Situasi Chiang Mai Saat Ini

Kemarin 25 Maret 2020, pemerintah Thailand mengeluarkan Emergency decree untuk mengatasi Covid-19. Isinya dalam bahasa Thai, tapi terjemahannya kira-kira seperti yang dibagikan oleh FB Australia in Thailand. Aturan ini diberlakukan di seluruh Thailand mulai 26 Maret sampai 30 April 2020. Masing-masing daerah boleh menambahkan aturan kalau dianggap perlu.

Ini bukan lockdown dan tidak ada curfew, banyak hal memang ditutup, tapi kebutuhan pokok seperti makanan masih tersedia dan kita boleh keluar untuk belanja. Rumah makan hanya boleh beli untuk dibawa pulang dan tidak boleh makan di tempat. Masyarakat dihimbau untuk tidak banyak keluar rumah kalau tidak dibutuhkan. Kalau situasi tidak membaik atau banyak yang bandel, ada kemungkinan diterapkan curfew 24 jam (semoga tidak sampai terjadi).

Beberapa jalan ditutup, supaya semua orang bisa melalui titik pemeriksaan, terutama untuk jalanan antar kota. Pemeriksaan ini lebih ke pemeriksaan suhu tubuh, untuk menghindari kemungkinan penularan antar propinsi.

Lanjutkan membaca “Situasi Chiang Mai Saat Ini”

Mari Hentikan Hoaks

Menurut KBBI, Hoaks mengandung makna berita bohong, berita tidak bersumber.[3] Menurut Silverman (2015), hoaks merupakan sebagai rangkaian informasi yang memang sengaja disesatkan, tetapi “dijual” sebagai kebenaran.[4] Menurut Werme (2016), mendefinisikan Fake news sebagai berita palsu yang mengandung informasi yang sengaja menyesatkan orang dan memiliki agenda politik tertentu.[5] Hoaks bukan sekadar misleading alias menyesatkan, informasi dalam fake news juga tidak memiliki landasan faktual, tetapi disajikan seolah-olah sebagai serangkaian fakta [6]

Wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Berita_bohong

Dari jaman mailing list sampai jaman grup chat, selalu ada saja yang tidak melakukan saring sebelum sharing. Kecepatan jempol share baru baca, atau sekedar baca judul dan langsung ambil kesimpulan, membuat berita bohong menyebar dengan tak terkendali.

Di saat sekarang ini, terutama dalam masa wabah covid-19, hoaks semakin banyak mulai dari siapa yang tertular positif, di mana ada yang positif, apa obatnya untuk membuat tubuh kebal, sampai berita tentang pasien positif yang dikabarkan meninggal karena covid-19.

Belakangan ini banyak teman-teman saya yang bilang: “bosan baca berita Corona, semuanya menakut-nakutin”. Atau ada juga yang bilang: “capek deh menjelaskan ke orang yang suka sebar hoaks tentang corona, dikasih tau ngeyel”.

Periksa hoax atau bukan seputar corona di https://www.covid19.go.id/hoaks-buster/
Lanjutkan membaca “Mari Hentikan Hoaks”

Ngobrolin Kdrama: Itaewon Class

Siapa yang sudah nonton drama Itaewon Class ini? Kalau belum, tontonlah. Ada banyak yang bisa dijadikan quote dari drama itu. Seperti halnya semua drama, akan ada saja hal-hal yang kurang pas dengan prinsip kita, tapi daripada putar ulang CLOY melulu, lebih baik kita nonton drama baru.

Saya menonton ini tanpa ekspektasi apapun. Belum pernah baca sama sekali ataupun melihat video teasernya. Saya mulai mengikuti setelah dramanya ada 6 episode. Kalau lihat posternya di Netflix, saya sebenernya mikir: ah ini cerita anak muda pada hangout malam-malam di daerah klub malam ngapain sih, gak bagus nih pasti ceritanya. Iya, kadang-kadang saya cuma lihat sekilas terus bikin kesimpulan sendiri. Tapi karena waktu itu namanya lagi iseng, saya tonton deh episode 1 nya. Dan…loh kok ternyata alur ceritanya menarik ya. Genrenya bukan romcom pastinya, lebih ke cerita kehidupan tapi bukan melodrama – ah bener-bener males nyari info banget sih.

Tulisan kali ini mungkin akan banyak semi spoiler. Semua foto berisi quote yang ada saya ambil dari internet (dengan kredit tentunya), jadi ada kemungkinan bisa menebak sendiri. Tapi yang pasti, walaupun endingnya ketebak, jalan ceritanya tetap menarik untuk diikuti.

Drama ini ada beberapa bagian berisi adegan kekerasan dan terasa emosional tapi juga ada prinsip yang diajarkan seorang ayah ke anaknya. Anak yang melakukan prinsip yang diajarkan ayahnya, dan Ayah yang bangga dengan prinsip anak walaupun sebenarnya ada jalan yang lebih mudah untuk keluar dari situasi yang dihadapi.

Ceritanya dimulai ketika Park Sae Roi (PSR) pindah sekolah dari kota besar ke kota kecil. Di hari pertama dia masuk sekolah, dia melihat ada anak lagi dibully. Dia bantuin tuh yang dibully dan malah jadi berantem sama pembully. Naaah, ternyata si pembully ini anak orang kaya dan punya kekuasaan, makanya dia biasa bebas membully siapapun. Guru-guru dan teman sekelasnya tidak ada yang berani sama dia, kecuali PSR si murid baru.

Begini mulanya: Prinsip yang membuat ayahnya pun harus berhenti bekerja (sumber: @drama_johaa)
Lanjutkan membaca “Ngobrolin Kdrama: Itaewon Class”

Cerita Ibadah Online

Mulai hari Minggu kemarin, dan untuk 3 hari Minggu mendatang, gereja di mana kami biasa hadir mengadakan kebaktian melalui live streaming memanfaatkan YouTube broadcast. Selain sebagai tindakan pencegahan penyebaran covid-19, saya rasa tindakan ini bagus juga diambil mengingat polusi di Chiang Mai masih dalam level tidak sehat dan udara yang panas sekitar 39 derajat celcius. Sebelum ada live streaming ini, kami sudah beberapa kali bolos gereja karena polusi dan udara panas, jadi adanya live streaming ini tentunya saya sambut dengan gembira.

Acara live streamingnya dimulai pada jam kebaktian seperti biasa. Materi untuk anak-anak sudah dikirim sejak hari Jumat. Jadi kemarin karena sebelum jam 4 sore anak-anak sudah bangun, kami manfaatkan untuk memberikan materi untuk anak-anak terlebih dahulu. Membacakan ayat hapalan dan juga memutar video, lalu memberikan kegiatan mewarnai. Sebentar juga selesai hehehe.

Joshua membaca ayat hapalan
Lanjutkan membaca “Cerita Ibadah Online”

Makanan Indonesia di Chiang Mai

Setelah 13 tahun di Chiang Mai, dan tidak pernah ada restoran Indonesia yang harganya terjangkau dan bertahan lama, akhirnya sekarang saya bisa menikmati berbagai makanan Indonesia hampir setiap hari.

Biasanya sih harus menunggu kalau ada kumpul-kumpul Indonesia di Chiang Mai, masing-masing membawa makanan yang bisa mereka masak. Di saat itu sesekali bisa makan rendang, sayur pecel, bakwan ataupun lontong sayur. Tapi sekarang bisa lebih sering dan gak harus nunggu kumpul-kumpul, apalagi sekarang kan lagi dilarang tuh berkumpul-kumpul.

Ceritanya tahun lalu, di salah satu pertemuan masyarakat Indonesia di Chiang Mai yang digagas oleh KBRI Bangkok, saya berkenalan dengan seorang warga baru yang lokasi rumahnya kira-kira 1 jam perjalanan dari Chiang Mai dan ternyata jago masak.

Awalnya saya bercanda bilang: aduh coba mbak rumahnya di Chiang Mai, saya mau katering deh sama mbak. Ternyata… mbak itu setiap minggunya memang ada jadwal ke Chiang Mai untuk berbelanja berbagai bahan kebutuhan masakannya, jadi dia bersedia sambil membawa pesanan makanan saya.

Awalnya sih pesen makanan yang kira-kira bisa tahan lama seperti cemilan dan kue kering, lalu sekarang sudah bertambah banyak menunya termasuk makanan untuk lauk yang bisa dimasukkan freezer dan bisa jadi makanan untuk beberapa hari hehehe. Di saat himbauan untuk di rumah saja dan tidak kemana-mana seperti sekarang, saya tinggal penuhi kulkas dengan berbagai masakan dari si mbak.

Contohnya hari ini, saya sarapan pagi dengan lupis dan makan siang dengan gudeg nangka pakai telur dan tempe bacem. Supaya awet, lupisnya dikirim terpisah dengan kelapanya dan juga masih dibungkus daun pisang. Di Indonesia saya tidak pernah melihat lupis yang masih terbungkus daun pisang hehehe.

Jadi yang perlu saya lakukan tadi pagi hanyalah memanaskan lupisnya dan kelapa parutnya sebentar, dan tadaaaa sarapan tersedia. Untuk makan siang, saya juga tinggal memanaskan gudeg nangka dan telur, lalu menggoreng tempe bacem. Iya saya memang bisa bikin tempe bacem sendiri, tapi saya lebih suka memesan yang tinggal digoreng karena gak perlu repot mulai dari bikin tempe yang butuh waktu lebih dari 1 hari dan merebus tempenya jadi bacem.

Lanjutkan membaca “Makanan Indonesia di Chiang Mai”

Social distancing yang connecting people

Bukan, ini bukan iklan Nokia.

Saya perhatikan, sejak adanya gerakan dirumah saja atau yang dikenal dengan nama social distancing, timeline media sosial saya jadi lebih ramai. Saya yang sudah lama tidak update status FB , beberapa hari ini jadi share informasi minimal 1 kali.

Bukan, mereka bukan cuma mengupdate masalah seputar Covid-19, tapi juga banyak update tentang kegiatan belajar di rumah ataupun bertukar gambar-gambar lucu untuk mengalihkan perhatian dari hal-hal yang harus dihadapi.

Saya perhatikan, beberapa kontak saya yang biasanya juga diam-diam saja seperti saya juga mengupdate entah tentang situasi mereka saat ini, saling berkomentar dengan teman yang lain ataupun berbagi himbauan dari pemerintah di mana mereka berada.

Di WhatsApp grup yang saya ikuti, orang-orang yang biasanya hanya jadi pengamat atau bahkan tidak pernah berkomentar juga jadi bermunculan. Ada yang bertanya ataupun berbagi cerita.

Saya sendiri jadi berusaha menghubungi beberapa teman lama yang merupakan tenaga kesehatan untuk bertanya bagaimana kabar mereka dan kondisi di tanah air. Sebelumnya kami seperti tidak ada bahan obrolan, tapi dengan adanya masalah yang dihadapi bersama, tidak pakai basa-basi rasanya kami tidak pernah lama tanpa komunikasi.

Memang, di rumah saja bukan berarti kita tidak terhubung dengan dunia luar. Dengan adanya teknologi internet saat ini, yang jauh bisa terasa dekat walaupun kadang-kadang ada juga kasus yang dekat malah ngobrolnya balas-balasan di komen sosmed hehehe.

Satu lagi yang saya perhatikan, kabarnya work from home ataupun belajar di rumah bikin orang-orang jadi cepat lapar. Mungkin karena energi habis untuk membaca informasi yang berdatangan, atau kurang kerjaan jadilah makan aja yang terpikir hehehe. Apalagi untuk orang-orang yang mengisi kulkas penuh sebelum masa di rumah saja di mulai.

Sebenarnya, menurut saya, kalau tidak ada masalah polusi seperti kami yang di Chiang Mai, keluar dari rumah untuk melihat langit yang biru dan bermain di halaman rumah boleh-boleh saja. Atau sekedar bekerja sambil memandangi orang yang sesekali lalu lalang. Tapi buat kami, langit biru itu merupakan hal yang langka ditemui. Jadi kami benar-benar harus di dalam rumah saja.

Sebelum tulisan ini berubah jadi curcol soal polusi, baiklah saya akhiri saja. Manfaatkan saja waktu di rumah. Bersyukur saja kalau masih bisa punya pilihan untuk bekerja di rumah atau di rumah saja. Banyak orang yang mungkin berharap bisa di rumah saja tapi tugas dan kewajiban memanggil atau kalau ga kerja ya ga bisa makan.

Kalau lagi bosan, coba untuk mencari hobi baru atau belajar hal baru untuk mengisi waktu. Jangan malah terpikir untuk piknik ke tempat yang ramai. Piknik di halaman rumah saja bersama keluarga.

Kalau HP habis batere ya jangan dipakai sambil charge dengan powerbank. Mungkin itu tandanya waktu untuk keluarga.

Kata siapa social distancing menjauhkan orang-orang? mungkin kita harus jaga jarak secara fisik, tapi semua bisa tetap dekat di hati.

Pamer langit biru dulu ya– hal langka beberapa bulan terakhir

Belajar ala Joshua

Saya termasuk beruntung, tidak perlu susah payah mengenalkan huruf, angka dan membaca ke Joshua. Saya lupa persisnya sejak umur berapa dia menunjukkan ketertarikan dengan huruf dan angka. Tapi di umur belum 5 tahun, dia masih suka sekali dengan huruf dan angka dan sudah bisa membaca.

Nggak ke sekolah bukan berarti gak belajar. Anak-anak belajar dari bermain. Jadi untuk orangtua yang anaknya masih di bawah 6 tahun, gak usah pusing dengan tugas berjibun dari sekolah. Anak gak akan belajar kalau dipaksa, mending juga diajak main.

Beberapa mainan yang selalu dimainkan oleh Joshua tanpa bosan dalam mempelajari huruf dan angka. Siapa tahu bisa jadi inspirasi untuk masa-masa di rumah saja ini. Sebagian besar mainan sudah kami punya dari Jonathan kecil, tapi rasanya Joshua lebih banyak memainkan semuanya tanpa bosan.

Kalaupun di rumah saja, saya belum mengatur apa saja yang harus dikerjakan Joshua. Biasanya dia akan memilih sendiri apa yang dia mau. Rumah berantakan tidak masalah, selesai bermain bisa diajak untuk merapihkan. Berikut ini beberapa mainan yang sering dimainkan Joshua siapa tahu bisa jadi inspirasi dalam masa social distancing

LEGO

main lego juga bisa untuk belajar huruf

Lego selain bisa membentuk-bentuk sesuai petunjuk, bisa juga untuk dipakai bikin huruf dan angka. Kalau anak suka dengan hal yang lain, ajak dia membentuk hal-hal lain dengan menggunakan lego.

Lanjutkan membaca “Belajar ala Joshua”