Baca buku: Kim Ji-Yeong Born 1982

Setelah minggu lalu bolos baca buku, kemarin bolos nulis karena memutuskan baca buku Kim Ji-young, Born 1982 sampai selesai. Bukunya sebenarnya tipis, cuma 196 halaman sudah termasuk halaman-halaman yang tidak perlu dibaca. Tapi karena memulainya sudah sore, dan tanggung bacanya, jadilah memilih meneruskan membaca daripada menulis.

cover buku Kim Ji Yeong, sumber: Gramedia Digital

Buku ini aslinya berbahasa Korea, terbit tahun 2016 oleh seorang wanita Korea: Cho Nam-joo, yang pernah bekerja sebagai penulis skrip acara TV. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di tahun 2019 dan saya bacanya di Gramedia Digital.

Kisah dalam buku ini sudah diangkat menjadi film, tapi saya belum menonton filmnya. Tulisan ini merupakan kesan yang saya dapat dari baca bukunya. Terjemahannya terasa cukup enak dibaca, dan emosinya bisa bisa membuat saya merasa seakan-akan buku fiksi ini adalah kisah nyata dari seorang wanita yang lahir dan besar di Seoul, Korea di tahun 1982.

Walaupun buku ini berjudul Kim Ji-Yeong (KJY), tapi saya mau menuliskan kesan tentang wanita-wanita Korea lainnya yang diceritakan dalam buku ini. Selain kisah hidup KJY sejak lahir sampai tahun 2016, ada 3 wanita lain yang diceritakan dalam buku ini yang situasinya mirip dengan KJY: Ibunya Oh Man-Suk, Ketua tim di kantor yang bernama Kim Eun-sil dan istri dari psikiater yang membantunya mengatasi depresi.

Lanjutkan membaca “Baca buku: Kim Ji-Yeong Born 1982”

Terserah, tapi…

Setiap hari kita makan 3 kali sehari. Kadang-kadang sampai pusing memutuskan mau makan apa siang ini. Pergi ke food court, ada banyak pilihan, tapi malah jadi pusing mau makan apa. Dulu waktu jaman belum ada anak, setiap mau makan Joe bertanya: makan apa kita? terus saya jawab terserah. Terus Joe memutuskan makan sesuatu dan seringnya saya bilang: tapi kan itu baru kemarin. Sampai akhirnya Joe kesel dan bilang: lah katanya terserah, giliran dipilihin protes. Ya udah putuskan mau makan apa.

Kata Joshua: aku mau semuanya am nyam nyam nyam…

Nah sebenarnya pernah juga, saya lagi ga kepengen makanan tertentu, lalu bertanya ke Joe: mau makan apa kita? Dia jawab: terserah. Sebenarnya terserahnya Joe ini maksudnya apapun yang saya pilih dia gak akan protes, tapi karena sayapun lagi ga punya ide, malah jadi kesel dan bilang: kalau aku tau mau makan apa, ya gak akan nanya lah.

Kata “terserah” ini kadang-kadang memang mengesalkan. Tapi sebenarnya lebih mengesalkan kata terserah yang pertama. Kalau kita bilang terserah dan pasti ikut dengan usulan yang diberikan, ya gak masalah. Atau bisa juga mungkin pertanyaannya diganti biar tidak dapat jawaban terserah.

Lanjutkan membaca “Terserah, tapi…”

Baca Buku: Gadis Jeruk

Buku Gadis Jeruk oleh Jostein Gaarder ini awalnya nemu di ipusnas, tapi ternyata ada juga di Gramedia Digital. Buku terjemahan berbahasa Indonesia ini tebalnya 254 halaman. Buku aslinya berbahasa Norwegia dengan judul Appelsinpiken. Sebelum membaca buku gadis jeruk ini, bulan Agustus 2016 saya juga sudah membaca buku versi bahasa Inggrisnya di Kindle dengan judul The Orange Girl. Kalau menurut keterangan di Kindle, buku versi kindle hanya 168 halaman. Saya tidak tahu kenapa ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia jadi lebih banyak jumlah halamannya. Mungkin karena beda format bukunya. Oh ya, Jonathan juga sudah selesai membaca buku versi bahasa Inggrisnya.

Ringkasan Cerita

Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Georg, berusia 15 tahun, yang berkesempatan membaca surat dari ayahnya yang dituliskan sebelum ayahnya meninggal. Ayah Georg bernama Jan Olav, sudah meninggal sejak dia berumur 4 tahun (11 tahun yang lalu). Jadi bisa dibilang, dia tidak begitu punya banyak kenangan dengan ayahnya. Surat itu ditemukan oleh kakek neneknya ketika bersih-bersih gudang. Suratnya berupa cerita tentang seorang gadis yang diberi nama gadis jeruk oleh ayahnya.

Lanjutkan membaca “Baca Buku: Gadis Jeruk”

Tentang Rasa Khawatir

Tulisan hari ini singkat saja. Sejak 1 Januari 2020, ada banyak kejadian yang tidak begitu baik terjadi di sekitar kita. Mulai dari banjir Jakarta sampai belakangan ini maraknya beredar virus dari Wuhan. Reaksi dan komentar banyak orang tidak akan saya bahas, karena pada dasarnya semua orang khawatir. Respon dan opini yang banyak beredar merupakan cerminan dari rasa khawatir masing-masing orang.

Di Chiang Mai sudah ada beberapa kasus positif virus Corona, dan beberapa masih terduga. Saya tidak akan menuliskan angka dan statistik, tapi intinya ya ada yang sembuh dan ada yang masih dalam perawatan. Bagaimana dengan angka yang diduga? ya biarkan saja ahlinya bekerja untuk menentukan angka-angka tersebut. Tapi yang saya lihat adalah: penyakit ini bisa disembuhkan.

Seminggu ini udara Chiang Mai menjadi dingin lagi. Anak-anak di rumah juga mulai bersin-bersin dan batuk-batuk. Saya sendiri juga mulai tidak enak tenggorokan. Terus apakah saya khawatir kena virus tersebut? Saya lebih khawatir dituduh orang yang papasan di jalan kalau saya menyebarkan virus. Namanya virus, senjata paling ampuh saat ini tentunya istirahat dan mengusahakan supaya kekebalan tubuh bisa menang dari virusnya.

Kekhawatiran dalam hidup ini bukan cuma masalah virus yang marak saja. Pasti ada banyak hal-hal lain yang akan datang silih berganti. Saya ingat, di suatu masa, saya merasakan kekhawatiran yang berlebihan – yang mana saya bahkan sudah lupa apa yang saya khawatirkan saat itu – terus Joe bilang gini ke saya: Yuk kita berdoa, kita serahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Kita lakukan apa yang kita bisa untuk menyelesaikan masalah kita.

Ada banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan, percuma kalau kita khawatir dan akhirnya jadi larut dalam kekhawatiran dan tidak mengerjakan apa yang menjadi bagian kita. Kalau kita sudah berdoa, kita percaya Tuhan akan memberi jalan keluar untuk apa yang kita khawatirkan itu.

Sejak saat itu, setiap saya khawatir, saya akan berdoa dan melakukan apa yang saya bisa lakukan. Untuk kasus virus saat ini, saya percaya sudah banyak ahlinya sedang bekerja meneliti dan berusaha menemukan obat ataupun vaksinnya. Yang saya bisa lakukan saat ini tentunya mengikuti anjuran mengenai menjaga kesehatan dan meningkatkan kekebalan tubuh.

Saya berdoa untuk orang-orang yang saat ini bekerja membantu pasien yang masih dalam masa observasi maupun yang sudah ketahuan sakitnya. Saya kagum dengan dedikasi para dokter dan suster yang tetap mau bertugas padahal pasti keluarganya khawatir juga. Saya juga berdoa semoga orang-orang yang berada di Wuhan dan sekitarnya bisa mendapatkan cukup supply makanan dan minuman yang dibutuhkan selama masa karantina dan semoga penyebaran virus ini bisa berhenti.

Saya tidak akan ikut-ikutan menyebarkan ketakutan mengenai virus ini. Ilmu pengetahuan sudah cukup maju, sudah ada banyak vaksin ditemukan untuk penyakit-penyakit yang pada masa itu mungkin lebih heboh dari virus yang sekarang heboh. Cari berita yang sumbernya jelas, dan tidak meneruskan berita yang gak tau valid atau nggak. Kalau memang nggak tau kebenarannya, lebih baik beritanya berhenti di kamu daripada bikin orang lain ikutan khawatir berlebihan.

Semoga sisa tahun 2020 ini lebih banyak berita baiknya daripada berita yang mengkhawatirkan.

Liburan ke Pantai Atau ke Gunung?

Kalau dulu, ditanyakan ke saya: mau liburan ke pantai atau ke gunung? dengan cepat saya akan menjawab pantai, tapi pantai danau ya, bukan pantai laut.

Tadi pagi, tiba-tiba saya terpikir lagi dengan pertanyaan ini, dan saya tidak bisa menjawab dengan cepat. Ada begitu banyak pertimbangan kalau ke gunung bagaimana, kalau ke pantai bagaimana. Waktu saya tanya ke Joe, dia juga jawabannya: ada pilihan lain gak? pengennya yang datar aja ga harus ekstrim gunung atau pantai.

Kalau Liburan ke Gunung…

Alam pegunungan itu biasanya sejuk dan hijau. Suasananya juga terasa lebih indah dengan kicauan burung ataupun suara aneka hewan yang hidup di alam yang bisa terdengar sesekali. Semuanya membuat suasana terasa lebih santai untuk beristirahat dan melepas penat. Oh ya, ini bukan cerita naik gunung yang hiking ya, tapi ke daerah pegunungan saja. Seperti misalnya ke Doi Inthanon kalau di Chiang Mai.

Doi Inthanon

Pemandangan dari tempat yang tinggi biasanya juga cukup indah. Bisa melihat daerah di sekitar kaki gunung. Salah satu yang saya ingat dari liburan ke daerah pegunungan juga biasanya sayuran dan buah-buahannya semua enak, karena biasanya banyak petani di sekitar daerah pegunungan.

Terus kenapa gak memilih ke daerah pegunungan kalau memang indah, nyaman, sejuk dan semua alasan di atas?

Untuk sampai ke area pegunungan, biasanya kita harus melalui jalanan tanjakan dan berbelok-belok. Jalan menanjak sih gak masalah ya, karena toh kita bukan jalan kaki dan biasanya naik mobil. Tapi belok-beloknya itu loh kadang-kadang yang agak memabukkan. Belum lagi, kalau jalanannya bukan jalan yang mulus ataupun sempit. Rasanya agak ngeri gak sih kalau lewat jalan kecil dan berliku dengan kanan kiri itu jurang?

Biasanya, sinyal hp di gunung juga kurang bagus, apalagi kalau gunungnya bukan tempat yang sudah ada bts provider yang kita gunakan hehehe. Lah katanya mau liburan, kok mikirin sinyal sih? ya, kan walau liburan kita tetap butuh akses internet buat nonton film santai-santai. Ah kalau mau nonton film di rumah aja sana, gak usah ke gunung! Banyak alasan aja ya hehehe.

Kalau Liburan ke Pantai…

Waktu kecil, setiap liburan kenaikan kelas, saya pasti diajak orangtua saya ke Danau Toba. Sepertinya, karena liburan ke Danau Toba inilah saya selalu kepikiran liburan ke pantai itu menyenangkan. Untuk mencapai lokasi pantainya, tentunya harus melewati gunung dulu, lalu turun lagi. Jadi sama aja dong dengan ke gunung? nggak juga, karena setelah sampai di bawah, kita bisa dapat pemandangan ya pantai, ya gunung. Jadi pemandangannya terasa lebih indah.

Danau Toba tahun 2008

Walaupun dari kecil sampai lulus SMA saya tinggal di Medan, dan Medan itu adalah kota yang ada pelabuhannya, saya tidak pernah ke pantai laut. Pantai yang saya kenal itu ya pantai dari Danau Toba.

Saya senang ke Danau Toba untuk bermain air, berenang di danau, naik sepeda air, speed boat dan pernah belajar naik soluh (sejenis canoe). Selain itu tentunya makan indomie rebus, ikan bakar, mangga kecil-kecil (gak tau namanya apa) dan ya senang aja dengan semilir angin yang berhembus sepanjang hari yang terasa sejuk. Pulang dari Danau Toba biasanya kulit pada gosong dan mengelupas hehehe.

Pertama kali ke pantai laut itu waktu jalan-jalan kelas 2 SMA ke Parang Tritis. Nah, melihat deburan ombak yang keras dan angin yang terasa lengket di kulit, tidak ada keinginan untuk main air sedikitpun. Main pasir aja rasanya ogah. Sejak itu, keinginan untuk bermain ke pantai berkurang.

Sampai sekarang, setelah beberapa kali liburan ke pantai laut seperti Bali, Pattaya, Ancol dan Phuket, perasaan tentang pantai laut tetap sama. Saya hanya senang melihat-lihat saja, tidak ada keinginan berenang atau bermain air. Tidak ada keinginan untuk menghabiskan waktu seharian bermain air.

Pantai di Phuket

Saya mulai agak takut dengan pantai laut sejak banyak bencana tsunami. Tapi ya ketakutan ini gak bikin jadi gak mau ke pantai laut sama sekali sih. Namanya bencana bukan hanya terjadi di laut saja, jadi kalau ada kesempatan berlibur ke pantai laut, ya dinikmati juga dan lupakan takutnya.

Jadinya Pilih ke Mana?

Karena Chiang Mai jauh dari pantai, ya sekarang ini kami cukup senang dengan jalan-jalan sekitar kota Chiang Mai yang waktu tempuhnya tidak terlalu lama. Kalaupun ada waktu, ya libur ke gunung atau ke pantai sama menyenangkannya untuk melihat pemandangannya, tapi tidak ada perasaan lebih ingin ke salah satunya.

Kalau mau libur ke gunung ataupun ke pantai, yang jelas tidak dilakukan di musim hujan. Musim hujan mendingan kita ke mall aja deh daripada gak bisa enjoy hehehe.

Satu hal yang paling penting juga, kalau mau liburan ke manapun, sekarang ini yang perlu dipertimbangkan adalah anak-anak. Mereka perlu melihat gunung, pantai, danau, lembah, sungai, hutan, tapi ya tentunya diperkenalkan sesuai dengan kesiapan mereka menerimanya.

Untuk sekarang ini, kami belum menanyakan ke anak-anak lebih suka ke gunung atau pantai, kami yang memutuskan untuk membawa berganti-ganti supaya mereka mempunyai pengalaman di berbagai tempat. Karena kalau ditanya, jangan-jangan jawabannya malah: di rumah aja lebih enak hahahaha.

Baca Buku: The Subtle Art of Not Giving a F*ck

Baca buku ini sudah lama, maksudnya sudah lama mulai dan akhirnya selesai tahun lalu. Waktu itu mau nulis tentang buku ini, tapi karena sudah banyak yang nulis, malah jadi menunda. Tapi dipikir-pikir, ada baiknya menuliskan sendiri apa yang diingat dari buku ini.

Buku ini sebenarnya tidak tebal, cuma 224 halaman dan terdiri dari 9 chapters. Joe sudah membacanya duluan dan merekomendasikannya ke saya. Awalnya saya agak enggan membacanya karena buku ini kategori self help dan bahasanya terasa kurang sopan. Oh ya, kalau tidak salah, buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang lebih sopan menjadi: Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat. Masalah judul dan bahasa di awal yang terasa agak kasar itu yang bikin saya gak bisa fokus membacanya. Saya membaca versi e-booknya yang dibeli Joe di Google Playbook.

Biasanya, judul buku dalam kategori self help merupakan cerminan dari isi bukunya. Ternyata di buku ini, berbeda dengan buku self help lainnya, walaupun isinya mungkin mirip-mirip juga dengan isi buku self help lainnya. Bedanya, kalau buku self help lain tipenya selalu meyakinkan kamu pasti bisa! Kamu pasti berhasil. Tapi buku ini lebih realistis bahwa hidup ini tidak selalu indah, butuh usaha dan kerja keras kalau mau berhasil, dan tidak semua orang bisa jadi pemenang dan nomor 1.

Jadi sebenarnya gimana sih seni untuk bersikap bodo amat? Apa maksudnya kita cuek aja gitu kayak bebek, gak usah mikirin apapun di dunia ini dan hidup seenaknya?

Seperti saya sebutkan, sudah banyak yang membuat review dan kesimpulan dari buku ini, jadi saya akan menuliskan hal-hal yang walaupun saya sudah tahu, tapi masih bisa membuat saya mengangguk-angguk dan seperti menemukan hal baru.

Pilih yang Terpenting Dari yang Penting

Di bukunya sih disebut, kita harus bisa memisahkan apa yang penting dan tidak penting. Kita gak usah pusing dengan hal-hal yang gak penting, tapi fokus dengan hal yang penting saja. Tapi saya malah jadi teringat dengan pesan orangtua saya dari saya kecil.

Saya bukan berasal dari keluarga yang berlebih. Mama saya Pegawai Negeri Sipil, Papa saya Karyawan Swasta. Walaupun kami hidupnya gak susah-susah amat, tapi kami tidak punya kemewahan untuk membeli berbagai hal yang mungkin pada masa itu lagi trend. Orang tua saya selalu mengajarkan: banyak yang penting, tapi beli yang paling penting. Jadi dari kecil, saya sudah diajarkan untuk membuat skala prioritas kebutuhan. Saya ingat dulu waktu kakak saya minta dibelikan sepeda mini, papa dan mama saya suruh kami bikin proposal dulu kira-kira kenapa mereka butuh sepeda mini dan apa gunanya.

Buku ini bukan masalah keuangan saja, tapi secara umum dalam hidup ini kita harus bisa memilah-milah dan mengkategorikan apa hal yang penting untuk kita pikirkan, dan sisanya cuekin saja. Setiap orang sudah punya porsi masing-masing, kalau jadi ibu rumah tangga ya prioritaskan tugas jadi ibu rt. Kalau lagi jadi ibu guru pas homeschool anak, prioritaskan menjadwalkan dan memeriksa kegiatan homeschool. Setiap orang punya porsi masing-masing, makanya saya menghindari komentar di sosial media untuk hal-hal yang bukan urusan saya.

Hidup ini Penuh Pilihan

Dari mulai bangun pagi sampai mau tidur, kita harus memilih. Tidak semua pilihan kita sesuai dengan harapan. Banyak hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup kita, tapi kita selalu bisa untuk memilih bagaimana respon kita terhadap apa yang terjadi (ini sering banget nih muncul di banyak buku self help). Dengan kata lain: kendalikan diri dan jangan terlalu reaktif kalau ada hal yang tidak kita harapkan terjadi.

Kadang-kadang kita merasa kesal dengan sikap seseorang ke kita, tapi kalau dipikir-pikir, pilihan kita untuk merasa kesal itu tidak akan mengubah sikap orang tersebut. Kita tidak punya kendali terhadap orang lain. Jadi kalau ada orang yang mengundang kekesalan mending dicuekin aja alias gak usah dipikirin. Kita bisa memilih untuk tidak merespon orang tersebut dengan perasaan kesal.

Masalah pilihan ini ada lagi bagian yang menarik. Dulu saya pernah dengar ada yang bilang ke saya, kalau mencari pasangan itu sebaiknya kita koleksi dulu baru seleksi. Katanya kalau semakin banyak koleksi kita bisa membanding-bandingkan untuk mendapatkan pilihan terbaik. Tapi sebenarnya ajaran itu salah! Semakin banyak pilihan, akhirnya kita semakin bingung dan gak jadi-jadi memilih.

sumber dari JimBenton.com

Contohnya ya, kalau kita buka Netflix dan belum tahu mau nonton apa, kita lihat-lihat ada film apa saja yang ada. Terus tak terasa, kita menghabiskan waktu beberapa jam untuk memilih dan akhirnya malah tidak jadi nonton karena harus melakukan hal lain. Coba kalau misalnya kita sudah tahu sebelumnya kalau kita mau nonton film yang sudah masuk Netflix, kita bisa langsung nyalakan dan dalam waktu 2 jam selesai deh nontonnya.

Prinsip: Do Something

Menulis blog setiap hari itu tidak selalu mudah. Walaupun tahun 2019 sudah banyak menulis dan hampir setiap hari, sampai sekarang tetap saja saya masih sering bingung mau nulis apa ya? Padahal sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin dituliskan, tapi ya kadang-kadang kalah dengan rasa malas atau rasa-rasa lain yang akhirnya ga jadi nulis. Padahal harusnya mulai saja menulis, mulai dengan 1 kalimat, lalu jadi paragraph. Kalau idenya mentok, mungkin bikin tulisan lain lagi, atau kadang-kadang tidak terasa jadi tulisan terlalu panjang yang bikin orang lain malas baca hahaha.

Prinsip ini bukan hanya untuk menulis. Dalam hidup, ketika kita menghadapi tantangan dan bingung mau ngapain, sebaiknya lakukan sesuatu, jangan diam saja atau bengong. Karena kalau kita diam saja dan tidak melakukan sesuatu, tidak ada aksi dan tidak akan ada motivasi. Tapi kalau kita melakukan sesuatu dan melihat hasil dari sesuatu yang kita kerjakan itu, biasanya kita jadi dapat motivasi maupun inspirasi untuk menyelesaikan tantangan yang kita hadapi.

Lakukan sesuatu, mulai dari hal yang paling sederhana. Melakukan sesuatu lebih baik daripada diam saja.

Selesaikan Masalah Masing-Masing

Setiap orang punya porsi masalah masing-masing. Masalah itu tanda-tanda kita masih hidup hehehe. Kita tidak bisa berharap orang lain menyelesaikan masalah kita dan kita juga ga usah ikut campur sama masalah orang lain. Kita tidak bisa membantu orang yang tidak membantu dirinya sendiri.

Kita bisa membantu orang yang minta bantuan, tapi tentunya yang minta bantuan harus lebih aktif menyelesaikan masalahnya. Nah kalau gak diminta bantuan gimana? ya kalau gak diminta bantuan kita selesaikan urusan sendirilah.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya buku ini apa? Kalau saya melihatnya, buku ini berusaha mengingatkan kita lagi untuk menentukan prioritas dalam hidup. Kita perlu menyaring informasi yang kita terima, apalagi di sosial media, gak usah semuanya mau dikomentari. Kita perlu memilih lingkungan pergaulan kita. Kita perlu fokus dengan apa yang sudah menjadi komitmen kita. Kita tetap melakukan sesuatu untuk menyelesaikan persoalan dan tantangan dalam hidup kita. Selain hal-hal yang sudah kita tetapkan menjadi prioritas kita, ya cuekin aja. Bersikap bodo amat terhadap hal-hal yang tidak dalam prioritas kita itu perlu loh, daripada akhirnya jadi pusing sendiri.

Selamat Tahun Baru 2020: Tetap Bersyukur

Setelah beberapa hari tidak menulis, dan setelah liburan akhir tahun 2019 kemarin, ada banyak sekali yang ingin dituliskan di blog ini. Tapi ijinkan saya mengucapkan selamat memasuki tahun 2020 kepada teman-teman yang mampir ke blog ini.

Sedikit oleh-oleh dari liburan akhir tahun ke Sukothai dan Si Satchanalai kemarin adalah: kita tidak tau apa yang ada di depan kita, sampai kita menjalaninya. Kadang ketika melihat rintangan, ada perasaan takut dan ingin berhenti atau berbalik arah. Tapi kalau kita jalani bersama-sama, ada perasaan lebih berani untuk menjalaninya. Dan ketika kita sampai di tujuan, ada perasaan bangga dengan diri sendiri karena sudah mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran, walaupun mungkin tempat tujuan itu belum tentu super indah seperti yang kita pikirkan sebelumnya.

Apapun hasil dari perjalanan kita, tetap bersyukur karena kita sudah mengalahkan rasa takut dan selamat sampai tujuan. Bersyukur kita tidak kalah sebelum bertarung. Perjalanannya tidak kalah penting dari tujuannya.

Bersiap-siap untuk petualangan di Si Satchanalai Historical Park dengan sepeda

Aduh jalan-jalan apa meditasi sih kemarin itu ya hahaha. Jadi begini latar belakang renungan di atas. Alkisah, kami ke salah satu tempat wisata historical park tanpa membaca buku panduan terlebih dahulu. Seperti semua orang, kami memutuskan sewa sepeda untuk keliling historical park nya.

Kami mengikuti jalur yang banyak orangnya saja. Terus eh, kok di depan ada tanjakan dan ada larangan menaiki sepeda sambil menanjak. Kalau mau naik, kita harus menuntun sepeda kita atau tinggalkan saja di bawah.

Larangan menaiki sepeda sambil menanjak

Awalnya sempat ragu-ragu untuk naik ke atas tanjakan. Kami kuatir waktu turun malah lebih susah lagi, atau takut masih jauh dan ada tanjakan berikutnya. Takut kecewa juga kalau tujuannya tak seberapa indah. Kepikiran juga apa sebaiknya sepedanya ditinggalkan saja di bawah dan jalan ke atas.

Karena sama-sama tidak tahu berapa jauh lagi lokasi tujuan setelah tanjakan itu, kami memutuskan menuntun sepeda ke atas tanjakan. Lebih baik bersiap-siap, siapa tahu masih jauh tujuannya.

Keliatan gak tanjakannya? di foto sepertinya gak seberapa ya

Ternyata, setelah menuntun sepeda dengan susah payah, masih ada tangga lagi untuk naik ke atas. Setelah berhasil membawa sepeda sambil jalan menanjak, rasaya naik tangga tidak seberapa. Tapi alamak, ternyata botol minum yang saya bawa isinya hanya setengah dan Joe tidak bawa minum sama sekali. Tapi dengan ada yang sedikit itupun masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

Sampai di atas, Joe yang mendorong sepeda naik sambil bawa Joshua di boncengan sepeda udah mau pingsan sepertinya hahaha. Tapi ya setelah istirahat beberapa menit, akhirnya bisa menikmati pemandangan dari ketinggian. Tentunya walaupun tidak terlihat ketinnggiannya berapa, penting banget buat foto di sana haha.

Setelah beristirahat, baru deh bisa senyum pas di foto

Kalau tenaga sudah terkumpul, siapa takut untuk naik lebih tinggi lagi. Akhirnya Joe dan Joshua naik ke atas reruntuhan templenya juga. Waktu saya bilang ke Joshua: I’m so proud of you Joshua, terus Joshua jawab: I’m so proud of you too mama. Iya saya bangga Joshua mau duduk manis di sepeda walau sebelumnya gak biasa dibonceng sepeda. Nggak ngeluh walau panas-panasan matahari. Mau naik tangga dengan semangat walau sampai atas mukanya merah kepanasan. Semangat buat eksplorasi tempat baru walau belum sepenuhnya mengerti tempat apa ini.

Udah sampai atas, naik sampai atas lagi deh

Perjalanan turun tidak sesulit perjalanan naik karena kami memutuskan kembali ke arah kami datang. Kalau saja kami sudah tahu sebelumnya, mungkin kami akan memutuskan meninggalkan saja sepeda di bawah. Kalau kami sudah tahu sebelumnya, mungkin kami juga akan memutuskan untuk tidak usah naik saja karena tanpa sepedapun tanjakannya lumayan terjal.

Pesan lainnya: ketidak tahuan bisa membuat kita lebih berani dan mencoba dengan lebih gigih. Kalau sudah tahu dan tetap ingin menjalani, bisa membuat kita lebih bersiap-siap dengan membawa minuman lebih banyak atau tidak perlu bawa sepeda naik karena pasti akan turun lagi.

Tahun 2020 ini dimulai dengan berbagai berita yang tidak semuanya membahagiakan. Di Jakarta, kakak saya (dan banyak penduduk di berbagai area Jakarta) rumahnya dan mobilnya terendam banjir. Beberapa orang lagi liburan keluar kota, dan tidak tahu bagaimana nasib rumahnya.

Di Chiang Mai, polusi sudah dimulai sejak akhir tahun lalu dan entahlah akan membaik atau tidak. Di Australia, musim kering membuat banyak semak-semak terbakar dan hampir seluruh daerah dilanda asap. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi di depan kita. Tapi untuk semua hal yang akan datang, mari kita hadapi bersama dengan berani dan tidak cepat menyerah.

Tetap bersyukur untuk semua hal yang akan kita hadapi di tahun 2020 ini.