Nulis Apa Hari Ini?

Pertanyaan yang setiap hari saya tanyakan selain pertanyaan mau makan apa hari ini, ya tentang mau menulis apa. Ternyata, walaupun sudah menulis hampir setiap hari sepanjang 2020, mencari ide tulisan itu buat saya masih tidak selalu mudah.

Sudah sering hampir menyerah dan tidak menulis, tapi masih berhasil juga mengalahkan kemalasan dan tetap menulis.

Pertama buka dulu laptopnya, lalu mulailah menulis

Sebenarnya ada banyak hal yang bisa dituliskan,misalnya:

  • seputar perkembangan anak dan dunia parenting,
  • review tontonan, buku, atau produk yang dipakai,
  • cerita keseharian atau curhat colongan,
  • pengalaman mengurus sesuatu atau berhubungan dengan birokrasi,
  • cerita jalan-jalan atau tempat wisata yang ada di kota tempat tinggal,
  • tips seputar berbagai hal berdasarkan pengalaman,
  • mengomentari hal-hal yang sedang ramai dibicarakan,
  • menuliskan hasil obrolan dengan teman-teman

Tapi, dari sekian banyak hal-hal tersebut, ada kalanya semua terasa tidak menarik untuk dituliskan panjang lebar. Ada juga yang rasanya butuh usaha lebih untuk menuliskannya karena harus mencari referensi terlebih dahulu. Tulisan hari ini mungkin masuk kategori curhat colongan sambil berusaha berbagi dalam hal usaha saya supaya tetap menulis setiap hari.

Hal-hal yang terkadang bikin semakin sulit menulis selain masalah mood dan butuh usaha mencari referensi adalah: rasanya setiap ada topik yang menarik, ternyata saya sudah pernah menuliskannya walau mungkin waktu itu menulisnya sambil curcol hal-hal lain. Bahkan tulisan tentang mencari ide tulisan seperti hari ini juga rasanya sudah pernah saya tuliskan.

Tapi hari ini, walau sudah pernah menuliskannya, saya tetap akan meneruskan topik ini. Prinsip baru hari ini: lebih baik menuliskan topik yang sama daripada tidak menulis, hehehe. Lagipula, pembaca tulisan ini belum tentu sudah membaca tulisan sebelumnya toh.

Hal-hal yang biasanya membuat saya tidak jadi menulis, selain perasaan sudah pernah menuliskan topik yang sama antara lain:

  • malas mencari referensi atau menulis terlalu panjang
  • merasa tidak menguasai topik dengan baik
  • ketika menulis fiksi takut ada yang merasa kisahnya yang sedang dituliskan
  • ketika menulis opini takut ada yang tersinggung
  • ketika menulis cerita keseharian takut disangka pamer
  • ketika menulis tentang anak-anak dan dunia parenting takut jadi terlalu banyak informasi dan disalahgunakan orang jahat foto-fotonya
  • menunda menulis yang berakhir tidak jadi menulis
  • merasa tidak ada yang membaca jadi buat apa dituliskan
  • tidak menemukan cara menulis kritik dengan lebih positif, dan memilih tidak jadi menulis

Masih banyak alasan lain, tapi itu lah beberapa contoh yang terpikir saat ini. Dengan berbagai kendala yang sebenarnya berasal dari dalam diri sendiri, akhirnya saya pernah tidak menulis di blog ini selama beberapa tahun.

Selama 8 bulan menulis hampir setiap hari, banyak hari di mana saya tidak punya ide mau nulis apa dan ingin menyerah untuk tidak usah menulis saja. Ada hari-hari di mana tulisan saya akhirnya hanya berupa draft di google doc. Alasannya terutama karena merasa tulisannya masih terlalu mentah dan penuh emosi, saya perlu menuliskannya kembali ketika perasaan sudah tenang.

Tips menulis setiap hari

Terus, bagaimana ceritanya akhirnya tetap bisa menulis setiap hari padahal kendalanya ada banyak? Prinsip saya sih: pokoknya menulis saja. Tidak semua tulisan harus tampil di blog, tapi kalau bisa menuliskan sebagai konten blog lebih baik lagi.

Dari pagi bertanya ke diri sendiri: nulis apa hari ini?

Untuk penulis profesional, mungkin mereka sudah punya daftar topik untuk dituliskan. Tapi karena saya menulis itu untuk hobi dan melatih konsistensi, saya tidak punya daftar panjang untuk dituliskan. Setiap hari akan bertanya-tanya apa yang menarik untuk ditulis hari ini.

Kalau sudah ada draft, lihat kembali ada yang bisa dilanjutkan tidak, kalau tidak ada draft maka mulailah memikirkan apa yang bisa ditulis dari daftar hal yang bisa dituliskan di atas.

Biasanya saya akan bertanya juga ke Joe dan ke teman-teman di grup drakor dan literasi. Kalau sedang beruntung, bisa dapat beberapa ide yang bisa ditabung untuk beberapa hari ke depan, dengan catatan tidak diserang malas, hehehe.

Bikin tema harian

Beberapa penulis menyiasati mempermudah memilih topik dengan membuat tema harian. Misalnya menulis soal kecantikan setiap hari Sabtu, dan menulis seputar parenting setiap hari Minggu.

Saya pernah mencoba menerapkan hal ini, tapi sejauh ini belum berhasil, hehehe.Mungkin waktunya untuk mencoba lagi membuat tema harian. Pastinya akan ada 1 topik korea dan 1 topik seputar anak-anak setiap minggunya.

Langsung bikin draft setiap ketemu hal menarik untuk dituliskan

Kalau menemukan topik-topik yang butuh referensi dan tahu akan butuh waktu lama menuliskannya, saya akan menulis draft dulu. Bikin judulnya (yang nantinya bisa saja berubah), dan hal-hal apa yang kira-kira mau dituliskan. Beberapa draft saya akhirnya tetap draft, apalagi kalau sudah merasa lewat moment nya.

Kalau memang ketika menuliskannya terasa terlalu panjang dan bisa dipecah menjadi beberapa bagian, ya jadikan saja tulisan berseri. Tulisan saya seputar belajar bahasa Thai juga merupakan contoh tulisan berseri, tapi belakangan belum diteruskan karena penyakit malas membaca referensi.

Memaksakan diri menulis

Idealnya, harusnya saya mempunyai slot waktu yang sama setiap hari untuk menulis. Konsistensi menulis itu termasuk dalam jadwal menulis, bukan sekedar hasil tulisan. Tapi kalau memang belum bisa menulis dengan jadwal waktu yang sama, ya minimal saya akan menyempatkan diri menulis sebelum tidur.

Kalau sudah selesai makan malam dan belum menulis juga dengan berbagai alasan yang bikin ga jadi nulis, jurus terakhir yang saya keluarkan adalah memaksa diri menulis. Emang bisa? Pasti bisa. Bilang ke diri sendiri: ayo menulis.Kalau istilah teman saya: apa yang paling bikin galau hari itu, nah tuliskan saja. Kalau tulisannya terlalu pribadi, ya jangan dimasukkan ke blog.

Buat saya, bahkan dalam menulis berlaku hukum Newton seperti yang pernah saya tuliskan di sini. Lebih sulit memulai menulis setelah berhenti menulis, daripada menuliskan curhat di buku harian atau dokumen pribadi. Jadi, jangan sampai bolos menulis hanya karena berbagai bisikan dari dalam yang bikin tidak jadi menulis.

Yuk, menulis setiap hari!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.