Grey’s Anatomy Season 17

Serial TV terpanjang yang saya ikuti itu ya Grey’s Anatomy. Saya tidak mengikuti dari awal, tapi setelah ada beberapa season, saya menonton beberapa season sekaligus. Akhirnya sejak sekitar season 10, saya mengikuti setiap kali ada episode baru keluar.

Hari Kamis kemarin, 2 episode pertama season 17 dimulai lagi, dan hari ini saya berkesempatan menontonnya di Disney+ Hotstar (nambah langganan layanan streaming lagi deh). Hari ini saya jadi menyadari, alasan saya tetap nonton serial ini. Saya memang sudah malas mengikuti serial western yang jumlahnya puluhan episode (dan banyak season), tapi masih ada beberapa serial yang tetap diikuti dan serial ini salah satunya.

Lanjutkan membaca “Grey’s Anatomy Season 17”

Mencoba Bel Pintu Tanpa Baterai

Dari sejak ngontrak rumah di Chiang Mai, rumah yang kami tempati sistem belnya sudah rusak kabelnya. Jadi kami selalu mengakali dengan membeli bel tanpa kabel. Biasanya bel tersebut butuh baterai, baik untuk bagian penerima yang mengeluarkan suara maupun yang dipencet. Masalah berikut yang muncul adalah: baterainya tidak tahan lama dan lama-lama jadi malas ganti baterai. Nah sekarang ini kami mencoba memakai bel pintu yang tanpa baterai.

Bel yang di pencet tanpa baterai, penerimanya dicolok di rumah

Teorinya, bel ini bisa tanpa baterai karena ketika tombolnya dipencet, tenaga yang dihasilkan dari gerakan pencet itu cukup untuk mengirimkan sinyal ke penerimanya. Lalu bagian penerimanya tentu saja butuh listrik untuk membunyikan melodi yang bisa kita dengar. Jadi tidak ada lagi kebutuhan akan baterai.

Lanjutkan membaca “Mencoba Bel Pintu Tanpa Baterai”

“Alice in Wonderland,” Buku Klasik Kaya Inspirasi

Setelah membaca buku klasik The Wonderful Wizard of Oz sambil mendengarkannya di audible stories, saya jadi tertarik untuk membaca Alice’s Adventures in Wonderland. Iya, walau sudah sering sekali mendengarkan ceritanya dan garis besar ceritanya, saya baru menyadari ternyata saya belum pernah membacanya secara keseluruhan.

Cover Alice in Wonderland dari Amazon Classics

Buku Alice’s Adventures in Wonderland atau yang lebih sering disingkat menjadi Alice in Wonderland ini terbit tahun 1865. Penulisnya Charles Dodgson memakai nama pena Lewis Caroll, adalah seorang matematikawan yang menyenangi dunia literasi sejak kecil. Walaupun buku ini dalam kategori buku untuk anak-anak, tapi sebagai orang dewasa, saya cukup menikmati cerita dalam buku ini dan tidak bosan membacanya berkali-kali.

Lanjutkan membaca ““Alice in Wonderland,” Buku Klasik Kaya Inspirasi”

Kdrama: “Record of Youth”, Bukan Mimpi di Siang Hari

Hari ini tidak terasa sudah saatnya untuk menuliskan tantangan kokoriyaan lagi. Semakin mendekati akhir dari tantangan menulis, semakin sulit mencari ide tulisannya. Kebetulan banget nih lagi pengen cerita tentang drama “Record of Youth” yang baru ada 4 episode di Netflix dan tayang setiap Senin dan Selasa.

Poster Record of Youth (sumber: wikipedia)

Topik 28. Daydreaming: pengen ketemu tokoh drama yang mana? Atau pengen jadi tokoh drama yang mana. 

Walaupun mungkin tidak terlalu pas, mari kita pas-pasin saja ya isi tulisannya sebagai jawaban dari tantangan tulisan kali ini, hehehe.

Lanjutkan membaca “Kdrama: “Record of Youth”, Bukan Mimpi di Siang Hari”

Review Coursera “Mind Control: Managing Your Mental Health During COVID-19”

Beberapa hari lalu, saya tidak sengaja menemukan kursus ini. Setelah 6 bulan dalam masa pandemi, dan Thailand sudah mulai aman, saya tidak lagi dalam isolasi yang bikin stress. Tapi melihat keadaan di seluruh dunia, ada kalanya terpengaruh juga sih, apalagi kekhawatiran akan gelombang ke-2 yang selalu membayangi Thailand.

Kursus ini judulnya menarik, seputar mengendalikan pikiran dan mengelola kesehatan mental di masa pandemi. Topik ini banyak dibicarakan belakangan ini di masa pandemi. Judulnya bikin penasaran dan saya ambil karena saya pengen tahu isinya apa, dan saya sudah menyelesaikannya tanggal 10 September 2020 kemarin.

Lanjutkan membaca “Review Coursera “Mind Control: Managing Your Mental Health During COVID-19””

Pompa Ban Xiaomi Portabel

Hari ini saya mau review salah satu benda dari Xiaomi yang ternyata kemarin tidak masuk dalam daftar benda xiaomi selain ponsel yang kami miliki. Kalau di Indonesia dulu, kita bisa mengisi angin mobil dengan membayar dan orangnya akan mengisikan angin di mobil kita. Di Thailand, mesin isi angin ada hampir di setiap pom bensin. Bedanya dengan di Indonesia, di sini mengisi angin dilakukan sendiri dan tidak dikenakan biaya.

Sebenarnya, mengisi angin dengan mesin otomatis tidak sulit, yang sulit itu karena kami jarang melewati pom bensin. Kalaupun sedang isi bensin, rasanya malas untuk sekalian isi angin ban mobil. Akhirnya, beberapa waktu lalu, kami membeli alat pompa angin portabel yang bertenaga baterai. Pompa ini dibeli karena bisa lebih cepat juga untuk mengisi ban sepeda yang sering kali sudah flat setelah beberapa lama tidak digunakan.

Kantongnya lengkap dengan kantong kecil tempat aksesori kepala pompa dan kabel charger
Lanjutkan membaca “Pompa Ban Xiaomi Portabel”

Kdrama: “Pasta” dan “Oh My Ghostess”, Kisah Cinta di Restoran Italia

Hari ini waktunya menuliskan tentang drama Korea dengan tema yang serupa tapi tak sama untuk tantangan menulis bersama teman-teman drakor dan literasi. Sebenarnya saya sudah pernah menuliskan drama senada seperti “Her Private Life” dan “What’s Wrong With Secretary Kim”, dan juga drama “Hyde, Jekyll and Me” dan “Kill Me Heal Me”. Hari ini waktunya menuliskan drama yang lain lagi.

Setelah membongkar-bongkar ingatan, mencari drama mana lagi yang sudah ditonton tapi belum dituliskan, saya jadi teringat dengan drama “Pasta (2010)” dan “Oh My Ghostess (2015)”. Dua drama bergenre komedi romantis yang ringan tapi manis dan menghibur hati dan bikin pengen makan Spaghetti.

Lanjutkan membaca “Kdrama: “Pasta” dan “Oh My Ghostess”, Kisah Cinta di Restoran Italia”