24 November 2003

Hari itu merupakan hari terakhir di bulan puasa di tahun 2003. Karena perkuliahan sedang libur, aku memutuskan untuk jalan-jalan ke rumah sepupuku Dea yang ada di Depok. Joe, teman kuliahku S2 saat itu juga berencana pulang ke rumah orangtuanya di Depok. Aku belum pernah naik bis ke Depok. Biasanya kalau ke Jakarta, aku akan naik kereta api dan berhenti di Gambir. Tapi, naik bis AC biayanya lebih ekonomis daripada naik kereta api, dan relatif lebih cepat juga. Jadilah kami naik bis bareng dari Bandung ke Depok pada hari itu.

Foto iseng di dalam bis dari tempat kami duduk

Setelah bertanya ke sepupuku, katanya sih ada angkot kok dari terminal bis Depok ke rumahnya. Selain itu, dia juga meyakinkan kalau mamanya akan datang ke terminal bis Depok untuk menjemputku. Sepupuku sedang sakit waktu itu, jadi memang tidak mungkin mengharapkan dia yang datang ke terminal bis kan? Jadi memang, rencana ke Depok itu selain karena memang lagi libur, dia juga sedang berulang tahun dan sakit. Ya semualah jadi satu.

Sepupuku Dea ini aku kenal setelah kami sama-sama kuliah di Bandung. Tapi walaupun aku sudah tahu dia ada di kampus yang sama sejak tahun 1996, kami baru ketemu sepertinya sekitar tahun 2000. Aku ingat, waktu itu aku sudah hampir lulus Sarjana. Dia termasuk salah satu yang menyemangatiku dan datang menyelamatiku ketika aku lulus jadi Sarjana. Kami bukan sepupu kandung, tapi sepupu karena oppung kami kakak beradik. Jauh banget ya persaudaraannya, tapi di orang Batak sih yang begini masih dekat banget.

Kembali ke tujuan cerita semula. Aku bilang ke Joe kalau aku mau ke Depok mengunjungi Dea sepupuku. Joe belum pernah ketemu sama Dea rasanya waktu itu. Entah memang dia sudah rencana sebelumnya, atau karena tau aku mau ke Depok, dia juga bilang kalau dia juga mau pulang ke Depok. Jadi dia mengajak naik bis bareng. Lumayan deh ada temennya.

Singkat cerita, kami berangkat bareng ke terminal Leuwi Panjang. Joe bawa buku novel “Jomblo” yang bercerita tentang kisah anak kuliah yang rasanya sih settingnya bisa dibilang sepertinya dari kampus kami. Jadi sepanjang perjalanan aku membaca buku itu dan sesekali sambil membahas isi bukunya dengan Joe.

Ada kejadian memalukan di bis. Mungkin karena AC yang terlalu dingin, atau karena membaca buku di atas bis yang berjalan, aku jadi mual dan malah muntah, untung punya kantong plastik dan tidak sampai berantakan kemana-mana. 

Joe iseng moto aku di Bis

Oh ya, ada bagian yang aku lupa ceritakan, sebelum hari kami naik bis bareng ini, Joe pernah bilang kalau dia mau jadi pacarku, tapi aku belum memberikan jawaban karena aku bilang aku ga nyari pacar, tapi nyari calon suami. Terus dia bilang juga kalau dia mau jadi calon suamiku, tapi aku bilang lagi, tapi aku nyarinya ga akan nikah cepet-cepet, aku mau pacaran dulu minimal 1 tahun.

Hahaha, dipikir-pikir aku bawel banget ya, udah gak ngasih jawaban, terus kebanyakan syarat. Terus pas pergi naik bis bareng, malah muntah pula di jalan. Gak ada jaim-jaimnya nih jadi wanita.

Sebenarnya, alasan aku belum memberikan jawaban ke Joe adalah karena dia bukan orang Batak dan aku lebih tua darinya. Selain alasan itu, sebenarnya aku cukup merasa nyaman buat ngobrol berbagi cerita dengannya, dan yang terutama, aku ga merasa harus jaga image atau menjadi orang lain. Mungkin waktu itu ada sedikit perasaan gak percaya diri ya kalau ada pria yang lebih muda suka sama wanita yang lebih tua.

Setelah sampai Depok dan bertemu dengan sepupuku Dea, kami ngobrol panjang lebar. Terus, mamanya Dea yang menjemputku di terminal bis Depok cerita ke Dea kalau dia melihat aku bareng cowok ganteng (aduh Namboruku itu tau aja yang ganteng ya).

Dea langsung penasaran dong, siapa itu pria yang bersamaku dari Bandung ke Depok. Awalnya sih aku cuma bilang kalau Joe itu teman kuliahku. Tapi Dea memang sepupu yang mengenalku sangat baik, dia tau kalau aku ga akan naik bis bareng dari Bandung ke Depok dengan cuma teman biasa. Jadilah aku akhirnya cerita ke Dea, kalau sebenarnya si Joe itu suka sama aku, tapi akunya yang masih ragu-ragu.

Entah apa alasannya, Dea langsung meyakinkan aku kalau Joe itu pasti jodohku. Padahal ya, dia itu belum pernah ketemu Joe, dan dia tau Joe cuma dari apa yang kuceritakan ke dia saja. Kok bisa-bisanya dia tau kalau Joe itu cocok buatku, hehehe.

Aku sudah lupa waktu itu Dea ngomongnya apa saja, tapi tiba-tiba aku pikir ada benarnya. Eh, aku baru mikir, tau-tau Dea ngirim SMS ke Joe pakai ponselku nyuruh Joe nelpon aku ke rumahnya. Hahaha, ampun deh mengingatnya saja bikin aku senyum-senyum sendiri menuliskan hal ini.

Anyway, setelah berkenalan dengan Joe selama 30 hari makan siang dan kadang-kadang makan malam bareng hampir setiap hari. Akhirnya aku menerimanya jadi pacarku, waktu itu catatannya ada beberapa, antara lain pertama kami kenalan dulu sebelum mengenalkan ke orang tua. Kalau orangtua gak setuju, harus meyakinkan orangtua sampai setuju, hehehe. Terus gak boleh ngomong putus dengan sembarangan, tapi kalau memang merasa ga cocok, ya udah putus aja, tapi gak boleh minta sambung lagi. Karena cinta bukan kabel yang bisa putus sambung pake lakban, hehehe.

Singkat cerita, setelah pacaran beberapa tahun dan mendapat ijin dari orang tua, demikianlah akhirnya kami menikah 27 Januari 2007, dan kami hidup bahagia sampai sekarang dengan 2 anak yang lucu-lucu, dan semoga tetap bahagia sampai kami menua bersama.

Selamat 17 tahun jadi pasanganku Yohanes Nugroho. Terimakasih sudah mencintaiku dan menjadi suamiku. Semoga kita tetap bahagia selamanya. Amin.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.