Agustus 2009 dalam Kenangan

Hari ini, Minggu 2 Agustus 2020. Sekitar 11 tahun yang lalu, tanggal yang sama juga jatuh di hari Minggu. Hari ini di Chiang Mai mendung sejak pagi, dan kabarnya memang akan ada hujan selama beberapa hari ke depan. Membaca memory di Facebook dari 11 tahun yang lalu, hati ini jadi terkenang lagi dengan masa-masa 11 tahun yang lalu.

Sebenarnya, sejak tahun 2009, setiap akhir Juli sampai awal Agustus, perasaan ini akan selalu kembali ke masa lalu. Dari beberapa waktu lalu ingin menuliskan ingatan tentang 11 tahun yang lalu, tapi rasanya terlalu emosional dan sulit untuk menuliskannya tanpa merasakan kembali emosi di masa itu.

memory dari Facebook Agustus 2009

Kenangan yang tidak akan terlupakan walaupun setiap mengingatnya hati ini sesak rasanya. Pengalaman pertama ikut menginap di lorong ICU di sebuah RS di Medan. Saya ingat sekali, di akhir Juli tahun 2009, mama saya mengabarkan bapak sakit dan dirawat di RS lewat pesan singkat  SMS. Sebenarnya, bukan baru kali itu saja bapak masuk rumah sakit. Sudah sejak beberapa tahun sebelumnya, bapak pernah beberapa kali dirawat karena sesak napas, dan mama hanya mengabari setelah bapak kembali sehat.

Masa itu, orangtua dan saya belum pakai WhatsApp, atau fasilitas telepon lewat internet seperti sekarang. HP nya belum pada pintar, internetnya juga belum menjadi kebutuhan buat orangtua. Membaca pesan singkat itu, saya langsung menelpon ke Medan dan entah kenapa reaksi pertama saya tentu saja ingin pulang. 

Bapak melarang niat saya untuk pulang, katanya jangan sampai rusak pekerjaan karena pulang ke Medan. Lagipula, bapak yakin sekali kalau dia akan sembuh dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi setelah saya diskusi dengan Joe, kami memutuskan untuk pulang, setidaknya untuk melihat situasi bapak saya. 

Saya ingat, sekitar tanggal 22 Juli 2009, Joe dan saya berangkat ke Medan. Kondisi bapak saat saya tiba di rumah sakit, terlihat agak lemah. Hari-hari berikutnya kondisinya membaik dan saya masih bisa ngobrol dengan bapak saya. Joe dan saya ikut menginap di kamar rawat RS beberapa malam dengan beralaskan tikar, untuk menemani mama saya yang menjaga bapak sejak awal sakitnya.

Karena kondisi bapak yang tidak stabil, saya minta ijin Joe untuk tinggal di Medan lebih lama, sementara Joe kembali ke Chiang Mai tanggal 26 Juli 2009, karena dia tidak bisa cuti lama-lama. Joe juga masih sempat ngobrol dengan bapak saya. Dan saat itu, rasanya masih tetap berharap kalau bapak saya masih akan sembuh dan bisa mengunjungi kami di Chiang Mai. 

Tanggal 28 Juli 2009, saya menuliskan kegelisahan hati saya tentang penyakit bapak saya di blog ini. Sampai saat itu, pikiran saya adalah, saya akan mengupdate kelanjutan ceritanya setelah ada tindakan lanjutan. Tulisan yang saya tunda selama 11 tahun, dan baru saya tuliskan sekarang.

Tanggal 31 Juli 2009, akhirnya dokter melakukan tindakan operasi. Operasi yang berlangsung beberapa jam (lupa tepatnya, tapi cukup lama menunggunya). Karena operasinya dilakukan di rumah sakit menggunakan fasilitas asuransi kesehatan, ada banyak hal yang ditengah operasi akan ada yang keluar untuk meminta kami menyediakan sesuatu. Dalam hati pengen protes: “ya elaah, kenapa gini banget sih, tau gitu kan sebelum mulai saya beliin tuh segala keperluan.” Masalahnya, setiap kali ada yang keluar dari ruang operasi dan mencari keluarga dari (sambil menyebut nama bapak saya), jantung ini rasanya berhenti sejenak karena khawatir ada kabar buruk.

Setelah beberapa jam menunggu operasi, dan beberapa kali dikagetkan dengan panggilan untuk keluarga pasien, saya diminta untuk mengambil darah dari PMI. Namanya ini pengalaman pertama ya, manalah saya tahu letak gedung PMI, tapi ya dengan bertanya tentu saja akhirnya ditemukan, bahwa letak PMI itu di bagian depan Rumah Sakit, sedangkan tempat operasi itu letaknya di daerah belakang Rumah Sakit. 

Komplek rumah sakit itu tidak kecil, ada banyak bangunannya, pengen ngomel tapi apalah gunanya, yang penting darah untuk transfusi segera dibeli. Oh ya, waktu itu saya harus bayar dulu tunai, lalu kemudian saya harus mengurus askesnya untuk mendapatkan pengembalian dananya di gedung lain lagi yang letaknya di sisi lain dari gedung ICU. Saya sudah lupa persisnya, tapi hati ini protes karena yang saya pikir adalah: ternyata menunggu operasi itu tidak seperti di film-film atau novel, tapi lebih melelahkan lagi. Sudahlah pikiran ke bapak yang sedang di meja operasi, masih lagi ditambahi dengan tugas mengambil ini dan itu dari sini dan situ.

Singkat cerita, operasi berjalan dengan baik, dan selanjutnya bapak masuk ruang ICU. Mulai malam itulah saya dan mama saya gelar tikar di lorong ICU yang panas, banyak nyamuk dan terkadang berbau asap rokok. Nah bagian ini saya benar-benar tidak ada bayangan sebelumnya, sebenarnya saya agak shock karena baru beberapa jam di ICU, sudah entah berapa kali ada jeritan dan isak tangis keluarga yang sama-sama gelar tikar di lorong itu. Sesekali juga akan ada rombongan pasien baru yang dibawa masuk ICU didampingi keluarga yang juga histeris. 

Saya tidak bisa menjelaskan lebih detail, karena saya tidak ingin mengingat perasaan horor saat itu. Tapi saya sungguh bersyukur karena malamnya saya masih bisa tidur walau cuma sebentar. Sepertinya badan dan pikiran saya sudah benar-benar kehabisan tenaga. Pagi harinya, mama saya cerita kalau malam tadi ada beberapa kali lagi pasien baru datang dan pergi diiringi dengan jeritan dan isak tangis tentunya.

Setelah malam pertama di lorong ICU terlewati dengan tidur nyenyak, malam berikutnya tidak selalu nyenyak. Kondisi bapak pasca operasi masih naik turun. Satu hal yang disesalkan adalah kondisi rumah sakit waktu itu, ruang ICU nya terletak di lantai tertinggi dari rumah sakit, dan beberapa unit AC nya rusak karena katanya sedang renovasi. Selain tidak cukup dingin, ada bau cat juga di sebagian daerah ruang ICU. 

Ada 5 malam saya dan mama menginap di lorong ICU tanpa pulang ke rumah. Kebutuhan kami diantarkan oleh adik saya yang juga sedang mengurus istrinya yang sedang hamil dan harus bedrest total. Kakak saya yang juga tinggal di Medan juga sesekali datang sepulang kerja. Dia juga masih harus mengurus anaknya selain urusan pekerjaan. Jadi memang yang ada di ICU itu hanya saya dan mama saya, dan sesekali adik bapak yang dari Siantar juga datang menemani kami.

Roller coaster perasaan selama menginap di lorong ICU sambil sesekali mendengarkan teriakan dan jeritan keluarga dari pasien yang lain membuat jantung saya semakin terlatih. Perasaan antara optimis dan pesimis akan kesembuhan bapak silih berganti. Hingga di satu titik saya hanya bisa pasrah dengan kehendak Tuhan saja. Saya pikir, apapun keputusan Tuhan, itulah yang terbaik untuk keluarga kami. Manusia boleh meminta dan berusaha, tapi hidup ini sepenuhnya milik Tuhan dan dialah yang menentukan umur kita.

Saya masih ingat, sebelum bapak operasi, bapak akan mengingatkan saya untuk tetap menjaga komunikasi dengan Joe di saat jauh maupun dekat. Sudah sakit begitu, masih saja mengkhawatirkan anaknya, tapi saya senang karena pesan itu sangat berharga buat saya. 

Waktu itu internet yang digunakan masih 3G, belum 4G seperti sekarang, tapi ya, saya dan Joe tetap bisa komunikasi dengan Yahoo Messenger selain e-mail. Tanpa diingatkan bapak, saya selalu kirim pesan singkat di YM ataupun e-mail ke Joe, dan sebaliknya. Kalau saya ingin bercerita banyak, saya akan meminta Joe yang menelpon saya, karena waktu itu saya tidak tahu cara murah nelpon dari Indonesia ke luar negeri, sedangkan dari Thailand ke Indonesia ada kode tertentunya.

Pesan bapak yang juga saya ingat adalah untuk menemani mama saya ngobrol. Waktu itu saya tidak mengerti maksudnya, karena menurut saya, saya dan mama saya komunikasinya juga bagus dan kami juga mengobrolkan segala hal. Ternyata, maksudnya bukan hanya saat itu saja, sepertinya bapak sudah tau kalau umurnya tak panjang lagi dan mulai pasrah. Maka bapak mengingatkan saya untuk menghibur mama dengan selalu mendengarkan apapun keluh kesahnya. Padahal lagi, mama saya bukan tipe mengeluh, selama 11 tahun ditinggal bapak, banyak kali saya baru kebagian cerita setelah masalah berlalu, itu juga setelah saya tanya berkali-kali baru mama cerita.

Hari itu, saat hari baru berganti ke Rabu, 5 Agustus 2009, bapak akhirnya meninggalkan kami untuk selamanya. Hanya ada saya, mama dan namboru (adik bapak) yang bernyanyi lagu pujian mengantarkan bapak menuju garis finish bertemu dengan sang pencipta. Kakak dan adik saya sebelumnya sudah berkumpul bersama di ICU, tapi malam itu mereka harus pulang karena ada anak-anak yang harus diurus dan tidak dibolehkan masuk ke ICU (tahun 2009 saya belum punya anak).

Buat saya, pengalaman itu tidak bisa saya tuliskan dengan kata-kata. Tapi saya, mama ataupun namboru bisa menerima dengan tegar. Kami tidak menjerit ataupun menangis saat itu. Karena tetap saja urusan administrasi rumah sakit perlu dilakukan dan selanjutnya pulang ke rumah untuk mempersiapkan acara kebaktian penguburan dan acara adat bataknya.

Cerita 11 tahun yang lalu, tapi terasa masih seperti hari kemarin. Banyak detail sudah terlupakan, tapi detail emosi masih sangat terasa walau sulit untuk dituliskan dalam bentuk kata-kata. Beberapa emosi terasa seperti baru setelah membaca beberapa status saya di FB.

Kami sudah berdoa minta yang terbaik dan menerima dengan ikhlas kalau yang terbaik menurut Tuhan adalah penyakitnya diangkat dan bapak bertemu dengan Tuhan. Bulan Agustus 2009, akan tetap terpatri dalam ingatan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.