Hidden Village Chiang Mai

Hari ini ajakin oppung jalan-jalan ke Hidden Village Chiang Mai. Terakhir kami ke sana sekitar akhir tahun 2017, dan ternyata kali ini ada banyak perubahan yang cukup menarik di tempat ini. Dulunya, waktu tempat ini baru dibuka, kesan pertama dari tempat ini adalah tempat untuk melihat animatronik berbagai jenis Dinosaurus. Hari ini, bisa dibilang tempatnya sudah lebih fun dan bukan sekedar melihat pajangan Dinosaurus yang itu-itu saja.

Tiket masuk ke tempat ini ternyata membedakan harga lokal dan harga turis asing. Untuk harga lokal diatas 100 cm dikenakan biaya 50 baht/orang. Anak di bawah 100 cm gratis. Untuk harga asing ada 3 level harga, di bawah 100cm gratis, anak sampai dengan 130 cm 100 baht, dewasa 200 baht. Seperti biasa, dengan jurus bertanya dalam bahasa Thai, kami dapat harga lokal (lumayan masuk kantong deh sisanya hehehe).

Ticket counter dengan berbagai penjelasan harga

Hal terbaru yang langsung menarik perhatian kami adalah, restorannya menyediakan menu buffet. Kami sudah beberapa kali makan di restoran di dalam hidden village, dan dulunya selalu merasa tempat itu terlalu sepi dan makanannya sering lama datangnya. Rasanya sih lumayan oke walau harganya sedikit agak mahal. Salah satu tujuan hari ini ke sana emang mau jalan-jalan sekalian makan malam.

Tulisan besar-besar yang kami lihat mengenai harga buffet semuanya pakai huruf Thai. Setelah melihat foto-foto di tempat pembelian tiket, saya baru menyadari kalau skema harga untuk makanan buffet nya juga membedakan harga lokal dan harga asing. Untuk buffetnya, anak-anak di bawah 100 cm sama-sama gratis. Untuk harga lokal anak di bawah 130 cm bayar 129 baht, sedangkan dewasa bayar 259 baht/orang. Nah harga asingnya menurut saya terlalu mahal:anak di bawah 130 cm harganya 250 baht, dewasa 400 baht.

Menu buffetnya lumayan sih, bukan cuma makanan yang sudah tersedia seperti spaghetti, sosis, salad dan buah-buahan saja, tapi juga kita bisa memesan steak, pizza dan bahkan menu nasi goreng ala makanan Thailand. Tadinya kami berencana membeli makanan biasa aja dan gak usah beli buffet nya, tapi karena mereka bilang Joshua boleh gratis, ya…akhirnya kami beli juga deh buffet untuk 3 dewasa. Hasilnya rusak diet hahaha, tapi ya senang juga sih karena penutupnya ada eskrim juga hehehe. Ini beberapa contoh makanan yang kami pesan. Katanya makanan ini bisa di pesan lebih dari 1 porsi per orang kalau emang kuat makannya hahaha.

Haduh, malah jadi cerita makan-makannya lebih banyak dari tempatnya. Oke kembali ke cerita lokasi hidden villagenya seperti apa sih. Tambahan yang baru yang menarik untuk anak-anak, sekarang ini ada yang namanya animal village. Di animal village ada ayam, kelinci dan kolam ikan Koi. Dengan membayar sekitar 20 baht, anak-anak mendapat kesempatan untuk memberi makan ayam, kelinci atau ikan. Yang di beli itu biasanya tempat makanannya. Tadi, karena anak-anak lebih pengen main di playground dan toh kemarin baru dari zoo feeding berbagai farm animal juga, jadilah kami putuskan tidak berhenti di bagian itu.

Selain animal village, ada tambahan permainan seperti komidi putar. Ada juga pet village. Di pet village ini anak-anak bisa memberi susu ke babi atau sapi. Bisa juga naik kuda pony dengan biaya tertentu. Di tempat ini juga kami gak berhenti, soalnya berasa agak bau kayak di peternakan hahaha.

Selain animal village dan pet village, area hidden village yang luas ini berisi banyak display yang unik seperti serangga raksasa, kupu-kupu raksasa ataupun bunga rafflesia. Tempat ini intinya sih kebanyakan buat foto-foto orang dewasa. Untuk anak-anak tempat ini cocok untuk lari-larian, bermain di playground, mengenal berbagai farm animal dan juga belajar mengenai nama-nama dan bentuk dinosaurus.

Tujuan berikutnya ke Dinosaurs Village. Nah di sinilah ada banyak animatronic dinosaurs. Oppung yang sebelumnya belum pernah melihat seperti ini awalnya kaget. Oppung jadi bertanya-tanya itu gimana mereka menggerakkannya. Jonathan yang sudah beberapa kali dibawa ke sana pun menjawab dan berusaha menjelaskan ke oppung dengan bahasa Indonesia.

Di dalam Dinosaurs Village, selain melihat dinosaurus, anak-anak bisa bermain dengan inflatable playground dengan membayar 20 baht saja. Selain itu ada juga tempat yang lebih cocok untuk anak yang lebih muda soft play area dengan tambahan biaya 40 baht/20 menit. Soft play area membutuhkan kaus kaki sebelum anak masuk ke dalamnya. Selain 2 tempat bermain ini, ada lagi permainan seperti naik dinosaurus besar tapi saya lupa memfoto dan mengingat harganya.

Tadi kami sampai di sana sekitar jam 4.30, matahari masih cukup terang tapi sudah tidak panas lagi. Setelah berlari-larian dan bermain-main di playground sambil melihat-lihat display yang ada, anak-anak pun merasa lapar. Walau belum jam 6 kami putuskan untuk makan saja. Sekitar jam 7.20 kami pun pulang dengan perut kenyang hehehe.

Kalau mau makan buffetnya, mungkin ada baiknya datangnya agak pagi. Tempat ini buka jam 10 pagi sampai jam 9 malam. Jadi pagi bisa jalan-jalan dulu, setelah lelah ya makan sambil ngadem (restorannya ber ac). Abis makan, kalau anak-anak belum habis tenaganya masih bisa lanjut bermain lagi hehehe. Tadi akhirnya memutuskan makan buffet alasannya karena udah lama gak makan steak hahaha. Sepertinya bisa jadi tempat yang bisa dijadwalkan untuk dikunjungi di tahun 2019 ini.

Art in Paradise Chiang Mai

Hari ini kami ke Art in Paradise Chiang Mai lagi. Sebenarnya sudah beberapa kali ke sana, dan setiap kali menunda posting karena banyaknya foto yang diambil. Beberapa foto pernah di posting cerita liburan akhir tahun 2013. Sebenarnya sebelum hari ini, sudah pernah juga ke art in paradise, tapi ya waktu itu gak di posting di blog, tapi di posting di FB doang.

Sedikit tips sebelum ke tempat ini, karena tempat ini merupakan museum yang berisi gambar-gambar dengan teknik yang memberikan ilusi 3dimensi, maka siapkan kamera dengan batere yang cukup dan juga kapasitas penyimpanan yang lega. Kami belakangan ini hanya memakai kamera di HP, karena toh sudah berkali-kali ke sana. Kalau bawa anak kecil yang sangat suka berlari-lari seperti anak kami, yaa…bisa ga puas emang foto-fotonya, tapi bisalah gantian 1 orang ngejar dan 1 orang memfoto anak yang gak berlari-larian haha.

anaknya mau nolongin melepaskan mamanya nih

Tiket masuk ke tempat ini membedakan harga orang Thai dan orang asing. Seperti biasa, dengan modal berbahasa Thai plus nunjukin driving license Thai, kami bisa dapat harga lokal. Kalau mau dapat harga lebih murah, bisa juga check di traveloka atau klook. Kemarin saya cek, harga traveloka lebih murah daripada harga klook, tapi ya kami tadi beli pake harga Thai jadi lebih murah lagi hehehe.

Ada banyak sekali lukisan yang bisa di foto, tapi setiap kali kami ke sana kami gak berhasil berfoto di semua tempat. Biasanya ga bisa foto di semua tempat karena banyak pengunjung, jadi ya kadang harus antri buat foto, tapi belakangan ini gak bisa foto dengan tenang karena si kecil gak mau nunggu dan selalu lari duluan.

pas lagi pada lari-lari, cepet-cepet di foto

Kegiatan foto-foto bawa anak kecil emang cukup menantang, tapi kalau kita standby anak-anak itu ngerti kok apa yang harus dilakukan tanpa harus disuruh. Mungkin karena mereka juga bisa melihat ilusi jembatan ini, mereka langsung lari-larian melompat dari 1 kayu ke kayu lainnya. Untungnya papanya sudah siap sedia memfoto ke bagian itu. Lumayanlah ya, bisa pas banget seolah-olah mereka sedang berusaha melewati jembatan sampai ke seberang. Pada dasarnya mereka melewati jembatan itu berkali-kali. Dan setelah berkali-kali foto, dapatlah foto yang lumayan begini hehehe.

foto dengan Augmented Reality

Perbedaan yang paling signifikan yang ditambahkan setelah terakhir kami ke sana adalah: sekarang ada aplikasi yang menambahkan ARmode untuk memfotonya. Di hampir banyak lukisan, diberikan petunjuk di mana titik untuk mengarahkan AR Scannya. Untuk gambar di atas, dengan AR mode ada kesan salju turun. Efek salju turun ini tidak kelihatan kalau tidak menggunakan aplikasi AR nya.

Berikut ini juga bisa dilihat perbedaan foto diambil dengan AR dan tanpa AR. Dengan mode AR, majalahnya terlihat lebih realistis karena terletak di atas meja. Sedangkan mode tanpa AR ya memang terlihat seperti majalah, tapi sekitarnya kosong.

Museum dengan lukisan 3Dimensi ini sebenarnya sudah ada banyak di berbagai tempat. Tempat ini cukup fun kalau mau jalan-jalan tapi gak bisa jalan di luar karena hujan. Waktu yang dibutuhkan untuk melihat semuanya sekitar 1 sampai 3 jam. Kami tadi menghabiskan waktu sekitar 1 jam, cukup express karena Joshua yang lari dan gak mau nunggu. Tapi itupun udah cukup capek karena gedung museum 3D nya ada 2 lantai. Naik turun tangganya saja sudah lumayan lah ya hehehe.

Kalau ke Chiang Mai dan cuma punya waktu sebentar nunggu pesawat setelah check out hotel, bisa lah jalan-jalan ke sini buat foto-foto. Eh tapi, jangan datang sendiri, karena di sini gak bisa foto selfie. Kalau datang sendiri wajib bawa tripod. View pointnya biasanya beberapa meter di depan lukisannya. Gak mungkin kan untuk setiap foto minta tolong sama yang lewat hehehe.

Pengalaman Pemilu di Luar Negeri

Hari ini dapat surat dari panitia pemilu luar negeri perwakilan Bangkok berisi bukti pendaftaran pemilih untuk pemilu 2019. Tahun ini merupakan kali ke-3 kami mengikuti pemilu di Thailand. Kalau diperhatikan, dari masa ke masa sepertinya kegiatan sosialisasi untuk pemilu bagi kami yang merantau ini makin lama semakin baik.

Bukti sudah terdaftar ikut pemilu 2019

Karena kami jauh dari Bangkok, kami memilih lewat surat suara yang dikirimkan melalui kantor pos. Biasanya di dalamnya selain surat suara juga disediakan amplop yang sudah berisi perangko untuk mengembalikan surat suara kembali ke Bangkok. Gak ada alasan deh untuk tidak bisa ikut pemilu karena tidak berdomisili di Indonesia.

Sosialisasi pemilu yang paling banyak informasinya itu tahun ini. Sebelumnya juga sudah cukup banyak, tapi mungkin dengan semakin mudahnya akses informasi melalui HP, panitia pemilu juga berusaha untuk memanfaatkan internet untuk penyebaran informasi dan juga mengontak per orang. Buat kami yang jauh dari kedutaan, panitia pemilu juga mendatangi kami untuk memberikan informasi secara langsung (siapa tau pada malas baca website hehehe).

Awalnya biasanya dihimbau untuk mendaftarkan diri secara online. Lalu kemudian kalau ada yang tadinya ragu-ragu mau daftar atau kelewat daftar, masih ada lagi pendaftaran susulan. Panitia pemilu juga secara aktif berusaha menanyakan keberadaan warga yang punya hak pilih untuk memastikan semua orang bisa menggunakan hak pilihnya.

Pemilu tahun ini akan diadakan serentak 17 April 2019 di wilayah Indonesia, tapi untuk masyarakat Indonesia yang di luar negeri, biasanya pemilu di kedutaan di adakan lebih awal dari jadwal di Indonesia. Yang dikirimkan via pos, menerima surat suara lebih awal lagi dari jadwal pemilihan di kedutaan. Jadwal penghitungan surat suara biasanya akan disamakan dengan penghitungan surat suara di Indonesia.

Seingat saya, selain memilih presiden, kami yang di luar negeri ini juga mendapat surat suara untuk anggota DPR Pusat. Saya juga ingat, pemilu 5 tahun lalu, karena ada serombongan mahasiswa sedang mengunjungi Chiang Mai, KBRI mengatur supaya mereka tidak kehilangan hak suara dan mengirimkan panitia pemilu dari Bangkok untuk datang membawa kotak suara dan jadilah kegiatan pemilihan dengan bukti mereka menunjukkan kartu identitasnya. Buat warga Indonesia yang di Chiang Mai waktu itu juga bisa memasukkan surat suara yang sudah mereka pilih ke kotak suara yang di bawa khusus tersebut, jadi tidak perlu dikirimkan lewat pos lagi.

Warga Indonesia di Chiang Mai tidak terlalu banyak, tapi ketika beberapa waktu lalu diadakan pertemuan untuk sosialisasi menghindari terdaftar sebagai pemilih ganda, yang datang kira-kira lebih 20 orang. Belum cukup banyak untuk membuat panitia pemilu mengirimkan petugasnya datang ke Chiang Mai membawa kotak suara.

Memilih dengan mengirimkan kembali via Pos sebenarnya lebih enak. Kita bisa dengan santai melihat surat suara lalu menimbang-nimbang siapa yang mau dipilih. Untuk memilih presiden mungkin gak butuh waktu lama untuk menimbangnya. Kebanyakan orang sudah bisa langsung menentukan pilihannya di masa kampanye ketika mendengarkan visi misi dan juga argumen dalam acara debat. Memilih wakil rakyat di DPR lebih sulit karena ga semua orang bisa ditemukan informasinya di google. Tapi sepertinya untuk tahun ini banyak juga caleg yang menyediakan banyak informasi melalui website ataupun media sosialnya.

Semoga acara pemilihan umum bulan April nanti berjalan dengan lancar dan siapapun yang terpilih bisa menepati janjinya dan membawa Indonesia lebih baik lagi dari sekarang, jadi kalau mudik ke Indonesia rasanya bisa lebih nyaman lagi deh. Ayo yang udah terdaftar sebagai pemilih, jangan sampai hak pilihnya gak dipakai ya.

Hari Anak di Thailand

Hari Anak di Thailand dirayakan setiap hari Sabtu ke-2 di bulan Januari. Perayaan hari anak di Thailand sudah ada sejak tahun 1955, tapi kami baru mengikuti kegiatan hari anak setelah Jonathan berumur sekitar 4 tahun. Sebelumnya, sepertinya kami kebetulan tidak pernah keluar rumah di hari Sabtu ke-2 bulan Januari, makanya kami gak menyadari mengenai adanya perayaan hari anak ini.

Perayaan hari anak di Thailand cukup meriah, hampir semua pusat perbelanjaan mengusung tema tertentu dan memberikan kegiatan dan hadiah untuk anak-anak. Kegiatan yang paling ramai dikunjungi di Chiang Mai setiap tahunnya di pangkalan angkatan udara yang lokasinya dekat dengan bandara Chiang Mai. Kegiatan di sana mulai dari pesawat tempur yang mengadakan show, berbagai panggung pertunjukan dan kesempatan untuk naik ke dalam pesawat tempur dan berfoto di sana.

Tempat-tempat rekreasi dan restoran yang biasanya ramai dikunjungi oleh keluarga dengan anak-anak, biasanya semakin ramai karena pada hari Anak diberikan kesempatan masuk secara gratis untuk anak-anak (orang tuanya tetap harus bayar). Untuk restoran mereka juga memberikan menu spesial atau bahkan bisa juga makan gratis untuk anak-anak. Intinya di hari Anak, semua orangtua wajib bawa anak-anak keluar rumah karena banyak tempat menyediakan berbagai hal supaya anak-anak bisa bersenang-senang tanpa biaya.

Tahun-tahun sebelumnya kami sudah pernah ke lapangan udara melihat dan berfoto dengan pesawat tempur. Kegiatan di sana benar-benar ramai dan banyak jalannya. Kami juga pernah terjebak macet dari rumah ke mall yang biasanya hanya 10 menit jadi 1 jam karena berangkat kesiangan. Hari ini kami sudah tahu kalau kami gak kepingin terlalu capek berjalan jauh tapi ya pingin anak-anak menikmati juga perayaan hari anak di Thailand.

Mwnghibur diri dari kemacetan dengan foto bareng di mobil

Walaupun kami berangkat masih cukup awal (sekitar jam 10.15), tapi lalu lintas sudah cukup macet karena arah mall yang kami tuju sama dengan arah airport di mana kegiatan paling ramai diadakan. Sampai di mall jam 11-an, mall nya juga sudah ramai banget. Tahun ini beberapa mall merayakan hari anak 2 hari. Kami tidak berencana datang lagi besok, tapi mungkin mereka membuat acaranya 2 hari supaya yang anaknya belum puas bersenang-senang bisa datang lagi besoknya.

Tema acara di mall yang kami datangi berjudul take me to the sea. Ada panggung pertunjukan yang dihias dengan balon berbentuk seperti aneka binatang laut maupun karang laut. Ada juga pertunjukan putri duyung di dalam aquarium besar yang ada di dalam mall, tapi tadi kami cuma lihat dari lantai atas.

Karena lantai dasar sangat ramai, kami memilih untuk melihat-lihat di lantai atas dulu dan makan siang. Salah satu toko tempat biasanya Jonathan dan Joshua bermain lego mengadakan acara permainan sendiri dan relatif lebih sepi. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di lantai atas daripada di lantai bawah. Joshua dan Jonathan bergantian main lego, main puzzle, dan sama-sama dapat hadiah susu, permen dan gelas.

Selesai bermain di atas, kami lihat lantai bawah sudah tidak terlalu ramai. Jonathan cuma mau ngantri untuk mendapatkan cotton candy. Joshua sudah capek jadi dia main-main dengan papanya saja sambil menunggu Jonathan ngantri cotton candy. Sayangnya saya tidak tahu di mana toko yang menjual cotton candy selain di zoo dan atau di kegiatan-kegiatan anak-anak begini. Kalau saya tahu di mana toko yang selalu menjual cotton candy, pasti saya bujukin Jonathan untuk beli saja daripada ngantri. Ngantrinya lumayan lama karena entah kenapa semua anak pengen cotton candy dan biasanya gak setiap hari mereka diijinkan makan cotton candy hehehe.

Dipikir-pikir, sebenarnya jadi anak-anak itu paling menyenangkan ya. Mereka sehari-hari tidak punya banyak persoalan dalam hidup. Apalagi kalau masih kecil banget dan belum sekolah, belum ada yang namanya harus bangun pagi supaya berangkat ke sekolah ataupun mengerjakan pr dari sekolah. Kalau udah sekolah tapi sekolah di rumah juga masih cukup enak, asalkan nurut aja pas diajarin sama emaknya hehehe. Anak-anak itu tugasnya bermain sepuas-puasnya, supaya nanti kalau sudah besar bisa lebih fokus untuk mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dan bukannya main minesweeper atau game online di jam kerja hehehe.

Mari kita berikan anak-anak kesempatan bermain setiap harinya, jangan cuma disuruh ngerjain PR doang (ngingetin ke diri sendiri).

Big Bad Wolf di Chiang Mai

Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Sejak beberapa minggu lalu sudah berencana buat ke acara Big Bad Wolf Book Sale yang pertama kali diadakan di Chiang Mai. Selama ini cuma dengar ceritanya saja. Sebenarnya, buku di rumah sudah banyak, masih banyak juga yang belum selesai dibaca, tapi rasanya sulit menolak kesempatan melihat lautan buku.

Lautan Buku BBW Chiang Mai

Jadwal BBW itu seharusnya dimulai tanggal 30 November – 9 Desember 2018, tapi untuk hari ini mereka membuka untuk presales buat sebagian yang mendapatkan VIP Pass. Tapi kalau dilihat lagi, mereka tidak terlalu mengecek apakah yang datang punya VIP Pass atau tidak. Bagusnya datang hari ini masih belum terlalu ramai dan bisa lebih leluasa untuk browsing buku.

Lanjutkan membaca “Big Bad Wolf di Chiang Mai”

Kota Mana di Indonesia?

Awal datang ke Chiang Mai kami ga kepikiran bakal tinggal lama dan betah di sini. Waktu itu kontrak kerja Joe diawali dengan 4 tahun, dan karena kami baru menikah dan belum punya anak, ya saya bilang sama Joe kalau kita tinggal di sini sampai kalau anak-anak masuk SD. Waktu itu saya belum tahu apa itu homeschooling dan tidak terpikir bakal betah di kota yang bahasanya susah dibaca dan susah diucapkan.

Saya gak tahu, kapan persisnya kami akhirnya merasa betah di Chiang Mai dan malah mulai prefer stay di sini daripada pulang. Masalahnya, kalau ditanya: kapan pulang dalam arti kapan kembali ke Indonesia? saya sekarang tergantung pekerjaan Joe saja. Sekarang ini kontrak kerja Joe sifatnya permanen alias selama masih mau kerja di perusahaan di sini. Tapi jawaban yang kami belum bisa tentukan adalah: kalau pulang ke Indonesia bakal tinggal di mana?

Pertimbangan pertama: Jakarta. Saya ga pernah tinggal di Jakarta. Mertua rumahnya di Jakarta pinggiran, tapi ya kalau tinggal di sana kemungkinan stressnya bakal ga jauh beda dengan tinggal di Jakarta. Stress jalanan macet tentunya. Saya ga tahu, kalau tinggal di sekitar Jakarta saya akan berani nyetir atau nggak hehehe. Kemungkinan kalau terpaksa ya bakal nyetir juga kalau emang punya mobil. Kalau kata Joe, tenang aja, sekarang banyak Grab dan GoCar, kita pakai jasa taksi online aja, jadi ga harus stress nyetir di jalan.

Positifnya kalau tinggal di Jakarta, dekat dengan keluarga Joe. Gampang kalau berkhayal mau sering jalan-jalan keliling dunia urusan visa pastinya diurus di Jakarta dan kebanyakan penerbangan berangkat dari Jakarta. Karena kemungkinan besar kami akan memutuskan homeschooling, kemungkinan masalah antar jemput anak sekolah ga akan jadi masalah. Sekarang ini praktisi homeschooling juga semakin banyak di Indonesia, kemungkinan mencari kelompok homeschool gak akan jadi masalah. Di Jakarta banyak sepupu yang hampir seumuran dengan JoJo, jadi pasti ada teman bermain tetap paling nggak sekali seminggu.

Pertimbangan ke-2: Bandung. Sebelum kami tinggal di Chiang Mai, kami berdua lama tinggal di Bandung. Tapi ini ada keraguan, karena terakhir kali kami mengunjungi Bandung, kotanya sudah berbeda sekali dengan yang kami ingat. Jalanannya juga sudah jauh lebih macet. Plusnya, kalau pindah ke Bandung, biarpun macet pastinya ga akan semacet Jakarta. Kalau misalnya, ini misalnya, Joe pengen kembali terlibat mengabdikan diri mendidik mahasiswa menjadi programmer yang bener, ya bisa apply lagi buat jadi dosen heheh.

Pertimbangan lain: Medan, Laguboti, Solo, Batam, Bali. Sebenernya gak gitu pengen pindah ke Medan. Saya meninggalkan kota Medan sudah puluhan tahun lalu. Rute angkot saja saya sudah lupa semua, padahal dulu setiap hari keluar masuk sambu ehhehehe. Salah satu yang dipertimbangkan juga ke Desa Sitoluama, terlibat dengan DEL yang dulu pernah terlibat sebentar. Apalagi sekarang kan kabarnya bandara udara Silangit juga sudah selalu ada penerbangan setiap harinya ke Jakarta.

Kota Solo/Sukoharjo juga sempat jadi pertimbangan. Dengar-dengar kotanya cukup nyaman karena kecil dan ga terlalu crowded, tapi sejak dulu di pegang Jokowi, kotanya jadi cukup maju. Kota Solo juga dekat dengan kampung halaman Joe. Masalahnya kalau tinggal di Solo atau Sukoharjo, nanti saya harus belajar bahasa Jawa dong, padahal bahasa Batak aja saya udah menyerah ga pengen belajar hahahaha.

Sempat mempertimbangkan Batam juga. Konon Batam karena dekat dengan Singapur, banyak hal juga sudah cukup maju. Tapi sejauh ini kami gak tahu apa-apa soal Batam karena belum pernah ke sana. Kepikiran juga Bali, kemaren liat ada yang bilang kalau Bali itu kota untuk digital nomad juga seperti Chiang Mai. Tapi ya baru pernah sekali ke Bali, jadi ga punya kesan mendalam juga. Kemungkinannya memang bakal mirip Chiang Mai, banyak expat, banyak kuil, banyak tempat pijat dan alamnya indah yang merupakan tujuan wisata.

Sampai sekarang, kami tetap gak merasa klik dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada. Rasanya tinggal di Chiang Mai masih jauh lebih nyaman. Kota yang santai dengan akses internet cepat. Gak banyak mall, banyak coffee shop yang rasanya lebih enak daripada Starbuck dengan harga yang lebih murah dari Starbuck. Banyak komunitas homeschoolers, secara umum ga terlalu macet (sekarang ini macet cuma kalau jam keluar masuk sekolah).

Jadi karena belum bisa memutuskan mau tinggal di mana kalau pulang ke Indonesia, dan ya di sini pekerjaan juga masih ada, ya kami memutuskan untuk tinggal di sini selama kami punya ijin tinggal. Nantinya kalau memang tiba saatnya untuk memutuskan pulang ke Indonesia, semoga sudah menemukan alasan yang kuat untuk memilih kota yang akan menjadi tujuan berikutnya.

Cerita Kehidupan part 1

Hari ini akhirnya manggil tukang pijet lagi ke rumah, sebenarnya pegal-pegal sisa perjalanan minggu lalu sudah hilang, tapi ya kalau dipijat kan biar tambah enak badannya hehehe. Ngobrol-ngobrol dengan tukang pijat merupakan salah satu kesempatan saya berlatih berbahasa Thai, karena dia gak bisa bahasa Inggris sama sekali.

Kami mengenalnya sudah lama, dari sejak saya ga bisa bahasa Thai sampai akhirnya bisa mengerti banyak mendengarkan ceritanya. Jadi kepikiran untuk menuliskan kisah kehidupannya. Sebenarnya yang bikin menarik dari kisah kehidupannya adalah, dia pernah diramal, katanya sepanjang hidupnya dia akan hidup susah dan harus bekerja keras. Coba bayangkan kalau udah tau duluan hidup bakal susah kira-kira reaksi kita bagaimana?

Sebut saja namanya Pina, dia dulu bekerja di tempat pijat depan Condo kami tinggal. Dia merupakan orang yang pertama memijat saya di Chiang Mai. Dulu, kalau kami mau pijat, kami ga pilih-pilih tukang pijat, siapa aja yang lagi antri di tempat pijat itu ya terima saja. Kadang-kadang pijatan terasa ga standar, ada yang tenaganya kuat ada yang mungkin karena sudah memijat banyak orang tenaganya jadi tinggal sedikit. Pina ini termasuk yang pijatannya oke. Waktu itu dia masih berumur 40-an. 

Setelah beberapa lama, karena tempat pijat depan Condo sering tutup, pas Pina memijat saya lagi, saya minta nomor teleponnya. Waktu itu sebenarnya kami sudah beberapa tahun ada di Chiang Mai, dan saya masih tetap ragu dan gak percaya untuk memanggil tukang pijat ke rumah apalagi saya tetap ga merasa kenal dengan dia. Tapi saya pikir, ya minta dulu nomornya, nanti kalau mau panggil bisa coba telepon.

Setelah beberaa kali memanggil ke rumah, akhirnya saya mulai mendengarkan kisah-kisah kehidupannya. Dulu saya ga begitu memperhatikan dengan seksama, mungkin juga karena kemampuan bahasa saya merespon juga masih sangat terbatas. Sejak beberapa tahun terakhir ini kisahnya semakin membuat saya kadang-kadang berpikir. Walaupun dia pernah diramal hidupnya bakal susah sampai dia meninggal, dia ga patah semangat, dan dia tetap melakukan apa yang dia bisa.

Dia punya tanah di Mae Teng, sekitar 1 jam perjalanan dari Chiang Mai. Di tanahnya yang cukup luas itu, dia punya rumah yang ditinggali 2 anak laki-lakinya. Dia juga menanam pohon pisang di sana. Kalau habis panen, dia mengerjakan sendiri memanen pisang, membawa pisangnya ke Chiang Mai dan menjualnya ke berbagai warung. Kadang-kadang walau lagi ga dipanggil untuk pijat, dia mampir ke rumah dan mengantarkan beberapa sisir pisang yang masih mentah. Sebagai orang yang hidup pas-pasan, kadang-kadang dia juga membawakan jagung rebus atau cemilan buat anak kami ketika datang untuk memijat. 

Sekarang ini dia sudah berumur 50 tahun lebih, tenaga memijatnya sudah berkurang dibandingkan dengan 11 tahun lalu. Kami masih tetap menggunakan jasanya memijat selama dia masih bekerja jadi tukang pijat. Salah satu alasan kenapa kami masih memanggil dia ke rumah juga karena dia sekarang ini harus membesarkan cucunya yang berumur hampir 2 tahun. Cucu perempuannya ini dia rawat sejak lahir, anak laki-lakinya dan ibu dari cucunya tidak mampu merawat si bayi karena berbagai alasan. Jadi kami pikir, dengan dia memijat kami dia dapat penghasilan untuk membesarkan cucunya itu.

Kadang-kadang kalau mendengarkan cerita dan keluh kesahnya, cerita soal anak-anaknya, cerita soal ibunya yang dulu sakit dan akhirnya meninggal, cerita mengenai merawat cucu, cerita masa lalunya tentang suami-suaminya, saya antara kasian dan heran. Kasihan dengan pilihan kehidupnya yang membuat dia mengalami berbagai kesusahan, heran kenapa dia mau-maunya hidup begitu. Tapi ya, saya berusaha menjadi pendengar yang budiman. Saya tahu, dia gak minta solusi dari saya, dia cuma mau mengeluarkan unek-unek dan pendengar saja. Saya juga ga kepikiran solusi buat dia, ya kan saya ga tahu jalan pikirannya secara lengkap, jadi ya manalah mungkin saya kasih solusi.

Kembali ke cerita hidupnya, salah satu episode cerita yang saya ingat adalah: dia menikah muda, menikah dengan pesta besar. Tapi pernikahannya itu ga berlangsung lama karena suaminya menikah lagi dengan wanita lain. Setau saya suami pertamanya ini masih tetap kontak dengan dia terutama untuk urusan anak pertama. Kemudian dia menikah lagi, dari pernikahan ke-2 dia punya 1 anak laki-laki lagi, dan pernikahan ke-2 ini pun ga berlanjut. Setelah 2 kali gagal menikah, dia pernah menikah lagi di usia 40 -an dengan seorang pemuda usia 30. Pernikahan itu ga bertahan lama, karena menurut dia si lelaki muda itu cuma jadi beban nambah urusan saja.  Setelah gagal dengan pernikahan ke-3 nya, dia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memikirkan mengenai laki-laki. Bahkan ketika mantan suami pertama menunjukkan indikasi mau balik lagi dengan dia, walaupun si mantan suami itu punya pekerjaan tetap yang artinya bisa untuk menghidupi Pina, dia menolak untuk menikah ulang.

Dengan status Janda beranak 2, dia harus bekerja untuk menghidupi anaknya. Anak-anaknya dia titipkan ke ibunya, dan dia bekerja di Thailand Selatan. Waktu saya tanya apakah dia pernah rindu untuk mengurus anak-anaknya, dia bilang ya rindu juga, tapi kan saya harus cari duit. Dia tadi cerita, saat anaknya sudah sekolah dan bisa menuliskan surat, anaknya mengirimkan surat rindu ke ibunya ini. Membaca surat anaknya, dia menangis di kamar mandi sampai lupa kalau lagi goreng ikan. Hampir saja rumah makan tempat dia bekerja kebakaran, karena api sudah naik ke penggorengan. Ceritanya sebenarnya sedih, tapi dia menceritakannya sambil tertawa-tawa. Mungkin kalau sudah berlalu, mengingat cerita sedih bisa bikin jadi lucu juga ya. 

Sekarang, anak-anaknya sudah besar, yang paling kecil berusia 30 tahunan. Teorinya harusnya dia sudah bisa santai karena anaknya sudah mandiri. Tapi kenyataanya, dia masih harus bekerja keras untuk membesarkan cucu dari anak pertama. Anak pertama ini, punya pekerjaan, tapi gak cukup untuk membiayai anaknya sendiri. Tinggalnya juga bukan di Chiang Mai. Otomatis Pina yang urusin cucu dari bayi. Kadang-kadang Pina mengeluh susahnya mengurus bayi di usia 50-an. Tapi pada dasarnya dia dulu juga ga mengurus anak-anaknya. Mungkin dia terbeban mengurus cucunya, karena merasa dulu dia juga menelantarkan anak-anaknya. Entahlah persisnya apa yang dia pikirkan. Tapi walau mengeluh, dia tetap mengurus cucunya.

Ceritanya agak random ya, masih panjang kisah kehidupan Pina ini. Lain kali akan saya lanjutkan episode-episode kehidupan Pina. Sebenarnya mungkin ada banyak kisah sejenis kehidupan Pina ini. Pelajaran dari kisah hari ini, dia tetap bekerja keras walau tahu hidupnya akan susah sampai akhir hayatnya. Dia mengeluh tapi tetap mengerjakan apa yang dia bisa dan tidak menyerah begitu saja.