Review Buku: Catatan Harian Menantu Sinting

Ini salah satu buku genre MetroPop yang tidak sengaja saja temukan di ipusnas. Setelah selesai baca, saya baru tahu kalau buku ini awalnya juga dimulai dari wattpad. Saya tertarik membacanya karena kisahnya tentang wanita Batak menikah dengan orang Batak dan pernah tinggal serumah dengan mertua perempuannya yang pastinya orang Batak juga. Setelah mereka pisah rumah, mertuanya masih rajin juga datang ke rumah mereka, jadilah kerunyaman menantu dan mertua berkelanjutan, apalagi dengan penantian 8 tahun menunggu punya anak, jadilah mertuanya tambah bikin kesel dengan tuntutan supaya cepat-cepat punya anak dan segala mitos seputar orang hamil.

Penulisnya juga orang Batak

Saya tidak kenal sih dengan penulisnya, dan kurang tahu juga apakan ini berdasarkan kisah nyata. Tapi ya, mungkin buat yang tinggal sama mertua bisa merasakan beberapa hal terjadi juga. Saya walau Batak tidak menikah dengan pria Batak dan tidak pernah tinggal dengan mertua, kebetulan mertua saya juga baik-baik saja. Walau kami agak lama punya anak, mertua saya gak jadi mengesalkan nyuruh cepat-cepat punya anak. Di satu titik sebelum 50 halaman membacanya, saya merasa banyak bagian cerita yang kurang lucu karena terlalu berlebihan.

Secara umum ceritanya lucu, dialog-dialog ala Batak dengan bantuan footnote yang banyak cukuplah buat pembaca non batak mengerti, walaupun saya yakin kelucuannya akan terasa berkurang ketika harus mengecek maksud dari kata ‘apa’ yang terlalu banyak digunakan mertua si Minar. Tapi bagian yang bikin saya agak malas-malasan menyelesaikan buku ini adalah terlalu banyak bagian vulgar yang sebenarnya bisa saja dihilangkan tanpa mengurangi kesan kalau mertua si Minar ini sungguh luar biasa nyentrik dan cepat menghabiskan stok sabar menantu. Setelah selesai membaca, waktu saya mencari tahu lebih lanjut tentang buku ini, ternyata ada rating 21+, jadi ya… salah saya sendiri gak cari tahu tentang bukunya sebelum membaca ya. Buku ini cuma 231 halaman, tapi butuh beberapa hari menyelesaikannya. Beda dengan buku Resign! dan Kupilih Jalan Terindah Hidupku yang buat saya lebih bikin penasaran dan bisa selesai dalam waktu 1 hari 1 buku.

Daftar isi

Kalau dilihat dari daftar isinya, sebenarnya judulnya bukan menantu sinting, tapi mertua yang bikin menantu sinting. Tapi ya, saya bisa mengerti kalau lebih sopan judulnya menantunya yang sinting daripada mertuanya.

Beberapa bagian dalam buku ini juga memberikan gambaran kelakuan orang Batak, misalnya pentingnya anak laki-laki buat orang Batak, penamaan yang berubah setelah mempunyai anak atau cucu, beberapa perubahan cara menyebut nama kalau terlalu susah di lidah menjadi ucok dan butet. Penjelasan tentang sapaan di keluarga Batak juga ada di buku ini. Untuk orang yang bukan Batak, selesai membaca buku ini kemungkinan bertambah kadar kebatakannya dengan huruf e tajam di sana sini.

Sebenarnya saya kurang suka menulis kritik, tapi ya mungkin ini namanya opini ya. Walaupun banyak yang memberikan pujian lucu dan kocak, tapi buat saya buku ini kurang direkomendasikan, apalagi kalau gak biasa dengan istilah Batak. Saya menuliskan ini siapa tahu ada yang berharap banyak dari buku ini dan ternyata gak sesuai dengan harapan. Hal-hal yang bikin saya kurang cocok itu antara lain:

  • saya gak menemukan si Minar ini boru apa. Padahal di dalam cerita, ada nama lengkap Sahat dan Mamaknya. Mungkin saya yang kelewat?, gak penting? ya pentinglah biar tau Minar ini asli Batak atau pura-pura Batak (hahaha apaan sih komentar gak penting juga).
  • Terlalu banyak generalisasi tentang orang Batak di buku ini. Saya kuatir kalau ada orang non batak mau nikah dengan orang Batak jadi keburu salah paham dan ambil asumsi yang salah. Misalnya nih ya tentang orang Batak makan daging anjing, ya… walaupun itu fakta, tapi saya gak pernah melihat ada orang Batak yang tiap lihat anjing hidup langsung menetes air liurnya dan pengen masak langsung itu anjing. Kalau udah terhidang aja kali di meja makan baru di makan.
  • Mertua si Minar ini ceritanya tinggal di Jakarta, kayaknya sejauh saya mengenal orang-orang Batak yang tinggal di Jakarta ataupun Bandung, mereka udah lebih modern dan ngomongnya udah gak Batak kali. Entahlah ya, kalau ternyata saya aja yang udah kurang banyak bergaul dengan orang batak. Tapi saudara-saudara saya yang Batak ada banyak banget tinggal di Jakarta, dan mereka udah gak kentara lagi loh bataknya kalau ngomong bahasa Indonesia.

Tapi ya sekali lagi, namanya juga review saya ini sifatnya opini, apa yang kurang pas buat saya bisa jadi lebih dari cukup buat yang lain. Kalau mau mencoba melihat sedikit isi dari buku ini sebelum repot-repot minjam di ipusnas ataupun membelinya, bisa baca sebagian isinya di wattpadnya. Untuk membacanya bisa dari browser tanpa harus login kok.

Sepertinya cukup dulu baca buku genre MetroPop nya, mau cari buku anak-anak dululah di ipusnas. Kalau ada yang punya rekomendasi, tuliskan di komentar ya.

Baca buku: Resign!

Gara-gara baca buku jadi bolos nulis, ini sih jelas alasan yang dicari-cari, padahal penyakit malas nulis datang lagi karena keseringan bolos. Harus mulai rutin lagi nulis biar gak kebawa malasnya. Hari ini saya akan menuliskan tentang buku yang sebenarnya saya baca sebelum buku Kupilih Jalan Terindah Hidupku.

Buku Resign! di aplikasi ipusnas

Terakhir kali baca buku kategori MetroPop itu rasanya sebelum ke Chiang Mai, baca buku karya teman kuliah, udah lama banget ya. Nah beberapa hari lalu baca review buku ini dari salah satu anggota grup KLIP dan jadi teringat mencari di aplikasi ipusnas dan ketemu. Langsung deh pinjam dan baca 1 hari selesai.

Daftar isinya agak salah nih di aplikasinya

Buat yang mencari bacaan untuk berhenti dari nonton kdrama, buku ini boleh dicoba dibaca. Kisahnya mengambil tempat di sebuah kantor konsultan di Jakarta. Jangan bayangkan akan ada pembahasan detail tentang apa yang mereka kerjakan, yang ditunjukkan lebih ke tingkat tekanan batin dari para anak buah menghadapi tuntunan deadline pekerjaan plus bos yang sering meminta review berkali-kali sampai sempurna.

Kelakuan bos yang bikin anak buah tertekan batin ini sebenarnya membuat anak buah pengen resign saja. Tapi urusan resign ini gak mudah, karena si bos punya radar kalau ada anak buah minta ijin dengan berbagai alasan apapun pasti bos tau dan menggagalkan proses interview mereka. Merekapun bikin kompetisi berlomba untuk duluan resign.

Ceritanya dibumbui dengan kisah cinta ala-ala kdrama. Kenapa saya bilang ala kdrama? karena seperti di kdrama ada klise di mana dari 2 tokoh yang seperti kucing dan anjing ternyata malah jadian. Prosesnya lebih cepet sih dari drama, gak nunggu 16 episode haha.

Oke daripada jadi spoiler, lebih baik berhenti memberitahu resensi ceritanya. Buku dengan 288 halaman ini dituliskan awalnya di media wattpad. Wattpad itu apalagi? Ini kapan-kapan deh dituliskannya ya. Kalau mau tau bisa langsung klik aja buat baca penjelasannya.

Kalau melihat dari jumlah pembaca di aplikasi ipusnas saja sudah lebih dari 1000 orang, saya yakin yang beli buku ini juga cukup banyak. Buku ini mungkin ceritanya terlalu spesifik dengan masa ini, tapi ya genre metropop umumnya seperti itu, berbeda dengan genre fantasi seperti Harry Potter, Narnia ataupun kisah detektif Agatha Christie yang ceritanya masih tetap menarik dibaca walau sudah lama terbitnya. Eh mau ngomong apa sih saya sebenarnya? Maksudnya ya kalau mau bacaan hiburan lumayanlah buku ini. Tapi kalau dibacanya 20 tahun mendatang, saya gak yakin masih bakal ada taxi online nggak hehe.

Ada istilah di buku ini yang baru buat saya, seperti halnya kacung kampret yang disingkat dengan cungpret, atau singkatan MT untuk Makan Teman. Dulunya saya tau istilah kacung ataupun makan teman, tapi ya gak disingkat begitu. Dialog dalam buku ini juga banyak menggunakan bahasa Inggris, dan memang jaman sekarang sudah biasa dalam percakapan sehari-hari bercampur memakai bahasa asing. Penggunaan taxi online dan memesan makanan juga menunjukkan ceritanya berlangsung di masa setelah ada taxi online.

Daya tarik buku ini buat saya sih dialog-dialognya yang lucu. Gaya bahasa anak buah yang pengen melawan bos tapi harus menahan diri, ataupun gaya bahasa gossip dengan teman kantor di saat makan siang ataupun menggunakan media online chat.

Saya pernah kerja di kantor, tapi kantor saya tekanannya gak kayak di buku ini, bos nya juga baik-baik hehehe. Tapi ya gaya bercerita penulis bisa diikuti dan cukup membuat saya menyelesaikan bukunya dengan cepat. Untuk pekerja kantoran yang sering lembur mungkin bisa lebih membayangkan situasinya dan akan ikut-ikutan sebel dengan tokoh bos nya.

Jadi kesimpulannya, bukunya direkomendasikan gak nih untuk dibaca? ya kalau mencari bacaan ringan untuk dibaca sambil nunggu atau di perjalanan di tengah kemacetan, daripada bengong lumayanlah buku ini bisa dicoba baca. Kalau mau lihat apakah bakal suka atau nggak, bisa baca dari aplikasi ipusnas.

Oh ya, sekedar pemberitahuan, aplikasi ipusnas ini isinya banyak sekali. Buku-buku dari jaman Lupus, Olga Sepatu Roda, Lima Sekawan, Agatha Christie juga ada. Tapi sayangnya, aplikasi ini masih agak bermasalah dan sering ketutup sendiri. Tips nya sih cuma sabar aja dan coba instal ulang aplikasinya hahaha. Kemarin malah pernah servernya yang bermasalah dan saya ga bisa download buku sama sekali. Ya namanya juga gratisan ya, jadi sabar aja dan semoga aplikasinya diperbaiki oleh ipusnas untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Review Buku: Kupilih Jalan Terindah Hidupku

Sudah 2 hari bolos nulis blog, ceritanya di grup KLIP ada yang share novel tentang dunia kerja, terus ternyata bukunya ada di app ipusnas. Ternyata karena ceritanya menarik, keterusan baca deh. Buku 200 an halaman selesai 1 hari (biasanya baca buku 1 bulan gak selesai haha). Tapi emang buku yang dibaca novel bahasa Indonesia jadi lebih cepat bacanya. Saya lupa terakhir baca novel bahasa Indonesia itu kapan.

Cover buku di aplikasi ipusnas

Kemarin, mbak Erna teman di grup menulis KLIP kasih tahu kalau bukunya yang baru terbit November 2018 lalu ada di ipusnas juga. Beberapa waktu lalu ada acara giveawaynya tapi gak bisa ikutan karena ntar pasti susah ongkir, terus mikirnya ntar aja nyari pas pulang. Tertarik beli karena kami di grup dapat cerita proses penulisan buku sampai terbit itu berapa lama dan bagaimana. Nah, waktu dikasih tau ada di ipusnas, saya langsung pinjam biar gak kehabisan stok.

Pengalaman baca di hari pertama, baca e-book di layar hp itu sungguh menyiksa. Jadi buat baca buku ini saya pinjam ipad Joe biar puas layarnya hehehe. Ternyata bacanya lebih cepat dari buku sebelumnya (buku sebelumnya ditulisnya besok aja ya). Saya mulai baca buku ini jam 3.30 sore waktu nungguin Jonathan les, eh waktu Jonathan selesai les udah selesai hampir setengahnya. Pulang ke rumah harus sediakan makanan dan makan malam dulu. Padahal hati ini penasaran. Selesai makan dan beberes semuanya, baru bisa baca lagi. Buku setebal 200 an halaman ini selesai hari itu juga. Bangga dengan diri sendiri tiba-tiba rajin baca hahaha.

Ah kebanyakan pengantar belum sampai ke review buku deh. Buku ini awalnya saya pikir kisah nyata, tapi waktu baca nama tokohnya loh kok namanya Mia bukan Erna. Terus baru menyadari kalau ini fiksi. Ceritanya diawali tentang seorang wanita bernama Mia yang punya tanggung jawab di kantor dan punya 2 anak di rumah. Walau saya tidak punya masa galau harus memilih pekerjaan dan anak, tapi saya bisa melihat kalau cerita ini bukan fiksi yang mengada-ada. Cerita ini bisa jadi kisah nyata kehidupan seorang wanita bekerja yang juga merangkap sebagai ibu muda. Mungkin bukan kisah nyata penulis, tapi bisa jadi kisah nyata seseorang deh.

Awal buku penuh drama

Setengah buku pertama bercerita drama suka duka dan perjuangan seorang ibu muda. Kegelisahan hati antara tanggung jawab di kantor dan di rumah. Keharusan memilih antara karir di kantor atau mengasuh anak, ditambah dengan bumbu salah paham dengan mama yang bantu jagain anak dan rasa cemburu karena anak sulung lebih dekat dengan neneknya, dan drama semakin lengkap dengan mbak yang ijin mudik dan tak kembali karena memutuskan kawin di kampung.

Kegalauan seorang Mia ini bukan hal yang baru dikalangan ibu-ibu muda. Dilema karena tidak ada yang menjaga anak-anak di rumah dan keinginan untuk tetap berkarya di kantor terutama juga untuk membantu kebutuhan finansial keluarga.

Kesalahpahaman dengan ibunya yang akhirnya ngambek dan ga mau tinggal di rumahnya dan tidak adanya mbak yang membantu mengurus rumah, akhirnya membawa Mia menetapkan hati untuk memilih meninggalkan kantor dan fokus dengan keluarga.

Mungkin buat yang belum mengalami, atau buat yang tidak pernah mengalami, akan berpikir: ah enak ya berhenti kerja, di rumah kan gak ngapa-ngapain. Tapi buat saya yang kebagian jatah ngurus anak di rumah sepanjang hari, cerita tentang Mia ini sangat nyata. Mia yang biasanya kerja di kantor, udah jadi supervisor, tiba-tiba di rumah seharian ngurusin 2 anak tanpa mbak dan tanpa siapa-apa. Suaminya bantuin gak? Bantuin juga tapi dalam cerita ini suaminya kasih syarat kalau apapun keputusan Mia, rutin sang suami tidak akan berubah, termasuk bangun siang di akhir pekan. Waktu baca ini dalam hati saya pengen nimpuk tuh suaminya bilang: lah elu kerja Senin-Jumat terus minta santai di akhir pekan, terus istri lu kapan istirahatnya? lu kata istri lu kacung? hahaha. Tapi emang kenyataanya banyak kok suami yang begitu (untungnya Joe gak gitu dan saya masih ada mbak walau part time hihihi).

Setelah menjalani drama demi drama menjadi ibu rumah tangga tanpa pengalaman mengurus rumah tanpa asisten, Mia mulai tergoda untuk kembali kerja lagi saja karena katanya masih dibutuhkan di kantor. Di saat itu Mia mendapat mimpi sekaligus pencerahan. Mau tau pencerahannya apa? baca bukunya hahhaha.. gak mau spoiler.

baca sampai habis, terutama bagian rumus mengurus rumahtangga

Setelah mendapat pencerahan, dari bagian tengah ke akhir cerita, buku ini banyak ilmunya. Bukan berarti nggak ada drama lagi, tapi ya udah punya banyak bekal menghadapi dramanya. Dengan cara yang tidak membosankan, tips mengenai mencuci piring, menjemur pakaian, menyetrika baju diceritakan dalam buku ini. Kedengarannya sepele ya, tapi tips itu untungnya saya sudah pelajari dari mama saya jaman masih remaja. Tapi walaupun tips-tips tersebut bukan hal baru buat saya, saya yakin banyak ibu-ibu muda yang mungkin belum tahu tips tersebut. Penyajian tipsnya juga menarik, bukan dalam bentuk bullet poin presentasi hahaha.

Di bagian akhir buku ini, Mia merumuskan kehidupan keluarga seperti organisasi kantor. Nah bagian ini saya suka banget. Kalau bagian ini saya yakin hasil perenungan mendalam penulis di saat malam-malam bergadang sambil ngurus bayi hehehe.

Buku ini saya rekomendasikan dibaca oleh para wanita baik yang masih single ataupun sudah menikah, sudah ataupun belum punya anak supaya ada gambaran hari-hari mendatang itu seperti apa. Buku ini juga penting untuk dibaca untuk para suami, supaya lebih dapat gambaran apa yang dihadapi istri sepanjang hari dengan anak.

Untuk ibu-ibu muda yang sedang galau antara tetap bekerja kantor atau mengurus anak di rumah, buku ini juga bisa dibaca bersama dengan suami untuk membuat kesepakatan sebelum memutuskan berhenti bekerja. Yang jelas, apapun keputusannya, seorang ibu butuh sistem pendukung supaya bisa tetap bekerja kantor atau bekerja urus rumahtangga. Sukur-sukur, suaminya gak kayak suami Mia dalam cerita ini yang gak mau berubah rutin hanya karena Mia berhenti kerja. Padahal kan Mia biasanya ada asisten, nah ini gak ada mbak pula (tetep aja saya protes bagian itu hahaha).

Haduh jadi panjang nih review atau curhat sih? hahaha. Saya sih kesimpulannya suka dengan buku ini. Jarang menemukan buku tentang ibu rumah tangga dalam bentuk novel dengan berbagai percakapan yang saya bisa bayangkan kejadiannya.

Semoga ya, bagian terakhir buku ini jadi kenyataan buat penulis buku. Buku ini kalau difilmkan juga bisa jadi edukasi buat ibu-ibu rumahtangga dan sistem pendukungnya. Hal penting lain juga dalam buku ini diceritakan bagaimana pentingnya komunikasi dengan pasangan dan juga punya kemandirian ekonomi.

Saya sendiri gak mengalami dilema seperti Mia. Sebelum anak pertama lahir, kami dengan sadar memutuskan kalau saya harus berhenti kerja. Tinggal di negeri orang tanpa keluarga yang bisa dititipkan ataupun betapa tidak enaknya kalau harus punya pengasuh orang Thai, bisa-bisa anak kami jadi orang Thai. Saya lebih beruntung dibandingkan Mia, keputusan yang kami ambil berdua didukung penuh dengan Joe, dan Joe bukan tipe yang bilang: rutin saya tidak berubah ya. Waktu anak-anak masih bayi, ada hari-hari di mana saya bangun siang dan Joe yang sediakan sarapan hehehe. Prinsipnya punya anak berdua kita urus berdua dong. Setelah anak besar, ya kalau saya bangun siang, paling sarapannya jadi pada kesiangan hahahhaa.

Kesimpulannya buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca semua orang yang sedang galau menghadapi kerjaan rumah yang tak kunjung selesai, ataupun kegalauan antara pilihan rumah dan kantor. Semua drama akan berlalu kalau kita tahu caranya. Mungkin judul lain buku ini adalah: Yang perlu diketahui sebelum terjun bebas jadi ibu rumah tangga.

Buku: People Can’t Drive You Crazy If You Don’t Give Them the Keys

cover buku

Kesan pertama saya: panjang banget ya judulnya. Padahal buku ini cuma 210 halaman. Dari judulnya saja udah kebayang kan isinya kalau buku ini kategori selfhelp. Saya dapat buku ini pas ada teman yang share sedang ada promosi gratisan versi kindle-nya, jadi saya pikir, ya cobalah dibaca, apakah ada tips-tips menghindari orang-orang yang kadang bikin kita merasa lepas kontrol karena gak bisa mengatasi emosi. Buku ini juga bisa dibaca gratis kalau berlangganan kindle unlimited. Ada versi audible nya juga buat didengarkan.

Banyak yang merasa semakin lama dunia ini semakin gila dan banyak orang yang bikin kita kehilangan kesabaran dan ikutan gila. Sebenarnya sejak tinggal di Chiang Mai, bisa dibilang saya secara ga langsung mempraktikkan judul buku ini dengan tidak mudah bereaksi kalau ada hal yang bikin frustasi. Kadang-kadang kayaknya menghadapi anak balita rasanya lebih bikin emosi daripada orang dewasa yang banyak tingkah.

daftar isi buku

Dari daftar isi buku ini, semakin kebayang isi bukunya seperti apa. Contoh-contoh yang diberikan cukup menarik dan ada juga yang memang pernah terjadi dengan saya. Contoh yang paling nyata saya praktikkan adalah: kita tidak bisa mengendalikan orang lain, tapi kita bisa mengendalikan apa yang respon kita terhadap suatu keadaan. Kita juga harus bisa menerima ada hal-hal yang diluar kendali kita, dan kalau memang ada orang super ngeselin sebaiknya dihindari saja daripada kita berusaha keras membuat dia gak ngeselin tapi tanpa hasil.

Ada contoh mengenai berurusan dengan keluarga. Kalau cuma kenalan atau orang lain bahkan teman di facebook, kita bisa dengan mudah hindari berhubungan dengan mereka dengan cara memutuskan hubungan pertemanan atau gak usah ajakin ngobrol. Nah gimana dengan keluarga ? kita ga mungkin kan memutuskan hubungan dengan keluarga kita. Nah untuk hal ini akhirnya kembali ke mengubah perspektif kita dan berusaha meminimalisasi ketemu/kontak biar gak sering rusuh hehehe. Kalaupun tahu akan bertemu, kita perlu mempersiapkan mental kita untuk tidak cepat bereaksi dan menerima kalau kadang-kadang kita akan menerima komentar-komentar yang belum tentu sesuai dengan prinsip kita (ini sih lebih gampang teori daripada praktik ya).

Banyak contoh-contoh dalam buku ini yang bikin saya mengangguk-angguk setuju. Tapi saya juga belum bisa 100 persen melakukannya terutama kalau lagi lelah dan menghadapi anak bertingkah. Tapi ya kuncinya mungkin jangan tidur larut biar besoknya punya energi menghadapi anak hehehe.

Di akhir buku ini disebutkan 7 kunci untuk memiliki hubungan yang baik dengan orang lain, bisa dilihat dari daftar isinya. Tapi diakhir buku ada kesimpulan bagaimana 12 tips untuk memiliki melakukan 7 kunci itu.

12 tips untuk memiliki hubungan yang sehat

Saya coba tuliskan lagi 12 tips untuk memiliki hubungan yang sehat:

  • pisahkan kebiasaan gila dari orangnya, kemungkinan kita juga punya (hindari kegilaanya bukan orangnya)
  • percayalah perubahan selalu mungkin dilakukan
  • jangan merasa bertanggung jawab atas pilihan orang lain (yang mungkin saja salah)
  • jangan bergantung pada orang lain
  • jangan berharap orang lain berubah, lebih memungkinkan untuk mengubah diri sendiri
  • kita tidak bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa mengubah bagaimana respon kita atas apa yang telah terjadi di masa lalu
  • percaya selalu ada harapan untuk masa depan
  • jangan mau jadi korban dengan membiarkan orang lain mengendalikan hidup kita
  • perubahan itu butuh waktu (belajar sabar)
  • semua sukses butuh usaha dan selalu ada risiko gagalnya
  • selalu persiapkan diri kalau tahu akan ketemu orang yang sering bikin kita emosi, pilih kata yang baik untuk hasil yang lebih baik
  • pilih untuk berpikir lalu merespon daripada langsung bereaksi menghadapi kegilaan yang ada

Saya tidak tahu apakah buku ini sudah ada versi terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia atau belum, tapi bahasa Inggrisnya cukup mudah dicerna dan tidak banyak istilah yang sulit seperti buku-buku selfhelp lain. Kalaupun tidak baca bukunya, semoga dari tulisan ini ada hal yang bisa dipakai untuk membantu kita menghadapi orang-orang yang bikin kita jadi ‘gila’.

Buku: Bila Hidup Sebuah Permainan, Inilah Aturannya

Judul bukunya panjang banget ya hahaha, udah judul sepanjang itu, masih ada lagi lanjutan judul kecilnya: sepuluh aturan untuk menghadapai tantangan hidup.

Buku ini saya beli tahun 2004 di toko buku mahasiswa di kampus. Buku terjemahan terbitan Gramedia ini sebenarnya tipis, cuma 152 halaman, tapi butuh waktu lama buat saya untuk mencernanya. Hampir semua baris bisa di jadikan kutipan dan juga saya garis bawahi hehehe.

Isi buku ini secara keseluruhan garis besarnya ada di dalam halaman depan berikut ini dengan judul sepuluh aturan untuk jadi manusia.

Buku ini termasuk kategori selfhelp. Isi bukunya memberikan penjelasan lebih detail mengenai tiap aturan. Kalau dilihat dari daftar isinya, kira-kira itulah poin-poin dari setiap aturannya. Tapi bagaimana maksud dari setiap poinnya? ya itulah yg dijelaskan dalam paragraph-paragraph yang ada dalam buku ini.

Setelah membaca buku ini, saya agak bertanya-tanya kenapa penulis memberi judulnya bila hidup ini sebuah permainan, inilah aturannya. Judul lebih singkat seperti judul rangkuman diatas juga sudah mencerminkan isi buku ini. Dan lagi, saya kurang setuju kalau hidup ini sebuah permainan hehehe, tapi saya mengerti maksudnya penulis intinya mau menuliskan dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan, ada hal-hal dasar yang perlu kita pahami supaya kita tidak langsung menyerah kalah.

Anda memiliki sebuah tubuh

Ya tiap orang cuma punya satu tubuh, jadi untuk itu kita harus bisa menerima diri sendiri, menghargai diri sendiri, menghormati diri sendiri dan juga tidak lupa menikmati hidup dengan panca indra yang ada dalam tubuh kita. Kesimpulan saya: dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Pelajaran akan disajikan kepada Anda

Terimalah pelajaran itu dengan tangan terbuka, tentukan pilihan dari pelajaran yang tersaji, terimalah kalau keadilan dalam hidup ini bukan berarti sama rata sama rasa, dan muliakanlah diri Anda dengan segala kekurangan yang ada. Kesimpulan saya: terimalah kalau lagi diajar supaya bisa belajar.

Tidak ada kesalahan, yang ada hanya pelajaran

Kita belajar lebih banyak dari apa yang kita anggap kegagalan daripada kesuksesan. Untuk memudahkan proses belajar, kita perlu menguasai pelajaran dasar mengenai welas asih, sikap memaafkan diri sendiri maupun orang lain, etika memperlakukan orang lain seperti bagaimana kita ingin diperlakukan, dan rasa humor untuk menertawakan kesulitan yang ada dan jangan malah jadi stress berkepanjangan. Kesimpulan saya: lagi-lagi harus terus belajar, lebih mudah berteori daripada pelaksanaanya nih.

Sebuah pelajaran diulang terus sampai anda menguasainya

Belajar tidak pernah selesai, jadi adakalanya kita harus berserah diri (terima nasib) lagi di”hajar”, punya komitmen untuk terus belajar sampai menguasainya, punya kerendahan hati dan kelenturan supaya bisa ngerti apa sih yang harus dipelajari. Kesimpulan saya: kalau belum lulus ya harus mengulang pelajaran lagi, jadi siswa abadi.

“Di sana” tidak lebih baik daripada “di sini”

Banyak yang berpikir akan bahagia kalau punya A, B, C atau berada di suatu tempat tertentu. Padahal seharusnya kita mensyukuri saja dengan apa yang kita punya sekarang, jangan terikat dengan suatu materi atau suatu tempat, merasa kelimpahan dengan apa yang dia miliki (bukan apa yang diingini), berdamai hidup di masa ini (bukan hari kemarin atau hari esok). Kesimpulan saya: apa yang ada sekarang ini udah yang terbaik.

Orang lain hanya cermin dari dirimu

Penilaian kita terhadap orang lain sebenarnya cerminan dari cara berpikir kita. Kita perlu punya toleransi terhadap orang lain, karena setiap orang tidak bisa memakai standar kita. Melihat orang lain dengan perspekftif yang lebih jernih, belajar untuk menyembuhkan luka batin di diri sendiri supaya lebih bisa menerima orang lain dan mendukung orang lain sebagai bentuk mendukung diri sendiri. Kesimpulan saya: ketika kita menilai orang lain, sebenarnya kita sedang berkaca ke diri sendiri dan menetapkan standar kita ke orang lain tersebut.

Apa yang anda perbuat dengan kehidupan Anda, tergantung kepada Anda

Aturan ini sebenarnya udah cukup jelas, manalah kita menggantungkan perbuatan kita kepada orang lain. Kita harus menerima tanggungjawab penuh untuk setiap kelakuan kita, melepaskan hal-hal yang terasa menghambat, membuang ketakutan yang ada, percaya dengan kekuatan diri sendiri dan berani untuk mengambil resiko dalam petualangan hidup. Kesimpulan saya: tetap optimis, Kamu Bisa!

Semua jawaban ada dalam diri Anda

Kita perlu mendengarkan diri sendiri, percaya pada diri sendiri, dan mengumpulkan ilham dari dalam diri sendiri. Bagian ini agak terlalu teoritis, terlalu banyak hal yang mengalihkan perhatian jadi tidak mudah mencari jawaban dari dalam diri sendiri. Kesimpulannya saya: fokus!

Anda akan lupa semua ini di saat kelahiran Anda

Aturan yang ini saya gak paham dan terkesan biar jadi 10 aturan saja. Lah jelas-jelas pas kita lahir kita baru akan menerima pelajarannya, jadi harusnya bukan lupa pada saat kelahiran, tapi lebih tepat pelajaran dimulai di saat Anda dilahirkan. Protes aja ya, sana bikin buku sendiri kalau mau bikin aturan sendiri hehehe.

Baca buku selfhelp begini sebenarnya gak selalu membantu buat saya, karena terkadang bahasanya muter-muter dan terlalu mengawang-awang. Buku ini berusaha menjelaskan ke sasaran, tapi mungkin karena buku terjemahan ada bagian di mana saya merasa kurang bisa memahami bukunya. Tapi kalau disuruh baca buku versi bahasa Inggrisnya, kayaknya kapan-kapan aja deh heehehe.

Semoga dari review buku ini, walaupun banyak bagian yang kurang bisa dipahami, bisa mendapatkan hal-hal untuk direnungkan dalam menghadapi tantangan hidup. Kalau mau lebih detail penjelasannya, silakan cari bukunya, saya gak yakin masih ada di gramedia hehehe.

Keluarga Super Irit 28: Itu Irit Bukan Pelit!

Buku ini merupakan salah satu buku yang dibeli waktu mudik ke Indonesia kemarin. Buku terjemahan dari komik Korea mengenai jurus berhemat dari keluarga Bindae. Sudah banyak seri dari buku ini yang ditejemahkan dan bisa dibeli di Gramedia, tapi saya cuma beli 1 karena pengen coba liat isinya seperti apa. Buku ini termasuk dalam buku belajar mengelola uang, sehingga komiknya dikategorikan sebagai educomics.

Ada banyak tips mengenai hidup berhemat yang bisa dilihat di dalam buku ini. Sebagian besar sudah saya tahu, tapi sebagian lagi saya baru tahu dan belum coba. Beberapa tips spesifik untuk kondisi di Korea, tapi bisa diadaptasi idenya untuk berhemat.

Cerita berhemat ini mengambil setting dalam sebuah keluarga, bagaimana orangtua yang hemat mengatasi anaknya yang sangat hobi makan dan tetap bisa hemat. Ada 10 cerita dalam buku ini, ceritanya tidak harus dibaca dari depan ke belakang, tapi setiap cerita akan diakhiri dengan tips-tips atau rangkuman dari cara berhemat yang diceritakan sebelumnya.

Metode menghemat yang diceritakan dalam buku ke-28 ini bukan sesuatu hal yang baru, tapi bisa jadi sudah dilakukan oleh orangtua kita dari dulu. Saya akan mencoba menuliskan secara ringkas metode berhemat apa yang saya dapatkan dari buku ini yang bisa kita aplikasikan di jaman sekarang ini.

Dari cerita pertama, metode berhemat yang dikenalkan adalah menggunakan baking soda untuk berbagai hal, mulai dari membersihkan tumit dari kulit mati, menghilangkan noda, membuka pipa yang mampat, menghilangkan bau bahkan bisa untuk membersihkan sayuran. Trik menggunakan baking soda ini bukan hal yang baru lagi, saya sudah sering membacanya dan juga sudah mempraktekkan sebagian besar.

Cerita mengenai penggalian barang antik mengajarkan kita untuk memperhatikan nilai suatu barang sebelum membuangnya. Tidak semua barang punya nilai yang jadi mahal, tapi bisa jadi barang yang menumpuk di rumah orangtua kita bertahun-tahun ditumpuk debu ternyata masih punya nilai bahkan dicari-cari oleh kolektor jaman sekarang ini. Beberapa contoh yang bisa saja mempunya nilai lebih adalah: koin, perangko, lego seri tertentu, komik, boneka barbie. Di akhir cerita juga diberikan tips mengenai kebiasaan yang perlu diperhatikan untuk diubah kalau kita sudah merasa berhemat tapi tetap merasa selalu kekurangan uang.

Berhemat itu teorinya memang dari yang sudah ada, beberapa orang mungkin berpikir bagaimana bisa menabung kalau pendapatan selama ini selalu kurang. Supaya bisa menabung ya berhemat, berhemat bukan saja mengurangi pengeluaran, tapi juga memikirkan bagaimana menghasilkan pemasukan dari apa yang sudah ada dan tidak kita gunakan lagi. Salah satunya ya dengan cara melihat apakah ada barang antik yang mungkin buat kita tidak begitu berharga tapi buat orang lain bernilai tinggi. Bisa juga dengan cara memperbaiki apa yang rusak daripada selalu membeli baru.

Di Thailand sini sih kami bisa berhemat dengan cara membeli mainan bekas yang masih bagus, atau dengan menjual kembali mainan atau baju-baju yang sudah tidak dipakai lagi. Cara menjual kembali ini berguna untuk kita dan orang yang membeli. Kita senang karena rumah jadi tidak menumpuk barang dan dapat sedikit uang, pembeli senang karena tidak harus membeli dengan harga toko yang pastinya lebih mahal daripada harga barang bekas.

Pernah dengar pepatah: rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya? Nah di buku ini ada diberikan daftar yang bisa kita gunakan untuk mengukur sudah sehemat mana kita. Ada 4 kategori yang diberikan:

  1. Pintu kekayaan tertutup rapat: kategori ini untuk orang yang selalu mengandalkan uang dari orang tua dan tidak pernah mau berusaha berhemat
  2. Mengetuk pintu kekayaan: kategori ini untuk orang yang sudah tau bagaimana berhemat tapi belum punya keinginan kuat untuk berhemat dan masih kurang melaksanakan cara berhemat yang diketahui
  3. Pintu kekayaan sedang terbuka: kategori ini untuk orang yang sudah tahu cara berhemat dan mulai melaksanakannya tapi masih perlu lebih giat berusaha lagi
  4. Pintu kekayaan terbuka lebar: aktivitas hidup hemat dan kemampuan gaya berhemat membuat pintu kekayaan terbuka lebar.

Mungkin akan ada yang merasa: ah masak dengan berhemat bisa kaya, kalau mau kaya ya harus kerja keras biar penghasilan tambah banyak. Tapi kalau menurut saya, berapapun penghasilan, pengeluaran itu akan menyesuaikan dengan penghasilan. Kalau gak terbiasa hidup hemat, waktu penghasilan sedikit mungkin cukup, tapi waktu penghasilan banyak tetap saja gak bisa ada tabungan karena selalu dihabiskan lagi.

Mungkin ada yang akan bertanya lagi: kenapa harus jadi kaya, kita kan cukup dengan hidup berkecukupan. Yah kalau menurut saya kaya itu kan sebutan lain untuk orang yang punya kebebasan finansial, kalau butuh sesuatu yang memang harus dibeli, bisa dengan mudah membelinya tanpa harus mikir lagi uangnya darimana. Kalau kita biasa berhemat, kita jadi tau mana yang memang benar-benar perlu untuk dibeli, dan otomatis kalau memang sesuatu itu benar-benar dibutuhkan, kita bisa beli tanpa berhutang.

Tips lain yang juga sangat berguna dari buku ini adalah tips berbelanja di supermarket. Bagaimana mengatasi godaan diskon, godaan membeli barang karena harga murah padahal kita gak butuh, godaan promosi beli 1 gratis 1 dan godaan karena melihat isi troli orang lain. Saya baru tahu dari buku ini kenapa desain troli itu dibuat besar dan bolong-bolong hehehehe.

alasan troli belanja desainnya seperti itu

Tips lainnya juga ada untuk orang yang suka mendatangi konser-konser budaya. Tapi tips ini mungkin spesifik Korea di mana ada hari-hari di mana ada promosi tiket gratis. Di Thailand sendiri ada juga beberapa tiket wisata yang suka dijual lebih murah daripada datang langsung ke tempatnya, tapi tiket seperti itu ada masa berlakunya.

Tiket promosi ini murah kalau memang kita sudah pasti akan pergi, tapi kalau kita beli lalu tidak terpakai, malah jadi pemborosan. Untuk hal pembelian tiket, yang pernah kami praktekkan itu mencari informasi diskon sebelum berangkat ke tempat wisata. Banyak tempat wisata yang memberikan kupon diskon di internet, atau bisa membeli melalui aplikasi travel tertentu. Sekali lagi promosi seperti ini jadi hemat kalau memang kita sudah akan pergi ke tempatnya. Beberapa tempat di sini juga bisa lebih murah kalau bayar dengan harga Thai, untuk itu saya merasa kemampuan bisa berbahasa Thai sudah membuat kami banyak berhemat hahaha.

Dalam buku ini ada juga tips untuk melihat kita masuk kategori belanja seperti apa. Buku ini membagi 4 grup tipe belanja:

  1. Grup tanpa berpikir: grup ini akan belanja seenaknya dan cenderung cepat menghabiskan uang tanpa sisa. Ibaratnya berapapun penghasilan, setiap bulannya ya habis.
  2. Grup standar: grup ini belanja sesuai dengan standar. Ada kalanya berhemat tapi masih sering juga dompetnya kosong karena belanja spontan. Kurang membuat perencanaan belanja
  3. Grup penuh arti: grup ini hanya membeli barang yang dibutuhkan saja, tapi masih ada kebiasaan konsumtif sedikit.
  4. Grup pertahanan kuat: grup ini jagoan belanja yang menjaga dompet dengan ketat. Sebelum membeli barang masih berpikir berkali-kali, jadi tidak ada uang keluar sia-sia.

Saya ingat, ajaran orangtua saya masuk kategori 4, banyak yang perlu beli yang paling perlu. Dalam prakteknya tapi saya masih sering gagal dan jatuh dalam grup 3 dan bahkan 2.

Tips yang juga sangat berguna dalam buku ini adalah bagaimana mengurangi biaya makan dengan menghabiskan makanan atau bahan makanan yang sudah dibeli. Ada tips cara menyelamatkan sayuran layu/menjaga sayuran tetap segar dan bagaimana menyimpan camilan yang tersisa. Ada juga diberikan tips berhemat kalau memang mau makan di restoran.

Diakhir dari buku ini, bahkan diberikan tips bagaimana mengatasi rasa kelelahan dalam berupaya hidup hemat. Harus diakui hidup hemat itu butuh effort, tapi hemat itu bukan berarti pelit. Kalau hemat sudah jadi gaya hidup, tentunya usaha berhemat itu tidak akan terasa sulit lagi.

Saya senang membaca buku ini karena jadi mengingatkan saya lagi kalau saya ini belum benar-benar hemat, pantesan aja belum jadi orang kaya hahahhaa. Jadi penasaran pengen tau buku lainnya kayak apa lagi tipsnya.

Buku: Prayer for a Child

Buku Prayer for a Child merupakan buku klasik yang pertama kali terbit tahun 1944 tapi masih menarik untuk dibacakan sampai sekarang. Ditulis oleh Rachel Field dan setiap halamannya berisi ilustrasi gambar oleh Elizabeth Orton Jones.

Kami membeli buku ini dari Amazon waktu Jonathan masih kecil. Buku ini merupakan salah satu buku terpanjang yang dihapal Jonathan sebelum dia bisa membaca dan merupakan salah satu buku rutin yang dibaca sebelum tidur. Saya ingat, waktu kami pulang ke Indonesia buku ini juga kami bawa untuk bacaan sebelum tidur. Setelah Jonathan lancar membaca, dia mulai tertarik membaca buku lain dan buku ini kami simpan untuk adiknya.

Jonathan waktu 3 tahun 7 bulan

Sejak Joshua tertarik dibacakan buku, kami juga sudah membacakan buku ini berkali-kali ke Joshua. Lagi-lagi, walaupun dia dalam buku ini cukup panjang, Joshua juga bisa menghapalkannya sejak dia belum terlalu bisa membaca.

Beberapa lama buku ini sempat ditinggalkan dan baru belakangan ini dibaca lagi. Walau sekian lama gak dibaca, Joshua masih ingat dengan isi buku ini. Joshua sekarang sudah agak bisa membaca, tapi walaupun dia selalu membalik halaman seolah membaca, saya yakin sebagian besar berupa hapalan dan bukan benar-benar bisa dibaca.

Buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang cukup menarik dari setiap baris doanya. Kata-kata yang digunakan tidak semua sederhana, tapi cukup berima sehingga mudah diingat. Setelah membacakan beberapa kali, baru melihat gambarnya saja saya bisa ingat kalimatnya.

Joshua 3 tahun 10 bulan

Sekarang, setiap malam Joshua membaca buku ini dan meminta saya mengikuti setiap kalimat yang dia ucapkan. Kadang-kadang dia juga sambil menirukan saya yang pernah memakai buku itu untuk bermain: apa yang kamu lihat, atau mengenali objek-objek yang ada.

Secara isi doa, walaupun doa ini ditujukan penulis untuk anak perempuannya Hannah, tapi doa ini bisa juga diucapkan anak laki-laki. Bahkan bisa untuk orang dewasa sekalipun.

Doanya dimulai dengan bersyukur untuk susu dan roti (makanan), bersyukur untuk tempat tidur yang ada, bersyukur untuk mainan yang dimiliki sampai mendoakan semua anak-anak di seluruh dunia jauh maupun dekat.

Buku ini merupakan buku yang bagus untuk mengajari anak berdoa. Kita bisa mengajari anak berdoa bukan hanya untuk diri sendiri saja, tapi juga untuk semua hal kecil dan besar, mengucap syukur untuk orangtua dan saudara. Tak lupa mendoakan sesama (anak-anak lain).

Walaupun pada saat anak-anak kami membaca buku ini kemungkinan besar mereka belum mengerti sepenuhnya dengan isi doanya, tapi kami senang menemukan buku yang mengajari anak berdoa seperti ini.