Jalan-jalan ke arah Chiang Rai

Hari Sabtu kemarin, untuk memenuhi undangan menikmati makanan Nusantara dari seorang teman yang tinggal di antara Chiang Mai dan Chiang Rai, kami jalan-jalan dengan beberapa teman Indonesia lainnya. Berangkat dari rumah masing-masing dengan target makan siang di sana.

Dengan berbekal Google Map, kami mengetahui kalau perjalan sekitar 80 km itu akan ditempuh sekitar 1,30 jam. Kami belum pernah menyetir sendiri ke Chiang Rai. Kami pernah ke Chiang Rai bertahun-tahun lalu ikut mobil tour dan belum ada Joshua. Jadi bisa dibayangkan sudah berapa tahun yang lalu hehehe.

Sebenarnya, untuk yang biasa tinggal di kota besar, perjalanan 90 menit tentunya tidak ada apa-apanya. Tapi buat kami yang biasanya cuma jalan-jalan dalam kota, perjalanan ini lumayan terasa. Perjalanan kali ini terlaksana karena kami tidak mencari tahu lebih banyak informasi mengenai jalan ke arah sana dan berasumsi: ah cuma 80 km, harusnya sebentar juga sampai hehehe.

Siap berangkat

Kami berangkat setelah selesai sarapan dan mandi. Tidak buru-buru, karena tujuannya tidak terlalu jauh, dan jalanan sudah tidak terlalu ramai karena sudah bukan libur tahun baru lagi. Kami tidak membawa cemilan dan hanya sedia air minum saja di mobil, asumsi bisa berhenti kapan saja kalau lihat mini market hehehe. Ada beberapa tempat berhenti untuk ngopi ataupun membeli/memetik stroberi, tapi kami tidak berhenti karena tidak mau sampai terlalu siang.

Jalan lintas provinsi yang bagus dan lebar

Perjalanan 45 menit pertama terasa lancar dan jalanannya juga bagus. Oh ya, kota tujuan kami sudah berbeda provinsi dengan kota tempat tinggal kami. Jadi kami melewati jalanan antar lintas provinsi ke arah utara Thailand. Jalanannya lebar, pemandangannya juga hijau. Ada beberapa jalan yang berbelok dan agak naik gunung. Secara umum jalannya juga lebar.

Perjalanan 45 menit berikutnya (yang sebenarnya sudah hampir mendekati tujuan), ternyata ada beberapa titik perbaikan jalan. Perbaikan jalannya dibagi beberapa ruas. Jadi akan ada beberapa titik di mana jalannya masih diperlebar, atau masih belum diaspal, jembatannya masih diperbaiki, ataupun memakai jalan di sisi yang sama dengan arah ke Chiang Mai. Di kiri kanan jalan ada banyak mesin-mesin berat. Terlihat beberapa tempat tanah merah yang dikeruk, maupun batu-batuan yang dipecahkan.

Perjalanan selanjutnya akan diceritakan melalui foto-foto yang saya ambil sepanjang jalan.

Ada banyak peringatan memasuki area konstruksi dalam 2 bahasa
kelihatan gak, nantinya jalan ini ada banyak jalur
bagian jalan yang masih diratakan dan belum diaspal
jalan yang lama rusak karena terendam air
Jalannya masih dikerjakan tapi bisa dilalui dengan lancar
ada beberapa kilometer di mana jalannya masih kurang bagus, tapi semua petunjuk jelas
Melewati bangunan Mesjid di dekat hotspring Mae Kachan
Berhenti sebentar di hotspring buat mampir ke minimarketnya
Ada temple di sebelah hotspring.

Sekitar jam 12 kurang, kami sampai ditujuan. Bahagia banget melihat makanan yang sudah disiapkan oleh teman kami. Berasa pulang ke kampng halaman. Apalagi makannya duduk bersila pakai tikar. Menunya macam-macam. Menu utama Soto Ayam lengkap dengan empingnya, Sayur urap, kering tempe, bakwan, tempe goreng, ayam bumbu bali, ikan sambal pete, dan acar timun. Makanan cemilan juga ada kue kering dan bolu coklat untuk anak-anak. Aduh salut untuk teman kami yang memasak semuanya seorang diri. Kalau mbak itu tinggal di Chiang Mai, saya mau katering deh tiap hari hehehe.

Udah pasti lupakan diet untuk hari ini. Tidak pakai lama, semua asik menyantap makanan yang terhidang.

Selesai makan, ngobrol-ngobrol sambil mengawasi anak-anak main. Mereka senang karena rumah yang kami datangi ini bentuknya berbeda dengan rumah yang ada di Chiang Mai. Rumahnya berbentuk rumah panggung. Agak khawatir sih liat anak-anak main di balkon sambil melihat ke bawah, tapi untungnya tidak ada insiden yang mengkhawatirkan hehe.

Setelah makan banyak, ternyata kami masih dimasakin mpek-mpek. Yang masak asli dari palembang dan lampung. Walau kenyang, tentu saja masih ada tempat untuk makan mpek-mpek. Makanan ini tidak setiap hari tersedia di Thailand hehehe.

Foto bersama sebelum pulang – nasib tukang foto, gak ada dalam kamera

Sekitar jam 4, karena anak-anak sudah capek main (orang dewasa sudah kenyang makan), kami pun pamit pulang. Sebelum pulang tentunya bungkusin makanan bawa pulang hahahaha (aduh gak tau malu ya). Dan foto bersama. Anak-anak tidur di mobil dalam perjalanan pulang. Padahal waktu pergi mereka tidak tidur sedikitpun.

Tidur setelah capek main

Senang rasanya perjalanan hari itu. Mungkin kalau tau akan ketemu jalanan yang lagi banyak perbaikan, kami akan duluan menyerah sebelum berangkat. Tapi ternyata jalanan cukup lancar. Sebelum jam 6 sore kami sudah sampai di rumah.

Mungkin kalau jalanan sudah selesai perbaikannya, akan lebih lancar lagi dan jarak antara Chiang Mai dan Chiang Rai akan semakin dekat. Lain kali rencananya mau mampir di coffee shop, beli stroberi, main-main di hot spring Mae Kachan, atau sekalian mancing di kolam ikan dekat rumah teman kami itu. Bisalah dijadwalkan untuk lebih sering jalan-jalan kalau jalanan sudah bagus hehehe.

Review App: Foldify – Create, Print, Fold!

Aplikasi Foldify ini merupakan aplikasi yang tersedia di Appstore untuk ipad dan iphone. Kami membelinya sudah lama sekali, sejak Jonathan masih kecil dan Joshua belum ada. Kalau dari kategorinya, foldify ini untuk umur 9+, tapi sebenarnya untuk latihan mewarnai, menggunting dan melipat ya bisa dari umur berapa saja.

contoh-contoh template yang tersedia

Beberapa bentuk sudah tersedia dan diwarnai. Kita bisa print dan gunting, lalu dilipat dan dimainkan. Bentuk-bentuk tersebut ada versi kosongnya juga yang bisa kita print untuk diwarnai di kertas sebelum digunting dan dilipat, atau bisa mewarnai dengan aplikasinya juga.

Bentuk-bentuk yang masih “kosong”

Kalau kita memilih template yang kosong untuk diwarnai, kita akan mendapatkan bentuk 3 dimensi sebelum digunting dan dilipat. Dari halaman ini kalau langsung kita print, maka anak-anak bisa mewarnai dikertas. Tapi kalau kita ingin mewarnai dengan aplikasi, ketika kita mewarnai di sisi kanan, gambaran 3dimensinya akan langsung terlihat efek dari warna yang kita berikan.

template untuk diwarnai

Bentuk yang sudah kita warnai bisa kita upload, kirimkan ke e-mail, share di FB dan twitter ataupun simpan ke galeri foto.

pilihan untuk share hasil foldify

Kalau kita ingin langsung mengeprint ke kertas juga bisa, dengan catatan kalau ipadnya terkoneksi langsung ke printer. Kami sekarang ini masih memilih untuk simpan sebagai PDF dan kirimkan e-mail PDF nya. Ipad yang digunakan joshua sengaja tidak diinstal banyak hal, termasuk koneksi ke printernya.

pilihan untuk mencetak

Seperti halnya dengan mainan yang lain, ketika menemukan aplikasi baru, Joshua akan selalu memulai dengan ABC dan 123. Dia rajin sekali menyusun huruf-huruf dan memilih warna. Biasanya tidak semua kami cetak. Beberapa yang dicetak kami ajak dia untuk gunting dan lipat. Untuk urusan gunting dan lipat, sampai sekarang masih belum terlalu bisa.

Ukuran dari foldify yang dihasilkan juga bisa diatur. Kalau diperhatikan huruf-huruf yang sudah kami cetak, gunting dan lipat ada yang kecil dan besar.

Jonathan dulu lebih suka memilih bentuk-bentuk yang bisa dimainkan seperti bus. Pernah juga kami membuat pohon natal kecil dari 3 limas segi empat yang diwarnai hijau.

Sekarang ini, pembuat aplikasi foldify ini juga mengembangkan foldify dengan menambahkan beberapa template animal. Tapi karena harus beli lagi terpisah, kami belum membelinya. Aplikasi yang sudah dibeli dengan harga $3.99 USD ini masih cukup dimainkan dan belum perlu membeli yang berikutnya.

Untuk yang ingin melihat bagaimana contoh foldify bekerja, bisa dilihat di video-video yang ada di YouTube

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=j-1j_oc7HF8
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=gG6KGWbTM1c

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, apakah ada aplikasi sejenis versi androidnya? sayangnya sejauh ini kami belum menemukannya. Kalau ada yang tahu aplikasi sejenis foldify untuk android, silakan berbagi informasinya di komentar ya. Aplikasi ini cukup menyenangkan buat anak-anak, sekaligus bisa untuk mengajarkan bentuk 3 dimensi juga.

Kita Perlu Hobi

Saya ingat waktu masih SD, Saya sering mengisi buku biodata mengenai nama, tempat tanggal lahir, cita-cita, hobi, makanan kesukaan, minuman kesukaan dan lain sebagainya. Selain cita-cita, kita perlu juga punya hobi. Hobi ini tidak harus berhubungan dengan pekerjaan kita, dan tidak harus selalu menghasilkan duit, bahkan seringnya malah jadi sumber pengeluaran (tergantung hobinya). Saya tidak ingat dulu saya isi apa, karena sepertinya saya baru punya hobi itu setelah kuliah.

Mungkin dulu saya sering menuliskan kalau hobi saya itu membaca dan berenang. Tapi setelah saya ingat-ingat, waktu saya kecil, saya tidak punya banyak akses ke buku perpustakaan dan tidak rutin ke kolam renang. Tapi saya memang merasa senang sekali kalau dibawa berenang ataupun dijanjikan berenang. Nah kalau soal membaca buku, saya biasanya membaca buku pelajaran saja untuk mengerjakan PR dari sekolah hehehe.

Setelah agak besar, seperti kebanyakan orang, saya juga jadi hobi nonton TV. Ini hobi yang kalau kata kebanyakan orang hobi yang pasif. Tapi memang kadang-kadang menonton TV – bahkan belakangan menonton iklan, terasa menghibur karena gak perlu mikir, tinggal terima saja. Setelah kuliah dan punya penghasilan ekstra dari jadi asisten, saya pun jadi suka nonton film ke bioskop. Tapi berhubung nonton bioskop itu mahal, biasanya nonton itu kalau memang filmnya ramai dibicarakan, dan perginya ya ramai-ramai.

Di tulisan kali ini, saya ingin membahas hobi yang sifatnya lebih aktif dan bukan pasif seperti menonton. Joe itu punya hobi yang berkaitan dengan dunia pemrograman (mulai dari software sampai ke hardware). Sedangkan saya, sebelum punya anak, menemukan hobi yang berkaitan dengan benang, jarum dan kain. Walaupun ngaku-ngaku hobi, setelah melahirkan anak pertama, keinginan untuk bermain benang dan jarum agak hilang karena merasa tidak ada waktu.

Sekarang, setelah anak-anak mulai agak besar, saya mulai bisa lagi melanjutkan kegiatan berhobi. Kegiatan berhobi sekarang ini perasaannya belum seperti masa dulu kala. Saya berusaha mengikuti komunitas lokal di sini untuk mengembalikan semangat yang sempat ada, tapi tentunya membatasi diri untuk tetap mengutamakan tugas utama sebagai istri dan ibu yang menghomeshchool.

Kegiatan berhobi yang baru dimulai lagi di tahun 2019 ini bikin saya bertemu dengan banyak orang yang semangat berhobinya tinggi sekali. Setiap melihat benang, mata berbinar-binar. Setiap membicarakan toko benang baru offline ataupun online juga pada semangat. Kalau ada yang menemukan free pattern juga tentunya semua langsung nimbrung. Tapi ada juga yang realistis dan bilang: saya tidak akan beli benang lagi karena sekarang ini sudah punya benang terlalu banyak (nah ini termasuk saya).

wajah-wajah bahagia

Beberapa manfaat yang terasa sejak kembali berhobi buat saya

Jadi Lebih Kreatif dan Produktif

Untuk yang hobinya membuat karya seperti benang, kain dan jarum, hasil dari hobi itu adalah produk berupa benda. Untuk yang hobinya mrogram seperti Joe, hasilnya ya aplikasi. Untuk yang hobinya berolahraga hasilnya tubuh yang lebih bugar. Untuk yang hobinya masak hasilnya makanan yang bisa dinikmati keluarga ataupun teman-teman – bahkan bisa jadi uang. Untuk yang hobinya menulis bisa menghasilkan tulisan untuk dinikmati banyak orang. Untuk yang hobinya membaca bisa membuat wawasan jadi lebih luas dan biasanya akan membuat orang tersebut jadi punya nilai tambah di bidang pekerjaannya.

Produktif yang saya maksud di sini tidak terbatas berupa benda, tapi dengan mengerjakan sesuatu dari hobi kita, tentunya lebih baik daripada diam saja dan tidak mengerjakan apapun. Bahkan kalau hobi kita itu merapikan rumah, kita akan menemukan metode kita sendiri. Hasil yang langsung bisa dilihat: rumah rapi. Hasil jangka panjang kalau metode kita populer ya bisa jadi seperti Marie Kondo hehehe.

Berhobi juga tentunya bukan berarti membuat hal yang sama berulang-ulang. Biasanya kita jadi lebih banyak berpikir bagaimana membuat versi lain dari produk yang sudah kita hasilkan. Atau kadang-kadang membuat kita tertantang untuk menghasilkan karya yang selalu berbeda dengan yang sudah pernah kita buat. Punya hobi membuat ibu rumah tangga seperti saya menemukan hal lain yang perlu dipikirkan selain: hari ini masak apa ya? hehehehe.

Jadi Lebih Bahagia

Memang ada yang bilang bahagia itu pilihan. Tapi yang saya maksud lebih bahagia di sini misalnya ketika kita merasa tekanan dari luar, biasanya melakukan apa yang kita sukai/hobi akan membuat kita melupakan tekanan yang ada dan bisa lebih rileks. Setelah kita merasa rileks, kita bisa berpikir lebih baik dan tentunya sukur-sukur bisa menemukan jalan keluar dari tekanan yang ada.

Ketika kita berhobi dan mendapatkan hasil karya dari hobi kita, biasanya juga ada perasaan puas karena menyelesaikan satu project. Terlepas apakah produk itu akan dipakai sendiri, dijual menjadi duit atau diberikan kepada orang lain, ada perasaan senang yang bisa disebut bahagia juga.

Punya hobi juga biasanya membuat kita mencari komunitas yang sejalan dengan hobi kita. Bertemu dengan orang yang mengerti apa yang kita rasakan ketika menemukan benang baru, tentunya memberikan rasa bahagia juga hehehe.

Jadi Lebih Konsumtif

Nah, yang ini pernah saya alami di awal saya suka merajut. Kalau gak hati-hati, memang rasanya pengen beli beli segala material dan peralatan yang berkaitan dengan hobi. Tapi ya kalau memang ada dananya tidak apa-apa sih, asal jangan sampai merusak ekonomi rumahtangga saja hehehe.

Belanja material dan peralatan hobi ini sebenarnya memberi perasaan bahagia juga. Mungkin untuk yang tidak sehobi dengan kita, mereka tidak mengerti kenapa ada yang mau keluarkan duit untuk koleksi benda-benda tertentu. Tapi, buat yang punya hobi, beli ini dan itu dianggap bagian dari berhobi dan selalu ada pembenaran kenapa harus beli lagi dan lagi hehehe.

Jadi Lebih Punya Prioritas

Ketika saya punya hobi, biasanya saya lebih banyak memberikan perhatian saya untuk hal-hal seputar hobi. Tapi ketika tidak menjalankan hobi, rasanya banyak hari berjalan tanpa hasil. Kadang-kadang saya menghabiskan banyak waktu mencari berita infotainment ataupun browsing secara random.

Di komunitas hobi yang saya ikuti, pembicaraannya umumnya ya seputar hobi. Bukan ngomongin berita viral ataupun politik. Sejak beberapa waktu belakangan ini, saya menghindari dari berita viral, karena biasanya menghabiskan waktu untuk membaca berbagai komen dan tidak ada manfaatnya buat saya. Topik politik sudah saya hindari dari dulu, karena saya bukan praktisi politik.

Gimana kalau hobinya belanja online? Nah kalau yang ini saya gak bisa komentar, karena saya gak hobi belanja secara random. Biasanya kalau belanja pasti karena ada kebutuhan. Terus saya suka ga betah memilih-milih barang secara online dan membanding-bandingkan harga.

komik by @maghfirare

Gimana kalau hobinya nonton ? Biasanya kalau memang sudah banyak menonton berbagai film, akan punya banyak pendapat mengenai berbagai film yang ditonton. Bisa saja dari hobi nonton berkembang menjadi kritikus film atau bisa juga menjadi reviewer film. Oh ya hobi nonton drama korea membuat saya tertarik belajar bahasa Korea hehehe (walaupun tetap belum merasa bisa menonton tanpa subtitle, apalagi ngobrol ya hehehe).

Bagaimana dengan kamu? punya hobi apa dan kira-kira apa manfaatnya yang sangat dirasakan?

Joshua dan Pattern Blocks

Joshua sudah lama suka main pattern blocks, tapi selama ini, dia selalu menyusun huruf-huruf dan angka-angka saja. Belakangan ini, dia mulai suka menyusun bentuk-bentuk lain selain huruf.

Awalnya, dia melihat buku Pattern Animals Puzzles for Pattern Blocks yang saya beli bekas sejak Jonathan juga masih kecil. Di dalam buku ini, pattern yang ada mengikuti alphabet. Jadi Joshua susun dulu huruf A, lalu dia ikuti Alligator, lalu huruf B diikuti dengan menyelesaikan Bear dan seterusnya. Setelah mengikuti sampai huruf F, Joshua jadi mau mengerjakan pattern blocks yang bukan hanya huruf-huruf saja dan bukan berdasarkan urutan huruf.

Lalu dia melihat pattern block magnetic yang sangat tipis dan terkadang sulit memegangnya karena tipisnya. Awalnya, saya tidak berikan untuk dia mainkan, karena terlalu tipis, dan toh sudah ada pattern block magnetic yang lebih tebal dan mudah dipegang. Tapi beberapa hari ini, dia selalu meminta magnetic pattern blocks: The Farm sambil menunjuk lemari tempat saya menyimpannya.

Mainan ini dibeli sejak Jonathan umur 3 tahun-an (gambar dari Amazon)

Hari ini, selesai mandi dan makan sore, dia ingat lagi dan minta main pattern block The Farm. Akhirnya saya menyerah dan mengijinkan dia main, dengan syarat habis main harus dirapikan dan tidak boleh dilempar-lempar kepingan mainannya. Belakangan ini Joshua suka melempar mainan ke kolong-kolong kursi, jadi saya perlu mengingatkan dia supaya tidak repot mengambil kepingan tipis dari kolong kursi.

Karena pola yang diberikan di dalam kotak mainan ada nomornya, dia mengikuti berdasarkan nomor. Lumayan juga dia main beberapa jam hari ini.

Waktu Joshua melihat buku petunjuknya, dia malah jadi pengen mengikuti contoh membuat heksagon dengan menggunakan trapesium, diamond dan segitiga.

Sebenarnya, pola yang ada di buku pattern animals jauh lebih sulit daripada The Farm. Tapi Joshua senang aja main The Farm, serasa menemukan mainan baru. Waktu saya coba bujuk dia untuk menyusun pola The Farm dengan kepingan pattern block yang lama, dia tidak mau dan bersikeras menggunakan kepingan yang tipis. Tapi ternyata dia menepati janji dengan tidak melempar-lempar kepingannya dan menyimpan kembali semuanya setelah selesai main.

Mudah-mudahan berikutnya dia tetap mau menyusun pattern blocks yang berupa puzzle bentuk-bentuk lainnya dan bukan terus menerus ABC atau angka saja.

Baca Buku: Keep Going

Ini buku pertama yang dibaca tahun 2020. Buku pertama yang dibacanya cukup cepat. Ceritanya di grup KLIP ada yang share buku yang dibaca ditahun 2019 yang berkesan dan ada yang menuliskan tentang buku ini. Berhubung bulan Desember lalu diserang kemalasan menulis jadi tertarik dengan buku ini yang memberikan tips-tips untuk tetap berkarya.

Judul lengkap buku ini Keep Going: 10 Ways to Stays Creative in Good Time and Bad. Buku ini ditulis oleh Austin Kleon seorang penulis yang juga menggambar. Saya baru tau setelah selesai membaca buku yang ini, ternyata dia sudah punya 2 buku sebelum buku ini. Buku dengan jumlah 224 halaman, bisa dengan cepat dibaca karena banyak halaman berupa illustrasi seperti komik. Buku ini juga merupakan buku pertama yang selesai saya baca di hari yang sama dengan hari belinya di Kindle (banyak buku yang walau tidak tebal tapi gak selesai-selesai membacanya sampai sekarang).

Dari judulnya aja udah ketahuan kalau ini isinya memberi motivasi biar kita gak berhenti berkarya. Walaupun mungkin dia memberi contohnya karya dalam bidang menulis ataupun menggambar, tapi sebenarnya tips yang dia berikan ini bisa untuk karya apa saja. Bukankah setiap manusia itu diciptakan untuk berkarya di bumi ini.

Buku ini menarik karena gaya bahasanya yang mudah dimengerti dan banyak ilustrasinya. Buku ini juga tidak menuntut kita untuk menciptakan karya yang sempurna, tapi kalau kata saya lebih realistis dan bagaimana membuat proses kreatif itu tetap terasa menyenangkan dan bukan jadi beban.

Berikut ini hal-hal yang berkesan buat saya dari buku ini. Saya tidak akan mengutip setiap bab seperti dari daftar isi, tapi apa yang saya ingat setelah diendapkan beberapa hari.

Rutinitas itu Penting

Biasanya paling sering mendengar keluhan tentang betapa membosankannya rutinitas. Tapi ternyata rutinitas itu penting dan malah lebih baik lagi kalau kita membuat jadwal yang sama setiap harinya untuk berkarya. Penulis buku ini mencontohkan bagaimana jika kita hidup di hari yang sama setiap harinya, seperti di film Groundhog Day?

Contoh daftar hal yang bisa dilakukan setiap hari dari buku Keep Going – Austion Kleon

Apa yang kita lakukan setiap harinya, itulah karya kita. Kita mau isi hari-hari kita tanpa berkarya, atau mau menghasilkan sesuatu yang berarti? Kadang-kadang untuk orang yang pernah sukses menghasilkan sesuatu karya, mereka sering berhenti dan merasa: aduh harusnya ini lebih baik dari yang sudah pernah saya buat. Perasaan seperti ini bisa membuat kita jadi berhenti berkarya. Padahal seharusnya ya tetap berkarya, mungkin hari ini hasilnya tak sebagus kemarin, tapi besok bisa jadi lebih baik dari hari ini karena kita sudah lebih terlatih mengerjakannya. Yang penting, lakukan saja setiap hari dengan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mulai setiap hari dengan karya baru.

Rutin itu penting, supaya kita tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Saya ingat, baca buku tentang membesarkan anak dari bayi, di sana juga disebutkan kita perlu membuat rutin anak yang sama setiap harinya, biar mereka tahu apa yang selanjutkan akan dilakukan. Dengan adanya rutin, anak jadi tahu bangun tidur harus apa, atau setelah selesai sikat gigi dan ganti baju tidur ya harus tidur. Untuk orang dewasa, rutin itu juga penting.

Kalau kita sudah tahu apa yang harus dilakukan berikutnya, kita tidak akan kelamaan mikir: ngapain ya abis ini, atau malah jadi tidak menghasilkan karya sepanjang hari. Oh ya, di buku ini juga disebutkan, kalau kita juga harus meluangkan waktu untuk berjalan di luar ruangan untuk memperhatikan hal-hal sekitar dan juga kalau lagi mentok ide, tidur siang/istirahat mata juga baik untuk merefresh diri.

Buat Daftar untuk Segala Hal

Kebiasaan membuat daftar itu baik. Misalnya mendaftarkan apa yang ingin dikerjakan, atau membuat daftar belanja. Bisa juga membuat daftar apa yang ingin dipelajari. Kalau sedang bepergian, bisa bikin daftar tempat menarik untuk dikunjungi. Bahkan bisa juga membuat daftar film yang ingin ditonton, atau buku yang ingin dibaca untuk hiburan.

Membuat daftar bisa membantu kita untuk mempermudah ketika membuat keputusan/pilihan. Kadang-kadang saya sudah mulai membuat daftar, misalnya membuat daftar topik yang bisa dituliskan di blog, supaya gak setiap hari bertanya-tanya: nulis apa yah hari ini. Sayangnya, setiap kali mau nulis, ide untuk menuliskan hal-hal yang ada di daftar seringnya terasa sulit dan akhirnya gak jadi deh dituliskan.

Punya Tempat Kerja yang Nyaman

Bagian yang ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Joe. Dulu saya ingat sering protes kenapa komputer menyala 24 jam, atau kenapa mejanya gak rapi. Terus Joe bilang: yang penting ketika mau kerja, komputer sudah siap sedia untuk dipakai. Tidak harus menunggu dulu menyalakan komputer, atau harus membereskan meja dulu. Waktu untuk menunggu itu bisa bikin teralihkan perhatian dan malah ga jadi kerja.

Tempat kerja yang nyaman itu tidak harus rapi ala Marie Kondo, tapi yang penting semua hal yang dibutuhkan untuk berkarya tersedia di sana dan bisa kita pakai dengan mudah. Hal ini kembali ke gaya bekerja masing-masing orang. Ada yang tidak bisa kerja kalau mejanya terlalu berantakan. Nah untuk orang seperti ini, diperlukan meja kerja yang selalu rapi. Atau ada juga orang yang tidak bisa kerja kalau terlalu hening, dan kebalikannya terlalu ramai juga gak bisa kerja. Yang pasti, temukan tempat kerja yang nyaman untuk kita masing-masing.

Merapikan barang-barang itu tetap perlu, tapi berbeda dengan Marie Kondo yang bilang kalau merapikan buku jangan sambil berhenti dan membaca, kita malah disarankan untuk mengunjungi kembali karya-karya kita sebelumnya. Kadang-kadang dari hal-hal yang pernah kita lakukan di masa lalu, yang mungkin saja sudah terlupakan, kita bisa mendapatkan ide baru untuk karya berikutnya.

Lakukan Saja, Karya Kita Tidak Harus Selalu Super

Saya ingat, dulu waktu rajin merajut saya sudah membuat banyak hasil. Kadang-kadang waktu menentukan mau merajut apa berikutnya, ada perasaan: ah ini terlalu mudah, pengen cari yang lebih menantang. Terus akhirnya, malah kelamaan nyari pola dan gak jadi merajut.

Hal lain yang bikin kita gak jadi berkarya adalah ketika kita mengandalkan respon orang lain terhadap karya kita. Misalnya, kita pengen menulis itu sesuatu yang dapat jempol like banyak dari orang lain. Pengennya bikin foto yang super indah dan bisa membuat orang berdecak kagum. Pengennya masak kue yang paling enak sedunia. Pengennya menjahit baju nan indah dengan detail yang super rumit.

Ketika kita kebanyakan pengen tapi gak mulai melakukannya, ya akhirnya karya kita gak ada yang jadi. Makanya disebutkan, lakukan saja apa yang kamu bisa hari ini, terlalu berharap jempol orang atau menunda mengerjakan sesuatu dengan alasan ah ini masih kurang super tidak akan membawa hasil apa-apa. Kadang-kadang bahkan app sederhana seperti flappy bird saja bisa sangat populer.

Berikan Hadiah untuk Orang Lain

Jaman berhobi merajut, kebanyakan rajutan saya itu bukan untuk saya pakai sendiri, tapi untuk diberikan ke orang lain. Waktu belajar menjahit, motivasinya juga bukan untuk terima jahitan, tapi untuk bisa menjahitkan baju untuk dipakai sendiri, Joe dan anak-anak. Menghasilkan karya untuk dihadiahkan ke orang lain itu terasa lebih menyenangkan daripada kejar setoran hehehe.

Gimana kalau pekerjaanya memang penjahit? masa harus menghadiahkan melulu? Ya, nggak dong, bikin hadiah untuk orang lain itu jadi sarana latihan. Kalau ada pekerjaan profesional, ya tetap harus dikerjakan secara profesional. Kalau misalnya kita jadi penulis, bukan berarti hasil tulisan kita harus selalu sempurna kan, bisa saja kita menulis cerita singkat untuk dihadiahkan ke orang-orang tertentu.

illustrasi dari buku Keep Going – Austin Kleon

Nah kalau punya pasangan programmer, bisa tuh minta hadiah dibikinin program aplikasi. Ada banyak aplikasi yang dibuatkan Joe atas permintaan saya, yang kemudian sebagian dia bagikan secara gratis.

Perhatikan Sekitar, jangan Online Selalu

Bagian ini sebenarnya dibahas agak di bagian awal buku, tapi saya tuliskan terakhir. Jaman sekarang, hal ini merupakan hal yang paling sulit. Buku ini menyarankan kita bangun pagi untuk tidak langsung membaca berita online di berbagai penjuru dunia, tapi disarankan untuk rutin pagi itu bangun, jalan-jalan sekitar rumah sambil memperhatikan sekitar kita.

Contoh yang saya pikirkan, saya bisa memperhatikan siklus pohon mangga misalnya, kapan mulai ada bunganya dan kapan jadi buah. Hidup ini juga seperti pohon mangga, ada siklusnya dan ada musimnya. Dari memperhatikan sekitar kita, biasanya akan ada banyak ide-ide untuk berkarya. Setelah kita memberikan waktu untuk diri sendiri, baru deh baca-baca berita dunia.

Tapi sejauh ini, prakteknya masih sulit. Bangun pagi masih lebih dulu nyari henpon buat online. Jalan-jalan sekitar rumah belum dilakukan juga. Ini saja sambil menulis, masih sambil online dan sering pindah ke halaman lain hehehe. Pelajaran dari buku ini, jadi punya motivasi untuk tetap berusaha berkarya setiap harinya.

Hal-hal Yang Bikin Gak Jadi Nulis

Berhubung mulai kehabisan ide menulis, dan tiap hari jadi mikirin: nulis apa ya hari ini tanpa bener-bener ditulis, maka jurus curhat dikeluarkan hahaha. Langsung aja dimulai daftarnya

Menunda menulis

Menunda menulis ini bisa jadi misalnya lagi ada ide, tapi tidak langsung dibikin draftnya. Bisa juga karena menunda dengan alasan pengen mengumpulkan data lebih banyak tapi gak dikerjakan juga. Yang lebih sering terjadi juga adalah sudah dimulai draftnya, terus hilang moodnya untuk meneruskan tulisannya.

Biasanya habis baca buku atau nonton film, semangat lagi tinggi pengen membahasnya, tapi kadang gak langsung ditulis. Akhirnya seperti waktu menonton 4 drama ongoing tahun lalu, akhirnya tulisannya super singkat dan sampai sekarang gak jadi-jadi dituliskan reviewnya (dan sepertinya gak akan jadi hahaha).

Menunda waktu menulis juga bisa jadi penyebab. Ketika buru-buru kejar setoran, tentunya kualitas tulisan jadi berkurang dan gak fokus karena melirik jam terus hahaha. Dari pengalaman setahun berusaha membuat sehari satu tulisan, bisa dihitung jari saya menulisnya bukan ala cinderella alias jelang tengah malam.

Ketiduran

Nah, kalau biasanya kebanyakan orang dewasa itu bilangnya mengaku insomnia, tapi ibu-ibu yang punya anak masih kecil pasti tau dan sering mengalami menemani anak tidur tapi malah ikut ketiduran. Pernah saya terbangun sebelum tengah malam, dan masih ada waktu sebenarnya untuk menulis, tapi kok ya rasanya enakan tidur daripada menulis.

Keasikan Browsing

Penyebab lain yang juga sering terjadi ketika punya ide dan tidak langsung dimulai. Kepikiran cek ini itu dulu. Baca-baca tulisan ataupun berita yang ada. Terus semakin bingung mau nulis apa karena sepertinya semua hal sudah dituliskan orang lain.

Ini kasusnya sama seperti membuka Netflix dan bingung mau nonton apa, karena semua terlihat menarik, tapi semua diantrikan dulu dan tidak langsung dimulai menonton.

Bolos sehari yang berkelanjutan

Walaupun pernah berhasil menulis setiap hari sebulan penuh, godaan untuk bolos menulis itu selalu ada. Kadang saya turutin dan berkata ke diri sendiri: ah gak apa-apa deh bolos 1 hari, besoknya kan bisa lagi. Tapi ternyata yang terjadi bukan cuma bolos 1 hari. Mengembalikan kebiasaan untuk memaksakan diri menulis itu lebih sulit.

Saya tahu sebagian orang memilih tidak menulis daripada tulisannya gak ok. Tapi kadang-kadang tulis aja dulu, edit kemudian kalau mau lebih oke lagi bisa kok.

Takut ada yang salah paham dengan tulisan saya

Nah, ini nih bagian yang biasanya bisa bikin bolos berhari-hari. Saya memilih untuk tidak menuliskan terlalu banyak opini untuk hal-hal yang bukan bidang saya, tapi ya kadang ada aja opini yang jadi topik pemikiran saya dan susah buat saya menuliskan topik lain kalau kepala lagi dipenuhi topik tersebut.

Terkadang agak sulit memformulasikan apa yang saya rasakan menjadi kalimat yang tidak akan salah dimengerti. Saya berusaha menerapkan prinsip: kalau tidak bisa menuliskan hal yang positif lebih baik tidak usah dituliskan. Tapi ya tidak selalu mudah untuk menjadi orang yang positif.

Idealisme Sesaat

Kenapa judulnya sesaat? karena ketika membaca tulisan orang lain yang bagus-bagus, ada perasaan: duh kok tulisan saya gak bisa seperti mereka ya? terus akhirnya minder sendiri dan malah gak jadi nulis. Padahal biasanya juga menulisnya gak ikut aturan baku juga gak apa-apa, ini kan tulisan di blog, bukan tulisan di media yang harus memperhatikan ejaan yang benar dan pemakaian kata yang baku (walaupun kalau memang bisa menulis dengan baik dan benar ya tentu lebih baik).

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini saya jadi nulis walaupun mungkin kurang berkualitas hahaha. Mungkin kalau besok-besok kepikiran lagi hal lain yang bikin saya gak jadi nulis, akan saya edit tulisan ini. Kalau teman-teman pembaca biasanya gak jadi nulis karena apa?

Hari Anak Thailand 2020

Hari ini, 11 Januari 2020, dirayakan sebagai Hari Anak di seluruh Thailand. Perayaan Hari Anak ini selalu diadakan di hari Sabtu minggu ke-2 bulan Januari setiap tahunnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak kegiatan di seluruh mall ataupun tempat wisata. Karena setiap tahunnya (termasuk tahun lalu) kami hampir selalu ke mall, dan mengalami macet di jalan, tahun ini kami mencari tempat yang tidak seramai mall.

Sebenarnya agak dilema untuk berangkat ke hari anak hari ini. Kegiatan di luar sepertinya masih ada polusi, tapi ya kegiatan di mall juga sama saja karena mall tidak ada filternya. Sebelum berangkat, melihat angka AQI nya menengah, ya agak tenang untuk berkegiatan di luar rumah.

masih aman lah ya buat jalan-jalan

Dari berbagai tempat yang biasanya cukup fun buat anak-anak, kami memilih ke Hidden Village Chiang mai. Terakhir ke sana itu tahun lalu bulan Januari. Tapi ternyata harga tiketnya sudah naik dalam setahun. Tempatnya sih semakin ramai dan banyak tambahan dinosaurusya.

Karena hari ini hari Anak, hari ini tiket masuk untuk anak-anak sampai dengan tinggi 130 cm digratiskan. Untuk orang dewasa, yang seharusnya membayar 100 baht diberikan harga khusus 80 baht. Khusus hari anak, harga orang asing disamakan dengan harga lokal. Biasanya harga orang asing lebih mahal dari orang lokal, jadi hari ini kesempatan yang baik mendapat harga tiket masuk lebih murah dari biasanya.

berangkaaaaat

Tadinya kami pikir, tempat ini akan relatif sepi. Ya dibandingkan mall, memang masih lebih sepi, tapi dibandingkan kunjungan ke sana sebelumnya, tempatnya terlihat ramai sekali. Tempat parkirnya juga lumayan ramai. Selain tempat-tempat kegiatan yang berbayar, mereka juga mengadakan panggung dan membagi-bagi hadiah buat anak-anak yang datang.

Mulai dari pintu masuk, sudah terlihat ada keramaian. Kami yang datang ke sana sudah kesiangan (dari rumah jam 12), langsung menuju restoran Barn Steak House buat makan hehehe. Kali ini makan buffet lagi, untungnya harganya tetap sama dengan tahun lalu: dewasa 259 baht, dan anak-anak 129 baht. Untuk minuman harus beli lagi, tapi makanannya bisa pesan berkali-kali.

Yang berbeda dengan tahun lalu adalah: makanannya terasa lebih fresh, mungkin karena kami makannya siang hari dan banyak pengunjung, jadi mereka selalu menambakan yang baru. Sebenarnya ada spaghetti, ayam goreng, salad dan buah juga, tapi tadi saya lupa foto hehehe.

Selesai makan, baru deh mulai bagian jalan-jalannya. Waktu kami tanya Joshua mau main di playground atau lihat dinosaurus? Joshua dengan mantap menjawab: mau lihat dinosaurus. Tapi sampai dalam tempat dinosaurusnya, dia ternyata menuju tempat main bouncy house yang selalu dimainkan kalau ke sana. Tempat itu bayar lagi sih, 20 baht untuk 20 menit per anak, tapi ya cukup fun buat ngabisin energi yang di makan tadi hehe.

Setelah main bouncy house, kami jalan keliling melihat-lihat dinosaurus. Walau sudah berkali-kali melihat dinosaurus, saya belum bisa hapal sebagian besar nama-namanya. Supaya ingat, saya coba foto-foto dan tuliskan lagi namanya di sini.

Dilophosaurus
Carnotaurus
Brachiosaurus

Melihat Maiasaura dan T.Rex, jadi ingat ada salah satu scene di serial The Flash (Season 2, Episode 21), ibunya membacakan buku ke Flash waktu kecil dengan judul Runaway Dinosaur.

The Runaway Dinosaur

Once there was a little dinosaur called a Maiasaura, who lived with his mother.

One day, he told his mother, “I wish I were special like the other dinosaurs. If I were a T. rex, I could chomp with my ferocious teeth!”

Tyrannosaurus rex alias T.rex

“But if you were a T. rex,” said his mother, “how would you hug me with your tiny little arms?”

“I wish I were an Apatosaurus,” said the little dinosaur, “so with my long neck I could see high above the treetops.”

“But if you were an Apatosaurus,” said his mother, “how would you hear me in the treetops when I told you I love you?”

“What makes you so special, little Maiasaura?” said his mother.

“Is it your ferocious teeth or long neck or pointy beak? What makes you special is out of all of the different dinosaurs in the big, wide world, you have the mother who is just right for you and who will always Love you.”

Maiasaura

Buku ini diilhami dari buku The Runaway Bunny

Sebenarnya ada lebih banyak lagi dinosaurus lainnya, tapi sayangnya gak ada Apatosaurus.

ada patung-patung lain selain dinosaurus, yang pasti ini bukan apatosaurus hehe

Karena Joshua sudah mengantuk, kami pulang sekitar jam 4 sore. Tadinya berencana untuk keluar rumah lagi malam harinya, tapi sayangnya Joshua ternyata demam dan batuk-batuk. Mungkin karena tadi udaranya terlalu panas dan belakangan ini dia tidur siangnya kurang teratur.

Keputusan untuk tidak ke mall hari ini sudah cukup tepat. Kami tidak kena macet. Tapi ternyata perkiraan tempatnya agak sepi tidak sepenuhnya benar. Memang hari anak di Thailand sepertinya hari di mana semua anak wajib di bawa keluar rumah, jadi tidak akan ada tempat yang sepi hehehe.