Merdeka Finansial ala Saya

Hari ini mau nulis topik tantangan KLIP tentang merdeka finansial. Kalau dari hasil googling, ada berbagai definisi dan tips sehubungan dengan financial freedom ataupun financial independence. Tapi, saya juga punya definisi sendiri tentang kemerdekaan finansial ini.

Pohon Uang? (Sumber https://mightyinvestor.com/financial-freedom-quotes/)

Seperti halnya kemerdekaan menjadi diri sendiri, kemerdekaan finansial juga ada batasannya. Jadi merdeka itu bukan berarti bebas tanpa batas, tapi justru keleluasaan dalam keterbatasan. Keterbatasan karena uang bukan dari daun-daun yang tinggal petik di pohon.

Merdeka finansial menurut saya bukan ketika kita punya uang yang sudah tidak bisa dihitung lagi karena punya investasi yang sangat besar sehingga dalam setiap detiknya nilainya sudah berubah dan selalu bertambah. Karena walaupun mungkin ada saja orang-orang yang seperti ini, saya tidak pernah bercita-cita seperti itu.

Sudah ada banyak tulisan tentang mempersiapkan kemerdekaan finansial terutama untuk di hari tua. Tapi selain mempersiapkan kemerdekaan finansial di masa tua, kita jangan lupa untuk bisa menikmati kemerdekaan finansial saat ini. Tulisan ini membahas cara saya dan suami yang berusaha kami terapkan selama ini.

Jangan Lebih Besar Pasak daripada Tiang

Sejak kecil, orang tua saya mengajarkan untuk mencukupkan diri dengan apa yang dimiliki. Dalam hidup ini akan selalu ada yang namanya kebutuhan. Dari sekian banyak yang dibutuhkan, pilih yang benar-benar paling dibutuhkan dan disesuaikan dengan kemampuan.

Butuh sepeda? ya beli sepeda, tapi tidak harus merk yang sedang ramai digunakan orang. Butuh sepatu? ya beli sepatu, tapi kan tidak harus beli merknya. Butuh liburan? ya pergi liburan, tapi kalau hanya mampu liburan ke kota sebelah, jangan maksa harus liburan ke luar negeri. Ibaratnya, kalau dana cuma bisa pakai ponsel Xiaomi, ya jangan maksa harus beli iPhone.

Jangan membiasakan diri demi gengsi dan mengikuti gaya hidup masa kini. Tas dan sepatu mahal harga berjuta-juta mungkin memang terlihat indah selain berkualitas dan lebih tahan lama, tapi kalau daya beli bukan di tingkat itu, ya jangan dipaksakan. Beli sesuai dengan daya beli kita juga.

Dengan adanya batasan mengenali daya beli, setiap kali ada penghasilan, harus ada sebagian disimpan sebagai tabungan selain punya dana cadangan. Karena kami jauh dari keluarga, kami harus selalu punya dana cadangan untuk sewaktu-waktu pulang kampung.

Jangan Gali Lubang Tutup Lubang

Gali lubang tutup lubang terjadi, ketika kita tidak berhasil mengenali daya beli kita dan membuat pengeluaran kita lebih besar dari penghasilan. Untuk menutupi selisih yang ada, gaya hidup menyicil dengan kartu kreditpun jadi andalan. Lalu, ketika tidak berhasil membayar kartu kredit, kita membuka lubang lain, eh maksudnya kartu kredit lain untuk menutup kartu kredit sebelumnya.

Awalnya mungkin ada yang merasa pintar bisa mengakali sistem kartu kredit, tapi sebenarnya di situlah lubang kecil jadi jurang besar yang hasil akhirnya membawa kesusahan sendiri.

Walaupun dalam kehidupan masa kini kredit itu hal yang biasa, dan katanya jumlah hutang dari seorang pengusaha menunjukkan tingkat kepercayaan kepada usahanya, tapi sebagai pribadi saya merasa hutang itu memenjarakan dan kebalikan dari kemerdekaan.

Pasti banyak yang tidak setuju dengan segala teori ekonomi. Tapi buat saya pribadi, hutang itu artinya ada tambahan pembatasan dari penghasilan yang jumlahnya sudah terbatas.

Keterbukaan Pengeluaran Dengan Pasangan

Setelah menetapkan batasan untuk tidak membeli benda di luar daya beli kita dan tidak membiasakan diri berhutang, maka poin berikutnya adalah adanya kemerdekaan dalam berbelanja. Ketika pasangan mempercayakan bahwa kita bisa mengelola keuangan rumahtangga, disitulah kemerdekaan finansial sangat terasa. Untuk berbagai hal yang terkait dengan belanja rumah dan anak-anak, saya dipercayakan untuk mengelola dananya.

Joe dan saya tidak pernah sembunyi-sembunyi membeli sesuatu yang kami inginkan. Kalau misalnya Joe pingin membeli sesuatu yang harganya agak mahal (terkait hobinya), dia selalu mendiskusikan dulu dengan saya. Demikian juga dengan saya, ketika pingin membeli sesuatu yang budgetnya agak mahal, saya akan meminta pendapat dulu ke Joe. Minta pendapat di sini biasanya dilakukan untuk mengecek apakah yang kami beli ini akan berguna, benar-benar dibutuhkan, masih dalam daya beli kami atau sekedar keinginan sesaat semata.

Penutup

Saat ini, dengan prinsip merdeka finansial di atas, saya merasa kami cukup merdeka dalam finansial kami. Berbagai godaan konsumerisme sering juga menghampiri, tapi sejauh ini mudah-mudahan masih bisa tetap berada pada jalurnya.

Covid-19 tidak hanya menginfeksi kesehatan raga, tapi juga membawa masalah ekonomi di seluruh dunia. Dengan prinsip tidak berhutang dan tidak membeli di luar kemampuan, semoga saja kami bisa melalui masa pandemi dengan merdeka secara finansial.

Kalau menurut Anda, seperti apakah merdeka finansial itu?

Penulis: Risna

https://googleaja.com

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.