Review Radxa Rock 5 Model B

Radxa Rock 5 Model B (ROCK5B) adalah Single Board Computer dengan SOC (System on a Chip) Rockchip RK3588 dengan pilihan RAM sampai dengan 16 GB. Saya punya terlalu banyak SBC yang tidak saya review karena semuanya mirip, tapi ROCK5B ini menurut saya levelnya sudah mendekati level desktop, jadi layak dibahas.

Radxa Rock 5B

RAM maksimum SBC ini tergolong besar, sampai 16GB (untuk ukuran tahun 2022). RAM Raspberry Pi 4B terbesar saat ini adalah 8GB. CPU ROCK5B ini juga sangat cepat, bisa dicek cek benchmark di sini, atau lihat ringkasannya di tabel di bawah ini.

Benchmark dari sini, saya hanya membandingkan SBC yang saya punya

Kecepatan benda ini sekitar 2-4 kali lebih lambat dari Apple M1 Pro, tapi harganya juga jauh lebih murah (Mac Book M1 Pro, 16 GB minimal sekitar 1200 USD). Dibandingkan Raspberry Pi 4B, ROCK5B ini beberapa kali lebih cepat (dalam kasus tertentu puluhan kali lebih cepat).

Lanjutkan membaca “Review Radxa Rock 5 Model B”

Bear Hug Cafe Chiang Mai

Di Chiang Mai, ada banyak warung kopi alias coffee shop/cafe. Tempatnya tidak selalu besar, ada yang benar-benar cuma menyediakan kopi dan kue saja, tapi ada juga yang menyediakan beberapa jenis makanan yang bisa sekalian untuk makan siang/sore. Kalau ditanya soal rasa, sejauh ini sih semuanya masih sesuai dengan selera kami, makanya saya tulis di sini sebagai rekomendasi.

Bear Hug Cafe ini salah satu tempat yang sudah beberapa kali kami datangi. Misalnya saja ketika Jonathan ulang tahun ke-9, dan juga valentine di tahun 2021. Kemarin, sepulang dari Chiang Mai Zoo, kami juga memutuskan untuk mampir ke tempat ini untuk minum kopi dan juga makan sore.

Selain faktor rasa dan tempat dan penyajian makanan yang unik, ada beberapa hal lain yang membuat kami memutuskan untuk datang lagi ke sebuah tempat makan/warung kopi. Yuk baca sampai selesai kalau penasaran.

Lanjutkan membaca “Bear Hug Cafe Chiang Mai”

Akhirnya memakai Android TV

Sejak dulu kami jarang menonton siaran TV, dulu kami memutar film dari PC biasa (dengan Linux), beralih ke pemutar media khusus (Asus OPlay), pindah ke Raspberry Pi, lalu mini PC (Windows), dan sekarang akhirnya memakai Mi TV yang memakai Android TV plus TV yang lama saya tambah Google Chromecast With Google TV.

TV kami umurnya sudah lebih dari 7 tahun, dan sudah berkali-kali berencana ganti, tapi selalu ditunda. Masalah utama di TV yang lama adalah: hanya ada 1 port HDMI. Saya sudah coba beberapa HDMI switcher supaya bisa banyak HDMI, tapi entah kenapa selalu bermasalah dengan TV ini setelah beberapa minggu dipakai. Resolusi TV ini juga terbatas: hanya Full HD (1080p), sedangkan konten 4K sudah mulai umum saat ini.

Sebelum memakai Android TV

Dulu awalnya memakai PC untuk media player, karena memang belum ada device khusus yang bisa dipakai. Berikutnya memakai Asus OPlay, tapi ternyata softwarenya tidak dikembangkan lagi dan tidak mendukung banyak fitur yang dimau.

Sempat juga saya bereksperimen dengan mini Android TV stick di tahun 2012-an, tapi waktu itu masih terasa sangat terbatas. Banyak aplikasi tidak dirancang untuk TV (platform Android TV sendiri baru dimulai 2014).

Lanjutkan membaca “Akhirnya memakai Android TV”

Star Trek: Voyager

Selama beberapa Minggu terakhir ini, saya dah Jonathan menonton serial Star Trek di Netflix. Ini merupakan serial lama yang dulu tayang di tahun 1995-2001. Serial ini tayang setelah Star Trek: The Next Generation (1987 – 1994).

Serial lama ini saya tonton bersama Jonathan karena saat ini tidak banyak film serial yang:

  • Ceritanya menarik untuk anak-anak tapi juga orang dewasa
  • Memiliki pesan moral yang baik
  • Cukup bersih (tidak terlalu banyak adegan kekerasan atau seksual)

Star Trek the Original Series sudah terlalu tua dan special effectnya terlihat aneh (seperti mainan). Star Trek Voyager yang dibuat di tahun 90an memiliki special effect yang bagus dan tidak terlalu berbeda dengan berbagai film baru saat ini.

Poster Voyager
Lanjutkan membaca “Star Trek: Voyager”

Nintendo Labo

Sejak beberapa minggu lalu Joshua minta dibelikan Nintendo Labo. Ini merupakan mainan untuk Nintendo Switch, bentuknya berupa kertas karton, stiker, dan karet yang bisa dibentuk menjadi sesuatu. Secara spesifik, Joshua minta kit pertama: Variety Kit. Karena bulan lalu sudah dibelikan Mario Kart Live, maka permintaan ini tidak langsung saya kabulkan

Seperti sudah diceritakan Risna, bahwa kami ada keperluan ke Bangkok, dan sebagai anak kecil, Joshua merasa bosan dan capek. Jadi di hari terakhir saya beri tahu bahwa saya akan belikan Nintendo Labo ini untuknya.

Saya sendiri sebenarnya sangat tertarik membeli Nintendo Labo dari ketika diluncurkan 3 tahun yang lalu, tapi saya sadar bahwa Jonathan kurang tertarik menyusun seperti ini, dan Joshua masih terlalu kecil.

Lanjutkan membaca “Nintendo Labo”

Mi Smart Band 6, Dilengkapi Sp02 Tracking

Saya memakai Mi Smart Band sejak tahun 2019 di mulai dengan Mi Band 3 dan upgrade sampai ke Mi Band 5 akhir Juli 2020. Saya merasa fitur yang tersedia sudah lebih dari cukup. Walaupun Mi Band 6 sudah launch sejak akhir bulan Maret 2021, saya tidak merasa perlu ganti.

Fitur penting sejak pandemi

Lalu kemarin terpikir lagi, ketika membaca Mi Band 6 dilengkapi SpO2 tracking atau yang dikenal dengan mengukur kadar saturasi oksigen di dalam darah. Saya pun langsung memutuskan untuk upgrade ke Mi Band 6.

Dibandingkan membeli alat ukur SpO2, harganya terkadang bisa lebih mahal daripada membeli jam tangan Mi Band seri ke-6 ini. Selain fitur SpO2 ini, ada beberapa alasan lain kenapa saya akhirnya memutuskan upgrade.

Lanjutkan membaca “Mi Smart Band 6, Dilengkapi Sp02 Tracking”

Nezha Single Board Computer RISC-V 64 Bit

RISC-V (baca: Risk Five) adalah instruction set architecture (ISA) yang sifatnya terbuka, jadi yang mengimplementasikan ISA ini tidak perlu membayar royalti ke pihak tertentu. Ini tidak seperti ARM atau x86 di mana yang mengimplementasikan perlu membayar royalti. Mirip dengan ARM, ada berbagai versi ISA ini yang bisa dipakai mulai dari microcontroller sampai desktop.

Nezha single board computer

Beberapa tahun terakhir sudah mulai ada yang mengimplementasikan RISC-V versi microcontroller (pernah saya bahas di sini) dengan harga relatif murah. Ini hanya bisa menjalankan Linux versi non-MMU. Kemudian sudah ada yang membuat versi desktop (SiFive HiFive Unmatched) tapi masih mahal. SBC dari Beaglebone sudah dibuat tapi masih untuk developer. Tapi bulan Mei lalu ada SBC baru yang relatif murah (99 USD) dan sudah bisa dipesan dari AliExpress.

Lanjutkan membaca “Nezha Single Board Computer RISC-V 64 Bit”