Masalah Orang Kaya

Belakangan ini ada 2 hal yang sering jadi konten dan pertanyaan di sosial media saya. Pertama tentang kebijakan untuk orang asing yang masuk ke Thailand harus bawa duit cukup selain tiket pulang dan pemesanan akomodasi dan hal lain tentang kebijakan baru dari bea cukai Indonesia yang membatasi berbagai barang bawaan yang berlebihan dan katanya akan dikenai pajak atau malah disita.

Kenapa saya sebut masalah orang kaya? Karena sebenarnya aturan itu tidak akan menjadi masalah untuk yang tidak berencana belanja banyak ataupun jalan-jalan ke luar negeri termasuk ke Thailand.

Kenapa Traveling Harus Punya Dana Cukup?

Sebagai yang tinggal di Thailand, saya sebenernya sepakat untuk aturan turis yang masuk ke Thailand harus punya tiket buat pulang dan uang yang cukup untuk hidup di sini. Selalu ada saja memang usaha orang untuk menetap secara ilegal di negara yang mungkin dianggapnya bisa menampungnya.

Tetapi ketika ada konten yang bilang kalau memang sebaiknya bawa cash karena kebanyakan hal dibayar dengan cash di Thailand, menurut saya ini nggak benar. Saya bisa membeli air minum seharga 15 baht dan membayar dengan scan QRCode. Di Thailand ini, hampir semua penjual sudah menyediakan QRCode untuk discan.

Belakangan ini kabarnya Indonesia sudah bekerjasama dengan beberapa bank di luar negeri supaya bisa membayar dengan scan seperti QRIS juga. Saya pernah mencoba menggunakan bank BCA, tetapi memang terkadang bisa juga proses scannya gagal bayar sehingga punya uang cash itu akan berguna, walau tentu saja tidak perlu bawa sebesar 15000 baht. Apalagi kalau misalnya mau liburan sekeluarga dengan 2 anak, rasanya agak berlebihan kalau harus bawa 60ribu baht dalam bentuk cash.

Intinya memang, kalau kita mau traveling ke manapun, pastikan saja kita sudah punya tiket untuk pulang, sudah membooking tempat untuk tinggal dan juga tentunya punya dana yang cukup untuk biaya hidup selama perjalanan. Mau itu jalan-jalan sebagai backpackers ataupun sekedar mau belanja-belanja, tentunya kita bisa tunjukkan saja bukti kalau kita pasti akan kembali ke negeri asal dan mampu membiayai hidup selama berkunjung ke negeri yang kita kunjungi. Rasanya ini aturan bukan hanya untuk Thailand, tetapi berkunjung ke negeri manapun, nggak mungkin kita cuma bawa tiket berangkat dan ga punya dana ekstra.

Tidak ada negara yang suka kalau ada orang asing yang datang dan nggak mau pulang-pulang tapi malah menyusahkan karena misalnya saja karena nggak punya duit untuk hidup malah jadi tanggungan negara. Rasanya ini jelas ya kenapa kalau mau traveling harus punya dana cukup untuk hidup dan untuk pulang.

Pulang dari Luar Negeri Masuk Indonesia Barang Bawaan Dibatasi?

Sumber: https://www.antaranews.com/infografik/4009455/pembatasan-barang-impor-di-bandara-soekarno-hatta

Ada aturan baru dari bea cukai Indonesia yang membatasi barang bawaan masuk ke Indonesia yang katanya hanya boleh 5 potong baju, 2 buah tas, 2 sepatu, 2 ponsel dan gawai tidak lebih dari 1500 USD. Kalau lebih boleh, asal bersedia bayar pajak. Semuanya ini jelas menunjukkan kalau pembatasan ini terutama ditujukan karena ada banyak bisnis jasa titip.

Bagaimana dengan orang kaya yang suka shopping spree? Melepas stress dengan belanja barang branded ke luar negeri? Emang cukup cuma beli 2 sepatu? Atau ada yang bilang: Jadi apa gunanya bagasi 30 kg dari penerbangan kalau nggak dimanfaatkan dengan isian belanja? Kalau memang udah kaya, nggak dilarang kok belanja-belanja, asal pas kembali ya bayar pajak aja.

Buat saya pribadi, karena katanya untuk orang Indonesia yang kerja di luar negeri, ketika mudik pun aturan ini berlaku. Yang agak sulit itu masalah gawai, hehehe. Harga ponsel saya satunya memang nggak sampai 1500 USD, tapi saya kasian kalau ada yang pakai iPhone keluaran terbaru, pasti harganya lebih dari itu. Apalagi di Indonesia kan sudah dibatasi dengan harus mendaftarkan IMEI kalau mau ponselnya bisa menggunakan nomor lokal.

Masalah IMEI ini banyak yang menyelesaikan dengan tidak menggunakan nomor lokal tetapi cukup dengan mencari koneksi internet saja dan toh semua akan bisa dilakukan dengan koneksi internet melalui pesan instan. Lagipula sekarang ini, sudah sangat jarang orang melakukan panggilan ke nomor ponsel, biasanya yang dilakukan itu ya menelpon ke WhatsApp atau pesan instan lainnya.

Kesulitan berikutnya adalah bagaimana kalau diaspora lagi mudik tetapi sambil bawa kerjaan? Misalnya saja waktu pulang 2 tahun lalu, kami perlu ke Yogya untuk kegiatan Olimpiade Informatika Internasional. Kedatangan kami itu sebagai volunteer jadi nggak ada surat dinas pastinya. Joe perlu bawa 2 laptop yang mana 1 adalah laptop yang dia persiapkan sesuai spesifikasi untuk kegiatan lomba dan satu lagi laptop pribadinya yang biasa dia pakai kerja sehari-hari. Mungkin bisa saja karena kami waktu itu pulang sekeluarga, tidak dipermasalahkan karena bisa disebut itu bawaan saya salah satunya. Tetapi ini bisa jadi potensi masalah kalau misalnya Joe harus berangkat sendiri dan membawa beberapa laptop.

Masalah yang bukan masalah

Sebenarnya, seandainya tidak ada bisnis jastipers yang sudah sangat banyak seperti sekarang, dan seandainya semua orang membawa barang sewajarnya, aturan-aturan ini tidak akan perlu dikeluarkan. Lagipula, berapa persen sih orang Indonesia yang sering traveling ke Thailand? Atau berapa persen sih orang yang mundar-mandir untuk belanja di luar negeri dan selalu membawa barang puluhan ribu dolar? Hanya orang kaya yang bisa melakukan itu, karena kalau nggak kaya, boro-boro bawa oleh-oleh, mikirin mau ke luar negeri aja nggak.

Bagaimana dengan diaspora yang mau mudik, kan jadi nggak bisa bawa oleh-oleh? Lah emang kalau dah menetap bertahun-tahun di luar negeri, setiap pulang masih bawa oleh-oleh? Ya kalau pun mau bawa oleh-oleh, bawa sewajarnya aja, jangan sampai kayak kasus makanan dari Thailand yang total sampai 1 ton dan akhirnya jadi disita karena terlalu banyak.

Saya yang bertahun-tahun tinggal di Thailand, nggak pernah dengar tentang roti yang viral ini. Saya baru tahu kalau ini laris jadi lahan jastipers ya setelah baca berita dimusnahkannya barang ini oleh bea cukai Indonesia.

Well memang sih, sebagai yang sering disuruh buka koper padahal isinya cuma baju yang dipakai, terkadang berasa sebel karena koper kita dicoret kapur, terus disuruh buka dan memperlama proses sampai ke tujuan. Tetapi masih bersyukur cuma dicoret kopernya, daripada dibuka paksa seperti kasus yang sering terjadi, atau malah ada yang kopernya hilang? Jadi ya sudahlah, ini bukan masalah besar.

Saya cuma agak heran kenapa sampai banyak sekali konten tentang hal ini di sosial media. Mungkin juga yang ada di sosial media ini ya orang kaya yang udah kebanyakan waktu luang dan mikirin mau belanja apa lagi berikutnya ya, hehehe.

Daripada ribet mikirin harus lapor barang biar ga bayar pajak pas kembali, ya udahlah liburan dalam negeri aja. Indonesia cukup luas kok untuk dijelajahi. Atau kalau sudah cukup kaya untuk jalan-jalan ke luar negeri, ya udah bayar pajak ketika kembali kalau memang belanja super banyak.

Kalau saya sih mikirnya, semoga saja aturan ini memang berlaku untuk menertibkan yang nggak tertib. Dan semoga hasil pajak yang dipungut memang digunakan dengan benar dan bukan masuk ke kantong oknum.

Penulis: Risna

https://googleaja.com

Satu tanggapan pada “Masalah Orang Kaya”

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.