Liburan ke Pantai Atau ke Gunung?

Kalau dulu, ditanyakan ke saya: mau liburan ke pantai atau ke gunung? dengan cepat saya akan menjawab pantai, tapi pantai danau ya, bukan pantai laut.

Tadi pagi, tiba-tiba saya terpikir lagi dengan pertanyaan ini, dan saya tidak bisa menjawab dengan cepat. Ada begitu banyak pertimbangan kalau ke gunung bagaimana, kalau ke pantai bagaimana. Waktu saya tanya ke Joe, dia juga jawabannya: ada pilihan lain gak? pengennya yang datar aja ga harus ekstrim gunung atau pantai.

Kalau Liburan ke Gunung…

Alam pegunungan itu biasanya sejuk dan hijau. Suasananya juga terasa lebih indah dengan kicauan burung ataupun suara aneka hewan yang hidup di alam yang bisa terdengar sesekali. Semuanya membuat suasana terasa lebih santai untuk beristirahat dan melepas penat. Oh ya, ini bukan cerita naik gunung yang hiking ya, tapi ke daerah pegunungan saja. Seperti misalnya ke Doi Inthanon kalau di Chiang Mai.

Doi Inthanon

Pemandangan dari tempat yang tinggi biasanya juga cukup indah. Bisa melihat daerah di sekitar kaki gunung. Salah satu yang saya ingat dari liburan ke daerah pegunungan juga biasanya sayuran dan buah-buahannya semua enak, karena biasanya banyak petani di sekitar daerah pegunungan.

Terus kenapa gak memilih ke daerah pegunungan kalau memang indah, nyaman, sejuk dan semua alasan di atas?

Untuk sampai ke area pegunungan, biasanya kita harus melalui jalanan tanjakan dan berbelok-belok. Jalan menanjak sih gak masalah ya, karena toh kita bukan jalan kaki dan biasanya naik mobil. Tapi belok-beloknya itu loh kadang-kadang yang agak memabukkan. Belum lagi, kalau jalanannya bukan jalan yang mulus ataupun sempit. Rasanya agak ngeri gak sih kalau lewat jalan kecil dan berliku dengan kanan kiri itu jurang?

Biasanya, sinyal hp di gunung juga kurang bagus, apalagi kalau gunungnya bukan tempat yang sudah ada bts provider yang kita gunakan hehehe. Lah katanya mau liburan, kok mikirin sinyal sih? ya, kan walau liburan kita tetap butuh akses internet buat nonton film santai-santai. Ah kalau mau nonton film di rumah aja sana, gak usah ke gunung! Banyak alasan aja ya hehehe.

Kalau Liburan ke Pantai…

Waktu kecil, setiap liburan kenaikan kelas, saya pasti diajak orangtua saya ke Danau Toba. Sepertinya, karena liburan ke Danau Toba inilah saya selalu kepikiran liburan ke pantai itu menyenangkan. Untuk mencapai lokasi pantainya, tentunya harus melewati gunung dulu, lalu turun lagi. Jadi sama aja dong dengan ke gunung? nggak juga, karena setelah sampai di bawah, kita bisa dapat pemandangan ya pantai, ya gunung. Jadi pemandangannya terasa lebih indah.

Danau Toba tahun 2008

Walaupun dari kecil sampai lulus SMA saya tinggal di Medan, dan Medan itu adalah kota yang ada pelabuhannya, saya tidak pernah ke pantai laut. Pantai yang saya kenal itu ya pantai dari Danau Toba.

Saya senang ke Danau Toba untuk bermain air, berenang di danau, naik sepeda air, speed boat dan pernah belajar naik soluh (sejenis canoe). Selain itu tentunya makan indomie rebus, ikan bakar, mangga kecil-kecil (gak tau namanya apa) dan ya senang aja dengan semilir angin yang berhembus sepanjang hari yang terasa sejuk. Pulang dari Danau Toba biasanya kulit pada gosong dan mengelupas hehehe.

Pertama kali ke pantai laut itu waktu jalan-jalan kelas 2 SMA ke Parang Tritis. Nah, melihat deburan ombak yang keras dan angin yang terasa lengket di kulit, tidak ada keinginan untuk main air sedikitpun. Main pasir aja rasanya ogah. Sejak itu, keinginan untuk bermain ke pantai berkurang.

Sampai sekarang, setelah beberapa kali liburan ke pantai laut seperti Bali, Pattaya, Ancol dan Phuket, perasaan tentang pantai laut tetap sama. Saya hanya senang melihat-lihat saja, tidak ada keinginan berenang atau bermain air. Tidak ada keinginan untuk menghabiskan waktu seharian bermain air.

Pantai di Phuket

Saya mulai agak takut dengan pantai laut sejak banyak bencana tsunami. Tapi ya ketakutan ini gak bikin jadi gak mau ke pantai laut sama sekali sih. Namanya bencana bukan hanya terjadi di laut saja, jadi kalau ada kesempatan berlibur ke pantai laut, ya dinikmati juga dan lupakan takutnya.

Jadinya Pilih ke Mana?

Karena Chiang Mai jauh dari pantai, ya sekarang ini kami cukup senang dengan jalan-jalan sekitar kota Chiang Mai yang waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Kalaupun ada waktu, ya libur ke gunung atau ke pantai sama menyenangkannya untuk melihat pemandangannya, tapi tidak ada perasaan lebih ingin ke salah satunya.

Kalau mau libur ke gunung ataupun ke pantai, yang jelas tidak dilakukan di musim hujan. Musim hujan mendingan kita ke mall aja deh daripada gak bisa enjoy hehehe.

Satu hal yang paling penting juga, kalau mau liburan ke manapun, sekarang ini yang perlu dipertimbangkan adalah anak-anak. Mereka perlu melihat gunung, pantai, danau, lembah, sungai, hutan, tapi ya tentunya diperkenalkan sesuai dengan kesiapan mereka menerimanya.

Untuk sekarang ini, kami belum menanyakan ke anak-anak lebih suka ke gunung atau pantai, kami yang memutuskan untuk membawa berganti-ganti supaya mereka mempunyai pengalaman di berbagai tempat. Karena kalau ditanya, jangan-jangan jawabannya malah: di rumah aja lebih enak hahahaha.

Hari Anak Thailand 2020

Hari ini, 11 Januari 2020, dirayakan sebagai Hari Anak di seluruh Thailand. Perayaan Hari Anak ini selalu diadakan di hari Sabtu minggu ke-2 bulan Januari setiap tahunnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak kegiatan di seluruh mall ataupun tempat wisata. Karena setiap tahunnya (termasuk tahun lalu) kami hampir selalu ke mall, dan mengalami macet di jalan, tahun ini kami mencari tempat yang tidak seramai mall.

Sebenarnya agak dilema untuk berangkat ke hari anak hari ini. Kegiatan di luar sepertinya masih ada polusi, tapi ya kegiatan di mall juga sama saja karena mall tidak ada filternya. Sebelum berangkat, melihat angka AQI nya menengah, ya agak tenang untuk berkegiatan di luar rumah.

masih aman lah ya buat jalan-jalan

Dari berbagai tempat yang biasanya cukup fun buat anak-anak, kami memilih ke Hidden Village Chiang mai. Terakhir ke sana itu tahun lalu bulan Januari. Tapi ternyata harga tiketnya sudah naik dalam setahun. Tempatnya sih semakin ramai dan banyak tambahan dinosaurusya.

Karena hari ini hari Anak, hari ini tiket masuk untuk anak-anak sampai dengan tinggi 130 cm digratiskan. Untuk orang dewasa, yang seharusnya membayar 100 baht diberikan harga khusus 80 baht. Khusus hari anak, harga orang asing disamakan dengan harga lokal. Biasanya harga orang asing lebih mahal dari orang lokal, jadi hari ini kesempatan yang baik mendapat harga tiket masuk lebih murah dari biasanya.

berangkaaaaat

Tadinya kami pikir, tempat ini akan relatif sepi. Ya dibandingkan mall, memang masih lebih sepi, tapi dibandingkan kunjungan ke sana sebelumnya, tempatnya terlihat ramai sekali. Tempat parkirnya juga lumayan ramai. Selain tempat-tempat kegiatan yang berbayar, mereka juga mengadakan panggung dan membagi-bagi hadiah buat anak-anak yang datang.

Mulai dari pintu masuk, sudah terlihat ada keramaian. Kami yang datang ke sana sudah kesiangan (dari rumah jam 12), langsung menuju restoran Barn Steak House buat makan hehehe. Kali ini makan buffet lagi, untungnya harganya tetap sama dengan tahun lalu: dewasa 259 baht, dan anak-anak 129 baht. Untuk minuman harus beli lagi, tapi makanannya bisa pesan berkali-kali.

Yang berbeda dengan tahun lalu adalah: makanannya terasa lebih fresh, mungkin karena kami makannya siang hari dan banyak pengunjung, jadi mereka selalu menambakan yang baru. Sebenarnya ada spaghetti, ayam goreng, salad dan buah juga, tapi tadi saya lupa foto hehehe.

Selesai makan, baru deh mulai bagian jalan-jalannya. Waktu kami tanya Joshua mau main di playground atau lihat dinosaurus? Joshua dengan mantap menjawab: mau lihat dinosaurus. Tapi sampai dalam tempat dinosaurusnya, dia ternyata menuju tempat main bouncy house yang selalu dimainkan kalau ke sana. Tempat itu bayar lagi sih, 20 baht untuk 20 menit per anak, tapi ya cukup fun buat ngabisin energi yang di makan tadi hehe.

Setelah main bouncy house, kami jalan keliling melihat-lihat dinosaurus. Walau sudah berkali-kali melihat dinosaurus, saya belum bisa hapal sebagian besar nama-namanya. Supaya ingat, saya coba foto-foto dan tuliskan lagi namanya di sini.

Dilophosaurus
Carnotaurus
Brachiosaurus

Melihat Maiasaura dan T.Rex, jadi ingat ada salah satu scene di serial The Flash (Season 2, Episode 21), ibunya membacakan buku ke Flash waktu kecil dengan judul Runaway Dinosaur.

The Runaway Dinosaur

Once there was a little dinosaur called a Maiasaura, who lived with his mother.

One day, he told his mother, “I wish I were special like the other dinosaurs. If I were a T. rex, I could chomp with my ferocious teeth!”

Tyrannosaurus rex alias T.rex

“But if you were a T. rex,” said his mother, “how would you hug me with your tiny little arms?”

“I wish I were an Apatosaurus,” said the little dinosaur, “so with my long neck I could see high above the treetops.”

“But if you were an Apatosaurus,” said his mother, “how would you hear me in the treetops when I told you I love you?”

“What makes you so special, little Maiasaura?” said his mother.

“Is it your ferocious teeth or long neck or pointy beak? What makes you special is out of all of the different dinosaurs in the big, wide world, you have the mother who is just right for you and who will always Love you.”

Maiasaura

Buku ini diilhami dari buku The Runaway Bunny

Sebenarnya ada lebih banyak lagi dinosaurus lainnya, tapi sayangnya gak ada Apatosaurus.

ada patung-patung lain selain dinosaurus, yang pasti ini bukan apatosaurus hehe

Karena Joshua sudah mengantuk, kami pulang sekitar jam 4 sore. Tadinya berencana untuk keluar rumah lagi malam harinya, tapi sayangnya Joshua ternyata demam dan batuk-batuk. Mungkin karena tadi udaranya terlalu panas dan belakangan ini dia tidur siangnya kurang teratur.

Keputusan untuk tidak ke mall hari ini sudah cukup tepat. Kami tidak kena macet. Tapi ternyata perkiraan tempatnya agak sepi tidak sepenuhnya benar. Memang hari anak di Thailand sepertinya hari di mana semua anak wajib di bawa keluar rumah, jadi tidak akan ada tempat yang sepi hehehe.

Foresto Sukhothai Guesthouse, Pizza Tao Fuun, Pasar Malam dan Poo Restaurant (part 4)

Hari ini tulisannya tentang hal-hal yang belum diceritakan sebelumnya. Masih seputar jalan-jalan di Sukhothai.

Seperti diceritakan sebelumnya, dari terminal bus kami naik songtew ke hotel. Di Sukhothai saya tidak menemukan taksi meter dan juga tidak ada Grab ataupun taksi online lainnya. Tapi saya perhatikan ada songtew, tuktuk dan ojek.

Sesampainya kami di Sukhothai, hal pertama yang dilakukan adalah membeli tiket untuk kembali ke Chiang Mai. Tiket bus ini tidak bisa dibeli online, dan tidak bisa dibeli dari Chiang Mai. Sempat agak deg-deg an juga, kalau tidak dapat tiket kembali ke Chiang Mai, bisa-bisa kami malam tahun baru di Sukhothai hehehe.

Selama kami menunggu urusan tiket Bus Sukhothai-Chiang Mai beres, ada seorang ibu-ibu yang menghampiri kami dan bertanya kami hendak ke mana. Ternyata ibu-ibu ini menawarkan jasa songtewnya. Setelah mempertimbangkan antara tuktuk atau songtew, akhirnya kami memilih naik songtew dengan biaya 200 baht untuk rombongan kami.

Naik songtew dari terminal bus ke hotel setelah perjalanan 7 jam dari Chiang mai

Setelah kami tiba di tujuan, ibu itu memberikan nomor teleponnya untuk dihubungi seandainya kami membutuhkan jasa songtew keliling kota ataupun ke tujuan tertentu seperti halnya ke old city.

Foresto Sukhothai Guesthouse

Penginapan Foresto Sukhothai ini letaknya di bagian new city Sukhothai. Lokasinya cukup strategis dan dekat dengan minimarket, pasar malam Sabtu dan beberapa restoran yang ramai dikunjungi baik penduduk lokal maupun turis seperti kami.

Tempat ini dikelola oleh keluarga. Orang yang berhadapan dengan tamu bisa berbahasa Inggris dan cepat memberi respon sejak awal pemesanan hotel. Jadi ceritanya, awalnya hotel ini mau kami booking melalui Agoda, tapi untuk tanggal yang kami mau sudah penuh. Teman saya berinisiatif menelpon langsung ke hotelnya dan ternyata kami masih dapat kamar di sana dengan catatan 1 malam di family room (dengan 2 kamar tidur dan 2 kamar mandi), dan 2 malam berikutnya di kamar terpisah, yang masing-masing ada ekstra bed nya untuk anak-anak.

Harganya? untuk 3 malam, masing-masing keluarga mengeluarkan sekitar 4750 Baht. Mengingat kami bepergian di akhir tahun dan biasanya hotel-hotel pada penuh, harga tempat kami menginap ini sangat masuk akal. Harga tersebut sudah termasuk mendapatkan sarapan pagi yang rasanya tidak kalah dengan sarapan di hotel berbintang dan sudah termasuk kopi dan juice.

Foresto Sukhothai Guesthouse di malam hari

Sesuai namanya, konsep dari penginapan ini memberi kesan kita sedang berada di hutan dengan banyaknya pohon di sekitar kamar-kamar. Suasananya di malam hari cukup tenang dan walaupun cukup dekat dengan berbagai tempat keramaian, tapi tidak ada suara-suara keras yang bisa mengganggu tidur kita. Tempat tidurnya juga cukup nyaman dan kamarnya cukup bersih. Fasilitas lain yang diberikan seperti handuk, termos air panas, sampo dan sabun.

Di bagian depan hotel ini ada kolam ikan yang menarik perhatian anak-anak. Di bagian dalamnya ada kolam renang kecil, yang di waktu malam lampunya berganti-ganti warna.

Kami cukup senang dengan pelayanan yang ada selama 3 malam menginap di Foresto Sukhothai. Bahkan di saat kami kesulitan mencari penyewaan mobil untuk ke Si Satchanalai, penginapan membantu kami mencarikan mobil sewa yang supirnya juga tak kalah ramah dengan orang dari penginapan.

Pizza Tao Fuun

Jauh-jauh ke Sukhothai, kok makannya pizza? Eh tapi jangan salah, pizza ini cukup terkenal buat orang lokal. Pizzanya di masak dalam oven yang terbuat dari batu. Namanya sebenarnya Pizza House tapi lebih dikenal dengan nama Pizza Tao Fuun. Tao dalam bahasa Thai itu artinya kira-kira kompor dan Fuun itu artinya tanah, jadi Tao Fuun ini maksudnya ovennya dari tanah/batu bata.

Pizza Tao Fuun

Selain Pizza, ada banyak makanan lain seperti steak dan pasta di sana. Kami yang sudah kelaparan setelah perjalanan 7 jam dari Chiang Mai, langsung memesan beberapa pizza. Harganya cukup masuk akal dan tidak jauh berbeda dengan harga di Chiang Mai.

Wajah-wajah bahagia menantikan pizza dan menyantapnya bisa dilihat di foto ya hehehe.

Pasar Malam di Mueang Sukhothai Park

Setelah kenyang makan pizza, sebenarnya ada keinginan untuk langsung tidur saja ke penginapan. Tapi karena ada pasar malam yang hanya ada di hari Sabtu, kok ya sayang kalau tidak melihatnya. Padahal udah ga ada yang perlu dibeli dan perut sudah kenyang hehehe.

Jadilah kami membakar kalori dari makanan tadi berjalan sepanjang pasar malam yang lokasinya di Taman Kota Sukhothai. Seperti halnya di Chiang Mai, pasar malam ini paling depannya menjual berbagai makanan dan minuman. Setelah agak ke belakang, barulah ada jualan mainan, baju-baju, dan berbagai hal lainnya. Pasar malam di Chiang Mai lebih besar dari pasar malam di Sukhothai, tapi ya tetap menarik juga untuk melihatnya. Pasar malam di Sukhothai ini sekitar jam 8 malam sudah mulai berkemas-kemas untuk pulang, kalau di Chiang Mai, pasar malam bisa sampai jam 10 malam.

Poo Restaurant

Nah kalau restoran ini kami kunjungi di suatu siang sebelum ke Sukhothai Historical Park. Lokasinya cukup dekat dengan penginapan dan kami bisa berjalan kaki ke sana. Jangan heran dengan namanya, nama Poo Restaurant di sini artinya Crab/Kepiting, karena bahasa Thai dari Kepiting itu kira-kira dibacanya puu atau dalam bahasa Inggris dituliskan Poo. Restoran ini termasuk dalam daftar restoran yang disarankan oleh Trip Advisor.

Awalnya saya pikir, mereka punya spesialisasi makanan dengan kepiting, tapi ternyata hanya ada somtam kepiting dan tentu saja karena penasaran teman saya memesannya. Tapi karena kepitingnya mentah, saya tidak mencobanya.

Seperti halnya restoran Thai, menu makanannya ya makanan Thai. Rasanya cukup oke dan porsinya juga cukup besar sesuai dengan harganya. Tapi waktu kami pesan telur dadar, ternyata telur dadarnya dibikin seperti telur gulung dan berbeda dengan telur dadar ala Thai.

Di restoran ini makanannya juga selalu dihias dengan bunga anggrek, tentunya anggreknya tidak kami makan. Harusnya mereka ganti nama jadi Orchid Restaurant ya hehehehe.

Food Panda

Walau tidak ada di judul tulisan ini, rasanya saya perlu menuliskan ini juga. Di Sukhothai, belum ada layanan grab food. Ada satu malam di mana kami sudah malas untuk keluar lagi membeli makanan, penginapan kami restorannya tutup di sore hari. Untungnya ada layanan Food Panda dan kami memesan dari food panda ke penginapan. Untuk menyantapnya, kami bisa meminjam piring dan sendok dan duduk di restoran penginapan. Orang penginapannya baik banget emang.

Cerita jalan-jalan akhir tahun di Sukhothai sepertinya sudah saya tuliskan semua. Rasanya masih ingin ke sana lagi kalau ada kesempatan. Orang-orang di Sukhothai cukup ramah dan siap membantu. Highlight dari perjalanan kami tentunya bersepeda bersama di historical park. Senang rasanya bisa jalan-jalan sambil olahraga santai.

Buat yang tertarik liburan ke Thailand, dan sudah bosan ke Bangkok, Sukhothai bisa jadi pilihan untuk liburan selain Chiang Mai.

Liburan Akhir Tahun 2019: Si Satchanalai, Sukothai Airport dan Sukothai Noodle (Part 3)

Sebagian cerita di Si Satchanalai Historical Park bisa dibaca di posting sebelumnya.

Hari ke-3 di Sukothai, kami menyewa Mini Van untuk berjalan-jalan ke Si Satchanalai dan eksplorasi Sukothai sedikit. Biaya sewa Van dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore (walaupun akhirnya kami pulang sekitar jam 5) termasuk supir dan bahan bakar 2500 baht. Sebenarnya kalau kami berangkat 10 orang juga masih muat tuh minivan nya hehehe.

Kami berangkat jam 9 lewat sedikit dan mampir ke mini market dulu. Perjalanan sekitar 1 jam dan kami sampai di Si Satchanalai sekitar jam 10-an. Awalnya kami berpikir untuk naik shuttle saja, karena rasanya badan masih pegel hasil bersepeda hari sebelumnnya. Maklum saja, biasanya gak pernah olahraga, tau-tau sepedaan beberapa jam, pasti dong efeknya lumayan. Informasi dari supir bilang, di dalam tidak ada shuttle, jadi pilihannya ya jalan kaki atau naik sepeda. Haduh dilema sekali ya. Tentu saja kami milih naik sepeda daripada jalan kaki.

Berangkat naik van

Si Satchanalai Historical Park

Area Si Satchanalai Historical Park ini luas juga seperti Sukhothai Historical Park. Reruntuhan kuil yang ingin dikunjungi juga tersebar dan bukan terletak dekat dengan tembok kotanya. Berdasarkan pengalaman hari sebelumnnya, di dalam tembok kota agak sulit mencari toilet, jadi ketika sampai dan melihat ada jejeran toilet yang cukup bersih, kami memutuskan untuk ke toilet dulu sebelum sewa sepeda.

Toilet pit stop sebelum masuk ke park

Kalau hari sebelumnya ada beberapa toko yang menyewakan sepeda, di tempat ini hanya ada 1 toko besar dan punya koleksi sepeda cukup banyak. Sekilas rasanya pengunjung tempat ini lebih sedikit dibandingkan Sukhothai Historical Park. Jalanan di dalamnya untuk bersepeda juga agak lebih kecil tapi ya cukup bagus juga. Areanya lebih banyak pepohonan, tapi terasa gersang karena daun-daunnya kering dan berguguran. Kalau kata teman kami yang pernah datang di musim hujan, suasananya lebih terasa hijau di musim hujan karena tentunya daun-daunnya terlihat hijau dan segar.

Sewa sepeda seperti hari sebelumnya

Ini temple yang pertama kami kunjungi. Jadi waktu masuk ke area dalam, kami harus memilih ke kanan atau ke kiri dengan petunjuk arah 1300+ dan ke kanan 800+. Entah kenapa mikirnya itu tahun temple dibangun, padahal setelah kami jalani baru ngerti kalau itu maksudnya jaraknya sebelum sampai ke temple tujuan. Jadi kami pilih ke kiri karena ingin melihat temple yang lebih modern. Dan ketika kami menyadari kesalahan kami dalam mengerti apa maksud angka tersebut, kami cuma bisa menertawakan diri sendiri. Inilah akibat jalan-jalan tanpa membaca terlebih dahulu.

walau keringetan harus tetep gaya

Seperti halnya temple sebelumnya, walaupun ini berupa reruntuhan, ada saja orang yang membawa bunga dan sembahyang di sana.

Beberapa orang masih sembahyang di sini
areanya luas dan kering

Setelah agak lama menghabiskan waktu di temple pertama, kami turun dan menuju temple berikutnya. Temple yang ini bentuknya masih agak lebih utuh dibandingkan yang sebelumnnya. Areanya juga cukup luas dan terbuka.

dari jauh
dari dekat
seberangnya
zoom in

Karena udara sangat panas di siang hari, dan area yang sangat luas, kami hanya mengunjungi 3 temple besar ini saja. Persediaan air minum yang kami bawa juga mulai habis, jadi kami memutuskan untuk keluar dan istirahat makan siang. Di area dekat parkiran, ada banyak pilihan makanan dan minuman. Ada beberapa toko juga menjual cendera mata. Tapi yang saya ingat, tidak ada orang yang menawarkan jualan seperti di kawasan candi Borobodur beberapa tahun yang lalu.

Sukothai Airport

Karena masih ada waktu, selesai makan kami memutuskan untuk melihat museum di kawasan Sukhothai airport. Kabarnya di kawasan ini ada zoo juga, tapi saat kami ke sana zoo nya sedang tutup. Ada beberapa bangunan yang unik dan bisa untuk foto-foto. Tapi kami tidak berlama-lama di sana karena Joshua tidur dan mataharinya sangat panas. Saya hanya sempat mengambil sedikit foto.

Sukothai Airport ada banyak bangunan unik begini

Sukhothai Noodle

Terakhir sebelum pulang ke hotel, kami mampir untuk mencicipi sukhothai noodle yang terkenal. Rasanya sekilas mirip mi tomyam, tapi ada bedanya. Sayuran yang dipakai dalam noodlenya juga berbeda dengan noodle tomyam. Selain noodle, mereka juga menjual minuman seperti cincau dan es cendol, rasanya nikmat sekali setelah berpanas-panasan main sepeda dari pagi.

es cincau
mi sukothai
dekorasinya antik
es cendol kurang gula jawa

Tempatnya unik, sepertinya mereka sengaja mendekor nuansa masa lalu. Banyak barang antik dan boneka-boneka, selain tentunya ruangannya sudah ber-AC. Harga noodlenya juga masih standar, 1 porsinya sekitar 40 baht, sedangkan minuman es nya 1 porsinya 25 baht. Salah satu hal yang saya kagum dengan Thailand, walaupun tempat itu sudah terkenal dan di tempat wisata, harganya ya tetap harga standar dan bukan harga turis.

banyak mainan
ruangannya antik
keliatan ga cabenya

Jalan-jalan part 3 ini merupakan part terakhir dari cerita jalan-jalannya. Karena keesokan harinya kami pulang jam 9 pagi dari Sukhothai dan tiba di Chiang Mai jam 4 sore. Iya, kami naik bis lagi pulangnya. Kalau belum bosan baca cerita tentang Sukhothai, berikutnya akan saya tulis terpisah tentang penginapan dan beberapa tempat makan lain yang kami kunjungi selama di sana. Sekalian buat catatan biar saya ingat kalau mau jalan-jalan ke sana lagi.

Liburan Akhir Tahun 2019 ke Sukothai Historical Park (Part 2)

Hari ini saya mau cerita soal Sukothai Historical Park. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari pihak hotel, akan ada acara khusus untuk menjelang malam tahun baru. Park yang biasanya tutup jam 7 sore itu akan dibuka sampai tengah malam. Awalnya kami berencana mengeksplor Sukothai Historical Park ini sejak pagi, tapi karena mendengar kabar tentang acara sampai malam, kami merubah rencana untuk berangkat sore hari saja sampai agak malam.

Jadi, ngapain aja pagi harinya sebelum berangkat ke tujuan utama? Namanya juga liburan, kami bangun siang dan sarapan di hotel. Selesai sarapan, kembali ke kamar dan mandi-mandi. Eh, tau-tau udah jam makan siang hahaha. Ini namanya liburan makan tidur.

Makan siang dekat hotel

Kami makan siang di sebuah restoran dekat dari hotel. Selesai makan, kami pulang ke hotel dan tidur siang, sementara teman kami keluarga 1 nya pergi ke Sangkhalok Museum. Isi museum itu berupa kerajinan tembikar dari jaman kerajaan Sukothai. Display yang ada sarat dengan muatan sejarah. Kami tidak ikut ke museumnya dengan pertimbangan: kalau Joshua tidak tidur siang, nanti bisa rewel waktu jalan-jalan sore harinya. Museumnya tidak jauh dari hotel, teman kami berangkat ke sana dengan naik tuktuk.

naik songtew ke old city Sukothai

Sekitar jam 4 sore, kami pun berangkat ke Sukothai Historical Park. Kami naik songtew dari hotel ke old city dan membayar 300 baht sekali jalan. Songtewnya agak lebih terbuka dibandingkan dengan songtew di Chiang mai. Jalannya juga lebih ngebut dibandingkan dengan songtew yang kami tumpangi dari terminal bus ke hotel kemarinnya. Joshua agak takut dengan suara mesin songtewnya, padahal kecepatannya ya masih di bawah 80 km/jam.

Kami cukup beruntung karena sejak tanggal 28 Desember 2019, tiket masuk untuk historical park di Thailand digratiskan. Sepertinya ini dilakukan pemerintah untuk mendukung masyarakat buat berjalan-jalan. Jadi kami tidak harus membayar tiket masuknya. Kami hanya perlu membayar sewa sepeda (30 baht/sepeda) dan tiket untuk sepeda masuk (10 baht)

Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk melihat reruntuhan temple yang tersebar dalam area taman sejarah Sukothai ini. Kita bisa berjalan kaki, naik shuttle, sewa golfcart, atau menyewa sepeda. Kebanyakan orang memilih menyewa sepeda. Ada beraneka jenis sepeda tersedia, mulai dari sepeda kecil dengan roda bantu, sepeda tandem, sepeda dengan boncengan anak di depan, sepeda dengan boncengan anak di belakang, sepeda anak tanpa roda bantu dan sepeda dewasa dengan beberapa ukuran ketinggian. Ada beberapa tempat penyewaan sepeda juga, tapi semua harganya sama. Penyewaan sepeda ini akan tutup jam 7 malam, jadi sudah pasti tidak bisa menyewa sepeda sampai tengah malam (eh tapi kami juga tidak rencana sampai tengah malam sih).

Toko penyewaan sepeda ini letaknya di seberang jalan dari pintu masuk ke historical park. Tapi tidak usah khawatir, karena biasanya akan ada yang bantu untuk menyeberangkan. Totalnya kami menyewa 6 sepeda karena Joshua belum mau belajar naik sepeda sama sekali, untungnya Joshua mau duduk di boncengan Joe dengan tenang walau sempat hampir jatuh karena dia sering berusaha berdiri dan sepedanya hampir terangkat roda depannya (Joshua lumayan berat sih, hampir 27 kg).

Reruntuhan temple yang akan dikunjungi ini dikelilingi oleh tembok kota berbentuk persegipanjang. Panjangnya dari barat ke timur sekitar 2 Km dan dari utara ke selatan sekitar 1,6 Km. Menurut wikipedia, awalnya ada 193 reruntuhan dalam area seluas 70km persegi. Tapi yang ada di dalam tembok kota yang tersisa adalah bekas bangunan istana dan 26 kuil. Kuil terbesar yang tersisa adalah Wat Mahathat.

Selanjutnya saya akan bercerita melalui foto-foto saja ya.

Sekitar jam 7 malam, karena harus mengembalikan sepeda, kami memutuskan untuk pulang (selain udah mulai pegel duduk di sepeda hehehe). Sampai hotel, eh Joshua ngotot minta berenang sebelum mandi dan makan. Akhirnya Joe menyerah dan menemani anak-anak main air sebentar. Hasilnya memang makan malam jadi lahap dan tidur juga cepat hehehe.

ada spiderman dan avenger masuk kolam hehehe

Hari berikutnya, kami berencana pergi ke Si Satchanalai historical park sejak pagi. Kami sudah menyewa mobil dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Ceritanya dan foto-fotonya dilanjutkan di posting berikutnya saja ya.

Liburan Akhir Tahun 2019 ke Sukothai (Part 1)

Sebelum lupa dengan berbagai fakta selama liburan akhir tahun kemarin, ada baiknya saya memulai menceritakan perjalanan Akhir tahun 2019 kemarin. Kami berangkat hari Sabtu tanggal 28 Desember 2019 dan kembali ke Chiang Mai tanggal 31 Desember 2019. Kenapa gak sekalian malam tahun baru di Sukothai? Karena tanggal 2 Januari 2020, Joe sudah masuk kerja lagi. Lagipula, kami bukan tipe yang keluar malam tahun baru untuk melihat keramaian count down.

Di mana Sukothai itu?

Sukothai itu letaknya sekitar 300 Km dari Chiang Mai. Sukothai masih merupakan area utara dari Thailand, tapi lebih dekat ke arah tengah Thailand. Bisa dibilang Sukothai ini ada di antara Chiang Mai dan Bangkok. Biasanya, liburan akhir tahun banyak orang berlibur ke arah utara Thailand termasuk Chiang Mai karena udaranya dingin, kami sengaja melawan arah supaya menghindari tempat yang terlalu padat.

Rencana liburan ke Sukothai ini sebenarnya bisa dibilang agak mendadak. Walaupun sudah lama tinggal di Chiang Mai, kami termasuk jarang traveling dalam Thailand karena jatah libur Joe biasanya kami pakai untuk pulang ke Indonesia. Kebetulan akhir tahun 2018 dan tahun baru 2019 kami sudah pulang agak lama ke Indonesia, dan akhir taun 2019 pekerjaan di kantor Joe juga sedang super sibuk, jadi kami memang tidak ada rencana untuk pulang ke Indonesia. Tapi karena di Thailand ada libur akhir tahun sekitar 5 hari (dari hari Sabtu sampai hari Rabu), maka tidak ada salahnya ambil kesempatan liburan.

Naik apa Chiang Mai – Sukothai?

Liburan akhir tahun ini bukan cuma kami saja, kami berangkat dengan salah satu keluarga Indonesia yang juga sudah lama di Chiang Mai (dan 5 tahun yang lalu, waktu Joshua belum lahir, kami juga liburan akhir tahun bareng). Berhubung mereka sudah pernah ke Sukothai sebelumnya, urusan perencanaan diserahkan ke mereka (kali ini saya gak usah sibuk browsing cari ini itu hehehe).

Awalnya, kami berencana menyewa mobil dengan 7 tempat duduk dan gantian menyetir mobil. Perjalanan ke Sukothai kalau ditempuh dengan mobil itu sekitar 4,5 – 5 jam. Jalan lintas antar provinsinya cukup bagus, dan hanya sedikit area yang banyak belokannya. Tapi, setelah mempertimbangkan supaya semua bisa menikmati liburan tanpa ada perasaan lelah menyetir, kami putuskan naik bus saja. Naik bus dari Chiang Mai ke Sukothai biayanya cukup murah, dewasa membayar 290 baht, anak-anak 210 baht (jadi kami sekeluarga membayar 1000 baht).

Untuk perbandingan, kalau kami menyewa mobil, biasanya biaya sewa mobil 1 hari saja belum termasuk bahan bakar sekitar 2000 Baht – 2500 Baht. Kalau sewa beberapa hari, tentu saja totalnya jadi lebih mahal. Lagipula, tujuan yang ingin dikunjungi di Sukothai sudah jelas, dan bisa dilakukan dengan naik songtew ataupun tuktuk. Untuk tujuan yang agak jauh dari Sukothai, kami menyewa mobil 1 hari saja di sana.

Jangan bandingkan perjalanan menggunakan mobil pribadi dengan menggunakan Bus antar kota. Kalau soal nyamannya dan cepatnya, pastilah naik mobil pribadi akan lebih nyaman dan cepat. Tapi kalau nyetir sendiri artinya ada kemungkinan lelah kalau-kalau jalanan macet. Perjalanan dengan Bus antar kota ini banyak berhentinya karena ada beberapa penumpang yang naik dan turun di beberapa kota di antara Chiang Mai dan Sukothai sehingga waktu tempuhnya jadi lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Perjalanan Chiang Mai – Sukothai

Total perjalanan dari Chiang mai ke Sukothai dengan naik bus sekitar 7 jam. Bus berhenti di Lamphun, Lampang, dan Tak sebelum sampai ke Sukothai. Sukothai juga ternyata bukan titik berhenti terakhir dari Bus yang kami tumpangi. Setelah kami turun, bus masih melaju lagi menuju Phitsanulok dan berhenti terakhir di Khon Kaen. Mungkin kapan-kapan, bisa direncanakan untuk mengunjungi kota-kota lain tersebut.

Oh ya, catatan tambahan kalau mau naik bus Chiang Mai – Sukothai, sebaiknya ditanyakan apakah ada kamar mandi di dalam karena perjalanan cukup lama dan repot kalau tidak ada kamar mandi di dalam. Apakah disediakan makanan (tergantung operatornya ada yang berhenti makan siang, dan ada yang hanya memberikan snack saja. Jangan lupa untuk persiapkan bawa jaket karena AC nya lumayan dingin. Kalau membawa anak kecil, ada baiknya siapkan makanan kecil/makanan yang memang anak itu suka. Karena kalaupun ada berhenti untuk makan, ada kemungkinan makanannya tidak cocok untuk anak-anak.

Kami bersyukur sepanjang jalan, anak-anak tidak ada yang mabuk di jalan, ada sedikit perjalanan dari Lamphun menuju Lampang yang jalannya cukup banyak belokannya dan membuat agak pusing, tapi tidak ada kejadian mabuk darat hehehe.

Ada apa di Sukothai?

Ada 2 tujuan utama untuk dilihat di perjalanan kami ke Sukothai, yaitu: Sukothai Historical Park dan Si Satchanalai Historical Park. Kedua tempat ini sama-sama berisi reruntuhan temple yang dibangun dari jaman kerajaan Sukothai yang dikelola oleh pemerintah Thailand dengan bantuan UNESCO dan disahkan sebagai World Heritage Site. Sesuai dengan namanya, perjalanan kami ke Sukothai ini sebenarnya juga dalam rangka mengenalkan sejarah Thailand ke Jonathan (sambil kami juga belajar lagi hehehe).

Di mana menginap di Sukothai?

Kota Sukothai ada sebutan old city (kota tua) dan new city (kota baru) seperti halnya di Chiang Mai. Kota tua nya merupakan kota yang terletak dekat dengan tujuan wisata. Ada banyak penginapan di sana, tapi biasanya untuk mencari makanan agak lebih terbatas pilihannya. Kami memilih untuk menginap di new city dengan alasan kemudahan mencari makan malam dan juga mini market kalau dibutuhkan membeli ini dan itu. Selain itu, di new city ada pasar malam yang hanya ada di hari Sabtu. Pasar malam itu juga sempat kami kunjungi karena lokasinya sangat dekat dengan tempat kami menginap.

Jarak antara old city dan new city tidak jauh, cuma sekitar 12 km. Untuk mengunjungi kota tua, ada banyak pilihan mulai dari songtew, tuktuk, ataupun sewa songtew. Oh ya, dari terminal bus ke penginapan, kami menyewa songtew dengan membayar 200 baht. Jarak dari terminal bus ke penginapan di new city tidak lebih dari 10 menit. Dari penginapan ke old city kami naik songtew dan membayar 300 baht 1 kali jalan. Jadi pulang pergi sekitar 600 baht. Sedangkan untuk perjalanan ke Si Satchanalai yang berjarak sekitar 60 km dari Sukothai, kami menyewa mobil dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore dengan biaya 2500 baht (termasuk supir dan bahan bakar).

Cerita lengkapnya mengenai kunjungan kami ke reruntuhan temple yang ada akan saya lanjutkan di bagian berikutnya ya.

Loy Kratong Chiang Mai 2019

Tahun ini, Loy Kratong jatuh tanggal 9 – 12 November. Acara menghanyutkan kratong di sungai area dekat rumah diadakan tanggal 11 dan 12 saja. Tahun-tahun sebelumnya, biasanya yang pergi ke sungai itu Joe dengan Jonathan saja. Tapi tahun ini, gantian saya dan Jonathan yang pergi. Joe di rumah dengan Joshua. Kami tidak membawa Joshua karena biasanya Joshua tidak suka dengan tempat berbau asap dan bunyi petasan yang mengagetkan.

Tahun ini, di area dekat rumah ada larangan menerbangkan lentera khom loy. Secara umum di Chiang Mai dibatasi area yang diijinkan menerbangkan khom loi. Beberapa group juga menghimbau lebih baik tidak menerbangkan khom loi maupun menyalakan petasan dan kembang api supaya tidak menambah polusi udara. Oh ya, biasanya bulan November, udara masih bersih, akan tetapi tahun ini entah kenapa udara nilai aqi udara sudah mulai mengindikasikan udara yang tidak sehat, bahkan sebelum Loy Kratong dimulai.

Awalnya rencananya mau menghanyutkan hasil karya Joshua, tapi eh ternyata kratongnya langsung nyungsep. Jadiya beli 1 lagi seharga 45 baht yang terbuat dari ice cream cone dan dibentuk seperti unicorn. Harga kratong ini bervariasi, ada yang jual 35 baht atau beli 3 seharga 100 baht, ada juga yang jual 50 baht berupa kratong bunga yang agak besar. Tadi karena saya gak berniat lama-lama di sana, saya beli dari tempat yang dekat dengan sungainya saja.

Setelah menghanyutkan kratongnya, eh Jonathan ketemu anak tetangga yang juga teman di tempat Taekwondo nya. Jadilah tadi bermain-main sebentar, termasuk memperhatikan ada ikan kecil di dekat tempat orang-orang menghanyutkan kratong. Biasanya, platform untuk menghanyutkan kratong di buat agak lebih tinggi dari air sungai. Tahun ini, platform untuk menghanyutkannya sedikit lebih rendah dari air sungai. Jadi kaki kita pasti basah kalau mau menghanyutkan kratongnya.

Kadang-kadang saya kagum dengan cara kerja pemerintah setempat dalam mempersiapkan festival seperti ini. Mereka bisa mengatur debit air sungai supaya agak tinggi dari biasanya, sehingga mempermudah untuk menghanyutkan kratong. Setelah festival selesai, mereka langsung bekerja cepat untuk membersihkan sampah kratongnya dari sungai dan air sungainya kembali lagi seperti biasa (tidak terlalu tinggi).

larangan menerbangkan khom loy

Saya bersyukur di daerah sini tidak diijinkan menerbangkan khom loy. Biasanya setiap tahun, ada lebih dari 3 sampah khomloy jatuh di halaman atau atap rumah. Tapi tahun ini, penduduk setempat cukup taat peraturan dan tidak menerbangkan khom loy. Saya tidak pernah menerbangkan khom loy, karena saya takut khom loy yang saya terbangkan membahayakan rumah atau orang lain.

Sebelum pulang, saya perhatikan selain berjualan kratong, ada beberapa penjual makanan dan minuman dadakan juga di sisi lain jalan. Dibandingkan tahun sebelumnya, rasanya lalu lintas cukup teratur dan tidak terlalu macet. Mungkin karena kemarin sebagian besar orang sudah menghanyutkan kratongnya, jadi hari ini tidak terlalu ramai.

Satu hal yang saya juga kagum dari acara seperti ini adalah kreativitas orang-orang dalam membuat kratong. Jadi kalau dulunya kratong itu terbuat dari pelepah pisang, daun pisang dan hiasan bunga. Sekarang ini orang-orang membuat kratong dari makanan seperti cone ice cream, roti tawar ataupun roti yang diberi warna-warni, dan ada juga yang dari kerupuk. Kemarin saya lihat di timeline FB saya, ada teman yang bikin kratong dari batu es dan dihias dengan makanan roti-roti. Jadi mungkin niatnya supaya tidak menjadi sampah di sungai ya.

Sambil jalan pulang, kami melihat-lihat ada apa lagi yang di jual. Ternyata ada yang jual ikan kecil juga untuk dilepaskan di sungai. Ikan sebungkus (beberapa ekor) seharga 35 baht, atau kalau mau beli 3 seharga 100 baht. Kata Jonathan, tahun depan dia mau melepaskan ikan-ikan supaya ga nyampah di sungai. Saya tulis di sini dan semoga ingat niat ini tahun depan. Cerita tahun lalu juga ada sedikit di tuliskan di sini.