Catatan Jalan-jalan di Long Weekend

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan tentang staycation pertama kami. Tanpa disadari, tahun lalu, di akhir pekan yang sama kami juga berlibur di dalam negeri Thailand. Bedanya, tahun lalu kami pergi ke Phuket dan menginap beberapa malam. Kemarin, karena tujuannya masih dekat dari rumah, kami sengaja menginap 1 malam, bersantai di penginapan dan sebelum pulang ke rumah barulah berjalan-jalan ke tempat wisata di sekitar tempat menginap.

Sarapan, telat dikit gpplah, namanya liburan

Setelah lelah berenang di hari sebelumnya, kami tidur awal dan akibatnya anak-anak bangun kepagian! Jam 6 pagi mereka sudah bangun. Rencana awal, mau berenang dulu di pagi hari. Tapi anak-anak sudah kelaparan, jadi kami mengubah rencana untuk sarapan sebelum berenang. Tapi ternyata restorannya baru buka jam 8 pagi. Restorannya juga tipe pesan dulu baru disiapkan. Alhasil, sekitar jam 8.30 baru bisa menikmati sarapan pagi. Untuk yang biasa sarapan jam 8 pagi, perbedaan 30 menit ternyata cukup terasa, hehehe.

Continue reading “Catatan Jalan-jalan di Long Weekend”

Staycation Pertama Kami

Sebenarnya ide staycation alias nginep di tempat yang cuma beberapa kilometer dari rumah tidak pernah menarik buat saya. Tapi, setelah terjadi pandemi dan Thailand aman kembali, baiklah kita membantu menggerakkan roda ekonomi sambil menyenangkan hati anak-anak.

Jonathan baru saja menyelesaikan semua pelajaran homeschooling kelas 4 nya, sebelum mulai kelas 5, kami memutuskan untuk memberi hadiah berupa liburan yang tidak terlalu jauh dari rumah. Lagipula perjalanan ke Bangkok yang kami lakukan akhir bulan Juni tidak bisa dianggap liburan, karena fokusnya ya urus passpor saja.

Hari yang cerah, selesai makan siang kami berangkat naik mobil

Tujuan liburan kali ini beneran dekat dari rumah. Menurut Google Map cuma sekitar 40 km dari rumah, tapi karena macet ya hampir 1 jam di jalan.

Menginap di tengah sawah

Salah satu kelebihan tinggal di Chiang Mai, tidak jauh dari rumah masih banyak sawah dan daerah yang serasa di kampung halaman. Tapi, karena kami tidak berniat ikut bercocok tanam, ya tentunya mencari penginapan yang walau lokasi suasana desa, tapi fasilitas modern. Wifi dan kolam renang, selain rumah yang kokoh dengan kamar mandi yang bersih tentu saja syarat utama.

Continue reading “Staycation Pertama Kami”

Chiang Mai Crafts Week 2020

Gak terasa, sudah setahun lalu ke acara Chiang Mai Crafts Week. Hari ini Kamis 6 Februari sampai hari Minggu tanggal 9 Februari 2020 berlangsung acara yang sama, Chiang Mai Crafts Week ke-5. Setelah membaca buku Show your Work, saya bisa lebih menghargai semangat acara crafts week ini. Apalagi teman-teman di komunitas merajut lokal ada yang ikut berjualan/pamer hasil karya di acara ini.

Acara tahun ini berbeda lokasinya dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena semakin banyaknya peserta yang ikut pamer karya dan juga demi kenyamanan pengunjung, maka panitia mencari lokasi yang lebih besar dan lebih gampang untuk urusan parkir buat orang-orang yang ingin melihat-lihat. Acaranya diadakan di Promenada Mall. Sebuah mall yang biasanya sepi, tapi punya tempat parkir yang sangat luas.

Continue reading “Chiang Mai Crafts Week 2020”

Liburan ke Pantai Atau ke Gunung?

Kalau dulu, ditanyakan ke saya: mau liburan ke pantai atau ke gunung? dengan cepat saya akan menjawab pantai, tapi pantai danau ya, bukan pantai laut.

Tadi pagi, tiba-tiba saya terpikir lagi dengan pertanyaan ini, dan saya tidak bisa menjawab dengan cepat. Ada begitu banyak pertimbangan kalau ke gunung bagaimana, kalau ke pantai bagaimana. Waktu saya tanya ke Joe, dia juga jawabannya: ada pilihan lain gak? pengennya yang datar aja ga harus ekstrim gunung atau pantai.

Kalau Liburan ke Gunung…

Alam pegunungan itu biasanya sejuk dan hijau. Suasananya juga terasa lebih indah dengan kicauan burung ataupun suara aneka hewan yang hidup di alam yang bisa terdengar sesekali. Semuanya membuat suasana terasa lebih santai untuk beristirahat dan melepas penat. Oh ya, ini bukan cerita naik gunung yang hiking ya, tapi ke daerah pegunungan saja. Seperti misalnya ke Doi Inthanon kalau di Chiang Mai.

Doi Inthanon

Pemandangan dari tempat yang tinggi biasanya juga cukup indah. Bisa melihat daerah di sekitar kaki gunung. Salah satu yang saya ingat dari liburan ke daerah pegunungan juga biasanya sayuran dan buah-buahannya semua enak, karena biasanya banyak petani di sekitar daerah pegunungan.

Terus kenapa gak memilih ke daerah pegunungan kalau memang indah, nyaman, sejuk dan semua alasan di atas?

Untuk sampai ke area pegunungan, biasanya kita harus melalui jalanan tanjakan dan berbelok-belok. Jalan menanjak sih gak masalah ya, karena toh kita bukan jalan kaki dan biasanya naik mobil. Tapi belok-beloknya itu loh kadang-kadang yang agak memabukkan. Belum lagi, kalau jalanannya bukan jalan yang mulus ataupun sempit. Rasanya agak ngeri gak sih kalau lewat jalan kecil dan berliku dengan kanan kiri itu jurang?

Biasanya, sinyal hp di gunung juga kurang bagus, apalagi kalau gunungnya bukan tempat yang sudah ada bts provider yang kita gunakan hehehe. Lah katanya mau liburan, kok mikirin sinyal sih? ya, kan walau liburan kita tetap butuh akses internet buat nonton film santai-santai. Ah kalau mau nonton film di rumah aja sana, gak usah ke gunung! Banyak alasan aja ya hehehe.

Kalau Liburan ke Pantai…

Waktu kecil, setiap liburan kenaikan kelas, saya pasti diajak orangtua saya ke Danau Toba. Sepertinya, karena liburan ke Danau Toba inilah saya selalu kepikiran liburan ke pantai itu menyenangkan. Untuk mencapai lokasi pantainya, tentunya harus melewati gunung dulu, lalu turun lagi. Jadi sama aja dong dengan ke gunung? nggak juga, karena setelah sampai di bawah, kita bisa dapat pemandangan ya pantai, ya gunung. Jadi pemandangannya terasa lebih indah.

Danau Toba tahun 2008

Walaupun dari kecil sampai lulus SMA saya tinggal di Medan, dan Medan itu adalah kota yang ada pelabuhannya, saya tidak pernah ke pantai laut. Pantai yang saya kenal itu ya pantai dari Danau Toba.

Saya senang ke Danau Toba untuk bermain air, berenang di danau, naik sepeda air, speed boat dan pernah belajar naik soluh (sejenis canoe). Selain itu tentunya makan indomie rebus, ikan bakar, mangga kecil-kecil (gak tau namanya apa) dan ya senang aja dengan semilir angin yang berhembus sepanjang hari yang terasa sejuk. Pulang dari Danau Toba biasanya kulit pada gosong dan mengelupas hehehe.

Pertama kali ke pantai laut itu waktu jalan-jalan kelas 2 SMA ke Parang Tritis. Nah, melihat deburan ombak yang keras dan angin yang terasa lengket di kulit, tidak ada keinginan untuk main air sedikitpun. Main pasir aja rasanya ogah. Sejak itu, keinginan untuk bermain ke pantai berkurang.

Sampai sekarang, setelah beberapa kali liburan ke pantai laut seperti Bali, Pattaya, Ancol dan Phuket, perasaan tentang pantai laut tetap sama. Saya hanya senang melihat-lihat saja, tidak ada keinginan berenang atau bermain air. Tidak ada keinginan untuk menghabiskan waktu seharian bermain air.

Pantai di Phuket

Saya mulai agak takut dengan pantai laut sejak banyak bencana tsunami. Tapi ya ketakutan ini gak bikin jadi gak mau ke pantai laut sama sekali sih. Namanya bencana bukan hanya terjadi di laut saja, jadi kalau ada kesempatan berlibur ke pantai laut, ya dinikmati juga dan lupakan takutnya.

Jadinya Pilih ke Mana?

Karena Chiang Mai jauh dari pantai, ya sekarang ini kami cukup senang dengan jalan-jalan sekitar kota Chiang Mai yang waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Kalaupun ada waktu, ya libur ke gunung atau ke pantai sama menyenangkannya untuk melihat pemandangannya, tapi tidak ada perasaan lebih ingin ke salah satunya.

Kalau mau libur ke gunung ataupun ke pantai, yang jelas tidak dilakukan di musim hujan. Musim hujan mendingan kita ke mall aja deh daripada gak bisa enjoy hehehe.

Satu hal yang paling penting juga, kalau mau liburan ke manapun, sekarang ini yang perlu dipertimbangkan adalah anak-anak. Mereka perlu melihat gunung, pantai, danau, lembah, sungai, hutan, tapi ya tentunya diperkenalkan sesuai dengan kesiapan mereka menerimanya.

Untuk sekarang ini, kami belum menanyakan ke anak-anak lebih suka ke gunung atau pantai, kami yang memutuskan untuk membawa berganti-ganti supaya mereka mempunyai pengalaman di berbagai tempat. Karena kalau ditanya, jangan-jangan jawabannya malah: di rumah aja lebih enak hahahaha.

Hari Anak Thailand 2020

Hari ini, 11 Januari 2020, dirayakan sebagai Hari Anak di seluruh Thailand. Perayaan Hari Anak ini selalu diadakan di hari Sabtu minggu ke-2 bulan Januari setiap tahunnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak kegiatan di seluruh mall ataupun tempat wisata. Karena setiap tahunnya (termasuk tahun lalu) kami hampir selalu ke mall, dan mengalami macet di jalan, tahun ini kami mencari tempat yang tidak seramai mall.

Sebenarnya agak dilema untuk berangkat ke hari anak hari ini. Kegiatan di luar sepertinya masih ada polusi, tapi ya kegiatan di mall juga sama saja karena mall tidak ada filternya. Sebelum berangkat, melihat angka AQI nya menengah, ya agak tenang untuk berkegiatan di luar rumah.

masih aman lah ya buat jalan-jalan

Dari berbagai tempat yang biasanya cukup fun buat anak-anak, kami memilih ke Hidden Village Chiang mai. Terakhir ke sana itu tahun lalu bulan Januari. Tapi ternyata harga tiketnya sudah naik dalam setahun. Tempatnya sih semakin ramai dan banyak tambahan dinosaurusya.

Karena hari ini hari Anak, hari ini tiket masuk untuk anak-anak sampai dengan tinggi 130 cm digratiskan. Untuk orang dewasa, yang seharusnya membayar 100 baht diberikan harga khusus 80 baht. Khusus hari anak, harga orang asing disamakan dengan harga lokal. Biasanya harga orang asing lebih mahal dari orang lokal, jadi hari ini kesempatan yang baik mendapat harga tiket masuk lebih murah dari biasanya.

berangkaaaaat

Tadinya kami pikir, tempat ini akan relatif sepi. Ya dibandingkan mall, memang masih lebih sepi, tapi dibandingkan kunjungan ke sana sebelumnya, tempatnya terlihat ramai sekali. Tempat parkirnya juga lumayan ramai. Selain tempat-tempat kegiatan yang berbayar, mereka juga mengadakan panggung dan membagi-bagi hadiah buat anak-anak yang datang.

Mulai dari pintu masuk, sudah terlihat ada keramaian. Kami yang datang ke sana sudah kesiangan (dari rumah jam 12), langsung menuju restoran Barn Steak House buat makan hehehe. Kali ini makan buffet lagi, untungnya harganya tetap sama dengan tahun lalu: dewasa 259 baht, dan anak-anak 129 baht. Untuk minuman harus beli lagi, tapi makanannya bisa pesan berkali-kali.

Yang berbeda dengan tahun lalu adalah: makanannya terasa lebih fresh, mungkin karena kami makannya siang hari dan banyak pengunjung, jadi mereka selalu menambakan yang baru. Sebenarnya ada spaghetti, ayam goreng, salad dan buah juga, tapi tadi saya lupa foto hehehe.

Selesai makan, baru deh mulai bagian jalan-jalannya. Waktu kami tanya Joshua mau main di playground atau lihat dinosaurus? Joshua dengan mantap menjawab: mau lihat dinosaurus. Tapi sampai dalam tempat dinosaurusnya, dia ternyata menuju tempat main bouncy house yang selalu dimainkan kalau ke sana. Tempat itu bayar lagi sih, 20 baht untuk 20 menit per anak, tapi ya cukup fun buat ngabisin energi yang di makan tadi hehe.

Setelah main bouncy house, kami jalan keliling melihat-lihat dinosaurus. Walau sudah berkali-kali melihat dinosaurus, saya belum bisa hapal sebagian besar nama-namanya. Supaya ingat, saya coba foto-foto dan tuliskan lagi namanya di sini.

Dilophosaurus
Carnotaurus
Brachiosaurus

Melihat Maiasaura dan T.Rex, jadi ingat ada salah satu scene di serial The Flash (Season 2, Episode 21), ibunya membacakan buku ke Flash waktu kecil dengan judul Runaway Dinosaur.

The Runaway Dinosaur

Once there was a little dinosaur called a Maiasaura, who lived with his mother.

One day, he told his mother, “I wish I were special like the other dinosaurs. If I were a T. rex, I could chomp with my ferocious teeth!”

Tyrannosaurus rex alias T.rex

“But if you were a T. rex,” said his mother, “how would you hug me with your tiny little arms?”

“I wish I were an Apatosaurus,” said the little dinosaur, “so with my long neck I could see high above the treetops.”

“But if you were an Apatosaurus,” said his mother, “how would you hear me in the treetops when I told you I love you?”

“What makes you so special, little Maiasaura?” said his mother.

“Is it your ferocious teeth or long neck or pointy beak? What makes you special is out of all of the different dinosaurs in the big, wide world, you have the mother who is just right for you and who will always Love you.”

Maiasaura

Buku ini diilhami dari buku The Runaway Bunny

Sebenarnya ada lebih banyak lagi dinosaurus lainnya, tapi sayangnya gak ada Apatosaurus.

ada patung-patung lain selain dinosaurus, yang pasti ini bukan apatosaurus hehe

Karena Joshua sudah mengantuk, kami pulang sekitar jam 4 sore. Tadinya berencana untuk keluar rumah lagi malam harinya, tapi sayangnya Joshua ternyata demam dan batuk-batuk. Mungkin karena tadi udaranya terlalu panas dan belakangan ini dia tidur siangnya kurang teratur.

Keputusan untuk tidak ke mall hari ini sudah cukup tepat. Kami tidak kena macet. Tapi ternyata perkiraan tempatnya agak sepi tidak sepenuhnya benar. Memang hari anak di Thailand sepertinya hari di mana semua anak wajib di bawa keluar rumah, jadi tidak akan ada tempat yang sepi hehehe.

Foresto Sukhothai Guesthouse, Pizza Tao Fuun, Pasar Malam dan Poo Restaurant (part 4)

Hari ini tulisannya tentang hal-hal yang belum diceritakan sebelumnya. Masih seputar jalan-jalan di Sukhothai.

Seperti diceritakan sebelumnya, dari terminal bus kami naik songtew ke hotel. Di Sukhothai saya tidak menemukan taksi meter dan juga tidak ada Grab ataupun taksi online lainnya. Tapi saya perhatikan ada songtew, tuktuk dan ojek.

Sesampainya kami di Sukhothai, hal pertama yang dilakukan adalah membeli tiket untuk kembali ke Chiang Mai. Tiket bus ini tidak bisa dibeli online, dan tidak bisa dibeli dari Chiang Mai. Sempat agak deg-deg an juga, kalau tidak dapat tiket kembali ke Chiang Mai, bisa-bisa kami malam tahun baru di Sukhothai hehehe.

Selama kami menunggu urusan tiket Bus Sukhothai-Chiang Mai beres, ada seorang ibu-ibu yang menghampiri kami dan bertanya kami hendak ke mana. Ternyata ibu-ibu ini menawarkan jasa songtewnya. Setelah mempertimbangkan antara tuktuk atau songtew, akhirnya kami memilih naik songtew dengan biaya 200 baht untuk rombongan kami.

Naik songtew dari terminal bus ke hotel setelah perjalanan 7 jam dari Chiang mai

Setelah kami tiba di tujuan, ibu itu memberikan nomor teleponnya untuk dihubungi seandainya kami membutuhkan jasa songtew keliling kota ataupun ke tujuan tertentu seperti halnya ke old city.

Foresto Sukhothai Guesthouse

Penginapan Foresto Sukhothai ini letaknya di bagian new city Sukhothai. Lokasinya cukup strategis dan dekat dengan minimarket, pasar malam Sabtu dan beberapa restoran yang ramai dikunjungi baik penduduk lokal maupun turis seperti kami.

Tempat ini dikelola oleh keluarga. Orang yang berhadapan dengan tamu bisa berbahasa Inggris dan cepat memberi respon sejak awal pemesanan hotel. Jadi ceritanya, awalnya hotel ini mau kami booking melalui Agoda, tapi untuk tanggal yang kami mau sudah penuh. Teman saya berinisiatif menelpon langsung ke hotelnya dan ternyata kami masih dapat kamar di sana dengan catatan 1 malam di family room (dengan 2 kamar tidur dan 2 kamar mandi), dan 2 malam berikutnya di kamar terpisah, yang masing-masing ada ekstra bed nya untuk anak-anak.

Harganya? untuk 3 malam, masing-masing keluarga mengeluarkan sekitar 4750 Baht. Mengingat kami bepergian di akhir tahun dan biasanya hotel-hotel pada penuh, harga tempat kami menginap ini sangat masuk akal. Harga tersebut sudah termasuk mendapatkan sarapan pagi yang rasanya tidak kalah dengan sarapan di hotel berbintang dan sudah termasuk kopi dan juice.

Foresto Sukhothai Guesthouse di malam hari

Sesuai namanya, konsep dari penginapan ini memberi kesan kita sedang berada di hutan dengan banyaknya pohon di sekitar kamar-kamar. Suasananya di malam hari cukup tenang dan walaupun cukup dekat dengan berbagai tempat keramaian, tapi tidak ada suara-suara keras yang bisa mengganggu tidur kita. Tempat tidurnya juga cukup nyaman dan kamarnya cukup bersih. Fasilitas lain yang diberikan seperti handuk, termos air panas, sampo dan sabun.

Di bagian depan hotel ini ada kolam ikan yang menarik perhatian anak-anak. Di bagian dalamnya ada kolam renang kecil, yang di waktu malam lampunya berganti-ganti warna.

Kami cukup senang dengan pelayanan yang ada selama 3 malam menginap di Foresto Sukhothai. Bahkan di saat kami kesulitan mencari penyewaan mobil untuk ke Si Satchanalai, penginapan membantu kami mencarikan mobil sewa yang supirnya juga tak kalah ramah dengan orang dari penginapan.

Pizza Tao Fuun

Jauh-jauh ke Sukhothai, kok makannya pizza? Eh tapi jangan salah, pizza ini cukup terkenal buat orang lokal. Pizzanya di masak dalam oven yang terbuat dari batu. Namanya sebenarnya Pizza House tapi lebih dikenal dengan nama Pizza Tao Fuun. Tao dalam bahasa Thai itu artinya kira-kira kompor dan Fuun itu artinya tanah, jadi Tao Fuun ini maksudnya ovennya dari tanah/batu bata.

Pizza Tao Fuun

Selain Pizza, ada banyak makanan lain seperti steak dan pasta di sana. Kami yang sudah kelaparan setelah perjalanan 7 jam dari Chiang Mai, langsung memesan beberapa pizza. Harganya cukup masuk akal dan tidak jauh berbeda dengan harga di Chiang Mai.

Wajah-wajah bahagia menantikan pizza dan menyantapnya bisa dilihat di foto ya hehehe.

Pasar Malam di Mueang Sukhothai Park

Setelah kenyang makan pizza, sebenarnya ada keinginan untuk langsung tidur saja ke penginapan. Tapi karena ada pasar malam yang hanya ada di hari Sabtu, kok ya sayang kalau tidak melihatnya. Padahal udah ga ada yang perlu dibeli dan perut sudah kenyang hehehe.

Jadilah kami membakar kalori dari makanan tadi berjalan sepanjang pasar malam yang lokasinya di Taman Kota Sukhothai. Seperti halnya di Chiang Mai, pasar malam ini paling depannya menjual berbagai makanan dan minuman. Setelah agak ke belakang, barulah ada jualan mainan, baju-baju, dan berbagai hal lainnya. Pasar malam di Chiang Mai lebih besar dari pasar malam di Sukhothai, tapi ya tetap menarik juga untuk melihatnya. Pasar malam di Sukhothai ini sekitar jam 8 malam sudah mulai berkemas-kemas untuk pulang, kalau di Chiang Mai, pasar malam bisa sampai jam 10 malam.

Poo Restaurant

Nah kalau restoran ini kami kunjungi di suatu siang sebelum ke Sukhothai Historical Park. Lokasinya cukup dekat dengan penginapan dan kami bisa berjalan kaki ke sana. Jangan heran dengan namanya, nama Poo Restaurant di sini artinya Crab/Kepiting, karena bahasa Thai dari Kepiting itu kira-kira dibacanya puu atau dalam bahasa Inggris dituliskan Poo. Restoran ini termasuk dalam daftar restoran yang disarankan oleh Trip Advisor.

Awalnya saya pikir, mereka punya spesialisasi makanan dengan kepiting, tapi ternyata hanya ada somtam kepiting dan tentu saja karena penasaran teman saya memesannya. Tapi karena kepitingnya mentah, saya tidak mencobanya.

Seperti halnya restoran Thai, menu makanannya ya makanan Thai. Rasanya cukup oke dan porsinya juga cukup besar sesuai dengan harganya. Tapi waktu kami pesan telur dadar, ternyata telur dadarnya dibikin seperti telur gulung dan berbeda dengan telur dadar ala Thai.

Di restoran ini makanannya juga selalu dihias dengan bunga anggrek, tentunya anggreknya tidak kami makan. Harusnya mereka ganti nama jadi Orchid Restaurant ya hehehehe.

Food Panda

Walau tidak ada di judul tulisan ini, rasanya saya perlu menuliskan ini juga. Di Sukhothai, belum ada layanan grab food. Ada satu malam di mana kami sudah malas untuk keluar lagi membeli makanan, penginapan kami restorannya tutup di sore hari. Untungnya ada layanan Food Panda dan kami memesan dari food panda ke penginapan. Untuk menyantapnya, kami bisa meminjam piring dan sendok dan duduk di restoran penginapan. Orang penginapannya baik banget emang.

Cerita jalan-jalan akhir tahun di Sukhothai sepertinya sudah saya tuliskan semua. Rasanya masih ingin ke sana lagi kalau ada kesempatan. Orang-orang di Sukhothai cukup ramah dan siap membantu. Highlight dari perjalanan kami tentunya bersepeda bersama di historical park. Senang rasanya bisa jalan-jalan sambil olahraga santai.

Buat yang tertarik liburan ke Thailand, dan sudah bosan ke Bangkok, Sukhothai bisa jadi pilihan untuk liburan selain Chiang Mai.

Liburan Akhir Tahun 2019: Si Satchanalai, Sukothai Airport dan Sukothai Noodle (Part 3)

Sebagian cerita di Si Satchanalai Historical Park bisa dibaca di posting sebelumnya.

Hari ke-3 di Sukothai, kami menyewa Mini Van untuk berjalan-jalan ke Si Satchanalai dan eksplorasi Sukothai sedikit. Biaya sewa Van dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore (walaupun akhirnya kami pulang sekitar jam 5) termasuk supir dan bahan bakar 2500 baht. Sebenarnya kalau kami berangkat 10 orang juga masih muat tuh minivan nya hehehe.

Kami berangkat jam 9 lewat sedikit dan mampir ke mini market dulu. Perjalanan sekitar 1 jam dan kami sampai di Si Satchanalai sekitar jam 10-an. Awalnya kami berpikir untuk naik shuttle saja, karena rasanya badan masih pegel hasil bersepeda hari sebelumnnya. Maklum saja, biasanya gak pernah olahraga, tau-tau sepedaan beberapa jam, pasti dong efeknya lumayan. Informasi dari supir bilang, di dalam tidak ada shuttle, jadi pilihannya ya jalan kaki atau naik sepeda. Haduh dilema sekali ya. Tentu saja kami milih naik sepeda daripada jalan kaki.

Berangkat naik van

Si Satchanalai Historical Park

Area Si Satchanalai Historical Park ini luas juga seperti Sukhothai Historical Park. Reruntuhan kuil yang ingin dikunjungi juga tersebar dan bukan terletak dekat dengan tembok kotanya. Berdasarkan pengalaman hari sebelumnnya, di dalam tembok kota agak sulit mencari toilet, jadi ketika sampai dan melihat ada jejeran toilet yang cukup bersih, kami memutuskan untuk ke toilet dulu sebelum sewa sepeda.

Toilet pit stop sebelum masuk ke park

Kalau hari sebelumnya ada beberapa toko yang menyewakan sepeda, di tempat ini hanya ada 1 toko besar dan punya koleksi sepeda cukup banyak. Sekilas rasanya pengunjung tempat ini lebih sedikit dibandingkan Sukhothai Historical Park. Jalanan di dalamnya untuk bersepeda juga agak lebih kecil tapi ya cukup bagus juga. Areanya lebih banyak pepohonan, tapi terasa gersang karena daun-daunnya kering dan berguguran. Kalau kata teman kami yang pernah datang di musim hujan, suasananya lebih terasa hijau di musim hujan karena tentunya daun-daunnya terlihat hijau dan segar.

Sewa sepeda seperti hari sebelumnya

Ini temple yang pertama kami kunjungi. Jadi waktu masuk ke area dalam, kami harus memilih ke kanan atau ke kiri dengan petunjuk arah 1300+ dan ke kanan 800+. Entah kenapa mikirnya itu tahun temple dibangun, padahal setelah kami jalani baru ngerti kalau itu maksudnya jaraknya sebelum sampai ke temple tujuan. Jadi kami pilih ke kiri karena ingin melihat temple yang lebih modern. Dan ketika kami menyadari kesalahan kami dalam mengerti apa maksud angka tersebut, kami cuma bisa menertawakan diri sendiri. Inilah akibat jalan-jalan tanpa membaca terlebih dahulu.

walau keringetan harus tetep gaya

Seperti halnya temple sebelumnya, walaupun ini berupa reruntuhan, ada saja orang yang membawa bunga dan sembahyang di sana.

Beberapa orang masih sembahyang di sini
areanya luas dan kering

Setelah agak lama menghabiskan waktu di temple pertama, kami turun dan menuju temple berikutnya. Temple yang ini bentuknya masih agak lebih utuh dibandingkan yang sebelumnnya. Areanya juga cukup luas dan terbuka.

dari jauh
dari dekat
seberangnya
zoom in

Karena udara sangat panas di siang hari, dan area yang sangat luas, kami hanya mengunjungi 3 temple besar ini saja. Persediaan air minum yang kami bawa juga mulai habis, jadi kami memutuskan untuk keluar dan istirahat makan siang. Di area dekat parkiran, ada banyak pilihan makanan dan minuman. Ada beberapa toko juga menjual cendera mata. Tapi yang saya ingat, tidak ada orang yang menawarkan jualan seperti di kawasan candi Borobodur beberapa tahun yang lalu.

Sukothai Airport

Karena masih ada waktu, selesai makan kami memutuskan untuk melihat museum di kawasan Sukhothai airport. Kabarnya di kawasan ini ada zoo juga, tapi saat kami ke sana zoo nya sedang tutup. Ada beberapa bangunan yang unik dan bisa untuk foto-foto. Tapi kami tidak berlama-lama di sana karena Joshua tidur dan mataharinya sangat panas. Saya hanya sempat mengambil sedikit foto.

Sukothai Airport ada banyak bangunan unik begini

Sukhothai Noodle

Terakhir sebelum pulang ke hotel, kami mampir untuk mencicipi sukhothai noodle yang terkenal. Rasanya sekilas mirip mi tomyam, tapi ada bedanya. Sayuran yang dipakai dalam noodlenya juga berbeda dengan noodle tomyam. Selain noodle, mereka juga menjual minuman seperti cincau dan es cendol, rasanya nikmat sekali setelah berpanas-panasan main sepeda dari pagi.

es cincau
mi sukothai
dekorasinya antik
es cendol kurang gula jawa

Tempatnya unik, sepertinya mereka sengaja mendekor nuansa masa lalu. Banyak barang antik dan boneka-boneka, selain tentunya ruangannya sudah ber-AC. Harga noodlenya juga masih standar, 1 porsinya sekitar 40 baht, sedangkan minuman es nya 1 porsinya 25 baht. Salah satu hal yang saya kagum dengan Thailand, walaupun tempat itu sudah terkenal dan di tempat wisata, harganya ya tetap harga standar dan bukan harga turis.

banyak mainan
ruangannya antik
keliatan ga cabenya

Jalan-jalan part 3 ini merupakan part terakhir dari cerita jalan-jalannya. Karena keesokan harinya kami pulang jam 9 pagi dari Sukhothai dan tiba di Chiang Mai jam 4 sore. Iya, kami naik bis lagi pulangnya. Kalau belum bosan baca cerita tentang Sukhothai, berikutnya akan saya tulis terpisah tentang penginapan dan beberapa tempat makan lain yang kami kunjungi selama di sana. Sekalian buat catatan biar saya ingat kalau mau jalan-jalan ke sana lagi.