Ngeblog Yuk!

Tulisan seputar blog sudah sering kami tuliskan di sini, tapi gak ada salahnya topik ini dituliskan berkali-kali. Banyak teman-teman saya yang dulu rajin ngeblog, sekarang ini sudah gak ngeblog dengan berbagai alasan. Alasan yang paling sering adalah: gak tau mau nulis apa.

Sejak ngeblog rutin hampir tiap hari sejak akhir 2018, saya juga sering gak punya ide mau nulis apa. Padahal ada banyak sekali hal yang ingin diceritakan pada dunia. Tapi dengan bertanya ke beberapa orang, akhirnya sejauh ini hampir tiap hari ada yang saya tuliskan.

Terkadang saya pikir, aduh ntar orang-orang bosan kali ya membaca tulisan saya tiap hari. Atau terkadang saya pikir: kayaknya topik soal ini sudah pernah dituliskan. Tapi kalau diperhatikan, bahkan situs berita online saja, jaman sekarang ini terutama untuk berita yang sedang jadi topik hangat akan mengulang 80 persen teks beritanya dan menambahkan sekitar 20 persen informasi tambahan, yang mana 5 persennya sudah tercakup di judul. Jadi tidak ada yang salah dengan mengulang topik, selama ada hal yang baru di dalamnya.

Apa saja sih yang bisa dituliskan di blog? Ya sebenarnya bisa apa saja. Sekarang ini, kalau ada hal yang ingin kita pertanyakan, reflek pertama adalah mencari tau di internet. Pertanyaan-pertanyaan kita tidak selalu terjawab di situs resmi dari produk misalnya terkait produk tertentu. Kadang-kadang blog atau forum tanya jawab sering jadi sumber informasi juga terutama misalnya mencari review dari suatu produk.

Kita bisa menuliskan sekitar kota kita, apa saja tempat wisata yang kita sudah kunjungi, mulai dari harga tiket masuk, promosi yang ada sampai informasi apakah tempat itu bisa nyaman untuk yang bawa stroller atau kursi roda. Lalu kira-kira tempat itu ada menyediakan makanan apa saja dan kisaran harga berapa.

Selain informasi tempat wisata, kita bisa juga menuliskan warung makan favorit keluarga kita. Iya warung makan juga boleh di tuliskan kok, ga harus restoran mahal yang udah punya nama. Sukur-sukur warung makan itu jadi ramai dan kita bantu penjualnya dapat rejeki lebih dan jadi hits.

Kita bisa menuliskan pengalaman kita ketika mengurus surat-surat penting, bisa juga menuliskan review kinerja dari petugas tempat pembuatan surat-surat tersebut, sekalian tuliskan kritik dan saran juga bisa, siapa tahu bos nya baca kritik dan saran kita dan jadi masukan untuk kemajuan lembaga tersebut. Kritik dan saran tetap memperhatikan kaidah jangan sampai ada yang merasa pencemaran nama baik ya.

Menuliskan tulisan yang super lengkap memang butuh effort, tapi kadang-kadang sebelum tulisan menjadi lengkap ya dimulai dengan informasi yang penting-pentingnya. Kalau mau menulis blog gak harus super lengkap, tuliskan saja fakta apa yang kita tahu. Kalau kita tidak tahu pasti nanti bisa jadi itu rumor dan tau-tau berkembang jadi hoax.

Kalau nulis curhat boleh gak di blog? ya ini sih terserah saja ya, kalaupun curhat ya dibatasi tetap memperhatikan UU ITE dan juga jangan terlalu banyak informasi pribadi dituliskan di blog. Jangan lupa, kalau tulisan di blog bisa dibaca siapa saja. Kalau misalnya curhat soal bos di kantor dan tau-tau bos baca gimana hayo!

Selain hal-hal seputar kita, lebih baik lagi kalau punya blog dengan topik tertentu. Nah kalau memang punya keahlian bidang tertentu dan dituliskan seperti masak, kerajinan tangan, berbagi tips jalan-jalan nah itu semua bisa jadi malah jadi sumber penghasilan nantinya. Misalnya nih, Joe nulis soal keisengannya ngoprek sesuatu, terus ada yang butuh orang dengan keahlian tersebut, nah jadilah dapat kerjaan ekstra kan.

Saya gak bilang ngeblog itu selalu akan jadi uang ya, tapi kalau mau fokus ngeblog untuk menghasilkan uang juga bisa. Ada banyak penulis yang berawal dari ngeblog ataupun blogger profesional sekarang ini.

Berbagi informasi yang memang kita tahu secara pasti lebih baik daripada berbagi informasi hasil gunting tempel dari orang lain. Jadi, dengan semangat berbagi informasi yang benar, ngeblog yuk!

Girls Talk

Hari ini saya bertemu dengan grup merajut lokal. Saya bertemu dengan lebih banyak lagi teman baru. Ada 10 wanita berkumpul membawa rajutan masing-masing, sambil ngopi ataupun nyemil. Dipikir-pikir, selama saya punya hobi merajut, baru kali ini saya punya kesempatan merajut bersama seperti ini.

Walaupun saya tergolong anggota baru, mereka yang umumnya lebih tua dari saya sangat ramah dan sudah seperti kenal lama saja (sepertinya ada yang lebih muda, tapi anggaplah saya paling muda hahaha), sambil merajut tentunya sambil berkenalan dan ngobrol. Obrolannya juga seru. Hobi yang sama bisa membuat topik apa saja jadi terasa nyambung.

Topik utama yang membuat semua berseru kagum atau mata berbinar-binar: benang dan perlengkapan merajut! Ya namanya juga grup merajut, tentunya benang itu bahan baku utama selain jarum rajut. Setiap ada jenis benang baru atau toko benang lokal yang tidak semahal toko benang import, semua langsung pengen tahu di mana persisnya. Dalam hati saya jadi teringat dengan masa awal saya mulai berhobi merajut ini dan berpikir: jadi kira-kira beginilah kelakuan saya waktu itu setiap lihat benang hahaha.

Ada anggota yang sering travelling, dan setiap bepergian tak lupa berburu benang. Jadi dia punya banyak sekali koleksi benang. Aduh benangnya bagus-bagus dan lembut. Untungnya sekarang saya sudah tobat untuk tidak berbelanja benang kalau memang belum habis yang sudah ada. Semoga tetap bertahan seperti sekarang dan tidak tergoda kalau keseringan liat benang bagus.

Topik-topik obrolan lainnya juga sangat beragam, mulai dari ngomongin anak milenial, cerita jaman sebelum ada internet yang terasa seperti jaman dulu kala (padahal belum selama itu), bertukar info soal dokter atau tips sehat, dan juga problem yang semua wanita akan alami: gangguan hormonal dan menopause. Saya jadi tersadar, sebelumnya saya gak pernah menghadiri grup yang terdiri dari wanita semua seperti ini. Kalaupun ada ikutan grup di facebook atau mailing list, tentunya berbeda dengan grup yang bertemu langsung seperti ini. Sambil ngobrol, tangan tetap bisa bekerja, jadi bukan sekedar nongkrong tanpa hasil.

Grup merajut ini anggotanya dari berbagai negara. Ada yang dari Brazil, Jepang, Myanmar, Korea, Canada, England, Perancis dan tentunya saya dari Indonesia. Kadang-kadang obrolannya berganti sendiri dari berbahasa Inggris ke bahasa Thai. Sepertinya karena sudah cukup lama tinggal di Thailand, kosa katanya lebih cepat menemukan kata dalam bahasa Thai daripada bahasa Inggris. Padahal semua ngakunya tidak lancar dalam berbahasa Thai.

Kalau melihat dari kecepatan mereka merajut, sepertinya saya yang paling lambat menyelesaikan rajutan. Tapi kali ini saya mau menikmati saja merajutnya, namanya juga hobi, harus dinikmati bukan untuk berlomba atau kejar setoran toh. Proyek yang kemarin sudah selesai, waktunya menentukan mau bikin apa selanjutnya. Memilih proyek rajutan ini terkadang bisa lama, seringnya malah terjebak browsing berlama-lama dan tidak juga memutuskan mau bikin apa. Sepertinya saya akan pakai jurus yang sama dengan sebelumnya: minta masukan dari temen-temen di grup dan langsung dikerjakan saja hehehe.

Crochet: Work in Progress

Hobi lama yang akhirnya dimulai lagi tahun ini adalah merajut. Setelah ditunda-tunda, akhirnya mulai juga. Ini salah satu hasil dari punya komunitas lokal yang ketemu sekali seminggu. Setelah berhenti memegang jarum rajut selama hampir 10 tahun, akhirnya hari ini merupakan hari dengan jam terbang merajut paling lama hehehe. Eh tapi jangan salah, ini bukan hasil hari ini saja, merajutnya sudah dimulai dari 2 minggu lalu, tapi dipegangnya sedikit demi sedikit hehehe.

triangle shawl crochet – work in progress

Merajut shawl triangle ini atas saran seorang teman di grup merajut. Segitiganya dimulai dari ujung yang palig kecil, lalu bergerak makin lama makin lebar. Hasilnya memang bikin semangat, karena di awal, terasa cepat pertambahan barisnya. Makin lama pertambahan barisnya makin lama karena segitiganya makin lebar hehehe.

Shawl segitiga ini belum selesai, baru kepakai 1 gulung lebih dikit benang 100 gram. Nantinya berhenti kalau dirasa besarnya sudah sesuai kalau dipakai. Mudah-mudahan benangnya gak butuh lebih dari 3 gulung, karena stok benangnya dari awal juga cuma punya 3 gulung.

tampak belakang

Hobi merajut ini cocok dipadukan dengan hobi menonton. Hari ini kami tidak keluar rumah karena udaranya super panas sampai 40 derajat celcius, padahal katanya sudah masuk musim hujan. Saya bisa duduk manis di ruang tv, pasang ac, merajut sambil nonton kdrama hahaha.

Setelah berhenti lama merajut, saya merasakan kecepatan merajut saya jauh berkurang. Terus ada terasa pegal juga di lengan atas dari menggerakkan jarum rajut. Pergelangan tangan sih masih baik-baik saja. Katanya sih merajut ini banyak manfaatnya, selain untuk menghasilkan produk rajutan, katanya ada beberapa manfaat lain dari merajut, antara lain:

  • merajut ini ada pelajaran matematikanya: kalau kita merajutnya baju, adakalanya harus menghitung ukuran badan lalu dicari tau berapa rata-rata tusukan yang dibutuhkan untuk panjang yang dibutuhkan berdasarkan jenis benang yang dipakai.
  • merajut ini baik untuk relaksasi, mengurngi stress dan juga memberikan kebahagiaan ketika melihat keindahan dari hasil karya kita
  • merajut ini mencegah pikun, karena ketika merajut, ada hitungan dan hapalan patternnya
  • merajut juga dipakai untuk melawan dementia dan treatment orang yang mengalami PTSD
  • merajut juga bagus untuk menurunkan berat badan, dengan merajut kita jadi fokus dengan rajutan dan tidak memikirkan makanan melulu. Kalau hobi nonton doang, biasanya kita cari cemilan, kalau nonton sambil merajut, tangannya sibuk bekerja jadi gak bisa sambil ngambil camilan hehehe.
  • merajut ini bagus juga untuk membuat kita aktif secara sosial, seperti saya misalnya, biasanya malas buat keluar rumah, tapi kalau buat ketemu teman merajut semangatnya lebih tinggi walaupun gak selalu bisa.

Sebenarnya masih banyak lagi manfaat merajut yang lainnya, tapi segitu juga dah lebih dari cukup untuk meneruskan hobi merajut ini.

Efek negatif dari merajut juga ada sih, misalnya jadi hobi menumpuk benang dan selalu merasa kekurangan benang, tapi akhirnya gak sempat-sempat dipakai hehehe. Nah fase menumpuk benang ini buat saya sudah lewat, sekarang ini pengen memanfaatkan tumpukan benang yang masih disimpan selama ini saja. Semoga tahan godaan untuk tidak menambah tumpukan lagi hehehe.

Belajar Piano dengan App

Note: tulisan ini merupakan opini pribadi berdasarkan pengalaman belajar piano menggunakan aplikasi Simply Piano dari JoyTunes, saya tidak dibayar untuk menuliskan ini.

Sejak Jonathan belajar piano di kursus, sebenarnya saya sudah ikut-ikutan belajar piano. Tapi saya gak punya kemampuan memainkan musik sama sekali. Dari dulu takut sama not toge (not balok), dan cuma kenal do re mi karena pernah ikut paduan suara di gereja. Saya gak bisa juga mencari tau lagu itu seperti apa kalau belum pernah dengar sebelumnya, jadi bisa dibilang saya menghapalkan nadanya setelah diajarkan.

Tahun lalu, setelah piano-pianoan yang dipakai Jonathan hancur karena dicongkelin Joshua, akhirnya kami membeli piano digital yang jumlah tuts nya sudah sama dengan piano mekanis. Karena udah ada piano beneran, saya pikir sekalian saja saya belajar piano, masa sih gak bisa.

Awalnya sih, saya belajar dari buku-buku latihan piano Jonathan, terus gak sengaja nemu aplikasi Simply Piano ini. Aplikasi ini memberikan beberapa pelajaran pertama gratis, selanjutnya kalau mau meneruskan latihan ya harus bayar berlangganan. Berlangganannya mulai dari 279 baht/bulan atau 3250 baht/tahun. Kami memilih langsung langganan setahun, karena untuk mengirim Jonathan kursus saja biayanya pastinya lebih mahal dari itu.

preview aplikasi simply piano

Beberapa bulan pertama, saya cukup rajin latihan sekitar 30 menit sehari. Saya belajar banyak chord dan juga beberapa lagu populer. Ada pengenalan piano klasik, jazz, dan blues juga. Tapi karena kesibukan saya jadi lupa meneruskan berlatih lagi.

Sejak beberapa waktu lalu Jonathan pindah tempat kursus piano yang lebih dekat rumah. Gurunya ibu-ibu tua baik hati. Waktu dia tahu saya kadang-kadang ikutan belajar dari buku Jonathan, dia bersedia mengajari saya tanpa bayaran tambahan. Wow, ini sih rejeki jangan ditolak. Jadi sekali seminggu, ketika saya antar Jonathan kursus, dia belajar sekitar 40 menit, saya diajari 15 – 20 menit. Sisanya ya saya diharapkan berlatih sendiri di rumah.

Kelemahan saya dalam bermain piano adalah: saya tidak benar-benar membaca not dalam sheet music nya. Jadi saya menghapal cuma kunci C, dan G untuk tangan kanan, dan kunci C dan F untuk tangan kiri. Selanjutnya saya cuma membaca naik turunnya not tanpa benar-benar membaca not tersebut. Kalau notnya tidak berurutan, saya sering jadi gelagapan sendiri ngitung dalam hati ini not apa dan jari mana hahaha.

Setelah sekian lama melupakan aplikasi ini, saya jadi kepikiran lagi untuk mulai berlatih lagi setiap harinya. Di aplikasi ini ada menu untuk latihan 5 menit sehari. Masa sih gak bisa nyediain waktu 5 menit sehari. Awalnya mulai 5 menit, kalau gak ada gangguan siapa tahu bisa diteruskan jadi 30 menit latihan sehari.

menu latihan 5 menit sehari dari aplikasi simply piano

Harusnya dengan latihan setiap hari, saya bisa sekalian menghapalkan not dari lembaran musik piano. Harapannya sih digabungkan dengan belajar dari guru piano Jonathan, saya jadi beneran bisa main piano, bukan cuma tahu do-re-mi saja hehehe.

Ada banyak aplikasi belajar piano sejenis simply piano ini, tapi saya gak bisa komentar untuk yang lain, karena kami berlangganannya cuma yang ini. Oh ya, langganan simply piano bisa diinstal di beberapa device Android maupun iOs, jadi selain saya, Jonathan juga bisa memakai aplikasi ini. Joshua juga sudah mulai niru-niru tapi belum benar-benar mau mencoba mengikuti instruksi meletakkan jarinya hehehe.

Namanya belajar, tidak ada yang instan, harus terus menerus melatih diri. Mungkin akan ada yang heran, ngapain belajar piano sekarang? belajar piano itu buat saya sih untuk relaksasi. Rasanya ketika bisa memainkan sebuah lagu, enak aja gitu dengarnya berulang-ulang. Kalau lihat di YouTube, banyak orang belajar setelah dewasa, dengan komitmen belajar setiap hari, dalam waktu setahun mainnya udah jagoan. Saya sih gak muluk-muluk, gak harus jagoan, asal bisa mainin piano untuk mengiringi Joshua nyanyi atau untuk nyanyi bersama keluarga saja udah cukuplah hehehehe.

Manfaat Ikut Komunitas Spesifik

Dahulu kala (duh kayak mau nulis dongeng) saya mengikuti banyak sekali miling list alumni. Mulai alumni SMA, alumni Kuliah, alumni angkatan dan grup-grup besar lainnya. Bergabung di komunitas online dengan terlalu banyak orang ternyata tidak cocok untuk saya. Bukan saya gak suka bergabung dalam sebuah komunitas, tapi sekarang ini saya menyadari kalau saya lebih suka gabung dengan komunitas yang spesifik.

Sekarang ini, komunitas online yang saya ikutin di Facebook grup ataupuan WhatsApp Grup lebih sedikit dan lebih terarah topiknya, antara lain: komunitas merajut, komunitas menulis, komunitas homeschooling dengan kurikulum yang sama dan juga ga ketinggalan komunitas penggemar kdrama hahaha. Oh ya saya bergabung juga di komunitas orang Indonesia di Chiang Mai karena jumlah kami hanya sedikit di sini dan tentunya supaya gampang kalau ada yang butuh info seputar Chiang Mai.

Lebih Fokus

Kalau jumlah anggotanya terlalu banyak dan tidak ada topik khusus, saya tidak bisa mengikuti setiap percakapan yang ada dan topiknya terlalu kemana-mana, sedangkan kalau komunitas dengan topik tertentu, biasanya pembahasannya gak akan terlalu jauh meluas dan melebar, walaupun kadang-kadang dalam grup menulis bisa jadi pembahasannya resep soto atau topik kdrama hahaha. Tapi sebenarnya topik tersebut masih berhubungan dengan dunia menulis, karena biasanya pencetusnya ada yang menulis soal resep, dan jadilah membahas gimana menulis resep yang menarik dan mudah dibaca. Bisa juga kalau ada yang menulis review soal film, jadilah yang lain merespon misalnya gimana menulis review yang menarik tanpa spoiler.

Lebih Produktif

Manfaat yang paling terasa bergabung dengan komunitas menulis sekarang ini saya bisa menulis setiap hari. Kadang-kadang ada rasa kehabisan topik karena tidak menemukan hal menarik untuk ditulis, tapi dengan obrolan yang ada di grup, biasanya jadi tetap bersemangat menggali ide-ide yang ada dan mengusahakan untuk tetap berlatih menulis setiap harinya.

Komunitas homeschooling juga memberikan perasaan senasib kalau membaca ada orangtua yang berkeluh kesah misalnya anaknya hari itu agak banyak melamun. Ada kalanya juga komunitas homeschooling memberikan ide bagaimana mengajarkan suatu topik tertentu yang sepertinya sulit untuk dimengerti. Ketika melihat anak-anak homeschool sukses menyelesaikan sampai jenjang sekolah menengah dan melanjutkan ke perguruan tinggi dengan beasiswa, disitu perasaan lelah menghomeschool tergantikan menjadi perasaan optimis.

Komunitas merajut lain lagi ceritanya, saya bergabung dengan komunitas lokal yang bertemu sekali seminggu. Nah minggu lalu akhirnya saya bisa datang ke pertemuannya, setelah sekian lama menunda memulai saya jadi lebih bersemangat dan memulai untuk merajut lagi. Rencananya saya akan tetap datang setiap minggu supaya semangatnya gak hilang lagi hehehe.

Belajar hal-hal baru

Dalam komunitas menulis yang saya ikuti, ada banyak alasan kenapa teman-teman saya itu menulis. Dari berbagai alasan, tentunya ada yang sudah lebih lama berkutat di dunia menulis dan ada yang angin-anginan seperti saya. Dari komunitas menulis ini saya mendapatkan banyak hal baru seputar dunia menulis. Mulai dari terminologi, tips praktis dan juga informasi kalau mau ikutan lomba menulis (walau yang ini belum kepikiran untuk ikutan).

Di komunitas homeschool, saya juga banyak belajar dari orang yang sudah lebih dulu menghomeschool anak-anaknya. Belajar mulai cara memilih kurikulum, merencanakan jadwal belajar, bagaimana nantinya mempersiapkan laporan nilai. Di komunitas homeschool yang saya ikuti, tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Kalau misalnya ada orangtua yang bingung kenapa pertanyaan jawabannya A dan tidak mengerti membaca penjelasan di kunci jawaban, anggota yang lain siap memberikan masukan dan bahkan link ke youtube kalau ada.

Di komunitas merajut, saya yang sudah lama gak baca-baca soal merajut juga jadi kembali diingatkan dengan berbagai terminologi merajut. Kadang-kadang bahkan jadi tau ada teknik spesifik yang saya belum pernah ketahui sebelumnya.

Bertukar Informasi Spesifik

Untuk hal ini sih setiap komunitas pastinya ada pertukaran informasi. Tapi dengan komunitas spesifik, tentunya informasinya lebih menarik untuk kita dibanding dengan informasi umum yang bisa di baca di situs berita. Kita bergabung ke komunitas spesifik karena kita menaruh minat terhadap topik spesifik tersebut otomatis informasi yang ada akan lebih menarik untuk kita.

Bebas Politik dan Flame War

Nah ini yang paling penting. Dulu sering kali dalam komunitas besar, ada saja yang suka mengirimkan berita politik ataupun memulai penghinaan (flame war) yang akhirnya bikin ribut. Hal ini gak pernah terjadi dalam komunitas spesifik. Setidaknya tidak terjadi dalam komunitas yang saya ikuti. Ada aturan tertulis ataupun tidak, biasanya anggota komunitas spesifik tidak suka memposting hanya untuk memancing keributan. Semua anggota fokus dengan topik yang diminati bersama.

Sekarang ini saya ikut komunitas kalau berasa manfaatnya saja. Kalau komunitas tidak ada manfaatnya dan hanya bikin rusuh, rasanya gak ada waktu buat membacanya. Kalau komunitas kdrama apa dong manfaatnya? ya itu sih buat tukar cerita aja kalau udah sama-sama nonton bahas bagus dan kurangnya apa, kalau belum nonton biar tau bagus tidaknya buat ditonton hehehe.

Review App iPusnas

Saya baru tahu ada aplikasi perpustakaan digital punya perpustakaan nasional Indonesia yang bisa diakses melalui aplikasi iPusnas. Waktu ke Perpustakaan Nasional akhir tahun 2018, saya gak melihat ada informasi soal ini (dan mungkin saya aja gak perhatian), padahal kalau melihat dari website dan facebooknya, aplikasi ini sudah ada sejak Agustus 2016. Kalau kata Joe, dia pernah tau soal aplikasi iPusnas ini, tapi koleksi bukunya belum banyak dan tidak ada yang menarik, jadilah kami melupakan aplikasi ini.

Beberapa waktu lalu, dari obrolan di grup KLIP, saya jadi tertarik mencoba aplikasi ini. Saya langsung mendownload dan menginstal di HP Android saya. Ternyata sekarang buku-bukunya sudah ada banyak. Berikut ini opini saya setelah beberapa hari menggunakan aplikasi iPusnas.

Instalasi dan Pendaftaran

Aplikasi ini tersedia untuk handphone Android maupun iOs, ada versi desktop juga untuk Mac dan Windows. Jadi pilihan untuk mengakses perpustakaan cukup banyak. Instalasi di desktop Mac akan meminta kita mengatur security nya sedikit, tapi setelah itu tidak ada masalah.

Pendaftaran bisa menggunakan facebook atau alamat email. Saya sudah mencoba mendaftar dengan Facebook, dan Joe mencoba mendaftarkan dengan e-mail. Setelah pendaftaran, kita diminta lagi memasukkan kata sandi terpisah untuk aplikasi ini. Pendaftarannya sangat mudah, dalam waktu 5 menit saya sudah bisa melihat ada buku apa saja dalam koleksinya.

Peminjaman dan Pengembalian

Karena sedang kepikiran mencari buku-buku SD berbahasa Indonesia untuk Jonathan, saya mencoba untuk melakukan pencarian dengan kata kunci SD. Hasil pencariannya cukup banyak buku yang bisa bermanfaat untuk homeschool kami.

Selain meminjam buku untuk SD, saya iseng juga mencari tahu apakah ada buku belajar bahasa Thai dan bahasa Korea di koleksinya. Hasilnya ternyata ada beberapa buku Thai dan Korea. Ah andai saja buku belajar bahasa Thai ini ada 12 tahun yang lalu sebelum kami ke sini hehehe.

Aplikasi ini hanya mengijinkan kita meminjam maksimum 3 buku, dan lamanya peminjaman tiap buku itu sekitar 3 hari. Kalau kita tidak kembalikan secara manual, akan ada pemberitahuan kalau bukunya sudah habis masa peminjamanya. Kita harus menghapusnya atau ya pinjam lagi kalau masih ingin baca lagi dan masih tersedia koleksi yang bisa dipinjam. Nah kalau kita sudah selesai sebelum waktu 3 hari atau ingin meminjam buku yang lain gimana? ya kita bisa kembalikan dulu salah satu buku yang tidak ingin kita baca dan pinjam buku yang ingin kita baca.

Awalnya saya tidak menemukan bagaimana cara mengembalikan bukunya, ternyata caranya adalah: dari rak buku/bookshelf kita bisa melihat di dekat info ada titik tiga di sebelah kanan buku, nah klik di situ akan ada menu share, rekomendasi dan return. Untuk mengembalikan tentunya klik return/kembalikan. Oh ya menunya mengikuti setting handset kita, karena setting di HP saya bahasa Inggris, menunya menggunakan bahasa Inggris, kalau setting HP nya bahasa Indonesia, tentunya menunya semua dalam bahasa Indonesia.

Untuk di ipad, menu return ini tidak kelihatan. Kita bisa delete/hapus, dan tindakan menghapus buku ini sama dengan mengembalikan buku yang kita pinjam.

Tampilan Buku

Setelah sukses meminjam buku, tentunya berikutnya membaca bukunya. Awalnya saya semangat 45 untuk membacanya, tapi ternyata tampilan di HP sangat kecil dan mata saya gak kuat. Tampilannya seperti menampilkan bentuk pdf nya saja yang tidak bisa diubah ukuran besar kecil hurufnya.

Begini contoh yang terlihat di layar HP, kalau mau lebih jelas membacanya, maka saya harus memperbesar tampilan dan menggeser secara manual sambil membaca, dan tentunya sangat tidak nyaman. Idealnya membaca bukunya menggunakan tablet/ipad atau di layar komputer. Padahal harapannya bisa membaca sambil nungguin anak les pakai HP hehehe. Tapi sekarang ini untung ada tablet yang bisa dipinjam kalau lagi mau baca.

Opini setelah memakai aplikasi beberapa hari

Kelebihannya:

  • Saya senang menemukan sumber untuk membaca buku-buku bahasa Indonesia yang bisa diakses dari luar Indonesia secara gratis.
  • Koleksinya cukup lengkap, ada banyak novel berbahasa Indonesia dan buku anak-anak selain buku pelajaran dan juga buku terjemahan yang dijual di Indonesia.

Kekurangannya:

  • waktu peminjamannya kurang lama hehehehe, dan cuma boleh pinjam 3 itu terlalu sedikit (banyak maunya yah)
  • tidak ada cara memasukkan buku ke wishlist atau daftar favorit. Karena cuma boleh pinjam 3, kadang-kadang perlu tempat untuk menyimpan daftar buku yang ingin dipinjam setelah 3 buku yang dipinjam selesai dibaca.
  • Saat ini hanya bisa memasukkan ke wishlist kalau buku tidak tersedia dan kita masukkan dalam antrian ingin meminjam saja. Oh ya, setiap judul buku ada batasan jumlah yang bisa dipinjam, jadi misalnya buku itu ada 5 stok, kalau sudah ada 5 orang yang meminjam maka kita harus antri menunggu giliran untuk bisa meminjamnya ketika ada yang mengembalikan.
  • Kalau bentuk e-book readernya seperti aplikasi kindle yang bisa mengubah ukuran hurufnya, pasti lebih betah bacanya di HP.
  • Aplikasinya sering crash dan prosesnya sering terasa lambat terutama waktu meminjam dan mendownload buku ke rak buku (padahal internet di sini kencang loh, gimana lagi kalau yang akses internetnya lambat), mudah-mudahan aplikasinya masih terus menerus diperbaiki.

Walaupun masih ada rasa tidak puas memakainya, ya saya tetap bersyukur ada aplikasi ipusnas ini. Sekarang jadi harus lebih rajin lagi membaca buku, dan bisa mulai mengajarkan Jonathan juga membaca buku bahasa Indonesia.

Sedikit tambahan usulan buat iPusnas, mungkin bisa ada menu membeli buku digitalnya, jadi bisa baca bukunya lebih lama dari 3 hari. Sekalian juga membantu buat penulis promosi bukunya.

Nonton Avengers: End Game

Catatan: ini cerita kesan saya menonton film ini dan tidak akan menuliskan spoiler di dalamnya.

Setelah bulan lalu nonton Captain Marvel, hari ini cari kesempatan lagi nonton ber-2 doang. Sebenarnya nonton ini merupakan hobi lama sejak jaman masih di Bandung dan sebelum punya anak. Setelah punya anak, gak ada yang bisa dititip dan ada perasaan gak tega ninggalin anak kalau masih kecil di rumah dengan pembantu. Lagian hari Sabtu kan biasanya hari bermain bersama papanya.

Udah dari sejak sebelum hari Rabu, hari releasenya film ini, Joe mulai nanyain mau nonton Avengers gak? Sebenernya sejak nonton Captain Marvel juga udah berniat nonton Avengers tapi belum tau bisa ada kesempatan lagi gak ya. Nah kalau saya sebenarnya gak merasa harus sekarang nontonnya, toh saya gak terlalu mengikuti cerita Avengers dan Marvel Series lainnya, tapi memang menonton di bioskop itu lebih rileks dan lebih bisa dinikmati daripada nonton di rumah sambil mikirin cucian piring dan anak yang sebentar-sebentar minta tolong ini itu.

Setelah menimbang-nimbang kapan waktu yang tepat untuk menonton, saya usul ke Joe, tegain aja ninggalin anak di rumah sama pembantu di hari Sabtu. Toh pembantu kami ini bukan pembantu baru dan dia sudah kenal Joshua sejak masih bayi, dan Joshua juga bisa main sendiri supaya pembantu bisa sambil kerja. Awalnya rencananya Jonathan akan diajak, tapi karena Jonathan tidak menyelesaikan tugasnya di pagi hari, kami tidak jadi mengajaknya.

Dari kemarin udah ngintip-ngintip tiket online untuk film ini. Ternyata penonton Avengers di Chiang Mai sudah gak terlalu banyak, pagi ini juga kami lihat di aplikasi onlinenya masih cukup banyak tempat kosong. Awalnya niat nonton siang sehabis makan siang, tapi karena pembantu bersedia mengurus makanan buat anak-anak, ya udah nonton lebih pagi deh. Berdasarkan aplikasi, kami berangkat jam 9.30 dari rumah dan masih akan dapat tiket untuk nonton jam 10.30 pagi.

Mall di Chiang Mai itu biasanya buka jam 10.30 di hari Sabtu, tapi sepertinya khusus hari ini sudah buka lebih pagi. Film Avengers ini paling pagi mulai jam 9 pagi, lalu ada juga jam 9.30. Tempat parkir tentunya masih banyak yang kosong kalau pagi begini, tapi waktu masuk ke lokasi bioskopnya sudah banyak orang dong hehhehe. Beli tiket dari mesin seperti bulan lalu dan kami masih punya waktu untuk duduk-duduk menunggu film di mulai.

Film ini berdurasi 3 jam, jadi ya kemungkinan akan lapar karena selesainya sudah akan lewat jam makan siang. Kebanyakan orang membeli pop corn dan makanan untuk ganjal perut. Kami sarapan agak siang, jadi optimis gak akan kelaparan hahaha, tapi bakal butuh buru-buru pulang biar bisa nemenin Joshua tidur siang.

Sebagai yang tadinya gak mengikuti semua seri Avengers, saya pikir saya akan sulit mengerti jalan ceritanya. Ternyata, penyajian ceritanya cukup menjelaskan semuanya. Proporsi cerita film ini menurut saya banyak dramanya, tapi bukan drama seperti di kdrama, lebih ke drama kehidupan. Ada bagian di mana kami juga tertawa karena memang ada bagian komedinya. Porsi actionnya tentunya cukup banyak dan cukup seru. Ceritanya berkaitan dengan film Avengers/Marvel sebelumnya

Suasana di studio yang kami tonton juga cukup baik, ada satu bagian di mana kami mendengar seorang anak menangis tersedu-sedu terbawa cerita film, di bagian ini saya masih belum ikutan sedih tapi dalam hati bersyukur gak jadi bawa Jonathan, karena di rumah aja dia sering nangis kalau ada scene sedih, kalau dibawa jangan-jangan dia juga bakal menangis tersedu-sedu. Ada juga bagian di mana semua penonton diam, hening, sepertinya larut dengan jalan ceritanya. Saya bukan orang yang gampang nangis nonton film drama, tapi adalah bagian dimana ada yang gak terasa netes di pipi. Tenang, saya gak akan spoilers apa yang terjadi.

Sebelumnya, saya pernah baca peringatan dari yang udah nonton untuk siap-siap bawa tissue waktu nonton film ini, tapi saya gak percaya. Saya pikir: ah emang apaan sih, ini kan cerita action, film superhero, masa pake tissue segala. Tapi ya ternyata sedia tissue lebih baik daripada nantinya kacamata jadi buram seperti yang terjadi dengan saya hahaha.

Ada banyak hal yang bisa direnungkan dari film ini, mengenai memilih, merenungkan kegagalan masa lalu move on, mengenai pengorbanan, mengenai menjadi diri sendiri, mengenai teamwork dan mengenai percaya pada ilmu pengetahuan.

Setelah menonton film ini, saya kagum dengan para penulis cerita superheroes ini, mereka bisa aja membuat jalinan cerita dari sekian banyak film yang tersebar sekian tahun dan diakhiri dengan 3 jam saja. Para pemainnya juga untungnya masih pada hidup ya, kalau nggak kan aneh misalnya tiba-tiba yang jadi iron man nya bukan yang dulu lagi. Saya juga jadi ngerti, kenapa penting banget buat Joe kemarin nonton Captain Marvel, karena memang ada hubungannya dengan End Game ini.

Nah setelah semua cerita diselesaikan di film ini, sekarang waktunya mencari film-film Marvel sebelumnya dengan urutan yang benar untuk mereview kembali jalan ceritanya dan mengingat kembali nama-nama tokohnya. Karena seperti halnya di film itu ada bagian yang bertanya: kamu siapa? dan dijawab kamu akan tahu nanti, naaah saya juga lupa tokoh itu siapa hehehee, tapi ya gak mengganggu sih, tetap bisa menikmati sampai selesai.

Oh ya, kalau anaknya masih kecil dan bisa dititip sebaiknya anak gak usah dibawa nonton supaya lebih bisa menikmati filmnya selain gak mengganggu penonton lain Film ini walaupun saya sebut banyak drama, akan jauh lebih menarik ditonton di bioskop, karena bagian berantemnya tentunya lebih enak dilihat di layar lebar. Kalau misalnya masih ragu-ragu mau nonton atau nggak, misalnya diajakin pasangan buat nonton jangan ragu lagi deh, ini kesempatan baik untuk date nonton berdua doang hehehe.