Selamat Tahun Baru 2021

Hari ini sudah tahun 2021 saja. Tulisan kilas balik 2020 belum selesai, dan saya bahkan belum punya catatan refleksi ataupun resolusi untuk 2021. Walau judulnya hari ini tahun baru, tapi rasanya tidak berbeda dengan hari-hari lainnya. Ada sih bedanya, sedikit, bedanya kalender berganti jadi 2021, hehehe. Tapi karena saya tidak punya kalender cetak, ya tidak terasa juga pergantian kalendernya.

Tahun 2020 merupakan tahun di mana banyak hal berjalan tidak sesuai dengan rencana semula untuk setiap orang. Tapi sekarang kita bisa sampai juga ke tahun 2021 dan tetap berharap semoga 2021 membawa harapan lebih baik untuk kita semua. Belajar dari tahun 2020, semoga saja rencana di tahun 2021 bisa lebih berhasil juga, karena tentunya kita mulai adaptasi dengan pola normal baru.

Buat saya, tidak akan mudah melupakan tahun 2020, tahun di mana pandemi terjadi dan roller coaster emosi tidak bisa dihindari. Tahun 2020, tahun di mana saya dan keluarga menghabiskan waktu sebagian besar di rumah saja. Segala yang tak terpikir sebelumnya, ternyata harus diterima dan dijalani saja.

Apapun yang telah terjadi di tahun 2020, saya tetap mengucapkan syukur pada Tuhan, karena untuk pertama kali sejak bapak saya meninggal, saya bisa berkumpul “virtual” dengan mama, kakak dan adik yang lokasinya semua berbeda tapi disatukan oleh teknologi.

Harus diakui, kalau tidak ada pandemi, mana mungkin ini terjadi. Walau teknologi video conference sudah ada sejak beberapa tahun lalu, tapi masing-masing biasanya punya acara masing-masing di malam tahun baru, jadi tidak akan bisa berkumpul bersama seperti tahun ini.

Salah satu hikmah pandemi, kemajuan teknologi mengalami percepatan. Setelah hampir semua orang di Indonesia mengerti menggunakan WhatsApp, saat ini mulai berkenalan dengan Zoom dan berbagai teknologi untuk video chat beramai-ramai seperti ini.

Bertahun baru antara Medan-Jakarta dan Chiang Mai

Jadilah kemarin di akhir tahun 2020, kami menutup tahun bersama. Kegiatannya sederhana, intinya mengucap syukur yang disampaikan dengan bantuan teknologi. Antara Medan, Jakarta dan Chiang Mai, kami bisa serasa sedang berkumpul bersama. Kali ini bisa berkumpul tanpa harus packing koper dulu, tidak pakai beli tiket dulu buat ketemuan.

Kebanyakan orang akan bilang rasanya berbeda bertemu virtual lewat video chat dan bertemu langsung, tapi menurut saya cara ini bisa ditiru kalau memang tidak ada dana untuk pulang sering-sering. Saya bahkan terpikir, kegiatan berdoa bersama dalam keluarga besar seperti ini bisa saja dilakukan lebih reguler dan bukan hanya di malam tahun baru saja. Dengan kemajuan teknologi saat ini, keluarga yang jauh memang bisa tetap merasa dekat, asal mau belajar sedikit saja tentang teknologi ini.

Semoga saja pandemi cepat berlalu, dengan telah ditemukannya vaksin, semoga tahun baru 2022 bisa berkumpul beneran dan tidak virtual seperti ini. Tentunya bisa sambil makan rendang dan ketupat masakan oppung, menghabiskan kue nastar dan juga makan kembang loyang. Sambil tentunya melihat anak-anak bermain dengan sepupu-sepupunya.

Oh, ya hampir lupa, saya ingin mencatat di sini rencana tahun 2021. Sebenarnya tidak ada rencana yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya, karena rencananya saya masih akan tetap menulis di blog ini. Sudah banyak mendapatkan manfaat dari menulis di blog, dan sudah banyak yang menemukan informasi berguna di blog ini, dan hal ini membuat tetap semangat untuk menulis di tahun 2021 ini.

Joe bilang, dia juga akan mulai lebih sering menulis lagi di tahun 2021 di blog ini. Tenang saja, kalau dia lupa, akan saya ingatkan, hehehe. Karena sepertinya sejak saya rajin mengisi blog ini, Joe malah semakin jarang menulis di sini.

Yuk, siapa yang punya rencana tahun 2021 untuk rajin menulis di blog ataupun catatan jurnal harian, mari berbagi kenapa kalian rasa perlu menulis setiap hari?

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.