Potong Rambut di Masa Pandemi

makan eskrim

Setelah sempat menikmati masa new normal, Thailand kembali mengalami gelombang baru dari pandemi Covid-19. Dengan adanya varian Delta, akhirnya Thailand pun mengalami peningkatan infeksi yang masih cukup tinggi beberapa bulan terakhir ini.

Saat ini, angka total pasien baru di Indonesia sudah menurut di bawah 10ribu kasus per hari, di Thailand masih di kisaran belasan ribu per hari. Padahal total area dan penduduk Thailand jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Indonesia.

Rambut anak-anak yang sudah semakin panjang mau tak mau tetap harus dirapihkan. Hari Minggu kemarin, kami membawa anak-anak ke tukang cukur tentunya dengan memperhatikan beberapa hal.

Hal yang perlu diperhatikan sebelum cukuran

Cukuran di masa pandemi tentunya berbeda dengan kondisi normal ataupun cukuran di masa new normal. Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Bikin janji dulu

Kalau mengikuti cerita saya di blog ini, pasti sudah tahu kalau kami setia dengan tempat cukur yang sama sejak datang ke Chiang Mai. Sejak saya tidak bisa bahasa Thai, sampai akhirnya saya punya kosakata yang cukup untuk menelpon dan bikin janji dengan ibu salon.

Jadi, sejak beberapa tahun lalu saya sudah selalu bikin janji dulu sebelum datang ke salon. Eh sebenarnya ini bikin janji bukan buat saya, tapi untuk Joe dan anak-anak.

Beberapa waktu terakhir kami pergi bersama-sama. Joe dan anak-anak sekali janji. Tapi kali ini, kami memisahkan janji cukur untuk Joe sendiri terlebih dahulu. Setelah itu baru bikin janji di hari yang terpisah untuk anak-anak.

Memisahkan hari cukur antara bapak dan anaknya tentunya untuk mengurangi waktu yang dibutuhkan berlama-lama di sebuah tempat. Anak-anak tidak perlu dipisah karena toh cukur rambut anak-anak lebih sebentar dibandingkan cukur rambut dewasa. Apalagi sejak Joshua sudah tidak pakai acara nangis-nangis untuk cukuran, semua berjalan lebih cepat.

Tukang cukurnya sudah vaksin dan taat prokes

tanda vaksin
Pemberitahuan tukang cukurnya sudah vaksin

Joe sudah cukur lebih dahulu (beda hari) dan waktu Joe cukuran, dia melihat kalau tukang cukurnya sudah vaksin. Ada tempelan pengumuman kalau tukang cukurnya sudah mendapat 2 dosis vaksin dilengkapi dengan fotonya.

Sebenarnya, seandainya dia belum vaksin, kami akan tetap cukur ke tempatnya. Sebelum pandemi pun, si ibu cukur ini selalu pakai masker ketika mengerjakan pekerjaanya. Orangnya terlihat cukup taat prosedur kesehatan, dan ya salonnya juga bukan salon besar.

Tentu saja kami jadi lebih merasa tenang ketika mengetahui ibu salon sudah vaksin. Kami berdua juga sudah vaksin. Kalau anak-anak belum vaksin karena memang belum ada dosis vaksin untuk anak di bawah 12 tahun.

Tetap memerhatikan prosedur kesehatan

Di tempat cukuran, anak-anak memang membuka masker. Tapi tukang cukurnya tidak membuka masker sama sekali. Saya perhatikan dia juga mencuci tangan sebelum mulai mengerjakan potong rambut.

Selain itu, setelah sekitar 30 menit, dia menyemprotkan alkohol ke beberapa titik di ruangan (memang ruangannya tertutup).

Waktu kami di sana, ada tambahan 1 pelanggan bapak-bapak tua datang. Tapi ya jarak antara kursi cukup jauh sih. Tempat cukurnya kan kecil, karena hanya ada 2 tukang cukur, kursi pelanggan cuma ada 2.

Pulang ke Rumah Langsung

Setelah sampai di rumah, anak-anak langsung mandi. Selain memastikan tidak membawa virus, juga supaya rambut bekas cukurnya tidak tersisa di badan. Selesai mandi, ternyata sudah waktunya jam makan siang.

Habis makan siang kami makan es krim sebagai hadiah karena anak-anak sudah cukur dan tidak pakai lama.

video cerita cukuran

Seperti sebelumnya, saya sengaja membuat tulisan ini supaya ingat kapan terakhir bawa anak-anak cukur. Kalau membuat video ini sih iseng mengasah kemampuan kinemaster saya yang mulai lupa. Siapa tahu kalau rajin bisa jadi tulisan untuk topik kinemaster juga, selain bisa membandingkan video potong rambut di masa awal belajar Kinemaster.

Penutup

Catatan dari potong rambut kemarin, lain kali ke tukang cukur bawa kacamata yang bisa menghalangi rambut masuk ke mata. Walaupun sejak awal tahun ini Joshua sudah lebih mudah dibawa cukur rambut, tapi ketika rambut yang dipotong di bagian depan masuk ke mata, dia langsung otomatis berusaha mengelapnya. Kalau tidak diperhatikan dengan benar, bukan rambutnya keluar dari mata, malah tambah banyak yang masuk ke mata (dan hidung).

Kalau ada tips lain untuk bawa anak potong rambut di masa pandemi ini, silakan tuliskan di komentar ya.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.