Loy Kratong Chiang Mai 2019

Tahun ini, Loy Kratong jatuh tanggal 9 – 12 November. Acara menghanyutkan kratong di sungai area dekat rumah diadakan tanggal 11 dan 12 saja. Tahun-tahun sebelumnya, biasanya yang pergi ke sungai itu Joe dengan Jonathan saja. Tapi tahun ini, gantian saya dan Jonathan yang pergi. Joe di rumah dengan Joshua. Kami tidak membawa Joshua karena biasanya Joshua tidak suka dengan tempat berbau asap dan bunyi petasan yang mengagetkan.

Tahun ini, di area dekat rumah ada larangan menerbangkan lentera khom loy. Secara umum di Chiang Mai dibatasi area yang diijinkan menerbangkan khom loi. Beberapa group juga menghimbau lebih baik tidak menerbangkan khom loi maupun menyalakan petasan dan kembang api supaya tidak menambah polusi udara. Oh ya, biasanya bulan November, udara masih bersih, akan tetapi tahun ini entah kenapa udara nilai aqi udara sudah mulai mengindikasikan udara yang tidak sehat, bahkan sebelum Loy Kratong dimulai.

Awalnya rencananya mau menghanyutkan hasil karya Joshua, tapi eh ternyata kratongnya langsung nyungsep. Jadiya beli 1 lagi seharga 45 baht yang terbuat dari ice cream cone dan dibentuk seperti unicorn. Harga kratong ini bervariasi, ada yang jual 35 baht atau beli 3 seharga 100 baht, ada juga yang jual 50 baht berupa kratong bunga yang agak besar. Tadi karena saya gak berniat lama-lama di sana, saya beli dari tempat yang dekat dengan sungainya saja.

Setelah menghanyutkan kratongnya, eh Jonathan ketemu anak tetangga yang juga teman di tempat Taekwondo nya. Jadilah tadi bermain-main sebentar, termasuk memperhatikan ada ikan kecil di dekat tempat orang-orang menghanyutkan kratong. Biasanya, platform untuk menghanyutkan kratong di buat agak lebih tinggi dari air sungai. Tahun ini, platform untuk menghanyutkannya sedikit lebih rendah dari air sungai. Jadi kaki kita pasti basah kalau mau menghanyutkan kratongnya.

Kadang-kadang saya kagum dengan cara kerja pemerintah setempat dalam mempersiapkan festival seperti ini. Mereka bisa mengatur debit air sungai supaya agak tinggi dari biasanya, sehingga mempermudah untuk menghanyutkan kratong. Setelah festival selesai, mereka langsung bekerja cepat untuk membersihkan sampah kratongnya dari sungai dan air sungainya kembali lagi seperti biasa (tidak terlalu tinggi).

larangan menerbangkan khom loy

Saya bersyukur di daerah sini tidak diijinkan menerbangkan khom loy. Biasanya setiap tahun, ada lebih dari 3 sampah khomloy jatuh di halaman atau atap rumah. Tapi tahun ini, penduduk setempat cukup taat peraturan dan tidak menerbangkan khom loy. Saya tidak pernah menerbangkan khom loy, karena saya takut khom loy yang saya terbangkan membahayakan rumah atau orang lain.

Sebelum pulang, saya perhatikan selain berjualan kratong, ada beberapa penjual makanan dan minuman dadakan juga di sisi lain jalan. Dibandingkan tahun sebelumnya, rasanya lalu lintas cukup teratur dan tidak terlalu macet. Mungkin karena kemarin sebagian besar orang sudah menghanyutkan kratongnya, jadi hari ini tidak terlalu ramai.

Satu hal yang saya juga kagum dari acara seperti ini adalah kreativitas orang-orang dalam membuat kratong. Jadi kalau dulunya kratong itu terbuat dari pelepah pisang, daun pisang dan hiasan bunga. Sekarang ini orang-orang membuat kratong dari makanan seperti cone ice cream, roti tawar ataupun roti yang diberi warna-warni, dan ada juga yang dari kerupuk. Kemarin saya lihat di timeline FB saya, ada teman yang bikin kratong dari batu es dan dihias dengan makanan roti-roti. Jadi mungkin niatnya supaya tidak menjadi sampah di sungai ya.

Sambil jalan pulang, kami melihat-lihat ada apa lagi yang di jual. Ternyata ada yang jual ikan kecil juga untuk dilepaskan di sungai. Ikan sebungkus (beberapa ekor) seharga 35 baht, atau kalau mau beli 3 seharga 100 baht. Kata Jonathan, tahun depan dia mau melepaskan ikan-ikan supaya ga nyampah di sungai. Saya tulis di sini dan semoga ingat niat ini tahun depan. Cerita tahun lalu juga ada sedikit di tuliskan di sini.

Ibu-ibu dan Cita-Cita Anaknya

Hari ini sebenarnya hampir gak nulis, tapi daripada bolos nulis tiba-tiba terpikir topik obrolan tadi siang dengan sesama ibu-ibu lain tentang mau jadi apa anaknya besar nanti.

Iya, ini bukan anaknya yang punya mau, tapi ibunya yang pingin anaknya besar dengan profesi tertentu dan apa yang dia anggap penting untuk dilakukan sekarang ini untuk mendukung mewujudkan cita-citanya terhadap anaknya nanti.

Teringat beberapa tahun lalu, saya punya teman orang Thai. Sejak anaknya umur 2 tahun, dia sangat giat mencari sekolah, karena dia pingin anaknya menjadi dokter. Jadi menurut teman saya ini, kalau anaknya masuk sekolah tertentu di Chiang Mai, maka peluang anaknya untuk menjadi dokter akan lebih besar, dan anaknya pasti akan pintar. Teman saya ini tidak ingin anaknya masuk sekolah internasional, karena selain mahal, masuk sekolah internasional hasilnya cuma bisa berbahasa Inggris dan tidak pintar hal-hal lain (ini bukan kata saya loh, ini kata teman saya).

Sekarang ini, anaknya sudah masuk ke sekolah idaman ibunya. Apakah anaknya akan jadi dokter? nanti kita kita lihat sekian tahun lagi hehehe.

Lalu ada lagi nih, hari ini ketemu ibu-ibu lain yang anaknya umur sekitar 4 tahun. Anak ini ibunya Thai dan bapaknya bule. Sebelum anaknya sekolah di sekolah bilingual (Thai dan Inggris), anaknya ini cuma bisa berbahasa Inggris. Tapi sekarang, anaknya tidak mau lagi berbahasa Inggris dan selalu berbahasa Thai. Ibunya mulai resah dan berniat memindahkan anaknya ke sekolah Internasional supaya memaksa anaknya kembali berbahasa Inggris.

Saya komentar bilang: bukannya bagus kalau anaknya bisa lebih dari 1 bahasa? dijawabnya: gak penting bisa bahasa Thai, saya cuma pengen anak saya fasih berbahasa Inggris, karena nanti setelah lulus SMA saya mau kirim dia ke Amerika untuk sekolah pilot. Saya dalam hati bilang: emang pilot cuma bisa bahasa Inggris?

Nah pertanyaanya: kalau mau anaknya fasih berbahasa Inggris, kenapa ga tinggal di negara bapaknya aja? Ibunya bilang: enakan tinggal di Thailand, saya cinta negeri ini. Dan saya garuk-garuk kepala karena ibu ini cinta Thailand tapi gak pengen anaknya bisa bahasa Thai. Sebagai pendatang di negeri ini, saya bisa merasakan lebih betah tinggal di sini sejak lebih lancar berkomunikasi dengan bahasa lokal. Gimana sih si ibu, pengen anaknya tinggal di Thailand tapi ga merasa perlu anaknya bisa baca tulis Thai juga.

Ibu punya cita-cita anaknya jadi apa nanti memang baik. Tapi kan belum tentu anaknya punya cita-cita yang sama dengan si ibu. Untuk kasus ibu yang ingin anaknya jadi dokter dan mengupayakan supaya anaknya masuk sekolah favorit, rasanya masih lebih masuk akal. Karena toh, biasanya kalau sekolah favorit, persaingannya cukup tinggi. Memang tidak ada jaminan anaknya bakal jadi dokter, tapi dengan persaingan yang ada di sekolah – dan kalau anak itu ga jadi stress dan tetap santai saja – si anak akan lebih terlatih menghadapi persaingan masa depan di dunia kerja apapun profesinya nanti. Tapi untuk kasus ibu yang ingin anaknya fasih berbahasa Inggris dan tidak menganggap bahasa lokal itu penting rasanya agak aneh.

Saya tidak tau apakah di Indonesia ada fenomena yang menganggap bahasa Inggris lebih penting daripada bahasa lokal. Saya termasuk yang tidak bisa berbahasa daerah karena di rumah orang tua saya juga berbahasa Indonesia. Saya bersyukur dari SMP sudah belajar bahasa Inggris, walaupun tidak fasih berbicara tapi saya jadi bisa baca buku-buku teks berbahasa Inggris ketika kuliah dan bisa dipakai untuk belajar bahasa Thai di sini. Waktu saya terpaksa belajar bahasa Thai, saya tidak pernah terpikir akan bisa ngobrol panjang lebar dalam bahasa Thai. Tapi faktor bisa berbahasa Thai membuat saya lebih betah tinggal di sini.

Sejak punya anak, saya sudah tetapkan, walau kami tinggal di Thailand kami mau anak-anak harus bisa berbahasa Indonesia selain Inggris dan Thai. Alasannya supaya kalau mereka pulang atau sekedar liburan ke Indonesia mereka tidak menjadi orang asing di negeri sendiri selain supaya bisa ngobrol dengan eyangnya dan oppung yang tidak bisa bahasa Inggris.

Jonathan awalnya cukup bisa berbahasa Thai selain Indonesia, tapi karena pernah sekolah di sekolah yang hanya berbahasa Inggris, dia sempat menolak berbahasa lain selain bahasa Inggris. Sekarang ini dia mulai bisa lagi berbahasa Indonesia, tapi bahasa Thainya makin kurang terasah karena jarang dipakai. Joshua juga ikut-ikutan Jonathan, lebih banyak berbahasa Inggris (tapi tetap mengerti bahasa Indonesia). Tapi ya, mereka masih kecil dan masih banyak kesempatan untuk belajar bahasa Thai.

Joe dan saya tidak menargetkan cita-cita tertentu untuk anak-anak kami. Saat ini ada kecenderungan mereka berdua suka niru-niru papanya dengan hal yang berkaitan dengan coding dan building block. Tapi ya tetap kami gak menargetkan mereka menjadi programmer ataupun engineer. Siapa tahu mereka malah pengen jadi dokter atau malah jadi seniman.

Sekarang ini kami berusaha mengenalkan mereka dengan berbagai hal dan biarkan mereka memilih mau jadi apa nantinya. Kami tetap berharap anak-anak kami nantinya fluent dengan bahasa Indonesia dan Thai selain bahasa Inggris. Kalau sudah bisa 3 bahasa, harapannya belajar bahasa berikutnya akan lebih mudah. Bukan untuk menjadi ahli bahasa, tapi bahasa itu penting untuk komunikasi dan mencari informasi. Kalau sudah bisa komunikasi dan mengerti cara mendapatkan dan menggunakan informasi, banyak hal lebih mudah untuk dipelajari.

Tulisan ini jadi panjang seperti obrolan ngalor ngidul dengan sesama ibu-ibu tadi siang. Kira-kira menurut pembaca, apakah bahasa lokal itu penting dipelajari atau cukup bahasa Inggris saja? Dan apakah pembaca tipe ibu yang menetapkan cita-cita untuk anak atau membebaskan anak dengan cita-citanya nanti?

Kdrama: Kill Me Heal Me dan Hyde Jekyll and Me

Tulisan ini udah lama jadi draft. Dramanya juga sudah lama ditontonnya. Tapi ya, daripada gak dipublish saya coba lengkapi seingatnya dan mungkin akan ada spoiler (tanpa detail). Karena ini drama lama, saya pikir kebanyakan toh sudah pada nonton, jadi tidak apalah ada spoiler dikit-dikit hehehe.

Film Kill Me Heal Me (KMHM), tayang lebih dahulu (7 Januari – 12 Maret 2015) daripada Hyde Jekyll and Me (HJM) tayang (21 Januari – 26 Maret 2015). Jadi bisa dibilang HJM ini kalah start dari KMHM sekitar 2 minggu dengan hari dan jam penayangan yang sama di stasiun yang berbeda.

Dari ratingnya drama KMHM lebih sukses daripada HJM, padahal menurut saya ceritanya sama-sama menarik untuk ditonton walau temanya sama. Tapi memang kalau mengikuti 2 film yang temanya sama dan harus memilih jam tayang, pastilah akhirnya pemirsa akan meneruskan yang sudah duluan ditonton.

Kesamaan:

  • sama-sama membahas DID (Disassociative identity disorder) atau dikenal dengan kepribadian ganda
  • tokoh yang mengidap DID ini sama-sama anak orang kaya yang masih memegang keputusan penting di perusahaan orangtuanya
  • sama-sama menggunakan teknologi (smart watch dan cctv di rumah) untuk berusaha memonitor kondisi fital dan keep track kegiatan dirinya (antisipasi kalau kepribadian lain muncul)
  • pribadi utama digambarkan berusaha melakukan meditasi untuk mencegah kepribadian lain muncul
  • penyebab utama dari kepribadian ganda ini sama-sama trauma masa kecil, menyalahkan diri sendiri dan metode diri untuk bertahan hidup
  • tentunya ceritanya gak lengkap tanpa tokoh wanita yang menjadi trigger mulai dari awal pribadi terpecah ataupun muncul kembali dan pada akhirnya menjadi kunci untuk penyembuhan
  • pribadi alternate digambarkan duluan jatuh cinta dengan tokoh wanita, kemudian pribadi utamanya ikutan jatuh cinta juga (jadi perebutan wanita deh)
  • pribadi alternate ada yang ingin ambil alih dan menjadi pribadi utama
  • ada klise di mana tokoh wanita tinggal dengan tokoh pribadi utama (alasannya beda tapi intinya sama untuk membantu proses penyembuhan)
  • ada scene di amusement park dan ada scene kembang api.

Perbedaan:

  • KMHM punya kepribadian sampai 6, HJM hanya 3 (dan yang ditunjukkan hanya 2)
  • di KMHM pribadi utama tidak punya metode untuk berkomunikasi dengan pribadi yang lain dan masing-masing pribadi bisa muncul tanpa trigger khusus, sedangkan di HJM karena hanya ada 2 karakter yang diceritakan, digambarkan mereka punya cara berkomunikasi dan bahkan punya pembagian waktu siang untuk pribadi utama dan malam untuk pribadi alternate
  • di KMHM pribadi utama orang yang baik sedangkan salah satu pribadi alternate yang dominan digambarkan lebih agresif dan dekat dengan kekerasan. di HJM pribadi utama digambarkan egois dan dingin, tidak lebih baik daripada pribadi alternate yang suka menolong, ramah dan murah senyum
  • tokoh wanita di KMHM psikiaternya, tokoh wanita di HJM pegawai nya yang kebetulan berperan penting untuk proses menemukan psikiaternya yang diculik dan tentunya psikiaternya ini diperlukan untuk proses kesembuhannya.
  • di KMHM keluarga tokoh utama tidak aware kalau anaknya punya kepridadian ganda, sedangkan di HJM keluarga mengetahui dan dengan aktif berusaha mencari dokter untuk menyembuhkan anaknya dari DID

Kesan tentang HJM bisa di baca di posting saya sebelumnya. Intinya walau ada beberapa bagian kurang masuk akal dengan penggunaan hipnotis, tapi jalan ceritanya diselesaikan dengan tuntas dan tidak ada kesan terburu-buru.

Kesan tentang KMHM:

Jalan cerita awalnya sangat lambat dan membosankan. Saya sempat hampir berhenti di episode pertama. Tapi setelah melewati 2 episode dan muncul beberapa kepribadian ceritanya mulai terasa menarik dan bikin penasaran. Tapi beberapa episode terakhir juga kembali membosankan dan rasanya lambat sekali. Pada akhirnya, ada kesan mengakhiri cerita dengan terburu-buru.

KMHM ini lebih terasa komedinya, apalagi ketika tokoh utamanya menjadi seorang gadis remaja yang berlaku seperti fangirl. Akting Ji Sung cukup meyakinkan dan sangat berkesan ketika dia mengejar-ngejar Park Seo Joon dan berteriak Oppaaa. Sepertinya bagian komedi ini yang bikin saya bertahan menonton sampai selesai.

Penyelesaian masalah kepribadian ganda di KMHM ini agak terlalu mudah. Tidak ada metode hipnotis seperti di HJM, tapi lebih ke mengingat peristiwa di masa kecilnya, berdamai dan memaafkan masa lalu dan dengan mudah semua kepribadian alternate mengundurkan diri dan berjanji tidak akan keluar lagi.

Tahun 2015 saya belum nonton kdrama, jadi saya tidak mengikuti drama ini ketika sama-sama ditayangkan. Saya bahkan baru tahu belakangan kalau ada tema senada dengan HJM.

Saya menonton HJM lebih dahulu dari KMHM dan buat saya temanya menarik setelah sebelumnya mulai bosan dengan tema kdrama yang temanya begitu-begitu saja hehehe. HJM saya tonton tahun 2018 dan KMHM baru tahun ini. Walau temanya sama, pendekatan penyelesaian masalahnya berbeda dan punya daya tarik masing-masing.

Jadi kalau mau nonton yang mana dulu dong? ya bebas mau yang mana karena KMHM dan HJM ada di Netflix dan bisa dilewatkan kalau ada bagian yang membosankan hehehe.

Jonathan Belajar Membaca Bahasa Indonesia

Jonathan sudah hampir 9 tahun. Sampai sekarang belum pernah saya kasih pelajaran khusus untuk membaca bahasa Indonesia. Harapannya memang dia bisa belajar sendiri hehehe. Hari ini bangun tidur siang saya menemukan buku pelajaran membaca bahasa Indonesia yang kami beli beberapa tahun lalu. Ternyata, anak kalau sudah bisa bahasa Indonesia lebih mudah membaca bahasa Indonesia tanpa diajari. Tapi tentunya beberapa kata yang jarang digunakan dalam percakapan sehari-hari akan lebih sulit dibacanya.

Bukunya untuk umur 4 – 6 tahun

Menurut tulisan di sampulnya, buku ini untuk umur 4 – 6 tahun. Tapi untuk anak yang selama ini hanya bisa baca bahasa Inggris dan bahasa Indonesianya cuma dengan kami orantuanya, tidak ada salahnya dicoba suruh baca untuk mengetahui juga pemahamannya terhadap kata-kata dalam bahasa Indonesia.

gak pakai lama belajar bacanya

Beberapa kata yang dia tidak mengerti tapi bisa menebak itu misalnya: paman, bibi, sawah, ladang, desa. Jonathan tidak pernah manggil orang dengan paman dan bibi, adik-adik Joe dia panggil om dan tante, sedangkan dari keluarga saya panggilnya pakai panggilan batak hehehe. Kakek dan nenek saja perlu saya jelaskan lagi, karena dia manggilnya eyang boy dan eyang girl.

Beberapa kata yang dia sulit baca itu seperti: berdesakan, kendaraan dan umumnya kata dengan bunyi ng dan ny yang menggunakan akhiran. Beberapa kata dia selalu baca menggunakan bunyi e yang tajam. Lucunya baca lirik lagu pelangi-pelangi, dia tau bunyi e dalam kata “pelangi”, tapi selalu salah menyebut kata “pelukis” dengan bunyi e yang tajam, lalu kesulitan membaca kata “agung” dan “gerangan”. Kata-kata tersebut memang jarang kami gunakan dalam percakapan sehari-hari. Saya tidak pernah bertanya: “kenapa kamu sedih, ada apakah gerangan?” hihihihi.

Buku “Metode Ini Ibu Budi” dulu kami beli karena judulnya menarik. Kami pikir, dulu kami belajar membaca dengan keluarga Budi, jadi ya bisa sekalian cerita ke Jonathan bagaimana dulu kami belajar membaca. Walaupun ternyata anggota keluarga Budi dalam buku ini bukan Wati dan Iwan seperti buku jaman dulu hehehe.

Saya pikir Jonathan akan mulai membaca dengan mengeja, ternyata dia bisa langsung membacanya walau perlu diperbaiki sedikit di sana sini. Mungkin karena dia sudah mengenal bunyi alfabet bahasa Indonesia dan karena sejak homeschool dia sudah lebih banyak berbahasa Indonesia di rumah. Beberapa kata masih terasa aneh di kuping waktu dia baca hehehe.

Belajar membaca bahasa apapun memang pada akhirnya butuh latihan. Lebih baik lagi kalau mengerti dengan kata yang dibaca. Waktu pulang ke Indonesia, kami pernah membeli beberapa buku bilingual Inggris – Indonesia, tapi biasanya Jonathan akan langsung membaca bagian bahasa Inggrisnya. Mungkin saatnya membuat jam khusus untuk pelajaran latihan membaca bahasa Indonesia untuk menambah kosa kata dan memperlancar membaca bahasa Indonesia.

Warna warni Mi Band 4

Bulan Maret 2019 saya mencoba dan menuliskan tentang Mi Band 3. Tadinya saya pikir saya tidak akan ganti jam lagi sampai mi bandnya rusak, tapi ternyata beberapa bulan lalu ada versi Mi Band 4 yang di release dengan beberapa fitur tambahan dari Mi Band 3, di antaranya layar berwarna dan bisa tracking untuk berenang dan dengan harga yang sama dengan harga release Mi Band 3 fiturnya juga lebih baik.

Setelah menunda-nunda dan tetap mau bertahan dengan mi band 3 saja, akhirnya jadi juga beli Mi Band 4 nya bulan September lalu karena Joe juga mau pakai Mi Band 3 nya. Setelah pemakaian beberapa bulan dengan Mi Band 4, baru deh ingat kalau belum nulis soal Mi Band 4 ini.

jadi juga beli tali warna warni

Dengan adanya display berwarna di Mi Band 4, kita bisa memilih berbagai tampilan wajah jam nya. Nah daripada cuma wajahnya yang berubah, saya akhirnya jadi juga beli tali jam warna warni nya. Tali jamnya juga gak mahal dan kebetulan kompatibel untuk Mi Band 3 dan Mi Band 4 ( jadi Joe juga bisa ganti-ganti warna tali kalau iseng). Karena ongkos kirimnya 30 baht dan harga talinya 9 baht, akhirnya kami beli 5 warna sekaligus (ongkos kirimnya sama saja kirim 1 dan 5).

Selain jadi iseng ganti-ganti warna tali dan display, kelebihan Mi Band 4 dari versi Mi Band 3 yang paling terasa itu di bagian batere tahan lebih lama beberapa hari. Klaimnya memang bisa untuk 20 hari, tapi karena saya mengaktifkan sleep tracking dan heart rate monitor, paling lama saya harus mencharge Mi Band ini sekitar 12 hari (rata-rata 10 hari kalau ingat sudah saya charge). Daya tahan batere berkurang kalau kita aktifkansleep monitoring dan heart rate monitornya.

seminggu batere masih di atas 50 persen

Heart rate detection bisa di set setiap menit sampai per 30 menit. Semakin kecil interval pengecekan, semakin cepat batere berkurang. Saya sekarang set jarak pengecekan heart rate setiap 5 menit.

Kadang-kadang punya device dengan banyak fitur, tidak selalu semua fiturnya kita aktifkan. Fitur yang paling sering saya gunakan dari mi band 4 ini antara lain:

  • memperhatikan apakah target jumlah langkah per hari sudah tercapai atau belum
  • memperhatikan pola tidur (berapa jam tidur, berapa jam tidur lelapnya)
  • memperhatikan denyut jantung rata-rata harian dan ketika tidur
  • notifikasi kalau ada panggilan masuk (karena hp saya selalu silent)
  • notifikasi message dari Joe (yang lain notifikasinya saya matikan hahaha)
  • notifikasi alarm dan calendar

Saya tahu ada banyak jenis smart band beredar sekarang ini dan masing-masing punya fitur andalannya. Saya pilih Mi Band 4 ini karena harganya tidak lebih dari 1500 baht dan fiturnya cukup untuk saya. Fitur olahraga belum pernah saya pakai. Rencananya mau kembali berolahraga sebelum 2019 berakhir hehehehe.

Green Grizzly di Chiang Mai

Setelah sekian akhir pekan sibuk tak menentu, akhirnya hari ini menyempatkan diri untuk bawa anak-anak keluar di hari Sabtu. Udara yang sudah tidak terlalu panas juga merupakan waktu yang tepat buat jalan-jalan. Hari ini pilihan jatuh mengunjungi Green Grizzly yang baru dibuka beberapa waktu lalu.

Konsep tempat ini cukup menarik, mereka membuat pasar terapung di rawa-rawa yang penuh tanaman bunga seroja (lotus). Untuk masuk ke tempat ini kita harus membeli tiket 20 baht/orang (anak-anak gratis). Tiket itu nantinya bisa kita pakai untuk belanja makanan atau minuman dari penjual yang berjualan dari perahu dan dari coffee shop yang ada di atas rawa tersebut. Pembelian tiket dilakukan persis di depan pintu masuk area pasar terapung, lalu di dalam, kita bisa menukar uang jadi kupon belanja makanan. Nantinya kalau kupon yang kita tukar bersisa, bisa kita tukarkan lagi jadi uang baht.

Makanan dan minuman yang di jual di sana harganya juga tidak terlalu mahal dibandingkan di pasar biasa. Bisa dibilang, restoran ini memang menjual suasana dan tentunya buat yang suka foto-foto. Jalanan bambunya tidak semuanya ada pegangan di 2 sisi, beberapa bagian hanya ada di 1 sisi. Jalannya cukup lebar sih, tapi kalau tidak hati-hati bisa jatuh juga hehehe. Awalnya agak deg-deg an karena Joshua gak mau dipegangin dan Jonathan malah lari-larian. Tapi ya untungnya tidak ada insiden yang dikhawatirkan.

pegangannya hanya di 1 sisi

Jenis makanan yang dijual di dalam bagian pasar terapung ini umumnya makanan khas Thai, ada somtam, padthai, buah potong, minuman soda, goreng-gorengan. Uniknya mereka memasak makanannya di atas perahunya. Bahkan tadi saya melihat yang jual pisang goreng ya menggorengnya di dalam perahunya itu.

Di area pasar terapung ini juga disediakan gubuk-gubuk kecil untuk duduk bersantai menikmati makanan dan beberapa area dengan meja-meja panjang untuk makan dan minum.

kopi dengan gelas dan sedotan bambu yang bisa dibawa pulang

Di bagian tengah ada coffee shop yang menjual kue-kue selain minuman kopi. Bagian coffee shop ini tidak di dalam perahu, tapi lebih banyak tempat duduknya. Uniknya mereka menjual minumannya menggunakan gelas bambu dan sedotan bambu. Kalau kita memesan untuk dibawa pulangpun, mereka tetap pakai gelas bambu dan kita bisa membawa pulang gelas dan sedotan bambunya tanpa biaya tambahan.

Di bagian luar pasar terapung ada restoran lain yang sepertinya sudah lebih dulu ada. Restorannya banyak hiasan buaya (entrancenya juga ada patung buaya). Areanya cukup luas dan ada kolam ikan dengan bunga teratai disekitarnya. Anak-anak bisa bermain dengan lebih aman tanpa takut jatuh seperti di pasar terapung. Kita juga bisa membeli makanan ikan untuk memberi makanan ke ikan-ikan di kolam.

Di bagian restoran luar dan di dalam pasar terapung ada beberapa ayunan bambu besar, jadi anak-anak bisa mainan ayunan atau ya sekedar eksplorasi.

Untuk restoran di luar pasar terapung, mereka juga menyediakan game arcade yang bisa dimainkan dengan menggunakan koin. Hari ini anak-anak main tanpa menyalakan mesinnya dan udah cukup senang hehehe.

Secara keseluruhan, kalau kita pingin makan sambil bawa anak-anak main setelahnya, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Tapi karena tempatnya agak jauh dari rumah (30 menit nyetir), mungkin gak akan sering-sering juga ke sana hehehe. Harga makanannya juga tidak lebih mahal dari makan di mall.

usaha bikin foto keluarga yang gagal hehehe

Oh ya, Green Grizzly-nya awalnya saya pikir dari bonsai atau pohon besar, tapi ternyata mereka bikin patung besar yang ditutup dengan bahan sintetis seperti rumput palsu berwarna hijau. Jadi memang daya tarik dari tempat ini ya konsep pasar terapungnya.

Hello November!

Bulan Oktober kemarin, saya diserang kemalasan menulis blog. Awalnya sih mikir ah besok aja nulisnya, lalu lama-lama jadi keterusan ngebesokin hehehe. Hari ini, di awal bulan November, mari kita mulai dengan semangat baru menulis lagi walaupun mungkin cerita hari ini merupakan pengulangan dari cerita sebelumnya dan isinya sekilas info tentang Chiang Mai di awal November.

Beberapa minggu lalu, saya posting kalau musim dingin diumumkan akan mulai dari 17 Oktober 2019 yang diawali dengan kiriman hujan badai dari negeri tetangga. Nah memang sempat tuh hujan badai, angin kencang menyeramkan sampai beberapa kali pemadaman listrik, tapi musim dinginnya ternyata masih malu-malu datangnya. Untungnya juga hujannya tidak setiap hari seperti yang diperkirakan.

Jadi, di bulan Oktober, setelah beberapa hari dingin karena hujan, sisanya ya masih panas terik menyengat (padahal udah senang duluan musim dinginnya datang lebih awal). Baru hari ini nih terasa perubahan hawa yang signifikan di pagi hari. Tadi pagi, rasanya berat banget untuk bangun dan malah cari-cari selimut. Saya cek berapa derajat sih ini, ternyata memang kisaran 17-18 derajat celcius. Pantesan aja ya rasanya masih enak nyambung tidur.

jam segini 18 derajat, males bangun rasanya

Sebelum menuliskan cerita lebih panjang soal musim dingin di Chiang Mai, saya iseng mencaritahu tahun lalu seperti apa ya kondisinya. Eh ternyata tahun lalu juga mulai dingin di awal November, ini tulisannya bisa dibaca di sini.

Nah untuk lebih meyakinkan lagi, apakah November ini benar-benar akan dingin, atau cuma ‘teaser’ doang dinginnya seperti di bulan Oktober lalu, saya cek juga nih bagaimana kira-kira prakiraan cuaca 10 hari ke depan di Chiang Mai.

wah ada kemungkinan hujan

Biasanya, musim dingin itu bukan karena hujan, tapi kenapa prakiraan tahun ini akan ada hujan ya? Tapi sebenarnya ada baiknya juga hujan turun, jadi udaranya tidak terlalu kering dan tidak banyak debu. Dengan adanya hujan begini juga artinya menunda kemungkinan orang-orang bakar sampah atau sisa panen yang kering yang mengakibatkan musim polusi datang lebih awal. Secara keseluruhan suhu udara di pagi hari lumayan dingin, artinya bisa hemat AC di saat tidur hehehe. Musim dingin begini juga waktu yang tepat untuk jalan-jalan di luar ruangan (semoga hujannya gak banyak-banyak).

Ketika memeriksa prakiraan cuaca begini, saya jadi teringat dulu kalau lagi nonton berita, saya gak pernah memperhatikan bagian orang yang membawakan prakiraan cuaca. Saya pikir mereka cuma mengada-ada dan belum tentu benar, terus juga gerakannya waktu melaporkan terasa aneh. Terus jadi ingat, di beberapa film yang saya tonton, pembawa berita prakiraan cuaca ini suka dianggap reporter kelas belakang oleh pembaca berita utama, dan diceritakan kalau pembawa acara prakiraan cuaca itu cuma dikasih layar hijau dan bukan gambaran sebenarnya. Padahal ya, prakiraan cuaca ini ada ilmunya dan bukan asal-asal kayak ramalan horoskop hehehe.

Saya tidak ingat sejak kapan saya rajin meriksa prakiraan cuaca, mungkin sejak di Chiang Mai. Padahal dulu rasanya ya tiap hari sama saja, mau hujan atau panas terik ya terima aja kedatangan si cuaca. Memang sih kadang-kadang prakiraan ini tidak selalu tepat, tapi sekarang ini terasa berguna untuk tahu misalnya siap-siap payung supaya gak kehujanan atau keluarin selimut tebal supaya ga kedinginan di pagi hari.

Lagi nulis ini, dikirimin foto Sunset sama temen yang tinggal di Condo dengan pemandangan sungai Ping (jadilah sunsetnya terlihat indah ya). Buat yang baca sampai akhir, nih bonus hari ini: sunset di hari pertama November di Chiang Mai.

foto dari @dna12
foto dari @dna12
foto dari @dna12

Kalau kamu gimana, suka melihat prakiraan cuaca gak setiap harinya?