Review Coursera “Mind Control: Managing Your Mental Health During COVID-19”

Beberapa hari lalu, saya tidak sengaja menemukan kursus ini. Setelah 6 bulan dalam masa pandemi, dan Thailand sudah mulai aman, saya tidak lagi dalam isolasi yang bikin stress. Tapi melihat keadaan di seluruh dunia, ada kalanya terpengaruh juga sih, apalagi kekhawatiran akan gelombang ke-2 yang selalu membayangi Thailand.

Kursus ini judulnya menarik, seputar mengendalikan pikiran dan mengelola kesehatan mental di masa pandemi. Topik ini banyak dibicarakan belakangan ini di masa pandemi. Judulnya bikin penasaran dan saya ambil karena saya pengen tahu isinya apa, dan saya sudah menyelesaikannya tanggal 10 September 2020 kemarin.

Kalau melihat update berita di Indonesia yang puncaknya saja belum kelihatan, kadang-kadang saya terbawa juga dan merasa ikut cemas. Perasaan cemas dan marah silih berganti ini pernah saya tuliskan di sini.

Terkadang, emosi hati yang tidak tertata bikin sulit untuk menulis. Beberapa teman saya di grup juga mengalami hilang mood menulis karena berbagai hal sebagai efek dari pandemi yang tak kunjung berakhir.

Efek pandemi tentu saja bukan hanya rasa khawatir, tapi juga kelelahan dengan hal-hal yang luar biasa alias di luar kebiasaan. Orang tua harus merangkap jadi guru mendampingi anak belajar di rumah, sambil tetap tugas utama mengurus rumah juga harus dilakukan.

Perasaan khawatir juga bercampur dengan kesal menghadapi keluarga terdekat yang terlihat kurang berhati-hati dalam menghadapi pandemi. Maklum sih karena kebanyakan orang juga mengalami perasaan campur aduk antara bosan di rumah saja dan keinginan hati untuk piknik.

Daripada pusing dengan hal-hal yang diluar kendali kita, mari kita belajar mengendalikan hal-hal yang bisa kita kendalikan, misalnya pikiran kita.

Sekilas Tentang Kursus Ini

Total waktu yang dibutuhkan untuk mendengarkannya sekitar 3 jam saja, ini salah satu alasan lain kenapa saya mengambilnya. Beberapa kursus lain yang saya ambil belum maju lagi belajarnya, tapi tidak ada yang melarang juga mengambil beberapa kursus sekaligus.

Teorinya, kursus ini bisa dilakukan dalam waktu 4 minggu, 3 minggu pertama materi yang perlu didengarkan sekitar 1 jam yang dipecah menjadi beberapa video, lalu diakhiri kuis kecil. Minggu terakhir isinya hanya berupa kesimpulan dari keseluruhan kursus. Saya menyelesaikannya dalam waktu beberapa hari saja.

Saya tidak akan menuliskan isi kursusnya secara lengkap, tapi akan menuliskan hal-hal yang menurut saya menarik dan perlu diingat. Ah jadi serasa jaman kuliah aja, punya catatan hal-hal yang menarik dan ingin diingat.

Memahami Rasa Kegelisahan (Anxiety)

Kita perlu memahami kenapa kita gelisah, supaya kita bisa mengatasi kegelisahan tersebut. Rasa gelisah ini reaksi alami dari cara kerja otak kita. Ketika menghadapi permasalahan, respon kita biasanya ada dua: berjuang atau menyerah.

Kalau kita berjuang terus menerus tapi tidak ada hasilnya, lama-lama biasanya kita akan menyerah. Nah untuk mencegah menyerah ini, kita harus menghindari perasaan gelisah dari awal.

Secara alami, kita manusia ini pengen punya kendali untuk segala hal. Kita tidak suka dengan pandemi yang penuh ketidakpastian dan membawa ketakutan. Takut tertular, takut keluarga kita mengalaminya juga, ketakutan yang akhirnya membuat kita jadi semakin merasa tidak berdaya.

Masalahnya, kita tidak bisa bilang ke diri sendiri untuk berhenti gelisah, karena gelisah ini merupakan reaksi alami. Cara untuk melawan kegelisahan ini dengan relaks. Di kursus ini dijelaskan bagaimana sistem saraf kita melawan kegelisahan dengan relaks.

Masalah lain adalah, kita tidak bisa memerintahkan otak untuk relaks, karena relaks dan gelisah itu adalah reaksi dari input yang kita berikan. Terus bagaimana dong? Salah satunya tentu saja dengan mengendalikan apa yang kita lihat, baca dan dengar.

Kabar baiknya, perasaan untuk relaks itu bisa dilatih. Jadi, kalau kita mengalami kegelisahan, kita bisa menghentikan pikiran kita memikirkan kegelisahan itu terus menerus dengan melakukan apa yang sudah kita latih untuk merasa relaks.

Di kursus ini diberikan bagaimana cara latihan relaks. Bukan, bukan meditasi, hanya melatih otot-otot kita untuk merasakan relaks. Tapi, selain melakukan latihan relaksasi, kita juga perlu mendistraksi diri kita dengan hal-hal yang menyenangkan buat kita.

Mengelola Emosi

Salah satu hal yang paling cepat mempengaruhi emosi kita adalah dari berita yang kita baca. Buat sebagian orang, membaca berita itu sudah menjadi sesuatu yang membuat ketagihan. Setiap saat mencari berita apalagi berita tentang pandemi itu tidak baik, tapi tidak perduli seolah-olah tidak ada pandemi juga tidak lebih baik.

Idealnya, jika kita membaca berita – walaupun bukan spesifik tentang pandemi – kita batasi waktunya dalam sehari. Lalu setelah membaca berita, ada baiknya kita melakukan hal-hal yang mengalihkan pikiran kita dari berita tersebut.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mengimbangi berita yang terkadang sifatnya kabar buruk, tentu saja melakukan hal-hal yang menyenangkan hati kita. Misalnya: membaca lelucon, bernyanyi, atau kalau buat saya menonton drama Korea – dengan genre romcom saja tentunya, tidak perlulah ya ditambahi dengan genre politik atau horor, hehehe.

Tertawa dan Karaokean bersama keluarga juga merupakan kegiatan yang punya kekuatan untuk mengimbangi berita-berita yang seringkali berupa kabar buruk apalagi di tengah pandemi ini.

Kegiatan-kegiatan yang menjadi distraksi tersebut secara tidak langsung mengusir penyebab kegelisahan yang bisa terjadi. Kita bisa kembali fokus dengan hal-hal yang bisa kita kendalikan dan bukan memikirkan hal-hal yang di luar kendali kita.

Masa Isolasi

Manusia itu makhluk sosial. Kita tidak bisa berlama-lama dalam isolasi. Untuk mengurangi perasaan kesepian dalam isolasi, kita perlu mempunyai jadwal yang sama setiap harinya. Bangun di waktu yang sama, dan tidurlah di waktu yang sama. Jangan karena kita tidak merasa perlu ke mana-mana, maka kita hidup tanpa keteraturan.

Salah satu hal yang perlu dimasukkan ke dalam jadwal rutin adalah menghubungi teman dan keluarga di jam yang sama setiap harinya. Kita tidak harus menghubungi orang yang sama setiap hari, tapi kita bisa memulai memikirkan untuk menjangkau orang-orang yang juga dalam isolasi dan butuh merasa terhubung dengan orang lain.

Berkomunikasi yang disarankan di sini, bukan dengan jempol di sosmed atau sekedar emoticon, tapi benar-benar ngobrol. Bisa dengan video call, atau dengan telepon rumah untuk menghubungi kerabat yang mungkin saja belum mengenal teknologi video call.

Kita memang disarankan untuk jaga jarak, tapi ini masanya untuk terhubung kembali lebih dalam dengan keluarga dan teman. Saya ingat, di masa awal pandemi, saya kembali terhubung dengan teman-teman yang sudah lama tidak berkabar.

Keluarga saya juga termasuk jadi agak lebih rajin video call rame-rame. Belakangan ini, setelah masa adaptasi kebiasan baru, semua mulai sibuk lagi dengan keseharian dan komunikasi jadi berkurang lagi.

Salah satu hal yang juga perlu dilakukan di masa pandemi ini adalah untuk membuat karya. Lakukan sesuatu yang bisa dilihat hasilnya. Di akhir pandemi, kita bisa melihat kembali dan berkata di masa isolasi dan pandemi, saya berhasil mengerjakan ini dan itu.

Kesimpulan

Belajar sesuatu hal yang baru, ataupun mengasah kemampuan yang ada, berkarya melalui hobi merupakan hal-hal yang bisa menjadi pencapaian. Buat saya, mengikuti kursus di Coursera dan juga menulis setiap hari menjadi salah satu pencapaian di masa pandemi.

Jangan sampai di akhir pandemi kita menyesal tidak menggunakan masa di rumah saja dengan melakukan hal yang berguna dan berlama-lama dalam kegelisahan semata.

Hidup ini berjalan terus, kita tetap berharap pandemi segera berlalu. Sementara belum bisa jalan-jalan ke luar negeri, artinya kesempatan untuk menabung dulu dan kalau perlu belajar bahasa baru supaya nanti jalan-jalannya udah lancar berbahasanya.

Jadi, sudah ngapain saja selama masa pandemi ini?

2 thoughts on “Review Coursera “Mind Control: Managing Your Mental Health During COVID-19””

  1. Aih, cara rileks dgn mendistraksi diri dengan hal-hal yg menyenangkan :’) okay okay well noted sekalihh mbarisnaaaa. Dan betul tuh soal beda nelpon langsung dgn ketak-ketik or emoticon aja. aja.Huh Maaci ya bu rektor drakor tercintaaaah untuk ulasan Coursera-nya

    1. di kursusnya lebih detail dijelaskan kenapa distraksi yg menyenangkan itu diperlukan, tapi aku udah angguk2 setuju pokoknya kerjain yg menyenangkan hati biar ga sempat mikirin yg bikin susah. naaah soal nelpon, makanya kita perlu zoom session akhir bulan, bagian mendistraksi diri dengan canda tawa bersama sesama drakorian, hehehe

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.