Kdrama: Chocolate

Kdrama Chocolate ini baru selesai tayang di Netflix hari Minggu lalu, sebelum lupa saya mau tuliskan sedikit review dan opini tentang drama ini. Seperti biasa, mudah-mudahan tidak ada spoiler, dan ya namanya opini sifatnya subjektif hehehe.

poster dari wikipedia

Drama sebanyak 16 episode ini awalnya saya mulai nonton karena judulnya. Saya pikir isinya akan berupa cerita seputar bikin coklat melulu, tapi ternyata saya salah. Coklat merupakan awal dari cerita cinta pasangan utamanya.

Cerita bergenre melodrama romantis ini sebenarnya bukan tipe drama yang bikin saya betah nontonnya. Dari beberapa genre sejenis yang pernah ditonton, saya paling tidak tahan melihat scene yang dilama-lamain dan sedih bukan kepalang. Tapi drama Chocolate ini, walaupun saya akui ada bagian yang berasa dilambat-lambatin, tapi ya masih menarik untuk dilihat karena biasanya pemerannya mikir sambil masak.

Teaser Chocolate dari YouTube The Swoon

Ada banyak jenis masakan yang ditunjukkan dimasak di drama ini, bukan cuma coklat doang. Kebanyakan makanan seperti lauk pauk gitu deh. Cara bercerita sambil tokohnya menyiapkan makanan ini cukup menarik, mulai dari mengupas, mengiris, mencuci, urutan memasukkan bahan-bahan ke dalam panci ataupun kuali sampai dihias di atas piring untuk disajikan. Ini bukan acara master chef, bukan juga acara masak memasak, tapi ya tampilan makanan yang dimasak dan disajikan bisa bikin saya betah menonton drama melodrama ini. Makanan yang disebutkan bukan cuma ramen, atau jajangmyon, ataupun teokbukki yang sering disebut-sebut di drama lain saja. Tapi saya lupa nama-namanya hahaha.

Setting lokasi cerita ini ada beberapa tempat. Ceritanya juga berusaha menceritakan dari kisah pertemuan pertama tokoh wanita dan prianya. Cerita 2 episode pertama kita harus memperhatikan tahun peristiwanya, karena ada bagian ceritanya maju mundur.

Garis besar ceritanya seorang anak perempuan yang kelaparan diundang makan oleh seorang anak laki-laki baik hati yang senang membantu ibunya memasak. Anak ini juga senang memasak coklat dan punya keahlian masak, jadi setelah pertemuan pertama itu, si anak ini mengundang teman barunya itu untuk datang lagi makan coklat shasha. Tapi karena satu dan lain hal, mereka tidak bisa bertemu lagi di hari yang dijanjikan. Si anak laki-laki pindah ke kota besar dan menjadi seorang dokter ahli saraf, sedangkan si anak perempuan memilih jadi chef karena terkesan dengan makanan yang disajikan di restoran si anak laki-laki itu. Tujuan jadi chef nya juga karena ingin bisa memasak coklat shasha.

Setelah bertahun-tahun kemudian, dengan berbagai kesedihan yang terjadi dalam kehidupan masing-masing, akhirnya mereka bertemu kembali. Tapi tentu saja mereka tidak langsung saling mengenal. Pertemuan pertama itu hanya sebentar, dan mereka hanya saling berkenalan nama. Dengan banyakan peristiwa yang terjadi dalam hidup masing-masing, sebenarnya agak aneh kalau mereka langsung mengenali satu sama lain.

Cerita dalam drama ini mengambil tempat di Greece juga selain di Korea. Ceritanya, si cewe belajar masaknya di Greece. Salah satu daya tarik drama ini selain penyajian makanannya ya pemandangan alamnya.

Kalau didaftarkan di sini, banyak sekali kesedihan yang dihadapi 2 tokoh utama ini. Proses mulai dari pertemuan pertama, sampai mereka menyadari siapa satu sama lain juga lama banget. Ceritanya juga sebenarnya klise banget, kisah cinta pertama dari sejak kecil dan itu hasil pertemuan sekali saja. Terlalu mengada-ngada ya sepertinya. Tapi ya, namanya drama (ini kalimat yang akan sering ada kalau ngomongin drama), saya kagum dengan kemampuan penulis membuat rangkaian kesedihan dalam kehidupan 2 tokoh utama sambil memikirkan menyajikan pemandangan alam yang indah dan makanan yang terlihat menarik.

Endingnya gimana? apakah mereka akhirnya bersama? Ada kisah cinta segitiganya gak? atau ada nenek sihir jahatnya gak? eh emang ini cerita apaan sih pake nenek sihir segala, ini bukan kisah Hansel dan Gretel. Tapi seperti semua drama, pasti adalah orang jahatnya. Bagian yang ini bisa ditonton sendirilah. Kalau gak suka dengan klise nya, coba liat makanannya deh. Kalau gak suka makanannya, ya udah ga usah ditonton hehehe.

Ada banyak pesan kehidupan juga dalam drama ini, apalagi karena salah satu settingnya adalah rumah sakit untuk pasien-pasien yang penyakitnya sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Rumah sakit itu lebih untuk membantu pasien supaya tidak terlalu menderita di masa akhir hidupnya. Setting lokasi rumah sakit ini yang bikin makin terasa melodramanya. Kalau gak suka melodrama, gak suka makanan, gak suka klise cinta pertama, ya udah cari drama lain, ada banyak kok hehehe.

Dengan berakhirnya drama ini, saya perlu mencari drama baru yang masih tayang untuk ditonton. Ada yang mau kasih rekomendasi?

Review App: Foldify – Create, Print, Fold!

Aplikasi Foldify ini merupakan aplikasi yang tersedia di Appstore untuk ipad dan iphone. Kami membelinya sudah lama sekali, sejak Jonathan masih kecil dan Joshua belum ada. Kalau dari kategorinya, foldify ini untuk umur 9+, tapi sebenarnya untuk latihan mewarnai, menggunting dan melipat ya bisa dari umur berapa saja.

contoh-contoh template yang tersedia

Beberapa bentuk sudah tersedia dan diwarnai. Kita bisa print dan gunting, lalu dilipat dan dimainkan. Bentuk-bentuk tersebut ada versi kosongnya juga yang bisa kita print untuk diwarnai di kertas sebelum digunting dan dilipat, atau bisa mewarnai dengan aplikasinya juga.

Bentuk-bentuk yang masih “kosong”

Kalau kita memilih template yang kosong untuk diwarnai, kita akan mendapatkan bentuk 3 dimensi sebelum digunting dan dilipat. Dari halaman ini kalau langsung kita print, maka anak-anak bisa mewarnai dikertas. Tapi kalau kita ingin mewarnai dengan aplikasi, ketika kita mewarnai di sisi kanan, gambaran 3dimensinya akan langsung terlihat efek dari warna yang kita berikan.

template untuk diwarnai

Bentuk yang sudah kita warnai bisa kita upload, kirimkan ke e-mail, share di FB dan twitter ataupun simpan ke galeri foto.

pilihan untuk share hasil foldify

Kalau kita ingin langsung mengeprint ke kertas juga bisa, dengan catatan kalau ipadnya terkoneksi langsung ke printer. Kami sekarang ini masih memilih untuk simpan sebagai PDF dan kirimkan e-mail PDF nya. Ipad yang digunakan joshua sengaja tidak diinstal banyak hal, termasuk koneksi ke printernya.

pilihan untuk mencetak

Seperti halnya dengan mainan yang lain, ketika menemukan aplikasi baru, Joshua akan selalu memulai dengan ABC dan 123. Dia rajin sekali menyusun huruf-huruf dan memilih warna. Biasanya tidak semua kami cetak. Beberapa yang dicetak kami ajak dia untuk gunting dan lipat. Untuk urusan gunting dan lipat, sampai sekarang masih belum terlalu bisa.

Ukuran dari foldify yang dihasilkan juga bisa diatur. Kalau diperhatikan huruf-huruf yang sudah kami cetak, gunting dan lipat ada yang kecil dan besar.

Jonathan dulu lebih suka memilih bentuk-bentuk yang bisa dimainkan seperti bus. Pernah juga kami membuat pohon natal kecil dari 3 limas segi empat yang diwarnai hijau.

Sekarang ini, pembuat aplikasi foldify ini juga mengembangkan foldify dengan menambahkan beberapa template animal. Tapi karena harus beli lagi terpisah, kami belum membelinya. Aplikasi yang sudah dibeli dengan harga $3.99 USD ini masih cukup dimainkan dan belum perlu membeli yang berikutnya.

Untuk yang ingin melihat bagaimana contoh foldify bekerja, bisa dilihat di video-video yang ada di YouTube

sumber: https://www.youtube.com/watch?v=j-1j_oc7HF8
sumber: https://www.youtube.com/watch?v=gG6KGWbTM1c

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, apakah ada aplikasi sejenis versi androidnya? sayangnya sejauh ini kami belum menemukannya. Kalau ada yang tahu aplikasi sejenis foldify untuk android, silakan berbagi informasinya di komentar ya. Aplikasi ini cukup menyenangkan buat anak-anak, sekaligus bisa untuk mengajarkan bentuk 3 dimensi juga.

Baca Buku: Keep Going

Ini buku pertama yang dibaca tahun 2020. Buku pertama yang dibacanya cukup cepat. Ceritanya di grup KLIP ada yang share buku yang dibaca ditahun 2019 yang berkesan dan ada yang menuliskan tentang buku ini. Berhubung bulan Desember lalu diserang kemalasan menulis jadi tertarik dengan buku ini yang memberikan tips-tips untuk tetap berkarya.

Judul lengkap buku ini Keep Going: 10 Ways to Stays Creative in Good Time and Bad. Buku ini ditulis oleh Austin Kleon seorang penulis yang juga menggambar. Saya baru tau setelah selesai membaca buku yang ini, ternyata dia sudah punya 2 buku sebelum buku ini. Buku dengan jumlah 224 halaman, bisa dengan cepat dibaca karena banyak halaman berupa illustrasi seperti komik. Buku ini juga merupakan buku pertama yang selesai saya baca di hari yang sama dengan hari belinya di Kindle (banyak buku yang walau tidak tebal tapi gak selesai-selesai membacanya sampai sekarang).

Dari judulnya aja udah ketahuan kalau ini isinya memberi motivasi biar kita gak berhenti berkarya. Walaupun mungkin dia memberi contohnya karya dalam bidang menulis ataupun menggambar, tapi sebenarnya tips yang dia berikan ini bisa untuk karya apa saja. Bukankah setiap manusia itu diciptakan untuk berkarya di bumi ini.

Buku ini menarik karena gaya bahasanya yang mudah dimengerti dan banyak ilustrasinya. Buku ini juga tidak menuntut kita untuk menciptakan karya yang sempurna, tapi kalau kata saya lebih realistis dan bagaimana membuat proses kreatif itu tetap terasa menyenangkan dan bukan jadi beban.

Berikut ini hal-hal yang berkesan buat saya dari buku ini. Saya tidak akan mengutip setiap bab seperti dari daftar isi, tapi apa yang saya ingat setelah diendapkan beberapa hari.

Rutinitas itu Penting

Biasanya paling sering mendengar keluhan tentang betapa membosankannya rutinitas. Tapi ternyata rutinitas itu penting dan malah lebih baik lagi kalau kita membuat jadwal yang sama setiap harinya untuk berkarya. Penulis buku ini mencontohkan bagaimana jika kita hidup di hari yang sama setiap harinya, seperti di film Groundhog Day?

Contoh daftar hal yang bisa dilakukan setiap hari dari buku Keep Going – Austion Kleon

Apa yang kita lakukan setiap harinya, itulah karya kita. Kita mau isi hari-hari kita tanpa berkarya, atau mau menghasilkan sesuatu yang berarti? Kadang-kadang untuk orang yang pernah sukses menghasilkan sesuatu karya, mereka sering berhenti dan merasa: aduh harusnya ini lebih baik dari yang sudah pernah saya buat. Perasaan seperti ini bisa membuat kita jadi berhenti berkarya. Padahal seharusnya ya tetap berkarya, mungkin hari ini hasilnya tak sebagus kemarin, tapi besok bisa jadi lebih baik dari hari ini karena kita sudah lebih terlatih mengerjakannya. Yang penting, lakukan saja setiap hari dengan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mulai setiap hari dengan karya baru.

Rutin itu penting, supaya kita tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Saya ingat, baca buku tentang membesarkan anak dari bayi, di sana juga disebutkan kita perlu membuat rutin anak yang sama setiap harinya, biar mereka tahu apa yang selanjutkan akan dilakukan. Dengan adanya rutin, anak jadi tahu bangun tidur harus apa, atau setelah selesai sikat gigi dan ganti baju tidur ya harus tidur. Untuk orang dewasa, rutin itu juga penting.

Kalau kita sudah tahu apa yang harus dilakukan berikutnya, kita tidak akan kelamaan mikir: ngapain ya abis ini, atau malah jadi tidak menghasilkan karya sepanjang hari. Oh ya, di buku ini juga disebutkan, kalau kita juga harus meluangkan waktu untuk berjalan di luar ruangan untuk memperhatikan hal-hal sekitar dan juga kalau lagi mentok ide, tidur siang/istirahat mata juga baik untuk merefresh diri.

Buat Daftar untuk Segala Hal

Kebiasaan membuat daftar itu baik. Misalnya mendaftarkan apa yang ingin dikerjakan, atau membuat daftar belanja. Bisa juga membuat daftar apa yang ingin dipelajari. Kalau sedang bepergian, bisa bikin daftar tempat menarik untuk dikunjungi. Bahkan bisa juga membuat daftar film yang ingin ditonton, atau buku yang ingin dibaca untuk hiburan.

Membuat daftar bisa membantu kita untuk mempermudah ketika membuat keputusan/pilihan. Kadang-kadang saya sudah mulai membuat daftar, misalnya membuat daftar topik yang bisa dituliskan di blog, supaya gak setiap hari bertanya-tanya: nulis apa yah hari ini. Sayangnya, setiap kali mau nulis, ide untuk menuliskan hal-hal yang ada di daftar seringnya terasa sulit dan akhirnya gak jadi deh dituliskan.

Punya Tempat Kerja yang Nyaman

Bagian yang ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Joe. Dulu saya ingat sering protes kenapa komputer menyala 24 jam, atau kenapa mejanya gak rapi. Terus Joe bilang: yang penting ketika mau kerja, komputer sudah siap sedia untuk dipakai. Tidak harus menunggu dulu menyalakan komputer, atau harus membereskan meja dulu. Waktu untuk menunggu itu bisa bikin teralihkan perhatian dan malah ga jadi kerja.

Tempat kerja yang nyaman itu tidak harus rapi ala Marie Kondo, tapi yang penting semua hal yang dibutuhkan untuk berkarya tersedia di sana dan bisa kita pakai dengan mudah. Hal ini kembali ke gaya bekerja masing-masing orang. Ada yang tidak bisa kerja kalau mejanya terlalu berantakan. Nah untuk orang seperti ini, diperlukan meja kerja yang selalu rapi. Atau ada juga orang yang tidak bisa kerja kalau terlalu hening, dan kebalikannya terlalu ramai juga gak bisa kerja. Yang pasti, temukan tempat kerja yang nyaman untuk kita masing-masing.

Merapikan barang-barang itu tetap perlu, tapi berbeda dengan Marie Kondo yang bilang kalau merapikan buku jangan sambil berhenti dan membaca, kita malah disarankan untuk mengunjungi kembali karya-karya kita sebelumnya. Kadang-kadang dari hal-hal yang pernah kita lakukan di masa lalu, yang mungkin saja sudah terlupakan, kita bisa mendapatkan ide baru untuk karya berikutnya.

Lakukan Saja, Karya Kita Tidak Harus Selalu Super

Saya ingat, dulu waktu rajin merajut saya sudah membuat banyak hasil. Kadang-kadang waktu menentukan mau merajut apa berikutnya, ada perasaan: ah ini terlalu mudah, pengen cari yang lebih menantang. Terus akhirnya, malah kelamaan nyari pola dan gak jadi merajut.

Hal lain yang bikin kita gak jadi berkarya adalah ketika kita mengandalkan respon orang lain terhadap karya kita. Misalnya, kita pengen menulis itu sesuatu yang dapat jempol like banyak dari orang lain. Pengennya bikin foto yang super indah dan bisa membuat orang berdecak kagum. Pengennya masak kue yang paling enak sedunia. Pengennya menjahit baju nan indah dengan detail yang super rumit.

Ketika kita kebanyakan pengen tapi gak mulai melakukannya, ya akhirnya karya kita gak ada yang jadi. Makanya disebutkan, lakukan saja apa yang kamu bisa hari ini, terlalu berharap jempol orang atau menunda mengerjakan sesuatu dengan alasan ah ini masih kurang super tidak akan membawa hasil apa-apa. Kadang-kadang bahkan app sederhana seperti flappy bird saja bisa sangat populer.

Berikan Hadiah untuk Orang Lain

Jaman berhobi merajut, kebanyakan rajutan saya itu bukan untuk saya pakai sendiri, tapi untuk diberikan ke orang lain. Waktu belajar menjahit, motivasinya juga bukan untuk terima jahitan, tapi untuk bisa menjahitkan baju untuk dipakai sendiri, Joe dan anak-anak. Menghasilkan karya untuk dihadiahkan ke orang lain itu terasa lebih menyenangkan daripada kejar setoran hehehe.

Gimana kalau pekerjaanya memang penjahit? masa harus menghadiahkan melulu? Ya, nggak dong, bikin hadiah untuk orang lain itu jadi sarana latihan. Kalau ada pekerjaan profesional, ya tetap harus dikerjakan secara profesional. Kalau misalnya kita jadi penulis, bukan berarti hasil tulisan kita harus selalu sempurna kan, bisa saja kita menulis cerita singkat untuk dihadiahkan ke orang-orang tertentu.

illustrasi dari buku Keep Going – Austin Kleon

Nah kalau punya pasangan programmer, bisa tuh minta hadiah dibikinin program aplikasi. Ada banyak aplikasi yang dibuatkan Joe atas permintaan saya, yang kemudian sebagian dia bagikan secara gratis.

Perhatikan Sekitar, jangan Online Selalu

Bagian ini sebenarnya dibahas agak di bagian awal buku, tapi saya tuliskan terakhir. Jaman sekarang, hal ini merupakan hal yang paling sulit. Buku ini menyarankan kita bangun pagi untuk tidak langsung membaca berita online di berbagai penjuru dunia, tapi disarankan untuk rutin pagi itu bangun, jalan-jalan sekitar rumah sambil memperhatikan sekitar kita.

Contoh yang saya pikirkan, saya bisa memperhatikan siklus pohon mangga misalnya, kapan mulai ada bunganya dan kapan jadi buah. Hidup ini juga seperti pohon mangga, ada siklusnya dan ada musimnya. Dari memperhatikan sekitar kita, biasanya akan ada banyak ide-ide untuk berkarya. Setelah kita memberikan waktu untuk diri sendiri, baru deh baca-baca berita dunia.

Tapi sejauh ini, prakteknya masih sulit. Bangun pagi masih lebih dulu nyari henpon buat online. Jalan-jalan sekitar rumah belum dilakukan juga. Ini saja sambil menulis, masih sambil online dan sering pindah ke halaman lain hehehe. Pelajaran dari buku ini, jadi punya motivasi untuk tetap berusaha berkarya setiap harinya.

Joshua dan Osmo (Newton, Coding, Coding Jam, Detectives dan Pizza Co)

Sejak Joshua main OSMO lagi dan tidak menunjukkan tanda bosan, kami memutuskan untuk melengkapi mainan OSMO kami. Beberapa yang belakangan di beli Osmo Coding Jam, Osmo Detectives dan Osmo Pizza Co. Sebelumnya Joe memprint sendiri untuk Pizza Co nya, tapi jadinya susah menyimpannya. Dengan alasan supaya mainnya lebih enak, akhirnya kami beli juga.

Khusus untuk Osmo Newton, kami tidak membeli creative boardnya tapi hanya menggunakan white board kecil yang ukurannya mirip dengan creative board.

Tulisan ini sekilas review sekaligus biar ingat apa yang sekarang sering dimainkan Joshua.

OSMO Newton

Osmo Newton ini sebenarnya mainnya agak rumit. Jadi kita diminta untuk membuat garis supaya bola yang jatuh terpantul lagi mengikuti hukum Newton. Joshua tapi senang bikin aturan sendiri mengumpulkan bola kecilnya dan somehow dia bisa sampai level 30 an.

Osmo Newton pakai whiteboard biasa
lagi milih mau main apa

Osmo Coding dan Coding Jam

Osmo Coding kami sudah beli sejak Jonathan 6 tahun, sekarang ada yang baru namanya Coding Jam. Prinsip mainnya sama, mainan coding juga bisa dipakai di coding jam. Bedanya coding jam ini punya lebih banyak instruksi dan kita menyusun instruksi untuk mengcompose musik.

Coding Jam
kemasannya bagusan yang lama
Osmo Coding bisa dipakai untuk Coding Jam

Kadang Joshua main bergantian antara Osmo Coding dan Coding Jam. Dia sudah mengerti instruksi dasar dari Osmo Coding dan Coding Jam. Joshua lebih suka yang coding jam, karena hasilnya bisa mendengarkan musiknya.

Osmo Detective Agency

Osmo Detective Agency ini sebenarnya seperti permainan I spy with my little eye. Jadi diberikan beberapa peta kota dan sebuah kaca pembesar. Kita diminta untuk mencari objek-objek yang ada di peta yang kita buka.

Kaca pembesar dan peta beberapa kota
total ada 8 peta
peta dan kaca pembesar bisa dimasukkan ke kotak seperti ini

Sekarang ini Joshua sukanya hanya mencari objek di Osmo Town. Tapi nantinya kalau dia sudah mengerti, Osmo Detective Agency ini bisa sekalian untuk mengenalkan geography dan landmark yang terkenal di sebuah kota. Misalnya menemukan Eiffel Tower di Paris, Perancis.

Osmo Pizza Co.

Untuk Pizza Co ini, Joshua sebenarnya belum terlalu mengerti (karena dia gak suka makan pizza), tapi ya kami beli juga untuk mengajarkannya kalau Pizza itu enak hahaha. Selain mengenalkan pizza itu ada berbagai topping, tentunya bisa untuk mengajarkan matematika juga.

isinya paling susah diberesin

Mainan ini paling butuh waktu membereskannya karena ada banyak koin, uang kertas dan juga topping dari pizza nya. Biasanya saya hanya ijinkan main pizza kalau memang kami temenin. Kalau nggak, saya kuatir mainannya bakal banyak yang hilang.

Osmo ini salah satu mainan yang agak mahal tapi juga banyak dimainkan anak-anak dan juga berguna untuk bermain dan belajar. Sekarang ini, Jonathan sudah tidak pernah lagi main Osmo. Bukan karena Jonathan tidak mau main, tapi karena Joshua tidak ijinkan Jonathan main hahaha. Jadinya kami bilang ke Jonathan, kalau mau belajar coding, langsung aja deh belajar di komputer.

Tadinya berencana beli juga Osmo HotWheels Mindracer, tapi entah kenapa, mainan ini tidak bisa dikirim ke Thailand. Mungkin tandanya cukup dengan Osmo yang ada sekarang saja kali ya hehehe.

Oh ya, karena membeli dengan jarak beberapa tahun, kami mendapatkan kemasan yang berbeda dengan seri pertama. Kemasan Osmo yang pertama lebih bagus, kotaknya lebih kokoh dan tutupnya menggunakan magnet. Untuk yang sekarang, kotaknya lebih tipis kartonnya dan kurang praktis.

CDrama: Go Go Squid!

foto dari situs https://sudsapda.com/film/167496.html

Ini bukan drama mandarin pertama yang saya tonton, dan sebenarnya gak pengen menambah daftar tontonan selain western series dan kdrama. Drama ini justru Joe yang kasih tau saya, karena ceritanya tentang orang-orang yang terlibat dengan CTF (Capture The Flag).

Saya gak pernah ikutan CTF, tapi Joe beberapa tahun belakangan ini masuk dunia security berawal dari iseng-iseng ikut lomba CTF. Tapi ternyata film ini tidak ada level teknis CTF seperti yang diharapkan sebelumnya tapi lebih mirip seperti perlombaan main game online.

Awalnya nonton bareng Joe, kirain bakal seperti kdrama Phantom yang mana ada bagian teknis yang bisa dibahas Joe. Tapi astagaaaa jalan ceritanya lambat sekali dan cenderung gak masuk akal. Nanti saya akan tuliskan beberapa hal yang tidak masuk akalnya belakangan. Karena popularitas drama ini, saya jadi penasaran di mana bagusnya drama ini. Kebetulan lagi ga ada tontonan kdrama yang menarik, jadilah saya nerusin nonton cdrama ini dan menceritakan kalau ada bagian yang menarik ke Joe.

Jumlah episode drama ini relatif banyak dibandingkan kdrama, walau nontonnya disambil kerjain sesuatu dan sambil di skip-skip, tetap saja butuh waktu rada lama menyelesaikan drama 41 episode yang setiap episodenya sekitar 45 menit ini.

Sinopsis

Tokoh wanita seorang yang cerdas dan cantik. Di usia 20 tahun sudah ambil master degree di bidang komputer. Jago mrogram dan bahkan bisa membuat face recognition untuk sistem lalu lintas. Mendalami AI dan juga menjadi asisten dosen di kampusnya. Selain sebagai mahasiswa, dia juga menjadi penyanyi online yang cukup populer dengan nick name baby squid (mungkin ini makanya judulnya jadi go go squid!). Di akhir pekan dia membantu sepupunya menjaga warung internet (di sini pertemuan pertama dia dengan tokoh pria), sedangkan di hari kuliah dia tinggal di asrama mahasiswa.

Tokoh pria: jagoan CTF yang sebenarnya lahir dan besar di Norway, tapi karena cinta tanah air dia memilih menjadi warga negara Cina dan berusaha membuat Cina dikenal di dunia CTF. Impiannya membuat bendera Cina berkibar di kejuaraan CTF tingkat dunia. Karena satu dan lain hal, dia harus pensiun sebagai pemain CTF dan akhirnya di usia menjelang 30 tahun, dia memutuskan untuk mendirikan club CTF dan melatih generasi muda untuk menjadi pemain CTF.

Ceritanya klise: si cewek jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si cowok. Dengan berbagai cara dia berusaha mendapatkan cara untuk mengontak si cowok. Si cowok orang yang fokus dengan usahanya untuk membuat tim CTF-nya menang. Cowok ini selain digambarkan dingin, juga agak kasar dan terang-terangan menolak si cewek.

Klise berikutnya: ternyata keluarga si cewek dan si cowok ini saling mengenal dan ada rencana menjodohkan si cowok dengan kakak sepupu si cewek, tapi ketemuannya di rumah si cewek. Dan ya, untuk menolak si kakak sepupu, tau-tau si cowok mengaku-aku kalau dia dan si cewek sudah berpacaran jadi gak bisa dengan si kakak sepupu. Tapi tentunya hubungannya gak mulus dan ditentang orangtua si cewek karena beda usia yang cukup jauh dan karena CTF itu dianggap cuma hobi main game dan bukan pekerjaan yang mempunyai masa depan.

Ini bukan drama asia pertama di mana si cewek ngejar-ngejar cowoknya duluan dan akhirnya cowok dingin jadi hangat (eh maksudnya jadi jatuh cinta juga dengan si cewek).

Bagusnya drama ini

Setelah bersabar dan berhasil menyelesaikan drama ini, akhirnya bisa juga melihat kenapa drama ini populer. Berikut ini kesimpulan subjektif:

  • mengajarkan mengenai memaafkan kesalahan sahabat dan move on untuk cita-cita bersama
  • menggambarkan kerjasama dari generasi muda untuk mewujudkan impiannya dan tak lupa membawa nama negara dan bangsa (nasionalis sekali).
  • berusaha mengenalkan CTF sebagai esports – walaupun menurut saya tetap aja drama ini gak menjelaskan dengan benar CTF itu bagaimana
  • promosi pariwisata di Cina, ada beberapa scene itu di tempat wisatanya dan melihatnya jadi pengen deh ke sana hehehe
  • promosi negeri Cina, film ini terasa sekali unsur nasionalismenya, misalnya pernyataan kalau di Cina sekarang semua hal bisa diakses melalui HP termasuk membayar apapun di manapun bisa dari HP pintar.
  • pemerannya sepertinya cukup terkenal di Cina (blom terlalu banyak nonton cdrama seperti kdrama jadi gak tau juga popularitas aktor dan aktris nya)

Kejanggalan dalam drama ini

Sebenarnya, niat utama dari tulisan ini mau nulis unek-unek soal kejanggalan yang banyak sekali dalam drama ini. Dan keanehannya itu ada dari episode pertama.

  • si cewek katanya cerdas, tapi kok di episode pertama kelakuannya gak kayak mahasiswa s2 yang cerdas, atau yang kerjanya cuma belajar doang. Malah keliatan aneh kayak anak baru gede ngejar-ngejar cowok. Di beberapa episode selanjutnya, baru deh diperlihatkan kalau si cewek ini cukup pintar.
  • si cowok katanya jago CTF, tapi menginstal aplikasi di HP atau memblokir pesan yang masuk dari user tertentu saja kok minta tolong sama anak-anak binaannya.
  • di drama ini orang yang bisa CTF digambarkan tidak selalu bisa mrogram, dan kalau pensiun dari CTF mereka ga punya kerjaan yang menjanjikan, padahal kalau tidak bisa mrogram sama sekali rasanya mereka gak akan bisa jadi jagoan CTF, seharusnya sebagai jagoan CTF mereka bisa bekerja menjadi pentester yang saat ini belum banyak orang yang bisa melakukannya dan masih banyak dibutuhkan.
  • perlombaan CTF ditunjukkan seperti perlombaan game online. Beberapa bagian yang ditunggu-tunggu seperti halnya finalnya malah gak ditunjukkan teknisnya sama sekali, mungkin yang terlibat dalam pembuatan film ini sudah kehabisan ide bagaimana menunjukkan perlombaan CTF
  • yang paling mengganggu dari drama ini adalah jalan cerita yang terlalu lambat dan kadang-kadang terasa kaku.

Kesimpulannya, drama ini bukan untuk melihat apa itu CTF atau bagaimana perlombaan CTF berlangsung. Drama ini ya seperti halnya drama bergenre romantis lainnya, kisah klise dengan meminjam orang-orang berlatar belakang CTF dan IT (tapi ceritanya gak IT sama sekali).

Honey Dispenser

Ini bukan iklan, tapi cuma mau cerita aja. Pernah gak di Facebook lihat video tentang benda-benda unik untuk keperluan sehari-hari atau di dapur. Saya sering melihatnya, dan kadang-kadang suka jadi pengen beli tapi ya ga selalu juga dibeli. Kagum dengan orang yang merancang sebuah benda untuk mempermudah mengupas buah misalnya. Nah honey dispenser ini juga masuk kategori seperti benda-benda unik tapi berguna itu, bedanya saya bukan tau dari video-video itu, melainkan dari salah seorang teman saya.

Ceritanya selama ini saya suka males minum madu karena setiap kali menuang ke sendok pasti deh belepotan atau lengket di tangan waktu menyentuh tutup madunya. Jadinya sering terasa malas memakai madu walaupun itu wadahnya yang model bisa tinggal pencet. Masalahnya setiap pegang tutupnya, pasti deh akan ada yang terasa lengket di tangan. Pernah beli madu sampai lama banget gak diminum juga, pernah juga membeli aneka jenis madu dengan kemasan yang sepertinya mudah dituang (tapi ternyata tetap terasa lengket setiap kali). Akhirnya lebih sering malas beli madu.

pake tempat madu, ga ada yang lengket di tangan

Beberapa waktu lalu, seorang teman memberi tahu soal honey dispenser ini. Awalnya saya pikir: ah bakal sama saja, tiap pakai madu bakal ada yang lengket. Saya pikir juga tempatnya terlalu kecil dan harus sering-sering diisi ulang, jadi bakal tetap repot dan sering lengket-lengket.

Ternyata setelah melihat cara kerjanya, saya berubah pikiran. Kapasitas tempat madu ini hampir 1/3 dari isi botol madu 1 literan. Isi dispenser madu ini bisa bertahan lebih dari seminggu (ya tergantung berapa banyak pemakaian madunya). Saya memakai madu sekitar 4 sendok sehari, dan baru perlu isi ulang tempat madunya 2 kali selama hampir sebulan sejak beli tempat madu ini. Dengan memakai tempat madu ini, tangan lengket kena madu itu terjadi hanya ketika mengisi tempat madunya.

cara kerja honey dispenser

Ketika mengisi madu ke tempatnya, kita pasang tutup karet di bawahnya. Untuk memakainya, tutup karet ini bisa dilepas saja. Madu tidak akan keluar karena dari sebelah dalam ada tutupan karetnya. Madu akan keluar kalau kita tekan bagian dekat tutup atas yang akan mengangkat tutup karet bagian dalam. Madu turun dari bagian bawah, dan tangan kita tidak perlu menyentuh apapun yang ada madunya. Setelah selesai, tempat madu tinggal diletakkan di gelas kecil plastik yang merupakan bagian dari honey dispensernya.

Buat kamu yang suka minum madu sesendok sehari dan tidak suka dengan efek lengket setiap memegang tutup botol madu, tempat madu seperti ini pasti akan sangat terasa berguna. Kemungkinan orang yang merancang tempat madu ini awalnya karena tidak suka dengan tangan lengket setiap kali minum madu seperti saya hehehe.

Saya beli dispenser madu ini dari Aliexpress, tapi teman saya beli dari Lazada. Saya tidak tahu apakah ada yang jual offline. Tapi lebih gampang beli online lah ya jaman sekarang ini hehehe. Harganya tidak sampai 100 rebu kalau dirupiahkan. Mahal? relatif, madu 1 liter di sini juga harganya lebih mahal dari harga honey dispensernya.

Awalnya saya berargumen: ah tinggal cuci tangan kalau lengket, malas amat sih. Tapi ternyata memang saya malas terasa lengketnya itu hahaha. Daripada beli madu lalu tidak diminum karena malas tangan lengket, lebih baik beli tempat madu begini supaya mengkonsumsi madu tanpa takut terasa lengket-lengket setiap kali (duh udah kayak iklan deh).

Katanya madu itu banyak khasiatnya dan dianjurkan minum madu 1 sendok setiap hari, tapi ya kalau saya sih seneng aja minum madu buat ganti gula untuk minum kopi ataupun dicampur ke alpukat dan susu (nyum nyum).

Kdrama: Kill Me Heal Me dan Hyde Jekyll and Me

Tulisan ini udah lama jadi draft. Dramanya juga sudah lama ditontonnya. Tapi ya, daripada gak dipublish saya coba lengkapi seingatnya dan mungkin akan ada spoiler (tanpa detail). Karena ini drama lama, saya pikir kebanyakan toh sudah pada nonton, jadi tidak apalah ada spoiler dikit-dikit hehehe.

Film Kill Me Heal Me (KMHM), tayang lebih dahulu (7 Januari – 12 Maret 2015) daripada Hyde Jekyll and Me (HJM) tayang (21 Januari – 26 Maret 2015). Jadi bisa dibilang HJM ini kalah start dari KMHM sekitar 2 minggu dengan hari dan jam penayangan yang sama di stasiun yang berbeda.

Dari ratingnya drama KMHM lebih sukses daripada HJM, padahal menurut saya ceritanya sama-sama menarik untuk ditonton walau temanya sama. Tapi memang kalau mengikuti 2 film yang temanya sama dan harus memilih jam tayang, pastilah akhirnya pemirsa akan meneruskan yang sudah duluan ditonton.

Kesamaan:

  • sama-sama membahas DID (Disassociative identity disorder) atau dikenal dengan kepribadian ganda
  • tokoh yang mengidap DID ini sama-sama anak orang kaya yang masih memegang keputusan penting di perusahaan orangtuanya
  • sama-sama menggunakan teknologi (smart watch dan cctv di rumah) untuk berusaha memonitor kondisi fital dan keep track kegiatan dirinya (antisipasi kalau kepribadian lain muncul)
  • pribadi utama digambarkan berusaha melakukan meditasi untuk mencegah kepribadian lain muncul
  • penyebab utama dari kepribadian ganda ini sama-sama trauma masa kecil, menyalahkan diri sendiri dan metode diri untuk bertahan hidup
  • tentunya ceritanya gak lengkap tanpa tokoh wanita yang menjadi trigger mulai dari awal pribadi terpecah ataupun muncul kembali dan pada akhirnya menjadi kunci untuk penyembuhan
  • pribadi alternate digambarkan duluan jatuh cinta dengan tokoh wanita, kemudian pribadi utamanya ikutan jatuh cinta juga (jadi perebutan wanita deh)
  • pribadi alternate ada yang ingin ambil alih dan menjadi pribadi utama
  • ada klise di mana tokoh wanita tinggal dengan tokoh pribadi utama (alasannya beda tapi intinya sama untuk membantu proses penyembuhan)
  • ada scene di amusement park dan ada scene kembang api.

Perbedaan:

  • KMHM punya kepribadian sampai 6, HJM hanya 3 (dan yang ditunjukkan hanya 2)
  • di KMHM pribadi utama tidak punya metode untuk berkomunikasi dengan pribadi yang lain dan masing-masing pribadi bisa muncul tanpa trigger khusus, sedangkan di HJM karena hanya ada 2 karakter yang diceritakan, digambarkan mereka punya cara berkomunikasi dan bahkan punya pembagian waktu siang untuk pribadi utama dan malam untuk pribadi alternate
  • di KMHM pribadi utama orang yang baik sedangkan salah satu pribadi alternate yang dominan digambarkan lebih agresif dan dekat dengan kekerasan. di HJM pribadi utama digambarkan egois dan dingin, tidak lebih baik daripada pribadi alternate yang suka menolong, ramah dan murah senyum
  • tokoh wanita di KMHM psikiaternya, tokoh wanita di HJM pegawai nya yang kebetulan berperan penting untuk proses menemukan psikiaternya yang diculik dan tentunya psikiaternya ini diperlukan untuk proses kesembuhannya.
  • di KMHM keluarga tokoh utama tidak aware kalau anaknya punya kepridadian ganda, sedangkan di HJM keluarga mengetahui dan dengan aktif berusaha mencari dokter untuk menyembuhkan anaknya dari DID

Kesan tentang HJM bisa di baca di posting saya sebelumnya. Intinya walau ada beberapa bagian kurang masuk akal dengan penggunaan hipnotis, tapi jalan ceritanya diselesaikan dengan tuntas dan tidak ada kesan terburu-buru.

Kesan tentang KMHM:

Jalan cerita awalnya sangat lambat dan membosankan. Saya sempat hampir berhenti di episode pertama. Tapi setelah melewati 2 episode dan muncul beberapa kepribadian ceritanya mulai terasa menarik dan bikin penasaran. Tapi beberapa episode terakhir juga kembali membosankan dan rasanya lambat sekali. Pada akhirnya, ada kesan mengakhiri cerita dengan terburu-buru.

KMHM ini lebih terasa komedinya, apalagi ketika tokoh utamanya menjadi seorang gadis remaja yang berlaku seperti fangirl. Akting Ji Sung cukup meyakinkan dan sangat berkesan ketika dia mengejar-ngejar Park Seo Joon dan berteriak Oppaaa. Sepertinya bagian komedi ini yang bikin saya bertahan menonton sampai selesai.

Penyelesaian masalah kepribadian ganda di KMHM ini agak terlalu mudah. Tidak ada metode hipnotis seperti di HJM, tapi lebih ke mengingat peristiwa di masa kecilnya, berdamai dan memaafkan masa lalu dan dengan mudah semua kepribadian alternate mengundurkan diri dan berjanji tidak akan keluar lagi.

Tahun 2015 saya belum nonton kdrama, jadi saya tidak mengikuti drama ini ketika sama-sama ditayangkan. Saya bahkan baru tahu belakangan kalau ada tema senada dengan HJM.

Saya menonton HJM lebih dahulu dari KMHM dan buat saya temanya menarik setelah sebelumnya mulai bosan dengan tema kdrama yang temanya begitu-begitu saja hehehe. HJM saya tonton tahun 2018 dan KMHM baru tahun ini. Walau temanya sama, pendekatan penyelesaian masalahnya berbeda dan punya daya tarik masing-masing.

Jadi kalau mau nonton yang mana dulu dong? ya bebas mau yang mana karena KMHM dan HJM ada di Netflix dan bisa dilewatkan kalau ada bagian yang membosankan hehehe.