Kdrama: Kill Me Heal Me dan Hyde Jekyll and Me

Tulisan ini udah lama jadi draft. Dramanya juga sudah lama ditontonnya. Tapi ya, daripada gak dipublish saya coba lengkapi seingatnya dan mungkin akan ada spoiler (tanpa detail). Karena ini drama lama, saya pikir kebanyakan toh sudah pada nonton, jadi tidak apalah ada spoiler dikit-dikit hehehe.

Film Kill Me Heal Me (KMHM), tayang lebih dahulu (7 Januari – 12 Maret 2015) daripada Hyde Jekyll and Me (HJM) tayang (21 Januari – 26 Maret 2015). Jadi bisa dibilang HJM ini kalah start dari KMHM sekitar 2 minggu dengan hari dan jam penayangan yang sama di stasiun yang berbeda.

Dari ratingnya drama KMHM lebih sukses daripada HJM, padahal menurut saya ceritanya sama-sama menarik untuk ditonton walau temanya sama. Tapi memang kalau mengikuti 2 film yang temanya sama dan harus memilih jam tayang, pastilah akhirnya pemirsa akan meneruskan yang sudah duluan ditonton.

Kesamaan:

  • sama-sama membahas DID (Disassociative identity disorder) atau dikenal dengan kepribadian ganda
  • tokoh yang mengidap DID ini sama-sama anak orang kaya yang masih memegang keputusan penting di perusahaan orangtuanya
  • sama-sama menggunakan teknologi (smart watch dan cctv di rumah) untuk berusaha memonitor kondisi fital dan keep track kegiatan dirinya (antisipasi kalau kepribadian lain muncul)
  • pribadi utama digambarkan berusaha melakukan meditasi untuk mencegah kepribadian lain muncul
  • penyebab utama dari kepribadian ganda ini sama-sama trauma masa kecil, menyalahkan diri sendiri dan metode diri untuk bertahan hidup
  • tentunya ceritanya gak lengkap tanpa tokoh wanita yang menjadi trigger mulai dari awal pribadi terpecah ataupun muncul kembali dan pada akhirnya menjadi kunci untuk penyembuhan
  • pribadi alternate digambarkan duluan jatuh cinta dengan tokoh wanita, kemudian pribadi utamanya ikutan jatuh cinta juga (jadi perebutan wanita deh)
  • pribadi alternate ada yang ingin ambil alih dan menjadi pribadi utama
  • ada klise di mana tokoh wanita tinggal dengan tokoh pribadi utama (alasannya beda tapi intinya sama untuk membantu proses penyembuhan)
  • ada scene di amusement park dan ada scene kembang api.

Perbedaan:

  • KMHM punya kepribadian sampai 6, HJM hanya 3 (dan yang ditunjukkan hanya 2)
  • di KMHM pribadi utama tidak punya metode untuk berkomunikasi dengan pribadi yang lain dan masing-masing pribadi bisa muncul tanpa trigger khusus, sedangkan di HJM karena hanya ada 2 karakter yang diceritakan, digambarkan mereka punya cara berkomunikasi dan bahkan punya pembagian waktu siang untuk pribadi utama dan malam untuk pribadi alternate
  • di KMHM pribadi utama orang yang baik sedangkan salah satu pribadi alternate yang dominan digambarkan lebih agresif dan dekat dengan kekerasan. di HJM pribadi utama digambarkan egois dan dingin, tidak lebih baik daripada pribadi alternate yang suka menolong, ramah dan murah senyum
  • tokoh wanita di KMHM psikiaternya, tokoh wanita di HJM pegawai nya yang kebetulan berperan penting untuk proses menemukan psikiaternya yang diculik dan tentunya psikiaternya ini diperlukan untuk proses kesembuhannya.
  • di KMHM keluarga tokoh utama tidak aware kalau anaknya punya kepridadian ganda, sedangkan di HJM keluarga mengetahui dan dengan aktif berusaha mencari dokter untuk menyembuhkan anaknya dari DID

Kesan tentang HJM bisa di baca di posting saya sebelumnya. Intinya walau ada beberapa bagian kurang masuk akal dengan penggunaan hipnotis, tapi jalan ceritanya diselesaikan dengan tuntas dan tidak ada kesan terburu-buru.

Kesan tentang KMHM:

Jalan cerita awalnya sangat lambat dan membosankan. Saya sempat hampir berhenti di episode pertama. Tapi setelah melewati 2 episode dan muncul beberapa kepribadian ceritanya mulai terasa menarik dan bikin penasaran. Tapi beberapa episode terakhir juga kembali membosankan dan rasanya lambat sekali. Pada akhirnya, ada kesan mengakhiri cerita dengan terburu-buru.

KMHM ini lebih terasa komedinya, apalagi ketika tokoh utamanya menjadi seorang gadis remaja yang berlaku seperti fangirl. Akting Ji Sung cukup meyakinkan dan sangat berkesan ketika dia mengejar-ngejar Park Seo Joon dan berteriak Oppaaa. Sepertinya bagian komedi ini yang bikin saya bertahan menonton sampai selesai.

Penyelesaian masalah kepribadian ganda di KMHM ini agak terlalu mudah. Tidak ada metode hipnotis seperti di HJM, tapi lebih ke mengingat peristiwa di masa kecilnya, berdamai dan memaafkan masa lalu dan dengan mudah semua kepribadian alternate mengundurkan diri dan berjanji tidak akan keluar lagi.

Tahun 2015 saya belum nonton kdrama, jadi saya tidak mengikuti drama ini ketika sama-sama ditayangkan. Saya bahkan baru tahu belakangan kalau ada tema senada dengan HJM.

Saya menonton HJM lebih dahulu dari KMHM dan buat saya temanya menarik setelah sebelumnya mulai bosan dengan tema kdrama yang temanya begitu-begitu saja hehehe. HJM saya tonton tahun 2018 dan KMHM baru tahun ini. Walau temanya sama, pendekatan penyelesaian masalahnya berbeda dan punya daya tarik masing-masing.

Jadi kalau mau nonton yang mana dulu dong? ya bebas mau yang mana karena KMHM dan HJM ada di Netflix dan bisa dilewatkan kalau ada bagian yang membosankan hehehe.

Warna warni Mi Band 4

Bulan Maret 2019 saya mencoba dan menuliskan tentang Mi Band 3. Tadinya saya pikir saya tidak akan ganti jam lagi sampai mi bandnya rusak, tapi ternyata beberapa bulan lalu ada versi Mi Band 4 yang di release dengan beberapa fitur tambahan dari Mi Band 3, di antaranya layar berwarna dan bisa tracking untuk berenang dan dengan harga yang sama dengan harga release Mi Band 3 fiturnya juga lebih baik.

Setelah menunda-nunda dan tetap mau bertahan dengan mi band 3 saja, akhirnya jadi juga beli Mi Band 4 nya bulan September lalu karena Joe juga mau pakai Mi Band 3 nya. Setelah pemakaian beberapa bulan dengan Mi Band 4, baru deh ingat kalau belum nulis soal Mi Band 4 ini.

jadi juga beli tali warna warni

Dengan adanya display berwarna di Mi Band 4, kita bisa memilih berbagai tampilan wajah jam nya. Nah daripada cuma wajahnya yang berubah, saya akhirnya jadi juga beli tali jam warna warni nya. Tali jamnya juga gak mahal dan kebetulan kompatibel untuk Mi Band 3 dan Mi Band 4 ( jadi Joe juga bisa ganti-ganti warna tali kalau iseng). Karena ongkos kirimnya 30 baht dan harga talinya 9 baht, akhirnya kami beli 5 warna sekaligus (ongkos kirimnya sama saja kirim 1 dan 5).

Selain jadi iseng ganti-ganti warna tali dan display, kelebihan Mi Band 4 dari versi Mi Band 3 yang paling terasa itu di bagian batere tahan lebih lama beberapa hari. Klaimnya memang bisa untuk 20 hari, tapi karena saya mengaktifkan sleep tracking dan heart rate monitor, paling lama saya harus mencharge Mi Band ini sekitar 12 hari (rata-rata 10 hari kalau ingat sudah saya charge). Daya tahan batere berkurang kalau kita aktifkansleep monitoring dan heart rate monitornya.

seminggu batere masih di atas 50 persen

Heart rate detection bisa di set setiap menit sampai per 30 menit. Semakin kecil interval pengecekan, semakin cepat batere berkurang. Saya sekarang set jarak pengecekan heart rate setiap 5 menit.

Kadang-kadang punya device dengan banyak fitur, tidak selalu semua fiturnya kita aktifkan. Fitur yang paling sering saya gunakan dari mi band 4 ini antara lain:

  • memperhatikan apakah target jumlah langkah per hari sudah tercapai atau belum
  • memperhatikan pola tidur (berapa jam tidur, berapa jam tidur lelapnya)
  • memperhatikan denyut jantung rata-rata harian dan ketika tidur
  • notifikasi kalau ada panggilan masuk (karena hp saya selalu silent)
  • notifikasi message dari Joe (yang lain notifikasinya saya matikan hahaha)
  • notifikasi alarm dan calendar

Saya tahu ada banyak jenis smart band beredar sekarang ini dan masing-masing punya fitur andalannya. Saya pilih Mi Band 4 ini karena harganya tidak lebih dari 1500 baht dan fiturnya cukup untuk saya. Fitur olahraga belum pernah saya pakai. Rencananya mau kembali berolahraga sebelum 2019 berakhir hehehehe.

Jangan percaya Petisi Online

Dari dulu saya gak tertarik ikutan petisi online walau kadang mempertanyakan apakah ada gunanya dan pernah bisa dipakai untuk mencapai tuntutannya. Sekarang saya makin ga percaya dengan petisi online, apalagi yang dari change.org. Saya tau buat sebagian orang ikut serta dalam petisi online itu terasa memberi suara untuk perubahan, tapi sekarang saya makin yakin kalau pembuat petisi online ini gak beda jauh dengan pembuat hoax.

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu saya heran dapat e-mail dari change.org yang menyatakan saya sudah menandatangi petisi online untuk beberapa hal yang sedang ramai di Indonesia. Loh kok bisa? walaupun orangnya pakai nama lain, tapi orang tersebut jelas-jelas pakai e-mail saya. Ternyata ya masalahnya si change.org tidak memverifikasi apakah yang tandatangan petisi itu beneran orang yang memiliki e-mail tersebut. Udah gitu gak tanggung-tanggung, orang tersebut tandatangan 19 petisi dalam 1 hari. Langsung deh saya bikin akun di change.org dan ganti passwordnya. Petisi yang ditandatangani oleh orang yang make e-mail saya juga untungnya masih bisa dibatalkan.

Penipu petisi atau polling ini merugikan bukan secara materi, tapi lebih ke membuat seolah-olah protes yang mereka ajukan banyak yang dukung, padahal ya bisa jadi itu dukungan semu. Terus mereka seperti berusaha membuat seolah-olah petisinya ini sudah didukung oleh masyarakat banyak. Terus dengan modal petisi itu, mereka sebarkan dan berusaha mempengaruhi lebih banyak orang lagi.

Alasan lain tidak percaya dengan jumlah pendukung petisi online selain kasus e-mail tidak diverifikasi adalah: jaman sekarang ini 1 orang bisa punya banyak e-mail karena ada banyak layanan bikin e-mail gratisan. Tapi dibandingkan bikin account baru, mungkin orang-orang yang ingin bikin ramai dengan petisi online ini lebih suka mengumpulkan e-mail dari situs tertentu dan ya dipakailah untuk tandatangan petisi.

Jadi kalau ada petisi online klaim sudah ditandatangi sekian banyak orang, belum tentu kalau petisi itu benar-benar ditandatangani oleh pemilik e-mailnya, karena beberapa sistem sepertinya sengaja tidak memverifikasi kalau yang tandatangan itu benar-benar pemilik akun e-mail. Mereka sudah seperti jaman lomba idol yang butuh dukungan sebanyak-banyaknya tanpa peduli identitas pendukungnya.

Tapi ini opini saya ya, kalau pembaca masih pada mau ikutan petisi online ya silakan saja. Pesan saya sih, pakailah identitas dan e-mail yang memang milik Anda sendiri, jangan makai e-mail orang lain. Kalau makai e-mail orang lain, itu namanya ga berani mengakui dukungan terang-terangan tapi sok-sokan mau ikutan petisi.

Kdrama: My Mister

sumber wikipedia: https://en.wikipedia.org/wiki/My_Mister

Drama My Mister ini tidak termasuk dalam genre yang biasanya saya tonton. Tapi kemarin setelah menonton beberapa genre romance comedy, agak bosan dengan cerita-cerita klise. Iseng lihat film apa yang kira-kira menarik ya, coba liat deh drama yang dapat award sebagai best drama di Baeksang Award tahun 2019: My Mister.

Tanpa membaca resensi sebelumnya dan bahkan tidak tau siapa nama pemerannya, jadilah saya mulai menonton ‘My Mister’. Kesan saya? film ini sangat menyedihkan! Kalau ini kisah cinta yang menyedihkan pasti saya sudah berhenti menontonnya di episode pertama, tapi karena ceritanya lebih ke cerita kehidupan, saya terusin deh nontonnya sampai habis walaupun butuh waktu lebih lama mencernanya hehehe.

Sedikit catatan, kalau kamu tipe orang yang gampang stress sedih menangis berkelanjutan atau depresi, sebaiknya jangan menonton drama ini. Kadang-kadang melihat kehidupan orang lain yang punya lebih banyak masalah dari kita memang bisa membuat kita merasa lebih baik, tapi bisa juga membuat kita jadi semakin terbeban.

Tokoh Wanita: Si Pegawai Temporer

Cerita drama ini tentang seorang wanita berusia 21 tahun yang sudah tidak punya orang tua dan harus mengurus neneknya yang bisu, tuli dan lumpuh. Selain itu, dia juga harus membayar cicilan hutang orangtuanya ke rentenir.

Untuk membiayai hidupnya dan neneknya, dia bekerja sebagai pegawai temporer di sebuah perusahaan konstruksi yang tugasnya membantu sebuah tim inspeksi bangunan dalam hal distribusi surat-surat ataupun fotokopi dokumen dan mengentri data ke komputer. Di kantornya tentunya dia tidak membutuhkan berinteraksi dengan teman kerjanya. Jadi digambarkan tokoh ini jarang sekali berbicara.

Pulang dari pekerjaan temporer, dia juga sambil bekerja paruh waktu mencuci piring di restoran besar. Digambarkan, untuk menghemat, dia bahkan menyisihkan sisa makanan yang ada di piring sebelum dia cuci untuk di bawa pulang dan di makan kemudian.

Udah cukup sedih belum? Nah jadi neneknya tadinya dia masukkan ke panti jompo supaya ada yang mengurus selagi dia kerja, tapi karena dia gak punya duit untuk bayar biaya rutinnya, akhirnya dia harus membawa neneknya pulang. Harusnya dia bereskan biaya administrasinya dulu sebelum bisa bawa neneknya pulang, tapi ya namanya gak punya duit, dia pun ‘menyelundupkan’ neneknya keluar dari rumah jompo itu. Karena dia gak kuat untuk gendong neneknya, sampe di satu titik, dia bawa neneknya menggunakan keranjang belanja dari supermarket dekat rumahnya.

Haduuuh, udah deh gak usah lanjutin nontonnya ya, sedih amat sih. Itu rentenirnya juga jahat banget, nagihnya sampe ditungguin di rumahnya. Ceritanya ternyata si rentenir yang sekarang menagih ke dia adalah teman tumbuh bersama di masa kecilnya, orangtuanya berhutang itu ke orangtua si rentenir.

Somehow si rentenir mewarisi pekerjaan jadi rentenir dari orangtuanya dan si cewek juga mewarisi hutang dari orangtuanya. Namanya uang ya, walau waktu kecil tumbuh bersama, tetap aja dihitung tuh bunga hutangnya. Gak ada tuh ceritanya dibebaskan dari hutang karena ada perasaan kasihan misalnya.

Filmnya selain sedih juga ada beberapa bagian adegan kekerasan. Si rentenir ini menagih hutang kadang-kadang main pukul, tapi si cewek juga preman, nggak diam aja menerima, dia melawan dong dan kadang pukul balik. Tapi ya namanya tenaga cewek yang badannya lebih kecil, walau semangat tinggi tapi karena basically dia kurang makan ya mana bisa melawan cowok tinggi besar.

Jadi gimana ceritanya, akankah si cewek bisa melunasi hutang dan bunganya yang sudah banyak itu? tonton aja deh kalau mau tahu.

Loh jadi ini my mister nya mana? katanya judulnya my mister, kok ceritanya tentang si cewek. Si rentenir kan belum mister, katanya tumbuh bersama, kemungkinan si rentenir paling beda dikit umurnya dari si cewek.

Tokoh Pria: Si Mister

Hehehe, sabar…ini kan ceritanya biar gak terlalu spoiler, jadi ceritanya dari sudut pandang pemeran utama wanita dulu. Nah jadi si cewek 21 tahun itu kerja di perusahaan konstruksi jadi pegawai sementara untuk membantu tim nya si mister. Si mister ini insinyur sturktural, tapi karena politik di kantornya, dia dipindahkan jadi tim inspeksi keamanan gedung.

Si mister ini digambarkan orang yang lurus-lurus aja. Pekerja keras, cerdas, teliti, serius, dan selalu baik hati ke semua orang. Mister baik hati ini istrinya pengacara,sudah punya anak 1 di sekolahkan di Amerika. Bagian yang ini saya kurang jelas anaknya tinggal dengan siapa di Amerika, karena anaknya paling juga masih SD dan masih cukup muda. Mungkin ada di sebut umurnya, bisa jadi saya terlewat, tapi dari fotonya sih paling anaknya sekitar 8 – 10 tahun.

Si mister anak ke-2 dari 3 bersaudara yang mana laki-laki semua. Mereka tinggal di perkampungan yang saling mengenal satu sama lain dan bahkan sudah berteman sejak kecil dan bersekolah di sekolah yang sama. Kegiatan mister ini tiap hari pulang kerja ngumpul dengan 2 saudaranya yang lain dan kadang dengan teman-teman sekolahnya yang tergabung dalam klub bola untuk minum-minum di salah satu warung minum milik temannya juga.

Bagian minum-minum setiap hari ini sebenarnya bagian yang paling saya tidak suka dari drama Korea. Tapi kalau dari cerita tukang pijet di sini, anaknya juga tiap hari pulang kerja suka minum-minum sama teman-temannya dan bahkan sama adiknya juga (anak tukang pijet saya 2 laki-laki) dan ya sering juga mabuk katanya. Siapa yang bayarin minum-minum tiap hari? kadang ya patungan bagi rata rekeningnya, kadang ada yang traktir gantian.

Kehidupan si mister ini yang awalnya baik-baik saja berubah sejak ada usaha menyuap bos nya yang salah alamat ke dia karena namanya mirip.

Dikisahkan abangnya mister sudah tidak bekerja dan berpisah dari istrinya karena urusan hutang (bikin bisnis gak sukses), mamanya si mister minta tolong biar si mister modalin abangnya. Lah si mister juga masih pegawai biasa, jadi gak punya duit untuk modalin abangnya. Lagi mikir-mikir gimana caranya biar dapat duit untuk modalin abangnya, eh ada orang datang kasih amplop isinya duit segepok.

Namanya godaan ya, orang lurus seperti si mister pun agak tergoda untuk menerima suap tersebut. Tapi si mister heran, kenapa juga dia di suap? dia kan gak begitu tinggi jabatannya sampai harus di suap? Lagi sambil mikir, dia simpan tuh duit ke laci mejanya dan rencana diambil sebelum pulang. Tapi ternyata, si pegawai temporer yang saat itu pakai kacamata hitam untuk menutupi bekas pukulan rentenir melihat gerak gerik si mister yang berusaha menyembunyikan uang suap ke lacinya.

Bagian ini agak terlalu panjang untuk diceritakan dan ga mau spoiler tapi intinya si cewek pegawai temporer berusaha mengambil uang suap si mister buat bayar hutang, karena toh dia tahu si mister kemungkinan ga akan terima tuh uang suap. Plus gak mungkin si mister bakal umumkan duit suap hilang.

Si cewek mengalihkan perhatian si mister dengan minta dibelikan makan malam dan minum sepulang kerja. Si mister yang takut ketahuan disuap mengiyakan membelikan makanan buat si cewe dan minum dengan niat balik lagi ke kantor setelahnya untuk ambil amplopnya. Tapi tentunya si mister gak jadi naik ke ruang kantornya karena lift sedang di service. Tapi keesokan harinya, si mister datang pagi-pagi mau ambil amplopnya ternyata sudah ga ada dong.

Haduh itu episode pertama loh semuanya diceritakan. Ampun ya ceritanya rumit amat. Terus sampai beberapa episode itu ceritanya banyak politik kantor usaha menjatuhkan bos nya si mister dan si mister biar dipecat atau minta berhenti dari kantor.

Sampai di titik ini, saya malah jadi penasaran, ini drama kok bisa jadi drama terbaik sih. Jalan ceritanya terlalu lamban rasanya, cerita sedih cenderung membuat waktu berjalan terasa lambat memang. Tapi kebetulan-kebetulan yang terjadi terasa masuk akal dan akhirnya duit yang hilang dari laci malah menyelamatkan karir si Mister karena duitnya ditemukan kembali di tempat sampah dan diserahkan ke pihak yang menginvestigasi.

Akhir yang bahagia

Loh kok udah berakhir aja sih, baru juga cerita episode pertama. Hahaha, ini drama potensi untuk berakhir dengan kesedihan gede banget. Tapi perlu diketahui akhirnya bahagia supaya penonton bertahan menontonnya. Penyelesaian masalahnya gak sederhana, tapi juga gak terlalu berbelit-belit. Kalau berakhir dengan sedih juga, saya gak rekomendasikan film ini untuk ditonton hehehe.

Cewek 21 tahun, si pegawai temporer dengan permasalahan hidupnya menjadi sumber masalah sekaligus membantu memecahkan masalah si Mister di tempat kerja dan juga di keluarganya Ceritanya tapi juga si cewek ini agak ‘jahat’ menurut saya. Tapi ya ceritanya ini semua karena dia butuh survive dalam hidupnya, jadi si cewek ini seperti bermuka 2. Kadang dia seperti membantu bos nya mister untuk membuat si Mister berhenti kerja, tapi kadang dia juga bantuin si Mister.

Di akhir cerita, semua permasalahan di selesaikan dengan tuntas dan ya buat tokoh utama bahagia. Tokoh pendukungnya juga cukup bahagia dan ga ada kesedihan yang besar lagi. Memang lebih menyenangkan ya menonton drama yang berakhir bahagia, setidaknya bisa memberikan harapan setiap masalah ada penyelesaiannya dan hidup ini juga akan selalu ada bahagianya.

Ah susah ya nulis cerita tanpa spoiler. Tapi ya kalau mau tau endingnya juga tonton aja sendiri hehhee.

Relationship: Keluarga dan Teman

Bagian lain yang menarik dari film ini selain cerita mister dan si cewek yang kebetulan tinggal di lingkungan yang sama, digambarkan bagaimana kehidupan bertetangga yang masih sangat dekat antara mister dan teman-temannya karena mengenal bertahun-tahun dan pertemanan yang akrab karena mereka tumbuh besar bersama dan menangis dan tertawa bersama.

Hubungan antara mister dengan abang dan adiknya juga cukup akrab dan mereka sangat sayang dengan ibunya. Tapi anehnya, istrinya si mister yang bukan dari lingkungan tersebut malah merasa jadi outsider dan gak bisa akrab dengan keluarga ataupun dengan teman-teman si mister.

Masalahnya juga karena gak ada komunikasi sih. Ibunya si mister merasa menantunya yang pengacara itu sudah capek bekerja di kantor, jadi kalau ada kegiatan makan bersama si ibu akan melarang si menantu itu untuk membantu di dapur. Nah si menantu kan jadi kikuk dan serba salah. Si Mister ini juga jarang mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, jadi kesannya kayak orang kesepian di tengah keramaian.

Istrinya mister juga merasa kegiatan si mister minum-minum tiap hari sama teman-temannya ini membuat dia malas pulang cepat ke rumah, karena paling juga di rumah ga ada siapa-siapa, sedangkan untuk ikutan minum-minum dia merasa gak nyambung sama teman-teman mister. Jadi ya salah satu pelajaran yang penting juga adalah: pastikan pasangan anda bisa nyambung dengan teman-teman anda, atau kalau gak bisa nyambung, bagi waktu yang bener jangan sampe pasangan merasa di nomor 2 kan.

Sedikit Spoiler

Dalam drama ini, dengan perhatian Mister yang tulus dan selalu baik hati walaupun dalam kesusahannya, si cewek akhirnya jatuh hati dengan si Mister. Nah ini saya akan spoiler sedikit, saya suka drama ini karena si mister tetap konsisten sampai akhir dan drama ini tidak jadi drama roman picisan ataupun klise di mana tokoh cowok dan ceweknya walau beda umur jauh banget digambarkan ‘jadian’.

Kisah cinta si mister dan si pegawai temporer bukan kisah cinta romantis tapi lebih ke arah hubungan dengan sesama manusia. Eh penonton jangan kecewa, lebih gak masuk akal soalnya kalau endingnya si mister menerima cinta si pegawai temporer. Kalau gak jadi nonton gara-gara faktor ini ya gak apa-apa, tapi endingnya bahagia kok, lebih bahagia deh daripada kalau mereja terlibat secara romantis hehehe.

Indomie Seleraku

Disclaimer: Tulisan ini bukan iklan, cuma iseng aja.

Beberapa waktu lalu, di FB muncul foto Indomie yang saya post beberapa tahun lalu. FB juga menyebutkan post itu sebagai post saya yang paling banyak dikomen pada tahun itu. Sebenarnya yang komentar ga banyak amat, tapi saya jadi iseng baca lagi komen-komen orang mengenai Indomie.

Beberapa garis besar dari komentar yang masuk adalah:

  • Ga bagus makan mi instan termasuk Indomie
  • Lebih enak Mi Ayam Bawang daripada Indomie Kari Ayam
  • Udah lama ga makan Indomie

Sejak merantau di Thailand, Indomie sudah menjadi makanan langka buat saya. Saya pernah juga menyimpan Indomie sampai kadaluarsa karena ga begitu pengen makannya. Pernah terpikir kalau kami tidak begitu rindu dengan makanan Indonesia dan mencukupkan dengan apa yang ada di Thailand. Tapi dengan adanya anak-anak, dan mencicip ulang rasa Indomie, ternyata kami jadi kembali mencari Indomie dan merasa perlu berpesan dibawakan kalau ada yang datang haha. Dari semua kontroversi mengenai mi instan, sebenarnya mi instan ini sudah membantu banyak orang, seperti dituliskan di posting ini. Satu-satunya rasa yang kami bawa atau pesan untuk di bawa ke sini itu Indomie kuah rasa Kari Ayam. Untungnya selera saya dan Joe sama, jadi gak repot buat bawa berbagai rasa.

tetap jadi favorit Indomie Kari Ayam

Beberapa tahun terakhir, Indomie Goreng sudah bisa dibeli di Chiang Mai. Awalnya ketemu di swalayan yang banyak menjual makanan impor, tapi belakangan ini sudah ada di hampir semua swalayan bahkan di mini market seperti 7 Eleven. Harganya? rasanya lebih mahal dibanding harga beli di Indonesia. Harga 1 bungkus Indomie goreng rasa original itu berkisar antara 16 – 18 baht. Kalau beruntung, kadang-kadang ada sale di 7 Eleven harganya jadi tinggal 10 baht saja. Ada juga indomie goreng dalam cup, harganya 27 baht. Walau tergolong mahal dibanding mi instan lokal, harga Indomie ini masih lebih murah daripada harga mi ramen korea yang harganya mulai dari 40 baht.

Setelah Indomie Goreng rasa original, belakangan muncul juga Indomie goreng Hot and Spicy, dan rasa Barbecue Chicken Flavor. Untuk 2 rasa yang agak pedas ini anak-anak kurang bisa makannya, jadi kami jarang beli.

Nah bulan Agustus lalu, kami menemukan varian baru dari Indomie goreng yang di jual di Chiang Mai. Indomie rasa Salted Egg alias telur asin. Untuk rasa ini saya kurang suka, akhirnya Joe yang makan sendiri (belinya emang cuma sedikit buat coba).

Mi Goreng Rasa Telur Asin

Mi goreng rasa telur asin ini saya nemunya baru di Rimping saja. Harganya 18 baht sebungkusnya (sekitar 8400 rupiah).

Di Chiang Mai ada yang jual telur asin, dan ada Lays rasa telur asin juga. Joe iseng makan mi goreng telur asin pakai telur asin dan Lays rasa telur asin. Abis itu dia bilang pusing hahaha, kayaknya karena semua terlalu asin.

Triple telur asin

Nah hari ini waktu saya ke 7 Eleven, nemu lagi varian baru dari Indomie goreng di Chiang Mai, kali ini rasa Soto. Karena belum di coba, jadi belum bisa kasih komentar, walaupun agak disayangkan kenapa sih yang masuk malah mi goreng semua. Soto itu seharusnya berkuah dong ah. Tadi beli Indomie Mi Goreng rasa Soto 1 bungkusnya 18 baht, kalau Mi Goreng rasa Original 16 baht. Kemungkinan sih berikutnya beli lagi hanya kalau lagi diskon saja hahaha. Di Indonesia berapa ya sekarang harga 1 bungkus Indomie goreng?

Sebenarnya ada banyak sekali mi instan masuk ke Thailand dan dijual di Chiang Mai. Kami juga kadang-kadang iseng mencoba berbagai mi instan lokal ataupun yang dari korea. Sejauh ini anak-anak cuma mau makan Indomie Mi Goreng rasa Original, dan Indomie kuah Kari Ayam (kalau lagi punya). Iya kami memang kasih anak-anak makan mi instan juga, tapi tentunya gak setiap hari ataupun setiap minggu.

Saya tidak tahu kenapa Indomie di Thailand semuanya kategori mi goreng, padahal mi ramen korea ataupun Jepang ada juga mi kuahnya. Semoga berikutnya varian Indomie yang masuk Thailand rasa Kari ayam.

Kdrama: Go Back Couple dan Familiar Wife

Udah lama tidak menulis seputar kdrama, sekali ini langsung bahas 2 drama yang tema nya sama. Genre nya jelas ini ada fantasinya, temanya tentang kesempatan kedua dalam kehidupan rumahtangga karena pernikahan itu gak otomatis happy ending. Tulisan ini akan banyak spoiler di sana sini, tapi saya tidak akan tuliskan terlalu detail.

Saya nonton Go Back Couple dulu baru nonton Familiar Wife. Berdasarkan tahun releasenya juga film Go Back Couple itu Oktober 2017, sedangkan Familiar Wife releasenya September 2018.

Kesamaan dari 2 drama ini adalah:

  • menikah muda setelah berkenalan beberapa waktu
  • digambarkan istri yang tadinya cantik setelah menikah jadi tidak terlihat cantik lagi
  • sudah punya anak dari pernikahannya
  • tidak ada komunikasi yang baik, baik istri dan suami merasa lelah tiap bertemu (suami lelah dengan pekerjaan, istri lelah mengurus anak dan rumah).
  • masing-masing ingin dimengerti tanpa berusaha mengerti atau mendengarkan penjelasan pasangannya
  • sangat struggle dalam urusan finansial untuk kebutuhan keluarga.
  • mereka merasa sudah memilih orang yang salah untuk jadi pasangannya.

Singkatnya, di film ini digambarkan pernikahan pasangan muda dengan anak yang masih kecil-kecil. Buat yang sudah menikah dan punya anak masih kecil dan keuangan keluarga yang kejar setoran buat bayar tagihan, pasti bisa relate dengan emosi yang ada. Gimana masing-masing merasa lelah karena mungkin kaget kehidupan pernikahan tidak seperti di film-film yang bilang setelah menikah mereka akan hidup bahagia selamanya.

Cerita Go Back Couple

Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Confession_Couple

Pasangan di Go Back Couple ini digambarkan seumuran, mereka sudah menikah 14 tahun dan punya 1 anak masih balita. Si istri tidak bekerja dan ya gak sempatlah buat dandan. Suaminya sibuk kerja dan tidak pernah menceritakan permasalahan yang dia hadapi di kantor. Istri tidak tahu apa masalah suami dan suami gengsi buat cerita permasalahan di kantor.

Buat si istri, suami tidak pernah ada ketika dia membutuhkannya, misalnya waktu anak mereka sakit dan masuk rumah sakit, si istri berusaha telpon suami tapi gak diangkat juga. Suami kesal karena istrinya terkesan menuntut saja, padahal dia kerja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Akhirnya ya dalam kemarahan terucaplah kata pisah. Cerita kesempatan ke-2 dimulai ketika mereka melepaskan cincin kawinnya setelah resmi mencatatkan perceraian di kantor catatan sipil.

Cerita Familiar Wife

sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Familiar_Wife

Pasangan di Familiar Wife baru menikah 5 tahun dan sudah punya 2 anak balita. Istrinya digambarkan usianya lebih muda beberapa tahun dari suami. Berbeda dengan pasangan pertama, pasangan ke-2 ini istrinya bekerja juga di sebuah spa. Anak-anaknya diantarkan ke penitipan anak supaya si istri bisa bekerja juga. Ibunya si istri juga ada gejala alzheimer, tapi hal ini tidak diceritakan ke suaminya, padahal mereka tinggal 1 kota. Jadi istrinya bekerja juga, urus anak dan rumah juga. Sementara suaminya ya kerja, tapi tidak ambil bagian dengan urusan rumahtangga dan terutama bagian kalau anak nangis malam-malam ya urusan istri.

Singkat cerita, dengan keajaiban dari drama Korea, mereka kembali ke titik di mana mereka bisa membuat pilihan yang berbeda untuk pasangan hidupnya.

Kesempatan Memilih yang Berbeda

Go Back Couple kembali ke masa di mana mereka masih kuliah. Sebelumnya mereka sudah berumur 38 tahun dan kembali ke masa di mana mereka masih berumur 20 tahun. Mereka seperti kembali mengulang kehidupan mereka tapi bisa membuat pilihan yang berbeda, termasuk bisa saja memilih cinta pertamanya untuk menjadi pasangannya. Bedanya, ketika mereka memilih untuk tidak memilih satu sama lain, karena mereka 1 kampus dan punya teman yang sama, mereka jadi lebih mengenal satu sama lain (mereka punya memori yang di bawa dari umur 38 tahun itu). Tentunya mereka juga jadi sudah lebih dewasa dan tanpa sadar menceritakan apa yang dulu bikin kesal. Misalnya si istri kesal waktu suaminya tidak menghibur dia ketika ibunya meninggal. Padahal suaminya berusaha mendistract si istri biar tidak terlalu sedih. Jadi bedanya, ketika mereka bukan pasangan, mereka malah lebih terbuka untuk mengungkapkan isi hatinya.

Drama Familiar Wife, yang kembali ke masa lalu awalnya dari sudut pandang si suami. Jadi suatu hari setelah dia merasa ‘lelah’ dengan kemarahan istrinya, dia dapat koin ajaib yang bisa membawa dia kembali ke hari pertama di mana dia bertemu dengan istrinya di tahun 2006. Pertemuan pertama ini menentukan kelanjutan pilihannya. Setelah dia memilih untuk menghindari pertemuan dengan istrinya, ceritanya kembali ke masa tahun 2018 dan tentunya si suami ini malah menikah dengan cinta pertamanya (sesuai harapannya waktu dia merasa kesal dengan istrinya). Di saat dia menyadari kalau pilihannya kali ini lebih seperti harapannya, ternyata si istri pertama jadi pegawai baru di kantornya, dan jadilah dia bertemu setiap hari dan tanpa sadar jadi lebih kenal dengan si istri daripada sebelumnya. Di ceritakan sang suami yang membuat pilihan ini memiliki memori utuh dari kehidupan versi sebelumnya sedangkan si istri pertama belum menikah dan tentunya masih menjadi wanita yang menyenangkan karena hidupnya belum terlalu stress kali ya hehehe.

Ceritanya tentu tidak berakhir di situ, lambat laun istri yang disangka ideal ternyata tidak ideal dan terlalu mengatur karena punya uang banyak. Si mantan istri yang sekarang jadi rekan kerja malah terlihat makin manis karena kelakuannya ya seperti masa mereka masih pacaran yang ramah dan ceria. Dari interaksi sebagai rekan kerja, si suami jadi tau beberapa hal baru tentang istrinya. Karena cerita familiar wife ini 16 episode (dibanding Go Back Couple yang 12 episode), akhirnya ada twist baru lagi untuk memberi happy ending tanpa ada cerita perceraian. Tentu saja dengan koin ajaib yang kali mereka sama-sama kembali ke hari pertama pertemuan mereka. Aduh panjang ya ceritanya hehehe. Nonton aja deh sendiri sebelum saya spoiler abis-abisan.

Kesimpulan?

Langsung ke kesimpulan aja gimana? Kalau ditanya film mana yang lebih bagus? saya lebih suka Go Back Couple. Kenapa? karena di Go Back Couple, mereka kembali ke hari setelah mereka mengurus perceraian mereka. Secara status berkas sudah masuk tapi masih bisa dibatalkan. Mereka juga kembali ke anaknya dan sekarang sudah lebih mengenal satu sama lain dan tau kesalahan mereka di mana. Sedangkan di familiar wife, ada 2 kali perubahan jalan cerita, dan perubahannya permanen dan tidak membawa tokohnya kembali ke titik awal. Walaupun akhirnya mereka menikah dan punya 2 anak juga, tapi jadinya ketika mereka menikah yang ke-2 kalinya mereka sudah lebih dewasa secara umur dan pemikiran, dan juga sudah lebih mapan secara finansial karena pengalaman kerja lebih banyak (dan istrinya juga sekarang bukan sekedar kerja di spa, tapi kerja di bank dengan posisi yang malah lebih baik dari suaminya).

Percakapan yang berkesan

Dalam 2 drama ini ada banyak hal yang bisa dipelajari terutama kalau kita ada dalam posisi mereka. Tapi yang paling menarik buat saya misalnya percakapan di Go Back Couple antara bapak dan ibu si suami. Bapak dan ibunya tentunya sudah lebih lama menikah dari mereka, digambarkan masih ada saja kesalahpahaman diantara mereka, tapi ya mereka tidak langsung minta pisah juga. Sekali ketika lagi marah ibuya bilang: “Masa yang kayak gitu aja harus aku bilang lagi sih?” terus bapaknya akan jawab: “Ya iyalah, kalau kau gak bilang, gimana aku bisa tahu, emangnya aku bisa baca isi kepalamu tanpa kau bilang?”. Seringkali, setelah kita menikah atau mengenal orang bertahun-tahun, kita berharap mereka bisa langsung tahu apa isi hati kita tanpa kita perlu menyebutkannya. Padahal, apa sih susahnya mengungkapkan apa isi hati kita daripada tebak-tebak buah manggis? Cerita di Go Back Couple juga ributnya karena masing-masing gengsi, gak mau kasih tau apa kesulitan yang dialami ke pasangannya tapi berharap dimengerti. Lah gimana mau ngerti kalau gak tau masalahnya apa, ya nggak?

Nah kalau dalam drama Familiar Wife, digambarkan setelah kesempatan ke-3, si suami jadi lebih mengerti bagaimana menghadapi istri yang sedang marah dan tidak membuat tambah marah (dan hal ini berlaku juga untuk istri ketika suami marah) . Termasuk bagian ikut turun tangan dan bekerja sama dalam menyelesaikan pekerjaan rumah termasuk urusan anak.

Penutup

Jadi jelas ya kesimpulannya, kalau pernikahan itu gak otomatis hidup bahagia selamanya, tapi kita harus tetap menjaga komunikasi, menceritakan apa yang kita rasakan dan bekerjasama untuk menyelesaikan masalah dalam rumahtangga bersama. Karena ketika kita menikah, hidup kita sudah menjadi bagian dari pasangan kita dan berbagi hidup itu bukan berbagi yang indahnya saja tapi juga berbagi duka.

Tentang MLM (Multi Level Marketing)

Catatan: Saya tidak anti MLM, tapi ini sekedar opini berdasarkan pengalaman kenapa saya tidak tertarik bergabung dengan MLM (multi level marketing).

sumber dari internet

Siapa yang tidak pernah mengalami dihubungi teman yang sudah lama tidak ada kabar atau ditambahkan jadi teman di sosial media hanya karena ada beberapa teman yang sama lalu kemudian ditawari produk MLM?

Sewaktu kuliah, saya pernah ikutan MLM. Waktu itu saya pakai produknya, awalnya ikutan supaya dapat potongan harga saja. Tapi tentunya, upline tidak pernah membiarkan downline tidak aktif untuk mencari bawahan lagi. Terus ya sempat juga saya jalani walau setengah hati. Tapi usaha untuk menawarkan produk, membujuk ikutan gabung dan kemudian harus membeli supaya tutup poin ternyata tidak semudah itu. Walaupun waktu diajak bergabung dengan harga murah dan sejuta keuntungan lainnya, tapi pada akhirnya banyak juga modal ekstra yang perlu dikeluarkan.

Beberapa hal yang membuat saya berhenti ikutan MLM adalah:

  • Ada terlalu banyak seminar yang katanya perlu diikuti, dan seminar ini tentunya tidak gratis. Kita bahkan disarankan membelikan untuk teman kita yang bisa diprospek untuk menjadi anggota juga.
  • Seringkali untuk mengejar mendapat bonus, akhirnya saya belanja benda-benda yang sedang promosi dengan harapan bisa menjualnya lagi kalaupun tidak saya pakai. Tentunya godaan ini karena ada nilai bonus yang dinominalkan sekian rupiah dan angkanya tentu lebih dari modal yang perlu kita tambahkan supaya tutup poin. Tapi kenyataanya barang-barang tersebut akhirnya terus menumpuk dan tidak berhasil saya jual (emang saya kurang pinter kali ya jualannya).
  • banyak produk yang tadinya saya tidak butuh jadi terasa butuh, dibeli mumpung diskon dan demi kejar poin. Akhirnya saya merasa ini sih namanya menguntungkan produsen saja pada akhirnya. Keuntungan yang ada terasa “semu”.
  • Saya tahu ada banyak yang sudah mendapat penghasilan tetap setiap bulan seperti gaji bulanan, tapi menurut saya untuk sampai ke tahap itu tetap saja butuh waktu dan modal yang lumayan. Mengatur “anak buah” juga dan meyakinkan mereka untuk kejar poin dan merekrut teman-teman baru setiap saat.
  • Misalnya untuk dapat penghasilan yang lumayan itu butuh di tingkat 7 saja, kalau setiap tingkat butuh kaki 2 maka dibutuhkan orang sebanyak 2pangkat 7 – 1 = 127 orang. Atau katakanlah sampai level 6 saja dibutuhkan sekitar 63 orang yang aktif berbelanja dan semuanya tutup poin. Bayangkan kalau setiap orang hanya butuh belanja 1 juta rupiah saja, berapa duit terlibat di dalamnya? Yang jelas yang paling diuntungkan itu yang punya usaha MLM tersebut.
  • Teorinya kita hanya perlu mengatur 2 (atau lebih) bawahan langsung kita saja, prakteknya kalau memang mau dapat target, kita harus mengatur seluruh bawahan. Kita harus tetap menyemangati (memaksa) mereka untuk berbelanja.
  • Untuk sampai ke level di atas 5 itu tidak semudah teorinya. Padahal bonus level 5 itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan bulanan kita. Akhirnya dilemanya setiap bulan antara menjual produk dan mencari keuntungan dari jual produk dan membujuk teman supaya bergabung. Pada akhirnya kerja MLM ini bukan “cuma” selingan tapi jadi kehidupan kita yang mana setiap melihat teman yang terpikir adalah menawarkan produk dan mengajak bergabung.
  • Kadang-kadang produk yang dijual di supermarket sebenarnya lebih murah dan lebih cocok untuk saya, tapi demi kejar poin saya bela-belain pake produk MLM nya.
LevelJumlah orang dengan minimal 2 kaki
11
23
37
415
531
663
7127
8255
9511
101023
112047
124095
138191
1416383

Kalau ada yang sudah berhasil ikut MLM sampai di atas level 7 dan bertahan sampai bertahun-tahun, saya ucapkan selamat. Tapi kalau ada yang masih di bawah dan merasakan apa yang saya sebut di atas, pikirkan kembali apakah sudah siap untuk menjadi sales tetap dari produk MLM yang kamu jual. Hanya sedikit yang bisa sampai ke level atas dengan jumlah orang yang terlibat. Apakah semua produk yang kamu beli untuk tutup poin itu memang sudah paling cocok buat kamu, atau sebenarnya ada rasa keterpaksaan buat membelinya.

Saya tidak bilang MLM itu jelek atau tidak akan berhasil. Saya cuma mau bilang, MLM itu sama saja dengan bisnis apapun. Butuh totalitas juga menjalaninya kalau mau berhasil mendapatkan penghasilan yang stabil. Jadi jangan pernah bergabung dengan MLM karena berpikir ini passive income, cuma nawarin produk dapat bonus ini itu. Jualan MLM itu lebih sulit daripada buka warung kopi! Kalau buka warung, pembeli yang datang ke kita. Kalau produk yang kita jual memang barang yang dicari banyak orang, kita gak perlu ngiklan karena sudah ada yang mengiklankan buat kita. Kalau lokasi warung kita strategis seperti di kantin kampus, yakinlah setiap hari pasti ada yang beli, apalagi kalau tidak ada saingannya. Keuntungan berjualan di warung jelas, semakin banyak laku semakin banyak hasilnya, tapi kita harus keluar modal juga buat stok, tapi kalau hari libur mungkin penjualan menurun.

Kalau mau bergabung dengan MLM, pastikan produk yang dijual ini banyak dipakai orang. Jaman sekarang ada banyak sekali jenis MLM yang menjual multivitamin, suplemen diet, kosmetik, alat kecantikan ataupun alat dan produk rumah tangga. Bahkan dulu sepertinya ada yang model jualan pulsa dengan MLM. Kalau sekarang saya butuh membeli sesuatu produk yang dijual oleh MLM, saya memilih untuk membujuk penjualnya memberi diskon daripada gabung jadi anggota, biasanya sih berhasil hehehe.

lebih lanjut tentang MLM…