Belajar dari Helen Keller: Selalu ada Jalan

Hari ini, akhirnya saya menuliskan review buku “The Story of my Life” yang dituliskan oleh Helen Keller di masa mudanya. Buku ini, sudah pernah saya baca dulu di tahun 2008, tapi saat itupun saya tidak menuliskan isi dari buku ini.

Yuk ikutan ngeblog di Mamah Gajah Ngeblog

Kali ini, sebagai bagian mengikuti Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog, saya jadi teringat lagi dengan buku ini. Tema tantangan bulan April 2021 ini adalah mengenai buku dan perempuan yang menginspirasi.

Pencarian Inspirasi Menulis

Saya bukan orang yang punya idola. Saya juga belum banyak membaca buku yang ditulis oleh wanita atau berkisah tentang wanita. Apalagi tahun ini, sepertinya semua buku yang saya baca belum ada yang benar-benar selesai. Buku-buku yang saya baca bukan ditulis oleh perempuan dan tidak mempunyai tokoh perempuan yang menginspirasi.

Walaupun mencari sosok yang menginspirasi itu bukan berarti harus sesuatu yang ‘megah’, akan tetapi memilih buku yang ditulis oleh perempuan yang menginspirasi ataupun bercerita tentang tokoh yang menginspirasi itu jadi lebih sulit lagi. Saya sudah memutuskan untuk tidak mengikuti tantangan menulis dengan mamah gajah ngeblog bulan ini.

Lalu, dalam satu sesi ngobrol-ngobrol di WAG, saya jadi ingat dengan Helen Keller dan bukunya. Saya ingat kalau saya pernah menuliskan tentang bukunya di blog ini. Ternyata, waktu itu saya hanya menyebutkan membacanya dengan cara mendengarkan dari LibriVox.

Akhirnya, saya mendengarkan sambil membaca buku The Story of My Life ini kembali, dan jadi terinspirasi untuk membuat tulisan memanfaatkan Telegram untuk mendengarkan buku audio.

Buku audio dari Helen Keller yang berjudul The Story of My Life saya simpan publik di channel telegram ini.

Siapakah Helen Keller

Buat yang belum tahu, Helen Keller mempunyai nama lengkap Helen Adams Keller, merupakan seorang penulis Amerika yang tidak bisa melihat dan mendengar dikarenakan sakit pada saat berumur 19 bulan.

Lahir pada 27 Juni 1880 dan meninggal pada 1 Juni 1968 pada umur 88 tahun. Buku The Story of My Life yang merupakan otobiografi ini dituliskan pada saat dia masih berumur 21 tahun dan diterbitkan di saat dia masih sekitar 22 tahun. Saat itu dia masih duduk di bangku kuliah.

Buku ini merupakan buku ke-2 yang dia tuliskan. Buku pertama dia tuliskan pada umur 11 tahun “The Frost King” dianggap menjiplak dari buku “The Frost Fairies” karya Margaret Canby.

Walaupun dia tidak ingat pernah dibacakan tentang buku Margaret Canby ini, tapi hasil investigasi menyatakan dia pernah berada pada satu tempat di mana memang pernah ada buku tersebut di rumah salah seorang yang pernah dia kunjungi. Hal ini sempat membuat dia ragu-ragu untuk memulai menulis lagi.

Selain buku ini, Helen Keller juga masih menuliskan banyak buku dan essays dengan bantuan gurunya Mrs Sullivan.

Selain masih banyak yang menjual buku cetak dari buku-bukunya, karya Helen Keller sudah masuk dalam domain publik dan bisa dibaca secara gratis dari Gutenberg Project.

Isi Buku Helen Keller: The Story of My Life

Buku The Story of my Life ini terdiri dari 23 bab dan 233 halaman. Di dalam publikasinya belakangan ini, disertakan juga kumpulan surat-surat yang dikirimkan oleh sahabat-sahabatnya.

Salah satu cover buku cetak The Story of My Life – Helen Keler

Kalau tahu nama Alexander Graham Bell si penemu telepon, dan Mark Twain yang juga seorang penulis, nah 2 nama itu ada disebutkan dalam bukunya.

Buku otobiografi yang ditulis saat dia umur 22 tahun, oleh seorang yang tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar. Bukunya menggunakan pemilihan kata yang sangat menarik dan detail, membuat saya malu dengan diri sendiri yang sering malas menulis secara detil.

Cerita yang detail tentang masa kecil dan pendidikannya

Dalam buku ini, Helen Keller menceritakan dengan detail masa kecilnya. Mulai dari umur berapa dia bertemu dengan gurunya Mrs. Sullivan, kapan dia mulai mengenal huruf. Apa kata pertama yang dia mengerti. Bagaimana cara dia berkomunikasi dengan orang lain.

Sejak dia bertemu dengan gurunya, dia mulai mengenal huruf yang dieja di tangannya. Sebelumnya, Helen tidak bisa berkomunikasi seperti kita orang biasa. Setelah mengenal huruf yang dieja ke tangannya, dia mengenal kata.

Helen mengenal konsep semua benda mempunya nama. Cara dia menceritakan kata ‘cinta’ dan ‘berpikir’ sebagai 2 kata pertama mengenai konsep abstrak juga sungguh menarik.

Setelah mengenal huruf dan kata, Helen mulai mengeja setiap kata. Dia banyak dibacakan buku oleh Mrs. Sullivan, tentunya dengan cara dieja ke tangannya. Selanjutnya, dia mulai belajar membaca buku yang menggunakan huruf braille.

Sejak bisa membaca, dia sangat suka sekali membaca berbagai buku. Semua buku yang bisa dibaca akan dibaca olehnya. Dia juga senang sekali ketika ada yang membacakan (mengeja setiap kata dari buku) ke tangannya.

Gaya bercerita seolah bisa melihat dan mendengar

Gaya bercerita dalam buku ini tidak kalah dengan kita yang bisa melihat. Misalnya saja, dia bercerita bagaimana dia bisa menikmati menonton pertunjukan musik.

Menonton tanpa mata, menikmati musik walau tidak bisa mendengar. Dan semua itu bisa dia dapatkan dengan pertolongan dari gurunya yang mendeskripsikan semuanya dalam bentuk kata-kata yang dieja ke tangannya!

Helen juga senang bermain perahu di bawah sinar bulan purnama, atau merasakan hangatnya mentari dan angin yang berhembus.

Semua itu diceritakan dengan pemilihan kata yang membuat saya bisa membayangkan kejadiannya. Padahal, Helen tidak bisa melihat dan mendengar, dan kalau dia bisa menuliskan semua itu, pastilah memang mengerti dengan kata yang dia gunakan.

Walaupun dia tidak bisa mendengar, dia belajar berbicara dan bisa mengeluarkan suara. Aduh sungguh tak habis kagum dengan usahanya belajar segala sesuatu.

Kagum saya terbagi antara Helen sebagai murid yang mau terus belajar, dan Mrs. Sullivan sebagai guru yang sangat sabar dan bisa mendeskripsikan semua hal dengan kata-kata untuk membuat Helen bisa punya pengertian.

Di mana ada kemauan, di situ ada jalan

Dari sekian banyak cerita tentang cara Helen belajar. Saya terpaku dengan sederet buku yang dia sebutkan dia baca. Bukan cuma buku biasa, dia baca segala puisi dan bahkan Shakespeare dan sederet buku dalam bahasa asing.

Dalam keterbatasan fisiknya, Helen sekolah sampai perguruan tinggi. Dia mengikuti ujian tulis (khusus), dan persiapannya juga dia ceritakan dengan detail.

Cara belajarnya juga cukup sulit. Dia harus belajar segala lambang matematika dan fisika selain belajar sastra. Diceritakan juga, Helen bisa menguasai bahasa Jerman dan Perancis selain bahasa Inggris, dan bisa membaca berbagai buku dalam bahasa asing tersebut.

Wow, Wow, Wow. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana caranya dia belajar bahasa asing. Tapi ya begitulah, di mana ada kemauan, di situ ada jalan.

Untuk berkomunikasi dengan orang lain, selain orang tersebut mengeja ke tangannya, dia juga terkadang membaca gerakan bibir orang tersebut dan secara literal memegang mulut dari orang yang berbicara.

Daya ingat Helen pastilah luar biasa, sehingga dia bisa mengingat begitu banyak hal dan bisa menggunakan kembali kata-kata yang dia sudah mengerti untuk mendeskripsikan segala sesuatunya.

Penutup

Kekaguman saya pada Helen Keller karena dia bisa melakukan banyak hal seperti orang normal pada umumnya. Bahkan banyak orang yang normal tidak memiliki semangat belajar seperti yang dimiliki Helen Keller.

Oh ya, Helen Keller juga sering tampil di muka umum untuk memberikan ceramah loh! Bayangkan, dia tidak bisa mendengar tapi bisa berbicara di depan banyak orang.

Kekaguman saya juga pada Mrs. Sullivan, guru dari Helen Keller yang sangat sabar mengajarkan Helen mulai dari mengenal huruf di tangan, sampai bisa berbicara dan menulis berbagai buku dan essay.

Kalau ditanya, saya lebih kagum pada siapa, saya sulit memilih. Baik Helen maupun Mrs. Sullivan sama-sama hebat.

Metode pengajaran tanpa murid yang rajin belajar akan sia-sia, dan murid yang mau belajar tapi tidak ketemu guru yang tepat juga akan jadi sulit majunya.

Coba deh, buat yang udah baca buku The Story of My Life dari Helen Keller ini, kira-kira kalian lebih kagum dengan siapa?

Yang pasti, cerita dari Helen Keller ini menjadi inspirasi juga buat saya tetap menuliskan berbagai cerita di blog ini, dan mulai merajinkan diri membaca buku lagi.

2 thoughts on “Belajar dari Helen Keller: Selalu ada Jalan”

  1. Tahu Hellen Keller justru dari komik :)) tapi dari situ aja cukup terlihat dia mampu mengatasi keterbatasannya dibantu Mrs Sullivan, jadi menginspirasi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.