Lebih Memilih Buku Digital

Hari Sabtu lalu, saya memulai membaca buku Mark Manson yang ke-2, judulnya “Everything is F*cked: A Book About Hope”. Awalnya, saya membaca buku fisik, dapat pinjaman dari teman yang baru beli sekaligus buku 1 dan 2 dari Book Depository.

Gayanya mau baca banyak, nyatanya?

Saya membaca sambil menunggu anak-anak yang sedang belajar gambar. Di lokasi yang sama ada coffee shop yang sepi dan nyaman untuk duduk membaca. Jadi saya pikir, saya akan bisa membaca paling tidak beberapa bab dari buku ini.

Ternyata, saya sudah lama sekali tidak membaca buku fisik yang tulisannya kecil. Walau suasana sepi dan harusnya saya bisa konsentrasi membaca, nyatanya saya tidak bisa mengikuti bagian awal dari buku yang bercerita fakta sejarah dari seseorang bernama Pilecki dari Polandia dalam usaha heroiknya membela negaranya Polandia melawan Soviet dan Nazi yang pada masa itu terjepit di tengah-tengah.

Saya baru mulai tertarik ketika bagian buku mulai dengan ciri khas Mark dengan gaya bahasa yang terdengar kasar tapi mengandung kebenaran. Lalu saya pikir, “Oh saya tidak suka dengan fakta sejarah, makanya saya tidak bisa menikmati bagian depan bukunya”.

Lalu hari ini, saya ingin menceritakan isinya ke Joe, tapi kok sulit ya menceritakan tanpa bisa mengutip dengan mudah alias harus ketik ulang. Saya tak kehabisan akal, biasanya di Kindle atau Google Playbook akan ada beberapa bab pertama diberikan secara gratis. Sayapun mengunduh bagian gratisannya supaya bisa mengutip kata-kata yang ingin saya bagikan dengan mudah.

Lalu, saya terpikir lagi untuk membaca buku ini dari awal. Dan ternyata, saya bisa menikmati cerita tentang Pilecki dan hampir menyesal telah melewati fakta sejarah yang diceritakan di bagian awal buku ini.

Kisah Pilecki ini menyedihkan tapi juga sekaligus memberikan inspirasi. Dia ini sudah seperti jatuh tertimpa tangga, terpeleset dan akhirnya juga menyedihkan. Tapi sampai akhir hidupnya, ketika dia diminta memberi kata terakhir pun dia masih tetap menginspirasi dengan bilang kalau dia sudah mencoba untuk selalu memilih sukacita daripada ketakutan sepanjang hidupnya.

Nah, kesimpulan saya sebelumnya ternyata salah. Saya bukan tidak suka cerita sejarah, tapi saya tidak bisa menikmati bacaan kalau tulisannya terlalu kecil. Konsentrasi terpecah untuk membaca kata-katanya dan memahami jalan ceritanya.

Akhirnya beli di Google Playbook, hemat 100 baht lebih daripada versi Kindle

Maka, saya putuskan untuk membeli buku digitalnya. Sebelum membeli buku digital, tentu saja membandingkan harga di Kindle Store dan Google Playbook. Berhubung di Google Playbook lebih murah 100 baht, maka jadilah saya membeli dari Google Playbook saja.

Terus bacanya sudah sampai mana? Masih di bab 2 sih, tapi saya agak lama berpikir ketika membaca bagian bab 1 ini. Di masa pandemi Covid-19 yang belum kunjung berakhir ini, walaupun di Thailand sudah mulai merasa aman, tetap saja ada perasaan campur aduk melihat cara masyarakat di Indonesia menyambut pelonggaran PSBB. Mereka tidak memperhatikan kalau kondisinya belum aman dan malah makin parah, malah sibuk berwisata atas nama bosan.

Masih merasa galau berarti masih berharap

Kadang saya pikir, buat apa saya marah? buat apa saya sedih? biarin aja deh di sana, kan saya di sini. Eh tapi jangan salah, keluarga saya kan masih di sana semua, dan saya kan juga masih ada keinginan untuk bisa pulang kampung ataupun liburan. Tapi sekarang saya mengerti, perasaan galau yang ada itu karena saya masih perduli dan karena saya masih punya pengharapan kalau keadaan akan membaik di Indonesia seperti halnya di Thailand.

Eh maap jadi curcol, kembali ke soal buku. Jadi menurut buku ini, untuk membangun dan mengelola pengharapan kita butuh 3 hal: perasaan semua terkendali, percaya akan nilai sesuatu dan punya komunitas.

Nah, kalau buku fisik buku sendiri bukan meminjam, mungkin saya akan kasih stabilo warna warni dan coret-coret. Tapi ruang menulisnya sebenarnya sudah sangat kecil di buku fisik. Di buku digital mewarnai dan menambahkan catatan bisa lebih banyak ruangnya. Kalau mau di salin ke teks editor juga lebih mudah. Inilah juga salah satu kenapa saya lebih cocok dengan buku digital.

Karena bukunya belum selesai dibaca, cerita tentang isi bukunya dilanjutkan lain kali. Hari ini memang cuma mau cerita akhirnya beli buku ke-2 Mark Manson yang digital juga (yang pertama juga bacanya versi digital).

Mudah-mudahan baca buku yang ini bisa lebih cepat daripada baca buku pertama “The Subtle Art of Not Giving a F*ck”. Kalau sudah selesai membaca buku ini, nanti akan saya tuliskan lagi di blog ini.

7 thoughts on “Lebih Memilih Buku Digital”

  1. Akutu sampe googling.
    kenapa orang lebih memilih menggunakan kata kasar.
    Ternyata, maknanya lebih dalam daripada kata-kata biasa.
    mengingat era yang sudah berubah.

    Semoga buku-buku Indonesia gak mengalami pergeseran makna kayak gini yaa..
    Sulit memahami sebenernya…

    1. kadang2 mungkin lebih greget aja ya pake kata2 yang terkesan kasar. Untungnya isi bukunya ga semua kasar, selalu ada penjelasan selanjutnya. Aku juga tadinya enggan baca buku pertamanya karena judulnya kesannya kasar, eh tapi ternyata sebagian besar aku setuju sama isinya. mirip2 dengan kadang aku pengen “bashing” karakter di drakor, hihihi

    1. Aku juga ga bisa menemukan kata yang pas untuk bahasa Indonesia nya, makanya baca bahasa Inggrisnya. Tapi emang kata ambyar atau kacau atau bubar ga karuan dan carut marut cukup mendekati sih dengan maksud dari bahasa Inggrisnya

  2. Oalah…buku digital tu bisa gitu ya? Saya malah catatan buku digital tetap disalin manual di buku tulis.

    1. tulisanku jelek mbak, jadi aku lebih suka mencatat digital aja biar gampang bacanya lagi hihi. bisa screen capture ataupun copas ke gdoc, atau langsung tulis notes di e-booknya. kalau pindah device, catatan nya kebawa selama pakai account yang sama.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.