Lebih Suka Main Game Daripada Olahraga

olahraga pilihan

Mens sana in corpore sano, adalah sebuah kutipan yang berarti “Di dalam Tubuh Yang Sehat Terdapat Jiwa Yang Kuat”.

Tulisan kali ini tak lain dan tak bukan, untuk meramaikan Tema Tantangan Menulis dari KLIP. Apa pasal Kelas Literasi Ibu Profesional tiba-tiba ngajakin olahraga? Ternyata tanggal 9 September itu diperingati sebagai Hari Olahraga Nasional.

Dipikir-pikir, 9 September itu tanggal cantik ya, eh ga ada hubungannya ya? Asal jangan olahraga jari nyari diskonan di toko online. Oke kembali ke topik. Tentang olahraga pilihanku. Walaupun sebenarnya sesuai judul, saya lebih suka main game daripada olahraga.

Kamu suka olahraga apa?

Bisa olahraga tapi tidak suka

Sebenarnya pada dasarnya aku tidak suka olahraga. Tapi dulu, setiap kali ditanya apa olahraga yang disukai? Aku akan jawab berenang. Kenapa begitu? Karena aku memang bisa berenang, tapi tidak begitu bisa olahraga lainnya.

Bulutangkis dan Tenis Meja

Sebenarnya, waktu kecil aku sering diajak main bulutangkis. Tapi, ya sekedar begitu saja. Selanjutnya lupa diumur berapa, bapak membeli meja pingpong. Jadi aku cukup bisa main tenis meja, tapi ga jago.

Kalau main lawan kakak dan adik, ya kadang menang kadang kalah. Terus kalau lagi ga sengaja, bisa juga bikin bola pingpong nya spin gitu. Entah apa namanya aku lupa.

Lompat tali, jalan kaki dan naik sepeda

Tapi tetap saja, aku tidak suka olahraga. Kalau lompat tali termasuk olahraga, ya mungkin itu lah olahragaku. Plus jalan kaki dari sekolah ke rumah.

Selain jalan kaki, dulu ke tempat kursus bahasa Inggris aku naik sepeda. Tapi itu semua bukan olahraga, tapi moda transportasi. Dari SD kelas 3, aku jalan sendiri ke sekolah dan ke tempat kursus. Padahal, jaraknya lumayan loh. Kalau sekarang, rasanya pergi sejauh itu, aku akan minta naik angkot saja, hehehe.

Sampai SMA aku banyak jalan kaki untuk menghemat ongkos angkot. Lumayan sebagian ongkos buat uang jajan. Lagipula, semua teman-temanku juga kebanyakan jalan kaki. Jadi kami berjalan itu tidak terasa sambil ngobrol juga.

Setiap kali pulang ke Medan, dan melewati jalan yang dulu sering dilalui berjalan kaki, aku sering mikir: ya ampun, aku dulu rajin sekali jalan kaki. Kenapa sekarang tidak begitu?

Kupikir aku suka berenang

Kembali ke cerita olahraga renang. Sejak kecil, aku belajar berenang itu dari bapak dan mamaku. Ke kolam berenang itu adalah kemewahan. Sama seperti dulu, ke supermarket adalah kemewahan yang hanya terjadi ketika libur kenaikan kelas dan menjelang masuk sekolah saja.

Berenang lebih sering sih dilakukan daripada ke mall. Aku ingat dulu sering merengek minta dibawa ke kolam renang, dan tiap pulang dari kolam renang jariku mengkerut, kulitku menghitam dan kupingku kadang kemasukan air.

Durasi di kolam renang tidak pernah kurang dari 3 jam, bukan berolahraga sebenarnya, lebih senang main-main airnya saja. Tapi biasanya setelah berenang, kami akan makan mi pangsit hangat. Nah jadi bingung motivasinya berenang atau mau makan mi pangsit ya.

Salah satu hal yang istimewa dengan renang adalah, kami tidak boleh meminjam ban pelampung. Walaupun pada praktiknya berenang berjam-jam kebanyakan hanya berendam dan main air, tetap saja perasaan udah bisa berenang karena ga makai ban pelampung.

Salah satu mata pelajaran di kala SMP dan SMA itu berenang, dan aku merasa bangga karena selalu mendapat nilai bagus dari pelajaran berenang dibandingkan dengan teman-teman lain yang mungkin saja jarang diajak berenang oleh orangtuanya.

Ikut Unit dan Mata Kuliah Renang

Sampai masa kuliah, aku pikir aku suka berenang. tapi ternyata… dinginnya Bandung membuatku berubah pikiran.

Kampus tempat aku kuliah ada pelajaran olahraga untuk mahasiswa tingkat pertama. Saat semester ke-2, kita bisa memilih pelajaran olahraga spesifik sesuai dengan minat masing-masing. Tanpa pikir panjang, aku memilih renang. Padahal, kalau aku tau sebelumnya, mungkin aku akan memilih yang lain. Eh tapi, aku gak tau juga mau milih apa yang lain.

Di kampus aku juga ikut Unit Renang dan Polo Air. Kemungkinan unit ini yang bikin aku mulai ga suka berenang, karena latihannya di hari Minggu pagi, air kolamnya dingin sekali. Jangankan berenang ya, usaha buat bangun pagi di hari Minggu saja sudah luar biasa, apalagi disuruh nyemplung ke kolam.

Jadilah aku mulai menyadari, kalau aku ga sesuka itu dengan olahraga renang. Tapi, namanya udah keburu nyemplung masuk unit renang dan juga keburu milih mata pelajaran renang, mau ga mau aku harus sering berenang juga deh di Bandung.

Makin malas berenang

Tulisan ini harusnya tulisan penyemangat ya, bukan tulisan membenarkan kemalasan. Tapi nggak apa-apa. Kalau mau mencari manfaat berenang (siapa tau bisa tambah semangat), bisa baca di tulisan teman saya yang mengupas habis tentang berenang.

Di unit renang yang saya ikuti, ada beberapa atlet renang. Saya perhatikan, mereka selesai berenang nggak pakai mandi loh, langsung aja gitu ganti baju. Mungkin karena mereka nyemplung kolam sehari beberapa kali ya? Entahlah. Pernah sekali saya mencoba mengikuti cara mereka. Saya pikir, mandinya nanti saja, hasilnya kulit kering dan gatal-gatal itu tadi.

Nah awalnya malas berenang itu karena mandinya ngantri lama. Atau terkadang, airnya nyala kecil sekali. Sungguh perjuangan kan rasanya, berenang 30 menit, ngantri mandi sampai mengeringkan rambut butuh 30 menit. Membayangkan lamanya waktu pasca berenang ini menjadi alasan awal malas berenang.

Jadilah saya tetap bilang saya suka berenang, tapi hanya bilang nya aja, praktiknya males hahaha. Banyak alasan, mulai dari airnya dingin di Bandung, sampai lama proses mandi selesai berenang rasanya repot.

Beberapa tahun pertama kami tinggal di Chiang Mai, ada kolam renang di apartemen yang kami tempati. Awalnya sih semangat tinggi ingin berenang. Tapi, kembali lagi dengan alasan airnya dingin sampai malas keramas abis berenang.

Beberapa tahun lalu, saya sempat agak semangat nih ingin berenang secara rutin. Tapi, ada aja alasan yang membuat tidak meneruskan kegiatan rutin itu. Jadi, harus diakui kalau memang saya tidak segitunya suka berenang.

Terus masih mau olahraga gak?

Aduh, ini tuh pertanyaan sulit dijawab. Teorinya sih saya tahu, praktiknya itu loh. Mungkin harus ada komunitas sejenis KLIP untuk memberi centang tanda olahraga secara rutin. Siapa tau kalau dapat badge setiap hari bisa lebih semangat olahraganya.

Jalan kaki dan naik turun tangga

Sebenernya dulu membeli Mi Band juga motivasinya biar ada penghitung langkah dan bisa mencoba untuk memenuhi target langkah yang ditetapkan setiap harinya. Tapi, beberapa hari pertama saja dilakukan, selanjutnya kembali ke titik nol.

Tulisan ini jadi curcol ya, hehehe. Mungkin mencari teman yang sama-sama mager banget sehingga walau tahu olahraga itu penting, tetap aja sulit memulai untuk konsisten berolahraga.

Baiklah, sekarang aku akan daftarkan hal-hal yang bisa dilakukan supaya tetap olahraga walau dirumah saja. Kan ini demi menjaga tubuh sehat dan jiwa yang kuat seperti kutipan Mens sana in corpore sano.

Olahraga yang bisa dilakukan selalu itu jalan kaki. Kalau kata sepupuku DIP, kita bisa jalan kaki kelling rumah, atau sekedar naik turun tangga. Baiklah, hari ini akan diusahakan naik turun tangga mulai 10 kali aja ya, dan mungkin besok-besok ditambah 5 sampai setiap hari naik turun tangga 50 kali sehari. Kira-kira segitu jadi olahraga cukup ga ya?

Main game di Nintendo Switch

Siapa yang suka Dance Dance Revolution?

Alkisah dulu sering lihat orang main dance dance revolution di mall, tapi ga pede lah kan ikutan dance di mall. Terus pas nemu dance pad buat PS1 begini rasanya senang banget. PS1 nya dibeli pas masih di Bandung dan di bawa ke Chiang Mai. Terus ini ditemukan lagi beberapa tahun lalu dan anak pertama masih sempat mencoba mainnya.

Salah satu alasan dance pad nya ga pernah dimainkan lagi karena ada game dance di Wii. Tapi itupun ceritanya sebentar saja rajin main dance di Wii.

Just Dance Nintendo Switch

Setelah gagal rutin dance dengan Wii, waktu Nintendo Switch meluncurkan game Just Dance, kembali dicoba lagi siapa tau jadi rajin olahraga. Sebenarnya sih, dibandingkan sebelumnya, main Just Dance di Nintendo Switch lebih sering dilakukan, tapi masih banyak malasnya, hehehe.

Anak-anak juga senang nih ikutan mainan Just Dance ini. Emaknya aja yang malas (udah tau tapi tetap malas). Padahal lagu-lagunya juga lumayan lah enak didengar, ada KPop juga loh!

Just Dance 2021 (Nintendo)

Tulisan ini bukan iklan, tapi sebenarnya dibandingkan olahraga apapun, mainan Just Dance ini paling menyenangkan dan gak terasa seperti olahraga. Cuma perlu meniru gerakan yang ada dilayar, kalau mau iseng ikut berdendang nggak ada yang larang.

Anak-anak juga suka ikutan nari bersama. Gerakannya tidak harus sempurna, yang penting sih hati senang badan gerak, lebih baik daripada diam saja, ya kan! (teorinya begitu).

Ring Fit Adventure (Nintendo)

Ada lagi sebenarnya mainan Nintendo yang lebih serius untuk olahraganya, tapi ini dengan cepat bikin lelah dan ga fun buatku, namanya Ring Fit Adventure. Anakku lebih jago main ini dibandingkan aku, hehehe.

Udah deh, ga mau janji banyak-banyak di tulisan begini, nanti ditagih sama yang baca, hehehe.. Tapi kalau abis nulis ini tiba-tiba jadi rajin olahraga, nanti akan dituliskan review mainan dengan Nintendo Switchnya.

Ada yang mau main Just Dance di Nintedo Switch bareng? Siapa tau kalau ada temannya jadi rajin, hehehe.. Demi tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat kan.

Selamat hari olahraga Nasional!

4 thoughts on “Lebih Suka Main Game Daripada Olahraga”

  1. Nintendo wii bisa terintegrasi walau gak satu tempat?
    Aku penasaran, tapiii…hahhaa…beli wii ini kudu nabung heula.
    Sekarang pengennya udah macem-macem.

    Tapi setuju sih…
    Aku juga gak sesuka itu sama olahraga. Padahal kalau melihat efeknya ke tubuhku sendiri, suka amazing.
    Tapi untuk membuatnya menjadi sebuah rutinitas ituuuuh…sesuatuk~

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.