab hoax susah dibendung.

Emang apa saja sih yang perlu di perhatikan ketika online? kalau saya kesimpulannya: hati-hati dengan apa yang dituliskan secara online, baik di blog ataupun di sosial media. Karena setiap yang kita tuliskan itu ada jejaknya. Jangan pernah posting/komen sesuatu yang sifatnya rahasia, karena begitu dituliskan, informasi itu sudah bukan rahasia lagi dan kita ga bisa bilang: pokoknya tulisan di sini jangan sampai nyebar keluar ya.

Kejanggalan dalam K-drama Memories of the Alhambra

Serial Memories of the Alhambra sudah tayang episode terakhirnya di Netflix, dan setelah awalnya ragu-ragu untuk mengikutinya, sekarang rada menyesal mengikuti sebelum serinya berakhir. Buat yang belum nonton, tulisan ini mungkin akan susah dimengerti dan akan ada spoilernya, buat yang sudah nonton kemungkinan sedikit banyak bakal merasakan banyak hal yang tidak diselesaikan dalam ceritanya.

Sekilas cerita berkisah seorang investor yang sedang tertarik untuk investasi di game yang menggunakan teknologi augmented reality dengan menggunakan lensa kontak. Pembuat game ini di awal film menelpon dia dan menyuruhnya untuk bertemu di sebuah penginapan di Granada.Tapi ternyata, si programmer game ini gak pernah muncul, sementara si investor malah mulai mencoba main gamenya dan malah jadi ketagihan main dan jadi punya misi hidup untuk menemukan si programmer. Misi hidupnya muncul tanpa alasan, walaupun setelah setahun bermain baru ditunjukkan kalau dia tertarik dengan kakak si programmer. Kisah cintanya cuma selipan, supaya filmnya banyak penonton saja.

Singkat cerita, awalnya penggambaran bermain AR Game nya cukup menarik. Kadang ditunjukkan adegan dia seperti menari-nari sendiri, berantem dengan ruang kosong, terkadang lawannya ditunjukkan berasal dari patung-patung yang ada di sekitar gedung. Selain itu, cara login dan logout nya dan gerakan-gerakan seolah-olah layar ada di depan mata, dan user interfacenya di mana bisa memilih dengan gerakan tangan semuanya cukup menarik dan berharap film ini juga akan mengupas sisi teknologi yang mereka pakai untuk mengembangkan game nya.

Keanehan pertama muncul ketika tokohnya bisa terlogin sendiri tanpa menggunakan lensa kontaknya. Saya kepikiran apakah somehow waktu udah pernah pakai lensa kontaknya, si program jadi tertanam di otak penggunanya? jadi otak mengunduh aplikasi gamenya? awalnya saya pikir lensa kontak itu terhubung dengan handphone, sehingga setiap main pasti dibutuhkan handphonenya, tapi bisa juga lensa kontaknya yang langsung terhubung ke server game dengan teknologi tertentu misalnya. Tapi kalau sampai pengguna bisa autologin tanpa lensa kontaknya, ini jadi ga masuk akal.

Keanehan berikutnya, ketika player dari dunia nyata mati dalam pertarungan antar player, lalu muncul lagi sebagai NPC (non-player character). Pertanyaanya apakah programnya benar-benar sampai merusak otak dan mengakibatkan ketika seorang player duel dan kalah, otomatis otaknya juga akan mengakibatkan dunia nyata dari player itu juga terbunuh. Digambarkan tokoh tersebut keluar darah dari kupingnya, jadi ya saya pikir mungkin saja ada program yang bisa mempengaruhi otak dan mengakibatkan orang tersebut terluka sesuai dengan yang dia alami dalam game.

Di beberapa episode akhir di jelaskan kalau itu adalah akibat dari bug program. Bug program itu sendiri sudah dimulai dari sejak sebelum tokoh utamanya dihubungi oleh si programmer. Yang jadi aneh adalah, kalau dikisahkan sebelumnya player tidak akan beneran mati ketika kalah duel dengan tokoh NPC, kenapa setelah orang dari real life jadi NPC, jika menyerang player beneran jadi bisa bikin player di dunia nyata pun ikut mati. Bahkan di beberapa episode terakhir, NPC yang bukan berasal dari player dunia nyata pun bisa bikin player benar-benar terluka.

Ah mungkin yang baca kalau belum nonton akan bingung dengan penjelasan saya. Tapi ya memang sebenarnya penjelasan dalam film ini malah bikin ceritanya makin gak jelas. Beberapa hal sepertinya tidak terjaga timelinenya. Aturan permainannya juga diubah-ubah sesuai mau-maunya penulis cerita saja.

Salah satu ketidak konsistenan aturan permainannya misalnya: di awal diceritakan kalau player gak bisa bertanya ke NPC yang bernama Emma kalau belum level 5, lalu tokoh tersebut bersusah payahlah supaya bisa naik ke level 5. Nah di episode penjelasan, ditunjukkan kalau seorang player dengan level 1 bisa berkomunikasi dengan si NPC Emma ini. Mungkin mereka ubah sendiri gitu aturan permainannya supaya bisa?

Oh ya, keanehan yang paling aneh menurut saya adalah, game itu belum dijual oleh si programmer, maka asumsinya perusahaan investor belum punya tuh source code dari game tersebut, tapi kok mereka bisa saja menambahkan items atau tools yang dibutuhkan oleh si investor untuk membantu petualangannya dalam mencari si programmer?

Secara keseluruhan, awalnya berharap film ini bakal menarik seperti menariknya bermain Pokemon Go. Tapi setelah dijelaskan dan penjelasannya rasanya terlalu lamban dan malah bikin makin banyak ketidakjelasan. Setelah menonton sampai akhir, saya merasa kecewa. Main Pokemon Go rasanya lebih seru daripada nonton film ini hehehe. Tadinya mau rekomen ke Joe buat nonton, tapi setelah melihat endingnya dan juga banyak hal yang tidak dijelaskan, saya tidak merekomendasikan nonton ini.

Ada banyak kejanggalan-kejanggalan lain, tapi lain kali saja saya tambahkan.

NgeMall di Depok VS Chiang Mai

Katanya kita ga bisa membandingkan 2 hal yang memang berbeda. Depok itu bukan Jakarta, tapi tetap saja lokasinya dipinggiran kota Jakarta, beberapa hal di Depok terjadi ya gak lepas dari lokasinya yang gak jauh dari Jakarta, ibukota negara yang penduduknya sangat padat.

Chiang Mai lokasinya jauh dari Bangkok, walaupun disebut sebagai kota terbesar di utara Thailand, tapi kalau dibandingkan sama Bangkok, jauh lebih kecil dan bahkan masih bisa ditemukan sawah di sini. Saya mau membandingkan dari kesan selama liburan kemarin di Depok dan Jakarta.

Walaupun Depok bukan Jakarta, tapi kesan banyaknya volume kendaraan di jalanan ya selama di Indonesia hampir sama aja, banyak mobil dan terutama motor. Setelah seminggu kembali ke Chiang Mai, saya bisa merasakan kalau Chiang Mai ini sangat sepi kalau dibandingkan dengan Depok.

Untuk kegiatan jalan-jalan ke Mall, di Depok dan Jakarta itu jauh lebih mahal dibandiingkan di Chiang Mai. Banyak hal di mall di Chiang Mai merupakan fasilitas gratisan terutama seputar tempat bermain untuk anak-anak sampai dengan kereta api yang muterin mall.

main lego gratisan

Kalau di Chiang Mai, kami bisa ke mall itu cuma keluar duit untuk makan. Makannya juga cukup kurang dari 800 baht untuk 1 keluarga dan sudah termasuk makan di restoran yang mahal. Untuk kegiatan bermain, anak-anak bisa naik kereta api gratis, main di playground gratisan dan termasuk bermain lego di salah satu toko yang menjual permainan anak-anak.

indoor train di Margo City Depok

Di Depok dan Jakarta, main ke mall itu habisnya lumayan mahal, untuk bermain di tempat bermain harus membayar mulai dari 100rebu/anak. Untuk makanan, biasanya duit yang setara 800 baht itu belum makan kenyang. Saya jarang menemukan tempat bermain gratis di mall Depok dan Jakarta, dan untuk naik kereta api yang keliling mall juga tidak ada yang gratis. Oh ya waktu kami ke Jakarta Aquarium kami menemukan tempat bermain gratis di dalam Central yang sepertinya Central yang sama dari Thailand.

indoor train gratisan di Central Aiport Plaza Chiang Mai

Perbedaan kegiatan ngemall yang cukup berasa adalah waktu masuk parkiran, di Depok dan Jakarta, mencari parkiran itu butuh keahlian supaya dapat. Bayar parkir di mall juga cukup berasa untuk kantong, sedangkan kalau di Chiang Mai, parkir di Mall itu gratis. Beberapa mall di Chiang Mai menerapkan gratis hanya untuk 5 jam pertama, tapi ya kalaupun ngemall sampai lebih dan bayar, udah wajar lah ya rasanya. Mall yang sering kami kunjungi sih bebas parkir walau lebih dari 5 jam, tapi ya tidak diijinkan untuk meninggalkan mobil menginap di parkiran mall.

Di Depok dan Jakarta, waktu masuk ke dalam mall selalu ada pemeriksaan tas dan barang bawaan. Mobil sebelum masuk ke dalam komplek mall juga sering di minta untuk di cek bagian bawahnya. Selama bertahun-tahun tinggal di Chiang Mai, saya tidak pernah ingat ada pemeriksaan mobil ataupun tas waktu masuk ke dalam mall.

Satu hall yang saya heran, mall di Indonesia di akhir pekan padat sekali. Ya di Chiang Mai juga pernah sih melihat mall padat, terutama waktu mall nya baru buka, tapi sepadat-padatnya mall di Chiang Mai, rasanya mall di Indonesia jauuuuuuh lebih padat. Mungkin karena perbedaan kepadatan penduduknya juga ya, dan kalau semua orang kegiatan akhirn pekannya ngemall, ya akhirnya sudah pasti mall nya juga padat.

Sebagai kesimpulan, sepertinya kalau kami tinggal di Depok/Jakarta, saya gak akan suka kalau harus tiap minggu ke Mall mengantar anak kursus tertentu. Lebih baik mencari tempat kursusnya yang bukan di area mall. Tapi kalau di Chiang Mai, kegiatan ngemall untuk anter anak kursus itu masih cukup oke dan bahkan kadang saya anggap sekalian hari libur masak dan makan di luar hehehehe.

Pengalaman Mesen Grab Food

Ceritanya hari ini mau pesan makanan spaghetti carbonara biar Joshua ga cuma makan nasi telur dadar doang selama di Indonesia. Saya dengar pengalaman orang-orang kalau sekarang gampang pesan makanan bisa pake GrabFood aja, jadi ga usah keluar rumah atau capek menunggu makanan atau macet di jalan. Jadilah saya mencoba untuk menggunakan jasa GrabFood.

Dari dalam aplikasi, saya cari daftar restoran yang jualan carbonara, trus saya pilih yang jaraknya paling dekat dan waktu tunggu nya kurang dari 1 jam. Untuk milihnya tapi gak ada fasilitas mengurutkan berdasarkan waktu tunggu, jadi saya milihnya agak random aja dari beberapa hasil pencari pertama. Menunya terlihat menarik, harganya ga terlalu mahal, reviewnya juga ga jelek. Semuanya terlihat menjanjikan, eh driver Grab nya ga bisa nemu restorannya. Pelajaran pertama: milih restoran harus yang udah pernah tau lokasinya dan namanya ga mirip-mirip kalau di Google. Orderan pertama akhirnya saya cancel deh. Terbuang waktu 15 menit karena tadi juga agak lama milih-milih menunya dan juga nunggu jasa Grabnya mencari restorannya.

Masalah mencari restoran ini, driver grabnya katanya udah ngikutin pin map nya tapi ga nemu. Saya coba cari pake google map juga, karena pengalaman pertama, saya ga tahu kalau kita bisa melihat profil restorannya untuk tahu detail alamat restorannya. Kasian sebenarnya karena driver grabnya jadi ga dapat apa-apa, padahal udah muter-muter nyari. Akhirnya saya cancel dengan alasan restoran tidak ditemukan, saya ga tahu apakah nantinya restoran itu akan dihapus dari list grab food, atau masnya aja kurang cermat mencari. Katanya dia coba telepon ke nomor restorannya, tapi nomornya tidak aktif.

Berikutnya, karena kelihatan mau hujan, mau gak mau masih lebih praktis memesan lewat GrabFood, saya masih mau mencoba peruntungan. Saya ketemu restoran lain yang juga waktu tunggunya ga sampe 1 jam. Orderan berhasil dilakukan dengan lancar, pilih-pliih menu dan dapat drivernya. Setelah driver tiba di lokasi eh ternyata menu nya katanya udah ganti *sigh*. Kayaknya restorannya jarang di order ya, jadi mereka ga gitu perduli untuk mengupdate menu makanannya. Masalahnya, saya bayarnya pake non tunai OVO, kalau ordernya ganti otomatis total harganya bakal ganti.

Karena saya ga menemukan cara mengubah pesanan via aplikasi karena kasus menunya berganti, dan saya capek ngetik via message, saya telpon deh melalui aplikasinya. Ekspektasi saya, saya akan bicara dengan driver Grab nya, ternyata yang nerima orang restorannya. Saya belum nemu cara nelpon drivernya malah. Dengan orang restorannya, saya ubah pesanan dan waktu saya bilang mau ngomong sama mas drivernya, eh malah ditutup *grmbl, mulai emosi rasanya hahaha*. Akhirnya messsage lagi ke mas drivernya, nanyain gimana tuh kalau ganti pesanan, terus kata masnya nanti dibantuin kalau dia sudah antar makanan.

Waktu makanan tiba, eh dari 4 menu yang saya pilih, yang diantar cuma 3. Kata mas drivernya, orang restorannya udah dibilangin pesanananya ada 4 tapi si restoran ngotot bilang 3. Terus harga makanan di aplikasi dan bon yang dikasih restorannya juga lebih mahal harga yang dari restorannya. Haish, ya untungnya saya belum kelaparan, dan pesanan utamanya ada, jadi ya sudahlah. Ternyata, kalau ada selisih seperti itu, yang akan membayar dulu itu drivernya, jadi walaupun pesanan via non tunai, duitnya itu masuk ke account drivernya. Jadi tadi karena pesanan dari 4 jadi 3, saya gak perlu nambah malahan masih ada kembalian. Pelajaran ke-2: lain kali pesen makanan bayar cash aja biar gampang kalau totalnya ganti karena ganti orderan (dan lebih baik memang memesan makanan di restoran yang kita sudah tau pasti letak dan menunya, biar ga kejadian lagi seperti hari ini). Untungnya, tujuan utama pembelian tercapai, Joshua sukses makannya ga pake susah dan abis dong 1 porsi sendiri, walaupun menurut saya rasanya ya biasa aja dan beda dari ekspektasi sih hehehe.

Saya pikir-pikir, biaya delivery makanan di sini 4000 rupiah itu gak sampai 10 baht, kalau di Chiang Mai, pemesanan makanan itu biayanya 40 baht (lebih 4x dari biaya delivery di sini). Saya tahu cari duit itu gak gampang, tapi saya jadi kasian dengan driver ojek online yang biaya deliverynya dihargai murah sekali di sini. Kalau andaikan tadi saya harus pergi sendiri mencari restorannya muter-muter, lalu mesen makanan menunya ga ada, dan akhirnya pulang lagi ke rumah, rasanya biayanya pastilah lebih dari 4000 rupiah. Tapi saya tahu, kalau harga deliverynya lebih dari itu, mungkin akan berkurang orang yang menggunakan jasa delivery makanan ini.

Dulu, saya ingat jasa pengiriman makanan itu biasanya dilakukan oleh restorannya. Saya jadi kepikiran, sekarang biaya delivery makanan dari restorannya langsung jadi berapa ya?, Jaman awal kerja di Bandung, dulu saya inget sering banget delivery Hoka-Hoka Bento atau Pizza Hut. Sekarang, kalau biaya deliverynya lebih dari 4000 rupiah, bisa-bisa orang memilih jasa ojek online saja untuk memesan makanan. 

Ada yang punya tips-tips lain sebelum menggunakan jasa Grab Food ini? atau ada yang tahu gimana mengubah pesanan dari aplikasi kalau drivernya udah sampai restoran dan menunya berganti?

Liburan Hari ke-5: Bandar Djakarta Ancol

Hari ini dapat undangan makan bersama di Restoran Bandar Djakarta Ancol. Berhubung siangnya Joe ketemu duluan untuk diskusi dengan teman-temannya di daerah Jakarta pusat, saya dan anak-anak memilih untuk nyusul sore hari langsung ke Bandar Jakarta saja. Untuk pertama kalinya sejak liburan ke Jakarta, anak-anak bisa tidur siang dulu deh pada jamnya hahaha.

Bangun tidur, kami siap-siap umtuk ke Bandar Djakarta. Saya menggunakan jasa Grab Car lagi. Perjalanan dari Depok ke Ancol memakan waktu hampir 1 jam. Masuk daerah Ancol dikenakan biaya 25 ribu rupiah per orang dan 25 ribu untuk mobil dan pengemudinya. Ah harusnya tadi datang lebih awal biar sekalian jalan-jalan dulu ya di Ancolnya hehehe. 

Sampai di restoran, Joe yang sudah sampai 30 menit lebih dahulu dan sudah memesan makanan untuk anak-anak, eeh ternyata makanannya belum datang juga. Jadi kami memutuskan menambah memesan minuman dulu. Untuk pertama kalinya, Joshua mau minum jus jeruk di Indonesia. Selama ini semua jus jeruk yang kami pesan ditolak sama Joshua karena terlalu asam hehehe. Saya memesan es cappucino, berharap kopi dari biji kopi seperti di Chiang Mai, tapi ternyata rasanya seperti cappucino dari sachetan (oh well). 

Menunggu makanan datang, saya dan Jonathan jalan-jalan dulu di luar restoran. Karena mulai gelap, saya cuma ambil foto-foto sedikit saja. Untungnya, gak lama menunggu makanan anak-anak datang, jadi kami bisa memberi Joshua dan Jonathan makan dulu supaya nantinya bisa makan seafood dengan tenang. 

Restoran Bandar Djakarta ini sangat besar sekali, saya perhatikan banyak rombongan dari kantor-kantor mengadakan acara makan bersama di sana. Mungkin karena sudah akhir tahun, dan sebentar lagi libur Natal dan Tahun Baru, banyak kantor sejak hari Senin sudah pada ngadain acara makan malam bersama. Restoran ini ruangannya terbuka dan bebas merokok *sigh*. Hal begini sudah tidak diperbolehkan lagi di Chiang Mai, saya merasa kembali diingatkan kenapa saya lebih betah di Chiang Mai daripada Indonesia.

Restoran ini merupakan restoran Sea Food, makanan yang dipesan berupa lobster besar, kepiting asam manis, kepiting bakar, kerang, cumi goreng, ikan gurame goreng, ikan panggang dan sayurannya plecing kangkung dan kailan. Saya dan Joe ga sanggup makan banyak, jadi ya paling kami cicip sedikit ini dan itu.

Menurut saya, testur makanan laut itu mirip-mirip. Susah payah membuka kepiting, isinya ya mirip daging ikan. Cumi-cumi dan lobster juga teksturnya ya hampir sama, agak lebih keras dibanding tekstur ikan tapi ga banyak serat seperti daging. Menurut saya, makanan seafood ini mau dimasak apapun susah sekali meresap ke dalam bumbunya. Paling cocok ya makanannya harus di tambahin saus di luarnya supaya rasanya ada.

Satu kelemahan dari restoran besar adalah: pesanan apapun butuh waktu ekstra untuk segera datang ke meja, apalagi kalau pesananannya itu susulan. Tadi saya ditengah makan baru ingat kalau di Indonesia itu umumnya air minum itu ga diberikan kalau ga dipesan, jadi saya pesan air mineral 2 botol. Pelayan bertanya mau dingin atau biasa, dan saya sudah jawab biasa.

Beberapa menit berlalu, sampai ada 3 pelayan datang ke meja, saya tanyakan mana airnya, dan gak datang juga. Akhirnya datang air minumnya, dan dia bawa yang dingin *sigh*. Lalu datang lagi 1 botol yang biasa dan diberikan ke meja sebelah *sigh*, lalu datang lagi 1 botol dingin lagi. Ya kesimpulannya, pesanlah air minum sebelum anda makan kalau memang anda tipe butuh air minum biasa selesai makan. Untungnya saya pesan air minum bukan karena hampir keselek, kalau misalnya saya pesan udah mau keselek kayaknya bisa berabe deh tadi.

Foto sambil nunggu Grab

Selesai makan, kami foto bersama dan pesen Grab untuk pulang. Perjalanan pulang ke arah Depok ada sedikit macet dibanding berangkat, tapi ya gak sampai berhenti di jalan juga, itupun makan waktu 1,5 jam untuk tiba di rumah. Setelah 5 hari mengukur jalan Depok-Jakarta hampir setiap hari, sepertinya saya mengambil kesimpulan kalau saya ga akan bisa tinggal di kota ini. Butuh waktu dan effort yang sangat besar untuk menuju satu tempat. Rasanya jadi tua di jalan kalau butuh waktu total sekitar 2 atau 3 jam untuk perjalanan pergi dan pulangnya. Ah baru 5 hari liburan kok udah kangen Chiang Mai hehehe.

Liburan Hari ke-4: Jakarta Aquarium

Hari ini, kami dan keluarga adik-adik Joe jalan bareng ke Jakarta Aquarium. Lokasi Jakarta Aquarium ini di Neo SOHO Mall lantai LM dan LG. Sampai di sana, kami makan siang dulu di open Kitchen lantai 3A karena sudah hampir jam 12. Awalnya tempat makannya terlihat sepi. Jam 12 lewat sedikit tiba-tiba banyak sekali orang ada di mall (ya iyalah ya, namanya juga jam makan). Oh ya, mall ini tempat parkirnya di atas gedung mall nya sendiri. Masuk dan keluar parkiran terasa memusingkan karena naik gerakan memutar (spiral) beberapa lantai sampai atas.

Setelah makan, kami menuju lantai LM. Oh ya, harga tiket masuk untuk weekend lebih mahal dibanding hari biasa. Kami cari promosi pake kartu kredit BNI dan Traveloka. Kami beli tiket regular, karena biasanya anak-anak (terutama Joshua) masih takut dengan tontonan 5 Dimensi.  Tapi dengan promosi kartu BNI kami mendapatkan diskon 15 persen. Promosinya dengan 1 kartu hanya bisa untuk membeli 4 tiket dan kami punya 2 kartu BNI. Kami berangkat 12 orang, 6 dewasa dan 6 anak, tapi anak di atas 120 cm dihitung dewasa, jadilah kami harus membeli 7 dewasa dan 4 anak (1 anak masih bayi, dan anak di bawah 2 tahun belum dikenakan biaya).  Jadi kami beli 6 tiket dewasa dan 2 anak dengan kartu BNI dan 1 tiket dewasa plus 2 anak dengan Traveloka (kita ga bisa beli tiket anak doang dengan traveloka, jadi minimal harus ada 1 orang dewasanya).

Promosi begini sering berganti, jadi sebelum ke sana bisa cek dulu promosi yang masih berlaku. Kalau saya baca websitenya, ada juga promosi happy hour di hari biasa dan jam tertentu diskon 50 persen. Ada juga promosi moms and kids, di mana ibunya saja yang bayar dan anak di bawah umur tertentu gratis, Kenapa kami ga pergi hari biasa? karena hari biasa adik-adik Joe kerja, jadi weekend itu kesempatan yang langka buat ngumpul lengkap.

melihat ikan dari atas

Sekarang ke bagian cerita di dalamnya. Kesan pertama, tempatnya remang-remang dengan musik yang bikin ngantuk hehehehe, mungkin biar ikan-ikannya merasa tenang kali ya hehehe. Saya sempat agak kecewa karena di awal yang saya lihat kebanyakan hanya layar display saja dan bukan aquarium beneran, tapi ternyata ada juga bagian aquariumnya, di mana anak-anak bisa melihat ikan-ikan yang besar seperti ikan pari, hiu dan berbagai jenis ikan yang saya gak tau namanya.

Kalau diperhatikan dengan seksama, Jakarta Aquarium berusaha memberikan pengetahuan mengenai berbagai ikan yang ada di Indonesia dan juga kesadaran untuk menjaga lingkungan untuk tidak membuang plastik karena bisa membuat kerusakan lingkungan hidup di laut. Setiap display yang ada tersedia tablet yang menjelaskan jenis ikan, ukuran ikan dan di mana ditemukan biasanya. Kalau ke sana sebagai tugas sekolah, tentunya ada banyak sekali yang bisa dilaporkan oleh murid-muridnya. Sayangnya, saya tidak menemukan katalog lengkap ikan yang ditampilkan di website Jakarta Aquariumnya.

kesempatan menyentuh bintang laut

Selain ikan, jakarta aquarium juga menampilkan otter, turtle dan iguana. Anak-anak diberikan kesempatan memegang beberapa kura-kura kecil, bintang laut, ikan pari kecil dan beberapa jenis ikan kecil. Sebelum memegang ikan, harus cuci tangan dengan bersih tanpa sabun, dan setelahnya bisa mencuci tangan menggunakan sabun. 

informasi dalam tablet di berbagai tempat

Di lantai bawah, ada juga display seperti aquarium super besar, di mana kita bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang. Di lantai dasar ini juga ada display jelly fish dan ikan Piranha. Kalau diperhatikan, gerakan ikan piranha sangat sedikit, mereka cenderung terlihat diam. Gerakan jelly fish kalau diperhatikan juga seperti bisa menari-nari dan menghipnotis. Ada 1 ikan yang terlihat seperti rumput yang melayang-layang di air, tapi ya kalau diperhatikan dengan seksama ya ada matanya di bagian bawah.

ikan piranha

Terus terang, ada banyak hal yang saya tidak ketahui nama dan bentuknya sebelumnya dan karena ke Jakarta Aquarium saya jadi tahu, oooh ada ya ikan seperti itu, atau ooh ada ya penghuni laut yang lucu seperti itu. Untuk anak-anak, mungkin melihat sekali saja tidak akan cukup, tapi itulah gunanya memfoto sebanyak-banyaknya untuk kemudian nanti dikeluarkan fotonya dan dicari informasi lebih lanjut di internet heehehe.

Di dekat pintu keluar, ada teater 5D, panggung pertunjukan dan juga tempat untuk membeli foto. Kami tidak membeli fotonya karena harga fotonya 350 ribu rupiah. Saya juga tidak bisa komentar mengenai teater 5D karena kami ga beli tiket untuk masuk 5D. Kami menyempatkan menonton pertunjukan mermaidnya.

pertunjukan mermaid

Ceritanya dinarasikan dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tokoh-tokohnya hanya menari dan berekspresi, panggungnya di lengkapi dengan special effect asap dan lampu-lampu untuk memberi kesan tertentu. Saya cukup kagum dengan kreativitas mereka dalam membuat pertunjukannya walaupun mungkin lebih baik kalau pertunjukannya di lakukan dalam ruangan dan kursi yang lebih nyaman. Saya juga kagum dengan pemain yang bisa menari-nari seperti putri duyung. Mereka pasti harus latihan cukup banyak supaya bisa menahan napas sambil menari-nari dalam aquarium besar.

Kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam dari sejak masuk sampai keluar. Anak-anak cukup puas melihat ikan dan juga pertunjukannya, walaupun ada bagian yang buat Joshua terasa menakutkan, karena tokoh ratu jahatnya beneran deh wajahnya jahat banget (hahaha aktingnya berhasil dong ya). 

Secara keseluruhan Jakarta Aquarium cukup menarik untuk anak-anak belajar dan mendapatkan pengalaman memegang ikan-ikan, Tapi saya tidak tahu kenapa harga weekend harus dibedakan dengan harga hari biasa. Satu hal yang terasa sangat berbeda dengan Chiang Mai, harga makanan di dalam Jakarta Aquarium sangat mahal. Milo 1 gelas 25 ribu rupiah (50 baht), padahal harga biasanya diluar kurang dari setengahnya. Kalau mau ke sana, sebaiknya cari harga promosi, bukan akhir pekan dan hari libur dan bawa bekal susu sendiri hahaha.

Review Terbang dengan AirAsia

Berhubung hari ini kami sedang travel pulang ke Indonesia naik AirAsia, sekalian jadi pengen cerita tentang pengalaman naik AirAsia sejak jaman dahulu kala. Mungkin kategori yang tepat bukan review tapi ya cerita-cerita aja hahaha.

sekarang giliran papa jagain anak-anak hehehe

Kami menggunakan AirAsia sejak sebelum menikah, ya maklum aja harga tiket penerbangan lain jauh diatas rate AirAsia. Pilihannya ya pakai AirAsia atau naik kapal laut, tentu saja milih naik pesawat. Masih ingat pengalaman pertama ditinggal pesawat juga ditinggal sama AirAsia (eh semoga nggak ada pengalaman ditinggal berikutnya). Pernah juga perubahan jadwal dadakan yang di majukan beberapa jam dari jadwal awal atau berangkat besok harinya, sehingga kami selesai pesta pernikahan harus buru-buru antar sebagian keluarga Joe ke airport. Ya perubahan jadwalnya sebenar waktu itu tidak harus kami terima, tapi sebagian anggota keluarga kebetulan ga bisa kalau harus dibesokkan lagi menunggu berangkatnya.

Ironisnya, dihari perubahan jadwal itu keluarga Joe ditunggu sampe beberapa menit mereka tutup pintu pesawat. Giliran saya dan Joe beberapa hari kemudian datang terlambat 5 menit dari batasan check in diijinkan 45 menit sebelum take-off eh kami ga boleh dong masuk huhuhu. Padahal oh padahal sebelumnya mereka menerima sampai 5 menit sblom jadwal take-off. Huh tak adil. Eh kok jadi curhat.

Sejak pindah ke Thailand, pilihan untuk pulang juga semakin mahal dengan penerbangan lain, kapal laut juga nggak bisa dipilih hahaa. Air Asia jadi pilihan lagi terutama kalau mau pulang lebih dari 1 x setahun. Waktu awal-awal, kami ga punya banyak pilihan, pulang ke Indonesia harus transit via Kuala Lumpur. Karena waktu itu AirAsia belum ada yang namanya fly thru, kami harus sangat repot sekali. Turun pesawat di Malaysia, keluar dari imigrasi, menunggu bagasi, ambil bagasi, pindah terminal ke terminal keberangkatan berikutnya, masukin bagasi lagi lalu imigrasi untuk keberangkatan ke Indonesia, proses pulang itu bener-bener perjuangan hahaha. Tapi balik ke Chiang Mainya lebih perjuangan lagi, karena ada step tambahan ketika sampai di Kuala Lumpur kami harus menginap di Tunes hotel 1 malam (karena tidak ada jam penerbangan berikutnya di hari yang sama), bangun super pagi untuk berangkat lagi ke Chiang Mai. Bisa aja nginap di tengah kota KL, tapi mana ada jaminan besok paginya nyampe subuh ke bandara buat berangkat lagi. Atau bisa aja ngampar di airport, tapi bayar tunes hotel ga terlalu mahal dan tentunya lebih nyaman daripada ngampar di airport.

Pernah sekali, sebelum kami punya anak, karena begitu repotnya perjalanan akhirnya kami iseng sekalian mampir sana sini. Jadi sebelum kembali ke Thailand, kami mampir dulu ke KL untuk berkunjung ke teman yang tinggal di KL, lalu kami mampir ke Singapur menginap 1 malam di Singapur. Dari Singapur kami terbang ke Bangkok, dan di hari yang sama dari Bangkok terbang ke Chiang Mai. Dipikir-pikir iseng banget ya hahaha. Kebetulan waktu itu dihitung-hitung dengan detour sedikit biayanya ga jadi jauh lebih mahal, dan karena teman-teman kami baik hati, kami ga perlu bayar hotel hahaha.

Setelah punya anak pertama, pulang pertama kali kami memutuskan naik Singapore Air demi kenyamanan perjalanan. Tapi perjalanan berikutnya untungnya sudah ada pilihan untuk fly thru  dan bisa terbang di hari yang sama jadi kami kembali naik Air Asia hehehe.

Sekarang ini, perjalanan dengan AirAsia jauh lebih nyaman. Selain bisa langsung terbang di hari yang sama tanpa repot keluar masuk bagasi, sekarang ini kami bisa memilih berapa banyak bagasi yang harus kami beli karena toh kami ga pernah bawa barang terlalu banyak, kami bisa memesan makanan terlebih dahulu secara online dan bisa memilih kursi dan cek in online. Sistem Air Asia sudah jauh lebih baik dibandingkan dulu, kadang-kadang masih ada masalah ketika check in, atau membeli makanan. Kemarin kami harus mengkombinasikan penggunaan aplikasi AirAsia mobile dan web ketika membayar untuk bagasi, kursi dan makanan.

Beberapa waktu lalu, untuk bisa terbang langsung ke Indonesia dengan fly thru, kami hanya bisa memilih transit di Bangkok (DMK), padahal saya sering melihat kalau rute pilihannya CNX-KUL, lalu KUL-CGK atau KUL-KNO, seringnya harganya lebih murah daripada via DMK. Tapi belakangan ini saya perhatikan aplikasi airasia sudah bisa juga fly-thru via KUL. Sekarang ini, jadi ada pilihan transit mau di Bangkok atau KL.

Hari ini, setelah sekian lama ga transit di KL dengan AirAsia, kami mampir di KL lagi. Terakhir mampir sini sudah beberapa tahun lalu sebelum ada Joshua. Eh pernah sekali mampir sini naik Malindo Air, sayangnya rutenya udah ga ada lagi. Waktu naik Malindo kami transitnya super sebentar, dan gate nya sebelahan jadi ga melihat banyak hal di KLIA. Sekarang ini kami transit beberapa jam, makanya sempat nulis ini sambil nunggu pesawat berikutnya. Hal yang paling menyenangkan, masih di pesawat udah bisa konek free wi-fi Airport yang bisa digunakan selama 24 jam. Jadi sambil nunggu gini bisa tetep online, main pokemon juga bisa haha.

Oh ya, kadang-kadang kami memilih penerbangan lain karena waktu di cek harganya penerbangan lain lebih murah daripada AirAsia, tapi hal ini jarang sekali terjadi. Sejauh ini pengalaman terbang dengan Air Asia baik-baik saja, semoga ke depannya semakin baik lagi.