Fiksi: Wedding in Time of Corona

Catatan: cerita ini fiksi belaka, nama, tempat, peristiwa, kronologi semuanya dari imajinasi saya saja.

Bunga merasa galau segalau-galaunya. Rencana pernikahan termasuk resepsi yang sudah disusun sejak tahun lalu alamat kacau balau. Siapa sangka ada wabah yang tiba-tiba mendunia. Padahal tinggal 3 hari lagi hari H itu tiba. Hari yang untuk merencanakannya saja butuh mencari hari di mana Bunga dan Abang bisa ambil cuti panjang, dan sekarang terancam buyar?

Semua sudah dipesan dan dibayar lunas, gedung pertemuan, katering sesuai jumlah undangan, dekorasi dan baju pengantin juga sudah diambil dari tukang jahitnya. Sengaja dia ambil cuti besar dan dari 3 minggu lalu pulang ke kotanya untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Bunga tidak ingin merepotkan orang tuanya yang sudah berumur di atas 70 tahun, kakak-kakaknya juga tidak mungkin bisa membantu karena mereka sudah lama tidak tinggal di kota ini lagi.

Si Abang, calon suaminya nyaris tidak dapat terbang ke Indonesia, untung saja masih sempat menukar tiket pesawat dan bisa berangkat sebelum kota tempat mereka tinggal lock down dan masuk ke Indonesia tanpa masalah. Bunga dan Abang memang bekerja di luar negeri, dan untungnya bos Bunga lebih fleksibel daripada bos si Abang. Bunga sudah bisa pulang duluan dan ambil cuti besar selama 2 bulan, Abang cuma dapat cuti 1 bulan.

Sekarang si Abang masih dalam masa mengkarantina dirinya sendiri, dan hari H itu tepat 2 minggu sejak dia tiba di Indonesia. Bunga bahkan belum bisa bertemu langsung dengan Abang, untungnya ada video call sehingga mereka tetap bisa berkomunikasi tatap muka.

Keluarga Abang dan kerabat Bunga sudah banyak yang mengabari kalau mereka tidak akan bisa datang menghadiri pernikahan Bunga. Mereka semua terkena efek dari semakin ketatnya aturan keluar ataupun masuk dari setiap negara di dunia ini dan juga karena ada himbauan untuk di rumah saja.

Kakak-kakaknya yang tinggal hanya 3 jam dari kota mereka tinggal juga memutuskan untuk tidak datang, kakak pertama memang tenaga kesehatan, jadi dia tidak bisa ijin dan sedang sangat dibutuhkan saat ini. Kakak ke-2 sedang hamil besar anak ke-2, jadi dia tidak mau ambil resiko berperjalanan dengan membawa balita dan perut besar. Keluarga besar dari papa mamanya juga banyakan dari luar pulau, dan hanya sedikit yang berani ambil resiko untuk naik pesawat terbang.

Kemarin dia sempat ribut dengan Abang yang mengusulkan kalau mereka cukup catatan sipil dan minta pengesahan secara agama saja dulu dan menunda resepsinya lain kali. Bunga merasa, si Abang kayak tidak ngerti aja, ini kan hari di mana Bunga ingin merasa jadi ratu sehari. Hari yang harusnya hari paling bahagia.

Bunga ngotot bilang ke Abang, masak sama virus aja takut. Bunga mengusulkan untuk ambil tindakan pencegahan, misalnya desinfeksi ruangan dan sediakan handsanitizer sebagai souvenir – walaupun Bunga tidak tahu di mana harus mencari 2000 hand sanitizer. Tapi namanya Bunga sedang ngotot, dia bahkan terpikir bisalah bikin sendiri mengikuti berbagai video tentang pembuatan hand sanitizer.

Bunga sempat berpikir, apakah ini tandanya dia gak jodoh dengan Abang ya? atau mungkin Bunga yang salah fokus. Kemarin kakak pertamanya bercerita, kalau mereka sudah kewalahan di rumah sakit. Pasien yang harus ditangani hampir melebihi kapasitas rumah sakit dan bahkan harus dialihkan ke rumah sakit lain. Ratusan pasien yang masih menunggu hasil test tapi harus diperlakukan secara hati-hati kalau tidak mau ketularan. Belum lagi ada rekan mereka yang walaupun sudah sangat berhati-hati dengan pakaian dan masker yang selalu terpakai, sekarang juga sedang diisolasi dan menunggu hasil karena sudah mempunyai gejala yang sama.

Bunga mencoba curhat ke sebuah forum wedding organizer. Ternyata, Bunga tidak sendirian, ada banyak mengalami dilema yang sama. Beberapa memutuskan untuk membatalkan, ada juga yang menunda untuk tanggal yang tidak diketahui. Tapi, tunggu dulu, ada satu usulan yang membuat Bunga yang tadinya galau jadi lebih tenang.

Namanya Adinda, dia juga berencana menikah 3 hari lagi, tapi baru kemarin calon suaminya harus swab test karena mengalami gejala yang sama dengan pasien-pasien lainnya. Adinda bahkan menyewa gedung dengan kapasitas 3 kali lebih besar dari undangan Bunga.

Adinda dan calon suaminya memutuskan untuk tetap menikah dengan catatan sipil dan secara agama saja setelah nantinya calon suaminya membaik. Untuk makanan yang sudah dipesan, dia minta kerjasama dari kateringnya supaya makanan prasmanan diganti menjadi nasi kotak saja. Nantinya makanan itu akan dibagi-bagikan untuk tenaga kesehatan yang menangani pasien Covid-19, termasuk juga untuk pasien-pasien yang ada. Selain itu juga akan dibagikan ke perkampungan masyarakat yang semakin sulit mendapatkan penghasilan.

Untuk biaya dekorasi, dokumentasi, dan sewa gedung, mereka akan mengusulkan supaya 60 persen dari duit yang sudah dibayarkan disumbangkan untuk membantu pengadaan berbagai keperluan melawan virus ini. Jadi pihak wedding organizer bisa tetap mendapatkan 40 persen walaupun mereka tidak bekerja. Tanpa diduga, beberapa pihak bersedia mengembalikan 90 persen, dan tergerak untuk menyumbang.

Bunga langsung mengirim pesan ke Adinda dan bertanya apa yang membuat dia memutuskan seperti itu? Adinda menjelaskan kalau menurut dia esensi dari pernikahan itu bukanlah pesta yang meriahnya. Mau seperti apapun usaha pencegahan, dengan adanya banyak orang berkumpul dari berbagai tempat, pasti ada kemungkinan penularan.

Bahkan sebelum calon suaminya mengalami gejala yang sama, mereka sudah mulai mempertimbangkan untuk membatalkan resepsi besarnya, akan tetapi keluarga besar mendesak karena alasan gengsi keluarga. Mereka merasa, dengan calon Adinda menjadi orang dalam pengawasan, keluarga besarnya yang tadinya anggap enteng dengan virus ini akhirnya tersadar, sebagian bahkan sudah mulai cemas karena beberapa hari sebelumnya masih berinteraksi dengan calon suami Adinda.

Adinda sih sudah pasrah, kalaupun dia juga terinfeksi, ya… setidaknya dia tidak menjadi spreader ke tamu-tamu yang lebih banyak lagi di resepsi pernikahannya. Adinda malah merasa bersyukur sudah ketahuan sebelum resepsi, gimana kalau gejalanya muncul sehari setelah resepsi, lalu gimana kalau 50 persen dari undangannya jadi terinfeksi juga? Pastilah rasanya akan sangat bersalah sekali. Bagaimana mungkin bisa berbahagia sepanjang pernikahan kalau diawali dengan membawa bencana ke banyak orang? Lagipula, apa sih esensi pernikahan itu? apakah lebih penting selebrasinya? atau komitmen menjadi pasangan suami istrinya?

Bunga berterima kasih ke Adinda dan langsung menelpon si Abang. Bunga menceritakan semuanya ke Abang dan akhirnya Bunga merasa lebih tenang. Akhirnya mereka sudah mendapatkan kesepakatan baru. Bunga juga akan meniru Adinda dengan sedikti modifikasi.

Bunga dan Abang akan tetap mengesahkan pernikahan secara agama dan negara 3 hari lagi, tapi tidak lagi di gedung pertemuan besar. Nantinya mereka akan membagikan link live streaming untuk disaksikan para undangan. Bunga juga akan meminta jika para undangan ingin memberi hadiah, bisa berupa uang untuk didonasikan untuk membantu tim tenaga kesehatan dalam memerangi virus ini.

Bunga sudah bisa tersenyum sekarang. Setiap masalah pasti ada jalan keluar, asal kita mau melihat apa sih fokus permasalahannya. Virus ini tidak akan bisa mengalahkan niat 2 orang yang saling mencintai untuk berkomitmen menjadi suami istri. Walaupun tanpa resepsi yang megah, pernikahan mereka tetap sah dengan acara agama dan catatan sipil. Dan yang pasti, mereka tidak perlu menanggung beban mental kalau sampai hari bahagia mereka membawa bencana buat orang lain yang terinfeksi.

— dan mereka hidup bahagia selamanya —

Ayo Menulis Setiap Hari bersama KLIP

Udah bosan baca berita dengan judul yang dilebih-lebihkan? Udah bosan baca hoax? Udah bosan baca berita yang simpang siur? Sekarang waktunya kita yang menulis, supaya berita di Internet isinya lebih bervariasi.

Gak usah bingung mau nulis apa, kita bisa menuliskan mulai dari apa yang menjadi hobi kita, buku yang kita baca, kegiatan menarik untuk keluarga dan anak yang kita lakukan, film yang kita tonton, produk menarik yang kita pakai, merekomendasikan hal-hal yang kita anggap layak untuk direkomendasikan, atau bisa juga sekedar puisi dan curhat colongan. Daripada pusing kepala melihat berita yang ada, lebih baik menulis di halaman sendiri. Berbagi cerita ataupun informasi.

Menulis setiap hari itu awalnya terasa sulit, apalagi kalau sendiri. Tapi kalau menulis dengan ada komunitas yang saling mengingatkan dan menyemangati, lama-lama rasanya ada yang hilang kalau gak menulis 1 hari.

sumber: FB KLIP

Kelas Literasi Ibu Profesional tahun 2020 masih menerima pendaftaran sampai tanggal 20 Maret 2020. Masih ada waktu kalau mau bergabung untuk menulis setiap hari.

Lanjutkan membaca “Ayo Menulis Setiap Hari bersama KLIP”

Investasi Untuk Diri Sendiri

Beberapa hari lalu, saya mencoba untuk menulis blog di handphone (HP) sambil menunggu mobil di bengkel. Hasilnya, saya memang berhasil menulis sampai selesai. Waktu menunggu beberapa jam terasa diisi lebih berguna. Tapi ada perasaan lelah ketika selesai menuliskan posting yang menurut saya tidak terlalu istimewa juga.

Oh ya, tulisan saya hari ini bukan mengenai investasi dalam arti simpan uang hari ini dan nikmati hasilnya kemudian, tapi malahan lebih ke: membeli sesuatu untuk diri sendiri supaya lebih produktif dan nikmati hasil nya kemudian.

Jaman sekarang, hampir semua orang sudah menggunakan smartphone. Banyak yang selalu mengganti hp ketika ada yang lebih baru keluar, banyak juga yang bertahan dengan hp yang ada sampai benar-benar tidak bisa dibenerin lagi.

Dulu saya masih ingat, jaman memakai HP Nokia 3650 yang keypadnya melingkar, dengan koneksi gprs yang tidak bisa dibilang super cepat, saya bersemangat sekali berusaha menulis posting blog dari hp. Tapi kenapa sekarang dengan koneksi internet yang lebih cepat dan keyboard qwerty di hp layar sentuh tidak membuat saya lebih semangat? Jawabannya: karena saya sudah kembali terbiasa mengetik di keyboard komputer.

Handphone sudah menjadi benda yang selalu dibawa kemana-mana. Buat beberapa orang ketinggalan HP sudah seperti ketinggalan dompet atau kunci rumah saja. Dibandingkan membawa laptop, membawa HP tentunya lebih praktis dan ringan. Untuk yang hobi menulis, dan terbiasa menulis kapan saja dan di mana saja, tentunya HP merupakan salah satu benda yang selalu tersedia untuk segera menulis.

Kegiatan mengetik di HP itu bisa dilakukan kapan saja. Kalau kita aktifkan fitur auto complete, kita bahkan bisa menulis jauh lebih cepat. Kalau malas mengetik, bisa juga dengan memanfaatkan voice typing atau menggunakan aplikasi live transcribe.

Buat saya, HP itu lebih untuk komunikasi chat atau membaca saja (selain mengambil foto dan share di media sosial). Belakangan ini saya sudah kembali ke laptop untuk menuliskan apa yang ingin saya ceritakan. Rasanya kecepatan tangan saya mengetik di laptop lebih bisa mengimbangi apa yang ingin saya tuliskan. Pernah juga saya coba menggunakan voice typing, tetap saja rasanya lebih lambat daripada kecepatan mengetik saya.

Saya tidak pernah mengukur kecepatan saya mengetik, tapi untuk menulis blog, kecepatan mengetik di HP jauh lebih lambat daripada kecepatan saya mengetik di laptop. Mengetik di HP untuk isi blog membuat saya frustasi sendiri. Jadi sepertinya saya akan kembali ke laptop saja untuk mengetik/menulis blog dan tidak memaksakan diri mengetik di HP. Saya salut untuk teman-teman saya yang bercerita menulis isi blog sampai buku berawal dari menuliskan di HP nya lalu diedit di PC kemudian.

Hubungannya dengan investasi untuk diri sendiri apa? Nah bagian ini saya teringat dengan apa yang pernah dibilang Joe. Ceritanya Joe ini punya banyak hobi mulai dari bikin program, memeriksa keamanan sebuah aplikasi sampai membongkar aplikasi. Hobinya ini bukan jadi sekedar hobi tapi juga menjadi sumber penghasilan tambahan keluarga.

Kadang-kadang untuk memeriksa keamanan aplikasi itu, butuh sistem yang sudah di jailbreak. Nah, awalnya dia cuma pakai 1 HP, yang bulak balik di jailbreak dan di reset lagi. Terus lama-lama dia merasa buang waktu terlalu lama untuk proses jailbreak dan reset itu, dan memutuskan beli HP 1 lagi. Saya awalnya ngomel-ngomel protes dong, karena saya bilang: buat apa sih punya HP banyak-banyak (emak-emak irit atau pelit emang tipis ya bedanya). Untungnya Joe kasih pengertian ke saya kalau waktu yang terbuang untuk proses jailbreak berkali-kali itu lebih baik dipakai untuk main sama anak. Lagipula beli HP lebih dari 1 itu juga bukan dari anggaran bulanan, tapi sudah jadi modal untuk pekerjaan berikutnya.

Karena Joe bukan cuma omong doang soal waktu digunakan untuk main sama anak dan memang jadi bisa lebih banyak waktu buat main sama anak, sayapun akhirnya menerima. Memang terkadang rasanya sayang beli HP ekstra untuk dipakai testing aplikasi doang, tapi kalau memang itu modal kerja, kenapa tidak? Toh nantinya dengan modal yang dikeluarkan, hasilnya bukan saya menghemat waktu kerja tapi juga bisa digunakan untuk pekerjaan selanjutnya yang artinya penghasilan tambahan. Beli HP ekstra dan mendapatkan penghasilan berlipat dari harga HP? ya baiklah beliin saya juga ya sekalian hahaha.

Terkadang, saya masih agak pelit dengan diri sendiri. Waktu saya mulai mengeluh karena mata saya gak kuat baca tulisan kecil-kecil, Joe menyarankan saya periksa mata dan bikin kacamata. Awalnya, tentu saja saya menolak dan menunda sebisa mungkin. Tapi namanya umur gak bohong ya, kalau mau ngeyel gak pake kacamata ya jangan ngeluh dong soal gak bisa baca tulisan dengan nyaman. Akhirnya saya menyerah dan bikin kacamata deh. Mata juga sesuatu yang sangat berharga, kalau gak dirawat, bisa-bisa kita ga bisa melihat dengan baik lagi.

Selain masalah mata, kesehatan secara umum juga perlu kita prioritaskan untuk kita investasikan. Periksa kesehatan rutin juga perlu dilakukan (ini sih ngomong ke diri sendiri).

Untuk teman-teman yang hobi menulis, investasikan ekstra dengan alat yang paling sering kamu pakai menulis. Kalau memang paling sering menulis di HP, sebaiknya pilih HP yang agak tahan banting. Jangan lupa untuk menyimpan cadangan tulisan di cloud atau sinkronisasi dengan PC. Kalau sampai tulisan hilang karena HP tiba-tiba hang/mati total, aduhai rasanya pasti pengen garuk-garuk dinding kan.

Kalau ada yang punya cerita yang pernah kamu lakukan untuk investasi ke diri sendiri, silakan tuliskan di komentar.

Ikutan Lomba Menulis di Kompasiana

Ceritanya, kemarin diajakin buat ikutan lomba blog estafet di kompasiana. Dari dulu sebenarnya maju mundur mau ikutan jadi kompasioner(orang yang menulis di kompasiana), tapi ya tidak ada salahnya mencoba untuk melatih diri menulis di platform lain (tapi tentunya tulisannya akan lebih banyak di blog utama). Saya menantang diri sendiri untuk menulis dengan topik tertentu.

Aturan lomba, sumber dari kompasiana

Kompasiana dan Blog

Kompasiana ini platform blog juga, tapi berbeda dengan tulisan di blog biasa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar tulisan kita bisa tampil di sana. Syarat pertama tentunya harus punya akun yang tervalidasi. Berikutnya tulisannya juga tidak boleh berisi contekan dari tulisan orang lain (plagiat). Kalau kita menyertakan gambar, semuanya harus ada sumbernya, kalau tidak jelas akan dihapus. Jadi konsepnya bukan sekedar ngeblog.

Lanjutkan membaca “Ikutan Lomba Menulis di Kompasiana”

Pelajaran Menulis Kreatif Jonathan

Salah satu kegiatan homeschool Jonathan adalah pelajaran menulis kreatif. Kebetulan hari ini saya lagi gak ada ide menulis dan melihat bahan pelajaran Jonathan. Jadi ya sekalian deh dituliskan di sini, siapa tau bisa dipakai untuk teman-teman yang juga lagi belajar menulis kreatif.

Oh ya, pelajaran Jonathan ini menggunakan bahasa Inggris, tapi idenya tentu bisa dipakai untuk menulis dalam bahasa apa saja.

Biasanya, untuk memulai menulis itu lama di bagian mencari ide. Nah untuk mempermudah memulai menulis, kita bisa membuat pohon ide seperti contoh di sini. Jadi kita diminta untuk menuliskan apa yang menjadi subjek utama atau ide utama dari tulisan kita. Lalu dari ide utama itu kita bisa menambahkan hal-hal apa yang ingin kita ceritakan dari subjek utama kita. Lalu setiap cabangnya bisa kita jabarkan lagi menjadi hal-hal yang lebih rinci.

pohon ide untuk mulai menulis

Satu pohon ide ini bisa untuk memulai menulis 1 paragraf, atau bisa juga untuk menulis 1 tulisan lengkap. Tergantung dari berapa banyak cabang dari pohon ide ini berkembangnya. Pohon ide seperti ini sebenarnya bentuk lain dari apa yang kita pelajari di pelajaran bahasa Indonesia waktu SD dulu.

Kalau dulu, kita diminta untuk menulis beberapa pokok pikiran dari sebuah topik tulisan. Lalu kita diminta untuk menuliskan hal-hal lebih detail dari setiap pokok pikiran. Setiap pokok pikiran bisa dikembangkan menjadi 1 paragraf.

Ini contoh pelajaran Jonathan hari ini. Dia diberi daftar hal-hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan tema cerita: Waktu bersama kakek nenek.

tugas menulis kreatif hari pertama

Sekilas terlihat mudah ya, tapi saya malah sudah lupa dulu pernah ngapain aja dengan kakek dan nenek saya. Tapi untuk anak-anak, tentunya karena kejadiannya belum lama berlalu, mereka masih lebih ingat daripada saya yang sudah tidak punya kakek dan nenek lagi (ini sih alasan aja deh, bilang aja malas mikir hehehe).

Pelajaran menulis kreatif biasanya dibagi menjadi 2 hari. Setelah hari pertama diminta menuliskan garis besar dari ide ceritanya, hari berikutnya diminta untuk menuliskan ceritanya secara utuh. Tidak harus panjang, tapi ya sebaiknya lebih dari 1 paragraf. Lalu setelah selesai dituliskan, anak diminta untuk memeriksa beberapa hal lagi.

tugas menulis hari ke-2: menuliskan ide cerita menjadi cerita

Pelajaran menulis kreatif ini sudah ada di buku homeschool Jonathan sejak pelajaran kelas 3. Selama ini, saya tidak terlalu menekankan hasil akhir. Tapi tadi Jonathan bilang dia ingin mencoba menuliskan ceritanya menjadi tulisan di blog. Kalau sudah jadi dia tuliskan, kapan-kapan saya bagikan linknya ya hehehe.

Apakah saya menuliskan tulisan di blog ini menggunakan teknik seperti di buku pelajaran Jonathan? Tentunya tidak hahaha. Menulis blog buat saya seperti bercerita saja, kalau harus tuliskan ide cerita dulu malah bisa tambah panjang ceritanya dan gak selesai-selesai menulisnya.

Biasanya, sebelum menulis, paling ada ide utama dan hal-hal apa saja yang ingin diceritakan. Selanjutnya setelah paragraf pertama, ceritanya mengalir begitu saja.

Kalau menulis tentang cerita drama atau review produk lain lagi caranya. Biasanya walau tidak dituliskan, saya sudah punya inti kelebihan dan kekurangan dari yang ingin direview ataupun hal-hal yang menarik dari drama yang ditonton.

Khusus untuk teman-teman yang tergabung di KLIP: Gimana perjalanan menulis teman-teman bulan ini? siap untuk memasuki bulan Februari? jangan menyerah ya kalaupun bulan ini gak sampai 10 tulisan. Masih ada 11 bulan lagi tahun 2020 untuk tetap menulis. Buat teman-teman yang sudah menulis minimal 10 tulisan, sampai ketemu di WAGrup :).

Udah Ikut KLIP Belum?

KLIP singkatan dari Kelas Literasi Ibu Profesional. Program KLIP 2020 masih seperti tahun 2019 merupakan wadah untuk melatih konsistensi menulis setiap hari selama setahun. Tapi tenang saja, kalau belum ibu-ibu juga boleh gabung kok, tapi memang program ini khusus untuk perempuan.

Mungkin ada yang akan berpikir: aduh nulis tiap hari? mana sempat, banyak urusan lain yang perlu dilakukan, dan mau nulis apa tiap hari? Katanya kan gak baik kalau semua dituliskan di media sosial? Ntar ada orang kepo yang jadi tahu informasi detail kita dan disalah gunakan. Bahaya ah nulis tiap hari, pusing ntar nyari topiknya. Ini salah satu pikiran saya sebelum saya menantang diri sendiri menulis tiap hari.

Tapi program KLIP ini beda. Tidak ada keharusan menulis topik tertentu, kita yang membatasi diri kita di mana kita ingin posting. Tujuan utamanya ya membuat kita membiasakan menulis. Kita yang membatasi informasi apa yang mau kita bagikan ke publik atau cuma dituliskan di googledocs yang hanya bisa dilihat admin. Atau bahkan kalau nulis di diary lalu di foto dan fotonya saja yang diupload ke google doc juga bisa kok. Tidak suka menulis? ya mungkin grup ini bukan buat Kamu kalau gitu hehehe.

Terus kenapa harus setoran sih? kan kadang-kadang ada yang rajin aja gitu nulis tiap hari, tapi suka lupa untuk menyetorkan tulisan. Yaaa kalau gak disetorkan ke dalam form, gimana caranya mbak-mbak pengurus tau kalau kita nulis atau nggak? Makanya kita cuma perlu setor 1 kali sehari. Buat yang tiba-tiba rajin nulis 10 tulisan dalam 1 hari, ya setorannya 1 tulisan per hari dalam 10 hari ke depan juga boleh. Asal jangan menyetorkan tulisan yang sama dalam 10 hari ya (walaupun ini tidak disarankan hahaha).

Walaupun kita disemangati untuk menulis tiap hari, tapi sebenarnya target minimum itu 10 tulisan perbulan. Berarti rata-rata bisa menulis 1 tulisan per 3 hari. Kalau ada bulan yang nggak bisa nulis 10 tulisan gimana? ya tidak apa-apa juga, coba lagi bulan depannya. Dalam setahun usahakan aja bisa nulis 10 tulisan/bulan selama 7 kali. Artinya paling tidak sepanjang 365 hari, kita sudah menulis 70 tulisan.

Tulisannya harus ada batas minimum jumlah katanya nggak? jawabnya nggak. Tulisannya juga bebas kok, bisa berupa puisi atau bahkan status facebook. Pokoknya nulis! Kembali ke kita sendiri, puas gak kalau nulisnya cuma 2 kalimat? Biasanya sih, mulai aja nulis 1 paragraph, nantinya ide untuk paragraph berikutnya pasti berdatangan, dan tiba-tiba kita gak bisa berhenti hahaha.

Mungkin akan ada yang berpikir: ah bulan Januari udah gak bisa 10 tulisan lagi, ga jadi ikut ah, tahun 2021 aja ikutannya. Jangan salah, tahun 2020 masih ada 11 bulan lagi kalau pun Januari tidak bisa nulis minimum 10 tulisan. Mulai aja nulis, biasakan dari sisa bulan Januari ini, dan menyiapkan diri untuk menulis tiap hari di bulan Februari. Grup KLIP masih menerima pendaftaran sampai bulan Maret 2020 untuk program tahun ini.

Satu hal yang paling saya tunggu-tunggu dari grup KLIP ini adalah WAGrup nya. Khusus Januari ini memang belum ada WAG nya, tapi kalau bulan ini berhasil nulis minimum 10 tulisan, bulan depan bakal bisa gabung di WAgrupnya. Nantinya, tiap bulan akan disaring lagi untuk bulan berikutnya. Kalau bisa konsisten tiap bulan nulis minimum 10 tulisan, artinya bakal bertahan terus di WAGrupnya.

Ada apa di WAGrup KLIP? Ada banyak teman-teman yang sama-sama berjuang melatih konsistensi menulis. Akan ada yang setiap hari bertanya-tanya mau nulis apa hari ini ya (ini sih saya biasanya). Ada juga berbagi informasi perlombaan menulis, atau bahkan bisa ada sesi tanya jawab dengan teman sesama anggota yang sudah menerbitkan buku. Dan tentunya ada yang jadi cinderella alias buru-buru nulis menjelang tengah malam untuk disetorkan (ini juga saya hahaha).

piagam dari KLIP – bisa begini berkat WAGrupnya hehehe

WAGrup ini sifatnya tidak wajib kok, kalau misalnya ada yang merasa hp sudah kebanyakan WAGrup dan tidak ingin gabung walaupun berhak masuk, ya tidak masalah juga. Tahun 2019 saya berhasil konsisten menulis tiap bulan juga berkat WAGrup KLIP. Setelah setahun bersama-sama dengan teman-teman KLIP, saya merasa Januari ini agak berat karena terasa ada yang hilang dari kebiasaan bikin ribut di WAG hehehe.

Bulan ini saya sudah mengamankan target menulis, supaya bisa masuk WAG di bulan Februari. Ayoo yang udah gabung KLIP dan belum 10 tulisan, semangaaat, masih ada 9 hari ke depan untuk mencapai target minimum. Untuk yang belum bergabung, bisa baca-baca informasi lengkapnya di FB Grup KLIP dan di tulisan ini dan siapkan diri untuk ikuti tantangan menulis bersama-sama kami.

Oh ya, mungkin akan ada yang bertanya-tanya: tantangan menulis ini ada hadiahnya apa? Hadiahnya tentu saja kepuasan pribadi dan teman-teman baru sesama penggemar literasi. Karena selain tantangan menulis, tahun 2020 ini ada tantangan membaca buku juga. Lalu ada kesempatan untuk memilih tulisan yang kita anggap terbaik dari minggu sebelumnya. Dengan berbagi link di grup, berarti juga menambah pembaca blog kita (kalau yang menulis di blog). Yuk yuk ditunggu ya untuk latihan konsistensi menulis bersama KLIP.

Baca Buku: Keep Going

Ini buku pertama yang dibaca tahun 2020. Buku pertama yang dibacanya cukup cepat. Ceritanya di grup KLIP ada yang share buku yang dibaca ditahun 2019 yang berkesan dan ada yang menuliskan tentang buku ini. Berhubung bulan Desember lalu diserang kemalasan menulis jadi tertarik dengan buku ini yang memberikan tips-tips untuk tetap berkarya.

Judul lengkap buku ini Keep Going: 10 Ways to Stays Creative in Good Time and Bad. Buku ini ditulis oleh Austin Kleon seorang penulis yang juga menggambar. Saya baru tau setelah selesai membaca buku yang ini, ternyata dia sudah punya 2 buku sebelum buku ini. Buku dengan jumlah 224 halaman, bisa dengan cepat dibaca karena banyak halaman berupa illustrasi seperti komik. Buku ini juga merupakan buku pertama yang selesai saya baca di hari yang sama dengan hari belinya di Kindle (banyak buku yang walau tidak tebal tapi gak selesai-selesai membacanya sampai sekarang).

Dari judulnya aja udah ketahuan kalau ini isinya memberi motivasi biar kita gak berhenti berkarya. Walaupun mungkin dia memberi contohnya karya dalam bidang menulis ataupun menggambar, tapi sebenarnya tips yang dia berikan ini bisa untuk karya apa saja. Bukankah setiap manusia itu diciptakan untuk berkarya di bumi ini.

Buku ini menarik karena gaya bahasanya yang mudah dimengerti dan banyak ilustrasinya. Buku ini juga tidak menuntut kita untuk menciptakan karya yang sempurna, tapi kalau kata saya lebih realistis dan bagaimana membuat proses kreatif itu tetap terasa menyenangkan dan bukan jadi beban.

Berikut ini hal-hal yang berkesan buat saya dari buku ini. Saya tidak akan mengutip setiap bab seperti dari daftar isi, tapi apa yang saya ingat setelah diendapkan beberapa hari.

Rutinitas itu Penting

Biasanya paling sering mendengar keluhan tentang betapa membosankannya rutinitas. Tapi ternyata rutinitas itu penting dan malah lebih baik lagi kalau kita membuat jadwal yang sama setiap harinya untuk berkarya. Penulis buku ini mencontohkan bagaimana jika kita hidup di hari yang sama setiap harinya, seperti di film Groundhog Day?

Contoh daftar hal yang bisa dilakukan setiap hari dari buku Keep Going – Austion Kleon

Apa yang kita lakukan setiap harinya, itulah karya kita. Kita mau isi hari-hari kita tanpa berkarya, atau mau menghasilkan sesuatu yang berarti? Kadang-kadang untuk orang yang pernah sukses menghasilkan sesuatu karya, mereka sering berhenti dan merasa: aduh harusnya ini lebih baik dari yang sudah pernah saya buat. Perasaan seperti ini bisa membuat kita jadi berhenti berkarya. Padahal seharusnya ya tetap berkarya, mungkin hari ini hasilnya tak sebagus kemarin, tapi besok bisa jadi lebih baik dari hari ini karena kita sudah lebih terlatih mengerjakannya. Yang penting, lakukan saja setiap hari dengan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mulai setiap hari dengan karya baru.

Rutin itu penting, supaya kita tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Saya ingat, baca buku tentang membesarkan anak dari bayi, di sana juga disebutkan kita perlu membuat rutin anak yang sama setiap harinya, biar mereka tahu apa yang selanjutkan akan dilakukan. Dengan adanya rutin, anak jadi tahu bangun tidur harus apa, atau setelah selesai sikat gigi dan ganti baju tidur ya harus tidur. Untuk orang dewasa, rutin itu juga penting.

Kalau kita sudah tahu apa yang harus dilakukan berikutnya, kita tidak akan kelamaan mikir: ngapain ya abis ini, atau malah jadi tidak menghasilkan karya sepanjang hari. Oh ya, di buku ini juga disebutkan, kalau kita juga harus meluangkan waktu untuk berjalan di luar ruangan untuk memperhatikan hal-hal sekitar dan juga kalau lagi mentok ide, tidur siang/istirahat mata juga baik untuk merefresh diri.

Buat Daftar untuk Segala Hal

Kebiasaan membuat daftar itu baik. Misalnya mendaftarkan apa yang ingin dikerjakan, atau membuat daftar belanja. Bisa juga membuat daftar apa yang ingin dipelajari. Kalau sedang bepergian, bisa bikin daftar tempat menarik untuk dikunjungi. Bahkan bisa juga membuat daftar film yang ingin ditonton, atau buku yang ingin dibaca untuk hiburan.

Membuat daftar bisa membantu kita untuk mempermudah ketika membuat keputusan/pilihan. Kadang-kadang saya sudah mulai membuat daftar, misalnya membuat daftar topik yang bisa dituliskan di blog, supaya gak setiap hari bertanya-tanya: nulis apa yah hari ini. Sayangnya, setiap kali mau nulis, ide untuk menuliskan hal-hal yang ada di daftar seringnya terasa sulit dan akhirnya gak jadi deh dituliskan.

Punya Tempat Kerja yang Nyaman

Bagian yang ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Joe. Dulu saya ingat sering protes kenapa komputer menyala 24 jam, atau kenapa mejanya gak rapi. Terus Joe bilang: yang penting ketika mau kerja, komputer sudah siap sedia untuk dipakai. Tidak harus menunggu dulu menyalakan komputer, atau harus membereskan meja dulu. Waktu untuk menunggu itu bisa bikin teralihkan perhatian dan malah ga jadi kerja.

Tempat kerja yang nyaman itu tidak harus rapi ala Marie Kondo, tapi yang penting semua hal yang dibutuhkan untuk berkarya tersedia di sana dan bisa kita pakai dengan mudah. Hal ini kembali ke gaya bekerja masing-masing orang. Ada yang tidak bisa kerja kalau mejanya terlalu berantakan. Nah untuk orang seperti ini, diperlukan meja kerja yang selalu rapi. Atau ada juga orang yang tidak bisa kerja kalau terlalu hening, dan kebalikannya terlalu ramai juga gak bisa kerja. Yang pasti, temukan tempat kerja yang nyaman untuk kita masing-masing.

Merapikan barang-barang itu tetap perlu, tapi berbeda dengan Marie Kondo yang bilang kalau merapikan buku jangan sambil berhenti dan membaca, kita malah disarankan untuk mengunjungi kembali karya-karya kita sebelumnya. Kadang-kadang dari hal-hal yang pernah kita lakukan di masa lalu, yang mungkin saja sudah terlupakan, kita bisa mendapatkan ide baru untuk karya berikutnya.

Lakukan Saja, Karya Kita Tidak Harus Selalu Super

Saya ingat, dulu waktu rajin merajut saya sudah membuat banyak hasil. Kadang-kadang waktu menentukan mau merajut apa berikutnya, ada perasaan: ah ini terlalu mudah, pengen cari yang lebih menantang. Terus akhirnya, malah kelamaan nyari pola dan gak jadi merajut.

Hal lain yang bikin kita gak jadi berkarya adalah ketika kita mengandalkan respon orang lain terhadap karya kita. Misalnya, kita pengen menulis itu sesuatu yang dapat jempol like banyak dari orang lain. Pengennya bikin foto yang super indah dan bisa membuat orang berdecak kagum. Pengennya masak kue yang paling enak sedunia. Pengennya menjahit baju nan indah dengan detail yang super rumit.

Ketika kita kebanyakan pengen tapi gak mulai melakukannya, ya akhirnya karya kita gak ada yang jadi. Makanya disebutkan, lakukan saja apa yang kamu bisa hari ini, terlalu berharap jempol orang atau menunda mengerjakan sesuatu dengan alasan ah ini masih kurang super tidak akan membawa hasil apa-apa. Kadang-kadang bahkan app sederhana seperti flappy bird saja bisa sangat populer.

Berikan Hadiah untuk Orang Lain

Jaman berhobi merajut, kebanyakan rajutan saya itu bukan untuk saya pakai sendiri, tapi untuk diberikan ke orang lain. Waktu belajar menjahit, motivasinya juga bukan untuk terima jahitan, tapi untuk bisa menjahitkan baju untuk dipakai sendiri, Joe dan anak-anak. Menghasilkan karya untuk dihadiahkan ke orang lain itu terasa lebih menyenangkan daripada kejar setoran hehehe.

Gimana kalau pekerjaanya memang penjahit? masa harus menghadiahkan melulu? Ya, nggak dong, bikin hadiah untuk orang lain itu jadi sarana latihan. Kalau ada pekerjaan profesional, ya tetap harus dikerjakan secara profesional. Kalau misalnya kita jadi penulis, bukan berarti hasil tulisan kita harus selalu sempurna kan, bisa saja kita menulis cerita singkat untuk dihadiahkan ke orang-orang tertentu.

illustrasi dari buku Keep Going – Austin Kleon

Nah kalau punya pasangan programmer, bisa tuh minta hadiah dibikinin program aplikasi. Ada banyak aplikasi yang dibuatkan Joe atas permintaan saya, yang kemudian sebagian dia bagikan secara gratis.

Perhatikan Sekitar, jangan Online Selalu

Bagian ini sebenarnya dibahas agak di bagian awal buku, tapi saya tuliskan terakhir. Jaman sekarang, hal ini merupakan hal yang paling sulit. Buku ini menyarankan kita bangun pagi untuk tidak langsung membaca berita online di berbagai penjuru dunia, tapi disarankan untuk rutin pagi itu bangun, jalan-jalan sekitar rumah sambil memperhatikan sekitar kita.

Contoh yang saya pikirkan, saya bisa memperhatikan siklus pohon mangga misalnya, kapan mulai ada bunganya dan kapan jadi buah. Hidup ini juga seperti pohon mangga, ada siklusnya dan ada musimnya. Dari memperhatikan sekitar kita, biasanya akan ada banyak ide-ide untuk berkarya. Setelah kita memberikan waktu untuk diri sendiri, baru deh baca-baca berita dunia.

Tapi sejauh ini, prakteknya masih sulit. Bangun pagi masih lebih dulu nyari henpon buat online. Jalan-jalan sekitar rumah belum dilakukan juga. Ini saja sambil menulis, masih sambil online dan sering pindah ke halaman lain hehehe. Pelajaran dari buku ini, jadi punya motivasi untuk tetap berusaha berkarya setiap harinya.