Males Nerima Telepon

Dulu, jaman nelepon itu harus ke wartel atau pake koin di telepon umum, sering banget rasanya pengen aja gitu iseng nelpon-nelpon. Waktu jaman internet belum ada dalam genggaman, pengen aja gitu rasanya cek e-mail atau sekedar chatting di warnet 30 menit pun jadi. Dulu, jaman video call itu masih harus pake skype, rasanya perlu banget ngajarin ortu buat nyalain skype di komputer rumah dan beli webcam segala. Tapi sekarang, setelah semua tersedia dalam telepon genggam dengan akses internet unlimited 24 jam, rasa pengen itu udah berkurang gak kayak dulu lagi.

Sekarang ini, hampir semua orang sudah bisa mengakses internet dan mengajari mereka video call jauh lebih mudah. Oppung dan Eyang juga udah pada jagoan pake video call dari telepon genggamnya. Terus apakah jadi nelepon orangtua setiap hari? ya nggak juga sih, tapi ya paling tidak jadi lebih mudah sekali seminggu bisa bertatap muka dengan Eyang atau Oppung. Sekedar update singkat. Kalau gak sempat video call, ya minimal bisa kirim pesan singkat via WhatsApp atau aplikasi messenger lainnya, dan sesekali sambil kirim foto atau video anak-anak.

Komunikasi dengan keluarga besar sih ya seperti biasa ya, kalau telepon tiap hari juga ya mau ngobrolin apa. Paling sekarang ini kebanyakan keluarga itu ada group chat nya. Biasanya sesekali akan ada berita-berita keluarga dan gak tiap hari juga selalu ramai. Saya tidak bergabung dengan group keluarga yang terlalu besar, saya cuma gabung di grup keluarga kakak beradik dan orangtua saja.

Cerita awalnya kepanjangan ya dan belum nyambung sama judul. Saya cuma mau cerita, sejak gampangnya terhubung dengan banyak komunitas, saya cenderung tidak suka nerima telepon, apalagi misalnya bukan dari orang yang saya benar-benar kenal. Saya lebih suka obrolan itu tertulis. Alasannya sih biar bisa sambil mengerjakan hal lain (misalnya sambil ajak main atau ngajarin anak belajar). Alasan lainnya ya, kalau di telepon itu bisa lupa point-point percakapannya dan gak bisa sambil mencari informasi yang dibutuhkan. Kalau misalnya chat kan bisa sambil mencari informasi di google dan kemudian membagikan informasi yang ditemukan. Selain itu kalau chat itu gak harus di jawab langsung. Kadang-kadang sebagai ibu, saya harus sambil antar jemput anak, atau nungguin anak di tempat kursus. Rasanya gak enak aja gitu teleponan di mana ada banyak orang juga lagi pada diam-diaman hehehe.

Nah, waktu saya cerita ke Joe, kenapa ya saya kok sekarang malas terima telepon apalagi kalau gak kenal. Eh Joe bilang ya wajarlah, untuk hal-hal yang gak urgent, mendiskusikan sesuatu itu lebih baik dengan tulisan, baik e-mail ataupun chat. Setidaknya jadi ada arsip percakapannya dan bisa dibaca kembali untuk menyimpulkan point-point yang dibutuhkan. Malah kata Joe, kadang-kadang malah kalau menyangkut komunitas, lebih baik dilakukan secara tertulis di group baik itu group mail ataupun group chat, jadi ya semua anggota bisa baca dan gak harus di update satu persatu.

Saya tahu, untuk beberapa urusan, misalnya membatalkan janji karena ada urusan lain yang lebih penting secara mendadak, pastinya harus nelepon daripada kita kirim e-mail atau chat yang kemudian ternyata orangnya gak baca dan menunggu-nunggu kita tanpa kabar. Tapi jangan salah, saya masih suka juga sesekali menelpon teman yang sudah lama gak berkabar untuk janjian ketemuan misalnya. Walaupun misalnya janji ketemuannya besok, ngobrol di teleponnya bisa agak lama juga walau gak urgent hehehe. Kalau kamu bagaimana? lebih suka selalu nelepon saja atau pake tulisan chat/e-mail untuk komunikasi di komunitas?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.