Menginstall Internet Explorer ….. di Linux

Sudah menjadi masalah bagi banyak orang bahwa masih ada saja website penting (Seperti e-Banking) yang situsnya tidak bisa bekerja dengan baik jika tidak dibuka dengan IE. Jadi meskipun sudah bersusah payah pindah ke Linux, kadang-kadang orang masih perlu pergi ke Windows (reboot, atau rdesktop/vnc ke komputer lain) hanya untuk mengakses situs tertentu saja (terutama situs yang penting). Kadang-kadang Konqueror sudah cukup buat mengakses web site yang butuh IE, tapi kadang tetap tidak bisa.

Sejak dulu, sudah ada beberapa orang yang bisa menginstall IE di Linux dengan aneka macam cara, namun sekrang sudah ada cara yang sangat mudah untuk menginstall IE (dan bahkan Windows Media Player serta MSN juga) di Linux memakai Wine. Caranya cukup download wine dari sini, download skrip installer di sini, ekstrak skripnya, dan jalankan setup. Cuma itu aja. Nanti skrip tersebut akan otomatis mendownload IE dan menginstallnya. Yang menakjubkan adalah, skrip tersebut akan mensimulasi “reboot”, jadi kita nggak perlu me-reboot komputer 🙂

Nah sekarang IE siap di jalankan. Tapi jangan heran ya kalo IE-nya lambat dan nggak senyaman Firefox 😛

CDMA lagi ….

Para operator CDMA ini masih rada nggak beres. Ini beberapa list keanehan yang ditemui, sebagian minor, sebagian ngeselin:

  • Esia: kalo nelpon *955 buat cek pulsa kadang-kadang pesannya terpotong oleh pesan aneh seperti ini: “Saldo Anda sebesar dua puluh….tiba-tiba berganti denganNomor telepon yang Anda tuju tidak dapat dihubungi
  • Esia: Esia Jakarta punya delivery report kalo ngirim SMS ke sesama Esia, tapi tidak punya delivery report untuk nomor di luar Esia, Esia Bandung punya delivery report untuk nomor di luar Esia, tapi tidak untuk sesama Esia
  • Flexi: setelah konversi dari inject ke RUIM, ternyata dapet RUIM yang aneh, RUIM-nya cuma bisa dikenali HP Nokia 6585 kalo waktu nyalain HP-nya lagi di-charge. Mau protes tapi dah capek, prosesnya lama 🙁
  • Flexi: Telkomnet instannya (berdasarkan waktu) gak berjalan (or at least gak sesuai dengan dokumentasi, mestinya pake CRM=0 tapi gak pernah bisa, apa hp-ku yang error? aku bahkan dah baca AT Command Reference-nya Nokia), karena pake Pasca bayar, jadi ngeri kalo berniat make berdasarkan waktu tapi kecharge berdasarkan data
  • Fren: sejauh ini yang ngeselin cuma pelayanannya yang lama kalo dateng ke Mobile-8 Center-nya, dua kali ke sana masing-masing butuh waktu lebih dari dua jam

VPN Mobile 8 (Fren) di Linux

VPN Mobile 8 (Fren) di Linux

Mobile-8 (alias Fren) saat ini menyediakan fitur VPN ke beberapa ISP (tepatnya 10 ISP), jadi penggunanya bisa memilih mau browsing via ISP mana. Sayangnya petunjuk koneksinya hanya tersedia untuk Windows (di sini).

Setelah mencari-cari client VPN di Linux dan mendownload, akhirnya hari ini sempat mencoba VPN M8 (Fren) di Linux, dan hore …. berhasil dengan mudah, koneksinya juga lumayan cepet (tapi harus pilih2 dulu mau VPN ke ISP mana, ada ISP yang lambat ke server tertentu (sekarang ini lagi VPN ke Biznet).

Buat yang tertarik untuk ber-VPN di Linux, kunjungi aja http://pptpclient.sourceforge.net/, ikuti petunjuk di situ, dan cobalah VPN-nya. Gampang banget, tinggal install beberapa paket dan ada konfigurasi GUI-nya.

Membandingkan Operator CDMA

Ini adalah perbandingan subjektif dari hasil mencoba semua operator CDMA (kecuali Star One, belum ada di bandung, belum sempat nyoba di Jakarta)

Flexi
Murah (aku pake yang Pasca), tapi kalo di dalem rumah signalnya kurang kuat, terutama di daerah cisitu dan dago (kalo di luar rumah sih bagus), tapi tergantung rumahnya juga sih. Di berbagai tempat yang dikunjungi (yang kamarnya agak tersembunyi di dalam, yang gak dapet sinar matahari), signal flexi biasanya lebih jelek dari Esia maupun Fren.

Koneksi data juga lumayan cepet, apalagi ada opsi make telkomnet instan, jadi bisa download-download file gede.

Fren
Satu-satunya CDMA yang bisa dibawa ke luar kota, bahkan di kampungku yang gak dapet signal telkomsel, Fren dapet lho. Tarifnya murah kalo sesama Fren, (flat rate se-Indonesia, tapi Indonesia-nya cuma pulau Jawa :P). Aku baru nyoba yang Pra bayar, abonemen Pasca-nya mahal sih.

Buat koneksi data cepet, apalagi ada opsi buat memakai VPN dari 10 ISP (yang tarifnya cuma 3rupiah/kb).

Esia
Esia ini baru dicoba, tapi ternyata sangat memuaskan. Signalnya bagus, tarifnya sangat murah (apalagi sesama esia). Dan kemarin mbak Risna beli pake ngerumpi (yang dijual terpisah dari HP Nokia paket dengan harga 75 ribu di BEC, termasuk mahal, ada yang jual antara 35 ribu [ini yang dah abis] sampai 125 ribu). Paket ngerumpi ini gratis telepon lokal (dan ke sesama Esia termasuk esia jakarta) selama sebulan, dan gratis SMSan ke mana aja sebulan.

Sayang Esia belum bisa data.

Pengalaman ber-CDMA

Sudah agak lama aku make HP dengan teknologi CDMA. HP pertama adalah Sanex 5xxx (lupa tepatnya seri berapa, yang harganya dulu 800 ribu) dengan kartu Flexi pascal bayar. HP-nya cukup lucu bentuknya (cukup mungil), tapi susah buat ngetik SMS, cuma ada 1 game dan gamenya berisik.

Terus HP kedua (tepatnya PDA phone) adalah Thera Audiovox, flexinya dipindah (di-inject ke hp ini karena gak mendukung RUIM), dan ditambah dengan Fren (Thera-nya bisa menyimpan dua nomor [dua nam]). HP-nya boros banget baterenya, udah gitu gak bisa ngirim SMS ke short number, tapi lumayan buat browsing di PDA. Sayangnya fasilitas data HP ini gak bisa dipake di PC.

Lanjutkan membaca “Pengalaman ber-CDMA”

Menghargai Karya Orang

Pernah dengar tentang microstaroffice? Di berbagai press release yang ada di berbagai media massa, dituliskan ini adalah produk Office karya anak negeri yang diselesaikan dalam waktu setahun, dan ditulis dalam C++.

MicrostarOffice 2004 sendiri memang diposisikan sebagai software office alternatif MS Office untuk memenuhi kebutuhan software legal di Indonesia dengan harga murah dan kualitas terjamin. Ini sejalan dengan program pemerintah dan UU HAKI. “Sejauh ini harga belum ditentukan. Perkiraan harga satuan dibawah Rp 400.000, dan diskon untuk pembelian volume tertentu. Awalnya kemungkinan besar hanya dipasarkan untuk corporate dan lembaga, karena masih banyaknya pembajakan,” jelas Utomo.

Lanjutkan membaca “Menghargai Karya Orang”