Buku Anak-Anak di iPusnas

Kali ini mau review beberapa buku anak-anak yang pernah dipinjam di iPusnas. Buat yang belum tahu apa itu iPusnas, bisa baca posting saya yang lama di sini. Jonathan memang belum lancar baca bahasa Indonesia, tapi kalau tidak dilatih dari sekarang, kapan lagi belajarnya.

Saya senang sekali menemukan beberapa buku anak-anak di iPusnas ternyata memakai 2 bahasa: Inggris dan Indonesia. Jadi saya berikan tugas ke Jonathan untuk membacanya. Dari setiap buku yang dia baca, saya minta Jonathan menuliskan minimum 10 kata bahasa Indonesia yang dia rasa baru untuknya.

Biasanya, untuk memberikan kenyamanan membaca buku digital, kami membacanya di tablet yang ukurannya cukup besar. Layar handphone tidak cukup besar untuk anak-anak. Jadi kami akan meminjamkan tablet yang tidak terinstal aplikasi sosial media, supaya ketika membaca tidak ada gangguan dari berbagai notifikasi lainnya.

Sejauh ini saya perhatian ada 2 pengarang yang karyanya saya suka dan berikan untuk dibacakan ke anak-anak: Watiek Ideo dan Arleen Amidjaja. Karya-karya mereka selain menggunakan 2 bahasa, ilustrasinya juga bagus dan kosa kata yang digunakan tergolong mudah untuk anak-anak, apalagi yang baru belajar membaca.

Setiap cerita dari karya mereka juga mengajarkan sesuatu ke anak dan ada pesan moralnya. Untuk yang lebih suka membeli buku fisik, beberapa dari buku ini juga memberikan kegiatan untuk dikerjakan anak-anak. Tapi untuk kami yang akses beli buku cuma setahun sekali, meminjam di ipusnas merupakan pilihan yang sangat membantu.

Lanjutkan membaca “Buku Anak-Anak di iPusnas”

Baca buku: Kim Ji-Yeong Born 1982

Setelah minggu lalu bolos baca buku, kemarin bolos nulis karena memutuskan baca buku Kim Ji-young, Born 1982 sampai selesai. Bukunya sebenarnya tipis, cuma 196 halaman sudah termasuk halaman-halaman yang tidak perlu dibaca. Tapi karena memulainya sudah sore, dan tanggung bacanya, jadilah memilih meneruskan membaca daripada menulis.

cover buku Kim Ji Yeong, sumber: Gramedia Digital

Buku ini aslinya berbahasa Korea, terbit tahun 2016 oleh seorang wanita Korea: Cho Nam-joo, yang pernah bekerja sebagai penulis skrip acara TV. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di tahun 2019 dan saya bacanya di Gramedia Digital.

Kisah dalam buku ini sudah diangkat menjadi film, tapi saya belum menonton filmnya. Tulisan ini merupakan kesan yang saya dapat dari baca bukunya. Terjemahannya terasa cukup enak dibaca, dan emosinya bisa bisa membuat saya merasa seakan-akan buku fiksi ini adalah kisah nyata dari seorang wanita yang lahir dan besar di Seoul, Korea di tahun 1982.

Walaupun buku ini berjudul Kim Ji-Yeong (KJY), tapi saya mau menuliskan kesan tentang wanita-wanita Korea lainnya yang diceritakan dalam buku ini. Selain kisah hidup KJY sejak lahir sampai tahun 2016, ada 3 wanita lain yang diceritakan dalam buku ini yang situasinya mirip dengan KJY: Ibunya Oh Man-Suk, Ketua tim di kantor yang bernama Kim Eun-sil dan istri dari psikiater yang membantunya mengatasi depresi.

Lanjutkan membaca “Baca buku: Kim Ji-Yeong Born 1982”

Baca Buku: Madre (Kumpulan Cerita)

Awalnya gak sengaja nemu novelet Madre di ipusnas. Isinya cuma 51 halaman. Ceritanya menarik dan saya selesaikan dengan cepat. Terus waktu baca-baca review, katanya ini merupakan bagian dari buku kumpulan cerita nya Dee Lestari dengan judul yang sama. Saya jadi penasaran, kira-kira cerita lainnya menarik juga tidak ya untuk dibaca.

cover novelet Madre di ipusnas

Saya pikir, coba cari ah di Gramedia Digital. Ternyata di Gramedia Digital, buku kumpulan ceritanya harus beli. Hmm… karena tidak tahu apakah cerita lainnya menarik juga, saya urungkan niat membeli. Apalagi kabarnya sih ada puisi juga selain cerita. Kalau melihat dari judul bukunya, kemungkinan besar memang novelet Madre ini merupakan cerita utamanya.

Lanjutkan membaca “Baca Buku: Madre (Kumpulan Cerita)”

Baca Buku: Gadis Jeruk

Buku Gadis Jeruk oleh Jostein Gaarder ini awalnya nemu di ipusnas, tapi ternyata ada juga di Gramedia Digital. Buku terjemahan berbahasa Indonesia ini tebalnya 254 halaman. Buku aslinya berbahasa Norwegia dengan judul Appelsinpiken. Sebelum membaca buku gadis jeruk ini, bulan Agustus 2016 saya juga sudah membaca buku versi bahasa Inggrisnya di Kindle dengan judul The Orange Girl. Kalau menurut keterangan di Kindle, buku versi kindle hanya 168 halaman. Saya tidak tahu kenapa ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia jadi lebih banyak jumlah halamannya. Mungkin karena beda format bukunya. Oh ya, Jonathan juga sudah selesai membaca buku versi bahasa Inggrisnya.

Ringkasan Cerita

Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Georg, berusia 15 tahun, yang berkesempatan membaca surat dari ayahnya yang dituliskan sebelum ayahnya meninggal. Ayah Georg bernama Jan Olav, sudah meninggal sejak dia berumur 4 tahun (11 tahun yang lalu). Jadi bisa dibilang, dia tidak begitu punya banyak kenangan dengan ayahnya. Surat itu ditemukan oleh kakek neneknya ketika bersih-bersih gudang. Suratnya berupa cerita tentang seorang gadis yang diberi nama gadis jeruk oleh ayahnya.

Lanjutkan membaca “Baca Buku: Gadis Jeruk”

Baca Buku: Show Your Work!

Setelah membaca buku pertama dan ketiga dari Austin Kleon, tadinya hampir tidak membaca buku ke-2 ini. Tapi ya, karena sudah dipinjam dari ipusnas, saya pikir tidak ada salahnya saya baca juga. Ternyata…isinya tidak kalah menarik dari buku ke-3. Jadi memang mungkin lebih enak bacanya kalau berurutan ya, masing-masing buku membuat saya tetap mengangguk-angguk setuju.

Oh ya, jadi ada 3 buku Austin Kleon (dan semuanya sudah saya baca):

  1. Steal Like An Artist atau mencuri seperti seorang seniman. Berisi tips-tips untuk meniru orang lain sambil menemukan gaya berkreasi diri sendiri.
  2. Show Your Work! ini buku yang akan saya tuliskan di sini. Isinya tentang bagaimana “pamer karya” dan membuat orang tertarik dengan karya kita.
  3. Keep Going. Bagaimana kalau kita sudah berkarya dan sudah mulai merasa berhasil, lalu mengatasi perasaan mentok ketika kita merasa karya kita tidak sebaik sebelumnya.

Nah, sebenarnya beberapa hal yang dibahas di buku ketiga itu ada sebagian di buku pertama, makanya tadinya saya hampir tidak membaca buku ke-2. Tapi tetap saja ada hal-hal yang terasa baru dan menyemangati diri untuk tetap berkarya.

Ah kepanjangan pendahuluan nih, langsung aja deh ke bagian-bagian yang menurut saya menarik.

Lanjutkan membaca “Baca Buku: Show Your Work!”

Baca Buku: Steal Like an Artist

Waktu buka-buka aplikasi ipusnas, saya menemukan kalau 2 buku Austin Kleon yang dia tulis sebelum buku Keep Going ada versi terjemahannya di sana. Langsung deh dipinjam. Saya pilih baca buku Steal Like an Artist yang terbit tahun 2012 terlebih dulu. Buku Show your work belum dibaca tapi sudah dipinjam.

Ada 2 buku Austin Kleon di ipusnas

Oh ya, aplikasi ipusnas ini agak berubah-ubah aturannya. Kalau dulu bisa pinjam cuma 3, belakangan ini bisa pinjam 2 buku/hari. Terus kalau dulu misalnya kita tidak suka dengan isi buku yang kita pinjam, bisa kita kembalikan langsung, tapi sekarang kita hanya bisa mengembalikannya 24 jam kemudian. Kalau dulu bisa pinjam agak lama, sekarang hanya bisa dipinjam 3 hari. Kalau dalam waktu 3 hari belum selesai, ya bisa pinjam lagi.

cover buku di aplikasi ipusnas

Judul bukunya tetap bahasa Inggris, tapi isinya sudah berbahasa Indonesia semua kok. Ini bisa dilihat daftar isinya.

Lanjutkan membaca “Baca Buku: Steal Like an Artist”

Baca Buku: Dilan 1990

screen capture cover dari aplikasi ipusnas

Dalam rangka memaksa diri membaca buku. Kemarin ingat lagi buat buka aplikasi ipusnas setelah sekian lama gak dibuka. Setelah melihat-lihat sekian lama dan tidak ada buku yang menarik untuk dibaca, eh tiba-tiba liat buku Dilan ini. Jadi ingat, buku yang sudah difilmkan ini pernah ramai dibicarakan di grup.

Kesan pertama: eh ini buku diceritakan dengan sudut pandang seorang gadis SMA kelas 2 dengan setting tahun 1990 di Bandung. Karena pernah tinggal di Bandung, beberapa tempat yang diceritakan bisa dibayangkan. Tapi karena di Bandungnya bukan masa SMA, jadi gak bisa juga bayangkan kehidupan anak SMA di Bandung seperti apa.

Gaya bahasa di buku Dilan ini terasa aneh buat saya. Karena sudah pernah menonton filmnya sekilas, jadi kebayang sih cara Milea dan Dilan berbicara (walaupun sudah lupa wajah-wajah pemerannya). Waktu menonton Dilan juga saya sebenarnya agak geli dengan gaya bahasanya. Tapi waktu itu saya tonton juga buat sekedar tahu hehehe.

Mungkin karena masa SMA sudah lama berlalu, agak sulit menerima kegombalan Dilan. Kalau saya jadi Milea, dari pertama Dilan datang mendekati dengan motornya, pasti saya udah lari menjauh. Waktu tau Dilan anak geng motor ataupun suka melawan guru, pasti saya bakal lebih gak suka lagi.

Waktu ada cerita ternyata Milea sudah punya pacar di Jakarta, nah ini kok saya makin gak suka dengan Milea. Jelas-jelas Milea ini tipe wanita gak setia (ups banyak yang protes gak ya hahaha). Beni, pacar Milea yang di Jakarta juga sepertinya bukan pemuda yang oke. Tipe cemburu buta tanpa bertanya, dan kata-katanya kasar. Saya setuju Milea putusin tuh Beni. Eh tapi karena Milea tidak pernah ceritakan apa yang bikin dia suka dengan Beni, saya tidak bisa menilai lebih banyak selain yang diceritakan Milea saja. Beni itu digambarkan kasar omongannya. Cowok kasar dibandingkan dengan cowok gombal seperti Dilan, tentu saja anak SMA bakal kesengsem sama yang pintar bermain kata.

Terlepas dari jalan ceritanya, betapa Milea lebih memilih Dilan si anak geng motor dibanding teman sekelasnya yang pintar, atau guru les nya yang anak ITB, cerita Dilan ini menarik karena ditulis oleh pria dengan mengambil sudut pandang wanita anak SMA pula. Sepertinya kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Bisa jadi penulisnya sebenarnya menggambarkan Dilan sebagai dirinya di masa SMA.

Saya tahu buku Dilan ini ada lanjutannya. Tapi saya kurang ingin cari tahu kelanjutan kisah Milea dan Dilan apakah bahagia selamanya atau cuma sampai di situ saja hehehe. Saya malah kepikiran, kira-kira berapa banyak anak SMA yang terinspirasi memberikan hadiah buku teka-teki silang yang sudah diisi ke pacarnya dengan alasan: supaya kamu gak pusing mikirinnya. Atau berapa banyak anak SMA yang malah jadi pengen pacaran dengan anak geng motor karena berharap mereka seperti Dilan?

Buat saya, Dilan itu tetap bukan tokoh ideal. Walaupun kata-katanya gak kasar, tapi dia suka main kekerasan (berantem dengan guru dan sibuk mengatur penyerangan geng motor buktinya). Kalau masih SMA suka kekerasan, gimana nanti besarnya?

Dari keseluruhan cerita itu, yang paling saya suka ibunya Dilan. Saya tapi tetap gak mengerti ibunya Dilan yang diceritakan seorang guru juga, ibu yang baik dan lembut begitu bisa membiarkan anaknya ikut geng motor. Ah namanya juga cerita ya, lebih baik dinikmati saja. Diambil baiknya dan belajar untuk menghindari yang gak baiknya.