Catatan Jalan-jalan di Long Weekend

Tulisan ini merupakan lanjutan dari tulisan tentang staycation pertama kami. Tanpa disadari, tahun lalu, di akhir pekan yang sama kami juga berlibur di dalam negeri Thailand. Bedanya, tahun lalu kami pergi ke Phuket dan menginap beberapa malam. Kemarin, karena tujuannya masih dekat dari rumah, kami sengaja menginap 1 malam, bersantai di penginapan dan sebelum pulang ke rumah barulah berjalan-jalan ke tempat wisata di sekitar tempat menginap.

Sarapan, telat dikit gpplah, namanya liburan

Setelah lelah berenang di hari sebelumnya, kami tidur awal dan akibatnya anak-anak bangun kepagian! Jam 6 pagi mereka sudah bangun. Rencana awal, mau berenang dulu di pagi hari. Tapi anak-anak sudah kelaparan, jadi kami mengubah rencana untuk sarapan sebelum berenang. Tapi ternyata restorannya baru buka jam 8 pagi. Restorannya juga tipe pesan dulu baru disiapkan. Alhasil, sekitar jam 8.30 baru bisa menikmati sarapan pagi. Untuk yang biasa sarapan jam 8 pagi, perbedaan 30 menit ternyata cukup terasa, hehehe.

Continue reading “Catatan Jalan-jalan di Long Weekend”

Staycation Pertama Kami

Sebenarnya ide staycation alias nginep di tempat yang cuma beberapa kilometer dari rumah tidak pernah menarik buat saya. Tapi, setelah terjadi pandemi dan Thailand aman kembali, baiklah kita membantu menggerakkan roda ekonomi sambil menyenangkan hati anak-anak.

Jonathan baru saja menyelesaikan semua pelajaran homeschooling kelas 4 nya, sebelum mulai kelas 5, kami memutuskan untuk memberi hadiah berupa liburan yang tidak terlalu jauh dari rumah. Lagipula perjalanan ke Bangkok yang kami lakukan akhir bulan Juni tidak bisa dianggap liburan, karena fokusnya ya urus passpor saja.

Hari yang cerah, selesai makan siang kami berangkat naik mobil

Tujuan liburan kali ini beneran dekat dari rumah. Menurut Google Map cuma sekitar 40 km dari rumah, tapi karena macet ya hampir 1 jam di jalan.

Menginap di tengah sawah

Salah satu kelebihan tinggal di Chiang Mai, tidak jauh dari rumah masih banyak sawah dan daerah yang serasa di kampung halaman. Tapi, karena kami tidak berniat ikut bercocok tanam, ya tentunya mencari penginapan yang walau lokasi suasana desa, tapi fasilitas modern. Wifi dan kolam renang, selain rumah yang kokoh dengan kamar mandi yang bersih tentu saja syarat utama.

Continue reading “Staycation Pertama Kami”

Chiang Mai Crafts Week 2020

Gak terasa, sudah setahun lalu ke acara Chiang Mai Crafts Week. Hari ini Kamis 6 Februari sampai hari Minggu tanggal 9 Februari 2020 berlangsung acara yang sama, Chiang Mai Crafts Week ke-5. Setelah membaca buku Show your Work, saya bisa lebih menghargai semangat acara crafts week ini. Apalagi teman-teman di komunitas merajut lokal ada yang ikut berjualan/pamer hasil karya di acara ini.

Acara tahun ini berbeda lokasinya dengan tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena semakin banyaknya peserta yang ikut pamer karya dan juga demi kenyamanan pengunjung, maka panitia mencari lokasi yang lebih besar dan lebih gampang untuk urusan parkir buat orang-orang yang ingin melihat-lihat. Acaranya diadakan di Promenada Mall. Sebuah mall yang biasanya sepi, tapi punya tempat parkir yang sangat luas.

Continue reading “Chiang Mai Crafts Week 2020”

Polusi dan Cuaca di Chiang Mai Februari 2020

Minggu lalu udara Chiang Mai tiba-tiba sangat dingin, dan beberapa hari ini mulai terasa panas lagi. Polusi udara tidak juga berkurang dan bahkan ada hari-hari di mana matahari terasembunyi dibalik kabut asap. Saya ingat, tahun lalu awal Februari masih tidak sepanas ini.

Hampir setiap hari polusinya ya begini

Akhir pekan ini, mulai hari Jumat sampai Minggu akan ada festival bunga di Chiang Mai 2020 yang merupakan kegiatan tahunan. Biasanya akan banyak sekali turis datang ke Chiang Mai untuk melihat acara ini.Taman kota juga sudah ditutup sejak minggu lalu untuk dihias dan mempersiapkan tempat acara akhir pekan ini.

udara akan semakin panas sampai akhir pekan ini

Biasanya, saya cukup semangat merencanakan melihat festival bunga ini walaupun sudah beberapa tahun tidak melihat paradenya. Paling tidak ya jadi kegiatan untuk melihat mobil hias dan juga bunga yang disusun di taman bunga. Saya ingat, festival bunga tahun lalu mama saya menyempatkan melihat event ini sebelum pulang ke Medan. Tapi tahun ini sepertinya ada keragu-raguan untuk melihat festival bunga.

selfi pake masker hehehe

Selain karena prakiraan cuaca yang sepertinya akan lebih panas dari beberapa hari ini, polusi udara juga mengurangi niat untuk berjalan-jalan di tengah keramaian. Bisa saja berjalan-jalan menggunakan masker dengan filter terhadap pm 2.5, tapi sepertinya kurang seru foto-foto pake masker begini hehehe.

Untuk mengakali cuaca panas, sebenarnya bisa saja pergi ke festival bunganya agak pagi. Tapi kita lihat saja bagaimana kondisi udara di hari Jumat sampai Minggu nanti. Kalau tiba-tiba udaranya bersih, bisa juga dipertimbangkan lagi untuk datang ke festival bunga.

Saya agak heran sebenarnya kenapa tahun ini polusi di Chiang Mai mulai sangat awal, biasanya juga mulai di akhir Februari. Padahal saya yakin banyak yang tertarik untuk liburan ke Chiang Mai untuk menghadiri festival bunga ini. Semoga tahun-tahun mendatang polusi di Chiang Mai tidak terulang lagi (walaupun ini menjadi harapan di setiap tahunnya).

Chiang Mai Maker Party 2019

Acara maker party ini pertama kali kami kunjungi di tahun 2017. Ceritanya ada sedikit dalam posting di sini. Tahun lalu kami mengunjungi juga tapi tidak kami tuliskan, dan tahun ini untuk ke-3 kalinya kami mengunjungi acara maker party. Biasanya selalu ada yang menarik untuk anak-anak walaupun sebenarnya acaranya bukan acara anak-anak.

Hadiah buat pemenang balapan mobil AI Racing

Apa sih maker party itu? Ini acara untuk menampilkan hasil karya para pencipta (maker). Biasanya sih kebanyakan berhubungan dengan IoT, tapi tahun lalu ada juga yang berhubungan dengan seni, bahkan saya ingat ada yang berkaitan dengan benang dan kain juga.

sumber: https://www.facebook.com/events/618117872049524/

Tahun ini topiknya AI for makers. Acara puncaknya ada balap mobil-mobilan yang mana masing-masing mobil-mobilan ini diprogram dengan AI (niru self driving cars). Begitu sampai di tempat acara, Joshua dan Jonathan langsung lihat ada mobil-mobilan remote control dan gak mau pindah dari sana sampe lama. Padahal, mobil-mobilan yang mereka mainkan itu bukan termasuk mobil-mobilan yang akan diperlombakan buat balapan, hehehe.

Continue reading “Chiang Mai Maker Party 2019”

Loy Kratong Chiang Mai 2019

Tahun ini, Loy Kratong jatuh tanggal 9 – 12 November. Acara menghanyutkan kratong di sungai area dekat rumah diadakan tanggal 11 dan 12 saja. Tahun-tahun sebelumnya, biasanya yang pergi ke sungai itu Joe dengan Jonathan saja. Tapi tahun ini, gantian saya dan Jonathan yang pergi. Joe di rumah dengan Joshua. Kami tidak membawa Joshua karena biasanya Joshua tidak suka dengan tempat berbau asap dan bunyi petasan yang mengagetkan.

Tahun ini, di area dekat rumah ada larangan menerbangkan lentera khom loy. Secara umum di Chiang Mai dibatasi area yang diijinkan menerbangkan khom loi. Beberapa group juga menghimbau lebih baik tidak menerbangkan khom loi maupun menyalakan petasan dan kembang api supaya tidak menambah polusi udara. Oh ya, biasanya bulan November, udara masih bersih, akan tetapi tahun ini entah kenapa udara nilai aqi udara sudah mulai mengindikasikan udara yang tidak sehat, bahkan sebelum Loy Kratong dimulai.

Awalnya rencananya mau menghanyutkan hasil karya Joshua, tapi eh ternyata kratongnya langsung nyungsep. Jadiya beli 1 lagi seharga 45 baht yang terbuat dari ice cream cone dan dibentuk seperti unicorn. Harga kratong ini bervariasi, ada yang jual 35 baht atau beli 3 seharga 100 baht, ada juga yang jual 50 baht berupa kratong bunga yang agak besar. Tadi karena saya gak berniat lama-lama di sana, saya beli dari tempat yang dekat dengan sungainya saja.

Setelah menghanyutkan kratongnya, eh Jonathan ketemu anak tetangga yang juga teman di tempat Taekwondo nya. Jadilah tadi bermain-main sebentar, termasuk memperhatikan ada ikan kecil di dekat tempat orang-orang menghanyutkan kratong. Biasanya, platform untuk menghanyutkan kratong di buat agak lebih tinggi dari air sungai. Tahun ini, platform untuk menghanyutkannya sedikit lebih rendah dari air sungai. Jadi kaki kita pasti basah kalau mau menghanyutkan kratongnya.

Kadang-kadang saya kagum dengan cara kerja pemerintah setempat dalam mempersiapkan festival seperti ini. Mereka bisa mengatur debit air sungai supaya agak tinggi dari biasanya, sehingga mempermudah untuk menghanyutkan kratong. Setelah festival selesai, mereka langsung bekerja cepat untuk membersihkan sampah kratongnya dari sungai dan air sungainya kembali lagi seperti biasa (tidak terlalu tinggi).

larangan menerbangkan khom loy

Saya bersyukur di daerah sini tidak diijinkan menerbangkan khom loy. Biasanya setiap tahun, ada lebih dari 3 sampah khomloy jatuh di halaman atau atap rumah. Tapi tahun ini, penduduk setempat cukup taat peraturan dan tidak menerbangkan khom loy. Saya tidak pernah menerbangkan khom loy, karena saya takut khom loy yang saya terbangkan membahayakan rumah atau orang lain.

Sebelum pulang, saya perhatikan selain berjualan kratong, ada beberapa penjual makanan dan minuman dadakan juga di sisi lain jalan. Dibandingkan tahun sebelumnya, rasanya lalu lintas cukup teratur dan tidak terlalu macet. Mungkin karena kemarin sebagian besar orang sudah menghanyutkan kratongnya, jadi hari ini tidak terlalu ramai.

Satu hal yang saya juga kagum dari acara seperti ini adalah kreativitas orang-orang dalam membuat kratong. Jadi kalau dulunya kratong itu terbuat dari pelepah pisang, daun pisang dan hiasan bunga. Sekarang ini orang-orang membuat kratong dari makanan seperti cone ice cream, roti tawar ataupun roti yang diberi warna-warni, dan ada juga yang dari kerupuk. Kemarin saya lihat di timeline FB saya, ada teman yang bikin kratong dari batu es dan dihias dengan makanan roti-roti. Jadi mungkin niatnya supaya tidak menjadi sampah di sungai ya.

Sambil jalan pulang, kami melihat-lihat ada apa lagi yang di jual. Ternyata ada yang jual ikan kecil juga untuk dilepaskan di sungai. Ikan sebungkus (beberapa ekor) seharga 35 baht, atau kalau mau beli 3 seharga 100 baht. Kata Jonathan, tahun depan dia mau melepaskan ikan-ikan supaya ga nyampah di sungai. Saya tulis di sini dan semoga ingat niat ini tahun depan. Cerita tahun lalu juga ada sedikit di tuliskan di sini.

Green Grizzly di Chiang Mai

Setelah sekian akhir pekan sibuk tak menentu, akhirnya hari ini menyempatkan diri untuk bawa anak-anak keluar di hari Sabtu. Udara yang sudah tidak terlalu panas juga merupakan waktu yang tepat buat jalan-jalan. Hari ini pilihan jatuh mengunjungi Green Grizzly yang baru dibuka beberapa waktu lalu.

Konsep tempat ini cukup menarik, mereka membuat pasar terapung di rawa-rawa yang penuh tanaman bunga seroja (lotus). Untuk masuk ke tempat ini kita harus membeli tiket 20 baht/orang (anak-anak gratis). Tiket itu nantinya bisa kita pakai untuk belanja makanan atau minuman dari penjual yang berjualan dari perahu dan dari coffee shop yang ada di atas rawa tersebut. Pembelian tiket dilakukan persis di depan pintu masuk area pasar terapung, lalu di dalam, kita bisa menukar uang jadi kupon belanja makanan. Nantinya kalau kupon yang kita tukar bersisa, bisa kita tukarkan lagi jadi uang baht.

Makanan dan minuman yang di jual di sana harganya juga tidak terlalu mahal dibandingkan di pasar biasa. Bisa dibilang, restoran ini memang menjual suasana dan tentunya buat yang suka foto-foto. Jalanan bambunya tidak semuanya ada pegangan di 2 sisi, beberapa bagian hanya ada di 1 sisi. Jalannya cukup lebar sih, tapi kalau tidak hati-hati bisa jatuh juga hehehe. Awalnya agak deg-deg an karena Joshua gak mau dipegangin dan Jonathan malah lari-larian. Tapi ya untungnya tidak ada insiden yang dikhawatirkan.

pegangannya hanya di 1 sisi

Jenis makanan yang dijual di dalam bagian pasar terapung ini umumnya makanan khas Thai, ada somtam, padthai, buah potong, minuman soda, goreng-gorengan. Uniknya mereka memasak makanannya di atas perahunya. Bahkan tadi saya melihat yang jual pisang goreng ya menggorengnya di dalam perahunya itu.

Di area pasar terapung ini juga disediakan gubuk-gubuk kecil untuk duduk bersantai menikmati makanan dan beberapa area dengan meja-meja panjang untuk makan dan minum.

kopi dengan gelas dan sedotan bambu yang bisa dibawa pulang

Di bagian tengah ada coffee shop yang menjual kue-kue selain minuman kopi. Bagian coffee shop ini tidak di dalam perahu, tapi lebih banyak tempat duduknya. Uniknya mereka menjual minumannya menggunakan gelas bambu dan sedotan bambu. Kalau kita memesan untuk dibawa pulangpun, mereka tetap pakai gelas bambu dan kita bisa membawa pulang gelas dan sedotan bambunya tanpa biaya tambahan.

Di bagian luar pasar terapung ada restoran lain yang sepertinya sudah lebih dulu ada. Restorannya banyak hiasan buaya (entrancenya juga ada patung buaya). Areanya cukup luas dan ada kolam ikan dengan bunga teratai disekitarnya. Anak-anak bisa bermain dengan lebih aman tanpa takut jatuh seperti di pasar terapung. Kita juga bisa membeli makanan ikan untuk memberi makanan ke ikan-ikan di kolam.

Di bagian restoran luar dan di dalam pasar terapung ada beberapa ayunan bambu besar, jadi anak-anak bisa mainan ayunan atau ya sekedar eksplorasi.

Untuk restoran di luar pasar terapung, mereka juga menyediakan game arcade yang bisa dimainkan dengan menggunakan koin. Hari ini anak-anak main tanpa menyalakan mesinnya dan udah cukup senang hehehe.

Secara keseluruhan, kalau kita pingin makan sambil bawa anak-anak main setelahnya, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Tapi karena tempatnya agak jauh dari rumah (30 menit nyetir), mungkin gak akan sering-sering juga ke sana hehehe. Harga makanannya juga tidak lebih mahal dari makan di mall.

usaha bikin foto keluarga yang gagal hehehe

Oh ya, Green Grizzly-nya awalnya saya pikir dari bonsai atau pohon besar, tapi ternyata mereka bikin patung besar yang ditutup dengan bahan sintetis seperti rumput palsu berwarna hijau. Jadi memang daya tarik dari tempat ini ya konsep pasar terapungnya.