Belajar Bahasa

Buat kebanyakan orang di Indonesia, dari kecil mereka sudah bisa paling tidak dua bahasa: Bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Sebagai orang Batak Simalungun, saya cuma mengerti sedikit dan gak bisa bilang klaim saya bisa bahasa Simalungun. Bahasa yang digunakan di rumah itu ya bahasa Indonesia.

Bahasa pertama yang saya pelajari selain bahasa Indonesia itu bahasa Inggris. Saya ingat, sejak kelas 1 SMP saya ikut kursus belajar bahasa Inggris. Saya ikut kursus dekat rumah, seminggu 2 kali sekitar 2 jam. Di kelas bahasa Inggris, pelajarannya di mulai dengan percakapan, lalu mulai diberi beban spelling, dictation dan grammar. Saya merasa kemampuan bahasa Inggris saya biasa-biasa saja walaupun waktu masa kuliah saya banyak juga membaca textbook dalam bahasa Inggris.

Waktu tingkat 2 kuliah, saat teman-teman saya beramai-ramai belajar bahasa Perancis, saya memilih kursus bahasa Jerman. Alasannya ya karena bahasa Jerman terdengar lebih gampang dikuping daripada bahasa Perancis. Tapi saya cuma belajar bahasa Jerman 1 term selama 6 bulan, sekarang ini saya sudah lupa dengan bahasa Jerman sama sekali.

Setibanya di Chiang Mai, untuk bisa berkomunikasi dengan orang lokal, mau ga mau saya berbahasa Inggris. Untuk belajar bahasa Thai, saya juga belajar menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa perantara. Sejak semakin sering dipakai, bahasa Inggris saya semakin banyak vocabularynya. Perbendaharaan kata dan pelafalan kata bahasa Inggris saya banyak bertambah dari menonton film serial asing dengan subtitle bahasa Inggris.

Sekarang ini, setelah 11 tahun tinggal di Chiang Mai, kemampuan bahasa Thai saya sudah tergolong lumayan untuk percakapan sehari-hari, tapi saya belum terbiasa dengan kata-kata di koran ataupun di berita TV. Saya juga sudah belajar untuk membaca bahasa Thai, tapi karena belum pernah memaksakan diri untuk membaca banyak hal dalam bahasa Thai, sampai sekarang kemampuan baca bahasa Thai saya tergolong beginner.

Buat saya, belajar bahasa itu hanya akan berhasil kalau ada kebutuhan untuk menggunakannya. Saya ingat, kemampuan bahasa Thai saya juga pernah hampir hilang karena lama ga dipakai. Sejak punya teman orang Thai yang gak bisa berbahasa Inggris sama sekali, akhirnya saya memaksakan diri untuk memakai bahasa Thai saya.

Kalau melihat dari cara belajar anak-anak berbahasa, saya juga bisa menyimpulkan, kemampuan berbahasa itu bisa hilang kalau tidak digunakan. Waktu Jonathan sekolah, dia hampir 100 persen menggunakan bahasa Inggris, kemampuan bahasa Indonesianya minim sekali. Waktu dia di daycare, dia bisa berbahasa Thai juga, tapi kemampuan bahasa Thai-nya itu hilang. Sejak homeschool, kemampuan bahasa Indonesia Jonathan meningkat, karena walaupun pelajarannya menggunakan bahasa Inggris, percakapan sehari-hari kami lebih sering menggunakan bahasa Indonesia. Sejak dia belajar kumon Thai, kemampuan bahasa Thai-nya juga kembali lagi, dia juga mulai bisa membaca teks bahasa Thai.

Cara belajar orang beda-beda, ada yang bisa belajar bahasa cukup dari menonton video saja. Joe belajar bahasa Inggris dari menonton sesame street. Joshua sekarang kemampuan berbahasanya kebanyakan bahasa Inggris, karena Jonathan lebih banyak berbahasa Inggris ke dia. Selain itu, Joshua ini tipe yang banyak belajar dari apa yang dia tonton. Lagu-lagu dan film yang dia tonton kebanyakan bahasa Inggris juga, sekarang kalau ngigau juga pake bahasa Inggris dia hahaa.

Saya tipe belajar dari mendengar. Saya ingat, setiap mau ujian dulu saya merasa ga siap, terus saya tutup buku dan mendengarkan teman-teman yang lagi sibuk menghapalkan. Ketika ujian tiba, saya bisa ingat apa yang teman-teman saya hapalkan hahaha. Waktu pertama belajar bahasa Thai, saya juga lebih suka belajar di kelas daripada belajar privat. Dengan belajar di kelas, saya mendapat kesempatan mendengarkan berulang-ulang kata yang baru dari teman-teman yang sedang ditanya oleh gurunya.

Sekarang ini ada banyak metode belajar bahasa baru. Kita bisa mengikuti kursus di kelas bersama murid-murid lain ataupun memanggil guru privat. Kita juga bisa belajar sendiri dari buku-buku. Bisa juga menciptakan flashcard untuk mengulang-ulang perbendaharaan kata. Cara terakhir yang sedang saya coba menggunakan aplikasi.

Menurut pengalaman belajar bahasa Inggris dan Thai, apapun metode belajarnya yang paling penting untuk bisa mahir berbahasa asing itu adalah menggunakan bahasa itu. Percuma belajar bertahun-tahun kalau ga pernah menggunakan bahasa yang dipelajari. Ada orang yang datang ke Thailand seminggu dan bisa menguasai banyak kata-kata sehari-hari karena kemungkinan dia punya keterampilan menguasai bahasa baru.

Bahasa Thailand merupakan bahasa asing pertama yang saya pelajari tanpa bisa membaca tulisannya. Sekarang ini saya masih tetap belajar membacanya dan sejauh ini masih gagal hahaha. Saya perlu mencari keterpaksaan untuk bisa membaca bahasa Thai. Saya sudah coba menambahkan beberapa teman orang Thai yang selalu bikin status bahasa Thai di FB, tapi saya lebih sering mengklik translate this daripada mencoba membaca apa yang mereka tulis. Saya juga ikut bergabung dengan Line Grup homeschooler orang-orang Thai, bagian ini juga sejauh ini lebih sering saya skip baca hahaha. Saya coba membeli beberapa buku anak-anak berbahasa Thai, hasilnya saya bosan karena ceritanya kurang menarik. Saya mencoba menuliskan kembali apa yang saya baca, tapi karena belum nemu waktu yang tepat untuk melakukannya saya lebih sering lupa melakukannya. Ada yang punya ide bagaimana supaya saya bisa terpaksa menulis dalam bahasa Thai? jangan suruh saya ngeblog dalam bahasa Thai, karena belum sampai sana kemampuan bahasa Thai saya hahahaa.

Belakangan ini, karena ketularan wabah nonton kdrama (ini hal yang saya tahu harusnya ga saya mulai), dan karena Jonathan yang keukeuh mau belajar bahasa Spanish mengggunakan aplikasi Memrise, saya juga jadi iseng mencoba belajar Korea pakai aplikasi Memrise. Sejauh ini sih belum konsisten, tapi ternyata alphabet bahasa Korea jauh lebih mudah daripada bahasa Thai. Kapan-kapan walau mungkin belum benar-benar bisa berbahasa Korea saya akan coba tuliskan mengenai aplikasi Memrise untuk belajar bahasa asing.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.