Mari Hentikan Hoaks

Menurut KBBI, Hoaks mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber.[3] Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran.[4] Menurut Werme (2016), mendefinisikan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.[5] Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta [6]

Wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Berita_bohong

Dari jaman mailing list sampai jaman grup chat, selalu ada saja yang tidak melakukan saring sebelum sharing. Kecepatan jempol share baru baca, atau sekedar baca judul dan langsung ambil kesimpulan, membuat berita bohong menyebar dengan tak terkendali.

Di saat sekarang ini, terutama dalam masa wabah covid-19, hoaks semakin banyak mulai dari siapa yang tertular positif, di mana ada yang positif, apa obatnya untuk membuat tubuh kebal, sampai berita tentang pasien positif yang dikabarkan meninggal karena covid-19.

Belakangan ini banyak teman-teman saya yang bilang: “bosan baca berita Corona, semuanya menakut-nakutin”. Atau ada juga yang bilang: “capek deh menjelaskan ke orang yang suka sebar hoaks tentang corona, dikasih tau ngeyel”.

Periksa hoax atau bukan seputar corona di https://www.covid19.go.id/hoaks-buster/
Lanjutkan membaca “Mari Hentikan Hoaks”

Aplikasi Bank di Thailand

Tulisan ini bukan iklan, tapi cuma mau cerita sedikit pengalaman memakai aplikasi bank di Thailand. Siapa tahu ada yang berencana pindah dan menetap di Thailand dan buat jadi gambaran kalau mau dibandingkan dengan layanan perbankan di Indonesia.

Sejak kami tinggal di Chiang Mai, kami membuka rekening bank lokal. Awalnya sih, Joe, berikutnya supaya lebih mudah untuk saya ambil duit, saya juga bikin rekening sendiri. Waktu kami membuka rekening, persyaratan utama selain passport, harus punya ijin tinggal dan ijin kerja. Untuk Joe sih tidak ada masalah, karena memang dia bekerja dan bahkan gajinya ditransfer masuk langsung ke bank. Untuk saya yang datang dengan visa ikut suami gimana? Karena Joe udah punya rekening disitu, mereka minta passport Joe aja sebagai syarat tambahannya.

Sejak buka rekening, pastinya sudah bikin kartu ATM dan internet bankingnya. Tapi saya jarang buka internet banking. Agak panjang stepnya kalau harus selalu masukin user id, password, dan malas melihatnya kecil sekali di layar HP.

Aplikasi perbankan di HP sebenarnya sudah ada beberapa tahun, tapi saya jadinya sudah kebiasaan minta Joe yang eksekusi kalau ada kebutuhan transfer ini itu. Saya bukan orang yang suka belanja online jadi tidak merasa butuh sering-sering transfer, tapi ya kadang-kadang mulai terasa kalau butuh bayaran kursus anak-anak lebih mudah kalau saya yang lakukan karena saya yang lebih sering antar jemput anak-anak.

Beberapa bulan lalu, saya pernah mencoba untuk mengaktifkan aplikasi perbankan di HP, instruksinya sih disuruh ke ATM, tapi sudah beberapa kali dicoba, tidak berhasil dan disuruh menghubungi cabang bank terdekat. Akhirnya saya menyerah dan hampir lupa untuk meneruskan niat memakai aplikasi perbankan di HP.

Awal tahun 2020, di saat ada waktu luang, saya ingat lagi untuk ke bank membawa buku bank dan passport untuk mengaktifkan aplikasi perbankan di HP. Awalnya, si mbak yang bantuin ajak saya ke ATM untuk aktifkan (dan tentu saja gagal lagi). Akhirnya mereka melakukan pengaktifan secara manual.

Ada beberapa masalah sepertinya yang mengakibatkan saya tidak bisa mengaktifkan langsung dari mesin ATM. Nomor passport saya yang tercatat di sistem bank dan nomor passport saya yang sekarang sudah tidak sama (ya sudah lebih 5 tahun yang lalu sih buka rekeningnya). Masalah berikutnya: karena saya memakai dual sim card dan data internetnya bukan di nomor utama, sistem banknya tidak mengijinkan aplikasinya untuk login. Akhirnya saya harus menonaktifkan dulu nomor yang saya pakai untuk paket data internetnya.

Perjalanan panjang untuk bisa memakai aplikasi perbankan tidak sia-sia. Sekarang ini saya bisa merasakan berbagai kemudahan dari memakai aplikasi perbankan selain untuk kebutuhan transfer dana.

Ada beberapa fitur dari aplikasi perbankan di HP yang saya suka banget selain untuk transfer dana.

Lanjutkan membaca “Aplikasi Bank di Thailand”

Internet di HP: Beli Paket Data VS WIFI Gratisan

Saat ini, hampir semua orang sudah punya HP yang bisa akses internet. Hampir semua orang juga mengupayakan supaya HP nya bisa ‘on’ terus dan terkoneksi ke internet. Harga paket internet juga sangat beragam.

Saya ingat, di jaman awal punya HP yang bisa konek internet dulu, saya sering beli simcard yang lagi promosi demi bisa akses internet. Ada 2 pilihan: bayar volume data atau bayar jam pemakaian. Karena cuma punya HP 1, ya jadinya sering tukar-tukar nomor HP. Atau ya tukar kartu untuk bisa online, lalu tukar lagi untuk nomor yang dipakai.

Dulu pernah sengaja beli HP yang bisa dijadikan modem juga. Jadi akses internetnya tetep dari komputer/laptop. Lama-lama, mulai ada HP yang bisa akses ke WiFi. Tapi di Indonesia masa itu, masih sedikit tempat untuk akses wifi gratisan.

Sekarang ini, hampir semua orang pakai HP cerdas yang selain bisa koneksi internet dengan paket data yang disediakan provider, bisa juga terkoneksi melalui wifi. Sejak di Thailand, kami sudah sangat terbiasa mengakses internet 24 jam dengan kecepatan yang lumayanlah. Di rumah kami sengaja berlangganan internet yang terhubung dengan fiber optik, tapi kalau keluar rumah, untuk keperluan komunikasi kami berlangganan paket data lagi di HP. Kadang-kadang kalau dihitung-hitung, pulsa yang diisikan ke HP ya dipakainya hanya untuk beli paket data itu saja. Semua panggilan dan pesan disampaikan lewat aplikasi chat via internet.

Karena sudah terbiasa dengan HP konek 24 jam ke internet, kalau sedang traveling kami juga selalu mencari tahu bagaimana memperoleh paket data yang murah di tempat tujuan. Kalau pulang ke Indonesia, karena kami masih punya simcard Indonesia, kami tinggal perlu mencari paket mana yang akan dipilih. Kalau travelingnya dalam negeri Thailand, tentunya ga ada masalah. Nah kalau perginya ke negara lain selain Indonesia dan Thailand kami akan cari tahu bagaimana mendapatkan akses internet di HP yang termurah.

Pengalaman waktu ke Singapur, mereka menyediakan paket data yang sangat besar untuk turis selama 5 hari. Waktu ke Hongkong juga ada paket data untuk turis yang bisa dibeli di airport. Di Hongkong, beberapa hotel memberikan fasilitas peminjaman modem dan HP dengan nomor lokal gratis. Tapi waktu Joe ke Abudhabi kemarin, dia malah memilih roaming paket internet dari XL (karena kebetulan masih punya banyak pulsa di kartu XL nya).

Mungkin ada juga yang merasa gak butuh internet selama traveling dan cukup dengan mencari koneksi WiFI gratisan di hotel atau di tempat umum lainnya. Tapi buat kami, kadang-kadang mencari wifi gratisan ini tidak praktis.

Beberapa contoh internet dibutuhkan ketika traveling:

  • ketika mendarat di singapura, pesan grab bisa saja pakai wifi di bandara, tapi biasanya begitu keluar dari bandara koneksi terputus dan bisa susah untuk berkomunikasi dengan supir grabnya misalnya dia tidak berhenti di titik yang kita sebutkan ketika memesan
  • akses ke google map kalau lagi nyasar di jalan. Waktu di hongkong, kami juga mencoba naik MRT dan berjalan kaki untuk menuju ke tempat wisata. Kalau tidak ada google map, kayaknya saya bakal nyasar deh walau ada banyak petunjuk jalannya.
  • komunikasi sesama anggota keluarga. Kadang-kadang saya harus bawa 1 anak ke toilet, sementara Joe nunggu dengan anak yang 1 lagi, nah yang nunggu ini kan ga bisa diam di 1 titik, jadi ya paling setelah urusan ke toilet selesai bisa bertanya ada di titik mana buat bertemu lagi.
  • kalau janjian dengan teman (misalnya berencana bertemu teman yang tinggal di negara yang kita kunjungi), supaya gampang dan in case terlambat dari waktu yang sebelumnya diomongkan, ada baiknya bisa akses internet selagi di perjalanan. Waktu saya ke singapur, janjian dengan teman ketemu bukan di rumahnya, nah kalau ketemu di food court aja kadang suka bingung duduknya dekat dengan jualan yang mana, jadi ada baiknya kalau bisa bertanya setelah dekat dengan lokasi sebelumnya.

Memang kesannya jadi ketergantungan ya dengan internet. Tapi ya pernah juga nih, teman saya janji akan datang ke rumah. Di tunggu-tunggu gak ada kabar. Ternyata katanya dia ketinggalan HP dan ga ingat nomor telpon saya. Lalu dia juga ga punya akses ke internet walaupun bawa tablet. Jadinya dia menelpon teman saya yang dia ingat nomornya, lalu teman saya itu mengontak saya lewat FB chat. Nah kalau misalnya FB chat saya tidak diinstal atau kebetulan HP saya lagi gak konek ke internet gimana? Masalahnya adalah: teman saya yang menolong itu tidak mengirimkan nomor telepon yang dipakai untuk menelpon dia. Haduh ribet deh janjian jaman sekarang kalau HP ketinggalan hehehe.

Aduh jadi kemana-mana ini ceritanya. Kalau dipikir-pikir, dulu jaman belum ada HP ataupun internet bisa aja ya janjian ga pake ribet. Kenapa sekarang jadi ribet? karena ada HP dan bisa konek setiap saat, ada kecenderungan kita menggampangkan. Gampang ntar tinggal kabari. Gampang ntar di update udah sampai mana. Nomor HP teman ga perlu dihapal, kan semua ada di memori HP. Kalau tiba-tiba HP ketinggalan, baru deh jadi ribet hehehe. Atau kalau tiba-tiba koneksi internet terputus seperti masa FB dan WA down, baru deh pusing.

Nah kalau saya sih selalu pilih beli paket data daripada nyari-nyari WiFi gratisan supaya bisa konek internet dari HP setiap dibutuhkan. Sebelum pergi keluar rumah juga selalu memastikan kalau HP gak ketinggalan biar ga pusing hehehe. Kalau kalian kira-kira pilih mana?

Jangan percaya Petisi Online

Dari dulu saya gak tertarik ikutan petisi online walau kadang mempertanyakan apakah ada gunanya dan pernah bisa dipakai untuk mencapai tuntutannya. Sekarang saya makin ga percaya dengan petisi online, apalagi yang dari change.org. Saya tau buat sebagian orang ikut serta dalam petisi online itu terasa memberi suara untuk perubahan, tapi sekarang saya makin yakin kalau pembuat petisi online ini gak beda jauh dengan pembuat hoax.

Jadi ceritanya, beberapa waktu lalu saya heran dapat e-mail dari change.org yang menyatakan saya sudah menandatangi petisi online untuk beberapa hal yang sedang ramai di Indonesia. Loh kok bisa? walaupun orangnya pakai nama lain, tapi orang tersebut jelas-jelas pakai e-mail saya. Ternyata ya masalahnya si change.org tidak memverifikasi apakah yang tandatangan petisi itu beneran orang yang memiliki e-mail tersebut. Udah gitu gak tanggung-tanggung, orang tersebut tandatangan 19 petisi dalam 1 hari. Langsung deh saya bikin akun di change.org dan ganti passwordnya. Petisi yang ditandatangani oleh orang yang make e-mail saya juga untungnya masih bisa dibatalkan.

Penipu petisi atau polling ini merugikan bukan secara materi, tapi lebih ke membuat seolah-olah protes yang mereka ajukan banyak yang dukung, padahal ya bisa jadi itu dukungan semu. Terus mereka seperti berusaha membuat seolah-olah petisinya ini sudah didukung oleh masyarakat banyak. Terus dengan modal petisi itu, mereka sebarkan dan berusaha mempengaruhi lebih banyak orang lagi.

Alasan lain tidak percaya dengan jumlah pendukung petisi online selain kasus e-mail tidak diverifikasi adalah: jaman sekarang ini 1 orang bisa punya banyak e-mail karena ada banyak layanan bikin e-mail gratisan. Tapi dibandingkan bikin account baru, mungkin orang-orang yang ingin bikin ramai dengan petisi online ini lebih suka mengumpulkan e-mail dari situs tertentu dan ya dipakailah untuk tandatangan petisi.

Jadi kalau ada petisi online klaim sudah ditandatangi sekian banyak orang, belum tentu kalau petisi itu benar-benar ditandatangani oleh pemilik e-mailnya, karena beberapa sistem sepertinya sengaja tidak memverifikasi kalau yang tandatangan itu benar-benar pemilik akun e-mail. Mereka sudah seperti jaman lomba idol yang butuh dukungan sebanyak-banyaknya tanpa peduli identitas pendukungnya.

Tapi ini opini saya ya, kalau pembaca masih pada mau ikutan petisi online ya silakan saja. Pesan saya sih, pakailah identitas dan e-mail yang memang milik Anda sendiri, jangan makai e-mail orang lain. Kalau makai e-mail orang lain, itu namanya ga berani mengakui dukungan terang-terangan tapi sok-sokan mau ikutan petisi.

Makin Banyak Penipu di dunia Maya

Waktu baru mengenal internet, dapat materi khusus mengenai etika berinternet dan perlunya berhati-hati di dunia maya. Dari dulu namanya orang jahat sudah ada, tapi di dunia maya sepertinya orang-orang jahatnya makin banyak dan makin kreatif cara menipunya.

Kalau dulu, orang-orang takut untuk bertransaksi online dengan menggunakan kartu kredit, sekarang ini belanja online sudah sangat mudah untuk dilakukan. Kita tidak harus pakai kartu kredit untuk bisa berbelanja online. Selain itu, dengan banyaknya bentuk uang digital, semakin membuat orang mudah sekali bertransaksi online.

Kalau dulu, orang jahat di dunia online yang dikenal cuma hacker (yang biasanya nguras kartu kredit ataupun nyebarin virus). Kebanyakan orang berpikir hacker ini harus jagoan komputer. Tapi sekarang yang namanya penipu sangat berbeda dengan hacker dan kebanyakan ya menipu dengan ‘ngomong doang’.

Penipu Identitas

Paling banyak itu menipu dengan mengaku sebagai orang lain. Dari jaman telepon saja, orang sudah sering telepon ke rumah bilang anggota keluarganya kenapa-napa dan harus kirim uang untuk biaya pengobatan. Setelah jaman sms, aplikasi chat dan media sosial, semakin banyak orang berusaha mengambil alih akun seseorang lalu dengan berbagai alasan berusaha meminta uang dari orang-orang yang ada di daftar kontak akun yang diambil alih tersebut.

Banyak juga penipuan dengan menyebarkan informasi perlombaan berhadiah tapi yang menerima harus kirim duit sekian persen dari hadiah.

Sebenarnya penipuan identitas ini bukan hal yang baru, dan saya tidak ingin menuliskan detail karena tidak ingin memberi ide, tapi intinya dengan adanya internet, orang jahatnya makin banyak dan makin bervariasi cara menipunya.

Penipu Sebagai Penjual

Dengan semakin gampangnya akses internet untuk semua orang, hampir semua orang bisa berjualan. Penjual penipu ini banyak berjualan di platform media sosial ataupun platform jual beli yang tidak menyediakan jasa penjamin transaksi.

Saya pernah baca teman saya membeli casing HP via FB dan setelah dia transfer uangnya, barangnya gak kunjung dikirim juga. Setiap kali teman saya bertanya di wall penjual tersebut, komentarnya selalu langsung dihapus dan akhirnya teman saya diblock sama penipunya supaya ga bisa komen dan komen yang tersisa di wall penjual ini seolah testimoni yang baik-baik saja.

Selain penjual yang tidak mengirimkan barang, ada juga penjual yang mengiklankan barang super murah dibandingkan toko lainnya, tapi ketika dikirimkan tidak sesuai dengan deskripsi. Pokoknya ada aja celah yang bikin gak bisa diklaim lagi walaupun itu dijual di platform yang ada penjamin transaksi.

Penipu Sebagai Pembeli

Nah untuk tipe ini saya baru dapat cerita dari teman saya. Jadi teman saya ini menjual benda yang sudah dia tidak pakai lagi tapi masih bagus. Begitu dia pasang iklan, 5 menit kemudian langsung ada yang bilang mau beli dan gak pake nanya banyak minta nomor rekening untuk transfer. Lalu dia akan nanya punya nomor rekening bank lain selain yang disebutkan sebelumnya gak.

Dengan alasan beda bank, dia kirim bukti transfer yang katanya pakai ponsel dan butuh diaktivasi untuk menerima duitnya masuk ke rekening. Beberapa yang saya baca di internet penipunya akan meminta kita memasukkan kode aktivasi di ATM.

Kalau dari cerita teman saya, orangnya bahkan menelpon untuk mendesak masukkan kode aktivasi yang diterima di SMS ke mbanking teman saya. Alasannya kalau tidak diaktivasi dana yang dia kirim jadi pending. Tapi setelah teman saya tidak mengerjakannya akhirnya dia diam dan ga mengontak lagi. Mungkin dia sadar ketahuan kedok menipunya jadi tidak meneruskan usahanya.

Aneh kan sebenarnya kalau ada orang mau beli udah transfer uang tapi gak bertanya lagi. Kalau orang itu beneran mau beli, pasti deh dia nanya lagi sampai transaksi selesai.

Kesimpulan

Mau di dunia nyata ataupun di dunia maya, kita harus hati-hati karena ya namanya orang jahat ada di mana-mana. Untuk transaksi online atau transfer uang, harus lebih berhati-hati. Kalau bisa punya 2 rekening terpisah, di mana 1 rekening untuk yang biasa digunakan transaksi online dan atm, dan rekening utama untuk menyimpan tabungan.

Perhatikan kalau ada usaha mengambil alih akun kita terutama akun e-mail yang kita pakai untuk daftar kegiatan perbankan kita. Bukan cuma pintu rumah yang perlu kunci ganda, kunci akun e-mail juga kadang-kadang perlu kunci lebih dari 1.

Ada yang mau berbagi pengalaman nyaris tertipu di internet?

Insiden Google Play: CC Niaga dicharge 100x lipat

Cerita ini tentang kejadian yang saya alami dua hari lalu: membeli koin game seharga 5 ribu rupiah di Google Play tapi tercharge 500 ribu rupiah di CC Niaga (5 transaksi, jadi 2.5 juta rupiah). Masalahnya bisa diselesaikan setelah menelpon dan juga membatalkan transaksi dari Google Play. Nah sekarang cerita lengkapnya.

Saya cukup jarang membeli koin game dari Google Play. Pernah membeli agak banyak karena pernah dapet voucher Google Play, tapi dalam kasus tersebut tidak ada masalah, karena tidak terhubung ke kartu kredit. Koin yang saya beli adalah untuk game Pokemon Go dari perusahaan Niantic.

Niantic memiliki sistem pricing yang aneh: akan lebih murah membeli 100 koin berkali-kali dibandingkan langsung mengeluarkan uang banyak. Perhatikan gambar ini:

  • 100 Pokecoin 5 ribu rupiah
  • 550 Pokecoin 75 ribu rupiah

Sedangkan jika saya membeli 100 pokecoin x 6 = 600 pokecoin, dengan hanya 5 rb x 6 = 30 ribu rupiah. Ini saya jelaskan supaya bisa dimengerti alasan kenapa saya perlu membeli berkali-kali. Saya memilih menggunakan account indonesia, karena dengan account Thailand, harga koin menjadi hampir 2x lipat (harga 100 pokeoin 5000 rupiah menjadi 20 baht atau 9200 rupiah).

Perhatikan juga: tidak ada item yang harganya tepat 500 ribu rupiah, ada yang lebih dan ada yang kurang, tapi tidak ada yang tepat 500 ribu rupiah. Yang paling dekat adalah 589 ribu, dan di bawahnya 299 ribu. Jadi tidak mungkin saya salah beli/salah tekan yang hasilnya 500 ribu rupiah.

Saya berencana membeli 14 kali (1400 koin), totalnya seharusnya 70 ribu rupiah. Pembelian pertama sampai kelima berhasil, tapi ketika yang keenam saya dapat pesan: kartu ditolak. Saya pikir: hmm mungkin ada fraud detection. Mungkin karena ada banyak pembelian berulang dalam waktu singkat, jadi kartunya ditolak.

Saya teringat lagi bahwa saya masih punya pulsa XL karena dulu pernah dapat dari menemukan bug di situs isi pulsa (bug sudah dilaporkan dan dapat reward). Dan ternyata dengan account Google Indonesia saya bisa membeli memakai pulsa XL. Dan saya teruskan pembeliannya dengan XL, 9 pembelian berikutnya berhasil.

Saya mendapat notifikasi (14 email) dari Google via email. Semua sesuai yang diharapkan. Perhatikan: 100 koin dengan harga 5000 rupiah. Total 5000 rupiah.

Tapi beberapa jam kemudian saya dapat SMS Horror. Saya bukan dicharge 5 ribu rupiah, tapi 500 ribu rupiah, per transaksi. Meski hanya ada 3 SMS, tapi CS niaga memastikan bahwa jumlah transaksinya 5, bukan 3.

Sejujurnya, walau sering dapat SMS notifikasi tapi sering kali tidak saya perhatikan seksama karena biasanya bank selalu benar. Asalkan saya merasa memang melakukan transaksi, ya notifikasinya pasti benar. Tapi untungnya kali ini saya perhatikan dengan seksama jumlah nolnya.

Pikiran pertama saya adalah: mungkin sistem notifikasinya salah. Saya cek saldo kartu kredit online: benar, semua limit kartu kredit saya habis. Untungnya limit kartu saya ini sangat rendah (< 3 juta rupiah), kartu ini lebih sering saya pakai untuk pentesting.

Berikutnya: saya telepon ke Niaga. Tips: lihat SMS dengan seksama, ada nomornya di situ. Saya sempat mencoba +622114041 (yang tercantum di web niaga) tapi selalu gagal. Konyolnya, saya sempat salah tekan bukan 14041, tapi 14045 dan nyasar ke McD.

  • Memakai 006/001, dia langsung +622114041 tidak bisa dari Thailand
  • Memakai Skype bisa, tapi ketika mulai berbicara dengan CS, tiba-tiba audionya beralih ke call orang lain (sepertinya bug Skype, saya coba 2x hasilnya sama)

Saya menghubungi CS karena ingin benar-benar yakin bahwa transaksinya 500 ribu rupiah, dan bukan kesalahan di sistem notifikasi dan web CIMB Niaga. Jawaban CS adalah: benar transaksinya sebesar itu, coba kirim bukti-bukti ke [email protected]

Sebelum mengirimkan bukti, saya segera terpikir untuk segera membatalkan transaksi di Google Play. Sayangnya di Google Play opsi alasan yang ada hanya sangat sedikit. Sebenarnya tidak ada alasan yang cocok dengan masalah saya. Tidak ada cara mudah menghubungi Google, jadi saya pilih alasan apa saja. Empat transaksi pertama berhasil dibatalkan, tapi yang kelima gagal.

Akhirnya saya kirim bukti-bukti ke Niaga dan segera dibalas dengan meminta nomor kartu saya. Sebenarnya saya merasa kurang nyaman dan aman mengirimkan nomor CC via email (karena pada dasarnya email itu tidak aman), tapi karena limitnya sangat rendah, ya sudah lah.

Hari ini saya belum mendapat kabar resmi dari Niaga (katanya memang akan dihubungi dalam 3 hari, jadi masih wajar). Tadi saya cek online semua saldo kartu kredit sudah kembali normal, jadi saya putuskan untuk menuliskan ceritanya. Sampai saat ini saya tidak tahu salah siapa ini, dan apakah banyak yang terpengaruh. Kalau Anda belum lama ini berbelanja di Google Play dengan kartu kredit, coba cek tagihannya.

Penutup

Siapa saja bisa menjadi korban “sial” sistem komputer. Setiap sistem bisa bermasalah, atau dalam kasus saya dua sistem yang berhubungan bisa memiliki bug. Sekarang saya selalu berusaha memiliki backup untuk berbagai hal yang sifatnya terkomputerisasi, misalnya:

  • memiliki dua rekening bank, masing-masing memiliki kartu ATM
  • memiliki dua nomor telepon (dan tetap memelihara nomor Indonesia andaikan ada masalah)
  • memiliki backup di cloud provider terpisah

Saya bersyukur karena banyak hal:

  • Masalahnya bisa diselesaikan dengan cepat
  • Kartu yang saya pakai memiliki limit yang rendah sehingga gagal di transaksi ke-5. Andaikan limitnya tinggi, saya akan tercharge 7 juta rupiah.
  • Tidak sedang butuh memakai kartunya segera

Bisa dibayangkan betapa sedihnya kalau gara-gara game, kartu terblokir, lalu butuh itu untuk membayar tagihan penting.

Tulisan ini sekaligus juga sebagai pengingat: periksalah berbagai SMS dan Email notifikasi yang masuk dari Bank.

Mempermudah Ganti HP Android

Jaman dulu, kalau kita ganti HP, biasanya kita perlu memindahkan daftar kontak kita secara manual. Setelah HP semakin pintar, ganti HP bisa lebih mudah apalagi bila kita sudah membiasakan diri membackup berbagai data kita. Kebiasaan membuat salinan data ini merupakan kebiasaan yang baik, apalagi kalau kita mempunyai koneksi internet yang cukup cepat.

Saya sering mendapat cerita teman yang HP nya error lalu harus di reset dan semua daftar kontak hilang. Kisah lainnya teman yang pakai iphone/ipad dan mengijinkan anaknya menggunakan gadgetnya sering tanpa sengaja foto-foto di HP terhapus karena anaknya berusaha masuk dengan paksa dan otomatis menghapus data padahal belum pernah di backup. Atau aplikasi chat WA yang lupa di backup waktu ganti HP ataupun hang dan harus reinstal paksa dan mengakibatkan percakapan sebelumnya hilang.

Jaman sekarang ini, hal-hal itu sudah bisa dihindari kalau kita sinkronisasi data kita atau back up di berbagai layanan yang ada di internet, termasuk nantinya mempermudah ketika kita ganti HP. Apalagi kalau kita punya internet koneksi 24 jam, tentunya bisa kita set sinkronisasi data dilakukan ketika kita tidur misalnya.

Ada yang bilang simpan data di Internet tidak aman dan rawan kebocoran privasi. Untuk ini, ya semuanya ada plus minusnya ya, tentunya kita perlu mengamankan semua account yang kita punya. Kalau saya, karena semua foto dan notes saya gak ada konten yang sensitif, kalau cuma ketauan jadwal tiap minggu ngapain aja sih masih gak apa-apa hehehee.

Beberapa hal yang perlu diingat sebelum ganti HP Android adalah:

  • salin kontak lokal semua ke google contacts, dengan cara ini waktu kita ganti HP, kita tidak perlu mencatat ulang nomor-nomor kontak kita
  • kalau terbiasa mencatat jadwal di HP, sinkronisasi ke google Calendar. Waktu ganti HP, otomatis jadwalnya kebawa juga.
  • backup foto ke Google Photos setiap kali HP terhubung WiFi dan atau terhubung WiFi dan dicharge. Dengan cara ini kita juga bisa mengosongkan storage lokal kita ketika foto sudah di backup. Kalau mau punya backup dengan ukuran asli, bisa juga dilakukan dengan kabel data ketika terhubung ke komputer/laptop.
  • backup percakapan WhatsApp ke google drive setiap harinya. Kalau saya, saya set proses backup setiap jam 2 malam, dengan asumsi jam segitu saya lagi tidur. Kalau di backup ketika kita aktif menggunakan HP, pastinya HP akan terasa lambat sekali.
  • percakapan Telegram, semua data otomatis tersimpan di server, jadi tidak perlu di backup.
  • percakapan LINE tidak saya back up karena jarang pakai.
  • biasakan gunakan layanan yang ada loginnya dan ada fasilitas sinkronisasi data ke server, misalnya untuk notes saya gunakan color notes, ketika pindah HP, semua notes saya otomatis terbawa.
  • untuk tulisan yang lebih panjang, saya sudah terbiasa menggunakan google docs, google spreadsheet dengan menyimpan salinan lokalnya untuk mempercepat akses ketika tidak terhubung ke internet, dan nantinya akan disinkronisasi ketika terhubung ke internet.
  • untuk FB, kalau dirasa penting kita bisa juga mendownload semua data kita sesekali. Tapi saat ini saya tidak banyak mengupdate FB dan tidak merasa ada yang penting untuk dibackup, mungkin nanti dibackup kalau ada niat deaktivasi
  • berbagai aplikasi saya login menggunakan FB atau google dan datanya tersimpan di server, kalau lupa password, selalu bisa reset password hehehe
  • untuk keamanan FB dan Google account, saya pakai pengaman tambahan (google authenticator), nah untuk pengecekan pengaman tambahan ini saya perlu pindahkan secara khusus (ini saya minta tolong Joe hehehe)
  • berbagai file lain yang bukan foto dan tidak masuk kategori manapun bisa juga disimpan di dropbox

Dengan mempunyai salinan terhadap semua data kita, seandainya HP saya hilangpun (aduh jangan sampai deh), data saya semua tetap bisa dikembalikan ke HP yang baru. Mungkin akan ada yang bilang: aduh harus langganan berapa banyak tuh untuk simpan data doang. Coba aja hitung-hitung lagi, lebih penting mana kehilangan data atau langganan yang kalau dirata-ratakan perharinya gak seberapa.

Berikut ini proses menyalin data dari HP android lama ke yang baru. Ketika nyalakan HP, setelah setting bahasa dan region akan sampai ke bagian ini

copy apps dan data ketika HP baru beli di nyalakan

Selanjutnya ikuti saja langkah-langkahnya

Saya pilih yang pertama: A backup from and android phone.

Dari gambar, kalau kita tidak ingin menyalin data dari HP lama, kita bisa juga memilih “Don’t Copy”.

akan ada petunjuk membuka google app di hp lama
kita akan di minta untuk memberi perintah”set up my device”

Di HP lama, kita bisa gunakan perintah suara atau ketikkan di google search box “set up my device”, nantinya HP baru akan otomatis mengenali melalui koneksi dengan jaringan Bluetooth dan WiFi.

tekan next di hp lama dan baru
kita akan diminta mengecek apakah bentuknya sama dan klik next di hp lama

Kalau ada beberapa HP android di dekat kita, ketika kita memberi perintah suara, bisa saja HP lain menangkap perintah kita. Untuk meyakinkan kita gak salah menyalin HP, maka kita harus memberi perintah lanjut/next di HP lama yang memang kita ingin salin datanya ke HP baru.

masukkan login akun google kita

Di HP yang baru tentunya kita akan diminta untuk login menggunakan google account kita. Lalu proses menyalin aplikasi dan data dari HP lama pun dimulai.

proses menyalin data di mulai ke Hp baru
kita bisa memilih apa saja yang ingin kita salin

Proses menyalin data ini bisa dipilih, tapi karena saya ingin memindahkan semuanya, maka saya pilih semua. Dengan memilih ini bahkan sejarah telepon keluar masuk juga akan pindah. Calendar, contacts dan photo tentunya juga nantinya tidak perlu diinput ulang. Setting wifi yang sudah pernah kita simpan passwordnya juga akan otomatis terbawa.

Kalau proses ini selesai, apakah HP baru kita sudah 100 persen sama dengan HP baru? sayangnya belum, masih ada tahapan berikut yang harus dilakukan, antara lain:

  • login ulang aplikasi seperti FB, Dropbox, Telegram, Amazon, Apple Music, Grab, Coursera, Duo Lingo, Memrise dan aplikasi lainnya. Beberapa aplikasi yang login menggunakan akun google otomatis sudah bisa langsung di pakai.
  • Memindahkan WhatsApp: backup ke google drive di HP lama, lalu buka dan restore di HP baru. Hapus aplikasi WA di HP lama supaya tidak konflik lagi.
  • Memindahkan file-file di folder “download” secara manual kalau memang masih ada yang penting. Untuk hal ini bisa juga diakali menggunakan dropbox (tapi sekarang ini saya tidak menggunakan dropbox tapi simpan di chat telegram).
  • untuk aplikasi banking dan yang butuh security lebih, Joe pernah menuliskannya di sini.

Biasanya, setelah yakin aplikasi yang dipindahkan berjalan baik di HP baru, saya akan hapus aplikasinya di HP lama. Setelah 1 bulan memakai HP baru dan tidak pernah merasa butuh sesuatu dari HP lama, baru deh saya bolehkan Joe factory reset atau terserah mau dioprek apalagi hehehe. Biasanya HP lama akan dipakai Joe untuk keperluan pentest atau ya untuk cadangan kalau ada HP yang butuh di service.

Walaupun sudah dipermudah begini, saya masih merasa malas proses ganti HP. Prosesnya hanya beberapa jam, tapi ya harus dikerjakan juga untuk pemakaian beberapa tahun ke depan. Ok, semoga lain kali ganti HP jangan sampai kehilangan data penting ya.