Tentang Kopdar

Kemarin teman saya bercerita, kalau temannya ada yang baru kopdar. Saya sudah lama sekali gak dengar kata kopdar ini, jadi teringat masa-masa di Bandung dulu ikutan kopdar komunitas, ataupun nemenin temen kopdar. Kopdar ini singkatan dari kopi darat, alias ketemuan di dunia nyata dengan teman (atau teman-teman yang selama ini interaksinya di dunia online).

Kalau dulu mungkin orang kenalan kebanyakan dari IRC atau platform chat lainnya (Yahoo, ICQ dan atau Mailing List), sekarang ini sosial media juga menjadi salah satu tempat ketemuan orang di dunia online. Banyak yang saya tahu menambah teman dari FB atau instagram, kalau saya sih biasanya yang ada di sosial media saya adalah orang-orang yang memang saya kenal langsung atau belakangan ini dari group menulis yang membuat saya mulai rajin ngeblog lagi.

Kopdar itu ngapain sih? ya sebenarnya kopdar itu intinya ketemuan. Setelah sekian lama ngobrol pake tulisan dan atau video call, terutama untuk orang-orang yang mungkin sedang cari jodoh sekalian ketemu di dunia nyata. Bisa juga ketemuan kalau mau tukar proyek, ngasih proyek atau bertukar ilmu.

Dari beberapa kali kopdar, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk membuat pertemuan pertama ini terasa lebih nyaman buat semua pihak yang bertemu (terutama buat yang mau cari jodoh wkwkwk)

Lokasi bertemu

Tentukan lokasi bertemu yang tidak terlalu ramai dan tidak terlalu sepi juga. Biasanya restoran atau coffee shop jadi tempat yang cukup nyaman kalau misalnya sama-sama ngopi. Gak usah kuatir soal siapa yang bayar, namanya baru ketemu ya bayar masing-masing dong ah. Kalau ada yang mau bayarin gimana? ya gak ditolak dong, asal wajar-wajar saja, apalagi kalau misalnya ketemunya rame-rame, masa yang bayar ditumpukan pada 1 orang.

Ngobrol!

Nah kan ketemuan ini tujuannya ngobrol, ya ngobrollah. Topiknya apa? ya sama aja dengan topik selama ini waktu chatting. Bisa soal buku yang sedang dibaca kalau hobi baca, bisa soal film yang sedang tayang kalau hobi nonton, atau apalah topik yang selama ini bisa bikin betah chatting lama-lama.

Topik yang sebaiknya jangan dibicarakan: topik politik atau ngomongin artis, karena 2 topik itu gak akan ada habisnya. Kecuali misalnya udah tau punya pandangan politik yang sama atau selera yang sama terhadap artis tertentu, ya bolehlah diobrolin hehehe. Jangan juga ngobrolin temennya temen yang random banget atau curhat soal kerjaan kantor, karena biasanya agak susah mengikuti pembicaraan kalau gak kebayang siapa yang diomongin.

Oh iya, kalau lagi kopdar, kecuali sedang menunggu berita penting, sebaiknya gak usah ngobrol sambil liatin telepon genggam. Gak perlu juga langsung check in lokasi sambil upload foto ketemuan ke semua sosial media. Foto ya foto aja, nanti uploadnya setelah selesai ketemuannya. Karena kalau langsung upload foto, bisa-bisa akhirnya sibuk balas-balas komen bukannya ngobrol sama yang bertemu.

Berapa lama ketemunya?

Ini sih bebas ya, tapi kalau bisa sediakan waktu 1 – 2 jam. Karena kadang tergantung tempat bertemunya, siapa tau lama nungguin makanannya. Kalau makan buru-buru, ya gak bisa sambil ngobrol jugakan. Namanya ngobrol santai, kalau gak selesai ngobrolnya ya memang bakal bisa dilanjutkan online, tapi kan ini udah sengaja kopdar, masa sih cuma 30 menit. Biasanya juga pas ngobrol online bisa lebih lama dari itu kan heehehe.

Kalau memang lagi punya waktu banyak, abis makan/ngopi bisa dilanjutkan ke temat lain untuk sekedar nongkrong santai. Yang perlu dihindari ketika kopdar adalah minta ditemenin belanja (baik itu nyari buku, kosmetik atau baju), kecuali temennya itu emang lagi rencana shopping juga dan atau memang jago shopping. Kalau sekedar mampir di mini market bareng ya bolehlah. Satu lagi yang sebaiknya tidak dilakukan ketika kopdar: ngajak nonton bareng! mana bisa ngobrol di bioskop, kapan-kapan kalau emang udah cocok jadi temen bolehlah janjian kayak ama temen lama buat ke bioskop hehehe.

Boleh bawa teman gak?

Kalau temannya ini sebenarnya mutual friend atau malah yang berjasa ngenalin, boleh banget di bawa. Kalau misalnya ketemuannya dengan komunitas tertentu juga boleh banget bawa temen, asalkan temannya juga punya minat yang sama dengan komunitas itu. Terus ya pas ngobrol, jangan malah jadi ngajak temen kita doang yang ngobrol, tapi ya ajaklah teman baru itu ngobrol. Kalau kopdarnya dalam rangka mencari jodoh, ya… jangan bawa teman, nanti tau-tau berjodohnya sama teman yang di bawa pula hahahaha.

Saya pernah kopdar bawa teman, itu tapi karena saya janjian mau nginep di rumah temen saya waktu di luar kota dan biar gampang, ketemunya dengan teman saya itu di tempat yang sama dengan janjian sama si kopdar hehehe. Terus saya juga pernah jadi teman yang di bawa kopdar, tapi waktu itu karena komunikasi belum secanggih sekarang ada HP untuk gampang ngecek udah sampe atau belum, akhirnya kami gak menemukan orang yang mau diajak kopdar itu dan malah ngemall aja hehehe. Mungkin teman saya emang ga niat kopdarnya wkwkwk.

Kopdar yang paling berkesan itu buat saya bertemu dengan teman-teman sesama perajut. Pas ketemuan ngomongin benang dan lagi ngerjain apa, terus pulangnya biasanya bawa benang atau harta karun rajutan yang baru atau bisa shopping perlenengkapan rajut bareng.

Kalau sekarang ini, saya sudah gak pernah kopdar lagi. Paling-paling di sini ketemuan dengan warga Indonesia yang baru pindah ke Chiang Mai. Kalau kopdar komunitas harapannya suatu saat bisa ketemu dengan teman-teman di group Kelas LIterasi Ibu Profesional (KLIP), terutama yang sudah mau mampir baca tulisan saya selama beberapa bulan terakhir ini hehehe.

Finger Counting

Saya baru tahu, kalau ternyata menghitung dengan jari itu ada perbedaan di berbagai negara. Selama ini saya pikir, yang penting jari yang diacungkan itu sesuai dengan jumlah yang disebut. Beberapa hari ini saya perhatikan Joshua kalau menghitung kok 1 acungkan telunjuk , 2 – buka telunjuk dan jari tengah, 3 – jempol, telunjuk dan jari tengah, lah waktu 4, dia melipat jempol dan membuka telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking. Saya pikir, ribet banget sih, kenapa 4 nya dia gak cuma buka 1 jari manis saja. Ternyata, sepertinya dia menirukan finger counting sistem american sign language.

sumber : https://www.wikihow.com/Count-to-100-in-American-Sign-Language

Waktu iseng-iseng belajar berhitung angka bahasa Korea, saya juga perhatikan mereka memakai jari yang berbeda dengan biasanya yang saya pakai. Dan karena iseng, saya jadi google dan menemukan gak cuma Korea yang beda, tapi juga antara eropa, amerika, jepang dan cina itu juga ada beda sistem penggunaan jari untuk berhitungnya.

sumber: https://www.researchgate.net/figure/Finger-counting-system-in-Korean-Sign-Language-from-the-viewers-perspective-Note-that_fig1_221792959

Ternyata waktu saya menggoogle lebih banyak lagi, ada berbagai riset mengenai finger counting ini. Hal yang mungkin bagi kita biasa saja, ternyata bisa dibahas secara serius hehehe. Bukan cuma jari yang teracung yang dihitung, tapi jari mana yang dlipat atau sisi mana yang ditunjukkan juga bisa berbeda-beda maknanya.

sumber : https://www.researchgate.net/figure/Finger-counting-systems-in-German-German-Sign-Language-DGS-and-Chinese-Domahs-et_fig2_221792959

Jadi kira-kira kalau kamu biasanya menghitung dengan metode jari yang mana? Kalau saya sampai 5 mengikuti cara Chinese, tapi berikutnya mulai 6 ya saya cuma menambahkan tangan 1 lagi dan mengulang 1 sampai 5 di tangan ke-2 untuk menghitung sampai 10. Siapa sangka ternyata kita bisa menghitung sampai lebih dari 5 hanya menggunakan 1 tangan saja.

Manfaat NgeBlog

Saya masih ingat pertama kali teman saya mengenalkan blog ke saya, saya pikir: apaan itu blog, terus waktu dijelasin yang kepikiran malahan: lah ngapain nulis diary dibaca semua orang? Tapi ya, saya ikut-ikutan aja bikin blog gratisan di blogspot. Ternyata karena banyak temen yang juga ikut-ikutan ngeblog, rasanya ngeblog itu cukup fun, bisa punya bacaan kalau lagi bengong, atau nulis unek-unek tentang orang secara anonim tanpa peduli siapa yang baca. Ya waktu awal ngeblog, kadang-kadang post saya cuma beberapa kalimat, yang kalau saya baca ulang lagi, sangkin anonimnya saya ga ngerti dulu itu kenapa saya nulis begitu. Kenapa anonim? karena saya tau kita gak boleh sembarangan menulis di internet. Apa yang kita tulis akan selalu ada arsipnya, dan bisa jadi boomerang kalau gak hati-hati.

Awal ngeblog itu, ikut-ikutan teman blogger sibuk pilih-pilih template design blog. Berikutnya cari banyak teman blogger untuk dibaca-baca tulisannya dan saling mengunjungi dan berkomentar. Lalu ketika semua orang beralih ke sosial media, saya jadi mengabaikan menulis di blog karena semuanya akhirnya bisa dituliskan sebagai status beberapa kalimat saja di FB. Oh ya, sebelum aktif di FB, sebenarnya pernah juga daftar blog di friendster, untungnya hanya sedikit menulis di sana, karena sekarang tulisan itu hilang. Gak terlalu penting juga sih, makanya ga saya back up.

Banyak teman-teman saya juga beralih dari blogspot ke Friendster, Multiply lalu FB Notes. Lalu link blog mereka gak diurusin lagi. Kemarin saya lagi iseng, baca ulang beberapa post pertama di blog ini. Lihat beberapa komentar teman yang kenal dari hasil blogwalking. Blognya sekarang ada yang sudah ditutup akses publiknya dan ada juga yang dibiarkan begitu saja dan update terakhir udah 10 tahun lalu kali hehehe. Jadi dulu ngeblog itu bisa untuk menambah teman dan kurang lebih seperti sosial media sekarang ini. Tapi banyak juga teman-teman yang mengeluh tulisannya tidak sempat diarsipkan dan hilang begitu saja waktu layanan media sosial seperti friendster dan multiply tutup.

Manfaat yang paling dirasakan dari ngeblog adalah: waktu kenalan sama Joe, hal yang pertama bikin kami nyambung itu karena sama-sama nulis blog. Dan tentunya, walau gak bilang-bilang, Joe baca semua tulisan saya dan saya juga baca semua tulisan dia hehehe. Untungnya, tulisan di blog Joe dulu gak melulu teknis hehehe, jadi bisa mengenal sedikit banyak pandangan dia soal kehidupan. Itulah kenapa dulu setelah pacaran, kami bikin blog ini untuk diisi berdua. Tulisannya ya tetap aja kayak nulis di blog masing-masing, tapi saya jadi lebih mudah gak ngurusin design template, hosting, domain dan sebagainya. Terima beres aja dan tinggal berbagi cerita dan info.

Seperti ditulis oleh Joe di posting sebelumnya, blog lama kami sudah kami tutup, tapi arsipnya masih ada dan cuma kami yang bisa baca. Selain blog ini, kami juga masih membuat beberapa blog yang diisi masing-masing. Tadinya sih niatnya supaya blog ini isinya gak terlalu gado-gado. Tapi sekarang kami memutuskan mengisi blog ini saja dan kasih kategori tulisan sesuai dengan topik yang ditulis. Jadi di sini ada cerita tentang kami, homeschooling anak-anak, seputar Chiang Mai, seputar sosmed, unek-unek kami dan juga tulisan teknis Joe seputar dunia pemrograman dan security. Mungkin nanti kalau saya kembali menekuni hobi main benang yang sudah lama ditinggalkan, topiknya akan nambah di sini hehehe.

Manfaat lain dari ngeblog dengan host sendiri ini, semua tulisan kami tidak hilang dan tetap ada arsipnya. Membaca tulisan lama kadang-kadang bisa membantu mengingat timeline berbagai peristiwa. Memang gak semua hal kami tuliskan di sini, tapi kalau mau mengecek kapan saja kami pulang ke Indonesia dalam 10 tahun terakhir dan siapa saja yang kami temui waktu mudik, kemungkinan besar semuanya ada dalam blog ini. Kalau kami tetap bisa konsisten mengisi blog ini, suatu hari nanti Jonathan dan Joshua bisa membaca apa saja yang pernah kami tuliskan di sini.

Jadi, jangan heran kalau saya makin jarang update FB. Sekarang ini fokusnya mau nulis di blog saja dan sesekali membagikan tulisan di sini ke FB. Dan buat kamu yang lagi mikir-mikir mau blog gratisan atau berbayar, kalau selama ini memang sudah konsisten ngeblog yang gratisan, ya jangan ragu bayar, jaman sekarang domain dan hosting gak mahal kok setahunnya dibandingkan isi pulsa buat paket internet hehehe. Yuk mulai menulis di blog dengan hosting sendiri, supaya tulisan-tulisan kita gak hilang begitu saja.

Buku Baru: Seri Secret Coders

Masih cerita soal buku yang di beli di Big Bad Wolf Desember lalu. Jonathan gak sengaja memilih 1 buku Secret Coders. Sebenarnya beli buku ini awalnya tertarik karena judulnya saja, dan saya malah gak tau isinya berupa komik. Ceritanya mengenai seorang anak usia 12 tahun yang pindah sekolah dan menemukan beberapa misteri yang ternyata bisa dipecahkan dengan pemrograman. Buku ini sejenis pengenalan pemrograman juga buat Jonathan.

Buku yang kami beli di BBW itu hanya buku nomor 2. Waktu kami kembali ke BBW lagi untuk mencari nomor lainnya, kami gak berhasil menemukannya. Akhirnya karena Jonathan sudah baca buku ke-2 itu berkali-kali, kami memutuskan untuk memnbeli buku lainnya dari Amazon.

Buku ini tersedia dalam format Kindle juga. Waktu kami mau beli akhir Februari lalu, Joe baru tahu kalau buku ke-6 baru akan terbit, dan versi kindlenya belum akan langsung ada. Setelah dibanding-bandingkan harganya, beli versi kindle 1 bukunya 7.6 USD, beli 5 buku kindle 39 USD, nah beli buku fisik 6 buku 40.84 USD, plus ongkos kirim ke Chiang Mai sekitar 10 USD totalnya 50.84 USD, jadi harga bukunya lebih mahal sedikit saja daripada versi kindlenya. Akhirnya rasanya masih tetap lebih murah beli buku fisik. Pertimbangan lainnya, baca komik itu lebih enak pakai buku fisik, jadilah kami beli complete box setnya.

Hari ini bukunya tiba, mengingat kami baru memesan sekitar 22 Februari, dan buku ke-6 nya baru terbit akhir Februari, buku ini tergolong cepat sampainya ke Chiang Mai. Sore ini Jonathan langsung menyelesaikan membaca 5 buku yang belum dia baca dalam waktu beberapa jam saja. Saya yakin, besok-besok dia masih akan mengulang-ulang baca buku ini, seperti halnya buku -buku seri lainnya yang dia punya.

Saya juga jadi ikut-ikutan membaca bukunya, dan ya ternyata ceritanya cukup menarik. Buku pertama menjelaskan konsep bilangan biner dengan mengenalkan istilan buka tutup. Kalau terbuka merepresentasikan 1 dan kalau tertutup merepresentasikan 0. Selain mengenalkan konsep biner, buku pertama ini juga mengenalkan pemrograman dengan mengenalkan instruksi Forward sekian langkah, Right or Left sekian derajat, dan sampai pada instruksi Repeat untuk mengulang-ulang instruksi sebanyak angka didepan instruksi Repeat.

Oh ya, cara menjelaskan suatu konsep di buku ini dibuat dalam bentuk percakapan antara 2 orang anak sekolah. Walau dalam cerita ini tokohnya berumur 12 tahun dan Jonathan masih 8 tahun, tapi Jonathan tidak kesulitan mengerti penjelasan dalam buku ini, mungkin karea dia udah mengenal apa itu bilangan biner dan juga udah sering mengganggu papanya minta diajari beberapa dasar pemrograman. Tapi saya merasa membaca buku ini tidak seperti membaca buku pelajaran pemrograman, semuanya dijelaskan dengan cukup sederhana. Ah andaikan saya baca buku ini sebelum kuliah dulu, mungkin saya akan lebih cepat ngerti pemrograman waktu tingkat 1 dulu hahaha.

Kalau melihat Jonathan selalu senang membaca buku-buku seperti ini, rasanya senang banget membelikan dia berbagai buku. Mudah-mudahan saja dia gak bosan dengan buku-buku seperti secret coders ini dan ya siapa tahu nanti besarnya bisa lebih jago mrogram dari papanya hehhehe.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi buku lainnya seri belajar pemrograman untuk anak-anak, tuliskan di komentar ya, supaya nambah bahan bacaan Jonathan hehehe.

Ralph Breaks the Internet

Sudah lama gak nonton ke bioskop, film ini release tahun 2018 tapi baru bisa nonton film ini sekarang di rumah. Ceritanya masih seputar persahabatan Ralph dan princess Vanellope. Untuk baca plotnya bisa liat di sini. Film ini merupakan sequel dari film Wreck-It Ralph. Tapi kalaupun belum nonton film pertamanya, kita bisa menonton film ini tanpa merasa ada yang kurang. Film pertama kesimpulannya terciptanya persahabatan antara Ralph tokoh permainan arcade Wreck-It Ralph dan Vanellope tokoh pembalap dari game arcade Sugar Rush. Cerita film ke-2 ini cukup menarik menjelaskan mengenai internet. Pertama digambarkan mereka menginstal WiFI di Arcade Center, dan disitulah asal mula Ralph dan Vanellope bisa menjelajahi dunia Internet.

poster Ralph Breaks the Internet, sumber dari internet

Penggambaran Internet yang cukup menarik adalah adanya Mr. KnowsMore untuk tempat bertanya banyak hal. Ada e-bay tempat orang-orang berbelanja dengan sistem lelang dan harus membayar dengan kartu kredit, ada TubeBuzz dimana orang-orang berusaha mendapatkan heart sebanyak-banyaknya dan bisa di monetize. Selain itu ada juga keliatan gedung-gedung dengan lambang Amazon, Google, Pinterest, dan Instagram.

Selain menggambarkan apa saja yang ada di internet, termasuk bagaimana sebuat video viral untuk sesaat dan kemudian digantikan oleh yang lain, ada juga penggambaran bagaimana agen-agen bekerja untuk mengundang orang lain mengklik video yang dipromosikan dengan harapan mendapatkan heart (atau like). Jumlah heart itu bisa dikonversi menjadi sejumlah uang yang bisa dipakai untuk membeli benda beneran. Misi Ralph dan Vanellope adalah membeli spare part untuk Gamenya Vanellope dari e-bay, dan untuk mendapatkan uang untuk membelinya mereka berusaha membuat video yang bisa menghasilkan uang.

Selain bagian menghasilkan uang dari konten video, di film ini juga digambarkan adanya virus yang bisa menginfeksi internet. Namanya virus, tentu saja membuat internet sempat kacau. Virusnya digambarkan karena adanya insecurities dari Ralph yang kemudian insecuritiesnya diduplikasi. Cara film ini menceritakannya tentu saja lebih menarik daripada apa yang saya tuliskan di sini, jadi jangan pikir film ini film teknikal ya, ini film anak-anak hehehe.

Bagian lain yang menarik dari film ini adalah ketika Ralph membaca komen-komen yang ada tentang videonya. Lalu ada yang bilang begini: Rule no 1 di Internet: jangan pernah baca bagian komen. Ya walaupun begitu banyak orang yang memberikan like, di internet akan selalu ada orang yang tidak suka dengan apa yang kita share dan memberi komentar yang negatif. Kalau saya sih menerapkan prinsip lebih baik gak komen daripada ngasih komentar negatif. Godaan untuk menuliskan hal-hal berupa kritik negatif sering ada sih, tapi kalau memang ada hal yang perlu dikritik, lebih baik menyampaikan langsung daripada komentar yang di set publik lalu mengundang orang lain menambah komentar negatif lainnya. Oops jadi curcol, oke balik lagi ke cerita film ya.

Satu hal yang bikin saya terhibur ketika melihat princess dari film-film Disney juga ada di film ini. Cinderella, Rapunzel, Mulan, Elsa, Anna, Snow White dan beberapa tokoh lain yang saya tidak kenal. Awalnya saya pikir putri-putri ini cuma sekedar supaya film ini menarik penonton yang udah menonton film-film Disney sebelumnya, tapi ternyata mereka cukup punya peranan. Lucu ketika melihat mereka berganti baju dengan kaos biasa dan tanpa gaun, lalu bilang ah kenapa baru tau sekarang mengenai baju begini yang sangat nyaman. Saya juga merasa lucu ketika mereka tidak percaya Vanellope seorang putri lalu memberikan beberapa pertanyaan untuk meyakinkan kalau dia putri.

Vanellope: Hi.
[The Princessess all assume attack postions, each with holding an item, specific to their character, as a weapon]
Vanellope: Woah, woah, ladies! I’m a…princess too!
Pocahontas: What kind of a princess are you?
Vanellope: Uh…
Rapunzel: Do you have magic hair?
Vanellope: No.
Elsa: Magic hands?
Vanellope: No.
Cinderella: Do animals talk to you?
Vanellope: No.
Snow White: Were you poisoned?
Vanellope: No.
Aurora, Tiana: Cursed?
Vanellope: No!
Rapunzel, Belle: Kidnapped or enslaved? 
Vanellope: No! Are you guys okay? Should I call the police?
Rapunzel: Do people assume all your problems got solved because a big strong man showed up?
Vanellope: Yes! What is up with that?
Pocahontas, Merida, Rapunzel, Elsa, Aurora, Moana: She is a princess!
[Snow White pokes her head in and sings a few happy notes]

percakapan Vanellope dengan putri-putri Disney

Selain percakapannya putri ini, ada banyak bagian lain yang cukup menarik. Tapi dari keseluruhan film ini yang paling saya suka adalah persahabatan antara Ralph dan Vanellope. Mereka tidak memaksakan bersahabat itu harus selalu bersama-sama, dan walaupun tidak berada di arcade yang sama, mereka tetap menjalin komunikasi dan bertukar cerita secara rutin. Saya jadi agak merenung, mengingat teman-teman yang dulu terasa sangat dekat tapi sekarang saya bahkan gak tahu kabarnya karena walaupun mereka punya akses ke Internet, tapi saya merasa setelah gak ngobrol sekian lama jadi gak tau juga mau mulai bertanya dari mana. Kalau saya nanya kebanyakan ntar saya disangka interogasi lagi hehehe.

Anyway, film ini hiburan menarik untuk mengisi akhir pekan di tonton dengan anak-anak. Kalau anaknya sudah agak besar, setelah nonton bisa dilanjutkan pelajaran pengenalan internet dan bagaimana supaya tetap aman di Internet hehehe.

Males Nerima Telepon

Dulu, jaman nelepon itu harus ke wartel atau pake koin di telepon umum, sering banget rasanya pengen aja gitu iseng nelpon-nelpon. Waktu jaman internet belum ada dalam genggaman, pengen aja gitu rasanya cek e-mail atau sekedar chatting di warnet 30 menit pun jadi. Dulu, jaman video call itu masih harus pake skype, rasanya perlu banget ngajarin ortu buat nyalain skype di komputer rumah dan beli webcam segala. Tapi sekarang, setelah semua tersedia dalam telepon genggam dengan akses internet unlimited 24 jam, rasa pengen itu udah berkurang gak kayak dulu lagi.

Sekarang ini, hampir semua orang sudah bisa mengakses internet dan mengajari mereka video call jauh lebih mudah. Oppung dan Eyang juga udah pada jagoan pake video call dari telepon genggamnya. Terus apakah jadi nelepon orangtua setiap hari? ya nggak juga sih, tapi ya paling tidak jadi lebih mudah sekali seminggu bisa bertatap muka dengan Eyang atau Oppung. Sekedar update singkat. Kalau gak sempat video call, ya minimal bisa kirim pesan singkat via WhatsApp atau aplikasi messenger lainnya, dan sesekali sambil kirim foto atau video anak-anak.

Komunikasi dengan keluarga besar sih ya seperti biasa ya, kalau telepon tiap hari juga ya mau ngobrolin apa. Paling sekarang ini kebanyakan keluarga itu ada group chat nya. Biasanya sesekali akan ada berita-berita keluarga dan gak tiap hari juga selalu ramai. Saya tidak bergabung dengan group keluarga yang terlalu besar, saya cuma gabung di grup keluarga kakak beradik dan orangtua saja.

Cerita awalnya kepanjangan ya dan belum nyambung sama judul. Saya cuma mau cerita, sejak gampangnya terhubung dengan banyak komunitas, saya cenderung tidak suka nerima telepon, apalagi misalnya bukan dari orang yang saya benar-benar kenal. Saya lebih suka obrolan itu tertulis. Alasannya sih biar bisa sambil mengerjakan hal lain (misalnya sambil ajak main atau ngajarin anak belajar). Alasan lainnya ya, kalau di telepon itu bisa lupa point-point percakapannya dan gak bisa sambil mencari informasi yang dibutuhkan. Kalau misalnya chat kan bisa sambil mencari informasi di google dan kemudian membagikan informasi yang ditemukan. Selain itu kalau chat itu gak harus di jawab langsung. Kadang-kadang sebagai ibu, saya harus sambil antar jemput anak, atau nungguin anak di tempat kursus. Rasanya gak enak aja gitu teleponan di mana ada banyak orang juga lagi pada diam-diaman hehehe.

Nah, waktu saya cerita ke Joe, kenapa ya saya kok sekarang malas terima telepon apalagi kalau gak kenal. Eh Joe bilang ya wajarlah, untuk hal-hal yang gak urgent, mendiskusikan sesuatu itu lebih baik dengan tulisan, baik e-mail ataupun chat. Setidaknya jadi ada arsip percakapannya dan bisa dibaca kembali untuk menyimpulkan point-point yang dibutuhkan. Malah kata Joe, kadang-kadang malah kalau menyangkut komunitas, lebih baik dilakukan secara tertulis di group baik itu group mail ataupun group chat, jadi ya semua anggota bisa baca dan gak harus di update satu persatu.

Saya tahu, untuk beberapa urusan, misalnya membatalkan janji karena ada urusan lain yang lebih penting secara mendadak, pastinya harus nelepon daripada kita kirim e-mail atau chat yang kemudian ternyata orangnya gak baca dan menunggu-nunggu kita tanpa kabar. Tapi jangan salah, saya masih suka juga sesekali menelpon teman yang sudah lama gak berkabar untuk janjian ketemuan misalnya. Walaupun misalnya janji ketemuannya besok, ngobrol di teleponnya bisa agak lama juga walau gak urgent hehehe. Kalau kamu bagaimana? lebih suka selalu nelepon saja atau pake tulisan chat/e-mail untuk komunikasi di komunitas?

Serba Serbi Belajar Bahasa Thai

Waktu pertama kali tahu akan pindah ke Chiang Mai, saya dan Joe mulai mencari tahu mengenai bahasa Thai. Joe sih yang lebih banyak mencari info dan memberi tahu saya fakta-fakta soal bahasa Thai. Waktu itu saya sih cuma jawab ooo gitu ya doang, karena ga kebayang dan mikirnya ah nanti juga bisalah hehehe. Joe membeli beberapa e-book dan podcast untuk pengenalan bahasa Thai. Sekarang ini udah lupa nama e-book dan podcastnya. Terus dapat buku belajar bahasa Thai titipan dari sepupu terbaik yang waktu itu masih tinggal di Singapura. Katanya sih dia nitip sama temennya yang orang Thai, dibeliin buku Thai for Beginners Benjawan Poomsan Becker, yang waktu itu masih pake cd audio. Buku ini banyak banget menambah vocabulary di awal belajar bahasa Thai.

Walaupun ada waktu beberapa bulan untuk belajar bahasa Thai sebelum berangkat ke Chiang Mai, tapi entah kenapa waktu itu saya gak merasa bersemangat untuk belajar. Baru buka beberapa halaman sambil dengar cd audionya udah berasa kewalahan duluan dan merasa aduh ini tulisan apaan sih kayak cacing semua, terus pas dengar audionya bilang bunyi kata “ma” aja bisa 5 jenis naik turun dan beda arti semua, saya langsung mikir aduh susah bener sih, perasaan kedengarannya sama saja. Terus kami mencoba mencari DVD film Thai, dan ketemunya beberapa film horror dan berasa serem duluan hahaha.

Mungkin waktu itu karena belum bener-bener butuh, saya jadinya ga serius berusaha belajar baca bahasa Thai. Tapi setelah sampai di Chiang Mai, ya mau gak mau harus mulai belajar. Dan ternyata, gak sesusah yang saya bayangkan sebelumnya. Belajar bahasa itu tergantung masing-masing orang gimana model belajarnya. Sepertinya saya buka tipe yang bisa belajar sendiri dengan buku, saya memutuskan ikut kelas percakapan seminggu 3 kali, masing-masing selama 2 jam.

Ternyata keputusan belajar sekali 3 minggu ini ideal buat saya. Dengan adanya jeda hari kosong, saya punya waktu untuk mengingat setiap kosa kata baru yang saya pelajari. Setting kelas dengan isi sekitar 10 orang juga membantu saya mereview kosa kata yang dipelajari hari itu. Oh ya, biasanya kelas percakapan bahasa Thai itu menggunakan transliterasi, jadi saya tidak langsung belajar huruf-huruf cacing yang jumlahnya banyak itu.

Pelajaran pertama yang paling kepakai itu pelajaran angka, selain mengucapkan salam. Pelajaran angka ini berguna waktu belanja ke pasar ataupun belanja oleh-oleh. Kata-kata untuk menawar harga juga penting hehehe. Setelah ikut kursus, saya mulai menguasai perbedaan nada naik turunnya dan mulai bisa membedakan kata-kata yang saya dengarkan.

Setelah beberapa bulan les di tempat yang 3 x seminggu itu, saya mulai merasa butuh percepatan alias gak sabaran untuk belajar lebih banyak lagi. Akhirnya saya pindah kursus Senin – Jumat setiap pagi 2 jam. Dalam waktu sekitar 3 bulan saya selesai kelas conversation. Ada banyak kosa kata yang saya pelajari, tapi banyak juga yang hilang karena gak dipakai. Oh ya waktu itu saya masih kerja part time di kantor Joe, seharusnya ada kesempatan berlatih ngobrol, tapi karena di kantor pakainya bahasa Inggris, ya akhirnya malah gak banyak latihan ngobrol juga.

Setelah selesai kelas percakapan, entah kenapa saya gak kepikiran untuk segera belajar baca tulis. Mungkin karena waktu itu udah berasa cukup, plus karena merasa ah nanti belajar sendiri saja. Tapi lagi-lagi gagal belajar sendiri karena gak sediakan waktu setiap harinya. Akhirnya saya ikut kelas lagi untuk membaca/tulis. Nah kesalahan saya setiap kali belajar baca ini adalah, saya merasa kewalahan duluan sebelum mencoba membacanya pelan-pelan, dan akhirnya menyerah. Di kelas saya selalu bisa mengikuti apa yang dijelaskan, tapi karena gak pernah latihan, ya akhirnya sampai sekarang membacanya masih super lambat dan jalan di tempat.

Waktu Jonathan mulai ikut kelas KUMON bahasa Thai, saya berniat untuk ikutan mengerjakan tugasnya, tapi karena waktu itu merasa terlalu mudah, saya malah gak ikutan ngerjain hehee. Sekarang ini Jonathan masih ikut kelas KUMON dan setiap harinya dia membaca cerita-cerita pendek dari tugas kumonnya. Saya kadang-kadang masih membacanya, tapi lebih sering tidak.

Sekarang ini, setelah 12 tahun tinggal di Chiang mai, saya merasa cukup bisa berkomunikasi dengan orang lokal, asal topiknya bukan topik politik. Saya bisa mengerti kalau ada pembicaraan mengenai pendidikan anak. Saya bisa ngobrol dengan banyak orang Thai ketika belanja ataupun anter jemput Jonathan dengan kegiatan ekstra kurikulernya. Saya bisa membaca tapi masih tidak sesuai harapan. Saya bisa menuliskan semua huruf Thai, tapi saya belum bisa mengeja banyak kata dalam bahasa Thai. Mengeja kata dalam bahasa Thai ini agak rumit, karena untuk bunyi huruf K saja bisa beberapa pilihan huruf. Kalau menurut orang lokal, untuk mengingat ejaan kata-kata tersebut satu-satunya cara ya semua itu harus dihapalkan *gedubrag*.

Oh ya, sekarang ini saya suka menggunakan voice typing di HP untuk mencoba menuliskan kata-kata dalam bahasa Thai juga. Sejauh ini saya cek ke kamus, asalkan pengucapannya benar, hasil voice typingnya juga cukup akurat. Saya juga cukup bisa membaca percakapan di Line Grup Homeschooling Chiang Mai sini. Saya juga mencoba membaca status FB teman-teman Thai saya. Tapi sampai sekarang saya belum terlalu percaya diri untuk menulis status FB dalam bahasa Thai hehehe.

Belajar bahasa ini proses yang panjang. Setiap tahun saya menargetkan untuk bisa lebih lancar lagi membaca bahasa Thai, tapi kalau memang tidak sediakan waktu ya akhirnya masih jalan di tempat. Sepertinya saya harus membuat challenge ke diri sendiri untuk lebih lancar lagi membacanya.

Kalau ada yang punya tips bagaimana cara belajar bahasa yang kalian lakukan, silakan tulis di komen ya.