Sepuluh Tahun Kemudian

Kemarin Joe menemukan tulisan saya di tahun 2010, katanya saya diminta untuk meneruskan tulisan ini sesuai dengan janji di akhir tulisan:

Saya tidak tahu apakah saya masih akan di Chiang mai, atau kembali ke Bandung atau …. di suatu kota yang tak pernah terpikirkan sebelumnya? Entahlah… mungkin saja 10 tahun lagi saya tidak ngeblog lagi, tapi kalau saya masih ngeblog, saya akan menemukan tulisan ini dan membuat sambungan tulisan mengenai 10 tahun berlalu lagi hehehhe..

Awal membaca tulisan itu, saya lupa pernah menulis begitu dan bahkan sudah hampir lupa dengan siapakah teman seperjuangan itu. Lalu ketika membaca komentar dan balasan komentar saya, saya jadi ingat lagi, siapa teman seperjuangan yang disebutkan dengan tulisan itu.

Memang, walaupun tahun 2010 saya sudah berniat untuk lebih rajin menuliskan kisah kehidupan ini di blog, baru tahun 2018 saya benar-benar mulai menulis blog dengan rutin. Terimakasih KLIP yang membuat saya kembali ngeblog.

Dan apakah kabar 10 tahun sejak tulisan itu? Kami masih di Chiang Mai, dan saya akhirnya berhasil membuat teman seperjuangan saya itu kembali ngeblog di tahun 2020 ini (padahal dia mau bikin blog baru sejak 2010 loh). Memang begitulah, terkadang saya bingung juga mau menuliskan apa lagi di blog ini, rasanya semua hal sudah dituliskan, tapi ya ternyata masih banyak hal yang akhirnya terlupakan karena tidak dtuliskan.

Tahun 2010

Mei, 2010, masih berdua saja

Tulisan itu ditulis bulan Mei tahun 2010. Waktu itu saya belum punya anak dan belum terlalu betah di Chiang Mai dan belum terlalu lancar berbahasa Thai. Waktu itu, sepertinya saya masih rajin merajut dan menjahit, tapi kegiatan ngeblog masih tergantung angin berhembus dan lebih sering tidak menulis daripada menulis. Ada banyak hal yang terjadi tapi tidak semuanya dituliskan.

Saya sudah tahu manfaat menuliskan hal-hal di blog pada waktu itu, tapi sekarang ini semakin terasa manfaatnya. Saya bisa mengingat cerita sedih ataupun gembira dari tulisan-tulisan yang lalu. Saya bahkan bisa mengecek apakah teknologi internet saat itu masih gprs atau sudah 3G, lalu sekarang sudah 4G dan sebentar lagi kita akan memasuki era 5G.

Tulisan di blog ini sudah seperti mesin waktu buat Joe dan saya. Banyak hal akhirnya tercatat di blog ini, mulai dari berapa kali kami pindah rumah kontrakan selama di Chiang Mai, catatan tentang anak-anak kami dan siapa sangka sekarang kami menghomeschool anak-anak kami. Apa saja yang kami ingat untuk tuliskan, akan kami tuliskan di sini.

Tahun 2020

Tahun ini merupakan tahun yang akan masuk ke dalam buku sejarah dan juga catatan pribadi banyak orang. Banyak rencana sejak awal tahun 2020 yang tidak bisa terlaksana, kenapa lagi kalau bukan gara-gara pandemi Covid-19.

Awal tahun 2020, kami masih berencana mudik ke Indonesia di masa songkran di bulan April, bahkan terpikir sekalian mengunjungi kota-kota di Indonesia yang belum pernah dikunjungi anak-anak. Tapi ya begitulah, pandemi berkata: stay at home! Dan demikianlah, kami tidak kemana-mana selama 3 bulan sejak Maret sampai Juni 2020. Joe masih kerja sih di kantor, tapi saya dan anak-anak ya di rumah saja.

Bersyukur juga tidak memaksakan diri untuk mudik, karena ternyata Thailand bisa cukup cepat menghentikan penyebaran infeksi Covid-19 di dalam negeri dan sampai bulan Agustus ini masih sangat selektif dalam menerima orang asing yang masuk ke dalam negeri. Walaupun yang datang sudah membawa bukti bebas Covid-19, karantina 14 hari tetap wajib dilakukan, dan mereka tetap dilakukan pengetesan di awal dan di akhir masa karantina.

Sejak bulan Juni, semua kegiatan di dalam negeri Thailand sudah hampir normal. Perbedaan paling signifikan hanyalah: semua orang memakai masker ketika berkegiatan di tempat umum. Terkadang, melihat begitu banyaknya orang mulai berlibur dan berkegiatan di luar, saya hampir lupa kalau di luar Thailand pandemi masih merajalela.

foto bareng dulu

Ah sudahlah cukup tentang pandemi. Mudah-mudahan 10 tahun lagi, ketika saya membaca tulisan ini, si pandemi benar-benar sudah lenyap dari muka bumi dan manusia makin bijaksana memisahkan hoax dan ilmu pengetahuan dan lebih siap menghadapi kalau ada penyakit baru lainnya.

Apa yang terjadi 10 tahun mendatang?

Apakah 10 tahun itu terasa cepat berlalunya? tidak juga. Tapi waktu itu berjalan terus, tidak menunggu saya untuk menulis, tahu-tahu sudah 10 tahun berlalu. Dalam 10 tahun ada banyak hal yang terjadi, buktinya bulan Mei tahun 2010 dulu saya belum punya anak, sekarang bulan Agustus tahun 2020 saya sudah memiliki 2 anak lelaki yang mungkin 10 tahun lagi tingginya sudah lebih tinggi dari saya.

Anak pertama lahirnya tahun 2010 juga, tapi setelah bulan Mei. Anak ke-2 lahir tahun 2015. Sekarang ini mereka sudah besar dan pastinya tidak bisa digendong lagi. Mereka sudah bisa bermain bersama dan paling suka gangguin papanya kalau lagi kerja.

Bahasa Thai saya juga semakin lumayan, dan progress terbanyak dalam belajar Thai itu justru memang setelah punya anak. Tulisan di blog ini saja sudah bertambah sangat banyak, walaupun saya baru mulai rajin menulis lagi sejak 2018.

Mudah-mudahan mendapat umur panjang, dan masih rajin ngeblog dan bisa mengupdate tulisan ini 10 tahun lagi. Yang pasti, kalau sekarang saja rambut saya mulai ada ubannya, kemungkinan 10 tahun lagi rambutnya tambah banyak memutih.

Seperti apakah keadaan di tahun 2030? Apakah teknologi internet akan berhenti di 5G? Apakah semua orang sudah memakai self driving car? Apakah manusia sudah bisa piknik ke bulan? Apakah manusia sudah berhasil merintis koloni baru di Mars?

Atau… teknologi akan ditinggalkan karena terbukti membawa pandemi? Pandemi informasi gitu misalnya yang membuat manusia jadi tidak “smart” setelah memakai ponselnya yang “smart”?

Hanya waktu yang bisa menjawab keingintahuan saya tentang apa yang akan terjadi di tahun 2030. Semoga saja, saya bisa menjawab semua pertanyaan ini di tahun 2030 nati. Semoga saja masih ingat dengan tulisan ini di tahun 2030 nanti.

One thought on “Sepuluh Tahun Kemudian”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.