Susahnya Menulis Fiksi

Buat sebagian orang, menulis fiksi itu hal yang mudah. Kenapa? karena bisa menyalurkan imajinasi seluas mungkin dan tidak harus masuk akal. Selalu ada pembelaan: namanya juga fiksi. Lalu, kalaupun ceritanya terkadang mirip dengan kisah seseorang, bisa kasih disclaimer kalau semua kemiripan tokoh dan nama hanya kemiripan semata. Teorinya, menulis fiksi itu gampang, segampang berangan-angan di siang bolong.

Tapi buat saya, menulis fiksi itu sulit. Sudah banyak membaca cerita fiksi, sudah banyak menonton drama dan film-film. Sudah banyak melatih imajinasi. Tapi, berkomentar dan menuliskan apa yang kurang atau lebih dari suatu karya fiksi itu tidak sama dengan menghasilkan karya fiksi sendiri.

Niatnya fiksi, jadinya opini dan prediksi

Saya pernah mencoba menulis fiksi berupa cerita pendek. Tetap saja walaupun ada idenya, untuk menyelesaikan tulisannya sesuai niat awal sungguh menjadi tantangan tersendiri.

Masa pandemi ini membuat saya terinspirasi mencoba menulis fiksi, Kisah Pernikahan di masa Corona, lalu Kisah Bunga dan Sepatu, terakhir fan fiction drama Korea: The King Eternal Monarch dan pandemi.

Cerita fiksi itu buat saya menarik kalau bisa membuat saya merasakan emosi. Emosi karena kelakuan karakternya, atau merasa emosional dengan rangkaian peristiwa yang terjadi baik itu emosi bahagia, takut, sedih ataupun marah. Menurut saya, sebuah fiksi berhasil kalau bisa membuat pembacanya tenggelam dalam berbagai deskripsi dan emosi dari tokohnya.

Tapi ini semua buat saya hanya teori. Sampai sekarang, saya tidak berhasil menuliskan fiksi yang membuat saya merasa emosi. Saya belum bisa menciptakan tokoh yang bisa bikin saya gemetar menuliskannya karena terlalu jengkel oleh kelakuannya misalnya.

Kalau saya baca-baca lagi, tulisan saya walau judulnya fiksi, akhirnya masih lebih ke arah opini dan prediksi dengan membuat tokoh sekedar bernama tapi tidak tergambar emosinya ataupun deskripsi fisiknya.

Kesulitan dalam menulis fiksi

Beberapa hal yang menjadi kesulitan saya ketika menuliskan fiksi misalnya:

  • Saya tidak bisa menuliskan kalau ceritanya terlalu mengada-ada, walaupun dalam fiksi seharusnya kita bisa berimajinasi tanpa batas, tapi akal sehat selalu memberontak kalau terlalu mengada-ada
  • Ketika menceritakan sesuatu yang tidak ada di dalam realitas, saya sulit mengingat konsistensi sifat dari hal yang diciptakan dalam imajinasi tersebut.
  • Ada kekhawatiran kalau tanpa sadar saya sedang menceritakan sesorang yang saya kenal (karena bisa saja inspirasi ceritanya dari orang yang saya kenal).
  • Membatasi supaya deskripsi tokoh tidak terlalu mirip atau menambahkan imajinasi berdasarkan orang tersebut malah membuat saya khawatir kalau orang tersebut membaca malah jadi protes karena saya membelokkan fakta (loh kan namanya juga fiksi gitu ya).
  • Saya juga terkadang khawatir kalau plot ceritanya ada kemiripan dengan kisah saya, ketika masuk ke bagian imajinasi malah disangka sebagai berdasarkan kisah nyata.
  • Saya juga sering tidak sabar untuk menuliskan deskripsi lokasi, peristiwa, urutan kejadian, ekspresi dari tokoh yang penting untuk membuat ceritanya lebih bisa dinikmati.
  • Saya tidak sabar menuliskan percakapan yang membangun plot ceritanya menjadi lebih utuh walaupun percakapannya mungkin sudah terbayang di kepala.

Penulis fiksi itu orang sabar

Menurut saya, menjadi penulis fiksi itu selain kaya akan imajinasi tapi juga harus punya kesabaran yang luar biasa, misalnya:

  • Kesabaran untuk menuliskan berbagai deskripsi tempat, peristiwa, tokohnya dan ekspresi dari masing-masing tokoh.
  • Kesabaran untuk menuliskan dialog yang membangun ceritanya.
  • Kesabaran untuk membangun plot yang membuat pembaca tidak merasa bosan dan memutuskan berhenti membaca ceritanya.
  • Kesabaran menghadapi tokoh yang dia ciptakan padahal mungkin saja tokoh itu menjadi tokoh antagonis dari ceritanya.

Selain kesabaran ketika menuliskan fiksi, mereka juga harus punya kesabaran ketika minta kritik dan saran lalu ketemu dengan calon pembaca seperti saya yang terlalu pakai logika, hahahaha.

Saya kagum dengan imajinasi tanpa batas dari para penulis buku klasik seperti Alice in Wonderland maupun The Wonderful Wizard of Oz. Dua buku klasik ini bukan hanya detail dalam deskripsi, tapi juga kaya dengan imajinasi dan pelajaran hidup penuh arti. Buku anak-anak yang dituliskan lebih dari 100 tahun lalu, tapi masih bisa dinikmati segala usia sampai tahun 2020 ini.

Menulis setiap hari itu tidak selalu mudah, menulis fiksi lebih sulit lagi buat saya. Saya salut dengan teman-teman yang rajin menulis fiksi (hampir) setiap hari. Pertanyaan untuk diri sendiri, mampukah saya melatih kesabaran untuk menulis fiksi?

4 thoughts on “Susahnya Menulis Fiksi”

  1. Sama lah kita… keknya gk bisa ngarang pisan.. makanya dulu nilai ujian sejarah sama PMP ku pas2an… gk bisa dipanjang2in.
    Tapi fiksi gk selalu mengada2 lho eonnie… kehidupan nyata malah sering mengada2… #eeaaaa

  2. Komen mbadui sungguh paling juara “kehidupan nyata malah sering mengada2”
    Hahahahahaha
    Bikin lagi dong hey kolaborasi fiksi di antara kalian

    1. loh loh kok kalian, kita dooong kolaborasi 1 grup, pasti isinya super duper mengada2 seperti hidup yang terkadang absurd

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.