Terkunci di Kamar!

Kemarin malam, abis selesai posting blog sekitar jam 9 malam, saya dan Joshua terkunci di kamar kerja Joe. Terkunci nya bukan karena tidak menemukan kunci, tapi tepatnya pegangan pintunya rusak, knob-nya bisa diputar tapi latch nya tidak merespon dan tetap mengunci pintu. Kamarnya di lantai 2, jendelanya semua ada terali besinya, jadi keluar dari jendela itu bukan pilihan. Satu-satunya cara keluar ya lewat pintu yang terkunci itu.

gambar dari wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Door_handle

Kejadian latch tidak merespon ini bukan kali pertama terjadi di rumah kami. Bulan Februari lalu, salah satu pintu kamar mandi juga mengalami masalah yang sama. Untungnya waktu itu tidak ada yang sedang berada di dalam kamar mandi. Waktu kejadian itu, tetangga kami membantu membongkar pegangan pintunya dan memasang penggantinya supaya pintunya tidak terlihat banget bekas kerusakannya.

Sejak Februari, saya sudah berencana untuk melepaskan semua latch dari pegangan pintu kamar dan kamar mandi satu lagi yang ada di dalam rumah. Saya selalu khawatir kejadian latch tidak merespon terjadi lagi, dan kekhawatiran saya kalau Joshua atau Jonathan yang sendirian di kamar terjebak gak bisa keluar. Tapi karena kelamaan menunda, akhirnya kemaren saya dan Joshua terjebak di kamar kerja Joe.

Masih bersyukur karena saya ada bersama Joshua, kalau dia sendirian di dalam, rasanya saya lebih panik lagi. Bersyukur juga, karena kemarin tetangga kami bisa membantu membongkar pintunya. Kejadiannya itu sebenarnya sedang bersiap-siap tidur, eh karena terkunci tidur tertunda sekitar 2 jam. Bersyukur tetangga kami lagi ada di rumah dan belum tidur. Bersyukur mereka bersedia membantu kami, walau menghabiskan waktu hampir 2 jam untuk usaha membuka pintunya.

Awalnya pintunya di coba buka tanpa merusak, tapi latch nya sangat bandel. Joe juga udah pengen main dobrak aja, tapi ya saya pikir nanti malah jadi sakit mendobrak pintu sendirian. Nah makanya akhirnya saya panggil tetangga yang punya peralatan lebih lengkap. Cara pertama pegangan pintunya sudah dicoba dipukul dengan palu, dipotong dengan grinder sampai muncul percikan bunga api, dan sudah berhasil mengeluarkan knob nya. Tapi karena latchnya tetap bandel dan gak bisa keluar, ya akhirnya anak tetangga yang badannya memang besar mendobrak pintunya.

Joshua juga seperti merasakan kepanikan, dia minta papa nya bukain pintu karena dia tidak mengerti apa yang terjadi. Dia pikir dia lagi tidak dibolehkan keluar. Saya berusaha menenangkan Joshua dan ajak dia bermain agak jauh dari pintu, tapi dia mulai merengek karena juga sudah mulai mengantuk. Waktu suara palu dan grinder yang memercik bunga api terdengar dari bagian dalam, dia semakin ketakutan. Akhirnya saya memeluk dia sambil menutup kupingnya dan ajak ngobrol, cara ini cukup berhasil, dia akhirnya ketiduran.

Hari ini, saya melaksanakan niat yang saya tunda sejak Februari. Sekarang semua pintu dalam rumah sudah dikeluarkan latchnya. Bagian luar dipasang magnet supaya pintu tetap merekat, dan bagian dalam dipasang kunci geser (selot). Untungnya tetangga kami hari ini bersedia mengerjakannya dan bukan cuma membantu mengerjakan semua itu, pintu kamar kerja Joe yang pecah juga bisa dia akalin menjadi bagus lagi, padahal saya pikir, jangan-jangan harus beli pintu baru hehhe.

Saya tahu, pasti ada banyak alternatif lain untuk menggantikan pegangan pintu yang lebih indah, tapi karena ini rumah kontrakan, ya anggap saja ini solusi cepat dan aman. Sekarang ini saya kehilangan kepercayaan dengan pegangan pintu model putar begini, dan kalaupun punya rumah sendiri nantinya harus memikirkan kualitas pegangan pintu yang tidak ada kemungkinan latch tidak merespon seperti ini.

Terkunci di rumah sendiri itu tetep gak enak, kemarin rasanya karena tau tidak bisa keluar malah jadi tiba-tiba haus, padahal di kamar tidak ada botol minum. Merasa tak berdaya karena gak bisa membuka pintunya dari dalam, tapi ya harus tenang biar Joshua gak ikutan panik.

Pelajaran dari terkunci ini buat saya:

  1. Kalau udah niat mencegah sebuah kejadian berulang, jangan ditunda, karena 99 persen kejadiannya bener-bener berulang.
  2. Jangan pernah pake pegangan pintu model putar seperti itu lagi.
  3. Jangan membiarkan anak balita sendirian di kamar dengan pintu tertutup.
  4. Jangan panik, cari orang yang bisa membantu segera, kalau kita panik biasanya tidak bisa berpikir jernih dan anak ikutan merasakan kepanikan.
  5. Tenangkan anak lebih penting dan biarkan yang dari luar memikirkan solusinya.
  6. Berhubungan baik dengan tetangga itu perlu, mereka adalah orang-orang yang bisa datang paling cepat kalau kita butuh bantuan.
  7. Tetap bersyukur karena punya orang-orang yang membantu ketika sedang dibutuhkan.

2 thoughts on “Terkunci di Kamar!”

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.