Ular di Halaman Rumah

Udah lama ga nulis blog! Awalnya gara-gara kecapean, lalu kemalasan, lalu seperti biasa malas berkelanjutan hahaha. Padahal ada banyak yang pengen diceritakan, tapi ya ternyata memang hukum Newton soal kemalasan ini harus dikalahkan dengan niat!

Salah satu yang perlu dituliskan (supaya diingat) adalah: hari Minggu yang lalu ada ular masuk ke halaman rumah kami. Ularnya kepalanya kecil sih, tapi saya tidak berhasil melihat badannya secara lengkap karena terhalang rumput yang sangat subur di musim hujan ini. Kira-kira apa yang akan kamu lakukan kalau melihat ada ular di halaman rumah?

hasil foto di zoom terus di screen capture biar bisa keliatan lebih dekat

Sedikit cerita, beberapa hari sebelumnya kakak saya yang di Medan bercerita kalau ada ular masuk ke rumahnya. Untungnya dia punya teman yang bisa bantu menangkap ularnya. Waktu itu saya mulai kepikiran, aduh ini halaman rumah rumputnya sudah tinggi, waktunya manggil tukang rumput untuk memotongnya. Kami memang tidak memotong rumput sendiri, soalnya halamannya lumayan besar dan ga punya alat potongnya. Terus biasanya panggil tukang potong rumput 1 bulan sekali (kalau lagi musim kering malah bisa 2 bulan baru panggil). Saya udah kepikiran harus panggil tukang rumput, jangan sampai ada ular di halaman rumah.

Daerah komplek rumah kami masih banyak bagian seperti “hutan”, jadi tanah kosong berisi pohon-pohon dan rerumputan. Bahkan di bagian belakang tembok pagar rumah juga ya isinya pepohonan juga. Di satu sisi, karena tidak punya tetangga belakang rumah, sinar matahari masuk ke rumah tanpa penghalang. Di sisi lain, kepikiran akan ada kemungkinan berbagai binatang bisa saja ada di sana. Beberapa waktu lalu, pernah ada teman yang anter Jonathan bilang dia melihat ular menyeberang jalan di depan rumah kami. Tapi saya pikir: selama masih di luar halaman rumah, gak masalah.

Nah, jadi waktu hari Minggu itu, saya lagi melihat ke luar pintu dapur, abis cucipiring. Terus saya pikir eh itu apaan ya berdiri tegak di halaman. Saya perhatikan lagi…dan ternyata oh no…. itu ular! Karena Joe juga lagi ada di rumah, saya langsung panggil dia. Saya pikir kalau ular dengar suara dia akan langsung kabur. Tapi ternyata saya salah. Joe datang, lalu hal berikutnya yang terpikir adalah: mari kita foto ularnya! Untung kamera HP saya bisa zoom jadi ga harus terlalu dekat juga untuk memfotonya. Terus? diapain fotonya? Cari di Google Lens ular itu jenis apa.

Hasil pencarian ternyata jenis ularnya itu namanya Bandotan tutul kalau dalam bahasa Indonesia atau Checkered keelback. Hal yang pertama dicari tahu tentunya apakah ini ular berbahaya? Kalau wikipedia benar, ular ini tergolong non venomous alias tidak berbisa. Jadi walaupun tetap aja kuatir ularnya masuk rumah, kami memutuskan tidak mengganggu ularnya dan menutup pintu rumah. Ularnya sepertinya nyasar ke halaman kami dari belakang rumah. Kalau membaca deskripsinya, ularnya kan tinggal emang di tempat basah dan berumput, jadi dia tidak akan masuk rumah. Tapi tentunya, kami gak berharap ularnya tinggal terus di halaman rumah kami. Hari Senin, langsung deh panggil tukang rumput untuk memotong rumput.

Perasaan sebenarnya agak takut. Apalagi waktu saya cerita ke mbak yang bantu di rumah dia bercerita ada tetangga yang lihat ular besar di komplek ini. Ular besar itu konon makan anak kucing. Nah ini sebenarnya ceritanya gak ada hubungannya dengan ular yang ada di halaman rumah kami. Tapi seperti biasa, adalah berbagai spekulasi: jangan-jangan itu anaknya? jangan-jangan ada induknya di dekat rumah ini (bisa jadi sih di hutan belakang rumah). Tapi ya saya tetap dengan prinsip: selama tidak di dalam rumah, ular tidak akan mengganggu kalau tidak kita ganggu.

Terus, ada lagi nih cerita tidak berhubungan yang dihubung-hubungkan. Biasanya ada kucing suka main ke halaman rumah kami dan pup sembarangan karena ada sedikit tanah yang agak berpasir di dekat parkiran mobil. Saya sering jengkel karena jadinya berasa bau banget tiap keluar masuk rumah. Nah, entah berhubungan atau tidak, kucing itu tidak pernah kelihatan lagi selama seminggu ini. Saya merasa senang rumah tidak bau, tapi jadi masih agak kuatir apakah benar ada ular pemakan kucing itu di komplek sini. Yang pasti sih, halaman rumah kami rumputnya sudah tidak tinggi lagi. Setiap keluar masuk rumah, saya perhatikan sekeliling halaman rumput dan sejauh ini tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan hehehehe (tetap saja ya merasa kuatir sedikit).

Nah, jadi kesimpulannya kalau ketemu ular di foto? ya tergantung juga, kalau ularnya besar jangan pakai mikir, cari orang buat ngusir deh hahaha. Kami berani memfoto (dari agak jauh) karena ularnya gak bergerak walaupun dengar suara kami. Ularnya juga keliatan kecil. Terus ya setelah tutup pintu, cari tau kira-kira apa yang bisa dilakukan supaya ular tidak masuk rumah.

Awalnya kepikiran tabur garam di depan pintu (kan biasanya diceritakan kalau orang kemping di alam tabur garam tuh sekeliling). Ternyata untuk ular, bukan garam yang ditakuti, tapi wewangian! Nah jadi rumah bersih dan wangi itu ada manfaatnya juga supaya ular takut ya hehehe.

Terus waktu Joe baca-baca soal wewangian pengusir ular, terus entahlah bagaimana sampai juga ke bagian sejarah pohon kemenyan yang merupakan sarang ular dan metode mengusir ularnya adalah dengan membakar getah pohonnya.

Sejarawan Yunani bernama Herodotus yang akrab dengan kemenyan dan mengetahui bahwa kemenyan dipanen dari pohonnya di Arab Saudi bagian selatan. Dia juga melaporkan bahwa getah berbahaya untuk di panen karena ular berbisa juga hidup di pohon-pohon tersebut. Dia juga menjelaskan metode yang digunakan oleh orang-orang Arab untuk mengatasi masalah ini, yaitu dengan membakar getah dari pohon kemenyan sehingga asap akan mengusir ular tersebut pergi

sejarah kemenyan dari Wikipedia

Berikutnya jadi ada imajinasi menghubungkan cerita kemenyan dan ular. Cerita jaman dukun yang bisa mengusir ‘Iblis’, jangan-jangan sebenarnya yang mereka pikir iblis itu ya ular. Jadi waktu sebelum membakar dupa kemenyan, ularnya ga takut dan mematuk korban. Nah berikutnya setelah orang-orang ‘berdoa’ sambil bakar kemenyan, somehow ularnya kabur dan merekapun selamat gak dipatuk ular. Jadi dari dulu yang jadi masalah itu ularnya, bukan iblisnya (ya namanya imajinasi ya).

Kesimpulannya: jagalah kebersihan dan kewangian lingkungan (loh kok ga nyambung). Hahaha ya maksudnya, jangan biarkan rumput tumbuh terlalu tinggi kalau ga mau mengundang hewan-hewan tak diundang bersembunyi di antara rerumputan apalagi di musim hujan. Terus berikutnya kalau rumah bersih dan wangi, mudah-mudahan ularnya gak mau masuk karena dia akan memilih habitatnya dong ah. Gak perlu panik juga, selama tidak diganggu dan memang jenis tidak berbahaya, tidak ada alasan untuk membunuh ularnya. Kalau gak ada rumput tinggi, ularnya pasti cari tempat lain yang lebih nyaman dan ga diganggu orang toh. Tapi yaaa tetap ya, saya ga berharap ketemu ular lagi. Nggak yang kecil ataupun yang besar. Eh tapi juga ga berharap kucing yang suka pup balik lagi hehehe.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.