SEO dan Teori Menulis

Setelah membaca-baca dan belajar SEO, saya tiba pada kesimpulan kalau SEO (Search Engine Optimization) itu sebenarnya bukan hal baru dan tidak lebih dari usaha mesin memahami tulisan manusia berdasarkan kata kunci yang paling sering muncul atau dengan kata lain ide utama dari tulisan tersebut dan dicocokkan dengan masukan pengguna ketika mencari di mesin pencari.

Saya mau kasih catatan dulu, kalau saya bukan ahli SEO dan masih baru belajar. SEO yang saya pahami pun masih seputar konten tulisannya, belum membahas kode-kode lainnya ataupun teknik mempromosikan situs supaya menjangkau lebih banyak orang.

Pengertian ini saya dapatkan dari hasil menghubungkan beberapa hal yang saya ketahui dari membaca dan berdiskusi dengan teman-teman saya yang sudah lebih dulu belajar tentang SEO di DrakorClass.com. Setelah membaca lebih banyak, saya jadi tahu juga istilahnya yang saya pelajari saat ini lebih ke arah SEO On page. Padahal sebelumnya saya sudah membaca di tulisan teman saya lendyagasshi tentang SEO on Page dan off Page, tapi setelah ada Drakorclass baru benar-benar mengerti.

Cara kerja SEO (Search Engine Optimization)

Nilai SEO merupakan peringkat yang diberikan oleh mesin pencari dalam mengoptimasi waktu yang dibutuhkan ketika ada yang melakukan pencarian. Mesin pencari menerima input berupa kata kunci/keyword dari orang yang melakukan pencarian. Lalu mesin akan mengembalikan hasil berdasarkan apa yang sudah dia indeks dan beri peringkat sebelumnya.

Optimasi SEO yang dilakukan dalam situs kita merupakan usaha supaya situs kita dapat menjawab pertanyaan yang dicari. Karena mesin komputer aslinya tidak pintar (tapi cepat mengkomputasi dan bisa diajari), maka dibikinlah serangkaian aturan yang membuat mesin komputer bisa menganalisa konten dari sebuah situs. Serangkaian aturan itu bisa berupa kode html dan juga mengindeks isi artikel dan menghitung frekuensinya dan memberi nilai berdasarkan struktur dokumen.

Jadi, kalaupun kesannya jadi repot karena ada banyak yang harus diperhatikan seperti dalam tulisan saya sebelumnya, tapi intinya yang lebih penting adalah tulisannya itu sendiri harus menarik dan menjawab pertanyaan yang dicari. Usaha membuat tulisan kita gampang ditemukan inilah yang menjadi motivasi kenapa kita perlu memperhatikan saran-saran SEO.

Untuk selanjutnya, setelah membiasakan diri menuruti saran SEO, bagian yang tidak kalah penting adalah menulis konten yang isinya bisa menjawab pertanyaan orang-orang. Ketika menulis, perlu membiasakan diri untuk memikirkan pertanyaan apa yang ingin dijawab dari tulisan. Apa kira-kira pertanyaan lainnya yang bisa dijawab dari tulisan tersebut. Sisanya tugas pemilik situs untuk menuliskannya supaya bisa ditemukan oleh mesin pencari.

Misalnya dalam blog kami ini ada banyak sekali tulisan mengenai Chiang Mai. Motivasi awalnya menuliskan hal-hal tersebut sebenarnya untuk menjawab pertanyaan oleh orang yang bertanya tentang Chiang Mai. Harapannya, mereka sudah menemukannya lebih dulu jawaban pertanyaan mereka dari tulisan kami, jadi tidak perlu berulang-ulang menjawab pertanyaan yang sama (misalnya tentang tempat wisata di Chiang Mai).

Diagram Ikan Ishikawa dan Menulis

Menurut teman-teman saya, artikel yang baik itu mempunyai 1 keyword utama dan sekitar 4 keyword turunan (tergantung mau sejauh apa detail dalam artikelnya). Lalu, dari penjelasan SEO di web, selalu disebutkan kalau sebaiknya keyword itu disebutkan di bagian heading tulisan juga. Lalu saya teringat dengan diagram tulang ikan ishikawa dalam menulis yang dituliskan sepupu saya Rijo beberapa hari lalu. Terkadang, pikiran saya agak random mengingat fakta-fakta, lalu tiba-tiba seperti ada keterhubungan antara tulang ikan, keyword dan SEO.

Diagram tulang ikan ishikawa merupakan diagram untuk menggambarkan sebab dan akibat. Di mana sebuah akibat terjadi bisa jadi oleh beberapa sebab. Rijo menjelaskan kalau akibat yang diinginkan itu merupakan topik utama yang ingin dijelaskan oleh sebuah tulisan. Sedangkan sebab-sebabnya tentu saja topik yang mendukung pikiran utama. Lalu tulang ikan sebab-sebab itu masih bisa lagi dibikin duri-duri halusnya.

Waktu saya melakukan pencarian fishbone diagram for writing, saya menemukan satu contoh yang cukup menjelaskan juga. Kalau dari artikelnya, sepertinya ini tulisan seorang guru yang sedang menuliskan contoh penggunaan diagram tulang ikan untuk menulis dan hasil tulisannya. Memang kelihatannya isi tulisannya jadi lebih runut ya.

Keyword SEO Menjadi Topik Utama Tulisan

Saya mengambil kesimpulan, kalau keyword dalam SEO itu adalah topik utama dari kerangka tulisan. Keseluruhan isi tulisan dibentuk untuk menjawab atau mengakibatkan topik utama menjadi jelas untuk pembaca. Menjelaskan sebuah topik utama, tidak cukup dengan satu kalimat, apalagi kalau memang ada beberapa topik pendukung dalam menjelaskan topik utama.

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya sebutkan kalau sebuah tulisan yang disarankan mengikuti SEO memiliki judul yang singkat dan jelas dan mudah dimengerti. Selain itu juga diperlukan struktur tulisan dengan penomoran heading yang tidak melompat. Kalimat yang dipilih untuk menjadi heading juga harus diperhatikan dan sebaiknya mengandung keyword dari tulisan kita.

Jelas saja heading akan diproses atau diberi nilai lebih dibandingkan setiap kata dalam paragraf. Lagipula, komputer kan tidak benar-benar mengerti seperti manusia mengerti ketika membaca sebuah artikel. Seperti halnya ketika kita memberi heading dengan maksud memberi gambaran dari isi tulisan bagian tersebut, komputer juga akan memberi nilai lebih terhadap kata-kata dalam heading.

Heading sebagai Topik Pendukung

Heading dalam sebuah tulisan tentunya tidak hanya satu. Heading ini mewakili kerangka dari tulisan dan bisa lagi dijelaskan menjadi sub heading. Seperti teman saya bilang keyword utama membutuhkan keyword pendukung. Maka saya mengasosiasikan keyword pendukung ini sama dengan topik pendukung alias heading dan subheadingnya.

Dalam diagram tulang ikan, heading ini bisa juga duri-duri besar ataupun halus dari ikan tersebut. Heading dan subheading ini menjadi penyebab dalam menjelaskan akibat atau tujuan yang ingin dijelaskan.

Menulis Dengan Kerangka, SEO Aman

Setelah mendapatkan asosiasi dari keyword dalam SEO dan tulang ikan pada diagram ishikawa, saya mengambil kesimpulan kalau hal-hal yang dituntut oleh SEO itu tidak jauh-jauh dari pelajaran menulis dari masa sekolah dasar.

Menulis blog selama bertahun-tahun tanpa kerangka, tapi ternyata perlu kembali ke pelajaran jaman Sekolah Dasar. Saya pikir selama ini SEO itu mahluk apa, ternyata intinya ya menulislah sesuai dengan teori menulis yang sudah diajarkan sejak SD.

Kalau kita bisa menulis mengikuti kerangka karangan di mana kita sudah menyebar kata kunci dalam seluruh tulisan kita sejak membuat kerangka karangannya, otomatis tulisan kita sudah mengikuti kaidah SEO. Sisanya ya mengikuti saran-saran mengisi judul, penggunaan heading dan alt teks/ kode HTML supaya mesin pencari bisa lebih memahami tulisan kita.

Kegunaan menulis dengan kerangka

Menulis dengan kerangka sudah diajarkan dari sekolah dasar tentu ada alasannya. Supaya kita terbiasa menulis mengikuti cara yang benar. Pada akhirnya tapi latihan kitalah yang menentukan terbiasa tidaknya menulis dengan kerangka.

Pada saat menulis kerangka, kita tidak harus menuliskan secara lengkap. Kita cukup menentukan topik utama dan apa saja yang ingin dijelaskan dari topik tersebut. Setelah itu kita juga secara tidak langsung memikirkan pemilihan kata yang sebaiknya digunakan. Menggambar diagram bisa diubah dengan udah sebelum akhirnya dituangkan menjadi tulisan, dan tidak membutuhkan waktu lama.

Setelah kerangka tulisan dirasa cukup lengkap, kita bisa melanjutkan menuliskan paragraf demi paragraf berdasarkan diagram yang sudah ditentukan.

Sejak SD, kita diajarkan menulis itu butuh kerangka karangan. Kita diminta untuk menentukan apa topik utama dan topik pendukungnya. Selanjutnya ketika menuliskan paragraf kita diminta untuk menentukan terlebih dahulu apa yang menjadi kalimat utama dan kalimat pendukungnya.

Lalu sekarang, semua teori menulis dengan kerangka karangan terpetakan menjadi fishbone diagram di kepala saya. Dari situlah saya menjadi mengerti kalau keyword dalam SEO juga sebenarnya adaptasi dari penjelasan topik utama tulisan.

Penutup

Kesimpulannya, SEO itu memang belajar dari teori menulis. Search Engine atau mesin pencari berusaha mengerti isi tulisan dengan menggunakan algoritma. Ada berbagai aturan yang harus diisi supaya mesin pencari bisa membaca dan menganalisis isi tulisan kita.

Komputer berusaha untuk mengerti isi tulisan kita mulai dari menentukan judul, topik utama dan kerangka karangan sampai kemudian menuliskan tulisan dengan membuat keyword yang tersebar di seluruh tulisan yang hasilnya tulisannya menarik untuk dibaca dan menjawab pertanyaan dari yang mencari informasi.

Nantinya, ketika ada yang memasukkan kata kunci dalam mesin pencarian, maka tulisan kita bisa ditemukan dan kalau sesuai akan menjadi jawaban dari pertanyaan yang dimasukkan. Kalau teknik menulis kita sudah sesuai dengan pelajaran jaman SD, dan kita juga tidak lupa melengkapi hal-hal yang tidak bisa dibaca sendiri oleh komputer, secara tidak langsung kita sudah melakukan apa yang disarankan sesuai SEO.

Pelajaran berikutnya adalah berlatih untuk menulis dengan kerangka dan mengembangkan tulisan mengikuti kerangka karangan yang ada. Ini tuh saya sudah tahu dari dulu, tapi masih sering sulit melakukannya. Bahkan tulisan ini tidak dimulai dengan diagram tulang ikan. Semoga bisa tetap mudah diikuti ya.

Yuklah, jangan cuma mikirin SEO, tapi juga kembali berlatih menulis dengan menggunakan kerangka karangan.

2 thoughts on “SEO dan Teori Menulis”

  1. Ntaps. Inti’y menulis sesuai dgn topik yg d pilih, mengembangkan topik berdasarkan kerangka karangan dan perlu fokus juga ya supaya bahasan’y tepat sasaran dan gak bikin bingung mesin pencari?

    1. tepatnya biar ditemukan sama si mesin pencari waktu ada yang mencari informasinya, dan dijadikan rekomendasi buat yang nyari kata kunci itu hehehe

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.