Jalan-jalan ke arah Chiang Rai

Hari Sabtu kemarin, untuk memenuhi undangan menikmati makanan Nusantara dari seorang teman yang tinggal di antara Chiang Mai dan Chiang Rai, kami jalan-jalan dengan beberapa teman Indonesia lainnya. Berangkat dari rumah masing-masing dengan target makan siang di sana.

Dengan berbekal Google Map, kami mengetahui kalau perjalan sekitar 80 km itu akan ditempuh sekitar 1,30 jam. Kami belum pernah menyetir sendiri ke Chiang Rai. Kami pernah ke Chiang Rai bertahun-tahun lalu ikut mobil tour dan belum ada Joshua. Jadi bisa dibayangkan sudah berapa tahun yang lalu hehehe.

Sebenarnya, untuk yang biasa tinggal di kota besar, perjalanan 90 menit tentunya tidak ada apa-apanya. Tapi buat kami yang biasanya cuma jalan-jalan dalam kota, perjalanan ini lumayan terasa. Perjalanan kali ini terlaksana karena kami tidak mencari tahu lebih banyak informasi mengenai jalan ke arah sana dan berasumsi: ah cuma 80 km, harusnya sebentar juga sampai hehehe.

Siap berangkat

Kami berangkat setelah selesai sarapan dan mandi. Tidak buru-buru, karena tujuannya tidak terlalu jauh, dan jalanan sudah tidak terlalu ramai karena sudah bukan libur tahun baru lagi. Kami tidak membawa cemilan dan hanya sedia air minum saja di mobil, asumsi bisa berhenti kapan saja kalau lihat mini market hehehe. Ada beberapa tempat berhenti untuk ngopi ataupun membeli/memetik stroberi, tapi kami tidak berhenti karena tidak mau sampai terlalu siang.

Jalan lintas provinsi yang bagus dan lebar

Perjalanan 45 menit pertama terasa lancar dan jalanannya juga bagus. Oh ya, kota tujuan kami sudah berbeda provinsi dengan kota tempat tinggal kami. Jadi kami melewati jalanan antar lintas provinsi ke arah utara Thailand. Jalanannya lebar, pemandangannya juga hijau. Ada beberapa jalan yang berbelok dan agak naik gunung. Secara umum jalannya juga lebar.

Perjalanan 45 menit berikutnya (yang sebenarnya sudah hampir mendekati tujuan), ternyata ada beberapa titik perbaikan jalan. Perbaikan jalannya dibagi beberapa ruas. Jadi akan ada beberapa titik di mana jalannya masih diperlebar, atau masih belum diaspal, jembatannya masih diperbaiki, ataupun memakai jalan di sisi yang sama dengan arah ke Chiang Mai. Di kiri kanan jalan ada banyak mesin-mesin berat. Terlihat beberapa tempat tanah merah yang dikeruk, maupun batu-batuan yang dipecahkan.

Perjalanan selanjutnya akan diceritakan melalui foto-foto yang saya ambil sepanjang jalan.

Ada banyak peringatan memasuki area konstruksi dalam 2 bahasa
kelihatan gak, nantinya jalan ini ada banyak jalur
bagian jalan yang masih diratakan dan belum diaspal
jalan yang lama rusak karena terendam air
Jalannya masih dikerjakan tapi bisa dilalui dengan lancar
ada beberapa kilometer di mana jalannya masih kurang bagus, tapi semua petunjuk jelas
Melewati bangunan Mesjid di dekat hotspring Mae Kachan
Berhenti sebentar di hotspring buat mampir ke minimarketnya
Ada temple di sebelah hotspring.

Sekitar jam 12 kurang, kami sampai ditujuan. Bahagia banget melihat makanan yang sudah disiapkan oleh teman kami. Berasa pulang ke kampng halaman. Apalagi makannya duduk bersila pakai tikar. Menunya macam-macam. Menu utama Soto Ayam lengkap dengan empingnya, Sayur urap, kering tempe, bakwan, tempe goreng, ayam bumbu bali, ikan sambal pete, dan acar timun. Makanan cemilan juga ada kue kering dan bolu coklat untuk anak-anak. Aduh salut untuk teman kami yang memasak semuanya seorang diri. Kalau mbak itu tinggal di Chiang Mai, saya mau katering deh tiap hari hehehe.

Udah pasti lupakan diet untuk hari ini. Tidak pakai lama, semua asik menyantap makanan yang terhidang.

Selesai makan, ngobrol-ngobrol sambil mengawasi anak-anak main. Mereka senang karena rumah yang kami datangi ini bentuknya berbeda dengan rumah yang ada di Chiang Mai. Rumahnya berbentuk rumah panggung. Agak khawatir sih liat anak-anak main di balkon sambil melihat ke bawah, tapi untungnya tidak ada insiden yang mengkhawatirkan hehe.

Setelah makan banyak, ternyata kami masih dimasakin mpek-mpek. Yang masak asli dari palembang dan lampung. Walau kenyang, tentu saja masih ada tempat untuk makan mpek-mpek. Makanan ini tidak setiap hari tersedia di Thailand hehehe.

Foto bersama sebelum pulang – nasib tukang foto, gak ada dalam kamera

Sekitar jam 4, karena anak-anak sudah capek main (orang dewasa sudah kenyang makan), kami pun pamit pulang. Sebelum pulang tentunya bungkusin makanan bawa pulang hahahaha (aduh gak tau malu ya). Dan foto bersama. Anak-anak tidur di mobil dalam perjalanan pulang. Padahal waktu pergi mereka tidak tidur sedikitpun.

Tidur setelah capek main

Senang rasanya perjalanan hari itu. Mungkin kalau tau akan ketemu jalanan yang lagi banyak perbaikan, kami akan duluan menyerah sebelum berangkat. Tapi ternyata jalanan cukup lancar. Sebelum jam 6 sore kami sudah sampai di rumah.

Mungkin kalau jalanan sudah selesai perbaikannya, akan lebih lancar lagi dan jarak antara Chiang Mai dan Chiang Rai akan semakin dekat. Lain kali rencananya mau mampir di coffee shop, beli stroberi, main-main di hot spring Mae Kachan, atau sekalian mancing di kolam ikan dekat rumah teman kami itu. Bisalah dijadwalkan untuk lebih sering jalan-jalan kalau jalanan sudah bagus hehehe.

KidBright32 dan KBX

Kalau United Kingdom punya Micro bit, maka Thailand punya KidBright32. KidBright32 dikembangkan oleh NECTEC (National Electronics and Computer Technology Center) organisasi pemerintah Thailand dan diproduksi oleh perusahaan lokal Thailand Gravitech). Usaha ini didukung perusahaan lain, misalnya perusahaan Maker Asia membuat extension berupa case dan peripheral tambahan yang diberi nama KBX (KidBright32 Extension).

Di posting sebelumnya saya sudah membahas Micro bit, di sini saya membahas KidBright32 dan ditutup dengan apakah mungkin Indonesia membuat board serupa.

KidBright32

KidBright32 menggunakan ESP32 sebagai prosessornya. ESP32 ini merupakan chip dari China yang pernah saya bahas di posting lain. Sedangkan Microbit memakai chip NRF52 dari Nordic Semiconductor, perusahaan Norwegia. NRF52 hanya memiliki fitur Bluetooth dan komunikasi radio proprietary, sedangkan ESP32 memiliki fitur Bluetooth dan WIFI. Harga KidBright32 sekitar 600 baht (19 USD), tidak beda dengan harga Micro Bit .

Seperti Micro bit, KidBright32 juga memiliki IDE Visual drag drop yang bernama KidBright IDE yang bisa dipakai di Linux/Windows/OSX. Berikut ini video yang dirilis oleh NECTEC untuk memperkenalkan KidBright (video bahasa Thai dengan subtitle bahasa Inggris).

Sebagian besar fitur KidBright32 ini sama dan bahkan lebih dari Micro Bit.. Memori lebih besar, bisa WIFI (bagus untuk belajar IOT), dan LED yang dipakai lebih besar (dua buah matris 8×8, jadi ada 128 led, sedangkan micro bit hanya 25).

Micro bit sudah cukup dikenal dan ada banyak aksesori tambahan, tapi KidBright32 juga tidak kalah. Berbagai sensor dan hardware tambahan sudah tersedia dan bisa dibeli di : https://www.kidbright.io/shop. Beberapa contoh sensor yang tersedia: proximity (kedekatan), detak jantung dan barometer.

KBX dan kbide

Sifat KidBright32 ini terbuka dan bisa dikembangkan lebih lanjut. Salah satu hasil pengembangannya adalah board KBX. Board ini memiliki case, LCD, Micro SD, USB host (supaya bisa memakai keyboard atau gamepad USB), dan juga tombol ekstra. Saya baru mengenal board ini ketika menemani Jonathan untuk ikut pelatihan gratis pemrograman hardware dasar di Chiang Mai Maker Club.

Selain membuat KBX, Maker Asia juga membuat kbide, versi lebih canggih dari KidBright IDE. Software kbide ini open source dan bisa berjalan di Windows, Mac, maupun Linux.

IDE-nya bukan sekedar meniru persis editor Micro Bit, banyak fungsi tambahan yang menurut saya lebih menarik. Berbagai fungsi tingkat lanjut di sediakan di mode visual, seperti:

  • Melakukan koneksi ke WIFI
  • Melakukan time synchronization dengan NTP
  • Menampilkan gambar (bahkan dari IDE-nya kita bisa mengakses kamera USB/kamera laptop, supaya kita bisa memfoto sesuatu untuk ditampilkan di device)
  • Mengucapkan kata-kata (terbatas, hanya yang ada di dalam kamus)
  • Memainkan nada (dengan editor yang bagus)
  • Memainkan MP3
  • Melakukan koneksi dengan protokol MQTT

Sebagai produk Thailand, salah satu kelebihannya adalah support terhadap bahasa Thai. Contoh paling sederhana adalah pada fungsi teks yang bisa menampilkan teks bahasa Thai dan disertakan juga berbagai font Thai.

Dengan hardware ekstra, harga KBX tentunya lebih mahal dari harga KidBright biasa, tepatnya harganya sekitar 60 USD (1990 THB). Dengan adanya koneksi Wifi dan sinkronisasi waktu dari NTP serta fitur buzzer, Jonathan bisa dengan cepat membuat Jam meja dengan alarm. Di malam hari jamnya diletakkan di samping tempat tidurnya.

Dari hasil mencoba-coba hardware dan softwarenya, saya merasa cukup kagum. Ini proyek yang serius, bukan sekedar meniru BBC Micro bit. Design hardwarenya bagus dan softwarenya juga dibuat dengan serius. Softwarenya masih terus dikembangkan (ini bisa dilihat di aktivitas github Maker Asia).

Bisakah Indonesia membuat hal serupa?

Membuat development board yang ditujukan untuk anak-anak butuh diperlukan pengembangan hardware dan software. Kenapa kita tidak mengimpor saja benda ini? ada beberapa alasan kenapa kita perlu membuat sendiri:

  • Harga barang jadi biasanya lebih mahal, apalagi jika ditambah dengan berbagai aksesorinya
  • Kita tetap perlu membuat dokumentasi dan manual dalam bahasa Indonesia dan juga menerjemahkan softwarenya dalam bahasa Indonesia (di Thailand masalah bahasa sangat penting, bahkan semua film didub dalam bahasa Thai)
  • Kita bisa menyesuaikan dengan kondisi Indonesia, misalnya menambahkan sensor yang berguna untuk otomasi pertanian atau mungkin memakai panel surya karena sinar matahari melimpah di Indonesia

Board populer pertama yang ditujukan untuk belajar pemrograman hardware adalah Arduino. Dulu Arduino bisa dirakit sendiri karena komponennya sedikit dan jenis komponennya through hole. Dengan teknologi through hole, komponen dimasukkan menembus lubang PCB dan disolder di sisi lain.

Memakai komponen dengan teknologi through-hole

Tapi sekarang jumlah komponen through hole semakin sedikit, dan kebanyakan komponen sekarang memakai teknologi surface mounted (SMT). Dalam teknologi SMT, komponen elektronik diletakkan di atas PCB dan diberi pasta solder, lalu dipanaskan. Untuk memanaskan ini bisa memakai oven (oven kue juga bisa, tapi sebaiknya khusus, jangan dipakai lagi untuk masak kue karena walau sudah bebas timbal, masih ada kemungkinan ada uap berbahaya) atau memakai hot air soldering station. Pada produksi masal, biasanya ini dilakukan secara otomatis dengan mesin.

Contoh board dengan teknologi SMT, chip hanya “menempel” di atas PCB

Karena sulitnya merakit board modern, sebaiknya ini dilakukan oleh perusahaan khusus, sehingga anak-anak bisa langsung memakainya. Harga berbagai komponen (chip, resistor, dsb) sudah relatif murah, tapi kebanyakan masih perlu impor. Indonesia sudah mampu membuat PCB sendiri dan merakit komponennya.

Alternatif lainnya adalah kita menyusun berbagai modul, jadi tidak menyusun chip dan berbagai komponen pasif. Saat ini sudah ada banyak modul kecil dengan berbagai fungsionalitas (sensor udara, transmitter dan receiver infrared, LED, dsb) yang harganya murah (beberapa USD, bahkan ada yang hanya beberapa sen). Modul modul ini bisa disolder ke sebuah board besar.

Software untuk memprogram boardnya bisa dibuat dengan relatif mudah dengan menggunakan berbagai library yang sudah ada, atau melakukan forking terhadap IDE lain yang sifatnya open source. Bagian sulitnya adalah membuat hardware dan software yang bisa berjalan mulus. Hal lain yang penting adalah dokumentasinya.

Jadi sebenarnya bisa saja Indonesia membuat board serupa dengan BBC atau KidBright. Kesulitan pengembangan hardware dan softwarenya tidak terlalu tinggi. Pertanyaannya adalah: apakah kita memang sudah memfokuskan ke sana atau belum.

Hari Anak Thailand 2020

Hari ini, 11 Januari 2020, dirayakan sebagai Hari Anak di seluruh Thailand. Perayaan Hari Anak ini selalu diadakan di hari Sabtu minggu ke-2 bulan Januari setiap tahunnya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ada banyak kegiatan di seluruh mall ataupun tempat wisata. Karena setiap tahunnya (termasuk tahun lalu) kami hampir selalu ke mall, dan mengalami macet di jalan, tahun ini kami mencari tempat yang tidak seramai mall.

Sebenarnya agak dilema untuk berangkat ke hari anak hari ini. Kegiatan di luar sepertinya masih ada polusi, tapi ya kegiatan di mall juga sama saja karena mall tidak ada filternya. Sebelum berangkat, melihat angka AQI nya menengah, ya agak tenang untuk berkegiatan di luar rumah.

masih aman lah ya buat jalan-jalan

Dari berbagai tempat yang biasanya cukup fun buat anak-anak, kami memilih ke Hidden Village Chiang mai. Terakhir ke sana itu tahun lalu bulan Januari. Tapi ternyata harga tiketnya sudah naik dalam setahun. Tempatnya sih semakin ramai dan banyak tambahan dinosaurusya.

Karena hari ini hari Anak, hari ini tiket masuk untuk anak-anak sampai dengan tinggi 130 cm digratiskan. Untuk orang dewasa, yang seharusnya membayar 100 baht diberikan harga khusus 80 baht. Khusus hari anak, harga orang asing disamakan dengan harga lokal. Biasanya harga orang asing lebih mahal dari orang lokal, jadi hari ini kesempatan yang baik mendapat harga tiket masuk lebih murah dari biasanya.

berangkaaaaat

Tadinya kami pikir, tempat ini akan relatif sepi. Ya dibandingkan mall, memang masih lebih sepi, tapi dibandingkan kunjungan ke sana sebelumnya, tempatnya terlihat ramai sekali. Tempat parkirnya juga lumayan ramai. Selain tempat-tempat kegiatan yang berbayar, mereka juga mengadakan panggung dan membagi-bagi hadiah buat anak-anak yang datang.

Mulai dari pintu masuk, sudah terlihat ada keramaian. Kami yang datang ke sana sudah kesiangan (dari rumah jam 12), langsung menuju restoran Barn Steak House buat makan hehehe. Kali ini makan buffet lagi, untungnya harganya tetap sama dengan tahun lalu: dewasa 259 baht, dan anak-anak 129 baht. Untuk minuman harus beli lagi, tapi makanannya bisa pesan berkali-kali.

Yang berbeda dengan tahun lalu adalah: makanannya terasa lebih fresh, mungkin karena kami makannya siang hari dan banyak pengunjung, jadi mereka selalu menambakan yang baru. Sebenarnya ada spaghetti, ayam goreng, salad dan buah juga, tapi tadi saya lupa foto hehehe.

Selesai makan, baru deh mulai bagian jalan-jalannya. Waktu kami tanya Joshua mau main di playground atau lihat dinosaurus? Joshua dengan mantap menjawab: mau lihat dinosaurus. Tapi sampai dalam tempat dinosaurusnya, dia ternyata menuju tempat main bouncy house yang selalu dimainkan kalau ke sana. Tempat itu bayar lagi sih, 20 baht untuk 20 menit per anak, tapi ya cukup fun buat ngabisin energi yang di makan tadi hehe.

Setelah main bouncy house, kami jalan keliling melihat-lihat dinosaurus. Walau sudah berkali-kali melihat dinosaurus, saya belum bisa hapal sebagian besar nama-namanya. Supaya ingat, saya coba foto-foto dan tuliskan lagi namanya di sini.

Dilophosaurus
Carnotaurus
Brachiosaurus

Melihat Maiasaura dan T.Rex, jadi ingat ada salah satu scene di serial The Flash (Season 2, Episode 21), ibunya membacakan buku ke Flash waktu kecil dengan judul Runaway Dinosaur.

The Runaway Dinosaur

Once there was a little dinosaur called a Maiasaura, who lived with his mother.

One day, he told his mother, “I wish I were special like the other dinosaurs. If I were a T. rex, I could chomp with my ferocious teeth!”

Tyrannosaurus rex alias T.rex

“But if you were a T. rex,” said his mother, “how would you hug me with your tiny little arms?”

“I wish I were an Apatosaurus,” said the little dinosaur, “so with my long neck I could see high above the treetops.”

“But if you were an Apatosaurus,” said his mother, “how would you hear me in the treetops when I told you I love you?”

“What makes you so special, little Maiasaura?” said his mother.

“Is it your ferocious teeth or long neck or pointy beak? What makes you special is out of all of the different dinosaurs in the big, wide world, you have the mother who is just right for you and who will always Love you.”

Maiasaura

Buku ini diilhami dari buku The Runaway Bunny

Sebenarnya ada lebih banyak lagi dinosaurus lainnya, tapi sayangnya gak ada Apatosaurus.

ada patung-patung lain selain dinosaurus, yang pasti ini bukan apatosaurus hehe

Karena Joshua sudah mengantuk, kami pulang sekitar jam 4 sore. Tadinya berencana untuk keluar rumah lagi malam harinya, tapi sayangnya Joshua ternyata demam dan batuk-batuk. Mungkin karena tadi udaranya terlalu panas dan belakangan ini dia tidur siangnya kurang teratur.

Keputusan untuk tidak ke mall hari ini sudah cukup tepat. Kami tidak kena macet. Tapi ternyata perkiraan tempatnya agak sepi tidak sepenuhnya benar. Memang hari anak di Thailand sepertinya hari di mana semua anak wajib di bawa keluar rumah, jadi tidak akan ada tempat yang sepi hehehe.

Polusi Udara di Awal 2020

Kalau tahun lalu polusi di Chiang Mai terasa mulai akhir Januari, tahun ini polusi datang lebih awal lagi. Sejak bulan Desember 2019, sudah terasa ada hari-hari di mana terasa berkabut. Bahkan ketika kami berangkat ke Sukhothai tanggal 28 Desember, saya ingat udara di Chiang Mai terasa berbau asap.

Waktu itu saya merasa bersyukur kami memutuskan pergi liburan ke Sukhothai karena di sana udaranya lebih bersih. Untungnya ketika kami di Sukhothai, ada hujan deras yang membersihkan udara di Chiang Mai, sehingga ketika kami kembali ke Chiang Mai, udaranya terasa masih bersih.

Beberapa hari lalu, saya ingat melihat ke arah Doi suthep, pemandangannya sangat cerah. Saya pikir: ah untunglah polusinya tidak jadi datang lebih awal. Tapi ternyata saya salah. Sudah 4 hari ini, polusi kembali lagi. Awalnya polusi terasa hanya di malam hari, sedangkan di pagi hari dan siang udaranya cukup bersih. Tapi sudah 2 hari ini angka polusinya merah seperti hari ini.

Saya jadi harus meralat nih kapan waktu terbaik datang ke Chiang Mai. Suhu udaranya memang sekarang ini masih cukup terasa sejuk di pagi hari, tapi siang harinya sudah terasa menyengat. Mau jalan-jalan di kala polusi begini rasanya sangat tidak disarankan sekali. Iseng-iseng, saya mencoba mengecek bagaimana kualitas udara di Sukhothai dan Bangkok yang letaknya menjauh dari utara Thailand. Hasilnya, ternyata di Bangkok malah tidak lebih baik daripada di Chiang Mai.

Saya menemukan berita yang menyatakan kalau Bangkok malah menjadi ranking 3 dengan kualitas udara terburuk di dunia akibat polusi dari daerah industrinya. Jadi bertanya-tanya, kira-kira kalau polusinya lebih awal, apakah selesainya juga lebih awal? Tahun lalu sih polusinya cukup lama sampai sekitar akhir April dengan titik tertinggi di bulan Maret.

Karena sudah beberapa kali mengalami polusi, kami sudah punya persiapan beberapa filter dan juga alat pengukurnya. Tapi karena sudah dipakai beberapa tahun, waktunya untuk mengganti hepa filternya. Untungnya sekarang, hampir semua jenis hepa filter sudah ada yang jual di toko online yang di Bangkok. Pesanan filter beberapa hari lalu sudah tiba hari ini, dan langsung dipasang. Kami juga sudah membeli beberapa masker yang bisa pm2.5 untuk kebutuhan di luar rumah. Beberapa tahun yang lalu, filter penggantinya harus pesan dari luar Thailand dan menunggu beberapa minggu baru tiba.

Tapi biasanya, dengan adanya filter di rumah dan di mobil, kami sangat jarang memakai masker wajah. Kami juga menghindari banyak beraktifitas di luar rumah. Pergi ke mall, walaupun indoor, jadi dikurangi. Mall di sini tidak ada filter udaranya. Beberapa restaurant maupun coffee shop mulai mempersiapkan filter udaranya juga, biasanya tempat-tempat ini akan lebih ramai dikunjungi dibandingkan yang tidak ada filternya.

Biasanya, polusi udara jelek ini tidak selalu memburuk setiap harinya. Ada hari-hari di mana polusinya tiba-tiba berkurang, terutama setelah hujan. Tapi untuk amannya, pilih bulan lain untuk berlibur ke Chiang Mai daripada kecewa. Tapi kalau memang kebetulan harus tinggal di Chiang Mai selama bulan polusi, bisa mempersiapkan diri dan mengikuti tips yang pernah saya tuliskan. Intinya sih: jaga kesehatan, gunakan masker ketika di luar dan nyalakan filter udara di dalam rumah (pastikan pintu dan jendela tertutup rapat).

Kalau udara mulai polusi begini, setiap hari berharap turun hujan supaya udaranya bersih. dan semoga saja polusi tahun ini tidak berkepanjangan seperti tahun lalu.

Foresto Sukhothai Guesthouse, Pizza Tao Fuun, Pasar Malam dan Poo Restaurant (part 4)

Hari ini tulisannya tentang hal-hal yang belum diceritakan sebelumnya. Masih seputar jalan-jalan di Sukhothai.

Seperti diceritakan sebelumnya, dari terminal bus kami naik songtew ke hotel. Di Sukhothai saya tidak menemukan taksi meter dan juga tidak ada Grab ataupun taksi online lainnya. Tapi saya perhatikan ada songtew, tuktuk dan ojek.

Sesampainya kami di Sukhothai, hal pertama yang dilakukan adalah membeli tiket untuk kembali ke Chiang Mai. Tiket bus ini tidak bisa dibeli online, dan tidak bisa dibeli dari Chiang Mai. Sempat agak deg-deg an juga, kalau tidak dapat tiket kembali ke Chiang Mai, bisa-bisa kami malam tahun baru di Sukhothai hehehe.

Selama kami menunggu urusan tiket Bus Sukhothai-Chiang Mai beres, ada seorang ibu-ibu yang menghampiri kami dan bertanya kami hendak ke mana. Ternyata ibu-ibu ini menawarkan jasa songtewnya. Setelah mempertimbangkan antara tuktuk atau songtew, akhirnya kami memilih naik songtew dengan biaya 200 baht untuk rombongan kami.

Naik songtew dari terminal bus ke hotel setelah perjalanan 7 jam dari Chiang mai

Setelah kami tiba di tujuan, ibu itu memberikan nomor teleponnya untuk dihubungi seandainya kami membutuhkan jasa songtew keliling kota ataupun ke tujuan tertentu seperti halnya ke old city.

Foresto Sukhothai Guesthouse

Penginapan Foresto Sukhothai ini letaknya di bagian new city Sukhothai. Lokasinya cukup strategis dan dekat dengan minimarket, pasar malam Sabtu dan beberapa restoran yang ramai dikunjungi baik penduduk lokal maupun turis seperti kami.

Tempat ini dikelola oleh keluarga. Orang yang berhadapan dengan tamu bisa berbahasa Inggris dan cepat memberi respon sejak awal pemesanan hotel. Jadi ceritanya, awalnya hotel ini mau kami booking melalui Agoda, tapi untuk tanggal yang kami mau sudah penuh. Teman saya berinisiatif menelpon langsung ke hotelnya dan ternyata kami masih dapat kamar di sana dengan catatan 1 malam di family room (dengan 2 kamar tidur dan 2 kamar mandi), dan 2 malam berikutnya di kamar terpisah, yang masing-masing ada ekstra bed nya untuk anak-anak.

Harganya? untuk 3 malam, masing-masing keluarga mengeluarkan sekitar 4750 Baht. Mengingat kami bepergian di akhir tahun dan biasanya hotel-hotel pada penuh, harga tempat kami menginap ini sangat masuk akal. Harga tersebut sudah termasuk mendapatkan sarapan pagi yang rasanya tidak kalah dengan sarapan di hotel berbintang dan sudah termasuk kopi dan juice.

Foresto Sukhothai Guesthouse di malam hari

Sesuai namanya, konsep dari penginapan ini memberi kesan kita sedang berada di hutan dengan banyaknya pohon di sekitar kamar-kamar. Suasananya di malam hari cukup tenang dan walaupun cukup dekat dengan berbagai tempat keramaian, tapi tidak ada suara-suara keras yang bisa mengganggu tidur kita. Tempat tidurnya juga cukup nyaman dan kamarnya cukup bersih. Fasilitas lain yang diberikan seperti handuk, termos air panas, sampo dan sabun.

Di bagian depan hotel ini ada kolam ikan yang menarik perhatian anak-anak. Di bagian dalamnya ada kolam renang kecil, yang di waktu malam lampunya berganti-ganti warna.

Kami cukup senang dengan pelayanan yang ada selama 3 malam menginap di Foresto Sukhothai. Bahkan di saat kami kesulitan mencari penyewaan mobil untuk ke Si Satchanalai, penginapan membantu kami mencarikan mobil sewa yang supirnya juga tak kalah ramah dengan orang dari penginapan.

Pizza Tao Fuun

Jauh-jauh ke Sukhothai, kok makannya pizza? Eh tapi jangan salah, pizza ini cukup terkenal buat orang lokal. Pizzanya di masak dalam oven yang terbuat dari batu. Namanya sebenarnya Pizza House tapi lebih dikenal dengan nama Pizza Tao Fuun. Tao dalam bahasa Thai itu artinya kira-kira kompor dan Fuun itu artinya tanah, jadi Tao Fuun ini maksudnya ovennya dari tanah/batu bata.

Pizza Tao Fuun

Selain Pizza, ada banyak makanan lain seperti steak dan pasta di sana. Kami yang sudah kelaparan setelah perjalanan 7 jam dari Chiang Mai, langsung memesan beberapa pizza. Harganya cukup masuk akal dan tidak jauh berbeda dengan harga di Chiang Mai.

Wajah-wajah bahagia menantikan pizza dan menyantapnya bisa dilihat di foto ya hehehe.

Pasar Malam di Mueang Sukhothai Park

Setelah kenyang makan pizza, sebenarnya ada keinginan untuk langsung tidur saja ke penginapan. Tapi karena ada pasar malam yang hanya ada di hari Sabtu, kok ya sayang kalau tidak melihatnya. Padahal udah ga ada yang perlu dibeli dan perut sudah kenyang hehehe.

Jadilah kami membakar kalori dari makanan tadi berjalan sepanjang pasar malam yang lokasinya di Taman Kota Sukhothai. Seperti halnya di Chiang Mai, pasar malam ini paling depannya menjual berbagai makanan dan minuman. Setelah agak ke belakang, barulah ada jualan mainan, baju-baju, dan berbagai hal lainnya. Pasar malam di Chiang Mai lebih besar dari pasar malam di Sukhothai, tapi ya tetap menarik juga untuk melihatnya. Pasar malam di Sukhothai ini sekitar jam 8 malam sudah mulai berkemas-kemas untuk pulang, kalau di Chiang Mai, pasar malam bisa sampai jam 10 malam.

Poo Restaurant

Nah kalau restoran ini kami kunjungi di suatu siang sebelum ke Sukhothai Historical Park. Lokasinya cukup dekat dengan penginapan dan kami bisa berjalan kaki ke sana. Jangan heran dengan namanya, nama Poo Restaurant di sini artinya Crab/Kepiting, karena bahasa Thai dari Kepiting itu kira-kira dibacanya puu atau dalam bahasa Inggris dituliskan Poo. Restoran ini termasuk dalam daftar restoran yang disarankan oleh Trip Advisor.

Awalnya saya pikir, mereka punya spesialisasi makanan dengan kepiting, tapi ternyata hanya ada somtam kepiting dan tentu saja karena penasaran teman saya memesannya. Tapi karena kepitingnya mentah, saya tidak mencobanya.

Seperti halnya restoran Thai, menu makanannya ya makanan Thai. Rasanya cukup oke dan porsinya juga cukup besar sesuai dengan harganya. Tapi waktu kami pesan telur dadar, ternyata telur dadarnya dibikin seperti telur gulung dan berbeda dengan telur dadar ala Thai.

Di restoran ini makanannya juga selalu dihias dengan bunga anggrek, tentunya anggreknya tidak kami makan. Harusnya mereka ganti nama jadi Orchid Restaurant ya hehehehe.

Food Panda

Walau tidak ada di judul tulisan ini, rasanya saya perlu menuliskan ini juga. Di Sukhothai, belum ada layanan grab food. Ada satu malam di mana kami sudah malas untuk keluar lagi membeli makanan, penginapan kami restorannya tutup di sore hari. Untungnya ada layanan Food Panda dan kami memesan dari food panda ke penginapan. Untuk menyantapnya, kami bisa meminjam piring dan sendok dan duduk di restoran penginapan. Orang penginapannya baik banget emang.

Cerita jalan-jalan akhir tahun di Sukhothai sepertinya sudah saya tuliskan semua. Rasanya masih ingin ke sana lagi kalau ada kesempatan. Orang-orang di Sukhothai cukup ramah dan siap membantu. Highlight dari perjalanan kami tentunya bersepeda bersama di historical park. Senang rasanya bisa jalan-jalan sambil olahraga santai.

Buat yang tertarik liburan ke Thailand, dan sudah bosan ke Bangkok, Sukhothai bisa jadi pilihan untuk liburan selain Chiang Mai.

Liburan Akhir Tahun 2019: Si Satchanalai, Sukothai Airport dan Sukothai Noodle (Part 3)

Sebagian cerita di Si Satchanalai Historical Park bisa dibaca di posting sebelumnya.

Hari ke-3 di Sukothai, kami menyewa Mini Van untuk berjalan-jalan ke Si Satchanalai dan eksplorasi Sukothai sedikit. Biaya sewa Van dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore (walaupun akhirnya kami pulang sekitar jam 5) termasuk supir dan bahan bakar 2500 baht. Sebenarnya kalau kami berangkat 10 orang juga masih muat tuh minivan nya hehehe.

Kami berangkat jam 9 lewat sedikit dan mampir ke mini market dulu. Perjalanan sekitar 1 jam dan kami sampai di Si Satchanalai sekitar jam 10-an. Awalnya kami berpikir untuk naik shuttle saja, karena rasanya badan masih pegel hasil bersepeda hari sebelumnnya. Maklum saja, biasanya gak pernah olahraga, tau-tau sepedaan beberapa jam, pasti dong efeknya lumayan. Informasi dari supir bilang, di dalam tidak ada shuttle, jadi pilihannya ya jalan kaki atau naik sepeda. Haduh dilema sekali ya. Tentu saja kami milih naik sepeda daripada jalan kaki.

Berangkat naik van

Si Satchanalai Historical Park

Area Si Satchanalai Historical Park ini luas juga seperti Sukhothai Historical Park. Reruntuhan kuil yang ingin dikunjungi juga tersebar dan bukan terletak dekat dengan tembok kotanya. Berdasarkan pengalaman hari sebelumnnya, di dalam tembok kota agak sulit mencari toilet, jadi ketika sampai dan melihat ada jejeran toilet yang cukup bersih, kami memutuskan untuk ke toilet dulu sebelum sewa sepeda.

Toilet pit stop sebelum masuk ke park

Kalau hari sebelumnya ada beberapa toko yang menyewakan sepeda, di tempat ini hanya ada 1 toko besar dan punya koleksi sepeda cukup banyak. Sekilas rasanya pengunjung tempat ini lebih sedikit dibandingkan Sukhothai Historical Park. Jalanan di dalamnya untuk bersepeda juga agak lebih kecil tapi ya cukup bagus juga. Areanya lebih banyak pepohonan, tapi terasa gersang karena daun-daunnya kering dan berguguran. Kalau kata teman kami yang pernah datang di musim hujan, suasananya lebih terasa hijau di musim hujan karena tentunya daun-daunnya terlihat hijau dan segar.

Sewa sepeda seperti hari sebelumnya

Ini temple yang pertama kami kunjungi. Jadi waktu masuk ke area dalam, kami harus memilih ke kanan atau ke kiri dengan petunjuk arah 1300+ dan ke kanan 800+. Entah kenapa mikirnya itu tahun temple dibangun, padahal setelah kami jalani baru ngerti kalau itu maksudnya jaraknya sebelum sampai ke temple tujuan. Jadi kami pilih ke kiri karena ingin melihat temple yang lebih modern. Dan ketika kami menyadari kesalahan kami dalam mengerti apa maksud angka tersebut, kami cuma bisa menertawakan diri sendiri. Inilah akibat jalan-jalan tanpa membaca terlebih dahulu.

walau keringetan harus tetep gaya

Seperti halnya temple sebelumnya, walaupun ini berupa reruntuhan, ada saja orang yang membawa bunga dan sembahyang di sana.

Beberapa orang masih sembahyang di sini
areanya luas dan kering

Setelah agak lama menghabiskan waktu di temple pertama, kami turun dan menuju temple berikutnya. Temple yang ini bentuknya masih agak lebih utuh dibandingkan yang sebelumnnya. Areanya juga cukup luas dan terbuka.

dari jauh
dari dekat
seberangnya
zoom in

Karena udara sangat panas di siang hari, dan area yang sangat luas, kami hanya mengunjungi 3 temple besar ini saja. Persediaan air minum yang kami bawa juga mulai habis, jadi kami memutuskan untuk keluar dan istirahat makan siang. Di area dekat parkiran, ada banyak pilihan makanan dan minuman. Ada beberapa toko juga menjual cendera mata. Tapi yang saya ingat, tidak ada orang yang menawarkan jualan seperti di kawasan candi Borobodur beberapa tahun yang lalu.

Sukothai Airport

Karena masih ada waktu, selesai makan kami memutuskan untuk melihat museum di kawasan Sukhothai airport. Kabarnya di kawasan ini ada zoo juga, tapi saat kami ke sana zoo nya sedang tutup. Ada beberapa bangunan yang unik dan bisa untuk foto-foto. Tapi kami tidak berlama-lama di sana karena Joshua tidur dan mataharinya sangat panas. Saya hanya sempat mengambil sedikit foto.

Sukothai Airport ada banyak bangunan unik begini

Sukhothai Noodle

Terakhir sebelum pulang ke hotel, kami mampir untuk mencicipi sukhothai noodle yang terkenal. Rasanya sekilas mirip mi tomyam, tapi ada bedanya. Sayuran yang dipakai dalam noodlenya juga berbeda dengan noodle tomyam. Selain noodle, mereka juga menjual minuman seperti cincau dan es cendol, rasanya nikmat sekali setelah berpanas-panasan main sepeda dari pagi.

es cincau
mi sukothai
dekorasinya antik
es cendol kurang gula jawa

Tempatnya unik, sepertinya mereka sengaja mendekor nuansa masa lalu. Banyak barang antik dan boneka-boneka, selain tentunya ruangannya sudah ber-AC. Harga noodlenya juga masih standar, 1 porsinya sekitar 40 baht, sedangkan minuman es nya 1 porsinya 25 baht. Salah satu hal yang saya kagum dengan Thailand, walaupun tempat itu sudah terkenal dan di tempat wisata, harganya ya tetap harga standar dan bukan harga turis.

banyak mainan
ruangannya antik
keliatan ga cabenya

Jalan-jalan part 3 ini merupakan part terakhir dari cerita jalan-jalannya. Karena keesokan harinya kami pulang jam 9 pagi dari Sukhothai dan tiba di Chiang Mai jam 4 sore. Iya, kami naik bis lagi pulangnya. Kalau belum bosan baca cerita tentang Sukhothai, berikutnya akan saya tulis terpisah tentang penginapan dan beberapa tempat makan lain yang kami kunjungi selama di sana. Sekalian buat catatan biar saya ingat kalau mau jalan-jalan ke sana lagi.

Liburan Akhir Tahun 2019 ke Sukothai Historical Park (Part 2)

Hari ini saya mau cerita soal Sukothai Historical Park. Berdasarkan informasi yang kami dapat dari pihak hotel, akan ada acara khusus untuk menjelang malam tahun baru. Park yang biasanya tutup jam 7 sore itu akan dibuka sampai tengah malam. Awalnya kami berencana mengeksplor Sukothai Historical Park ini sejak pagi, tapi karena mendengar kabar tentang acara sampai malam, kami merubah rencana untuk berangkat sore hari saja sampai agak malam.

Jadi, ngapain aja pagi harinya sebelum berangkat ke tujuan utama? Namanya juga liburan, kami bangun siang dan sarapan di hotel. Selesai sarapan, kembali ke kamar dan mandi-mandi. Eh, tau-tau udah jam makan siang hahaha. Ini namanya liburan makan tidur.

Makan siang dekat hotel

Kami makan siang di sebuah restoran dekat dari hotel. Selesai makan, kami pulang ke hotel dan tidur siang, sementara teman kami keluarga 1 nya pergi ke Sangkhalok Museum. Isi museum itu berupa kerajinan tembikar dari jaman kerajaan Sukothai. Display yang ada sarat dengan muatan sejarah. Kami tidak ikut ke museumnya dengan pertimbangan: kalau Joshua tidak tidur siang, nanti bisa rewel waktu jalan-jalan sore harinya. Museumnya tidak jauh dari hotel, teman kami berangkat ke sana dengan naik tuktuk.

naik songtew ke old city Sukothai

Sekitar jam 4 sore, kami pun berangkat ke Sukothai Historical Park. Kami naik songtew dari hotel ke old city dan membayar 300 baht sekali jalan. Songtewnya agak lebih terbuka dibandingkan dengan songtew di Chiang mai. Jalannya juga lebih ngebut dibandingkan dengan songtew yang kami tumpangi dari terminal bus ke hotel kemarinnya. Joshua agak takut dengan suara mesin songtewnya, padahal kecepatannya ya masih di bawah 80 km/jam.

Kami cukup beruntung karena sejak tanggal 28 Desember 2019, tiket masuk untuk historical park di Thailand digratiskan. Sepertinya ini dilakukan pemerintah untuk mendukung masyarakat buat berjalan-jalan. Jadi kami tidak harus membayar tiket masuknya. Kami hanya perlu membayar sewa sepeda (30 baht/sepeda) dan tiket untuk sepeda masuk (10 baht)

Sebenarnya ada beberapa pilihan untuk melihat reruntuhan temple yang tersebar dalam area taman sejarah Sukothai ini. Kita bisa berjalan kaki, naik shuttle, sewa golfcart, atau menyewa sepeda. Kebanyakan orang memilih menyewa sepeda. Ada beraneka jenis sepeda tersedia, mulai dari sepeda kecil dengan roda bantu, sepeda tandem, sepeda dengan boncengan anak di depan, sepeda dengan boncengan anak di belakang, sepeda anak tanpa roda bantu dan sepeda dewasa dengan beberapa ukuran ketinggian. Ada beberapa tempat penyewaan sepeda juga, tapi semua harganya sama. Penyewaan sepeda ini akan tutup jam 7 malam, jadi sudah pasti tidak bisa menyewa sepeda sampai tengah malam (eh tapi kami juga tidak rencana sampai tengah malam sih).

Toko penyewaan sepeda ini letaknya di seberang jalan dari pintu masuk ke historical park. Tapi tidak usah khawatir, karena biasanya akan ada yang bantu untuk menyeberangkan. Totalnya kami menyewa 6 sepeda karena Joshua belum mau belajar naik sepeda sama sekali, untungnya Joshua mau duduk di boncengan Joe dengan tenang walau sempat hampir jatuh karena dia sering berusaha berdiri dan sepedanya hampir terangkat roda depannya (Joshua lumayan berat sih, hampir 27 kg).

Reruntuhan temple yang akan dikunjungi ini dikelilingi oleh tembok kota berbentuk persegipanjang. Panjangnya dari barat ke timur sekitar 2 Km dan dari utara ke selatan sekitar 1,6 Km. Menurut wikipedia, awalnya ada 193 reruntuhan dalam area seluas 70km persegi. Tapi yang ada di dalam tembok kota yang tersisa adalah bekas bangunan istana dan 26 kuil. Kuil terbesar yang tersisa adalah Wat Mahathat.

Selanjutnya saya akan bercerita melalui foto-foto saja ya.

Sekitar jam 7 malam, karena harus mengembalikan sepeda, kami memutuskan untuk pulang (selain udah mulai pegel duduk di sepeda hehehe). Sampai hotel, eh Joshua ngotot minta berenang sebelum mandi dan makan. Akhirnya Joe menyerah dan menemani anak-anak main air sebentar. Hasilnya memang makan malam jadi lahap dan tidur juga cepat hehehe.

ada spiderman dan avenger masuk kolam hehehe

Hari berikutnya, kami berencana pergi ke Si Satchanalai historical park sejak pagi. Kami sudah menyewa mobil dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Ceritanya dan foto-fotonya dilanjutkan di posting berikutnya saja ya.