Loy Kratong Chiang Mai 2019

Tahun ini, Loy Kratong jatuh tanggal 9 – 12 November. Acara menghanyutkan kratong di sungai area dekat rumah diadakan tanggal 11 dan 12 saja. Tahun-tahun sebelumnya, biasanya yang pergi ke sungai itu Joe dengan Jonathan saja. Tapi tahun ini, gantian saya dan Jonathan yang pergi. Joe di rumah dengan Joshua. Kami tidak membawa Joshua karena biasanya Joshua tidak suka dengan tempat berbau asap dan bunyi petasan yang mengagetkan.

Tahun ini, di area dekat rumah ada larangan menerbangkan lentera khom loy. Secara umum di Chiang Mai dibatasi area yang diijinkan menerbangkan khom loi. Beberapa group juga menghimbau lebih baik tidak menerbangkan khom loi maupun menyalakan petasan dan kembang api supaya tidak menambah polusi udara. Oh ya, biasanya bulan November, udara masih bersih, akan tetapi tahun ini entah kenapa udara nilai aqi udara sudah mulai mengindikasikan udara yang tidak sehat, bahkan sebelum Loy Kratong dimulai.

Awalnya rencananya mau menghanyutkan hasil karya Joshua, tapi eh ternyata kratongnya langsung nyungsep. Jadiya beli 1 lagi seharga 45 baht yang terbuat dari ice cream cone dan dibentuk seperti unicorn. Harga kratong ini bervariasi, ada yang jual 35 baht atau beli 3 seharga 100 baht, ada juga yang jual 50 baht berupa kratong bunga yang agak besar. Tadi karena saya gak berniat lama-lama di sana, saya beli dari tempat yang dekat dengan sungainya saja.

Setelah menghanyutkan kratongnya, eh Jonathan ketemu anak tetangga yang juga teman di tempat Taekwondo nya. Jadilah tadi bermain-main sebentar, termasuk memperhatikan ada ikan kecil di dekat tempat orang-orang menghanyutkan kratong. Biasanya, platform untuk menghanyutkan kratong di buat agak lebih tinggi dari air sungai. Tahun ini, platform untuk menghanyutkannya sedikit lebih rendah dari air sungai. Jadi kaki kita pasti basah kalau mau menghanyutkan kratongnya.

Kadang-kadang saya kagum dengan cara kerja pemerintah setempat dalam mempersiapkan festival seperti ini. Mereka bisa mengatur debit air sungai supaya agak tinggi dari biasanya, sehingga mempermudah untuk menghanyutkan kratong. Setelah festival selesai, mereka langsung bekerja cepat untuk membersihkan sampah kratongnya dari sungai dan air sungainya kembali lagi seperti biasa (tidak terlalu tinggi).

larangan menerbangkan khom loy

Saya bersyukur di daerah sini tidak diijinkan menerbangkan khom loy. Biasanya setiap tahun, ada lebih dari 3 sampah khomloy jatuh di halaman atau atap rumah. Tapi tahun ini, penduduk setempat cukup taat peraturan dan tidak menerbangkan khom loy. Saya tidak pernah menerbangkan khom loy, karena saya takut khom loy yang saya terbangkan membahayakan rumah atau orang lain.

Sebelum pulang, saya perhatikan selain berjualan kratong, ada beberapa penjual makanan dan minuman dadakan juga di sisi lain jalan. Dibandingkan tahun sebelumnya, rasanya lalu lintas cukup teratur dan tidak terlalu macet. Mungkin karena kemarin sebagian besar orang sudah menghanyutkan kratongnya, jadi hari ini tidak terlalu ramai.

Satu hal yang saya juga kagum dari acara seperti ini adalah kreativitas orang-orang dalam membuat kratong. Jadi kalau dulunya kratong itu terbuat dari pelepah pisang, daun pisang dan hiasan bunga. Sekarang ini orang-orang membuat kratong dari makanan seperti cone ice cream, roti tawar ataupun roti yang diberi warna-warni, dan ada juga yang dari kerupuk. Kemarin saya lihat di timeline FB saya, ada teman yang bikin kratong dari batu es dan dihias dengan makanan roti-roti. Jadi mungkin niatnya supaya tidak menjadi sampah di sungai ya.

Sambil jalan pulang, kami melihat-lihat ada apa lagi yang di jual. Ternyata ada yang jual ikan kecil juga untuk dilepaskan di sungai. Ikan sebungkus (beberapa ekor) seharga 35 baht, atau kalau mau beli 3 seharga 100 baht. Kata Jonathan, tahun depan dia mau melepaskan ikan-ikan supaya ga nyampah di sungai. Saya tulis di sini dan semoga ingat niat ini tahun depan. Cerita tahun lalu juga ada sedikit di tuliskan di sini.

Green Grizzly di Chiang Mai

Setelah sekian akhir pekan sibuk tak menentu, akhirnya hari ini menyempatkan diri untuk bawa anak-anak keluar di hari Sabtu. Udara yang sudah tidak terlalu panas juga merupakan waktu yang tepat buat jalan-jalan. Hari ini pilihan jatuh mengunjungi Green Grizzly yang baru dibuka beberapa waktu lalu.

Konsep tempat ini cukup menarik, mereka membuat pasar terapung di rawa-rawa yang penuh tanaman bunga seroja (lotus). Untuk masuk ke tempat ini kita harus membeli tiket 20 baht/orang (anak-anak gratis). Tiket itu nantinya bisa kita pakai untuk belanja makanan atau minuman dari penjual yang berjualan dari perahu dan dari coffee shop yang ada di atas rawa tersebut. Pembelian tiket dilakukan persis di depan pintu masuk area pasar terapung, lalu di dalam, kita bisa menukar uang jadi kupon belanja makanan. Nantinya kalau kupon yang kita tukar bersisa, bisa kita tukarkan lagi jadi uang baht.

Makanan dan minuman yang di jual di sana harganya juga tidak terlalu mahal dibandingkan di pasar biasa. Bisa dibilang, restoran ini memang menjual suasana dan tentunya buat yang suka foto-foto. Jalanan bambunya tidak semuanya ada pegangan di 2 sisi, beberapa bagian hanya ada di 1 sisi. Jalannya cukup lebar sih, tapi kalau tidak hati-hati bisa jatuh juga hehehe. Awalnya agak deg-deg an karena Joshua gak mau dipegangin dan Jonathan malah lari-larian. Tapi ya untungnya tidak ada insiden yang dikhawatirkan.

pegangannya hanya di 1 sisi

Jenis makanan yang dijual di dalam bagian pasar terapung ini umumnya makanan khas Thai, ada somtam, padthai, buah potong, minuman soda, goreng-gorengan. Uniknya mereka memasak makanannya di atas perahunya. Bahkan tadi saya melihat yang jual pisang goreng ya menggorengnya di dalam perahunya itu.

Di area pasar terapung ini juga disediakan gubuk-gubuk kecil untuk duduk bersantai menikmati makanan dan beberapa area dengan meja-meja panjang untuk makan dan minum.

kopi dengan gelas dan sedotan bambu yang bisa dibawa pulang

Di bagian tengah ada coffee shop yang menjual kue-kue selain minuman kopi. Bagian coffee shop ini tidak di dalam perahu, tapi lebih banyak tempat duduknya. Uniknya mereka menjual minumannya menggunakan gelas bambu dan sedotan bambu. Kalau kita memesan untuk dibawa pulangpun, mereka tetap pakai gelas bambu dan kita bisa membawa pulang gelas dan sedotan bambunya tanpa biaya tambahan.

Di bagian luar pasar terapung ada restoran lain yang sepertinya sudah lebih dulu ada. Restorannya banyak hiasan buaya (entrancenya juga ada patung buaya). Areanya cukup luas dan ada kolam ikan dengan bunga teratai disekitarnya. Anak-anak bisa bermain dengan lebih aman tanpa takut jatuh seperti di pasar terapung. Kita juga bisa membeli makanan ikan untuk memberi makanan ke ikan-ikan di kolam.

Di bagian restoran luar dan di dalam pasar terapung ada beberapa ayunan bambu besar, jadi anak-anak bisa mainan ayunan atau ya sekedar eksplorasi.

Untuk restoran di luar pasar terapung, mereka juga menyediakan game arcade yang bisa dimainkan dengan menggunakan koin. Hari ini anak-anak main tanpa menyalakan mesinnya dan udah cukup senang hehehe.

Secara keseluruhan, kalau kita pingin makan sambil bawa anak-anak main setelahnya, tempat ini cukup menarik untuk dikunjungi. Tapi karena tempatnya agak jauh dari rumah (30 menit nyetir), mungkin gak akan sering-sering juga ke sana hehehe. Harga makanannya juga tidak lebih mahal dari makan di mall.

usaha bikin foto keluarga yang gagal hehehe

Oh ya, Green Grizzly-nya awalnya saya pikir dari bonsai atau pohon besar, tapi ternyata mereka bikin patung besar yang ditutup dengan bahan sintetis seperti rumput palsu berwarna hijau. Jadi memang daya tarik dari tempat ini ya konsep pasar terapungnya.

Hello November!

Bulan Oktober kemarin, saya diserang kemalasan menulis blog. Awalnya sih mikir ah besok aja nulisnya, lalu lama-lama jadi keterusan ngebesokin hehehe. Hari ini, di awal bulan November, mari kita mulai dengan semangat baru menulis lagi walaupun mungkin cerita hari ini merupakan pengulangan dari cerita sebelumnya dan isinya sekilas info tentang Chiang Mai di awal November.

Beberapa minggu lalu, saya posting kalau musim dingin diumumkan akan mulai dari 17 Oktober 2019 yang diawali dengan kiriman hujan badai dari negeri tetangga. Nah memang sempat tuh hujan badai, angin kencang menyeramkan sampai beberapa kali pemadaman listrik, tapi musim dinginnya ternyata masih malu-malu datangnya. Untungnya juga hujannya tidak setiap hari seperti yang diperkirakan.

Jadi, di bulan Oktober, setelah beberapa hari dingin karena hujan, sisanya ya masih panas terik menyengat (padahal udah senang duluan musim dinginnya datang lebih awal). Baru hari ini nih terasa perubahan hawa yang signifikan di pagi hari. Tadi pagi, rasanya berat banget untuk bangun dan malah cari-cari selimut. Saya cek berapa derajat sih ini, ternyata memang kisaran 17-18 derajat celcius. Pantesan aja ya rasanya masih enak nyambung tidur.

jam segini 18 derajat, males bangun rasanya

Sebelum menuliskan cerita lebih panjang soal musim dingin di Chiang Mai, saya iseng mencaritahu tahun lalu seperti apa ya kondisinya. Eh ternyata tahun lalu juga mulai dingin di awal November, ini tulisannya bisa dibaca di sini.

Nah untuk lebih meyakinkan lagi, apakah November ini benar-benar akan dingin, atau cuma ‘teaser’ doang dinginnya seperti di bulan Oktober lalu, saya cek juga nih bagaimana kira-kira prakiraan cuaca 10 hari ke depan di Chiang Mai.

wah ada kemungkinan hujan

Biasanya, musim dingin itu bukan karena hujan, tapi kenapa prakiraan tahun ini akan ada hujan ya? Tapi sebenarnya ada baiknya juga hujan turun, jadi udaranya tidak terlalu kering dan tidak banyak debu. Dengan adanya hujan begini juga artinya menunda kemungkinan orang-orang bakar sampah atau sisa panen yang kering yang mengakibatkan musim polusi datang lebih awal. Secara keseluruhan suhu udara di pagi hari lumayan dingin, artinya bisa hemat AC di saat tidur hehehe. Musim dingin begini juga waktu yang tepat untuk jalan-jalan di luar ruangan (semoga hujannya gak banyak-banyak).

Ketika memeriksa prakiraan cuaca begini, saya jadi teringat dulu kalau lagi nonton berita, saya gak pernah memperhatikan bagian orang yang membawakan prakiraan cuaca. Saya pikir mereka cuma mengada-ada dan belum tentu benar, terus juga gerakannya waktu melaporkan terasa aneh. Terus jadi ingat, di beberapa film yang saya tonton, pembawa berita prakiraan cuaca ini suka dianggap reporter kelas belakang oleh pembaca berita utama, dan diceritakan kalau pembawa acara prakiraan cuaca itu cuma dikasih layar hijau dan bukan gambaran sebenarnya. Padahal ya, prakiraan cuaca ini ada ilmunya dan bukan asal-asal kayak ramalan horoskop hehehe.

Saya tidak ingat sejak kapan saya rajin meriksa prakiraan cuaca, mungkin sejak di Chiang Mai. Padahal dulu rasanya ya tiap hari sama saja, mau hujan atau panas terik ya terima aja kedatangan si cuaca. Memang sih kadang-kadang prakiraan ini tidak selalu tepat, tapi sekarang ini terasa berguna untuk tahu misalnya siap-siap payung supaya gak kehujanan atau keluarin selimut tebal supaya ga kedinginan di pagi hari.

Lagi nulis ini, dikirimin foto Sunset sama temen yang tinggal di Condo dengan pemandangan sungai Ping (jadilah sunsetnya terlihat indah ya). Buat yang baca sampai akhir, nih bonus hari ini: sunset di hari pertama November di Chiang Mai.

foto dari @dna12
foto dari @dna12
foto dari @dna12

Kalau kamu gimana, suka melihat prakiraan cuaca gak setiap harinya?

Gempa Di Chiang Mai

Hari ini hampir bolos nulis karena ga ada ide, eh tau-tau ada gempa. Sebenarnya saya ga merasakan, tapi banyak yang bertanya apakah merasakan. Waktu saya cek di internet, ternyata memang ada gempa dengan kekuatan 4.1 SR di Chiang Mai setelah beberapa menit sebelumnnya gempa di Myanmar dan kemarin di Pai yang mana masih daerah yang berdekatan dengan Chiang Mai.

sumber: http://www.earthquake.tmd.go.th/en/local.html

Gempa hari ini bukan yang pertama kalinya yang terasa di Chiang Mai selama kami di sini. Saya ingat awal kami tinggal di Chiang Mai sempat ada beberapa kali gempa kecil, tapi pusatnya dari negara tetangga. Gempanya cukup besar jadi terasa sampai ke Chiang Mai dan kejadiannya siang-siang dan kami ada di kantor. Pas ada goyangan gempa, awalnya mikir apa pusing karena kebanyakan liat layar, terus waktu yakin itu gempa sebelum panik eh gempanya sudah berhenti.

Terus pernah juga tanggal 24 Maret 2011 gempanya malam-malam dan rumah kami waktu itu masih di apartemen lantai 18 dan udah ada Jonathan tapi masih bayi. Gempanya lumayan besar 6.9 SR pusatnya di Myanmar dan agak lama, tanpa mikir panjang Joe gendong Jonathan dan saya menyusul di belakang turun lewat tangga 18 lantai. Sampai bawah, ketemu banyak orang yang juga wajah panik gitu. Tapi untungnya waktu itu gempanya gak lama berhenti. Setelah menenangkan diri dengan sesama penghuni yang panik, akhirnya balik ke unit masing-masing. Kembali ke unit perasaan masih tetap waspada. Oh ya, kenapa bisa ingat tanggalnya? karena waktu itu ditulis di blog Jonathan hehhehe.

Setelah kejadian itu, ada juga beberapa kali merasakan gempa selama tinggal di apartemen, tapi entah kenapa kami sering tidak merasakannya. Terus pernah sekali merasakan sedikit, terus cuma berdoa aja gempanya gak lama dan tetep diam aja di dalam rumah (sambil siap-siap lari kalau gak berhenti juga sih). Untungnya biasanya gempanya berhenti sebelum kami panik hehe.

Nah pernah juga saya ingat pengalaman gempa setelah pindah ke rumah biasa dan bukan di apartemen lagi. Waktu itu Joe di kantor dan saya cuma berdua sama Jonathan (Joshua belum ada). Waktu merasakan gempa, entah kenapa malah panik dan buru-buru gendong Jonathan keluar rumah. Jonathannya malah heran, lagi main kok digendong keluar rumah. Tapi ya abis dikasih tau ada gempa, pertanyaanya tambah panjang apa itu gempa dan malah pengen rasain lagi haahha.

Hari ini, barusan ini saya bersyukur sih gak merasakan gempanya. Soalnya tadi itu udah siap-siap tidur (kamar tidur di lantai 2). Kalau pas merasakan gempanya, kemungkinan besar saya akan panik dan harus turun dan keluar rumah. Joshua udah berat banget, gak mungkin juga digendong turun kan hehehe.

Sekarang ini ada perasaan sedikit kuatir apakah masih akan ada gempa susulan (dan berdoa tidak ada gempa susulan di sekitar sini). Tapi ya namanya alam tidak bisa kita yang mengatur. Jadi daripada cemas kuatir dan jadi gak bisa tidur, mending berdoa sebelum tidur supaya apapun yang terjadi tetap dalam lindunganNya.

Kalau dipikir-pikir, saya lebih suka tidak merasakan gempa ketika gempa terjadi. Perasaan kuatir dibandingkan perasaan panik itu lebih bisa dikendalikan perasaan kuatir. Namanya panik, kadang-kadang bikin kuatirnya lebih berkepanjangan dan berhalusinasi sendiri berasa-rasa goyang padahal gak ada apa-apa. Kalau cuma dikasih tau: eh ada gempa tadi, berasa gak? bisa jawab enteng: nggak berasa (dalam hati berdoa semoga ga ada susulan). Tapi ya bisa lebih tenang.

Kalau pembaca gimana? lebih suka merasakan gempa atau tidak merasakan?

Perkiraan Musim Dingin 2019 di Chiang Mai

Kemarin baca berita kalau dalam minggu ini Thailand keseluruhan termasuk Chiang Mai akan banyak hujan badai dan suhu udara akan turun beberapa derajat pengaruh dari badai di Cina.

Hari ini baca berita kalau pemerintah Thailand mengumumkan musim dingin akan segera tiba tanggal 17 Oktober ini. Perkiraannya juga tahun ini musim dingin akan lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya dan berlangsung sampai bulan Februari 2020.

terjemahan dari chiangmai news

Menurut berita ini Bangkok di bulan Desember dan Januari bisa mencapai 15 – 17 derajat celcius, sedangkan Chiang Mai bisa jadi berkisar antara 12 – 14 derajat celcius. Beberapa tahun terakhir ini musim dinginnya bisa dibilang sangat singkat, tahun lalu malah siang harinya ya gak terlalu dingin dan mataharinya super terik. Tahun lalu musim dinginnya baru terasa setelah minggu ke-2 bulan November.

Hari ini, sesuai perkiraan hujan deras turun sejak jam 12-an tadi dan belum ada tanda-tanda berhenti. Biasanya kalau sudah ada pengumuman, pemerintah kota Chiang Mai sudah akan siap sedia pompa air supaya tidak terjadi banjir. Semoga saja mereka tetap sigap seperti tahun-tahun sebelumnya. Polisi lalu lintas juga biasanya akan lebih sibuk dari biasanya, karena efek lain dari hujan deras ya jalanan macet. Perkiraan hujan ini masih akan berlangsung sampai beberapa hari ke depan. Walau pemerintah kota sudah bersiap-siap, saya berharap hujannya ada jedanya. Kadang-kadang efek lain dari hujan bukan cuma jalanan macet dan banjir, tapi juga bisa jadi pemadaman listrik kalau ada pohon tumbang yang bisa saja nyangkut di kabel listrik.

Prakiraan hujan setiap hari sampai hari Jumat

Buat yang mau jalan-jalan ke Thailand terutama ke Chiang Mai, waktunya untuk melirik harga tiket ke sini. Musim dingin itu waktu yang baik untuk berjalan-jalan, karena musim dingin di sini biasanya tidak ada hujan ataupun salju. Matahari bersinar menghangatkan udara yang dingin. Bunga-bunga juga biasanya bermekaran dan ya udaranya cukup segar (asal gak ada yang bakar-bakaran).

Biasanya awal musim dingin tidak selalu dimulai dengan hujan. Saya juga tidak tahu kenapa tahun ini curah hujannya sepertinya banyak sekali. Udah beberapa bulan ini sering hujan, sampai-sampai rumput di halaman baru juga di potong sudah meninggi dengan cepat.

Semoga musim dingin tahun ini juga tetap tanpa hujan seperti biasa jadi bisa enak jalan-jalan dengan anak-anak ke taman atau ke tempat-tempat lainnya. Semoga juga orang yang bakar-bakar sawah nggak mulai lebih awal, jadi bisa menikmati musim dingin tanpa kuatir polusi.

Oh ya, mungkin ada yang bertanya-tanya, di Chiang Mai ada apa yang menarik di musim dingin? Yang paling dekat itu festival Loy Kratong dan Yi Peng di bulan November. Kalau tahun lalu festival ini jatuhnya di akhir November, tahun ini bisa jadi di minggu ke-2 antara 9 – 13 November (tergantung bulan purnamanya kapan). Walaupun bukan hari libur nasional (karena toh acaranya bisa dilakukan sore hari), festival ini cukup meriah. Selain festival di bulan November, bulan Desember dan awal Januari biasanya banyak bunga-bunga bermekaran di sekitar Chiang Mai, termasuk bunga sakura. Atau kalau tidak bisa ke Chiang Mai di akhir tahun, bisa juga merencanakan datang di awal Februari 2020 untuk festival bunga. Biasanya sih musim dinginnya masih terasa di awal Februari. Tahun depan festival bunga itu jatuhnya antara 7 – 9 Februari 2020.

Dingin di Chiang Mai harus bawa apa aja nih persiapannya? Ya kalau biasa di negeri yang bersalju, ke sini itu 12 derajat sih malah terasa hangat, jadi gak perlu baju yang tebal-tebal. Tapi kalau gak biasa dengan suhu di bawah 20 derajat, mungkin sediakan baju tebal 1 dan topi, karena kadang-kadang udara dingin itu bikin pusing kepala hehehhe.

Festival Makanan Vegetarian di Thailand

Sejak datang ke Chiang Mai, kami diberitahu kalau setiap tahunnya ada yang namanya festival makanan vegetarian di Thailand, biasanya dalam 9 hari akan banyak tukang jualan makanan yang mengkhususkan menjual makanan vegetarian dan bisa dilihat dengan tanda bendera kuning bertuliskan เจ (dibaca: je ) yang artinya makanan vegetarian.

Tanda makanan vegetarian (sumber: wikipedia)

Festival makanan vegetarian (เทศกาลกินเจ) ini diadopsi dari Nine Emperor Gods Festival, di mana dalam 9 hari yang berlangsung dalam bulan ke-9 dari kalendar Lunar Cina, mereka tidak akan makan daging dan hanya makan makanan vegetarian.

Untuk tahun ini, festival makanan vegetarian ini berlangsung dari tanggal 29 September sampai 7 Oktober 2019. Informasi lebih lengkap bisa dibaca-baca di link ini.

Kalau liat begini, sosis dan bakso mana percaya ini vegetarian
Menu makanannya ya seperti makanan non vegetarian juga
Melihat yang ini saya lapar hehehe…

Selain tempat jual makanan dadakan, biasanya restoran yang besar juga menyediakan menu khusus karena banyak orang yang memilih untuk makan vegetarian selama festival ini. Tapi walaupun banyak yang berjualan makanan vegetarian, makanan biasa yang dengan daging juga tetap ada dijual seperti biasa. Jadi jangan sampai salah pilih dank kalau mau beli makanan vegetarian pastikan saja menunya ada tulisan dengan tanda kuning dan 2 huruf berwarna merah.

Makanan vegetarian identik dengan makanan sehat
Penampilannya sama aja deh dengan menu makanan biasa

Tadi kami iseng nyobain makanan cemilan vegetarian, enak juga loh ternyata. Terus Joe juga coba pesen makanan yang katanya pakai “vegan chicken” alias ayam palsu. Terlihat mirip daging ayam, tekstur juga mirip, tapi rasanya tetep daging ayam lebih enak buat saya hahaha…

Festival makanan vegetarian ini kesempatan mencoba berbagai kuliner yang berbeda dari biasanya. Selain makanan untuk dimakan dengan nasi, ada banyak juga cemilan yang menggoda (lupakan diet). Jadi kalau yang lagi diet, jangan mentang-mentang katanya makanan vegetarian lebih sehat jadi malah makan kebanyakan ya hehehe.

MusePass Thailand = Kartu jalan-jalan

Kali ini saya mau cerita tentang MusePass atau museum pass yang kami juga baru tahu sejak awal tahun 2019 ini (padahal dari nomornya aja tahun ini sudah masuk MusePass 7).

Apaan sih MusePass itu? singkatnya kartu sakti untuk mengunjungi banyak museum di Thailand. Dengan harga 299 baht, bisa masuk ke banyak tempat di Thailand yang biasanya berupa museum dan tempat wisata.

Kartu MusePass 7 ini bisa dipakai selama 1 tahun sejak pertama kali digunakan, tapi ada syarat pertama kali pakainya paling lambat 30 September 2019. Wah udah mau habis dong waktunya ya, kemungkinan akan ada MusePass berikutnya kok, nanti akan saya update informasinya kalau ada MusePass 8.

Kami beli 4 kartu MusePass, karena 1 kartu itu bisa dipakai untuk 1 orang. Tapi karena kartunya tidak pakai nama, sebenarnya bisa dipakai siapa saja. Misalnya waktu awal tahun mama saya datang ke Chiang Mai, kami pakai 4 kartu MusePass untuk masuk ke Art in Paradise dan cukup beli 1 tiket anak untuk Joshua (dapat harga Thai pula). Kalau beli harga tiket untuk orang asing ke Art in Paradise itu per orangnya saja bisa 400 baht.

Waktu kami ke Phuket, kami juga pakai MusePass ini untuk mengunjungi Phuket Aquarium. Kalau beli tiket masuknya Phuket Aquarium itu dewasa 180 baht dan anak-anak 100 baht untuk orang asing. Tapi dengan MusePass jadi gratis dong. Sebenarnya ada beberapa tempat lain juga yang gratis di Phuket tapi kurang menarik buat kami jadi kami tidak kunjungi.

Nah kalau mau tau daftar yang bisa dikunjungi dengan MusePass ini bisa di cek di websitenya. Tiap tahun tempat yang bisa dikunjungi ini berubah-ubah tergantung kerjasamanya. Selain tiket masuk gratis, ada juga kupon diskon untuk beberapa tempat, misalnya untuk Chiang Mai Aquarium, ada kupon diskon 30 persen, lumayan kan buat ajak anak jalan-jalan. Di MusePass 6, Chiang Mai Aquarium ini padahal termasuk dalam daftar gratisannya. Semoga yang ke -8 ntar masuk lagi hehehe.

Mumpung cuaca cerah, yuk kita jalan-jalan

Hari ini kami pakai Muse Pass nya untuk mengunjungi Royal Flora Rajapruek. Terakhir ke sana itu akhir tahun 2018, tahun ini kami tidak sesering tahun lalu ke sana karena sistem membershipnya berubah dan jadi mahal banget. Mumpung cuaca lagi cerah di musim hujan yang tidak menentu ini, kami menggunakan kesempatan buat memanfaatkan si MusePass yang hampir expired. Harga tiket masuk ke Royal Flora Rajapreuk ini untuk orang asing 200 baht/orang dan anak-anak 100 baht/orang, dengan MusePass jadi gratis.

Total penghematan untuk jalan-jalan memanfaatkan kartu ini sudah terasa hehehe. Ada banyak tempat di seluruh Thailand yang menarik untuk dikunjungi, semoga sampai awal tahun depan kami ada waktu mengunjungi Bangkok dan Pattaya (kartu kami pertama di pakai Januari 2019).

Dari daftar yang ada, tempat yang masih ingin dikunjungi itu misalnya Space Inspirium dan Museum Ripley’s Believe It or Not di Pattaya.

Kartu sejenis MusePass ini sangat terasa manfaatnya buat ngajak anak jalan-jalan sekalian belajar. Selain tempat wisata, tempat-tempat tujuan yang diajak kerjasama oleh MusePass ini juga memberi informasi/pengetahuan buat pengunjungnya.

Kalau memang sudah ada rencana jalan-jalan ke Thailand sebelum 30 September 2019, bisa dilihat apakah tempat yang akan dikunjungi ada dalam daftar MusePass ini dan masih ada waktu untuk membeli kartu MusePass 7 (dan dipakai segera). Nanti kalau kartunya gak dipakai lagi bisa disimpan siapa tahu tahun depan datang ke Thailand lagi ke kota yang lain.

Oh ya, kartu ini berlaku 1 orang 1 kartu dan hanya bisa dipakai untuk mengunjungi tempat tersebut 1 kali. Ya kalau berkali-kali tentunya mereka rugi dong ya hehehe. Tapi ya pemakaian pertama kami saja misalnya ke Art in Paradise sudah lumayan banget daripada beli tiket harga full nya.

Saya belum menemukan informasi tentang MusePass berikutnya, nanti kalau sudah ada akan kami update dan tentunya kami akan beli lagi tiket MusePass nya hehehe.

Kalau di Indonesia ada tidak ya kartu sejenis MusePass ini?