KidBright32 dan KBX

Kalau United Kingdom punya Micro bit, maka Thailand punya KidBright32. KidBright32 dikembangkan oleh NECTEC (National Electronics and Computer Technology Center) organisasi pemerintah Thailand dan diproduksi oleh perusahaan lokal Thailand Gravitech). Usaha ini didukung perusahaan lain, misalnya perusahaan Maker Asia membuat extension berupa case dan peripheral tambahan yang diberi nama KBX (KidBright32 Extension).

Di posting sebelumnya saya sudah membahas Micro bit, di sini saya membahas KidBright32 dan ditutup dengan apakah mungkin Indonesia membuat board serupa.

KidBright32

KidBright32 menggunakan ESP32 sebagai prosessornya. ESP32 ini merupakan chip dari China yang pernah saya bahas di posting lain. Sedangkan Microbit memakai chip NRF52 dari Nordic Semiconductor, perusahaan Norwegia. NRF52 hanya memiliki fitur Bluetooth dan komunikasi radio proprietary, sedangkan ESP32 memiliki fitur Bluetooth dan WIFI. Harga KidBright32 sekitar 600 baht (19 USD), tidak beda dengan harga Micro Bit .

Seperti Micro bit, KidBright32 juga memiliki IDE Visual drag drop yang bernama KidBright IDE yang bisa dipakai di Linux/Windows/OSX. Berikut ini video yang dirilis oleh NECTEC untuk memperkenalkan KidBright (video bahasa Thai dengan subtitle bahasa Inggris).

Sebagian besar fitur KidBright32 ini sama dan bahkan lebih dari Micro Bit.. Memori lebih besar, bisa WIFI (bagus untuk belajar IOT), dan LED yang dipakai lebih besar (dua buah matris 8×8, jadi ada 128 led, sedangkan micro bit hanya 25).

Micro bit sudah cukup dikenal dan ada banyak aksesori tambahan, tapi KidBright32 juga tidak kalah. Berbagai sensor dan hardware tambahan sudah tersedia dan bisa dibeli di : https://www.kidbright.io/shop. Beberapa contoh sensor yang tersedia: proximity (kedekatan), detak jantung dan barometer.

KBX dan kbide

Sifat KidBright32 ini terbuka dan bisa dikembangkan lebih lanjut. Salah satu hasil pengembangannya adalah board KBX. Board ini memiliki case, LCD, Micro SD, USB host (supaya bisa memakai keyboard atau gamepad USB), dan juga tombol ekstra. Saya baru mengenal board ini ketika menemani Jonathan untuk ikut pelatihan gratis pemrograman hardware dasar di Chiang Mai Maker Club.

Selain membuat KBX, Maker Asia juga membuat kbide, versi lebih canggih dari KidBright IDE. Software kbide ini open source dan bisa berjalan di Windows, Mac, maupun Linux.

IDE-nya bukan sekedar meniru persis editor Micro Bit, banyak fungsi tambahan yang menurut saya lebih menarik. Berbagai fungsi tingkat lanjut di sediakan di mode visual, seperti:

  • Melakukan koneksi ke WIFI
  • Melakukan time synchronization dengan NTP
  • Menampilkan gambar (bahkan dari IDE-nya kita bisa mengakses kamera USB/kamera laptop, supaya kita bisa memfoto sesuatu untuk ditampilkan di device)
  • Mengucapkan kata-kata (terbatas, hanya yang ada di dalam kamus)
  • Memainkan nada (dengan editor yang bagus)
  • Memainkan MP3
  • Melakukan koneksi dengan protokol MQTT

Sebagai produk Thailand, salah satu kelebihannya adalah support terhadap bahasa Thai. Contoh paling sederhana adalah pada fungsi teks yang bisa menampilkan teks bahasa Thai dan disertakan juga berbagai font Thai.

Dengan hardware ekstra, harga KBX tentunya lebih mahal dari harga KidBright biasa, tepatnya harganya sekitar 60 USD (1990 THB). Dengan adanya koneksi Wifi dan sinkronisasi waktu dari NTP serta fitur buzzer, Jonathan bisa dengan cepat membuat Jam meja dengan alarm. Di malam hari jamnya diletakkan di samping tempat tidurnya.

Dari hasil mencoba-coba hardware dan softwarenya, saya merasa cukup kagum. Ini proyek yang serius, bukan sekedar meniru BBC Micro bit. Design hardwarenya bagus dan softwarenya juga dibuat dengan serius. Softwarenya masih terus dikembangkan (ini bisa dilihat di aktivitas github Maker Asia).

Bisakah Indonesia membuat hal serupa?

Membuat development board yang ditujukan untuk anak-anak butuh diperlukan pengembangan hardware dan software. Kenapa kita tidak mengimpor saja benda ini? ada beberapa alasan kenapa kita perlu membuat sendiri:

  • Harga barang jadi biasanya lebih mahal, apalagi jika ditambah dengan berbagai aksesorinya
  • Kita tetap perlu membuat dokumentasi dan manual dalam bahasa Indonesia dan juga menerjemahkan softwarenya dalam bahasa Indonesia (di Thailand masalah bahasa sangat penting, bahkan semua film didub dalam bahasa Thai)
  • Kita bisa menyesuaikan dengan kondisi Indonesia, misalnya menambahkan sensor yang berguna untuk otomasi pertanian atau mungkin memakai panel surya karena sinar matahari melimpah di Indonesia

Board populer pertama yang ditujukan untuk belajar pemrograman hardware adalah Arduino. Dulu Arduino bisa dirakit sendiri karena komponennya sedikit dan jenis komponennya through hole. Dengan teknologi through hole, komponen dimasukkan menembus lubang PCB dan disolder di sisi lain.

Memakai komponen dengan teknologi through-hole

Tapi sekarang jumlah komponen through hole semakin sedikit, dan kebanyakan komponen sekarang memakai teknologi surface mounted (SMT). Dalam teknologi SMT, komponen elektronik diletakkan di atas PCB dan diberi pasta solder, lalu dipanaskan. Untuk memanaskan ini bisa memakai oven (oven kue juga bisa, tapi sebaiknya khusus, jangan dipakai lagi untuk masak kue karena walau sudah bebas timbal, masih ada kemungkinan ada uap berbahaya) atau memakai hot air soldering station. Pada produksi masal, biasanya ini dilakukan secara otomatis dengan mesin.

Contoh board dengan teknologi SMT, chip hanya “menempel” di atas PCB

Karena sulitnya merakit board modern, sebaiknya ini dilakukan oleh perusahaan khusus, sehingga anak-anak bisa langsung memakainya. Harga berbagai komponen (chip, resistor, dsb) sudah relatif murah, tapi kebanyakan masih perlu impor. Indonesia sudah mampu membuat PCB sendiri dan merakit komponennya.

Alternatif lainnya adalah kita menyusun berbagai modul, jadi tidak menyusun chip dan berbagai komponen pasif. Saat ini sudah ada banyak modul kecil dengan berbagai fungsionalitas (sensor udara, transmitter dan receiver infrared, LED, dsb) yang harganya murah (beberapa USD, bahkan ada yang hanya beberapa sen). Modul modul ini bisa disolder ke sebuah board besar.

Software untuk memprogram boardnya bisa dibuat dengan relatif mudah dengan menggunakan berbagai library yang sudah ada, atau melakukan forking terhadap IDE lain yang sifatnya open source. Bagian sulitnya adalah membuat hardware dan software yang bisa berjalan mulus. Hal lain yang penting adalah dokumentasinya.

Jadi sebenarnya bisa saja Indonesia membuat board serupa dengan BBC atau KidBright. Kesulitan pengembangan hardware dan softwarenya tidak terlalu tinggi. Pertanyaannya adalah: apakah kita memang sudah memfokuskan ke sana atau belum.

BBC micro:bit

BBC Micro Bit (kadang ditulis “micro:bit”) adalah hardware open source yang dibuat oleh BBC (British Broadcasting Corporation) untuk mengajarkan pelajaran komputer di United Kingdom. Board ini sudah dirilis tahun 2016 dan sudah saya beli tidak lama setelah diluncurkan. Baru sekarangsaya tulis karena Jonathan baru mulai tertarik belajar ini.

Case kittenbot dan micro:bit

Micro bit ini ditargetkan untuk umur 11 tahun ke atas (walau lebih muda juga bisa), jadi sebenarnya memang baru cocok untuk usia Jonathan yang sekarang 9 tahun. Micro bit ini ukurannya sekitar setengah kartu kredit, ada dua tombol (plus satu tombol reset), konektor micro USB, dan 25 LED. Ada accelerometer (bisa jadi input dengan gerakan) dan juga magnetometer (bisa menjadi kompas), ada juga sensor temperatur (tapi kurang akurat karena built in).

img
Sumber gambar: https://tech.microbit.org/hardware/

Micro bit juga bisa dihubungkan ke handphone dengan Bluetooth Low Energy (BLE). Dua micro bit juga bisa berkomunikasi dengan radio (yang ini protokolnya proprietary, berdasarkan Gazell dari Nordic). Micro bit bisa dihubungkan ke banyak hardware, tapi sebelumnya saya jelaskan dulu tentang sisi softwarenya.

Micro bit dalam case Kittenbot

Software dan pemrograman

Resminya Micro bit bisa diprogram dengan browser memakai editor blok atau menggunakan Micropython dengan mengunjungi https://microbit.org/code/ . Tapi benda ini juga bisa diprogram dengan C, C++, BASIC, ADA, Rust, Swift, Forth dan mungkin masih banyak lagi.

Editor blok resmi memiiliki simulator, sehingga kita bisa langsung mencoba bahkan tanpa perlu hardwarenya. Perhatikan gambar board micro bit di kiri, gambar tersebut interaktif, kita bisa menekan tombol A, tombol B, atau keduanya.

Editor block bisa menerjemahkan kode langsung ke JavaScript. Kita juga bisa menulis kode Javascript dan jika tidak terlalu kompleks akan bisa otomatis diterjemahkan jadi bentuk blok. Javascript yang terlalu rumit akan muncul sebagai blok teks. Berikut ini contoh terjemahan otomatis dari blok ke Javascript.

Memprogram dengan browser sangat mudah: tidak perlu instalasi apapun, cukup memakai browser Chrome terbaru (jadi perlu punya komputer/laptop, bisa Windows/Linux/Mac). Transfer program ke Micro bit juga langsung dari browser.

Khusus untuk Micro bit yang dibeli beberapa tahun lalu, firmwarenya perlu diupdate dulu agar bisa diprogram via web. Cara updatenya cukup mudah, cukup colok ke komputer dan micro bit akan terdeteksi sebagai USB disk, kita cukup drag drop firmware terbaru agar berikutnya Micro bit bisa diprogram via browser.

Browser tidak harus di PC, browser ponsel juga bisa dipakai. Untuk transfer kode dari ponsel ke Micro bit, disediakan juga companion app untuk iOS dan Android. Transfer kode dilakukan via bluetooth. Jika memakai PC, kabel USB juga merupakan sumber daya listrik bagi micro bit, jika memakai HP, kita butuh kabel USB atau batere.

Tanpa hardware tambahan

Tanpa hardware tambahan apapun, sudah ada beberapa program yang bisa kita buat dengan Micro bit, misalnya:

  • kompas
  • animasi LED
  • game sederhana (bisa memakai tombol dan atau accelerometer)

Jika kita memiliki dua Micro bit, keduanya bisa berkomunikasi dengan mudah, jadi bisa dibuat berbagai aplikasi misalnya:

  • Mengirimkan pesan (misalnya kode morse)
  • game multiplayer

Kurang ide? ada banyak contoh yang diberikan di website Micro bit

Hardware Tambahan

Micro bit bisa dihubungkan ke device lain dengan alligator clip, device sederhana misalnya: LED, tombol, sensor, dsb. Selain device sederhana, sudah ada beberapa kit yang dirancang agar gampang dihubungkan ke Micro bit, di antaranya:

  • Sensor cuaca
  • Mobil-mobilan
  • Robot

Jadi Micro bit berfungsi sebagai otak untuk benda-benda tersebut. Editor blok memiliki fitur Extensions, sehingga berbagai benda tersebut bisa diprogram tetap menggunakan editor blok yang resmi tanpa perlu instalasi software tambahan.

Benda yang sudah saya belikan untuk Jonathan adalah Ring bit car v2. Mobil ini cukup mudah disusun, walau agak susah membuat kedua rodanya supaya tepat lurus. Di bawah mobil ada 2 LED Neopixel yang bisa diprogram warnanya. Dengan menggunakan dua micro bit, mobilnya bisa dijadikan mobil remote control dengan satu micro bit lain sebagai controllernya. Kita juga bisa menempelkan spidol ke mobilnya supaya mobilnya bisa “menggambar”.

Perbandingan dengan board lain

Ketika membandingkan dengan board lain, kita harus memperhatikan tujuannya. Untuk tujuan mengajari anak-anak board ini sangat bagus. Untuk mengajari orang dewasa atau mahasiswa, board lain akan lebih bagus.

Harga Micro bit sekitar 250 ribu rupiah (sekitar 18 USD). Menurut saya ini tidak terlalu murah, tapi juga tidak terlalu mahal. Jika memikirkan alternatif lain, maka ada dua hal yang bisa dibandingkan:

  • Kemudahan development (termasuk juga ketersediaan library)
  • Kelengkapan hardware dan kitnya

Alternatif yang lebih murah biasanya perlu ditambah dengan banyak modul. Contoh: board Arduino UNO bisa didapat dengan sekitar 3.5 USD, ESP8266 harganya mulai 2.5 USD dan ESP32 mulai 4 USD. Tapi semua board tersebut belum ada accelerometer, magnetometer, output LED dan tombol.

Jika ingin berhemat, maka kita harus menghabiskan waktu untuk:

  • membeli modul (accelerometer + magnetometer + led) dan kabel, serta breadboard
  • menyambungkan modul
  • mencari library yang cocok untuk modul tersebut

Untuk anak-anak yang baru belajar, micro bit ini menurut saya sudah sangat bagus. Design hardware Micro bit ini open source, siapapun boleh membuat versinya sendiri. Jika ini cukup populer, maka ada kemungkinan akan ada clone yang lebih murah (seperti Arduino UNO yang banyak clone murahnya dari China).

Untuk Anda yang tidak punya PC/Laptop, mungkin Raspberry Pi lebih cocok karena sebenarnya itu merupakan komputer mini, jadi tidak butuh komputer kecuali saat instalasi. Tapi harganya Raspberry Pi lebih mahal, dan Anda perlu mempersiapkan keyboard, mouse, SD Card, dan juga layar monitor untuk dihubungkan ke Raspberry Pi.

Sebagai informasi, Raspberry juga punya versi murah yang namanya Raspberry Pi Zero (tanpa Wifi) dan Zero W (dengan Wifi). Teorinya ini harganya sangat murah (5 USD untuk Pi Zero, 10 USD untuk Pi Zero W), tapi kenyataannya ini sulit sekali dicari. Di banyak tempat hanya membolehkan kita membeli satu saja dengan harga 5 USD (jadi jika ditambah ongkos kirim, akhirnya jadi lebih mahal). Sedangkan di tempat lain, harganya dimarkup jadi sampai 20 USD.

Penutup

Micro bit ini menurut saya cukup menarik untuk mengajarkan pemrograman dasar. Dengan micro bit, programmer bisa melihat efek langsung di dunia nyata, bukan cuma di layar komputer. Harga Micro bit ini memang tidak terlalu murah, tapi alternatif lainnya juga harganya serupa atau lebih mahal.

Sebenarnya masih terbuka kesempatan membuat board yang lebih baik dan atau lebih murah. Minggu lalu saya sempat datang ke Chiang Mai Maker Club dan di sana ada pelatihan memakai board mereka, yang tidak lebih murah tapi lebih baik. Informasi mengenai board dari Thailand ini akan saya bahas di posting berikutnya.

Internet Cepat Untuk Programmer

Satu hal yang sangat membuang waktu sebagai programmer adalah: mengupdate software untuk development. Untuk programmer, biasanya ini berkaitan dengan SDK dan IDE yang baru. Biasa kita punya dua pilihan: mengupdate sekarang atau nanti.

Mengupdate sekarang berarti membuang waktu sekarang, dan artinya bisa menunda pekerjaan. Sementara menunda update juga kadang menimbulkan masalah: beberapa hal tidak berjalan lancar, dan kadang jika kita melompati update terlalu banyak, tiba-tiba jumlah masalah jadi meningkat atau bahkan project tidak lagi bisa berjalan.

Kebanyakan IDE hanya akan update jika kita buka. Ini sering mengesalkan buat saya: saya tidak sering memprogram satu topik untuk waktu yang cukup lama. Ketika ingin mulai membuat program: harus update dulu. Kadang hal seperti ini menghilangkan mood untuk membuat program kecil.

“Hanya” 422 Mb

Jika ingat, saya akan menjalankan IDE yang saya pakai hanya sekedar untuk mengupdate saja. Nanti kalau saya benar-benar butuh, setidaknya jumlah updatenya tidak terlalu banyak.

Ditambah lagi dengan 770 Mb

Salah satu alasan saya masih memakai Emacs dan mengcompile di command line (dengan CMake, Gradle, dsb) adalah: saya punya kontrol terhadap proses tersebut. Jika karena update IDE atau project jadi error, saya tetap bisa meneruskan kerja dengan editor dan compile dengan command line.

Ini bakal butuh waktu lama: 5.95 GB

Saya cukup suka dengan IntelliJ, ada ToolBox di toolbar yang memungkinkan kita mengupdate aplikasi cukup dengan satu klik saja. Andaikan ada yang membuatkan ini untuk semua IDE, maka hidup ini akan jauh lebih enak.

Saya beruntung Internet di sini cepat dan murah (saya ambil paket 1200 THB, 500Mbps/500Mbps). Sebelum pulang liburan ke Indonesia, saya mengupdate dulu semua software yang saya pakai, dan ketika di sana tidak mengupdate sama sekali. Saya tidak bisa membayangkan mereka yang harus mendownload bergiga-giga dengan Internet yang lambat.

Saya pake paket yang kanan

Buku Baru: Seri Secret Coders

Masih cerita soal buku yang di beli di Big Bad Wolf Desember lalu. Jonathan gak sengaja memilih 1 buku Secret Coders. Sebenarnya beli buku ini awalnya tertarik karena judulnya saja, dan saya malah gak tau isinya berupa komik. Ceritanya mengenai seorang anak usia 12 tahun yang pindah sekolah dan menemukan beberapa misteri yang ternyata bisa dipecahkan dengan pemrograman. Buku ini sejenis pengenalan pemrograman juga buat Jonathan.

Buku yang kami beli di BBW itu hanya buku nomor 2. Waktu kami kembali ke BBW lagi untuk mencari nomor lainnya, kami gak berhasil menemukannya. Akhirnya karena Jonathan sudah baca buku ke-2 itu berkali-kali, kami memutuskan untuk memnbeli buku lainnya dari Amazon.

Buku ini tersedia dalam format Kindle juga. Waktu kami mau beli akhir Februari lalu, Joe baru tahu kalau buku ke-6 baru akan terbit, dan versi kindlenya belum akan langsung ada. Setelah dibanding-bandingkan harganya, beli versi kindle 1 bukunya 7.6 USD, beli 5 buku kindle 39 USD, nah beli buku fisik 6 buku 40.84 USD, plus ongkos kirim ke Chiang Mai sekitar 10 USD totalnya 50.84 USD, jadi harga bukunya lebih mahal sedikit saja daripada versi kindlenya. Akhirnya rasanya masih tetap lebih murah beli buku fisik. Pertimbangan lainnya, baca komik itu lebih enak pakai buku fisik, jadilah kami beli complete box setnya.

Hari ini bukunya tiba, mengingat kami baru memesan sekitar 22 Februari, dan buku ke-6 nya baru terbit akhir Februari, buku ini tergolong cepat sampainya ke Chiang Mai. Sore ini Jonathan langsung menyelesaikan membaca 5 buku yang belum dia baca dalam waktu beberapa jam saja. Saya yakin, besok-besok dia masih akan mengulang-ulang baca buku ini, seperti halnya buku -buku seri lainnya yang dia punya.

Saya juga jadi ikut-ikutan membaca bukunya, dan ya ternyata ceritanya cukup menarik. Buku pertama menjelaskan konsep bilangan biner dengan mengenalkan istilan buka tutup. Kalau terbuka merepresentasikan 1 dan kalau tertutup merepresentasikan 0. Selain mengenalkan konsep biner, buku pertama ini juga mengenalkan pemrograman dengan mengenalkan instruksi Forward sekian langkah, Right or Left sekian derajat, dan sampai pada instruksi Repeat untuk mengulang-ulang instruksi sebanyak angka didepan instruksi Repeat.

Oh ya, cara menjelaskan suatu konsep di buku ini dibuat dalam bentuk percakapan antara 2 orang anak sekolah. Walau dalam cerita ini tokohnya berumur 12 tahun dan Jonathan masih 8 tahun, tapi Jonathan tidak kesulitan mengerti penjelasan dalam buku ini, mungkin karea dia udah mengenal apa itu bilangan biner dan juga udah sering mengganggu papanya minta diajari beberapa dasar pemrograman. Tapi saya merasa membaca buku ini tidak seperti membaca buku pelajaran pemrograman, semuanya dijelaskan dengan cukup sederhana. Ah andaikan saya baca buku ini sebelum kuliah dulu, mungkin saya akan lebih cepat ngerti pemrograman waktu tingkat 1 dulu hahaha.

Kalau melihat Jonathan selalu senang membaca buku-buku seperti ini, rasanya senang banget membelikan dia berbagai buku. Mudah-mudahan saja dia gak bosan dengan buku-buku seperti secret coders ini dan ya siapa tahu nanti besarnya bisa lebih jago mrogram dari papanya hehhehe.

Oh ya, kalau ada yang punya rekomendasi buku lainnya seri belajar pemrograman untuk anak-anak, tuliskan di komentar ya, supaya nambah bahan bacaan Jonathan hehehe.

GPU Raspberry Pi

Salah satu kelebihan Raspberry Pi (RPI) dibandingkan Single Board Computer (SBC) lain adalah: harganya relatif murah dan memiliki GPU yang terdokumentasi resmi dan bisa dimanfaatkan dengan berbagai API low level. Beberapa SBC lain ada yang harganya lebih murah (misalnya Orange Pi) tapi dokumentasinya kurang, dan beberapa yang lain lebih powerful (misalnya NVidia Jetson) dengan dokumentasi yang cukup baik dari produsen (tapi masih kurang dari komunitas) tapi harganya 10x lipat dari RPi 3.

GPU Raspberry Pi cukup powerful, dan bisa melakukan beberapa hal menarik misalnya: tunelling dari kamera (dengan konektor CSI) langsung ke layar, colorspace conversion, video/image encoding and decoding,  resizing, dan overlay. Kita juga bisa meminta agar data dari kamera langsung dijadikan texture untuk OpenGL ES.

Secara praktis tunnelling artinya satu komponen ke komponen lain bisa bekerja langsung tanpa buffer. Contoh nyatanya begini: kita bisa membuat aplikasi yang kelihatan smooth karena data dari kamera tampil langsung di layar dengan kecepatan tinggi (30 fps) tanpa memakai CPU sama sekali. Sementara di latar belakang kita bisa mengambil gambar, memproses (misalnya face detection) dan menampilkan hasilnya.

Proses ini membypass windowing system, jadi bisa jalan bahkan tanpa X Window (mode teks sekalipun).

Video dari kamera bisa ditampilkan di mode teks

Fitur texture OpenGL ES artinya kita bisa menampilkan gambar kamera atau video (dari file atau jaringan) langsung di permukaan  misalnya kubus atau teko. Selain itu kita bisa menggunakan pixel shader untuk memproses data tanpa memakai CPU, contohnya membuat filter kamera secara real time, atau bahkan melakukan preprocessing untuk algoritma machine learning. Data yang sudah diproses bisa dibaca dan diproses lebih lanjut di CPU dengan glReadPixels. Lanjutkan membaca “GPU Raspberry Pi”

Membedah e-KTP

Posting ini sekedar membahas tentang kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP). Sampai saat ini saya belum pulang ke Indonesia untuk mengurus e-KTP karena KTP lama masih berlaku. Waktu orang tua saya datang ke sini tahun lalu saya sudah sempat ngoprek e-KTP mereka sedikit, dan sekarang selagi mereka berkunjung saya teruskan dan tuliskan hasil eksplorasi saya.

Sebagian isi tulisan ini didapat dari reverse engineering, dan sebagian lagi dari berbagai informasi yang tersebar di Internet. Ada juga bagian yang merupakan spekulasi saya dari informasi yang ada.

Security sebuah smart card

Sebuah smart card adalah sebuah komputer kecil, di dalamnya ada CPU, RAM, dan juga storage. Smart card diakses menggunakan reader, secara umum ada dua jenis: contact (menggunakan konektor fisik seperti SIM card) dan contactless (tanpa konektor fisik seperti kartu e-Money berbagai bank saat ini). Dari sisi programming keduanya sama saja. Kartu smart card yang baru umumnya juga sudah tahan (immune) terhadap side channel attack (DPA/SPA/FI dsb). Lanjutkan membaca “Membedah e-KTP”

Lulusan Kuliah IT seharusnya bisa apa?

Tahun lalu saya membaca mengenai skill yang seharusnya dimiliki lulusan SMK. Entah kenapa tulisan ini beredar lagi di timeline saya tahun ini. Ketika saya baca lagi mengenai skill yang diharapkan, kebanyakan skill ini bahkan tidak dimiliki oleh lulusan Sarjana Informatika/Ilmu Komputer/Teknologi Informasi (berikutnya akan saya singkat jadi: lulusan/sarjana IT).

Sudah menjadi fakta bahwa banyak lulusan IT yang tidak bisa memprogram (silakan baca artikel: Why can’t programmers.. program?). Separah ini:

Like me, the author is having trouble with the fact that 199 out of 200 applicants for every programming job can’t write code at all. I repeat: they can’t write any code whatsoever.

Sebelum diskusi masuk ke masalah pekerjaan, kesuksesan, jiwa entrepreneur, dsb saya ingin menekankan dulu: lulusan apapun dengan skill bagaimanapun bisa bekerja di berbagai bidang yang tidak sesuai jurusan yang diambilnya. Tapi jika sebuah negara ingin bisa maju di bidang tertentu, ya tentunya yang diharapkan adalah lulusan dari bidang tersebut memiliki skill yang baik dan berkontribusi di bidangnya. Lanjutkan membaca “Lulusan Kuliah IT seharusnya bisa apa?”