Udah Ikut KLIP Belum?

KLIP singkatan dari Kelas Literasi Ibu Profesional. Program KLIP 2020 masih seperti tahun 2019 merupakan wadah untuk melatih konsistensi menulis setiap hari selama setahun. Tapi tenang saja, kalau belum ibu-ibu juga boleh gabung kok, tapi memang program ini khusus untuk perempuan.

Mungkin ada yang akan berpikir: aduh nulis tiap hari? mana sempat, banyak urusan lain yang perlu dilakukan, dan mau nulis apa tiap hari? Katanya kan gak baik kalau semua dituliskan di media sosial? Ntar ada orang kepo yang jadi tahu informasi detail kita dan disalah gunakan. Bahaya ah nulis tiap hari, pusing ntar nyari topiknya. Ini salah satu pikiran saya sebelum saya menantang diri sendiri menulis tiap hari.

Tapi program KLIP ini beda. Tidak ada keharusan menulis topik tertentu, kita yang membatasi diri kita di mana kita ingin posting. Tujuan utamanya ya membuat kita membiasakan menulis. Kita yang membatasi informasi apa yang mau kita bagikan ke publik atau cuma dituliskan di googledocs yang hanya bisa dilihat admin. Atau bahkan kalau nulis di diary lalu di foto dan fotonya saja yang diupload ke google doc juga bisa kok. Tidak suka menulis? ya mungkin grup ini bukan buat Kamu kalau gitu hehehe.

Terus kenapa harus setoran sih? kan kadang-kadang ada yang rajin aja gitu nulis tiap hari, tapi suka lupa untuk menyetorkan tulisan. Yaaa kalau gak disetorkan ke dalam form, gimana caranya mbak-mbak pengurus tau kalau kita nulis atau nggak? Makanya kita cuma perlu setor 1 kali sehari. Buat yang tiba-tiba rajin nulis 10 tulisan dalam 1 hari, ya setorannya 1 tulisan per hari dalam 10 hari ke depan juga boleh. Asal jangan menyetorkan tulisan yang sama dalam 10 hari ya (walaupun ini tidak disarankan hahaha).

Walaupun kita disemangati untuk menulis tiap hari, tapi sebenarnya target minimum itu 10 tulisan perbulan. Berarti rata-rata bisa menulis 1 tulisan per 3 hari. Kalau ada bulan yang nggak bisa nulis 10 tulisan gimana? ya tidak apa-apa juga, coba lagi bulan depannya. Dalam setahun usahakan aja bisa nulis 10 tulisan/bulan selama 7 kali. Artinya paling tidak sepanjang 365 hari, kita sudah menulis 70 tulisan.

Tulisannya harus ada batas minimum jumlah katanya nggak? jawabnya nggak. Tulisannya juga bebas kok, bisa berupa puisi atau bahkan status facebook. Pokoknya nulis! Kembali ke kita sendiri, puas gak kalau nulisnya cuma 2 kalimat? Biasanya sih, mulai aja nulis 1 paragraph, nantinya ide untuk paragraph berikutnya pasti berdatangan, dan tiba-tiba kita gak bisa berhenti hahaha.

Mungkin akan ada yang berpikir: ah bulan Januari udah gak bisa 10 tulisan lagi, ga jadi ikut ah, tahun 2021 aja ikutannya. Jangan salah, tahun 2020 masih ada 11 bulan lagi kalau pun Januari tidak bisa nulis minimum 10 tulisan. Mulai aja nulis, biasakan dari sisa bulan Januari ini, dan menyiapkan diri untuk menulis tiap hari di bulan Februari. Grup KLIP masih menerima pendaftaran sampai bulan Maret 2020 untuk program tahun ini.

Satu hal yang paling saya tunggu-tunggu dari grup KLIP ini adalah WAGrup nya. Khusus Januari ini memang belum ada WAG nya, tapi kalau bulan ini berhasil nulis minimum 10 tulisan, bulan depan bakal bisa gabung di WAgrupnya. Nantinya, tiap bulan akan disaring lagi untuk bulan berikutnya. Kalau bisa konsisten tiap bulan nulis minimum 10 tulisan, artinya bakal bertahan terus di WAGrupnya.

Ada apa di WAGrup KLIP? Ada banyak teman-teman yang sama-sama berjuang melatih konsistensi menulis. Akan ada yang setiap hari bertanya-tanya mau nulis apa hari ini ya (ini sih saya biasanya). Ada juga berbagi informasi perlombaan menulis, atau bahkan bisa ada sesi tanya jawab dengan teman sesama anggota yang sudah menerbitkan buku. Dan tentunya ada yang jadi cinderella alias buru-buru nulis menjelang tengah malam untuk disetorkan (ini juga saya hahaha).

piagam dari KLIP – bisa begini berkat WAGrupnya hehehe

WAGrup ini sifatnya tidak wajib kok, kalau misalnya ada yang merasa hp sudah kebanyakan WAGrup dan tidak ingin gabung walaupun berhak masuk, ya tidak masalah juga. Tahun 2019 saya berhasil konsisten menulis tiap bulan juga berkat WAGrup KLIP. Setelah setahun bersama-sama dengan teman-teman KLIP, saya merasa Januari ini agak berat karena terasa ada yang hilang dari kebiasaan bikin ribut di WAG hehehe.

Bulan ini saya sudah mengamankan target menulis, supaya bisa masuk WAG di bulan Februari. Ayoo yang udah gabung KLIP dan belum 10 tulisan, semangaaat, masih ada 9 hari ke depan untuk mencapai target minimum. Untuk yang belum bergabung, bisa baca-baca informasi lengkapnya di FB Grup KLIP dan di tulisan ini dan siapkan diri untuk ikuti tantangan menulis bersama-sama kami.

Oh ya, mungkin akan ada yang bertanya-tanya: tantangan menulis ini ada hadiahnya apa? Hadiahnya tentu saja kepuasan pribadi dan teman-teman baru sesama penggemar literasi. Karena selain tantangan menulis, tahun 2020 ini ada tantangan membaca buku juga. Lalu ada kesempatan untuk memilih tulisan yang kita anggap terbaik dari minggu sebelumnya. Dengan berbagi link di grup, berarti juga menambah pembaca blog kita (kalau yang menulis di blog). Yuk yuk ditunggu ya untuk latihan konsistensi menulis bersama KLIP.

Baca Buku: Keep Going

Ini buku pertama yang dibaca tahun 2020. Buku pertama yang dibacanya cukup cepat. Ceritanya di grup KLIP ada yang share buku yang dibaca ditahun 2019 yang berkesan dan ada yang menuliskan tentang buku ini. Berhubung bulan Desember lalu diserang kemalasan menulis jadi tertarik dengan buku ini yang memberikan tips-tips untuk tetap berkarya.

Judul lengkap buku ini Keep Going: 10 Ways to Stays Creative in Good Time and Bad. Buku ini ditulis oleh Austin Kleon seorang penulis yang juga menggambar. Saya baru tau setelah selesai membaca buku yang ini, ternyata dia sudah punya 2 buku sebelum buku ini. Buku dengan jumlah 224 halaman, bisa dengan cepat dibaca karena banyak halaman berupa illustrasi seperti komik. Buku ini juga merupakan buku pertama yang selesai saya baca di hari yang sama dengan hari belinya di Kindle (banyak buku yang walau tidak tebal tapi gak selesai-selesai membacanya sampai sekarang).

Dari judulnya aja udah ketahuan kalau ini isinya memberi motivasi biar kita gak berhenti berkarya. Walaupun mungkin dia memberi contohnya karya dalam bidang menulis ataupun menggambar, tapi sebenarnya tips yang dia berikan ini bisa untuk karya apa saja. Bukankah setiap manusia itu diciptakan untuk berkarya di bumi ini.

Buku ini menarik karena gaya bahasanya yang mudah dimengerti dan banyak ilustrasinya. Buku ini juga tidak menuntut kita untuk menciptakan karya yang sempurna, tapi kalau kata saya lebih realistis dan bagaimana membuat proses kreatif itu tetap terasa menyenangkan dan bukan jadi beban.

Berikut ini hal-hal yang berkesan buat saya dari buku ini. Saya tidak akan mengutip setiap bab seperti dari daftar isi, tapi apa yang saya ingat setelah diendapkan beberapa hari.

Rutinitas itu Penting

Biasanya paling sering mendengar keluhan tentang betapa membosankannya rutinitas. Tapi ternyata rutinitas itu penting dan malah lebih baik lagi kalau kita membuat jadwal yang sama setiap harinya untuk berkarya. Penulis buku ini mencontohkan bagaimana jika kita hidup di hari yang sama setiap harinya, seperti di film Groundhog Day?

Contoh daftar hal yang bisa dilakukan setiap hari dari buku Keep Going – Austion Kleon

Apa yang kita lakukan setiap harinya, itulah karya kita. Kita mau isi hari-hari kita tanpa berkarya, atau mau menghasilkan sesuatu yang berarti? Kadang-kadang untuk orang yang pernah sukses menghasilkan sesuatu karya, mereka sering berhenti dan merasa: aduh harusnya ini lebih baik dari yang sudah pernah saya buat. Perasaan seperti ini bisa membuat kita jadi berhenti berkarya. Padahal seharusnya ya tetap berkarya, mungkin hari ini hasilnya tak sebagus kemarin, tapi besok bisa jadi lebih baik dari hari ini karena kita sudah lebih terlatih mengerjakannya. Yang penting, lakukan saja setiap hari dengan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan. Mulai setiap hari dengan karya baru.

Rutin itu penting, supaya kita tahu apa yang harus dilakukan berikutnya. Saya ingat, baca buku tentang membesarkan anak dari bayi, di sana juga disebutkan kita perlu membuat rutin anak yang sama setiap harinya, biar mereka tahu apa yang selanjutkan akan dilakukan. Dengan adanya rutin, anak jadi tahu bangun tidur harus apa, atau setelah selesai sikat gigi dan ganti baju tidur ya harus tidur. Untuk orang dewasa, rutin itu juga penting.

Kalau kita sudah tahu apa yang harus dilakukan berikutnya, kita tidak akan kelamaan mikir: ngapain ya abis ini, atau malah jadi tidak menghasilkan karya sepanjang hari. Oh ya, di buku ini juga disebutkan, kalau kita juga harus meluangkan waktu untuk berjalan di luar ruangan untuk memperhatikan hal-hal sekitar dan juga kalau lagi mentok ide, tidur siang/istirahat mata juga baik untuk merefresh diri.

Buat Daftar untuk Segala Hal

Kebiasaan membuat daftar itu baik. Misalnya mendaftarkan apa yang ingin dikerjakan, atau membuat daftar belanja. Bisa juga membuat daftar apa yang ingin dipelajari. Kalau sedang bepergian, bisa bikin daftar tempat menarik untuk dikunjungi. Bahkan bisa juga membuat daftar film yang ingin ditonton, atau buku yang ingin dibaca untuk hiburan.

Membuat daftar bisa membantu kita untuk mempermudah ketika membuat keputusan/pilihan. Kadang-kadang saya sudah mulai membuat daftar, misalnya membuat daftar topik yang bisa dituliskan di blog, supaya gak setiap hari bertanya-tanya: nulis apa yah hari ini. Sayangnya, setiap kali mau nulis, ide untuk menuliskan hal-hal yang ada di daftar seringnya terasa sulit dan akhirnya gak jadi deh dituliskan.

Punya Tempat Kerja yang Nyaman

Bagian yang ini sebenarnya sudah dipraktekkan oleh Joe. Dulu saya ingat sering protes kenapa komputer menyala 24 jam, atau kenapa mejanya gak rapi. Terus Joe bilang: yang penting ketika mau kerja, komputer sudah siap sedia untuk dipakai. Tidak harus menunggu dulu menyalakan komputer, atau harus membereskan meja dulu. Waktu untuk menunggu itu bisa bikin teralihkan perhatian dan malah ga jadi kerja.

Tempat kerja yang nyaman itu tidak harus rapi ala Marie Kondo, tapi yang penting semua hal yang dibutuhkan untuk berkarya tersedia di sana dan bisa kita pakai dengan mudah. Hal ini kembali ke gaya bekerja masing-masing orang. Ada yang tidak bisa kerja kalau mejanya terlalu berantakan. Nah untuk orang seperti ini, diperlukan meja kerja yang selalu rapi. Atau ada juga orang yang tidak bisa kerja kalau terlalu hening, dan kebalikannya terlalu ramai juga gak bisa kerja. Yang pasti, temukan tempat kerja yang nyaman untuk kita masing-masing.

Merapikan barang-barang itu tetap perlu, tapi berbeda dengan Marie Kondo yang bilang kalau merapikan buku jangan sambil berhenti dan membaca, kita malah disarankan untuk mengunjungi kembali karya-karya kita sebelumnya. Kadang-kadang dari hal-hal yang pernah kita lakukan di masa lalu, yang mungkin saja sudah terlupakan, kita bisa mendapatkan ide baru untuk karya berikutnya.

Lakukan Saja, Karya Kita Tidak Harus Selalu Super

Saya ingat, dulu waktu rajin merajut saya sudah membuat banyak hasil. Kadang-kadang waktu menentukan mau merajut apa berikutnya, ada perasaan: ah ini terlalu mudah, pengen cari yang lebih menantang. Terus akhirnya, malah kelamaan nyari pola dan gak jadi merajut.

Hal lain yang bikin kita gak jadi berkarya adalah ketika kita mengandalkan respon orang lain terhadap karya kita. Misalnya, kita pengen menulis itu sesuatu yang dapat jempol like banyak dari orang lain. Pengennya bikin foto yang super indah dan bisa membuat orang berdecak kagum. Pengennya masak kue yang paling enak sedunia. Pengennya menjahit baju nan indah dengan detail yang super rumit.

Ketika kita kebanyakan pengen tapi gak mulai melakukannya, ya akhirnya karya kita gak ada yang jadi. Makanya disebutkan, lakukan saja apa yang kamu bisa hari ini, terlalu berharap jempol orang atau menunda mengerjakan sesuatu dengan alasan ah ini masih kurang super tidak akan membawa hasil apa-apa. Kadang-kadang bahkan app sederhana seperti flappy bird saja bisa sangat populer.

Berikan Hadiah untuk Orang Lain

Jaman berhobi merajut, kebanyakan rajutan saya itu bukan untuk saya pakai sendiri, tapi untuk diberikan ke orang lain. Waktu belajar menjahit, motivasinya juga bukan untuk terima jahitan, tapi untuk bisa menjahitkan baju untuk dipakai sendiri, Joe dan anak-anak. Menghasilkan karya untuk dihadiahkan ke orang lain itu terasa lebih menyenangkan daripada kejar setoran hehehe.

Gimana kalau pekerjaanya memang penjahit? masa harus menghadiahkan melulu? Ya, nggak dong, bikin hadiah untuk orang lain itu jadi sarana latihan. Kalau ada pekerjaan profesional, ya tetap harus dikerjakan secara profesional. Kalau misalnya kita jadi penulis, bukan berarti hasil tulisan kita harus selalu sempurna kan, bisa saja kita menulis cerita singkat untuk dihadiahkan ke orang-orang tertentu.

illustrasi dari buku Keep Going – Austin Kleon

Nah kalau punya pasangan programmer, bisa tuh minta hadiah dibikinin program aplikasi. Ada banyak aplikasi yang dibuatkan Joe atas permintaan saya, yang kemudian sebagian dia bagikan secara gratis.

Perhatikan Sekitar, jangan Online Selalu

Bagian ini sebenarnya dibahas agak di bagian awal buku, tapi saya tuliskan terakhir. Jaman sekarang, hal ini merupakan hal yang paling sulit. Buku ini menyarankan kita bangun pagi untuk tidak langsung membaca berita online di berbagai penjuru dunia, tapi disarankan untuk rutin pagi itu bangun, jalan-jalan sekitar rumah sambil memperhatikan sekitar kita.

Contoh yang saya pikirkan, saya bisa memperhatikan siklus pohon mangga misalnya, kapan mulai ada bunganya dan kapan jadi buah. Hidup ini juga seperti pohon mangga, ada siklusnya dan ada musimnya. Dari memperhatikan sekitar kita, biasanya akan ada banyak ide-ide untuk berkarya. Setelah kita memberikan waktu untuk diri sendiri, baru deh baca-baca berita dunia.

Tapi sejauh ini, prakteknya masih sulit. Bangun pagi masih lebih dulu nyari henpon buat online. Jalan-jalan sekitar rumah belum dilakukan juga. Ini saja sambil menulis, masih sambil online dan sering pindah ke halaman lain hehehe. Pelajaran dari buku ini, jadi punya motivasi untuk tetap berusaha berkarya setiap harinya.

Hal-hal Yang Bikin Gak Jadi Nulis

Berhubung mulai kehabisan ide menulis, dan tiap hari jadi mikirin: nulis apa ya hari ini tanpa bener-bener ditulis, maka jurus curhat dikeluarkan hahaha. Langsung aja dimulai daftarnya

Menunda menulis

Menunda menulis ini bisa jadi misalnya lagi ada ide, tapi tidak langsung dibikin draftnya. Bisa juga karena menunda dengan alasan pengen mengumpulkan data lebih banyak tapi gak dikerjakan juga. Yang lebih sering terjadi juga adalah sudah dimulai draftnya, terus hilang moodnya untuk meneruskan tulisannya.

Biasanya habis baca buku atau nonton film, semangat lagi tinggi pengen membahasnya, tapi kadang gak langsung ditulis. Akhirnya seperti waktu menonton 4 drama ongoing tahun lalu, akhirnya tulisannya super singkat dan sampai sekarang gak jadi-jadi dituliskan reviewnya (dan sepertinya gak akan jadi hahaha).

Menunda waktu menulis juga bisa jadi penyebab. Ketika buru-buru kejar setoran, tentunya kualitas tulisan jadi berkurang dan gak fokus karena melirik jam terus hahaha. Dari pengalaman setahun berusaha membuat sehari satu tulisan, bisa dihitung jari saya menulisnya bukan ala cinderella alias jelang tengah malam.

Ketiduran

Nah, kalau biasanya kebanyakan orang dewasa itu bilangnya mengaku insomnia, tapi ibu-ibu yang punya anak masih kecil pasti tau dan sering mengalami menemani anak tidur tapi malah ikut ketiduran. Pernah saya terbangun sebelum tengah malam, dan masih ada waktu sebenarnya untuk menulis, tapi kok ya rasanya enakan tidur daripada menulis.

Keasikan Browsing

Penyebab lain yang juga sering terjadi ketika punya ide dan tidak langsung dimulai. Kepikiran cek ini itu dulu. Baca-baca tulisan ataupun berita yang ada. Terus semakin bingung mau nulis apa karena sepertinya semua hal sudah dituliskan orang lain.

Ini kasusnya sama seperti membuka Netflix dan bingung mau nonton apa, karena semua terlihat menarik, tapi semua diantrikan dulu dan tidak langsung dimulai menonton.

Bolos sehari yang berkelanjutan

Walaupun pernah berhasil menulis setiap hari sebulan penuh, godaan untuk bolos menulis itu selalu ada. Kadang saya turutin dan berkata ke diri sendiri: ah gak apa-apa deh bolos 1 hari, besoknya kan bisa lagi. Tapi ternyata yang terjadi bukan cuma bolos 1 hari. Mengembalikan kebiasaan untuk memaksakan diri menulis itu lebih sulit.

Saya tahu sebagian orang memilih tidak menulis daripada tulisannya gak ok. Tapi kadang-kadang tulis aja dulu, edit kemudian kalau mau lebih oke lagi bisa kok.

Takut ada yang salah paham dengan tulisan saya

Nah, ini nih bagian yang biasanya bisa bikin bolos berhari-hari. Saya memilih untuk tidak menuliskan terlalu banyak opini untuk hal-hal yang bukan bidang saya, tapi ya kadang ada aja opini yang jadi topik pemikiran saya dan susah buat saya menuliskan topik lain kalau kepala lagi dipenuhi topik tersebut.

Terkadang agak sulit memformulasikan apa yang saya rasakan menjadi kalimat yang tidak akan salah dimengerti. Saya berusaha menerapkan prinsip: kalau tidak bisa menuliskan hal yang positif lebih baik tidak usah dituliskan. Tapi ya tidak selalu mudah untuk menjadi orang yang positif.

Idealisme Sesaat

Kenapa judulnya sesaat? karena ketika membaca tulisan orang lain yang bagus-bagus, ada perasaan: duh kok tulisan saya gak bisa seperti mereka ya? terus akhirnya minder sendiri dan malah gak jadi nulis. Padahal biasanya juga menulisnya gak ikut aturan baku juga gak apa-apa, ini kan tulisan di blog, bukan tulisan di media yang harus memperhatikan ejaan yang benar dan pemakaian kata yang baku (walaupun kalau memang bisa menulis dengan baik dan benar ya tentu lebih baik).

Kesimpulan

Kesimpulan hari ini saya jadi nulis walaupun mungkin kurang berkualitas hahaha. Mungkin kalau besok-besok kepikiran lagi hal lain yang bikin saya gak jadi nulis, akan saya edit tulisan ini. Kalau teman-teman pembaca biasanya gak jadi nulis karena apa?

Flash Fiction: Bunga jadi Pengantin

Bunga tersenyum, hari yang dinantikannya tiba si usianya yang ke 27 tahun. Di seberang sana, dia melihat sosok yang juga tersenyum padanya dan berjalan dengan langkah pasti ke arahnya diiringi alunan piano yang dibawakan adik sepupunya.

Bunga tak ingin melepaskan pandangan matanya dari mata kekasihnya, tapi aduh maskara yang terlalu tebal membuat matanya terasa gatal. Mau tak mau Bunga mengedipkan matanya sepersekian detik. Ketika Bunga membuka matanya lagi, dia hampir berteriak histeris.

Arghhhh kemana lelaki yang tadi berjalan ke arahnya. Kemana hadirin yang terlihat ramai dan kemana alunan denting piano.

Bunga menutup matanya lagi dan berharap kembali ke scene sebelumnya. Dia memandang ke baju yang dia kenakan. Alamak, baju tidur, jadi tadi itu cuma mimpi. Huh seballll.

Refleksi: Sehari Satu Tulisan 2019 bersama KLIP

Gak terasa, hari ini sudah hari terakhir untuk mengumpulkan tulisan untuk program sehari satu tulisan 2019 bersama KLIP. Apaan sih KLIP itu? Mungkin ada yang bertanya-tanya selama ini kenapa ada #KLIP di setiap postingan saya.

KLIP itu singkatan dari Kelas Literasi Ibu Profesional. Terus mungkin ada yang mikir: apakah yang tergabung di sini hanya boleh ibu-ibu saja (sudah menikah?) jawabnya tidak harus ibu-ibu, tapi syaratnya wanita. Atau mungkin ada yang bertanya-tanya apakah yang bergabung di sini maksudnya ibu-ibu bekerja? gak juga, bebas ibu bekerja maupun ibu bekerja di rumah. Terus kenapa namanya ibu profesional? Karena awalnya terbentuk komunitas ini dari komunitas ODOP99days (one day one post selama 99 hari dalam setahun) yang dibentuk oleh komunitas Ibu Profesional.

Terus apakah setelah setahun menulis semua otomatis jadi ibu profesional? haish mana ada sih yang otomatis, dan ini cuma kelas literasinya, untuk orang-orang yang suka menulis atau suka curhat dalam bentuk tulisan juga boleh.

Nah kembali ke awal. Jadi setelah setahun (ya walaupun belum 365 hari, tapi anggaplah sudah setahun ya), gimana pencapaian selama ini? Sudah nulis apa saja?

Pencapaian 2019

Buat saya pencapaian terbesar adalah berhasil mengisi blog ini secara konsisten dan bahkan ada beberapa kali bisa menulis 30 hari dalam sebulan (sebelumnya bertahun-tahun blog ini gak saya isi). Beberapa topik yang terbanyak itu cerita mengenai tempat wisata maupun event di Chiang Mai dan memulai posting belajar tulisan Thai (walau belum selesai), keisengan belajar bahasa (memulai belajar bahasa Korea dan iseng sempat belajar bahasa Belanda dan Rusia pakai aplikasi), review aneka hal mulai dari aplikasi, buku, gadget, film dan tentunya cerita seputar kdrama.

Kalau dulu, disuruh nulis setiap hari, pasti saya akan langsung bilang: aduh mau nulisin apa sih di blog? ntar yang baca bosen loh. Tapi ternyata dengan sedikit memaksakan diri, setiap hari bertanya: nulis apa ya hari ini? ternyata ada aja hal yang bisa dituliskan. Sebenarnya ada lebih banyak lagi hal yang pingin dituliskan, tapi terkadang kalau menuliskannya tidak langsung selesai, mood untuk meneruskan tulisan sudah hilang.

Dengan kegiatan menulis ini, saya juga jadi menemukan komunitas yang saling menyemangati. Jadi KLIP ini selain ada di FB juga ada di WA Group. Dari WAG KLIP saya jadi berkenalan lebih banyak dengan wanita-wanita yang multitasking dan tidak pernah berhenti belajar. Makanya nih beberapa tulisan tahun ini juga dari keisengan belajar bahasa atau nyoba-nyoba aplikasi. Kadang-kadang memaksakan menyelesaikan baca buku juga biar bisa dituliskan (walaupun ini masih kurang banyak hasilnya).

Target yang Belum Kesampaian di 2019

Nah setelah menulis banyak, dan melihat teman-teman di group yang tulisannya bagus-bagus, ada perasaan: wah saya bisa gak ya kayak gitu? menulis itu ternyata bukan hanya butuh konsistensi, tapi juga harus selalu berlatih. Gak bisa deh jadi penulis yang moody, harus bisa menyediakan waktu dan kerangka berpikir yang baik. Aduh ini sih udah belajar dari jaman sekolah dulu, tapi entahlah kenapa saya sungguh sulit menulis dengan mengikuti kerangka karangan. Berarti PR buat saya adalah latihan menulis mengikuti kerangka karangan.

Target lain yang juga belum kesampaian itu pengen menulis fiksi. Bukan buku, tapi sekedar nulis-nulis aja entah itu cerpen atau cerbung. Tapi tulisannya yang 100 persen fiksi – dan bukan dari kisah siapa-siapa. Tapi karena selalu ada perasaan: aduh ntar ini jadi kayak cerita si itu atau wah ini kok kayak kisah nyata si anu dan takut dia tersinggung, akhirnya gak jadi-jadi. Mungkin harus belajar bikin dunia imajinasi 100 persen dengan kemampuan yang tidak nyata? – ah ini mah tambah susah kali.

Rencana Menulis 2020

Nah ini sungguh sulit. Belakangan ini lagi dilanda kemalasan luar biasa untuk menulis di blog (padahal Facebook juga ga diupdate udah beberapa bulan). Jadi sepertinya untuk mengalahkan si malas, mari kita pasang target baru lagi. Tentunya dengan tetap mengikuti program KLIP 2020 yang sedang disusun oleh tim admin.

Satu lagi yang ingin dilakukan itu mencari teman buat nulis bareng estafet. Jadi pernah kepikiran, latihan nulis fiksi dengan bergantian meneruskan cerita yang dituliskan orang lain. Misalnya tiap orang dibatasi selama 5 menit. Kalau ada 3 orang dan dikerjakan selama 30 menit, kira-kira ceritanya akan seperti apa? Ceritanya menulis bebas aja, penasaran apakah ceritanya akan sesuai dengan imajinasi awal penulis pertama, atau jadi bisa dikembangkan lebih lagi. Ada yang mau mencoba menulis bareng saya?

Selain rencana-rencana yang ditulis ini, ada niat merapihkan blog-blog saya yang lain yang pernah ditulis. Belakangan ini hobi merajut dan menjahit sudah dimulai, jadi ya bisa juga beberapa tulisan akan muncul di blog saya yang risna.info.

Akhirnya tulisan ini selesai juga. Terimakasih untuk teman-teman di KLIP terutama para admin yang sudah membuat saya harus merenungkan perjalanan menulis ini hehehe. Buat pembaca yang budiman, walaupun ini tulisan setoran terakhir KLIP tahun ini, bukan berarti ini tulisan saya terakhir tahun ini ya, siapa tahu setelah gak wajib setoran saya masih pengen nulis-nulis tahun ini hehehe.

Yang pasti 2020, Joe juga akan lebih rajin menulis di sini. Saya tau darimana? karena sejak saya rajin mengisi blog ini, dia malah gantian kurang rajin ngisi blog. Beberapa hal di tahun 2019 ini mungkin terlewat tidak/belum kami tuliskan (karena saya tipe malas nulis yang udah kelewatan), nanti biar Joe aja yang tulis yang udah lewat hehehe.

Terimakasih sudah membaca tulisan ini sampai selesai, dan nantikan cerita-cerita kami selanjutnya.

iseng foto di salah satu mall di Chiang Mai

Hukum Newton dan Menulis

Menurut wikipedia:

Hukum I: Setiap benda akan mempertahankan keadaan diam atau bergerak lurus beraturan, kecuali ada gaya yang bekerja untuk mengubahnya.

Artinya:

  • Sebuah benda yang sedang diam akan tetap diam kecuali ada resultan gaya yang tidak nol bekerja padanya.
  • Sebuah benda yang sedang bergerak, tidak akan berubah kecepatannya kecuali ada resultan gaya yang tidak nol bekerja padanya.

Kalau waktu belajarnya dulu, sederhananya begini: benda yang diam akan selalu diam sedangkan yang bergerak selalu bergerak.

Terus apa hubungannya dengan menulis? Jadi hari ini sebenarnya sudah ada beberapa ide untuk menulis, tapi ditunda dan tidak dimulai, hasilnya? tulisannya ya tidak ada (yang tidak bergerak cenderung tidak bergerak).

Terus waktu nunggu anak-anak, saya lanjutin baca bukunya Mark Manson: The Subtle Art of Not Giving a F*ck dan bertemu dengan prinsip: Do Something! Dari penjelasan panjang lebar yang kapan-kapan akan saya tuliskan review bukunya kalau sudah selesai baca semua, ada nasihat guru matematikanya katanya begini: “Kalau kamu lagi stuck dengan sebuah persoalan, jangan cuma duduk dan berpikir, tapi kerjakan aja. Walau kau gak tau apa yang sedang kau kerjakan, dengan mulai mengerjakannya nantinya kau akan dapat ide yang benar untuk mengerjakannya”.

Terus ada lagi katanya kadang-kadang jawaban dari pertanyaan ‘bagaimana caranya’ itu jawabannya sederhana: ‘ya kerjakan saja’. Jadi jawaban pertanyaan saya: mau nulis apa hari ini? ya mulai aja nulis, nanti juga idenya datang sendiri.

Jadi ingat juga selama beberapa bulan pertama gabung di grup menulis ODOP / KLIP, saya berusaha setiap hari menulis apa saja, pokoknya nulis. Mulai saja minimal 1 paragraph. Dan benar saja, setelah memulai 1 paragraph, ide untuk paragraph berikutnya bisa datang atau mungkin bahkan ganti topik hehehe. Belakangan setelah saya mengikuti kemalasan, bolos 1 hari bisa berkepanjangan jadi bolos nulis berhari-hari.

Jadi kembali dengan hukum Newton pertama. Kalau kita diam saja, ya ada kecenderungan kita akan tetap diam dan ga ada yang selesailah. Butuh usaha untuk menggerakkan benda dari diam ke bergerak. Tenang, saya gak akan kasih rumus fisika di sini hehehe.

Sejak mengisi goal di google calendar, setiap hari jadi lebih bersemangat kalau berhasil menyelesaikan apa yang ditargetkan. Kalau lagi malas, saya liat di calendar apa yang bisa saya selesaikan walau sambil agak malas-malasan hehehe. Jadi kalau kita sudah mulai melakukannya, kecuali ada hambatan yang super besar mudah-mudahan kita akan tetap melakukan kebiasaan baik menyelesaikan target harian.

Jadi ingat, hari ini juga kebetulan ada sesi sharing dengan Miyosi, seorang teman blogger/penulis yang sudah banyak karyanya. Tipsnya ada 2 untuk tetap produktif:

  1. Pilih apa yang menjadi prioritas kita, dan fokuslah dengan pilihan kita
  2. Tetap mau belajar dan lakukan (jadi bukan belajar teori tapi gak diaplikasikan).

Pilih prioritas ini buat saya sama seperti saya menetapkan target apa saja yang harus dikerjakan setiap harinya dan fokus utama ya menyelesaikan target tersebut. Nah karena target hari ini salah satunya nulis blog, ya udah deh nulis blog walaupun isinya semi curhat begini hehehehe.

senang setiap kali menyelesaikan target harian

Rutinitas Saat Ini

Sebenarnya hari ini sudah hampir bolos menulis, tapi karena beberapa waktu belakangan ini Joshua melihat saya menulis sebelum tidur, dia menyuruh saya duduk dan menulis waktu masuk kamar. Jadi kepikiran untuk menuliskan soal rutinitas kami saat ini.

Jonathan main trampolin tiap pagi

Sejak Jonathan bisa naik sepeda tanpa roda bantu, kami membelikan dia sepeda baru dan juga membeli 1 sepeda lipat untuk Joe pakai. Sudah beberapa bulan ini, setiap bangun pagi setelah main trampolin, mereka keluar bersepeda keliling komplek rumah. Mereka tidak bersepeda hanya kalau hujan. Sebenarnya pengen juga mengajak Joshua bersepeda, tapi dia tidak menunjukkan ketertarikan untuk belajar sepeda, jadi ya sementara ini Joe dan Jonathan saja yang bersepeda. Saya menemani Joshua di rumah.

main sepeda kalau tidak hujan setiap hari

Setiap hari kami juga makan bersama. Makan pagi dan siang pasti bersama (kecuali hari di mana Jonathan ada kegiatan dengan grup homeschoolingnya), makan malam kadang-kadang tidak bersama kalau Jonathan ada jadwal Taekwondo.

Walaupun Jonathan tidak berangkat ke sekolah, tapi hampir setiap hari ada kegiatan di luar rumah. Kegiatan mengerjakan buku pelajaran hanya sampai sebelum makan siang, dan kegiatan keluar rumah biasanya setelah jam makan siang. Hari Sabtu dan Minggu jadi hari untuk keluarga.

Joshua mainan block domino disusun membentuk huruf

Setiap minggunya Jonathan ada kelas Art (1 x 2 jam), kelas piano (1 x 1 jam), kelas taekwondo (2 x 1,5 jam), kelas renang (1 x 30 menit) dan kelas kumon Thai (2 x 1 jam). Untuk kelas kumon Thai, walau ke kelas kumon hanya 2 x seminggu, tapi setiap harinya Jonathan harus mengerjakan lembar kerja kumon Thai. Jonathan dan Joshua juga pergi ke kumpulan homeschool 1 x seminggu dan kelas sensori 2 x 1 jam. Kumpulan homeschool ini berlangsung dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore dan lokasinya dekat dari rumah.

Yoga, salah satu kegiatan di grup homeschool

Untuk Joshua, karena kami belum mulai kegiatan Homeschool secara terstruktur, dia belum kami ikutkan ke kelas-kelas tambahan. Di rumah biasanya dia akan berlatih sendiri, menulis di papan tulis, menyusun puzzle tangram atau domino, atau bernyanyi-nyanyi.

Joshua rajin berlatih menulis, ada yang tahu huruf apa itu?

Kegiatan saya sendiri jadi banyak disibukkan dengan antar jemput Jonathan dan Joshua. Untuk kegiatan yang sampai agak malam, Joe yang mengantar Jonathan, sedangkan saya dan Joshua di rumah. Kadang-kadang Joshua dan saya ikutan juga sekalian makan malam di luar.

Karena sering antar jemput dan menunggu, saya jadi punya waktu untuk mengerjakan memrise atau sekedar membaca. Pernah juga mencoba untuk menulis, tapi ya masih belum bisa langsung fokus, jadi saya malas bawa-bawa laptop dan memilih mengerjakan yang bisa dikerjakan di HP saja.

Kegiatan menulis blog ini saya kerjakan biasanya selesai makan malam. Entah kenapa, walaupun ada ide atau kebanyakan ide, saya sulit menulis di pagi atau siang hari. Makanya beberapa hari ini Joshua melihat saya menulis di saat dia akan tidur. Jadinya sudah beberapa kali kalau dia masuk kamar untuk tidur, dan melihat saya tidak duduk di depan komputer untuk menulis, dia akan bilang: “Mama, go to your chair and write!”. Demikian juga dengan hari ini, padahal saya sudah niat bolos aja nulisnya. Begitulah rutin buat anak-anak. Mereka mungkin belum belajar membaca jam, tapi mereka mengingat urutan kegiatan, termasuk mengingat kalau dia mau tidur apa saja yang harus dilakukan sebelumnya termasuk apa yang harus dilakukan mama papanya hehehe.