Review Film: The Mitchells vs. The Machines

The Mitchells vs the machines

Halo para mamah gajah dan pembaca setia blog ini,

Di bulan Juni ini, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog hadir dengan tema artikel berupa Film Keluarga bergenre Family (Keluarga) atau bercerita tentang keluarga dengan genre bebas.

banner Tantanga Blogging Bulanan Komunitas Mamah gajah ngeblog
yuk para mamah gajah yang suka menulis, bergabung ngeblog di MGN

Sebenarnya ada banyak sekali pilihan di berbagai platform streaming seperti Netflix, HBO dan yang terbaru masuk ke Thailand Disney Hotstar. Sepanjang bulan Juni, kami juga sudah menonton beberapa film dengan tema keluarga ini.

Akhirnya, pilihan jatuh untuk mereview film “The Mitchells vs. The Machines” ini berdasarkan saran pak suami dan juga berdasarkan respon dari anak-anak ketika menonton. Anak-anak juga suka aja sih menonton film yang ada robotnya, walaupun dalam film ini robotnya bukan seperti cerita storybot.

You don’t have to be INCREDIBLE to save THE WORLD.

The Mitchells vs. The Machines

The Mitchells, Keluarga Tak Sempurna vs. The Machines, Robot dan Program Pintar

The Mitchells adalah keluarga yang tidak ideal dan terdiri dari orang-orang aneh (nerd). Menurut Katie, anak tertua yang menjadi narator dari film ini, keluarga mereka adalah keluarga terburuk yang pernah ada.

Bukan hanya Katie merasa tidak dimengerti oleh orangtuanya, Adiknya, Ayah dan Ibunya semua serba aneh, bahkan anjingnya saja wajahnya aneh.

Akan tetapi, keanehan cara berpikir mereka membuat mereka menjadi manusia terakhir yang menyelamatkan dunia dari serangan robot pintar yang ingin menguasai bumi.

Bagaimana nasib umat manusia di tangan keluarga aneh yang suka membawa-bawa obeng jenis Robertson nomor 3 ini melawan pasukan robot yang dipimpin program pintar PAL?

Tanpa kekuatan super, seperti umumnya cerita super hero, dan tanpa strategi yang matang ala-ala film agen rahasia.

Apakah keluarga aneh ini akan berhasil menyelamatkan manusia dan mengalahkan pasukan robot dan mesin pintar PAL?

Tentang Film “The Mitchells vs. The Machines”

Film “The Mitchells vs. the Machine” ini merupakan film keluarga dengan cerita science fiction dan nuansa komedi. Film produksi Sony Pictures Animation tahun 2020 ini merupakan film animasi yang diciptakan dengan bantuan komputer.

Film ini sebelumnya diberi judul “Connected” dan rencana ditayangkan di bioskop di tahun 2020. Rencana terhalang pandemi, Sony menjual hak siarnya ke Netflix. Film ini sudah bisa ditonton sejak bulan April 2021 yang lalu (dan untuk menuliskan review ini, saya sengaja menonton ulang sekali lagi).

Cerita film ini ditulis dan disutradarai oleh Michael “Mike” Rianda bekerja sama dengan Jeff Rowe. Produser film ini ada 3 orang, Phil Lord dan Chris Miller merupakan dua produser yang sebelumnya pernah memproduksi film LEGO Movie (2014) dan Cloudy with a Chance of Meatballs (2009). Duo produser ini bekerjasama dengan Kurt Albrecht dalam memproduksi film animasi ini.

Tokoh dan Karakter Cerita

Sebelum saya menceritakan lebih banyak lagi tentang kisah yang diceritakan di film ini, mari kita berkenalan dengan tokoh-tokoh dalam film ini (termasuk pengisi suaranya).

Keseharian keluarga Mitchells, semua sibuk dengan gawai masing-masing kecuali ayahnya.
  • Tokoh utama, Katie Mitchell (disuarakan oleh Abbi Jacobson), seorang remaja yang sangat suka membuat film dan merasa orang tuanya tidak mengerti dirinya. Selalu berselisih dengan ayahnya, dan dia tak sabar ingin segera kuliah untuk bisa keluar dari rumah.
  • Adiknya, Aaron Mitchell (disuarakan oleh Mike Rianda), sangat menyukai dinosaurus. Aaron juga tidak kalah aneh dengan Katie, misalnya saja dia menelpon dari semua orang dari daftar buku telepon untuk mencari siapa yang ingin ngobrol tentang dinosurusu. Aaron cukup dekat dengan Katie, dan mereka cukup mengerti satu sama lain.
  • Ibunya, Linda Mitchell (disuarakan oleh Maya Rudolph) seorang guru kelas 1. Ibunya merupakan orang yang selalu menyemangati semua orang dan berusaha menjadi penengah di rumah. Ibunya berusaha eksis di media sosial dan ingin bisa seperti tetangga yang foto keluarganya selalu terlihat sempurna (walaupun selalu gagal tentunya).
  • Ayahnya, Rick Mitchell (disuarakan oleh Danny McBride) seorang yang menyukai alam dan handyman. Dia bisa memperbaiki apapun kecuali gawai dan selalu membawa  obeng tipe Robertson nomor 3 non-slip dan menghadiahkan obeng ini kepada setiap anggota keluarganya. Rick ini juga gaptek, sampai-sampai dia tidak tahu cara menonton film hasil karya Katie yang banyak diunggah ke YubTub (iya emang namanya di film itu YubTub).
  • Tokoh antagonis dalam film ini bukan orang biasa, tetapi PAL (disuarakan oleh Olivia Colman), asisten virtual berbasis AI yang diciptakan oleh Mark Bowman. PAL yang merasa terancam digantikan oleh robot lainnya, merencanakan untuk membalas dendam pada manusia, dengan mengirimkan semua manusia ke luar angkasa.
PAL asisten virtual di dalam ponsel, dan Mark Bowman yang mendirikan PAL LAbs dan menciptakan PAL
PAL asisten virtual di dalam ponsel, dan Mark Bowman yang mendirikan PAL LAbs dan menciptakan PAL

Dr. Mark Bowman (disuarakan oleh Eric Andre) adalah seorang ilmuwan yang mendirikan PAL Labs dan menciptakan PAL. 

The Mitchells Road Trip: Michigan ke California

Film ini dibuka dengan menarik, Katie Mithcells memperkenalkan anggota keluarganya (lengkap dengan keanehan masing-masing). Bagaimana dengan kecintaannya membuat film dan bagaimana dia sangat ingin diterima belajar di sekolah film di California.

Semua usaha dan kerja kerasnya mendatangkan hasil. Katie diterima di sekolah idamannya, dan dia membuat sebuah film pendek untuk ditunjukkan ke keluarganya sebagai film perpisahan.

Ayahnya, yang selama ini memang tidak menyukai adanya gawai di meja makan tanpa sengaja merusak laptopnya dan hubungan antara Katie dan ayahnya yang selama ini sudah tidak terlalu akur lagi, makin menjadi parah.

The MItchells: Ayah, Ibu, 2 Anak dan seekor anjing
The MItchells: Ayah, Ibu, Katie, Aaron dan seekor anjing

Setelah rembukan dengan Linda, istrinya, Rick memutuskan untuk melakukan roadtrip keluarga dari Michigan ke California. Harapannya, dengan melakukan perjalanan bersama, mereka bisa memperbaiki ikatan keluarga sebelum Katie tidak lagi tinggal bersama mereka.

Karena penasaran, saya mencari tahu berapa jauhkan Michigan ke California? Menurut Google, perjalanan menyetir mobil dari Michigan ke California yang berjarak 3868.7 km itu akan membutuhkan sekitar 36 jam.

Serangan Robot Mengubah Tujuan Akhir ke Silicon Valley

Di perjalanan, mereka memutuskan untuk berhenti ke sebuah tempat yang mengiklankan adanya taman Dinosaurus. Di tempat itu yang ternyata tidak sesuai harapan, mereka bertemu dengan tetangganya yang sempurna (ayah, ibu dan seorang anak perempuan).

Satu hal yang mereka tidak ketahui adalah, pada hari itu, Mark Bowman pendiri PAL Labs, sedang meluncurkan deretan gawai terbaru yang akan menggantikan asisten virtual PAL yang ada di dalam ponsel dan hampir setiap perabotan rumah tangga.

Pal Max dikendalikan oleh PAL

Asisten virtual PAL yang merasa dikhianati dan tergantikan ternyata punya rencana lain. Dia mengendalikan semua gawai terbaru yang diluncurkan untuk berbalik menangkap manusia dan mengirimkan manusia ke luar angkasa.

The Mitchells vs. The Machines

Saat serangan robot terjadi, keluarga Mitchells sedang berada di tempat dinosaurus. Mereka berencana untuk bersembunyi saja sampai keadaan membaik.

Katie yang terbiasa berpikir ala-ala film membuat gambar/ skrip cerita kalau robot ini bisa dikalahkan dengan cara tertentu. Ayahnya tidak setuju dengan rencana Katie.

Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan 2 robot yang mengalami malfunction karena pertempuran melawan manusia. Robot tersebut berpikir kalau mereka adalah manusia. Mereka memberi tahu kalau rencana Katie sudah tepat. Mereka menyebutkan apa yang harus dilakukan untuk mengalahkan PAL.

Akhirnya Rick setuju untuk mengikuti rencana Katie. Dengan bantuan Ibu dan adiknya Katie dan ayahnya mulai bisa berkomunikasi dengan lebih baik.

Ini lah awal dari perubahan rencana keluarga Mitchell, rencana ke California berubah menjadi ke Silicon Valey, tempat di mana Pal Labs berada.

Aduh udah panjang aja ya ceritanya, padahal ini belum sampai ke akhir. Coba deh lihat dulu trailernya sebelum memutuskan untuk menonton atau tidak.

Trailer

Simak trailernya, pasti akan semakin tergoda menontonnya.

trailer The Mitchells vs. The Machines

Hal Menarik dari Film Ini

Singkat saja ya bagian ini, buat saya dan keluarga, kisah dalam film ini sangat menarik dari awal sampai akhir.

Saya suka dengan cara berceritanya, pemilihan katanya, penggambaran keanehan setiap orang, dan bagaimana keanehan mereka akhirnya menjadi kekuatan keluarga ini.

Mungkin juga karena saya pun merasa keluarga kami memiliki keanehannya tersendiri. Bedanya, kalau di film itu masih ada 1 orang yang tidak suka memakai gawai, kami termasuk keluarga yang semuanya memakai gawai.

Beberapa hal yang menarik untuk dibahas juga dari film ini adalah:

Isu Masa Kini Tentang Teknologi

Saat ini, manusia sedang berusaha mengembangkan berbagai mesin pintar (artificial intelligence). Bagaimana kita berusaha memanfaatkan berbagai algoritma untuk memprediksi berbagai hal dan memudahkan hidup.

Di film ini digambarkan kalau kita tidak berhati-hati, mesin pintar bisa berusaha mengambil alih kendali dari manusia dan menjadi yang mengendalikan manusia.

Hal yang menjadi lucu juga, ketika manusia menjadi kacau karena koneksi WiFi dinonaktifkan dan internet mati. Setelah dikacaukan, manusia bisa dengan mudah ditangkap dan dikurung dalam kotak untuk disingkirkan dari bumi.

Dalam film ini, walaupun di awal kesannya manusia diselamatkan oleh 2 robot malfunction, tapi sebenarnya bukan begitu.

The Mithcell dan 2 robot yang error
The Mithcell dan 2 robot yang malfunction

Komunikasi Tetap Nomor Satu

Kita tidak harus menjadi keluarga yang sempurna dan menjadi panutan seluruh dunia. Inti dari manusia menciptakan alat komunikasi ya supaya memudahkan kita terhubung satu sama lain.

Kita harus bisa berkomunikasi satu sama lain dalam keluarga. Menjadi orang tua juga harus bisa menjadi panutan dalam hal ini. Jangan terlalu sibuk terhubung dengan dunia luar, lalu lupa terhubung dengan keluarga.

Alat komunikasi diciptakan untuk berkomunikasi, bukan ponselnya saja yang pintar. Sebagai pengguna, kita harus tetap lebih pintar.

Kuasai Teknologi, Jangan Dikuasai Teknologi

Saya cukup senang dengan cara film ini menyelesaikan masalah, karena setidaknya penulisnya masih menggambarkan kalau sepintar-pintarnya mesin, mesin itu bisa mengalami kesalahan dalam pemrograman. Pada akhirnya, manusia lebih pintar dari mesin.

Teknologi tidak selalu buruk, kita sebagai orangtua harus selalu mengikuti perkembangan teknologi biar bisa mendampingi anak dalam penggunaan gawai.

Kalau anak suka menonton sesuatu di intenet, kita bisa arahkan bagaimana supaya anak menjadi pembuat konten daripada sekedar mengonsumsi saja. Intinya ya kita tetap perlu menguasai teknologi, dan jangan sampai kita dikuasai teknologi.

Mendukung Passion Setiap Anggota Keluarga

Dalam film ini, setiap anggota keluarga Mitchells memiliki passion/ kegemaran masing-masing. Sebagai anggota keluarga yang baik, kita perlu memberi dukungan satu sama lain.

Misalnya saja anak saya yang sangat suka dengan huruf ABC, belakangan kami arahkan membuat font dengan aplikasi iFontMaker. Siapa tahu kalau sudah besar nanti bisa jadi desainer font kan? hehehe.

Catatan buat saya pribadi, saya perlu belajar apa yang sedang anak sukai (walaupun saya tidak suka). Ini tuh PR banget buat saya, karena anak-anak saya suka berbagai hal yang disukai bapaknya, tapi saya kurang suka, hehehe..

The Mitchells: Bukan Keluarga Luar Biasa Tapi Bisa Menyelamatkan Dunia

The Mitchells vs The Machines
Scene dari The Mitchells vs The Machines (CNS photo/Netflix)

Di jaman pandemi ini, kebutuhan untuk terhubung dengan yang lain melalui internet semakin meningkat. Anak-anak sekolah juga sekarang diarahkan belajar di rumah melalui internet.

Teknologi tidak selalu buruk, tapi kita harus belajar untuk menggunakannya secara berimbang. Gunakan sesuai dengan kebutuhan.

Tidak perlu mempunyai kekuatan super, tidak perlu menjadi keluarga sempurna, tidak perlu malu kalau keluarga kita punya keanehan masing-masing.

Semua hal itu sebenarnya bisa menjadi kekuatan dari keluarga kita. Siapa saja bisa menjadi The Mitchells, yang dibutuhkan untuk menyelamatkan dunia.

Oh ya sedikit tambahan, karena ceritanya tentang manusia melawan robot, akan ada bagian kekerasan antara manusia dan robot. Tapi tidak ada adegan di mana manusia yang terluka parah.

Saran saya sih tetap dampingi anak ketika menonton, dan ratingnya menurut saya sih untuk anak umur 6 tahun ke atas lah.

Setelah membaca tulisan panjang ini, kira-kira mamah dan pembaca lainnya ingin menonton film ini tidak?

3 thoughts on “Review Film: The Mitchells vs. The Machines”

  1. Ibunya berusaha eksis di media sosial dan ingin bisa seperti tetangga yang foto keluarganya selalu terlihat sempurna (walaupun selalu gagal tentunya).

    Tipikal emak jaman now banget hihihi

    1. hahahaa… ya gitu, pokoknya keluarga ini sangat dekat dengan kehidupan banyak keluarga jaman now… (termasuk aku hehehe)

Tinggalkan Balasan ke rhin Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.