Aneka device e-ink

Dari dulu saya merasa senang dengan gadget yang memakai layar e-ink. Layar e-ink tidak memancarkan cahaya (tidak seperti layar LCD) jadi mata tidak cepat lelah. Layar e-ink juga bisa terbaca dengan jelas di luar rumah. E-ink hanya butuh daya ketika layarnya diupdate, setelah gambarnya muncul gambar terakhir tidak akan berubah walau tidak dialiri listrik lagi, jadi lebih hemat batere.

Kelemahan e-ink adalah: refresh ratenya lambat. Jika kita membeli modul e-Ink sendiri (misalnya untuk dipakai dengan Arduino), refresh ratenya dalam hitungan detik. E-reader pertama yang saya beli dulu butuh sekitar 0.8-1 detik untuk berganti halaman. Tapi sekarang sudah ada yang refresh ratenya cukup cepat untuk menonton video (walau masih kurang lancar). Kelemahan lain e-ink adalah: tidak bisa dibaca dalam gelap (karena tidak memancarkan cahaya), tapi sekarang sudah banyak device yang menyertakan backlight untuk dipakai di malam hari.

Device Lama

Device e-reader pertama saya dulu adalah Sony-PRS500, lalu Kindle Keyboard 3G (masih dipakai sampai sekarang), dan sekarang ada beberapa lagi device yang saya miliki. Posting ini adalah catatan terbaru (setelah posting terakhir mengenai ini di 2019). Dulu pernah juga Risna memakai jam tangan Pebble yang memakai e-ink, tapi karena tidak pernah dituliskan di sini, bahkan saya sudah lupa kapan membeli benda itu (tapi yang jelas sekarang sudah rusak).

Kindle keyboard 3G dulu diiklankan bisa memakai data 3G gratis seumur hidup. Tapi sekarang 3G sudah dimatikan di berbagai tempat di Amerika, dan layanan Kindle 3G sudah berhenti di sana. Tapi sampai saat ini saya masih bisa memakai layanan 3G gratis di Thailand dengan Kindle 3G.

Yotaphone 2

Yotaphone 2 ini sudah lama dibeli dan sudah lama rusak, tapi belum pernah saya tuliskan di blog ini, jadi saya catat sekarang. Ini merupakan ponsel dua layar: depannya layar biasa, dan belakangnya e-ink. Ketika dirilis, benda ini harganya 600 USD, tapi suatu hari tiba-tiba dijual di berbagai situs China menjadi 150 USD saja, jadi waktu itu langsung saya beli.

Saya cukup suka memakai device ini, karena bisa mendapatkan keuntungan e-ink dan juga bisa menonton video dengan lancar. Sayangnya suatu hari tiba-tiba layar depannya mati, lalu e-inknya juga mati. Memakai ponsel dengan 2 layar sangat mengkhawatirkan: jatuh ke arah manapun rawan rusak.

Yotaphone 2
Yotaphone 2, sisi e-Ink

Kindle Oasis gen 1

Kindle Oasis ini merupakan kindle pertama yang waterproof yang saya miliki. Ini saya beli second hand via e-Bay pada pertengahan Desember 2019. Benda ini sangat ringan dan nyaman sekali untuk membaca buku. Backlightnya juga bagus (walau generasi 1 belum mendukung warm light). Sekarang benda ini lebih sering dipakai oleh Jonathan, sudah ada belasan buku yang diselesaikan Jonathan menggunakan kindle ini.

Kindle Oasis

Dasung not eReader (e-ink Tablet/Monitor)

Dasung not eReader merupakan tablet Android, tapi memiliki HDMI Input sehingga bisa menjadi monitor. Android yang dipakai tidak standard dan tidak memiliki Google Play, tapi untungnya masih bisa diakali agar bisa memakai Google Play.

Spesifikasi Dasung Not eReader

Benda ini sangat nyaman untuk membaca manga: ukurannya besar (10.3 inch) sehingga terbaca jelas. Berbagai software Android untuk membaca berbagai buku dan komik juga tersedia baik yang legal maupun abu-abu seperti Tachiyomi (tergantung extension yang dipakai, software techiyomi bisa mendownload komik dari manapun, baik komik legal maupun illegal). Buku novel yang memiliki ilustrasi juga enak dilihat.

Membaca Buku Troubled Blood di Kindle vs Dasung

Saya dulu mempertimbangkan membeli monitor e-Ink yang besar, tapi masih mahal dan belum yakin apakah akan suka. Setelah mencoba Dasung ini, kesimpulannya saat ini layar e-ink meskipun ramah di mata untuk membaca, ternyata kurang nyaman untuk bekerja.

Dasung memakai Android

Refresh rate e-ink Dasung ini cukup tinggi bahkan bisa dipakai menonton video. Kualitas gambar dan kecepatan refresh bisa diset , tapi semakin tinggi refreshnya, maka akan ada ghosting (sisa/bayangan gambar) yang parah. Ketika mengetik kode, kodenya kurang terlihat indah karena ghosting. Berbagai theme di berbagai aplikasi perlu diubah agar terbaca dengan baik.

Batere benda ini cepat sekali habis, harus dicharge setiap hari, padahal saya sudah meminimalkan aplikasi yang ada. Saya juga sudah mencoba menggunakan FreezeYou untuk mendisable berbagai aplikasi secara temporer dan menyalakan airplane mode (mematikan bluetooth/Wifi), dan memakai mode battery saver.

M5Paper

M5Paper merupakan development kit e-ink yang memakai ESP-32. Saya dulu sempat tertarik dengan M5Paper ketika baru diluncurkan, tapi menunda membeli karena belum yakin, lalu benda ini menjadi sulit dicari di masa pandemi, dan belum lama ini mulai banyak tersedia lagi.

Dibandingkan dengan beberapa development board ESP32 yang lain, M5Paper ini memiliki layar yang cukup besar dan memiliki touch screen. Benda ini cukup mudah diprogram dengan C menggunakan PlatformIO. Saya tadinya berharap benda ini bisa tahan lama sekali charge, tapi ternyata designnya dan komponen yang dipilih kurang bagus, jadi penggunaan dayanya cukup tinggi walau di mode sleep (bisa bertahan beberapa hari, tidak sampai beberapa minggu seperti Kindle). Punya saya ternyata sudah model baru, bisa tahan lama, sudah dicoba bisa 2 bulan.

Xiaomi Mo Aan Inkpalm

Meski sudah memiliki Kindle (untuk membaca buku) dan Dasung (untuk konten lain), saya masih merasa butuh device lain. Kelemahan utama Kindle adalah: tidak bisa diinstall aplikasi lain, jadi semua konten yang ingin saya baca perlu dikonversi dulu. Kalau sudah di depan komputer untuk konversi, akhirnya diteruskan baca di komputer langsung. Web browser bawaan Kindle juga kurang nyaman dipakai.

Sedangkan kelemahan Dasung adalah: ukurannya terlalu besar dan berat jadi hanya saya pakai membaca di rumah saja. Selain itu batere cepat habis, jadi tiap malam perlu dicharge. Awal memiliki Dasung, sering saya bawa keluar tapi sering lupa dikeluarkan dari tas, besoknya batere sudah habis ketika akan dibawa lagi.

Salah satu hal yang terpikir adalah membeli ponsel Android Hisense yang memakai layar e-ink. Tapi saya masih khawatir apakah akan nyaman dipakai atau tidak, sedangkan harganya juga tidak murah (>200 USD). Akhirnya saya memilih e-reader Xiaomi MoAnn Inkpalm, harganya 120 USD.

Device ini memiliki layar e-ink resolusi tinggi, dan tidak punya kamera, tidak punya koneksi seluler, tidak punya micro SD, tidak punya colokan headphone. Menurut saya berbagai kekurangan itu sangat bagus karena devicenya tidak distracting. Device ini memiliki WIFI dan Bluetooth serta memakai OS Android, walau berbahasa China. Tapi ada petunjuk di github bagaimana mengubah bahasanya ke Inggris.

Kelemahan utama device ini hanya pada layarnya yang glossy. Andaikan layarnya matte, akan lebih enak lagi (di luar rumah tidak memantulkan cahaya). Refresh rate benda ini cukup rendah, jadi hanya cocok untuk membaca buku.

MoAnn Inkpalm terbaca jelas di luar ruangan

Aplikasi Android yang e-ink friendly

Ini sekedar catatan aplikasi apa yang menurut saya enak dipakai di device Android. Aplikasi yang kurang kontrasnya, atau memakai banyak animasi akan sulit dipakai. Aplikasi yang memakai banyak gesture (swipe, pinch, dsb) juga sulit dipakai, semuahal sebaiknya bisa dilakukan via tap saja. Lebih bagus lagi kalau scrolling bisa memakai volume button.

EInkBro adalah browser yang e-ink friendly dan open source. Sesuai namanya, ini memang dirancang khusus untuk device eink. Semua ikon dan menu bisa dipilih dengan tap. Scrolling dengan volume juga bisa dilakukan.

KoReader adalah aplikasi e-reader open source yang dioptimasi untuk e-ink. Aplikasi ini open source dan bisa terhubung ke Calibre secara langsung via jaringan. Kelemahannya aplikasi ini adalah: lambat ketika membuka ebook atau mengubah setting (misalnya font), tapi semuanya baik-baik sajaketika dipakai untuk membaca.

Tachiyomi adalah software pembaca komik yang nyaman digunakan membaca komik untuk layar besar, sedangkan kurang nyaman untuk ukuran MoAnn Inkpalm. Ada banyak setting yang bisa diset agar tampilan komik mendekati aslinya. Scrolling bisa dilakuan dengan tap

Kindle merupakan reader default dari Amazon. Menu awalnya kurang e-ink friendly, tapi bisa diset agar bisa scrolling buku dengan volume key. Setelah diset, membaca buku bisa dilakukan dengan nyaman.

Penutup

Saya berharap di masa depan semakin banyak device e-ink yang murah. Selain itu berharap juga teknologi lain kualitasnya bisa mendekati e-ink, misalnya sekarang ada yang namanya “Reflective LCD” yang tidak memancarkan cahaya, hanya memantulkan cahaya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.