Antara Belajar Bahasa dan Belajar Desain

Di blog ini, ada 2 hal yang sering saya ceritakan saya pelajari (selain belajar seputar blog). Yaitu belajar bahasa dan belajar desain Canva dan Kinemaster.

Dari 2 hal ini, belakangan saya lebih suka dengan belajar desain. Tapi sebelum saya beritahu kenapa, saya akan ceritakan terlebih dahulu perjalanan belajar saya.

Belajar Bahasa

Sejak kecil saya belajar bahasa Inggris. Sejak di Thailand, saya belajar bahasa Thai. Sejak nonton drakor saya belajar bahasa Korea. Sejak lahir saya menggunakan bahasa Indonesia. Dari semua bahasa yang saya pelajari, tetap saja bahasa yang paling nyaman buat saya itu bahasa Indonesia.

Belajar bahasa itu butuh waktu lama dan butuh latihan yang banyak. Sudah berpuluh tahun menggunakan bahasa Indonesia, tapi masih ada saja kosakata yang baru saya kenal.

Sudah bertahun-tahun menulis blog, tapi sesekali tangan saya masih sering salah mengeja kata, dan atau sering juga salah dalam memakai kata di yang dipisah atau disambung.

Beberapa tahun tinggal di Thailand, saya bisa berkomunikasi dengan orang lokal tapi hanya untuk kosakata sehari-hari. Kalau mereka mulai bicara hal yang ada di suratkabar atau berita tv, biasanya saja masih harus mikir lagi.

Kemampuan baca bahasa Thailand masih belum maju juga, karena tidak adanya kebutuhan untuk membaca bahasa Thai. Kemampuan menulis bahasa Thai, lebih parah lagi. Jumlah aksara Thai yang terdiri dari 44 konsonan dan 32 huruf vokal dengan sejumlah aturan sebenarnya sudah diketahui dari bertahun silam. Tapi mengetahui dan bisa menggunakan itu 2 hal yang terpisah.

Dan kemarin, saya mendapatkan level 5 Trophy dari duolingo gratisan untuk belajar Korea yang saya lakukan selama 700 hari. Terus 700 hari belajar bahasa Korea udah bisa apa?

Entahlah, saya merasa tetap belum bisa apa-apa. Kenal huruf, bisa baca sedikit, tahu sedikit kata-kata, tapi tetap tidak merasa bisa bahasa Korea karena pada dasarnya belum pernah juga dipaksa terpaksa atau memaksakan diri memakai bahasa Korea.

Belajar bahasa itu akhirnya kembali pada kebutuhan dan keterpaksaan. Kalau tidak dipakai dan tidak memaksakan diri memakai, biasanya hasilnya tidak terlalu terasa.

Belajar bahasa itu paling terasa kalau memang dibutuhkan. Seperti halnya belajar bahasa Thailand, sangat berasa bedanya dengan masa baru tiba di sini ketika belum bisa sama sekali, dengan sekarang yang sudah bisa mengerti kalau ada yang bercanda.

Belajas Desain Canva dan Kinemaster

Nah sekarang cerita belajar kelas desain menggunakan Canva dan edit video Kinemaster.

Belajar Canva baru mulai awal tahun ini, belajar Kinemaster baru beberapa bulan lalu. Walau baru belajar, tapi hasilnya bisa dilihat langsung.

Inti belajar bahasa dan desain sama sih, harus sering berlatih dan dipakai. Bedanya, kalau belajar bahasa itu perlu ada teman untuk latihan atau keterpaksaan dan kebutuhan untuk memakai bahasanya, kalau untuk desain ini lebih mirip hobi waktu merajut dulu.

Apa yang ingin didesain bisa dicari-cari. Ide nya ga selalu ada sih, tapi dengan adanya komunitas yang sama-sama belajar, jadi bisa dapat ide.

Metode belajar untuk kelas desain dengan Amati, Tiru dan Modifikasi.

Mencontek bukanlah mencontek apabila kita melakukan modifikasi. Tapi tahap awal untuk bisa menggunakan tools atua aplikasi tentunya dengan meniru apa yang diberikan atau dicontohkan tutorial.

Kesimpulan

Belajar itu katanya seumur hidup. Kita tidak berhenti belajar setelah tahu sesuatu, kita tidak berhenti juga ketika kita sudah bisa menerapkan dan mengunakannya.

Belajar bahasa butuh waktu lebih dan usaha lebih. Belajar desain, awalnya bisa terasa lebih cepat, tapi apakah menjadi mahir atau tidak, kembali lagi dengan jam terbang alias seberapa terasahnya keahlian kita.

Saya tidak tahu apakah saya masih akan belajar edit desain dan video 700 hari dari sekarang. Mungkin kalau diteruskan seperti saya belajar bahasa Korea, hasilnya bisa terasa berbeda dibanding kemampuan bahasa Korea saya.

Kembali lagi ke masing-masing orang sih dan kebutuhannya juga. Ada yang punya cerita tentang belajar sesuatu yang dilakukan sedikit setiap hari dalam jangka waktu panjang?

2 thoughts on “Antara Belajar Bahasa dan Belajar Desain”

  1. Aku belajar yang jangka panjang setelah lulus kuliah, sepertinya gak ada. Biasanya hal baru yang kupelajari itu karena lagi relevan aja dengan apa yang lagi kusukai. Pengin sih kadang, belajar memotret atau video editing dengan serius, tapi belum yakin bisa konsisten dan keluar lebih banyak waktu buat ngejalaninya, jadi ya udah gini-gini aja deh sampe sekarang.

    1. sebenernya belajar bahasa Thai ya karena tinggal di Thai, kalau belajar bahasa Korea awalnya iseng, dan pake aplikasi gak terasa udah 700 hari. Nah kalau belajar video editing skrg ini juga lebih berupa iseng dan buat ngisi blog dan sosmed aja sih. Kalau belajar serius setelah lulus kuliah juga belum pernah lagi, hehehe…

Tinggalkan Balasan ke rhin Batalkan balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.