Pentingnya Kelas Pranikah

Ali dan ratu-ratu queens

Tulisan hari ini merangkum obrolan di beberapa grup yang saya ikuti (dan isinya ibu dan istri) setelah saya membagikan tulisan tentang film Indonesia Ali dan Ratu-ratu Queens.

Sebelum saya menontonnya, ada banyak pujian tentang film ini. Ada beberapa hal yang disebutkan kalau wanita itu boleh punya mimpi dan perlu mengejar cita-citanya.

Ali dan ratu-ratu queens
Kalau mau jadi penyanyi kenapa ga jadi penyanyi di Indonesia aja sih?

Tapi, buat saya, ibunya Ali ini tetap tidak bertanggung jawab sebagai ibu atas nama cita-cita. Apalagi cita-citanya cuma mau jadi penyanyi, kalau ga sukses di Indonesia, kok ya mimpi terkenal di Amerika? Ada Smule dan Youtube tuh kalau mau jadi penyanyi masa kini.

Wanita pun boleh mengejar mimpi

Sebagai wanita, memang kita boleh kok pengen eksis dan tidak hanya sebagai istri dan ibu saja. Kita wanita itu individu dan berhak punya mimpi dan ingin didukung oleh pasangan.

Sekarang ini, wanita boleh mengenyam pendidikan dan berkarir, wanita boleh jadi apa saja kalau memang mau.

Tapi, ketika dia sudah menikah dan punya anak, apakah fair meninggalkan anaknya begitu saja dan bilang kalau suaminya tidak pernah mendukung mimpinya? Ngapain aja dia sebelum menikah?

Kelas Pranikah Itu Penting

Kesimpulan obrolan dari beberapa teman-teman adalah, seharusnya ibunya Ali dan ayahnya ikut kelas pranikah sebelum menikah.

Terlepas dari kasus Mia dalam di film di atas, ada beberapa hal yang menjadi catatan kenapa kelas pranikah itu penting.

Ungkapkan ekspektasi dan cita-cita pada pasangan

Supaya mereka bisa mengungkapkan apa yang sebenarnya ekspektasi masing-masing terhadap pasangannya. Jadi, nantinya setelah menikah, jangan saling menyalahkan kalau tidak didukung mimpinya, dan terlebih lagi, jangan sampai anaknya jadi korban.

Beberapa orang menyalahkan ayah Ali yang tidak mau ikut saja ke Amerika. Sayangnya, dalam cerita itu tidak jelas kerja ayahnya ini apa. Seorang teman juga bilang, mungkin saja suami Mia ini tidak mencukupi kebutuhan Mia.

Tapi kalau melihat sekilas, bagaimana suami Mia mengurus Ali ketika Mia bersikeras menetap di Amerika, sepertinya suami Mia cukup jago juga, dia bisa masak rendang loh!

Saya juga tidak melihat, ayahnya Ali menikah lagi, atau punya pembantu. Setidaknya, tidak ada digambarkan dalam film itu.

Kalau misalnya Mia memang bilang dari dulu dia pengen ke New York, mungkin pasangannya tidak akan jadi menikahinya. Atau mungkin juga mereka berangkat sama-sama sebelum punya anak.

Tapi, kalau setelah menikah dan punya anak meninggalkan begitu saja dan bilang tidak merasa didukung, itu aneh.

Jangan anak jadi korban

Anak tidak pernah minta dilahirkan. Film Ali dan Ratu-ratu Queens ini memang dari sudut pandang anak yang bisa tetap memaafkan ibunya walaupun sudah ditinggal sejak kecil dan ditolak ketika dia sudah bertemu di New York. Buat anak ini, cita-cita ibunya malah menjadi cita-cita dia juga.

Pada akhirnya, Ali pun memilih tinggal di Amerika dan seolah Amerika menjadi jawaban atas semua mimpi-mimpi Ali dan ibunya.

Bisa juga ceritanya anaknya tetap tidak bertemu ibunya, dan karena ayahnya tidak pernah menceritakan permasalahannya, bisa jadi anaknya akan punya trauma ga mau punya pasangan karena takut ditinggal?

Kesepakatan sebelum menikah

Orang pacaran suka mikirin yang indah-indah saja, tapi seharusnya ketika pacaran itu adalah masa untuk bersepakat hal-hal yang akan dijalani bersama ketika menikah.

Mulai dari apakah istri boleh bekerja atau diharapkan bekerja, sampai mau pakai pembantu atau tidak atau berapa jumlah anak yang diharapkan. Jangan nanti suami pengen 10 istri cuma pengen 1, kalau begini mending jangan nikah.

Penutup

Sebenarnya masih panjang obrolan di grup, ada beberapa teman yang membagikan bagaimana dia juga mengorbankan mimpinya karena diajak mimpi bareng (dan toh dia tidak menyesalinya).

Ada juga teman yang melihat suaminya melarang dia bekerja penuh waktu, tapi boleh mencari duit sebagai. hobi karena suami akan menjadi penghasil utama. Tapi semuanya itu tentu saja kesepakatan dari sebelum menikah. Bukan setelah menikah baru ribut kemudian.

Ada juga kok beberapa teman yang menjadi istri dan ibu dan tetap berkarir, tapi tentunya ini karena mendapat ijin dari pasangan dan memiliki support system sehingga semua tidak ada yang diabaikan.

Saya bersyukur kalau sebelum kami menikah, kami mendapatkan kelas pranikah dan sudah mendiskusikan berbagai hal prinsip dalam pernikahan.

Buat yang belum menikah, jangan lupa ambil kelas persiapan menikah ya. Buat yang sudah menikah, semoga masih belum terlambat untuk tidak merasa terhalang cita-cita sambil menjaga keharmonisan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.