Menemukan Kembali Motivasi Menulis bersama KLIP

Kemarin saya mendapat kejutan dari grup KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional), grup latihan konsistensi menulis yang saya ikuti sejak kembali ngeblog lagi. Saya mendapatkan sertifikat apresiasi karena sudah menulis 118 tulisan selama tahun 2020. Dari 452 orang yang awalnya berkomitmen mengikuti program KLIP, hanya 197 yang lulus sesi pertama (4 bulan). Dari 197 peserta itu, saya menulis terbanyak ke-2. Selama 120 hari di 4 bulan pertama 2020, hanya ada dua hari saya tidak menulis.

Terharu mendapat sertifikat ini, terimakasih KLIP

Saya merasa terharu. Ketika menulis saya bahkan tidak pasang target apa-apa, saya hanya ingin melatih diri untuk konsisten menulis dan berbagi cerita. Tulisan untuk dibaca di kemudian hari dan suatu saat semoga berguna untuk diri sendiri ataupun pembaca yang lain.

Lanjutkan membaca “Menemukan Kembali Motivasi Menulis bersama KLIP”

Belajar PUEBI Lagi

Hari ini, saya mengikuti kelas self-editing dengan teman-teman dari group KLIP. Belajarnya via aplikasi Zoom. Pengajarnya sepupu saya, Rijo Tobing, yang berhasil saya ajak masuk grup KLIP tahun 2020 ini. Inti dari pelajaran hari ini tentu saja kembali ke tata bahasa dalam bahasa Indonesia alias PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia).

Udah mau bubar baru ingat foto (Sumber: dokpri)

Dari dulu, pelajaran bahasa Indonesia itu sering dianggap enteng. Banyak yang berpikir hanya karena kita bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, kita langsung jadi ahli bahasa Indonesia. Padahal dalam semua bahasa, belajar lisan dan tulisan tidak selalu sama. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan supaya pembaca tidak jadi salah mengerti ketika membaca tulisan kita.

Walaupun sudah banyak menulis di blog, saya sering tidak sabar untuk memeriksa kembali tata cara penulisan saya. Pembelaan diri saya, “Ah ini kan bukan tugas Bahasa Indonesia.” Padahal, alasan sebenarnya karena saya terlalu malas untuk membiasakan diri untuk belajar PUEBI lagi.

Saya tidak akan menuliskan apa saja hal-hal yang saya pelajari hari ini, karena semuanya ada banyak di buku-buku PUEBI yang tersedia online maupun offline.

Beberapa bulan lalu, di grup KLIP juga pernah ada belajar tentang PUEBI ini dalam sebuah kulwap (kuliah WhatsApp). Waktu itu, memang belum jamannya belajar sambil tatap muka pakai Zoom seperti sekarang. Waktu saya membaca materinya serasa membaca buku saku PUEBI. Saya menyerah sebelum mencoba.

Berbeda dengan kulwap sebelumnya, karena kelas menggunakan Zoom, selain mendengar saya bisa melihat presentasi dan contoh. Saya bisa berinteraksi juga untuk menanyakan langsung kalau ada pertanyaan. Belajar dua arah begini kelebihannya bikin beberapa hal langsung terekam di kepala. Hasilnya, saya jadi ingin belajar PUEBI lagi.

Belajar itu berbeda dari sekedar tahu. Setelah tahu apa saja aturan PUEBI, tentunya saya harus berlatih untuk mengaplikasikan aturan yang ada ketika menulis. Berlatih terus menerus sampai akhirnya menjadi keahlian.

Setelah pelajaran hari ini, saya merasa waktunya bergeser dari zona kemalasan. Setiap hari menulis berarti setiap hari ada kesempatan berlatih memperbaiki tulisan mengikuti PUEBI. Kalau merasa kurang banyak bahan latihan, selalu bisa memperbaiki tulisan yang lalu-lalu.

Belajar itu harus pakai niat. Dulu, rasanya mustahil buat saya bisa menulis setiap hari. Ternyata, tahun 2020 ini saya bisa menulis hampir setiap hari. Jadi, mudah-mudahan niat saya untuk belajar PUEBI lagi ini bisa tetap saya ingat untuk lakukan.

Buat saya, menulis sambil memeriksa aturan tata bahasa itu sering membuat ide tulisan keburu hilang. Yang terpikir saat ini, saya akan tetap menulis saja dulu seperti biasa, lalu membaca ulang sambil memperbaiki tata bahasa.

Mulai hari ini, saya akan mencoba mengingat satu hal dari aturan tata bahasa dan menerapkannya ketika memperbaiki tulisan. Kemudian akan menambahkan satu aturan baru setiap harinya, atau setiap beberapa hari. Mudah-mudahan, di akhir tahun 2020 ini, saya bisa mengingat dan menggunakan semuanya.

Belajar PUEBI lagi ini baik buat saya. Selain supaya tulisan-tulisan berikutnya semakin enak untuk dibaca, juga untuk persiapan mengajarkan ke anak-anak. Setidaknya ketika diperlukan mengajarkannya ke anak-anak, saya tidak perlu gagap lagi sambil berkali-kali buka contekan. Untungnya, sekarang ini anak-anak masih belum fasih membaca bahasa Indonesia. Jadi, saya punya waktu untuk belajar duluan.

Saya Kenal Lebih Dekat dengan Kartini Hari Ini

Hari ini, tanggal 21 April 2020, merupakan hari ulang tahun Ibu mertua saya yang ke -64. Tapi mertua saya namanya bukan Kartini. Hari ini juga merupakan ulang tahun Kartini yang dirayakan setiap tahunnya sebagai hari libur Nasional. Sejak jaman Presiden Soeharto, tiap perayaan ulang tahun Kartini, semua wanita jadi repot pakai kain kebaya, kain panjang, sandal tinggi dan tentunya biar lebih cantik pakai sanggul juga dong.

Lalu belakangan, anak sekolah juga mulai direpotkan untuk pakai pakaian daerah. Hampir setiap tahun ya begitu, walau akhir-akhir ini mulai dimodifikasi tidak lagi berpakaian daerah tapi anak-anak diminta memakai kostum profesi yang dicita-citakan nanti kalau sudah besar.

Saya beruntung, gak pernah kebagian kerepotan memakai kebaya di hari Kartini. Saya ingat waktu masih kecil, saya malah pakai pakaian polisi wanita. Mama saya harus memesan baju itu secara khusus, karena adanya baju polisi untuk anak laki-laki saja. Ngapain repot-repot pakai pakaian polisi? Ceritanya taman kanak-kanak tempat saya bersekolah mengisi acara di TVRI.

Saya masih ingat, saya di minta untuk berdeklamasi. Kata-kata yang saya ingat tinggal beberapa baris ini:

“Wahai wanita Indonesia,

Bangkitlah!

Maju!

Kobarkan semangat Ibu kita Kartini.”

unknown

Tapi sesungguhnya, walaupun penggalan itu terngiang selalu, saya tidak pernah cari tau, sebenarnya semangat apa yang mau dikobarkan dari Ibu Kartini? Entahlah, walaupun nama RA Kartini ada di dalam pelajaran sejarah, walaupun saya tau dia pahlawan nasional dan bahkan punya lagu khusus untuknya, saya tidak pernah cari tahu apa sih yang perlu ditiru dari Kartini? Mungkin pernah diajarkan di kelas, tapi saya tidak ingat sama sekali.

Saya sering baca Kartini berjasa besar buat wanita – tapi saya jadi bertanya lagi apa jasanya Kartini. Katanya sih sesuatu tentang pendidikan wanita, lalu saya terpikir: apa bedanya dengan Dewi Sartika? Kenapa ada hari Kartini tapi tidak ada hari Dewi Sartika?

Setelah ngobrol dengan beberapa teman di sana – sini, dan membaca berbagai artikel yang dituliskan tentang Kartini hari ini, akhirnya saya mendapatkan gambaran lebih utuh setelah membaca WIKIPEDIA! Iya, saya tahu tulisan itu bukan baru kemarin ditambahkan, tapi saya baru baca sekarang karena saya baru pengen tahunya hari ini.

Supaya gak tambah panjang tulisan ini, saya langsung tuliskan saja apa yang saya ketahui tentang Kartini hari ini:

Kartini itu wanita cerdas. Dia sekolah sampai umur 12 tahun, dan masih pengen sekolah lagi. Tapi karena situasi di masa itu, wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Dia juga anak yang patuh ke orangtuanya. Tidak sekolah bukan berarti tidak belajar, mungkin bisa dibilang dia menghomeschool dirinya sendiri. Dia sudah mahir berbahasa Belanda, dan dia rajin membaca buku.

Belum umur 20 tahun dia baca buku Max Havelaar karya Multatuli dan berbagai buku dalam bahasa Belanda. Saya cuma pernah dengar judul buku Max Havelaar, buku ini gratis di Kindle, tapi saya sampai sekarang belum tergerak membacanya. Saya jadi terpikir, wow banget ya Kartini ini rajin belajar, rajin membaca, dan dia juga menulis di koran Semarang (pasti dia tidak sempat nonton drakor, soalnya bacaannya banyak hahaha).

Kartini tidak pernah bercita-cita jadi Pahlawan Nasional. Dia hanya iri melihat wanita-wanita di Eropa yang mendapat kesempatan belajar lebih daripada dia di Indonesia. Jadi awalnya mungkin dia sedang curhat ke sahabatnya Rosa Abendanon. Sahabatnya ini yang awalnya sering meminjamkan buku tentang pemikiran kaum feminis di Eropa, dan sepertinya itulah yang mengawali cita-cita Kartini.

Kumpulan surat Kartini yang dipajang di TropenMuseum di Belanda (Sumber: Dearni Irene Purba)

Kartini tidak menuliskan buku, dia hanya menuliskan surat. Temannya yang mempublikasikan surat-suratnya itu di majalah di Belanda. Kumpulan surat-suratnya ternyata mendapatkan perhatian di Belanda, dan itulah yang menjadi inspirasi membuka sekolah Kartini di Indonesia (ada beberapa tempat mulai dari Batavia).

Udah itu saja yang penting buat saya. Bukan masalah dia anak siapa, istri siapa, punya anak berapa. Ya memang keluarganya memegang peranan dan banyaklah memberi kesempatan untuk Kartini maka dia bisa ini dan itu. Tapi pasti dia bisa sekolah lebih lama dari wanita kebanyakan, dia bisa ini dan itu bukan dengan mudah. Dia berusaha meyakinkan orangtuanya, suaminya dan juga akhirnya dari surat-suratnya dia meyakinkan banyak orang di Belanda untuk membuka sekolah untuk wanita di Indonesia.

Hari ini yang perlu digarisbawahi, cetak tebal dan ingat dari semangat Kartini adalah: kalau punya ide dan cita-cita tuliskan dan bagikan, jangan disimpan di kepala saja. Kalau tulisan kita sampai dibaca oleh orang yang tepat, ide kita bisa jadi bukan sekedar ide saja dan diwujudkan.

Saya tetap tidak mengerti kenapa hari Kartini diperingati dengan kebaya atau busana daerah lainnya, tapi saya jadi mengerti apa yang Kartini lakukan dan pengaruhnya terhadap pendidikan wanita di masa itu. Kartini rajin membaca dan menuliskan buah pikirannya. Seharusnya hari Kartini diperingati dengan perlombaan menuliskan ide-ide atau harapan untuk kemajuan bangsa.

Karena tulisan itu bisa dibaca berulang kali, dianalisa, dan menjangkau lebih banyak orang daripada kita bergumam seorang diri.

Selamat hari Kartini. Mari menulis mulai hari ini!

Ternyata pernah Rajin Masak

Beberapa hari ini, saya membaca ulang tulisan-tulisan saya yang lama di blog masakan pemalas (yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ditambahkan). Ternyata memang, tulisan kumpulan resep itu lebih menarik kalau ada fotonya. Lebih menarik lagi kalau pengambilan fotonya pakai niat gitu ya.

Kesimpulan dari membaca tulisan sendiri, dibandingkan sekarang, dulu saya pernah rajin masak (walaupun oseng-oseng seadanya). Tiba-tiba merasa bangga pernah rajin, tapi juga merasa malu sama diri sendiri kenapa jadi super malas masak.

muffin oatmeal, salah satu yang masih sering dimasak sampe sekarang

Selain masakan-masakan oseng seadanya, ternyata saya juga pernah masak donat walaupun donat biasa dan bukan donat kentang. Hahaha rasanya cuma 2 kali itu saja saya masak donat, makanya saya ga bisa ingat sama sekali. Satu lagi yang tidak pernah terpikirkan untuk dicoba bikin lagi adalah masak martabak manis pake teflon. Mungkin ini pertanda, saya harus mulai rajin masak lagi (walaupun ala masakan pemalas).

Lanjutkan membaca “Ternyata pernah Rajin Masak”

Menulis itu…

Buat saya gak selalu gampang.

Saya berusaha menuliskan hal-hal yang berguna untuk orang lain. Berusaha mengurangi menulis yang isinya keluhan semata dan mencari topik yang membuat orang lain merasa lebih baik setelah membacanya.

Ada idealisme untuk menuliskan hal-hal yang jelas sumbernya dan jelas sampainya ke pembaca. Butuh waktu untuk memformulasikan berbagai berita yang dibaca untuk dijadikan satu tulisan sendiri. Tapi sepertinya, di jaman sekarang, di saat arus informasi begitu derasnya, para profesional di bidang media sepertinya kurang mementingkan memeriksa fakta. Mereka berlomba untuk menuliskan berita terkini paling dulu.

Bukan hanya di masa pandemi ini saja, dari dulu setiap ada kasus yang ramai dibicarakan, setiap media berlomba memberitakannya. Bisa puluhan artikel terbit yang bedanya hanya 2 kalimat, yaitu kalimat judul dan kalimat penutup. Memang, media online berbeda dengan media cetak. Untuk tampil di media cetak, sebuah artikel pasti ada batas minimum jumlah kalimat, tapi untuk tampil di media online sepertinya berita berupa foto dengan keterangan foto saja sudah cukup untuk dilengkapi kemudian.

Kemampuan baca generasi online juga kabarnya tidak sama dengan kemampuan baca generasi offline. Jadi kalau melihat artikel dengan tulisan semua tanpa gambar, sudah hampir dipastikan banyak orang akan melewatkan beritanya dan hanya baca judul dan paragraph pertama saja.

Satu hal yang saya tidak suka dari artikel berita masa kini adalah, kadang-kadang jurnalis online mengutip beberapa tulisan dari media pribadi (blog, twitter, bahkan komen instagram) dan menuliskannya seolah-olah dia mewawancarai orang yang bersangkutan.

Ya memang secara tidak langsung, mereka memberi kredit terhadap penulisnya, tapi kenapa harus menuliskannya dengan gaya bahasa: menurut informasi yang kami peroleh dari mr. X , bla bla bla. Padahal ya sebut saja menurut blog si mr.X pendapatnya begini loh…. Penulisan seolah-olah ditanya langsung, padahal minta ijin mengutip tulisan aja kadang-kadang tidak dilakukan. Entahlah, apakah hal tersebut tidak diatur dalam kode etik jurnalisme ?

Menulis blog saja buat saya ga gampang. Kadang-kadang saya harus berpikir untuk menuliskan tanpa membuat orang lain tersinggung. Hal lain yang perlu dipikirkan juga bagaimana membuat tulisan yang ada gunanya. Kalau tulisannya tidak berguna, sudah saja tulisannya simpan jadi diary.

Menulis di media online itu harus ada filternya. Misalnya di jaman pandemi, kita gak bisa serta merta mengomentari setiap berita yang kita baca dan menyalahkan siapa saja yang bisa disalahkan. Belakangan ini, selain mendapatkan tulisan yang menyejukkan hati ketika dibaca, banyak juga terusan video yang mengajak untuk mempermalukan orang-orang hanya karena pendapat mereka berbeda di awal maraknya Covid-19 dan setelah diresmikan jadi status pandemi.

Hal lain yang juga mengesalkan dari tulisan di media online, bahkan media berita yang sudah punya nama terkadang nulis berita itu sering menggunakan istilah yang salah. Padahal dengan menggunakan istilah yang salah, malah bikin beritanya jadi tambah ngawur.

Salah satu kata yang paling sering digunakan di masa pandemi ini adalah: lockdown. Media berlomba memberi list negara yang di lockdown. Waktu saya membaca kalau Thailand termasuk dalam negara yang lockdown, saya mengernyitkan kening karena sebagai yang tinggal di Thailand, saya tahu sampai saat inipun Thailand belum lockdown. Banyak aturan diberlakukan yang bisa ditambahkan setiap saat, tapi tidak ada lockdown di Thailand. Mau berbelanja keluar rumah gak perlu pakai ijin, cuma perlu pakai masker!

Ah ujung-ujungnya tulisan ini jadi ngomongin covid-19 related lagi deh. Padahal tadinya mau nulis secara general hehehehe. Intinya, menulis itu ga selalu gampang, tapi kalau udah nulis ya tuliskan hal yang berguna, bisa dipertanggungjawabkan dan jelas sumbernya. Bahkan menuliskan fiksi aja bisa jadi perkara kalau terlalu ada kesamaan fakta dan nama.

16 tahun Ngeblog bareng Joe

Hari ini, 16 tahun yang lalu, kami posting pertama kali di blog ini. Kadang-kadang hampir gak percaya, bisa bertahan ngeblog selama ini. Eh tapi kok belum jadi-jadi juga nih bikin buku? Selamanya blogger nih judulnya? Hehehe.

tulisan pertama saya di blog ini

Seperti biasa, namanya kalau lagi ulang tahun sesuatu, ada kecendurang kilas balik dan melihat-lihat tulisan lama. Jadi teringat lagi, kenapa dulu pilih nama domain compactbyte dan kenapa milih judul blog Amazing Grace.

Sebenarnya, setelah 16 tahun ngeblog (dengan beberapa tahun sempat tidak rajin mengisi karena kebanyakan update facebook), rasanya udah banyak cerita berulang dan hampir semua pernah dituliskan disini (kecuali berita terkini). Tapi, ya hitung-hitung menyegarkan ingatan sendiri, saya mau tulis lagi gimana dulu pertimbangan beli domain dan judul blog.

Domainnya sudah dibeli beberapa hari sebelumnya, tapi awalnya dibelinya bukan buat bikin blog ini saja. Domain utamanya Compactbyte.com tentunya diisi dengan produk aplikasi buatan Joe. Milih nama domain itu susah ya ternyata. Karena waktu itu kami masih status pacaran, gak kepikir juga mau bikin nama domain dengan gabungan nama kami berdua. Walaupun waktu memutuskan ngeblog bareng, kami cukup yakin serius satu sama lain.

Compactbyte ini dari compact dan byte, jadi maksudnya Joe pengen kalau bikin aplikasi itu yang ukuran bytenya compact/kecil. Tahun 2004, yang namanya paket internet masih sangat memperhitungan ukuran file kalau mendownload. Jadi tantangannya bagaimana membuat aplikasi yang berguna untuk banyak orang, tapi gak memberatkan orang-orang dalam mendownloadnya.

Nah berikutnya kenapa judul blog nya Amazing Grace? Ini sih ceritanya salah satu topik obrolan kami seputar buku, terus Joe cerita tentang buku What’s so Amazing about Grace dan meminjamkannya ke saya. Nah saya baru selesai baca bukunya dan kepikiran eh kita bikin judulnya Amazing Grace aja. Dan sampai sekarang, kami percaya kalau kami bisa menikah, pindah ke Chiang Mai dan punya 2 anak dan tetap ngeblog juga karena Kasih Karunia.

Lucu membaca-baca tulisan lama. Di blog ini ada banyak mencatat berbagai hal, mulai dari pernah dapat HP Nokia dari Bank Niaga, beberapa catatan setting internet dari jaman GPRS (dan sekarang udah hampir 5G). Dari jaman HP dengan keyboard melingkar terus jaman Blackberry, dan sekarang HP qwerty touchscreen tanpa keyboard fisik dengan layar yang semakin besar.

Kalau melihat-lihat tulisan di awal-awal, kami menulis itu dari dulu sampai sekarang ya rada-rada random aja gitu. Kadang ngomongin buku, film, seputar IT, curhat, opini dan bahkan tentang bersantai di rumah itu udah jadi hobi dari dulu.

Beberapa topik yang banyak bertambah tulisannya belakangan ini dan belum ada di awal kami menulis tentunya tentang anak-anak, tentang homeschooling, seputar Chiang Mai, keluhan soal polusi, drama korea dan film-film lainnya, belajar bahasa, dan akhir-akhir ini tulisan yang terinspirasi dari masa pandemi covid-19 (udah ada 2 fiksi, padahal biasanya gak pernah bisa nulis fiksi hehehe).

Kalau diperhatikan, gaya bahasa saya menulis banyak perubahan, walaupun tanda baca gak juga membaik. Isi blog ini lebih sering seperti tumpahan isi kepala yang dituliskan dengan cepat dan gak diedit lagi. Biasanya sih niatnya mau diedit lagi, tapi seringnya gak jadi diedit hehehe.

Tulisan Joe sekarang jadi tambah rumit, apalagi dengan hobinya sekarang yang banyak berhubungan dengan reverse engineering dan hacking. Karena tulisannya harus lebih serius nulisnya, dia jadi agak jarang nulis. Maaf ya buat follower blog yang mengharapkan tulisan Joe, dia lagi sibuk banget sekarang, soalnya dia sering digangguin anak-anak juga hehehe.

Bosan gak sih ngeblog bertahun-tahun? Nggak dong! Apalagi sejak bergabung dengan KLIP, saya tambah rajin dong ngeblognya. Memang, kadang-kadang kehabisan ide mau nulis apa dan kadang-kadang diserang rasa malas karena isi kepala terlalu penuh dan membayangkan menuliskannya dah lelah duluan, tapi tentunya kemalasan bisa dikalahkan dengan niat dan tekat untuk tetap menulis.

Mau sampai kapan ngeblog? Selama masih mungkin. Masih pengen meneruskan topik belajar bahasa Thai dan topik seputar homeschooling yang belakangan ketilep sama topik polusi dan pandemi.

Enaknya ngeblog begini, kalau ada yang nanya apa-apa terutama seputar Chiang Mai, kami tinggal cari di blog dan kasih link blognya, walaupun informasinya kadang-kadang tercampur dengan cerita tentang kami ataupun curhat colongan.

Ayooo buat teman-teman yang dulu blogger, jangan kelamaan di FB doang, kita ngeblog lagi yuk yuk. Blog ini menyimpan cerita kehidupan kami di dalam 1 tempat yang dipelihara sendiri dan ga usah takut kalau tiba-tiba layanan tutup dan tulisan kita hilang.

Fiksi: Kisah Bunga dan Sepatu

Bunga memandang walk-in closetnya. Dia sedang memilih-milih mau pakai sepatu yang mana hari ini. Mungkin pakai yang tingginya 5 cm saja. Hari ini dia cuma berencana ke supermarket di belakang gedung apartemennya. Tapi dia sedang mempertimbangkan, mungkin bisa juga pergi agak jauh dari apartemen, hitung-hitung memanaskan mesin mobilnya yang belum dipakai beberapa hari ini.

Selesai berdandan dan mengenakan sepatu 5 cm, Bunga kembali dihadapkan dengan pilihan: mau pakai tas yang mana ya? Tas backpack kayaknya gak aman dan gak matching dong dengan sepatu 5 cm nya. Tas sandang mau warna biru atau merah garis putih?. Aduh bingung deh, tadi memilih baju saja habis 15 menit, milih sepatu 20 menit, sekarang pilih tas butuh berapa menit lagi?

Lanjutkan membaca “Fiksi: Kisah Bunga dan Sepatu”