Meneruskan Blog Lama atau Bikin Blog Baru?

Saya mengenal blog dari sejak tahun 2002. Blog ini bukan blog pertama saya. Sebelum menulis bareng Joe, kami masing-masing punya blog sendiri. Setelah punya blog bersama ini, kami juga masih punya halaman sendiri-sendiri. Kami juga pernah menulis untuk blog anak-anak kami. Sekarang ini, saya dan Joe menulis hanya di blog bersama ini.

Beberapa blog yang sudah lama tidak diupdate
Continue reading “Meneruskan Blog Lama atau Bikin Blog Baru?”

Game “Human Resource Machine” dan “7 Billion Humans”

Dari dulu, yang suka main game di rumah kami itu Joe, walaupun dia bukan pemain game serius yang tidak bisa berhenti main game. Saya pernah suka main game The Sims, tapi sudah lama pensiun main game karena kalau sudah mulai main saya susah berhenti.

Game yang sering dipilih Joe seringnya tipe puzzle. Salah satu game yang paling jadi favoritnya Seri Game Professor Layton. Game Professor Layton ini tipenya ada cerita misterinya dan juga memecahkan persoalan dengan berpikir komputasi.

Salah satu game yang juga pernah dimainkan Joe namanya Human Resource Machine. Game ini menggunakan konsep pemrograman sederhana dan menggunakan animasi yang lucu.

Contoh Puzzle Human Resource Machine
Continue reading “Game “Human Resource Machine” dan “7 Billion Humans””

Jauh di Mata, Dekat di Hati

Pertama kali saya merantau jauh dari orang tua dan keluarga itu ketika saya diterima kuliah di Bandung. Saya butuh waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan teman-teman baru. Masa itu akses internet belum seperti sekarang yang tersedia dalam genggaman setiap orang. Ponsel pun masih belum seperti sekarang yang menjadi hal yang sepertinya bawaan wajib setiap orang.

Nasib Perantau Masa Kuliah

Setiap hari Jumat, beberapa teman yang berasal dari Jakarta terlihat sangat antusias untuk pulang ke rumahnya. Mereka bilang, kangen sama keluarga, kalau ga sama keluarga ya janjian sama teman SMA. Pulang itu hal yang mudah buat mereka, tinggal pilih mau naik bis atau kereta api, atau ada juga yang punya mobil pribadi gantian nyetir dengan teman-teman ke Jakarta.

Pulang itu suatu kemewahan buat saya. Pilihan untuk pulang dari Bandung itu harus naik kereta api atau bis dulu ke Jakarta, lalu naik pesawat dari Jakarta ke Medan. Bisa juga naik kapal laut dari Jakarta, tapi tentunya akan memakan waktu lebih lama lagi tiba di Medan.

Perjalanan dari Bandung ke Medan membutuhkan waktu kurang lebih setengah hari. Waktu itu belum seperti sekarang ada rute pesawat terbang dari Bandung langsung ke Medan. Berangkat subuh dari Bandung, terkadang tibanya malam sampai di rumah Medan.

Perjalanan dari Bandung ke bandara Soekarno Hatta waktu itu paling cepat 3 jam, menunggu pesawat datang sampai benar-benar duduk di pesawat bisa 2 atau 3 jam. Penerbangan Jakarta – Medan sekitar 2,5 jam, lalu proses turun dari pesawat ambil bagasi dan sebagainya bisa memakan waktu 30 menit lagi. Kalau di total perjalanan dari Bandung sampai Medan butuh 10 jam.

Nasib Perantau Setelah Menikah

Awal kami tinggal di Chiang Ma, perjalanan pulang ke Indonesia masih sangat sedikit pilihannya. Paling cepat perjalanan dari rumah di Chiang Mai sampai ke rumah tujuan di Depok atau Medan itu membutuhkan waktu 12 jam. Terkadang kami malah harus menginap dulu di Kuala Lumpur atau Singapura sebelum melanjutkan perjalanan berikutnya.

Menjadi perantau selama puluhan tahun, akhirnya mengajarkan saya untuk tidak cengeng dengan alasan rindu. Pulang itu mahal, jadi saya tidak pernah menuruti perasaan ‘homesick’ dan berkata ke diri sendiri walau mereka jauh di mata, toh dekat di hati.

Pilihan untuk membayar kerinduan waktu itu hanya melalui surat atau pergi ke warung telepon untuk ngobrol sebentar dengan orangtua. Kenapa sebentar? ya kalau lama-lama mahal, kalau mau murah teleponnya harus di atas jam 11 malam, tapi kan tidak baik kalau keluyuran tengah malam sendirian. Lagipula, kalau ngobrolnya lama akhirnya bayarnya mahal. Ngobrol sambil melihat angka-angka yang harus dibayar bergerak naik itu rasanya jadi tidak fokus.

Saya ingat, waktu itu menelepon dengan sambungan jarak jauh hanya saya lakukan untuk menelepon orang tua saya. Untuk komunikasi dengan teman-teman saya gunakan surat biasa. Menulis surat bisa berlembar-lembar, sampai pegal rasanya menuliskannya. Waktu balasannya datang, saya sudah lupa, waktu itu nanya apa aja ya, hehehe.

Itu semua usaha yang dilakukan dahulu, untuk tetap terhubung dengan teman dan keluarga yang jauh di mata supaya tetap dekat di hati. Saat ini, dengan adanya koneksi internet dan ponsel pintar, komunikasi itu ada dalam genggaman. Kapan saja di mana saja, bisa kirim pesan teks ataupun telepon suara, bahkan bisa dengan saling melihat wajah melalui panggilan video.

Nasib Perantau di Masa Pandemi

Lalu pandemi terjadi. Pulang bukan lagi suatu pilihan. Semua disarankan di rumah saja untuk mengurangi penyebaran infeksi. Mulai dari masa Songkran di Thailand, sampai masa Idul Fitri di seluruh dunia, pandemi menghalangi orang bertemu dan berkumpul melepas rindu.

Beberapa keluarga terpisah berbulan-bulan, termasuk di masa yang biasanya dijadikan masa berkumpul dengan keluarga ini. Penerbangan internasional yang ditutup menyebabkan semua orang seperti terjebak di negara manapun dia berada pada saat pandemi terjadi.

Lalu sekarang ini, panggilan video menjadi seperti pengganti dari pertemuan langsung. Tapi tentu saja rasanya tak sama. Memang bisa saja kita bilang jauh di mata dekat di hati, tapi sesungguhnya akan lebih baik lagi kalau bisa dekat di mata makin nempel di hati.

Mudik itu Mahal, Jendral!

Saat ini, sudah 6 bulan sejak pertama kali Thailand menutup penerbangan Internasional. Beberapa keluarga akhirnya bisa berkumpul kembali, tapi tentunya dengan segudang syarat yang membaca daftarnya saja bikin sakit kepala.

Pulang ke Indonesia, butuh syarat test bebas Covid, harganya untuk orang asing di sini rata-rata di atas 3000 baht. Saat ini sepertinya masuk Indonesia tidak ada kewajiban karantina kalau sudah mengantongi surat bukti tidak terpapar Covid-19, tapi siapa yang tahu peraturannya kapan berganti?

Kembali ke Thailand, lebih sulit lagi. Selain syarat memiliki surat bukti tidak terpapar Covid-19 yang dilakukan dalam jarak waktu 72 jam sebelum terbang, setiap orang juga wajib memiliki asuransi dengan nilai pertanggungan 100.000 USD, lalu semuanya itu harus diusulkan ke kedutaan Thailand untuk mendapatkan surat certificate of entry (COE), yang mana COE ini diberikan spesifik untuk tanggal tertentu. Jika ada delay dari pihak penerbangan, akhirnya tidak jadi terbang deh.

Persyaratan masuk ke Thailand, update 1 Juli 2020

Buat urusan tiket, test swab dan urusan asuransi saja entah berapa biayanya. Tapi itu semua tidak cukup, ada lagi biaya karantina wajib ketika memasuki Thailand yang mana paling murah harganya 32.000 Baht, alias kurang lebih 15 juta per orang.

Total untuk kami sekeluarga kalau nekat pulang ke Indonesia dan kembali lagi ke Thailand kayaknya bisa bikin rusak kalkulator saya menghitungnya. Kalaupun ada uangnya untuk membayar semuanya, kok rasanya seperti buang-buang duit. Saat ini, terjadi resesi di mana-mana, saatnya mengatur keuangan dengan sebaik-baiknya, sampai pandemi berlalu dan ekonomi pulih kembali.

Kadang-kadang terpikir, mungkin lebih “murah” kalau mama saya saja yang diminta datang ke Chiang Mai, apalagi mulai 1 Oktober akan ada Visa Turis Khusus yang bisa untuk jangka panjang (90 hari, dan bisa diperpanjang 2 kali, total 9 bulan). Tapi, dipikir-pikir lagi, manalah mama saya betah berlama-lama di negeri yang dia tidak bisa bahasanya.

Penutup

Saat ini, saya bersyukur kalau saya sudah terlatih untuk tidak cengeng dengan perasaan rindu rumah. Beruntung dengan adanya teknologi internet di ponsel, telepon video menjadi sesuatu yang mudah dilakukan oleh hampir semua orang. Saya bisa melihat wajah mama saya ketika ngobrol menggunakan ponsel. Dan saat ini harus merasa cukup dengan kondisi ini.

Bertahun-tahun jadi perantau, saat ini merupakan saat terberat karena tidak adanya kepastian kapan semua kembali normal. Tidak tahu apakah masih akan bertemu dengan keluarga yang jauh di mata, tapi selalu dekat di hati.

Susahnya Menulis Fiksi

Buat sebagian orang, menulis fiksi itu hal yang mudah. Kenapa? karena bisa menyalurkan imajinasi seluas mungkin dan tidak harus masuk akal. Selalu ada pembelaan: namanya juga fiksi. Lalu, kalaupun ceritanya terkadang mirip dengan kisah seseorang, bisa kasih disclaimer kalau semua kemiripan tokoh dan nama hanya kemiripan semata. Teorinya, menulis fiksi itu gampang, segampang berangan-angan di siang bolong.

Tapi buat saya, menulis fiksi itu sulit. Sudah banyak membaca cerita fiksi, sudah banyak menonton drama dan film-film. Sudah banyak melatih imajinasi. Tapi, berkomentar dan menuliskan apa yang kurang atau lebih dari suatu karya fiksi itu tidak sama dengan menghasilkan karya fiksi sendiri.

Continue reading “Susahnya Menulis Fiksi”

Langit Biru Setelah Banjir Berlalu di Chiang Mai

Langit Chiang Mai hari ini biru sekali. Tentu saja saya langsung mengabadikannya dengan jepretan kamera ponsel saya. Mengabadikan birunya langit yang ada ditengah musim hujan dan badai tropis yang melewati sebagian daerah Thailand termasuk Chiang Mai.

langit biru, awan putih, bikin pengen nyanyi
Continue reading “Langit Biru Setelah Banjir Berlalu di Chiang Mai”

Mencoba Bel Pintu Tanpa Baterai

Dari sejak ngontrak rumah di Chiang Mai, rumah yang kami tempati sistem belnya sudah rusak kabelnya. Jadi kami selalu mengakali dengan membeli bel tanpa kabel. Biasanya bel tersebut butuh baterai, baik untuk bagian penerima yang mengeluarkan suara maupun yang dipencet. Masalah berikut yang muncul adalah: baterainya tidak tahan lama dan lama-lama jadi malas ganti baterai. Nah sekarang ini kami mencoba memakai bel pintu yang tanpa baterai.

Bel yang di pencet tanpa baterai, penerimanya dicolok di rumah

Teorinya, bel ini bisa tanpa baterai karena ketika tombolnya dipencet, tenaga yang dihasilkan dari gerakan pencet itu cukup untuk mengirimkan sinyal ke penerimanya. Lalu bagian penerimanya tentu saja butuh listrik untuk membunyikan melodi yang bisa kita dengar. Jadi tidak ada lagi kebutuhan akan baterai.

Continue reading “Mencoba Bel Pintu Tanpa Baterai”

Fan Fiction: The King Eternal Monarch dan Pandemi

Memasuki tantangan menulis kokoriyaan topik 29, kami harus menuliskan fan fiction dari drama yang sudah ditonton. Sebenarnya, saya belum pernah membuat fan fiction dan tidak terlalu bisa menuliskan fiksi. Tapi, karena semboyan kami “tidak ada topik yang tidak bisa dituliskan”, dan “selalu ada waktu pertama untuk mencoba”, maka kali ini saya pun akan mencoba meneruskan salah satu drama yang saya tidak suka jalan ceritanya terutama endingnya. 

Jong Tae-eul, Lee Gon, dan Kapten Jo Yeong

Biasanya, orang akan menuliskan fan fiction dari drama yang dia suka, tapi saya justru nulis yang ini karena merasa drama ini punya potensi untuk disukai dengan pemilihan pemerannya dan juga visual dari drama yang enak dilihat, tapi sayangnya jalan ceritanya banyak yang membingungkan dan endingnya yang sepertinya bahagia tapi sebenarnya tidak ada tujuan.

Ceritanya

Sebelumnya, untuk yang belum menonton, saya akan memberikan sekilas cerita dari drama ini. Inti drama ini hanya ada di episode pertama dan terakhir. Tengah-tengahnya tidak ada yang terlalu berarti kecuali penjelasan dan usaha-usaha tokoh jahat yang semua berhasil dihapus berkat perjalanan waktu.

Drama ini bercerita tentang Raja Lee Gon (diperankan oleh Lee Min-ho) dari Kerajaan Korea, sebuah dunia rekaan yang berbeda dengan Republik Korea Selatan.  Raja Lee Gon sudah menjadi raja sejak kecil karena orang tuanya dibunuh oleh pamannya. Dia juga hampir jadi korban, kalau saja bukan karena pertolongan sosok misterius yang menghentikan usaha pamannya. Sosok misterius ini membawa sebuah name tag seorang detektif polisi wanita dari Republik Korea bernama Jong Tae-eul (diperankan oleh Kim Go-eun).

Iya, cerita drama ini memang mengangkat tema dunia paralel dan perjalanan waktu. Sejak nonton drama ini, saya memutuskan untuk tidak lagi menonton drama yang memilih tema serupa, kenapa? Karena, walaupun visual dari drama ini sungguh memanjakan mata dengan pemeran yang wajahnya nyaris sempurna dan warna yang indah, tapi plot ceritanya sungguh mengecewakan buat saya.

Sekali lagi, mungkin ini namanya bukan selera ya, tapi sungguh saya kecewa setelah menantikan jalan cerita bergerak maju selama 40 menit  untuk melihat tokoh utama pria, lalu ceritanya maju mundur tidak jelas dan terkadang ada lompatan antar episodenya yang tidak dijelaskan apakah itu kejadian masa lalu atau masa depan. Yang saya ingat dari drama ini hanyalah bagian penuh dengan produk placement alias iklan terutama minuman kaleng dan ayam goreng.

Kisah drama ini intinya adalah rasa penasaran Lee Gon terhadap sosok bernama Jong Tae-eul yang kemudian membawa dia menemukan pintu ke dunia lain. Lalu, ketika dia bertemu dengan Jong Tae-eul, dia pun langsung jatuh cinta karena sudah bertahun-tahun memandang wajahnya di name tag yang dia dapat dari sosok misterius yang telah berjasa menyelamatkan nyawanya.


Eits…buat fansnya drama ini, jangan protes dulu ya. Menurut saya, jalan ceritanya selain lambat dan banyak lompatan yang tidak jelas, banyak adegan yang juga tidak jelas kenapa harus begitu. Misalnya saja, kenapa raja Lee Gon harus mengusir Jepang di perbatasan lautnya? Bahkan cerita itu tidak ada kelanjutannya selain mau menunjukkan Lee Gon dengan seragam marinir.

Kalau belum menonton, saya tidak menyarankan untuk menontonnya kecuali cuma ingin melihat visual dari raja Lee Gon dan petualangan yang pada akhirnya tidak ada tujuan.

Spoiler: akhirnya Lee Gon dan Jong Tae-eul bahagia tiap akhir pekan pacaran berkeliling dunia paralel dan menjelajahi waktu. Udah gitu aja, tidak ada masa depan ga sih pacaran doang tanpa tujuan menikah atau membangun keluarga.

Hidup harus punya tujuan

Sini saya ceritakan lanjutannya versi saya.

Cerita dimulai dari titik akhir episode 16 drama TKEM. Setelah berhasil menyatukan tongkat bambu ajaib yang bisa membuka pintu kemana saja seperti pintu doraemon, Lee Gon dan Jong Tae-eul berkeliling dunia dan menjelajahi berbagai periode waktu.

Mereka tidak perlu khawatir dengan adanya efek kupu-kupu, karena apapun yang mereka lakukan tidak akan mengubah masa depan. Mereka hanya bersenang-senang dan mencoba berbagai jenis busana dari daerah yang mereka datangi.

Dalam perjalanan yang mereka lakukan setiap akhir pekan (karena Jong Tae-eul tetap harus bekerja sebagai detektif di kantor polisi Republik Korea dan Raja Lee Gon juga harus memerintah kerajaannya) sesekali mereka akan bertemu dengan kembaran mereka di dunia tersebut. Terkadang mereka juga berusaha memperbaiki sistem dari negara yang mereka datangi kalau mereka merasa ada yang perlu diperbaiki.

Sampai suatu ketika, mereka tak sengaja sampai di masa pandemi sedang terjadi. Iya tahun 2020, mau pergi kemanapun di seluruh dunia mereka melihat ada pandemi dan korban berjatuhan.

Jong Tae-eul mengusulkan kepada Lee Gon kalau mereka harus membantu masa pandemi ini dengan pergi ke masa depan dan mengambil vaksin atau apapun obat yang sudah ditemukan, dan membawanya kembali ke masa 2020. Tapi, tentu saja usahanya tidak semudah itu. Pintu menuju masa depan yang lebih dari 2020 tidak kunjung ditemukan. Mereka malah selalu nyasar ke titik hari yang sama tahun 2020, hanya beda kota saja. 

Karena mereka hanya punya waktu di akhir pekan untuk berkelana, sudah berbulan-bulan mereka mencoba ke masa depan dan sayangnya mereka selalu kembali ke tanggal pertama kali mereka memutuskan membantu mencari obat pandemi, yaitu 23 September 2020.

Mereka berkelana ke berbagai kota di berbagai negara, mulai dari Wuhan, Amerika, Eropa, bahkan Thailand dan akhirnya sampai juga di Indonesia. Mereka agak heran kenapa mereka selalu kembali ke titik yang sama. Tapi ternyata Lee Gon baru memperhatikan, kalau tongkat bambu ajaibnya semakin pendek setiap kali mereka berusaha ke masa depan.

Akhirnya, setelah melihat usaha mereka tidak berhasil dan melihat begitu banyak orang-orang konyol yang anti masker dan tidak takut Covid-19, Jong Tae-eul berubah pikiran dan berkata kepada Lee Gon kalau dia tidak ingin lagi membantu melenyapkan pandemi.

Jong Tae-eul sudah bosan dengan perjalanan tak berakhir dan tanpa tujuan itu. Dia sudah lelah berusaha membantu orang-orang yang sulit dan tidak mau membantu dirinya. Menurut Tae-eul, waktunya untuk fokus terhadap diri mereka berdua daripada memikirkan seluruh dunia.

Lee Gon pun bertanya, apa maunya Jong Tae-eul. Mereka sekarang ini berperjalanan setiap akhir pekan karena masing-masing tidak ada yang bersedia meninggalkan hidupnya. Manalah mungkin seorang raja meninggalkan kerajaannya demi seorang wanita. Seharusnya wanita itu dong yang meninggalkan keluarganya untuk ikut suami, setidaknya demikianlah pendapat Lee Gon.

Jong Tae-eul yang dibesarkan terbiasa mandiri tentu saja tidak terima dengan pandangan Lee Gon kalau wanita harus ikut suami. Jong Tae-eul akhirnya minta putus saja dari Lee Gon. Dia sudah lelah dengan hubungan tanpa status. Sepertinya mereka juga tidak akan pernah bisa bersatu.

Jong Tae-eul juga sudah menerima kalau Lee Gon itu hanyalah hidup di dunia khayalnya dan bukan kehidupannya sebenarnya. Jong Tae-eul ingin melanjutkan hidup di dunianya dengan melakukan apa yang berarti dan bukan sekedar pacaran tanpa tujuan. Jong Tae-eul juga ingin memiliki keluarga yang normal, seperti semua orang di dunia ini.

Lee Gon pusing kepala dengan tuntutan Jong Tae-ul. Disatu sisi dia sangat mencintai wanita itu. Kenapa sih ngeyel banget diajak jadi ratu hidup senang ga usah kerja keras aja ga mau. Padahal, di kerajaan Corea, kalau Lee Gon bersabda, semua wanita ngantri mau jadi istrinya. Tapi memang inilah kelebihan Jong Tae-ul yang membuat Lee Gon jatuh hati padanya. Wanita itu punya prinsip, walaupun terkadang jadi bikin dia pusing seperti sekarang ini.

Akhirnya, Lee Gon sadar, kalau cinta itu butuh pengorbanan. Walaupun dunianya di kerajaan Corea sangat nyaman bahkan bebas pandemi, walaupun tongkat bambu ajaibnya bisa membuat dia berperjalanan kemanapun tanpa paspor ataupun karantina wajib di masa pandemi, tapi hidup seperti itu tidak ada maknanya. Dia perlu belajar untuk menjalani hidup seperti semua orang lainnya yang perlu bekerja keras dan berkarya. Bukan cuma jalan-jalan keliling dunia sok jadi pahlawan. 

Setelah memikirkan selama sebulan penuh, Lee Gon mempersiapkan Kapten Jo Yeong (diperankan oleh Woo Do-hwan) untuk memimpin kerajaan Corea. Dia mengumumkan pengunduran dirinya di hadapan rakyatnya. Pengunduran dirinya ini juga sekaligus pesta pernikahan dia dan Jong Tae-ul.

Kapten Jo Yeong sempat berusaha meyakinkan Lee Gon untuk memilih wanita lain di kerajaan Corea, tapi dia juga tahu kalau Lee Gon sudah tidak bisa diubah lagi pendapatnya walau ditakut-takuti dengan pandemi yang masih merajalela. Keputusan Lee Gon memang sudah mantap, dia ingin melanjutkan hidup dengan tujuan lebih jelas, walaupun mungkin banyak masalah akan menghadang di depan mata.

Pesta tersebut merupakan terakhir kalinya Lee Gon dan Jong Tae-eul berada di kerajaan Corea. Setelah menikah, mereka memutuskan untuk tinggal di Republik Korea. Lee Gon juga memutuskan untuk membakar tongkat bambu ajaibnya supaya tidak ada lagi orang yang bisa berperjalanan waktu dan mengubah-ubah masa lalu.

Pada akhirnya, Jong Tae-ul dan Lee Gon hidup bahagia dengan berbagai masalah rumahtangga yang mereka hadapi. Tapi mereka bahagia karena mereka selalu bersama dan bekerjasama menyelesaikan masalah bersama dan bukan masalah seluruh dunia ini.

The End.

Penutup

Namanya juga fan fiction ya, jadi harap maklum kalau ceritanya agak terkesan tidak masuk akal. Pada dasarnya, dramanya juga fantasi yang tidak masuk akal, saya hanya menambahkan supaya akhirnya lebih ada tujuan saja versi saya, hehehe…