Ketika Jumlah Like Menjadi Penting

Hari ini, 25 November, diperingati sebagai Hari Guru Nasional di Indonesia. Sebelumnya, saya ingin mengucapkan Selamat hari Guru untuk para guru di Indonesia.

Tahun 2020 ini, banyak orang tua yang harus turun tangan mendampingi anak belajar di rumah akibat pandemi. Tanpa bermaksud berdebat tentang makna kata guru, saya merasa para orang tua ini juga perlu diselamati karena mereka menjadi guru pendamping selama belajar di rumah. 

Hari ini, saya juga ingin menuliskan beberapa hal yang belakangan ini saya baca tentang dinamika belajar yang terjadi di Indonesia.

Belajar dari rumah hanya memberi knowledge

Mengutip tulisan dari teman saya yang mengikuti pengumuman tentang wacana dibukanya kembali sekolah tatap muka di semester genap tahun 2021, saya agak tertegun dengan kalimat berikut:

“Menurut pihak Kementerian PMK, keputusan ini diambil demi keselamatan pendidik dan anak didik, dan tidak berisiko kehilangan kesempatan. Karena dari Belajar di Rumah (BdR), anak hanya dapat satu dari empat aspek bersekolah, yakni knowledge; sementara untuk tiga aspek lainnya yaitu attitude, skill, dan values biasanya bisa didapatkan dan dilatih di sekolah.” 

dailyrella.com

Bukan, itu bukan kalimat dari teman saya, tapi kalimat dari kementerian dalam pengumumannya yang dikutip oleh teman saya. Saya tertegun karena sepertinya dari kalimat tersebut orang tua tidak mampu memberi aspek attitude, skill dan values, dan hanya sekolah yang mampu memberi dan melatihnya? Menyedihkan sekali rasanya membacanya.

Sekali lagi, saya tidak berniat berdebat. Kenyataanya memang sebagian besar masyarakat di Indonesia susah payah banting tulang demi mengirimkan anaknya ke sekolah untuk mendapatkan pendidikan yang dinilai lebih baik daripada di rumah saja berhadapan dengan layar komputer – yang mana kadang-kadang anaknya bukannya mendengarkan guru, tapi sibuk melakukan hal lain walau matanya ke arah layar. 

Orang tua juga punya kesibukan untuk kerja, jadi serahkan saja pendidikan anak ke sekolah, kira-kira demikian anggapan umum.

Tugas sekolah yang butuh jempol

Salah satu hal yang terjadi di masa pandemi adalah orang tua diminta mendokumentasikan kegiatan siswa, lalu sebagian meminta mereka untuk diunggah ke sosial media dan dilengkapi dengan jumlah jempol dari yang melihatnya.

Ada lagi berbagai tugas sekolah yang intinya meminta anak menciptakan konten yang diunggah ke internet. Lalu, konten tersebut diminta untuk disebarkan dan diminta mendapatkan jumlah like sebanyak-banyaknya. Nilai terbaik diberikan untuk yang mendapat jumlah jempol terbanyak, tanpa memperhatikan aspek-aspek lainnya. 

Lalu, akan ada kemungkinan yang mendapat nilai terbaik seperti di gambar berikut ini.

Begini yang terjadi kalau jumlah like menentukan peringkat

Mungkin akan ada yang bilang, kalau saya mengada-ada. Tapi, saya sudah beberapa kali tiba-tiba dihubungi oleh teman saya di sosial media untuk memberikan jempol terhadap pekerjaan anaknya. Entah apakah jempol itu akan memberi pengaruh nilai atau tidak, tapi setidaknya gurunya memberi tugas untuk anak tersebut mengumpulkan jempol.

Pertanyaan, kalau orang tuanya tidak pakai sosial media, kemana orang tuanya harus mengumpulkan jempol? Akhirnya nantinya anak yang mendapatkan jempol terbanyak adalah anak yang punya orangtua yang eksis di sosial media. Kualitas pekerjaanya bagaimana? Tidak perlu dipikirkan kualitasnya, yang penting jempolnya dong.

Mengumpulkan jumlah like itu tidak gampang loh, tapi ada lagi level berikutnya. 

Mengumpulkan pengikut sosial media

UPN Veteran Jakarta, menerima mahasiswa jalur prestasi jika memiliki subscriber 10.000 orang (selain persyaratan akademik lainnya), katanya sih persyaratan ini sesuai dengan semangat zaman, revolusi industri 4.0 

https://penmaru.upnvj.ac.id/id/export/index/pages/68/sarjana/

Saya baca, ternyata ada banyak kasus dengan popularity contest terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan ada yang akunnya dijadikan online shop segala setelah berhasil mengumpulkan banyak pengikut. Mungkin kemudian gurunya jual beli akun/followers ya hahaha.

Penutup

Mengumpulkan subscriber itu tidak mudah loh, mengumpulkan jempol sih masih lebih mudah daripada mengumpulkan orang yang bersedia subscribe ke channel Youtube atau pun akun sosial media kita. 

Selama hampir 2 bulan ini, sejak saya dan teman-teman membuat situs Drakor Class yang berisikan tulisan yang terinspirasi dari drama Korea, secara tidak langsung saya jadi belajar lagi tentang dunia sosial media yang selama ini tidak pernah terpikir untuk saya pelajari. 

Walaupun banyak yang gemar menonton drakor, tapi akun Twitter, Instagram, YouTube dan Facebook dari Drakor Class, pengikutnya masih sedikit. Mungkin juga kontennya yang kurang menarik karena tulisan kami memang terkadang terlalu serius. Untuk penggemar drakor yang menonton untuk hiburan dan lebih mengutamakan visualisasi dari aktor dan aktrisnya, tulisan kami yang terkadang minim gambar memang akan terlihat tidak menarik. 

Saya jadi mempertanyakan, bagaimana cara siswa-siswa tersebut melakukan tugas sekolahnya? Apakah cukup mengandalkan kenalan dari orangtuanya saja? Atau anak tersebut (katakanlah anaknya sudah SMA) harus bergabung dengan berbagai komunitas yang berjumlah besar lalu meminta mereka untuk memberikan jempol dan mengikuti akun mereka? Berapa lama waktu yang harus dihabiskan anak tersebut untuk mendapatkan jumlah jempol sebanyak-banyaknya?

2 thoughts on “Ketika Jumlah Like Menjadi Penting”

  1. Geleng-geleng Kepala.
    Seriuuss yaah..sampai begini?

    Kalau untuk keperluan kontes siih…oke yaah..
    Tapi tugas sekolah?!

    Errhh~
    Ada yang salah ini.

    1. hihi, aku juga bacanya geleng geleng, soalnya ngerasain susahnya ngumpulin jempol buat drakorclass, hehehe

Tinggalkan Balasan ke rhin Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.