3 Bahan Bakar dalam Hidup: Waktu, Tenaga dan Uang

Antara Tenaga, Waktu dan Uang

Beberapa hari lalu, saya menghadiri sharing session via Zoom bareng teman-teman masa kuliah. Karena cerita utamanya terlalu panjang, saya akan menceritakan sebagian-sebagian saja. Bagian pertama membahas 3 bahan bakar dalam hidup.

Bahan bakar ini adalah segala bahan yang bisa diubah menjadi energi/tenaga. Namanya sumber energi, tidak semuanya bersifat tidak terbatas, malah kebanyakan sumbernya terbatas.

Dalam hidup ini, kita mempunyai 3 sumber energi: Uang, Waktu dan Tenaga Fisik. Tahukah kamu, kalau sumber energi yang paling murah itu adalah uang?

Banyak yang bekerja keras demi uang semasa usia produktifnya, sampai tidak memperhatikan kesehatan. Padahal, namanya usia akan terus bertambah dan fisik kita akan semakin berkurang tenaganya.

Uang bisa dicari, waktu tidak bisa diputar kembali dan tenaga kita ada batasnya

Karena manusia bukan mahluk yang abadi, semakin kita berumur, semakin tenaga kita akan berkurang.

Tenaga yang dimaksud di sini bukan saja tenaga dengan otot, tapi juga dengan otak. Mulai dari semangat, passion sampai dengan kesehatan kita. 

Jangan lupa, kesehatan jasmani mempengaruhi kemampuan berpikir kita. Sebagai manusia, bertambahnya umur cenderung menambah tubuh menjadi lebih lemah dibandingkan di usia muda kita.

Belum lagi, setiap manusia akan ada kemungkinkan penurunan daya ingat atau bisa menjadi pikun dengan bertambahnya usia. Mau punya uang sebanyak apapun, waktu dan tenaga tidak bisa dibeli, makanya uang adalah sumber energi paling murah.

Sayangnya, ketersediaan 3 bahan bakar tersebut tidak selalu ada dalam waktu yang bersamaan. Biasanya, dalam setiap fase hidup, kita hanya memiliki 2 sumber energi yang tersedia pada saat yang sama. Padahal, idealnya kita butuh tiga bahan bakar itu seimbang.

Usia Produktif (18 – 40 tahun)

Saat kita muda (setelah lulus kuliah), kita punya banyak tenaga dan waktu, akan tetapi kita tidak punya uang.

Kita bekerja untuk orang lain dengan harapan mengumpulkan uang. Kita menggunakan waktu dan tenaga kita untuk mencari uang.

Konsep ini membuat kita sering salah kaprah dan berpikir hidup untuk mendapatkan uang dan bahwa uang adalah jawaban dari berbagai masalah hidup.

Memang sih, uang bukan segalanya, tapi kalau tidak punya uang hidup ini jadi sulit. Jadi bisa dimengerti kenapa kita menukar tenaga dan masa muda kita untuk mengumpulkan uang, dengan harapan pada satu titik kita bisa pensiun dan menikmati hari.

Usia Menjelang Pensiun (40 – 60 tahun)

Saat berusia 40 tahun, kebanyakan orang sudah berada di puncak karirnya. Uang sudah ada, tenaga masih cukup banyak tapi waktunya terikat akan tugas dan kewajiban di tempat kerja (dan keluarga).

Tanggung jawab juga biasanya makin banyak, mulai dari tanggung jawab di tempat kerja, maupun tanggung jawab dan kebutuhan untuk biaya ini dan itu (termasuk membiayai pendidikan anak).

Gaya hidup di titik ini mulai berubah untuk sebagian orang. Ada yang mulai terasa keluhan kesehatan, sehingga mulai berupaya untuk hidup lebih sehat.

Ada juga yang mulai terjebak gaya hidup konsumerisme, karena merasa punya uang, sehingga lupa untuk menabung ataupun menyiapkan investasi untuk modal hari pensiun.

Di saat ini, idealnya kita mulai memikirkan investasi apa yang akan kita lakukan ketika sudah punya uang dan waktu. Kalau kita memikirkannya setelah kita pensiun, bisa jadi tenaga kita sudah tidak ada lagi untuk memulainya.

Akan tetapi, banyak juga yang merasa uangnya masih belum cukup. Jadi mereka akan terus bekerja untuk orang lain dengan berharap dana pensiun yang diterima akan cukup untuk tidak bekerja setelah pensiun.

Usia Pensiun (60 tahun ke atas)

Apa yang menjadi bayangan ketika pensiun? Mungkin kebanyakan orang berpikir, setelah pensiun ya sudah santai-santai menikmati hidup.

Toh selama kerja sudah mengumpulkan uang banyak. Harapannya juga ketika pensiun kan ada tuh namanya dana pensiun.

Saat pensiun, kebanyakan orang sudah akan mempunyai uang dan pastinya waktu, karena tidah harus pergi kerja lagi. Tapi, di saat itu mungkin kita tidak punya cukup tenaga lagi untuk memulai sesuatu dari awal (dan mungkin juga sudah malas berpikir).

Katakanlah tingkat harapan hidup kita sampai 80 tahun, apakah dana pensiun pasti cukup untuk sisa hidup kita sejak pensiun apabila tidak ada penghasilan tetap lagi?

Kalau menurut survey, kebanyakan orang menghabiskan dana pensiun kurang dari 3 tahun. Dengan tingkat ekspentansi hidup kita yang berharap hidup sampai umur 100 tahun, kita harus memikirkan bagaimana supaya dana pensiun bisa bertahan lebih dari 3 tahun.

Kenapa dana pensiun cepat habis?

Sebelum pada protes, ada beberapa hal kenapa dana pensiun ini cepat habis, misalnya:

  1. Salah investasi. Kebanyakan orang berpikir investasi dengan menitipkan duit dengan orang lain tanpa terlibat di dalamnya. Walaupun bisa saja usaha ini berhasil, tapi survey membuktikan kebanyakan gagal.
  2. Terbawa Gaya hidup Ketika masih punya penghasilan tetap. Setelah terbiasa punya uang, kita suka lupa kalau setelah pensiun dana kita tidak terisi lagi secara rutin.
  3. Habis untuk membiayai kesehatan. Ini juga sering jadi masalah, ketika sudah pensiun, banyak yang jatuh sakit dan membutuhkan perawatan yang tidak sedikit karena di masa muda tidak memperhatikan kesehatannya.

Bagaimana menyeimbangkan bahan bakar hidup?

Di masa usia produktif, memang kita harus bekerja untuk mendapatkan uang. Kecuali untuk chaebol alias anak pengusaha yang udah punya dana tak habis tujuh turunan.

Eh tapi, uang seberapapun pasti ada habisnya, jadi mereka pun sebenarnya walau terlihat tidak bekerja, uangnya sudah bekerja sendiri dengan segala investasi di segala tempat. Duh jadi ngelantur.

Maksudnya, di masa muda, memang kita harus cari uang yang giat, tapi jangan lupa jaga kesehatan.

Di masa menjelang pensiun (usia 40 tahun ke atas), kita bisa mulai mencari apa yang menarik untuk diinvestasikan dan tentu jangan terbawa dengan gaya hidup konsumerisme.

Setelah pensiun, kita harus mencari cara untuk tetap punya penghasilan bulanan. Bisa dengan cara investasi atau membuka usaha sendiri. Tentang hal ini akan saya tuliskan terpisah.

Penutup

Setelah membaca tulisan ini, ada yang mulai merasakan perlu mempersiapkan masa pensiun sedini mungkin? Memang namanya juga persiapan, semakin kita mempersiapkan semoga semakin kita lebih siap ketika masanya tiba.

Jangan lupa, manusia bisa merencakanan, tapi Tuhan menentukan. Tapi tentunya lebih baik punya persiapan daripada tidak sama sekali kan.

Jadi, kalian sekarang ada di tahap mana? sudah mulai persiapan apa saja untuk masa pensiun?

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.