Hong Kong Trip

Bulan April lalu, Joe iseng–iseng ikutan lomba CTF berhadiah conference gratis di Hong Kong. Kebetulan waktu itu sedang liburan Songkran di Thailand. Ternyata iseng-isengnya Joe berhasil mendapatkan hadiah pertama berupa tiket pesawat, penginapan gratis ke Hong Kong, dan biaya training + conference, plus uang saku yang cukup untuk jalan-jalan sekeluarga di Disneyland (Joe bakal udah posting lebih lengkap soal conferencenya). Karena kami tahun ini ga pulang ke Indonesia, tau-tau terpikir, gimana kalau saya dan anak-anak ikutan juga. Cek harga tiket Air Asia, ternyata ada penerbangan langsung dari Chiang Mai ke Hong Kong (sekitar 2,5 jam) dan tiketnya jauh lebih murah daripada pulang ke Indonesia.

Awalnya agak ragu mau ikutan ke Hong Kong, tapi karena ternyata orang Indonesia ga butuh visa buat masuk ke Hong Kong, jadi semakin tergoda untuk jalan-jalan ke sana. Walau sudah tau beberapa bulan sebelumnya, tapi karena terlalu banyak informasi di internet, saya ga serius baca mengenai tempat-tempat yang menarik untuk dikunjungi. Satu hal yang terpikir adalah adanya Disneyland di Hong Kong, walaupun anak-anak ga terlalu kenal tokoh Disney kami pikir ya anggap aja kami yang mau jalan-jalan ke Disneynya hehehe.

Point normal ke Hong Kong dari Chiang Mai

Bulan lalu, setelah menimbang-nimbang akhirnya kami memutuskan jadi ke Hong Kong termasuk ke Disneyland. Beli tiket kebetulan bisa redeem big point air asia yang selama ini sudah dikumpulkan, biasanya putuh belasan ribu point untuk ke Hong Kong, tapi waktu itu ada promosi khusus, jadi untuk saya dan anak-anak tiketnya semakin murah lagi dari anggaran awal.

Harga Point Diskon

Untuk memaksimalkan pengalaman di Disney, kami memutuskan untuk menginap 1 malam di Disney dan 4 malam di pusat kota yang dekat dengan conference. Ada banyak sekali pilihan yang harus diperhatikan sebelum membeli tiket Disneyland. Setelah membaca berbagai review, kami memilih menginap di Disney’s Hollywood Hotel dan membeli tiket 2 fun day. Harga tiket 2 fun day ini beda sedikit banget dibanding 1 hari, jadi ya sekalian biar puas deh di Disneyland. Nanti cerita soal Disneyland Experience akan saya tuliskan terpisah, karena kalau semua dituliskan di sini akan menjadi tulisan yang sangat panjang.

Training dan conference yang akan dihadiri Joe diadakan hari Kamis dan Jumat (20 dan 21 September 2018), awalnya kami berencana datang dari hari Sabtu sebelumnya, supaya lebih lama di Hong Kong. Rencana berubah karena sejak awal September setiap Senin kami ada kegiatan co-op Homeschool dan saya merasa ga baik kalau demi jalan-jalan kami harus bolos co-op (di co-op saya mengajar kelas juga, kalau bolos berarti saya harus meminta orang lain menggantikan saya mengajar). Ternyata, keputusan kami ini sudah sangat tepat, karena hari Minggu sebelum kami berangkat, Hong Kong dilewati oleh topan Mangkut. Kami berangkat hari Selasa, di mana merupakan hari pertama Disneyland kembali beroperasi setelah tutup dilanda topan badai.

Jonathan sudah menghitung mundur dan tak sabar menanti-nantikan berangkat ke Hong Kong. Dia sempat bertanya-tanya juga soal topan Mangkut waktu kami ceritakan kalau hari Minggu terjadi topan di Hong Kong dan semoga hari Selasa semua sudah buka kembali. Kesempatan juga menjelaskan mengenai kenapa terjadi topan dan bagaimana kerusakan yang bisa terjadi akibat topan. Saya sendiri sempat agak kuatir, tapi ya baca-baca berita semua sudah mulai normal di hari Senin. Jadi kami cukup yakin hari Selasa akan semakin baik-baik saja.

Waktu kami tiba di sana, masih terlihat sisa-sisa pohon tumbang akibat badai. Pegawai hotel masih dengan giat membersihkan dahan pohon yang patah. Dari berita, ada juga beberapa gedung yang mengalami kerusakan, tapi sejauh yang kami lewati semua gedung terlihat baik-baik saja dan tidak ada kerusakan berarti.

Setelah menginap 1 malam di Disneyland, kami pindah hotel ke daerah Tsim Tsa Tsui. Daerah ini merupakan pusat kota dan dekat ke banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi dengan anak-anak. Kami bahkan ga perlu naik kendaraan untuk mengunjungi beberapa museum dan juga terutama untuk Joe ke lokasi conferencenya. Museum yang kami kunjungi diantaranya Space Museum dan Science Museum. Kami juga berkesempatan melihat Symphony of Light dari Central Cultural Hong Kong. Tulisan mengenai wisata seputar Tsim Tsa Tsui juga akan saya tuliskan di posting terpisah.

Hari Sabtu, hari terakhir sebelum pulang ke Chiang Mai, Joe sudah tidak ada acara. Kami bisa bareng-bareng mengunjungi Sky Terrace The Peak yang katanya merupakan titik tertinggi untuk melihat kota Hong Kong. Karena lokasi The Peak ini agak jauh, kami berkesempatan naik MRT dan Peak Tram, kereta tua yang udah beroperasi 130 tahun. Cerita ini juga akan saya tuliskan terpisah.

Kesan soal Hong Kong secara umum kota ini lebih sibuk dan lebih mahal dari Singapore. Positifnya museum untuk pendidikan mengenakan tarif cukup murah bahkan gratis untuk anak-anak di hari tertentu. Kamar mandi di Airport juga serba otomatis (dilengkapi sensor). Hotel tempat kami menginap meminjamkan mobile wifi dengan unlimited data dan cukup cepat. Kecepatan internet di Hong Kong cukup memuaskan dan banyak tersedia titik hotspot gratis. Ada banyak pokestop dan pokemon (haha jauh-jauh ke HongKong tetep aja main pokemon ya).

Saya sempat agak culture shock juga di Hong Kong. Terbiasa dengan kota Chiang Mai yang serba santai, saya berasa ga enak kalau lagi bayar di minimarket ada orang memotong saya karena dia cuma beli 1 item, lalu membayar pakai e-money dan pergi, sementara saya masih menghitung-hitung uang saya (karena belum biasa lembaran mana nominal berapa). Di Hong Kong orang juga harus bayar kalau butuh plastik untuk belanja. Harga 1 kantong plastiknya 50 sen (sekitar 1000 rupiah). Rata-rata sedotan tidak disediakan, di Disneyland sedotan yang digunakan juga dari kertas keras (yang walaupun ramah lingkungan tapi rasanya jadi gak enak kalau terendam air terlalu lama).

Beberapa hal yang bikin Hong Kong menjadi tidak menarik untuk saya pribadi terutama ada banyak sekali orang merokok. Udara Hong Kong terutama di pusat kotanya terasa menyesakkan buat saya. Udara panas dicampur dengan bau asap rokok benar-benar tidak nyaman rasanya. Banyak tempat di Hong Kong sangat memanfaatkan setiap meter persegi tanah untuk menjadi tempat jualan. Restoran di basement itu hal biasa. Pengalaman makan di beberapa restoran di Hong Kong, saya ga menemukan makanan yang enak. Beli makanan di restoran Thai karena berharap makanan yang familiar buat kami, tapi entah kenapa terasa sangat berminyak. Beli noodle ala Hong Kong, rasanya yang terasa hanya asin atau hambar.

Ukuran menu di Hong Kong juga sangat besar. Kami beli 2 menu saja rasanya ga sanggup untuk menghabiskannya. Pernah juga waktu saya pergi bareng anak-anak tanpa Joe, saya pesan 1 menu saja untuk kami bertiga dan semua kenyang. Kagum dengan ukuran porsi orang Hong Kong di depan saya yang menghabiskan 1 porsi sendiri (padahal badannya kecil banget hehehe). Karena kangen kopi, saya juga coba pesan kopi di HongKong, hasilnya mengecewakan haha. Masih lebih enak kopi instan dari sachet daripada kopi seharga 44 HKD.

Anyway, bersyukur karena sekarang sudah kembali lagi ke Chiang Mai. Perjalanan ke Hong Kong bikin makin betah di Chiang Mai. Di sana kami sering disangka orang lokal juga. Tiap ketemu kasir pasti diajak ngomong pake bahasa mandarin, untungnya mereka bisa berbahasa Inggris juga selain mandarin (walaupun beberapa kasir saya gak ngerti dia ngomong apa sampai dia ganti kalimatnya baru saya ngerti).

Kalau ditanya apakah saya masih pengen jalan-jalan ke Hong Kong lagi? jawabannya sudah jelas tidak. Saya ga tahan dengan asap rokok. Kalau ada kesempatan jalan-jalan, saya lebih memilih mencoba melihat negeri lain atau mungkin ke kota-kota di Indonesia yang belum saya kunjungi (dari dulu pengen ke Bromo belum jadi-jadi).

Cerita lengkap perjalanan per hari bisa di lihat di berbagai posting dalam blog ini di kategori hong kong.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.