Supaya Komputer Tetap Hidup

Setelah tidak pulang beberapa tahun, rencananya saya akan pulang ke Indonesia bulan Juli. Saya jadi sadar bahwa banyak sekali hal yang sudah saya setup di sini, dan mungkin akan butuh akses berbagai komputer dan data saya dari Indonesia nanti.

Ada device/komputer yang ingin bisa diakses setiap waktu. Contohnya: asya ingin agar NAS saya tetap membackup data-data terbaru dari Internet ke harddisk lokal (agar tidak terjadi kasus account diblok seperti yang pernah saya alami). Andaikan internet di Indonesia sangat lancar, mudah dan bisa diandalkan, saya mungkin hanya akan butuh sebagian server saya ini di sini (misalnya server backup saja).

Untuk komputer yang ingin agar selalu menyala: harapannya adalah:

  • Komputer selalu on
  • Komputer tidak hang

Ada beberapa komputer yang hanya dibutuhkan sesekali. Contoh kasusnya: komputer powerful dengan RAM besar yang punya GPU dan hanya dipakai sesekali untuk traning AI atau cracking password. Untuk ini yang diinginkan adalah:

  • bisa menyalakan komputer jika dibutuhkan
  • bisa mematikan komputer jika tidak dibutuhkan.
  • bisa troubleshooting jika ada masalah startup

Setting BIOS: After Power Loss

Jika listrik mati dan kemudian menyala lagi, kita ingin agar komputer otomatis menyala lagi. Cara paling sederhana yang tidak butuh modal ekstra adalah mengganti setting di BIOS. Nama settingnya: “After Power Loss”, “AC Power Recovery” dan sejenisnya, intinya adalah kita ingin agar jika power dicolok, komputer langsung menyala.

Setelah settingnya diaktifkan, coba cabut power dan colok lagi. Seharusnya komputer akan langsung menyala. Perlu diperhatikan: kadang ini tidak selalu berhasil. Dua kegagalan yang pernah saya temui:

  • Ketika power ON/OFF berkali-kali dalam waktu singkat, kadang setting di komputer saya akan tereset menjadi off
  • Batere CMOS lemah dan setting BIOS ter-reset

Jika komputer yang dipakai adalah Windows, dan gagal boot berkali-kali (baru mulai booting lalu listrik mati lagi) maka kadang bisa gagal boot atau masuk ke safemode.

Uninterruptible Power Supply (UPS)

Supaya bisa tetap hidup walau mati listrik, ya tentunya menggunakan UPS. Dengan cara ini komputer saya sudah ada yang uptime-nya sampai lebih dari 500 hari.

Biasanya gabungan antara UPS dan setting BIOS sudah cukup untuk membuat komputer tetap menyala. UPS ini kapasitasnya terbatas, jadi hanya akan mengurangi kemungkinan komputer restart karena mati lampu sebentar. Jika UPS habis batere, lalu listrik menyala lagi, maka komputer otomatis hidup lagi dengan setting BIOS yang dijelaskan sebelumnya.

Tapi kemarin ketika hujan badai besar, listrik nyala dan mati berkali-kali (mungkin sampai 20 kali dalam waktu sangat singkat) dan hasilnya: UPS-nya sempat gagal juga dan komputernya restart berkali-kali.

Saya ingat waktu ke Medan dulu, mati listrik ini sering terjadi. Di sini saya lebih beruntung: sejak 2019, di komplek ini listrik tidak pernah mati lama. Terakhir kali di bulan Mei 2019 ada pemadaman 8 jam.

Jangan lupa kalau batere UPS juga punya batas usia. UPS saya merk APC bisa diakses statusnya dengan apcaccess. Ternyata kapasitas batere salah satu UPS saya sudah sangat sedikit, sehingga cepat sekali mati (padahal baru 2 tahun).

Akses info UPS merk APC dengan apcaccess

UPS yang agak mahal biasanya gampang diganti baterenya, sedangkan UPS murah sering kali semuanya disegel jadi sulit dibuka. Selain itu UPS mudah juga tidak bisa dikalibrasi ulang setelah baterenya diganti (jadi UPS tidak tahu bahwa baterenya sudah baru).

Mengganti Batere UPS

Panel Surya dan Generator

Selain UPS, tentunya kita bisa memakai Generator. Di Data Center biasanya selain ada UPS, ada juga generator listrik cadangan agar komputer bisa tetap menyala ketika ada pemadaman listrik lama. Saya sendiri tidak punya ini di rumah, jadi tidak bisa menjadi solusi untuk saya. Jika beli pun akan jarang sekali terpakai tapi harus terus dipelihara.

Panel Surya

Saya punya solar panel kecil (pernah saya tulis di sini), dan hanya bisa dipakai untuk menyalakan Single Board Computer (Raspberry Pi Zero dan Orange Pi Zero) dan modem. Jika ingin bisa menyalakan server, butuh panel surya dan batere yang besar.

Watchdog

Masalah berikutnya adalah: bagaimana jika komputernya tidak mati, tapi hang. Jika kita di depan komputernya, maka kita bisa merestart komputernya, tapi bagaimana melakukannya tanpa campur tangan manual?

Salah satu solusi untuk ini adalah watchdog. Intinya adalah: ada program yang akan mengirimkan informasi ke watchdog: saya masih hidup, tiap beberapa detik (atau menit), dan jika watchdog tidak menerima pesan itu, maka komputer akan direstart.

Ada dua jenis watchdog: software dan hardware. Yang paling bisa diandalkan adalah watchdog hardware. Beberapa device punya watchdog internal (contohnya Single Board Computer seperti Raspberry Pi punya ini, server juga ada yang punya).

USB Watchdog

Saat ini ada juga watchdog yang bentuknya bisa dicolok port USB, lalu dihubungkan ke port tombol power di PC. Setelah itu kita perlu menjalankan program tertentu yang akan mengirimkan signal ke watchdog bahwa: komputernya masih hidup, jangan dimatikan/direset. Jika w

Fingerbot

Bagaimana jika komputer yang dimiliki tidak punya fitur watchdog, tidak bisa dibuka (atau disegel, tidak boleh dibuka) untuk diinstall kabel switch power? Solusi yang bisa dipakai adalah: Fingerbot.

Fingerbot

Finger Bot adalah device yang bisa secara fisik menekan tombol. Ini bisa dipakai bukan cuma untuk komputer, tapi untuk device apa saja. Perhatikan bahwa device seperti ini kebanyakan memakai bluetooth, dan butuh beli gateway supaya bisa terhubugn ke WiFi agar bisa dikendalikan dari luar.

Wake On LAN (WOL)

Jika akses tidak dibutuhkan tiap waktu, cara termurah untuk PC adalah dengan menggunakan fitur Wake On LAN yang ada di hampir semua motherboard baru. Fitur ini perlu diaktifkan di dua tempat: di BIOS (Wake on LAN atau wake on PCI) dan dipastikan lagi sudah aktif di dalam OS (silakan lihat setting OS masing-masing, misalnya untuk Debian bisa lihat ini).

Kita bisa mematikan atau menidurkan (sleep) komputer kita dan jika komputer menerima “magic packet” maka komputer akan bangun. Tentunya paket ini perlu bisa dikirimkan ke device tersebut, jadi butuh router yang bisa mengirimkan paket ini. Router yang memakai sistem operasi tebuka OpenWRT punya ini.

Selain dengan router yang memiliki fitur mengirimkan pake WOL, cara lainnya adalah memakai device SBC seperti Raspberry Pi, dan memakai itu untuk mengirimkan pake WOL. Raspberry Pi ini bisa dihubungkan ke UPS dan akan bisa menyala berjam-jam, atau bahkan dihubungkan ke batere dan panel Surya agar bisa menyala terus.

Kelemahan WOL adalah: fungsi WOL ini bisa dimatikan dari dalam sistem operasi (di linux dengan ethtool). Jadi jika kita sedang oprek interface network via remote (baik itu manual, atau via script), kita bisa tidak sengaja mengubah settingnya menjadi off. Di kasus ini ketika shutdown/sleep, maka tidak bisa dinyalakan lagi dengan Wake On LAN.

WIFI Controlled Power Strip

Tidak semua komputer memiliki fitur WOL. Contohnya: Single Board Computer seperti Raspberry Pi tidak punya WOL. Jika ingin mengontrol device semacam ini, maka kita bisa membeli power strip yang bisa dikontrol via WIFI.

Power Strip yang bisa dikendalikan dengan WIFI

Selain Power Switch, ada juga versi yang bisa mengontrol USB. Perhatikan batasan arus USB ketika membeli device yang hanya bisa mengontrol USB saja. Selain itu, jika tidak ingin membeli baru: Raspberry Pi juga bisa mengontrol power USB-nya memakai software uhubctl.

Power Over Ethernet

Jika tidak ingin menggunakan colokan plus WIFI, dan hanya sekedar ingin menyalakan device dengan daya rendah, kita bisa menggunakan juga network switch yang memiliki fitur PoE (Power Over Ethernet). Dengan PoE kita bisa menyalurkan data dan power via kabel ethernet. Kita bisa memecah data dan power dengan splitter.

PoE Splitter

POE Ini biasanya terpakai untuk kamera pengawas, tapi bisa juga dipakai untuk memberikan power ke Single Board Computer atau device lain. Jika Switch PoE-nya jenisnya adalah managed, maka kita bisa mengendalikan power pada portnya (Power On/Off) via interface Web atau SSH.

Remote KVM

Bagaimana jika ternyata komputer gagal booting? atau kita salah mengganti setting jaringan, sehingga tidak bisa diakses secara remote? (misalnya kasus mematikan WOL) Jawabannya adalah dengan Remote KVM. Intinya adalah: ada satu alat yang akan memforward display via internet dan juga sebaliknya: yang diketik via internet akan disimulasikan sebagai input keyboard, jadi seolah kita di depan komputernya langsung

Software PiKVM

Di tahun 2014 saya pernah membuat solusi dengan serial port saja, tapi ini agak repot (banyak setting perlu diubah). Sekarang ada yang namanya PiKVM. Ini solusi Remote KVM berbasis Pi yang relatif murah, setidaknya dibandingkan solusi komersial lainnya.

PiKVM, Remote KVM berbasis Pi

Penutup

Setelah saya pikirkan lagi, selain solusi yang sudah disebutkan di atas, ada beberapa lagi yang bisa dipertimbangkan:

  • Memakai cloud (jadi orang lain yang memikirkan masalah availability)
  • Mensetup Laptop agar semua bisa dilakukan di laptop, jadi tidak bergantung pada sesuatu di server rumah

Saat ini rencana saya adalah:

  • Membiarkan sebagian komputer tetap menyala (NAS untuk backup)
  • Membuat komputer/device lain bisa dinyalakan secara remote jika diperlukan
  • Mempersiapkan laptop agar sebisa mungkin semua pekerjaan bisa dilakukan via laptop

Semoga eksplorasi saya ini bisa berguna juga untuk orang lain yang memiliki masalah serupa, entah untuk pribadi atau untuk kantornya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.