LINE Mobile

Dulu waktu masih di Bandung, kami sering sekali membeli simcard dari berbagai provider cellular untuk mendapatkan tarif termurah, baik itu tarif bicara ataupun tarif paket data. Sesampainya di sini, kami berhenti bereksperimen karena awal di sini internet di rumah dan di kantor sangat cepat (terasa beda banget dengan internet selama di Indonesia).

Kadang-kadang kami beli beberapa simcard kalau ada keluarga yang datang ke sini untuk dipakai sementara, lalu pernah juga dapat gratis di airport, tapi karena ga terlalu butuh bisa dibilang hobi ganti-ganti simcard gak diterusin di sini. Baru beberapa tahun belakangan kami beli paket data di handphone karena kami sering keluar untuk antar kegiatan Jonathan di akhir pekan.

Awalnya kami berlangganan paket data bulanan dari provider simcard kami saja, 1 bulan 1.5 GB lumayan cepat dan kalau lewat dari situ kecepatan menurun (jadi 64kbps) tapi sudah ga ada biaya tambahan. Kami jarang teleponan kecuali untuk urusan yang sangat mendesak, jadi sebulan kami cukup isi pulsa 300 baht (yang mana 220 baht dipakai untuk paket data). Kami memakai nomor yang sama sejak sampai di sini, dan di awal kami isi pulsa sekedar untuk memperpanjang masa tenggang saja. Kami sengaja memakai pra bayar, karena lebih mudah membeli prabayar buat orang asing dan ya kami ga butuh paket-paket yang ada dan akhirnya biayanya lebih murah dengan prabayar.

Bulan ini ada kuota ekstra karena membayar memakai Rabbit Line Pay

Belakangan ini, karena Jonathan makin banyak kegiatan di luar, 1.5 GB sebulan tidak cukup lagi, apalagi terkadang saya lupa untuk terhubung ke wifi ketika sampai di rumah. Joe juga pernah lupa mematikan koneksi yang dia share ke laptopnya, dan laptopnya update windows secara otomatis. Kebayang paket data 1.5 GB pastilah kurang.

Meneruskan dengan internet gratis yang low speed terasa menyiksa karena terbiasa cepat, jadi kadang-kadang akhirnya kami harus top up lagi dan lama-lama terasa mahal buat bayar internetnya (padahal dulu di Indonesia kami pernah langganan Matrix dan rata-rata pembayaran bisa di atas 300 ribu untuk data dan internet).

Beberapa bulan lalu, Joe menemukan promosi Line Mobile. Dengan 170 baht sebulan kami mendapatkan 5GB data dan 150 menit bicara. LINE mobile ini sebenarnya masih agak dipermasalahkan legalitasnya karena ijin MVNO (mobile virtual network operator) belum bisa di Thailand. Tapi akhirnya mereka pake sistem kerjasama dengan operator lokal.

Dulu saya agak enggan menambah nomor. Untuk ganti nomor saya jelas ga bisa karena banyak urusan sudah memakai nomor yang ada, nah untuk menambah nomor saya enggan membawa ekstra gadget. Pernah saya coba membawa hp dan tablet, prakteknya akhirnya tabletnya lebih sering saya tinggal. Tapi kali ini saya baru ganti handphone yang punya double simcard slot.

Jadilah saya membeli LINE Mobile dengan harapan 5GB akan jauh lebih dari cukup dibandingkan 1.5GB yang saat itu selalu terasa kurang. Pembelian LINE Mobile ini dilakukan sepenuhnya dari internet, bayar dengan kartu kredit Joe, dan kartu dikirim oleh kurir ke rumah. Belum sebulan saya memakai LINE Mobile, Joe ikutan beli juga, karena dia juga pengen punya paket data 5 GB. Oh ya, dia beli karena juga ada promosi untuk referal ke teman akan ada potongan 10 baht per bulannya baik untuk saya dan Joe. Baru-baru ini ada promosi pembayaran dengan Rabbit Line Pay (ini metode pembayaran Line yang kayanya baru ada di Thailand), dapat tambahan data 2GB dan diskon 10 persen dari billingnya.

Paket data yang disediakan LINE Mobile ini ada beberapa ukuran, tapi yang paling ekonomis buat kami saat ini ya yang 5GB ini. Sekarang dengan 170 baht sebulan saya bisa dapat minimum 5GB data dan 150 menit untuk telepon (yang sering tidak dipakai karena sekarang ini telepon selalu menggunakan voip). Nomor saya yang lama tetap saya gunakan dan untungnya sekarang ini sudah bisa membeli masa aktif, jadi saya tidak perlu isi ulang banyak setiap bulannya.

LINE Mobile ini menggunakan provider yang sama dengan DTAC, coveragenya akan sama dengan coverage DTAC . Selama menggunakan LINE Mobile saya belum pernah keluar Thailand, ada menu roaming internasional di aplikasinya tapi belum pernah dicoba.

Di Thailand sini, hampir semua orang menggunakan LINE, hampir semua toko memberikan diskon khusus kalau kita menambahkan mereka sebagai teman. Dan saya juga baru tahu kalau ada aplikasi LINE TV segala (gratis tidak dihitung data kalau memakai LINE mobile). Simcard LINE Mobile ini dilengkapi dengan aplikasi untuk mengetahui berapa tagihan kita, berapa sisa data dan berapa menit yang sudah terpakai. Selain itu kita juga bisa mengontrol untuk membatasi pemakaian kalau sudah kelebihan dari kuota yang diberikan berapa baht yang kita bersedia habiskan.

Terakhir pulang ke Indonesia, saya ingat XL juga sudah menggunakan aplikasi untuk memberikan informasi mengenai simcard kita, tapi kadang-kadang datanya tidak langsung update. Saya tidak tahu sekarang ini, tapi fitur seperti ini sangat membantu untuk mengetahui pemakaian kita.

Kecepatan speedtest memakai server di Jakarta dari Chiang Mai

LINE Mobile ini pasca bayar, saya tidak tahu kalau datang untuk sebagai turis apakah bisa memesannya, tapi kalau berencana tinggal beberapa bulan di Thailand sepertinya memakai LINE Mobile bisa dicoba, karena pemesanan dari Internet untuk orang asing cukup menyertakan foto dari passport kita saja lalu kita kirimkan alamat ke mana simcard akan dikirimkan. Pembayaran tagihan juga dilakukan langsung dari aplikasi LINE Mobilenya, bisa menggunakan internet banking, kartu debit, kartu kredit atau Rabbit Line Pay.

Kalau dilihat dari websitenya ada banyak promosi setiap bulannya berganti-ganti. Secara umum, untuk kebutuhan kami saat ini kami cukup dengan 5GB sebulan. Mudah-mudahan di Indonesia ada paket sejenis LINE Mobile ini, jadi kalau mudik ga jadi fakir bandwith seperti yang terjadi setiap pulang.

Wisata di Chiang Mai

Kadang-kadang, ada teman bertanya kalau mau ke Chiang Mai ada apa yang menarik untuk dikunjungi? Seperti biasa, begitu kita tinggal agak lama di suatu kota, kita udah nggak memikirkan lagi tempat wisata, karena semuanya itu ya bukan tempat wisata buat kita. Tapi kalau diganti pertanyaanya, misalnya suatu hari kami ga tingal di Chiang Mai lagi, kira-kira apa yang akan kami kunjungi kalau ke Chiang Mai? Tulisan ini juga buat jadi referensi kalau ada lagi yang nanya ke kami hehehe.

Jawabannya tergantung berapa lama rencana mengunjungi Chiang Mai, terus apakah kami datang tanpa anak atau dengan anak-anak. Kalau datang dengan anak-anak, tentunya yang dikunjungi tempat yang menarik untuk anak-anak juga. Tempat yang biasa mereka kunjungi sejak kecil. Beberapa yang bisa di list adalah:

  • Dalam kota Chiang Mai
  • kota sekitar Chiang Mai
Dalam kota Chiang Mai

Untuk dalam kota Chiang Mai, yang paling mudah tentunya Suan Buak Haad Park (nama di Google: Nong Buak Hard Public Park) di old city. Di park bisa kasih makan ikan dan pigeon, main-main di playground atau sekedar berlari-lari mengelilingi taman sambil mencoba beberapa alat olahraga yang ada. Kalau sudah capai bermain, nongkrong di coffee shop yang ada di park minum kopi dan nyemil hehe. Kalau lapar, bisa beli ayam bakar plus nasi ketan di pintu keluar park, atau kalau mau paket hemat ya bawa makanan dari luar dan tinggal sewa tikar aja piknik dan buat dessert bisa beli eskrim/es puter versi sini. Jonathan senang makan es krim pake ketan terus ditaburin kacang. Di sini sepertinya apa saja bisa dicampur dengan ketan hehehe.

Memberi makan burung di park

Jalan-jalan di park

Tujuan berikutnya ya tentunya mall. Dari beberapa mall yang ada di sini, Airport Plaza (CentralPlaza Chiang Mai Airport) merupakan mall yang paling sering kami kunjungi. Selain karena sekarang ini Jonathan ikut kelas Taekwondo di sana, mall ini adalah mall terdekat dari rumah (sekitar 5 menit kalau ga kena lampu merah). Di mall biasanya kami akan makan berbagai pilihan makanan Thai di food court atau restoran makanan Jepang OISHI (ini restoran milik orang Thailand), naik kereta api gratis, Joshua bisa main di soft area gratis dan mungkin kalau anak-anak sudah cukup besar bisa diajak nonton di bioskop :-).

Mainan gratis di mall
Food court

Selain park di old city, kami juga sekarang ini sering mengunjungi Royal Flora Ratchapreuk dan Night Safari. Mudah-mudahan kalaupun nanti datang jadi turis, saya masih bisa dapetin harga lokal (asal ga lupa aja bahasanya).

Untuk harga turis, harga Night Safari tergolong mahal, dan rugi rasanya kalau datang cuma sebentar. Saat ini rate yang dikenakan untuk turis itu sekitar 800 baht dewasa (harus cek lagi buat tau harga anak-anak). Sementara itu kalau kami dapat harga lokal seperti orang Thai, dewasa itu harganya ga lebih dari 250 baht. Saat ini kami masih bisa mendaftar jadi member, harga member 500 baht untuk selama 6 bulan dan bebas masuk setiap hari juga boleh kalau mau.

Di night safari ada banyak kegiatan yang kalau diikuti semua butuh waktu 5 jam di sana. Kita bisa jalan keliling di walking zone sekitar 1 jam, makan, kalau ada waktu ekstra naik tram keliling 1 jam, menonton beberapa tarian dan animal shows (tiger show 30 menit dan night predator show 30 menit). Diantara waktu tunggu show dan jadwal tram anak-anak bisa main di Playground. Karena cukup sering ke sana, kadang kami datang cuma untuk jalan keliling walking zone, main di playground dan makan saja.

Ratchapreuk
Ratchapreuk

Kami juga menjadi member untuk Royal Flora Ratchepreuk 400 baht per tahun. Kalau bukan member, sebagai orang Thai harus bayar 100 baht per datang, dan sebagai orang asing harus bayar 200 baht per orang (anak-anak biasanya harganya lebih murah). Di taman bunga ini selain bisa main pokemon (kami masih main pokemon), ada playground juga buat anak-anak main dan bisa untuk melemaskan kaki keliling park hehe.

Hidden Village

Salah satu tempat yang mungkin akan dikunjungi jika punya waktu ekstra di Chiang mai adalah Hidden Village. Tempat ini relatif baru, dan karena ga ada membership kami ga bisa terlalu sering ke sana. Di hidden village ini tiket masuk 100 baht/orang dan 50 baht untuk anak-anak. Di dalamnya ada restoran, playground, petting zoo dan animatronik Dinosaurus. Dengan bayar ekstra 20 – 40 baht ada lagi mainan seperti bouncy house dan softplay area di dalamnya.

Selain night safari, kami juga pergi ke zoo. Chiang Mai zoo cukup besar dan butuh seharian juga mengeksplornya termasuk bagian aquarium dan menonton animal show yang ada.

Kami juga sudah dua kali ke Poo Poo Paper park, tapi sudah dituliskan di posting yang ini. Sedikit tentang Chiang Mai Zoo pernah dituliskan di sini dan nanti mengenai Chiang Mai Night Safari dan royal flora Ratchepreuk akan ditulis di posting terpisah.

Luar kota (butuh drive lebih dari 30 menit)

Karena kami gak biasa nyetir jauh-jauh, maka perjalanan lebih dari 30 menit itu tergolong luar kota buat kami hehehe. Kami jarang pergi ke luar kota, jadi ya ga bisa kasih banyak saran juga untuk keluar kota. Tapi ada beberapa tempat yang sesekali kami kunjungi kalau lagi bosan dengan yang dalam kota.

Horizon Village

Dulu kami sering sekali ke Horizon Village. Tempat ini butuh drive sekitar 30 – 40 menit dari rumah. Biasanya butuh waktu seharian kalau ke sana. Di sana ada pilihan untuk makan buffet di hari Sabtu dan Minggu, bersepeda dan atau keliling taman. Taman di sini lebih rindang dibandingkan Ratchepreuk. Di taman horizon village ini juga ada mini zoo dan bisa kasih makan ikan atau burung unta. Dulu sebelum Jonathan 3 tahun, kami bisa ke tempat ini sebulan sekali, tapi belakangan karena Jonathan banyak kegiatan di hari weekend, kami jadi makin jarang ke sana (selain tempatnya juga makin mahal haha).

Hot spring

Tempat wisata yang menarik juga untuk dikunjungi dan ga jauh dari Chiang Mai itu Hotspring San Kampheng. Butuh nyetir sekitar 45 menit – 1 jam dari kota. Kami baru beberapa kali ke sana, sebenarnya seru juga rendaman air panas, atau bisa juga makan telur rebus yang di rendam di air belerang. Kalau misalnya datang pas musim panas, ya kayaknya ga disarankan.

Tempat ini menyenangkan dikunjungi di musim dingin tentunya. Tak jauh dari tempat ini ada cave yang katanya sih cukup menarik untuk dikunjungi, tapi kami belum kunjungi karena ga mau ambil resiko ngejar-ngejar Joshua dalam gelap hahaha. Kalau mau menginap, di sana juga ada pondokan yang bisa di sewa atau area untuk camping, tapi kami belum coba sampai sekarang.

Doi Suthep

Gimana dengan Doi Suthep? Hmm walaupun ada yang bilang belum sah sampai ke Chiang Mai kalau belum ke Doi Suthep, tapi rasanya ga ada yang istimewa dengan Doi Suthep, setidaknya buat kami begitu. Kami pertama kali ke sana setelah beberapa tahun di Chiang Mai. Total selama 11 tahun di kota ini , kami baru 2 kali ke sana (bahkan kami lebih sering ke Doi Inthanon daripada Doi Suthep). Kenapa Doi Inthanon? Ya di Doi Inthanon itu udaranya lebih adem, dan juga naturenya lebih indah.

Butuh waktu 1 jam nyetir menanjak ke Doi Suthep. Di sana bisa melihat ke arah kota Chiang Mai dan foto-foto doang hehehe. Kalau ke doi Suthep, biasanya akan mampir juga ke Doi Pui, di sana bisa melihat kehidupan masyarakat tradisional dan ada taman bunga nya yang juga cukup indah. Di bulan Januari, di dekat Doi Suthep bisa melihat hutan yang penuh dengan bunga sakura. Tapi karena jalannya ke sana sempit dan bunga sakura cuma mekar dalam waktu 2 minggu saja, biasanya weekend jalanan ke sana akan macet, dan yaaa setelah pernah sekali ke sana, kami belum ke sana lagi hehehee.

Doi Inthanon

Doi Inthanon. Titik tertinggi di Thailand

Doi Inthanon, butuh sekitar 2 jam perjalanan (1 jam perjalanan menanjak). Kami suka ke sana karna udaranya adem. Pemandangannya juga jauh lebih indah dibanding Doi Suthep. Ada banyak pilihan di Doi Inthanon ini, untuk yang suka trekking juga ada beberapa pilihan jalur trekking di sana (tapi kami belum pernah). Selain ada temple, taman bunga, di sana juga ada air terjun. Kalau ke Doi Inthanon, butuh waktu seharian untuk bisa mengeksplore/menikmati alam di sana.

Queen Sirikit Botanic Garden

Buat pecinta tanaman dan nature, sekitar 1 jam naik mobil dari Chiang Mai juga ada taman bunga Queen Sirikit Botanic Garden. Kami baru sekali ke sana dan udah beberapa tahun lalu, jadi ga bisa kasih banyak update selain di tempat itu luas dan banyak jenis tanaman dan bunga yang indah. Sekarang ini di sana ada canopy sky walk yang cukup panjang. Waktu kami ke sana canopy sky walk ini belum ada, mungkin ini bisa jadi alasan untuk ke sana lagi.

Kalau punya waktu ekstra, bisa juga ke Golden triangle. Tempat ini merupakan perbatasan antara Thailand, Myanmar dan Laos. Butuh perjalanan sekitar 3 jam dari Chiang mai. Di perjalanan menuju lokasi bisa berhenti di hotspring. Kami baru sekali ke sana ikutan tour sebelum ada Joshua.

Sebenarnya pengen lagi ke sana ajak Joshua, tapi dipikir-pikir temple yang menjadi tempat wisata di sana kurang cocok untuk dilihat oleh anak-anak. Untuk yang tidak bawa anak dan suka melihat arsitektur temple yang unik, tempat ini bisa jadi pilihan dan sekalian siapa tau pengen dapat cap mengunjungi negara Laos dan Myanmar sekalian.

Ada beberapa tempat sekitar sini yang belum juga kami eksplore. Entah apakah kami akan eksplore suatu saat setelah kami ga di sini lagi atau entahlah. Kami belum pernah ke Doi Angkhan, padahal katanya tempat ini cukup dekat dari Chiang Mai dan indah, tapi sejauh ini belum tertarik untuk ke sana. Mungkin kalau sudah ga di Chiang Mai baru deh pengen ke sana dan ke mari jadi turis hehehe. Beberapa tempat yang jadi tujuan wisata juga waterfall. Tapi karena saya selau bayangkan air terjun sipiso-piso, saya ga pernah senang dengan waterfall di sini hehhe.

Jadi kembali ke pertanyaan: kalau ke Chiang Mai, sebaiknya ke mana dong? Kalau ga punya banyak waktu mending wisata memperhatikan kehidupan orang lokal. Pergi massage, wisata kuliner dengan harga lokal, pergi ke pasar tradisional biar ditanya: where are you come from, dan ketika kita jawab Indonesia mereka akan bilang ooh Filipin atau Malay sambil bilang same nunjuk ke wajah mereka yang artinya: wajah kita sama mirip orang Thai. Kalau punya waktu banyak, ya bisa deh mengunjungi semua tempat yang disebutkan di atas.

So, dari tulisan ini, kira-kira kalian bakal tertarik ga datang ke Chiang Mai jadi turis? Kalau kata saya, jangan jadi turis deh, rugi. Mending tinggal aja di sini, hidup nyaman pasti betah deh (kecuali buat yang sangat strict dengan makanan harus label halal, ini bisa jadi hidupnya berasa repot). Tapi walaupun demikian, banyak juga kok restoran halal di Chiang Mai. Buktinya beberapa teman orang Indonesia di Chiang Mai yang muslim juga bisa betah berlama-lama tinggal menetap di Chiang Mai.

Di posting lain akan dibahas mengenai event-event khusus di Chiang Mai (festival bunga, Songkran dsb), supaya tahu kalau mau datang sebaiknya bulan apa.

Mahalnya Sekolah

Beberapa waktu lalu, saya iseng cari tahu biaya sekolah kalau pulang ke Indonesia untuk dibandingkan dengan biaya sekolah di Chiang Mai sini. Saya masih ingat waktu saya SD uang SPP nya sekitar 300 rupiah, SMP dan SMA saya lupa tapi saya ingat ga pernah bayar lebih dari 1000 rupiah per bulan. Saya sekolah negeri sejak SD, SMP, SMA dan yang paling mahal ketika saya harus kuliah di Bandung tiap semesternya biaya 445 ribu rupiah. Masa SD saya bisa jalan kaki ke sekolah, SMP mulai naik bemo/becak/sepeda dan SMA naik angkutan kota yang jaraknya 7 km dari rumah. Ketika jadi mahasiswa saya semakin jauh deh dari orangtua saya karena saya merantau ke Bandung.

Biaya sekolah mengirim saya ke universitas terasa lebih mahal buat orangtua saya karena saya diterima di ITB (Bandung) dan orangtua saya di Medan. Mereka harus kirimin uang buat saya tiap bulan sekitar 150 ribu rupiah buat ongkos dan makan saya. Uang kontrakan kost sudah dibayarkan langsung setahun supaya saya pasti punya tempat tinggal selama setahun dan harganya ga naik selain dapat diskon 200ribu kalau bayar pertahun dibandingkan bayar perbulan. Saya merasa beruntung karena orangtua saya dengan kondisi ekonomi yang cukup sehingga saya masih bisa sekolah dan fokus belajar tanpa harus memikirkan biaya hidup saya. Saya bisa lihat, mereka berusaha mencukupkan kami anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan dengan harapan mendapat masa depan lebih baik dari mereka.

Waduh intro jadi kepanjangan karena bernostalgia. Dari hasil browsing saya mengenai uang sekolah, saya pikir di sini saja sekolah mahal, ternyata di Indonesia juga ga kalah mahal (bahkan mungkin lebih mahal). Jaman sekarang kalau mau cari sekolah buat anak lebih banyak pertimbangan dibanding jaman saya sekolah dan biayanya juga bikin saya menahan napas. Saya yakin dulu orangtua saya kirim kami ke sekolah terdekat dari rumah dan sekolah negeri karena masa itu orangtua saya ya mampunya sekolah negeri, dekat rumah lebih baik karena lebih gampang untuk antar jemput dan saya ingat kelas 1 SD kadang saya pulang sekolah jalan sendiri, kadang saya jalan dengan kakak saya dan masa itu semua terasa aman-aman saja.

Saya tidak tau biaya sekolah negeri sekarang ini berapa, tapi sepertinya jaman sekarang ini ada banyak kekhawatiran memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Entah kenapa dan sejak kapan, ada kesan sekolah negeri kurang bagus mutu pendidikannya dan kekhawatiran bertemu anak yang nakal dari lingkungan masyarakat kurang mampu. Banyak orang tua terutama yang di kota besar memilih memasukkan anaknya ke sekolah swasta yang punya nama dan menurut survey cukup berkualitas dari segi pengajaran dan keamanan. Beberapa orang memilih yang dekat kantor supaya bisa berangkat dan pulang bareng. Atau ya yang menyediakan layanan antar jemput. Umumnya anak SD akan diantar karena sekolahnya ga walking distance dari rumah (kecuali mungkin sekolah dalam komplek perumahan). Beberapa orangtua yang lebih dari cukup juga umumnya akan berusaha mencari sekolah terbaik walaupun agak jauh dari rumah dan biaya yang mungkin ga sedikit.

Angka yang saya dapati yang bikin shock itu uang pendaftaran. Dari hasil google sejak beberapa tahun terakhir yang paling murah harus habiskan di atas sepuluh juta di awal masuk sekolah. Dari level TK ke level SD walaupun di sekolah yang sama, orangtua harus bayar lagi uang pangkal/pembangunan/pendaftaran. Jadi kebayang untuk masuk Preschool (usia 3 tahun) orangtua harus nabung sejak anak lahir, lalu ketika anak masuk SD harus bayar sekian puluh juta lagi. Kalau anak lebih dari 1 dan beda usia berdekatan, orangtua harus kerja ekstra keras mendapatkan penghasilan tambahan.

Sumber : http://www.the-alvianto.com/2017/10/binus-school-kinderfield-global.html

Ada beberapa sekolah yang membutuhkan orangtua siapin uang sekitar 100 juta rupiah untuk daptar TK. Saya bayangkan orangtuanya mungkin pengusaha yang omsetnya Miliar perbulan atau kalau pegawai pastinya punya gaji lebih dari 100juta perbulan. Biaya bulanan juga variasi, yang paling murah sekitar 450 rebu perbulan untuk TK. Untuk level daycare bahkan ada yang memasang harga sekitar 5 juta sebulan.

Waktu Jonathan menjelang usia 4 tahun, saya survey banyak sekolah di Chiang Mai. Ada 3 jenis sekolah di sini, Thai, bilingual (kurikulum Thai tapi menggunakan bahasa pengantar Inggris dan sebagian Thai) dan sekolah Internasional (menggunakan kurikulum Amerika atau British, full bahasa Inggris). Untuk biaya sekolah sudah pasti sekolah Thai paling murah, dibandingkan dengan sekolah Internasional bisa berpuluh kali lipat.

Contoh biaya salah satu sekolah bukan internasional, sumber http://www.varee.ac.th/en/admissions.php (diakses Mei 2018)

Saat ini kurs 1 THB sekitar 440 rupiah. Untuk uang pendaftaran, beberapa sekolah Thai meminta sekitar 10.000 baht dan uang sekolah persemesternya sekitar 18.000 – 22.000 baht. Sekolah internasional uang pendaftaran sekitar 50.000 baht dan uang semesternya bisa mencapai di atas 100.000 baht. Di Thailand sini, sekolah itu seperti tempat menitipkan anak. Mereka menyediakan kelas mulai dari umur 18 bulan (persiapan TK), lalu sejak umur 3 tahun kelas TK sebanyak 3 level, dan mulai SD sejak umur 6 tahun selama 6 tahun. Level SMP dan SMA ada 6 tahun.

Contoh biaya sekolah internasional. Sumber: https://www.vcis.ac.th/fee-schedule/ diakses Mei 2018

Ketika melihat angka yang fantastis untuk menyekolahkan anak, saya dan Joe sering berpikir dengan uang sekolah semahal itu, kalau anak sekolah sejak umur 3 tahun sampe kuliah, berapa dana pendidikan yang harus disiapkan? Setelah menyekolahkan anak semahal itu, kira-kira anak harus jadi apa supaya penghasilan nya bisa lebih dari biaya pendidikannya? Saya tahu kita harus berpikir optimis dan berharap anak akan lebih dari apa yang kita capai sekarang ini, dan saya tahu mengirimkan anak ke sekolah adalah bentuk investasi kita untuk masa depan anak yang mandiri dan bisa membiayai keluarganya kelak. Tapi kalau angkanya sekarang udah fantastis, berarti kami harus mempersiapkan anak yang bisa menyekolahkan anaknya lebih lagi dari yang dibayarkan sekarang ini.

Situasi kami sebagai orang asing tinggal di Thailand awalnya bikin pusing pilih sekolah buat Jonathan. Kami pingin anak-anak kami tetap bisa bahasa Indonesia, tapi juga fasih berbahasa Inggris dan Thai. Sekolah berbahasa Indonesia cuma ada di kedutaan di Bangkok. Awalnya kami sepakat bahasa Inggris lebih penting dari bahasa Thailand karena kami belum tahu berapa lama kami akan di sini dan supaya logatnya Inggris nya ga seperti Thaiglish ataupun Indoglish.

Harapannya anak-anak bisa menyerap bahasa Thai setelah fasih berbahasa Inggris dan tetep bisa bahasa Indonesia. Untuk saat ini target kami cukup berjalan sesuai harapan buat Jonathan. Kami cukup beruntung Jonathan bisa kami masukkan sekolah Internasional yang harga seperti sekolah Thai. Tapi setelah hampir 3 tahun di sana, Jonathan kami homeschooling.

Berdua belajar

Sejak homeschooling perhitungan uang sekolah digantikan dengan uang beli buku, berbagai peralatan dan mendaftarkan Jona berbagai kegiatan yang  ga bisa saya ajarkan sendiri. Ternyata sekolah ga harus mahal. Di tulisan berikut akan saya tulis lebih banyak soal homeschooling Jonathan.

11 Tahun di Chiang Mai

Wow, siapa sangka kami bisa betah sampai 11 tahun di Chiang Mai. Rasanya dulu kalau dibilang harus di Chiang Mai sampai lebih dari 11 tahun kemungkinan saya bakal bisikin Joe buat cari kota lain aja buat tinggal. Tapi sejak pertama kali mendarat ke kota ini saya langsung suka dengan suasananya. Cuaca di awal Mei agak adem karena mulai memasuki musim hujan, jalanan sepi karena anak sekolah masih pada libur dan warna langitnya cerah.  Awalnya saya pikir kota ini akan dingin seperti Bandung, tapi ternyata nggak.

Populasi orang Indonesia pada saat itu juga masih langka. Sampai dengan 4 tahun pertama rasanya belum ada komunitas orang Indonesia di Chiang Mai seperti sekarang ini (sekarang anak kecilnya aja lebih dari 10 kalo kumpul lengkap). Komunitas orang Indonesia di Chiang Mai ini beraneka ragam, biasanya tiap beberapa tahun ada yang pindah tapi juga selalu ada yang baru datang lagi. Beberapa orang awalnya rencana hanya sebentar saja tapi kemudian jadi betah dan tinggal lama di sini seperti kami.

Banyak yang bertanya ke kami kenapa bisa betah di Chiang Mai, dan apakah anak-anak bisa berbahasa Thai? terus gimana sekolah anak-anak? Ada rencana pulang gak ke Indonesia atau mau selamanya di Chiang Mai?.

Kami betah di sini faktor paling berasa itu aman dan nyaman. Kalau di Indonesia rasanya ke mall atau ke tempat keramaian itu harus waspada 100 persen, terus di banyak tempat yang jelas-jelas ada tulisan dilarang merokok tetap saja berasa banget bau asap rokok (padahal ruang ber AC). Kalau di sini selama 11 tahun kami jarang ketemu orang merokok, dan gak pernah merasa ruangan dalam airport bau rokok. Ini cuma salah satu contoh ya, karena saya sangat sensitif dengan bau asap rokok, jadi biasanya begitu sampe Indonesia, masih di airport saja saya sudah merasa gak nyaman dengan bau rokok dalam ruangan airport, berikutnya perasaan jengkel kalau koper kena kapur dan disuruh buka padahal isinya ga ada yang luar biasa.

Selama 11 tahun di Chiang Mai, dengan frekuensi hampir tiap tahun pulang minimal sekali, kami belum pernah disuruh buka koper di airport. Masalah keamanan di sini juga relatif lebih aman, kami bisa dengan tanpa kuatir meletakkan beberapa perabotan rumah seperti tabung gas, mesin cuci ataupun sepeda anak-anak di luar rumah. Saya inget mertua saya cerita kalau pot bunga yang dia letakkan di dekat pagar rumah saja bisa hilang. Mama saya juga sampai pernah komentar memastikan itu mesin cuci gak hilang kalau diletakkan di luar?.

Sebenernya menuliskan hal soal ketidakamanan dan ketidaknyamanan di Indonesia membuat saya merasa malu, kenapa saya jadi terkesan Indonesia nggak ada bagusnya ya? Indonesia itu banyak hal bagusnya, beberapa kali kamipun mulai bertanya-tanya apakah kami akan selamanya di negeri orang atau pulang saja ke Indonesia. Faktor yang menjadi pertimbangan pulang ya seperti kata pepatah, seenak-enaknya di negeri orang pasti lebih enak di negeri sendiri.

Di sini kami setiap tahun harus mengurus ijin tinggal, lalu setiap 90 hari harus lapor diri ke imigrasi. Setiap mau travel keluar dari Thailand harus urus reentry visa. Semua urusan itu tentunya tidak dibutuhkan kalau tinggal di Indonesia. Makanan di Indonesia juga masih tetap terasa lebih enak, apalagi kalau dimasakin mama atau mertua hahaha.

Beberapa hal lain yang bikin betah di sini adalah akses internet bisa lebih cepat dan lebih stabil. Layanan perbankan juga buka 7 hari seminggu (sampai malam di mall). Daya listrik yang cukup besar buat pasang AC di semua kamar tidur (asal kuat bayarnya) dan relatif jarang ada pemadaman sampe seharian penuh.

Setelah tinggal di Chiang Mai kami juga jadi merasa biasa makan pake ketan sebagai pengganti nasi. Dulu di Indonesia makan ketan itu dianggap cemilan, udah makan ketan masih harus makan nasi lagi. Awal-awal di sini saya juga merasa aneh makan siang pake somtam (papaya salad) dan nasi yang rasanya sekilas seperti asinan bogor tapi sekarang hal itu udah jadi ga aneh lagi. Makanan yang paling signifikan beda dengan di Indonesia adalah menu pork. Mayoritas penduduk Thailand beragama Buddha, sebagian vegetarian tapi mayoritas menu makanan pasti ada pork nya. Saya masih inget, jaman mahasiswa di Bandung, menu makanan yang ada porknya dianggap istimewa dan dicari-cari seperti barang langka, di sini menu dengan beef yang menjadi makanan langka.

Setelah 11 tahun di Chiang Mai, saya makin merasa betah karena vocabulary bahasa Thai saya sudah semakin banyak. Membaca tulisan Thai masih tetap jadi tantangan karena ga ada kebutuhan yang mengharuskannya saya membaca banyak tulisan Thai. Anak-anak di rumah malah kebanyakan berbahasa Inggris.

Jonathan kebanyakan bicara bahasa Inggris sejak disekolahkan ke sekolah internasional. Sejak tahun lalu kami memutuskan Jonathan sekolah di rumah saja, dan sekarang dia mulai banyak juga bicara bahasa Indonesia. Kami juga mendaftarkan Jonathan kumon Thai dan dia mulai bisa membaca dan menulis bahasa Thai.

Joshua masih belum mau ke daycare, bulan Maret lalu kami coba kirim ke daycare, tiap hari masih nangis dan baru 2 minggu sekolah dia ketularan batuk pilek parah, jadi kami ga terusin kirim dia ke daycare. Joshua kebanyakan kosakatanya menggunakan bahasa Inggris, sepertinya karena buku yang kami bacakan dan lagu nursery rhymes yang dia lihat dan dengar juga berbahasa Inggris. Jonathan juga seringnya ajak Joshua komunikasi pakai bahasa Inggris. Joshua ngerti bahasa Indonesia, dia tapi masih lebih suka belajar apapun dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan kalau makin besar Joshua mau belajar bahasa Indonesia dan Thai juga.

Waduh tulisan mau update singkat jadi panjang aja.Ga bisa meresumekan 11 tahun dalam beberapa paragraph saja. Tapi sepertinya cukup dulu updatenya, semoga besok bisa melanjutkan tulisan seputar Chiang Mai.

Liburan Songkran 2018

Songkran merupakan tahun baru Thailand, dan merupakan hari yang sangat dirayakan di Thailand, seperti Lebaran di Indonesia atau Natal di negara mayoritas Kristen.  Libur utama Songkran sendiri hanya 3 hari, tapi seperti Natal/Lebaran, biasanya kantor akan libur sekitar seminggu.

Selama 11 tahun di sini, kami lebih sering pulang ketika Songkran, karena selain libur panjang, polusi udara di Chiang Mai biasanya sedang buruk. Polusi ini dikarenakan pembakaran ladang dari Thailand (sedikit, kurang dari 200 titik api) dan dari negara sekitar (banyak, ribuan titik api). Tapi sesekali kami tinggal di Chiang Mai. Dan tahun ini kami tinggal di Chiang Mai.

Menurut cerita dari penduduk Chiang Mai, dulu perayaan utama Songkran hanyalah memercik air sebagai simbol pensucian dan menghapus nasib sial, tapi sekarang dirayakan dengan festival saling siram air (dengan ember dan pistol air). Sebagai anak kecil, Jonathan sangat menyukai perang air ini, dan tahun lalu dia kecewa karena harus pulang ke Indonesia di masa Songkran. Lanjutkan membaca “Liburan Songkran 2018”

Festival Bunga Chiang Mai

Setiap tahun di Chiang Mai ada festival bunga di awal bulan Februari (Chiang Mai Flower Festival). Ternyata setelah sekian lama di sini, kami belum pernah menuliskan soal festival bunga ini. Festival ini diselenggarakan tiap Sabtu pertama bulan Februari.

Ada dua bagian utama festival ini: parade mobil bunga, dan tempat parkir mobil bunga.  Paradenya pagi hari, dan selain mobil bunga disertai juga dengan berbagai tarian, delman dan juga marching band. Di tempat parkir mobil bunga, ada banyak makanan dan juga panggung musik.

Bagi para pengunjung/turis ke Chiang Mai: bagian paling seru adalah paradenya, jadi siapkan diri pagi-pagi datang ke salah satu titik jalan yang dilalui parade. Untuk mudahnya, gunakan Grab/Uber dan minta diturunkan di salah satu titik yang nyaman/teduh.

Salah satu mobil bunga (2008)

Di awal waktu kami di Chiang Mai, kami datang ke sini, lalu mengajak orang tua juga untuk melihat festival ini. Setelah Jonathan lahir kami juga mencoba untuk melihat festival ini. Ternyata acara ini agak kurang cocok untuk anak kecil karena terlalu rame , jadi setelah agak lama baru tahun ini kami datang lagi ke festival ini, tapi hanya di tujuan parkir mobil bunganya saja. Lanjutkan membaca “Festival Bunga Chiang Mai”

Natal 2017 dan Tahun baru 2018 di Chiangmai

Ini tulisan sudah lewat 15 hari dari tahun baru, eh tahun baru itu bukan cuma tanggal 1 January kan ya, hehehe. Supaya tetap bisa mengingat kembali Natal tahun 2017 dan Tahun Baru 2018, kami tetap akan post ini walau terlambat.

Natal 2017 jatuh hari Senin, karena sore hari tanggal 24 Desember sudah ada kebaktian di gereja, malamnya kami tidak mengikuti candlelight service seperti biasa, alasan lain mengurangi kemungkinan Joshua yang masih akan bangun dan bernyanyi ABC dengan suara keras. Tanggal 25 Desember 2017 kami mengikuti gereja pagi di CMCChurch seperti biasa. Papa Jona ijin kerja setengah hari dan lanjut ngantor. Ya di Thailand 25 Desember bukan hari libur, kalau kerjaan kantor ga terlalu sibuk bisa ijin sehari tapi karena kantornya lagi banyak kerjaan ya ijin setengah hari aja.

Tanggal 31 Desember 2017, kami makan malam bareng teman2 Indonesia di Chiangmai, acara barbequean dan rame2 biasa aja. Sayangnya ga ada yang beli kembang api, jadi ya ga pake acara countdown bersama.

Tanggal 1 Januari, kami jalan-jalan ke Rabbit Union lalu ke Ratchapruek  (dulu tempat diadakannya Royal Flora Ratchapruek). Oh ya, kami juga baru tahu ternyata bisa bikin kartu anggota juga untuk tempat ini, kami sudah bikin tanggal 30 Desember 2017 dan kartu anggota berlaku 1 tahun seharga 400 baht (Joshua masih gratis masuk).

Rencananya, tahun ini mau lebih banyak jalan ke Ratchapruek, sekalian olahraga, nemenin anak main dan ya nantinya mau ajarin Jona naik sepeda biar bisa sepedaan juga. Ratchapruek ini mengingatkan kami Horizon Village yang dulu sempat jadi tempat favorit Jona, bedanya di Ratchpruek ga ada makanan buffet dan lokasinya lebih deket ke rumah. Semoga tahun 2018 bisa lebih sehat dan bisa mengeksplorasi lebih banyak kota Chiangmai.