Upgrade Internet dapat HBO

Bulan lalu, kami melihat ada tawaran upgrade paket internet dari provider 3BB di mana kami berlangganan. Sebelumnya kami membayar 1200 baht/bulan untuk kecepatan 700Mbps/700 Mbps. Lalu ada penawaran dengan menambah 39 baht/bulan (ga sampai 20 ribu rupiah) bisa mendapatkan paket Gigatainment. Dengan membayar 1239 baht/bulan, kami bisa mendapatkan koneksi internet yang lebih cepat menjadi 1Gbps/1Gbps dan tambahan paket HBO Go, MonoMax dan OKE.

Paket HBO nya selain HBO GO yang merupakan kumpulan film yang kita pilih kapan saja kita ingin menontonnya seperti Netflix, juga ada Live Stream yang punya jadwal penayangan filmnya: HBO Hits, HBO Signature, HBO Family, HBO Red dan Cinemax. Bedanya apa sih? Sepertinya itu cuma beda penargetan pemirsa saja, kalau buat saya sih lebih suka yang on demand nya, jadi bisa pilih mau nonton apa kapan saja.

Lanjutkan membaca “Upgrade Internet dapat HBO”

Kenapa saya gak aktif di Instagram dan Twitter

Jaman sekarang ini sepertinya hampir semua orang beralih dari FB ke Instagram atau Twitter. Walaupun ada juga yang posting di FB, IG dan Twitter hal yang sama saja.

Mungkin ini tandanya saya sudah masuk generasi yang tidak mengikuti jaman. Saya punya account IG dan twitter, tapi rasanya enggan untuk aktif di sana. Untuk twitter bahkan saya sudah tidak login lagi karena lebih pusing lagi melihatnya.

Beberapa alasan kenapa saya tidak suka ber IG:

  • kebanyakan hastag, saya pusing baca caption dengan sejuta hastag yang kadang ga berhubungan
  • tulisan yang kecil-kecil dalam foto sungguh sudah tidak terbaca lagi
  • kadang-kadang ada video yang cuma beberapa detik tapi berulang ulang gerakan yang itu-itu saja, dan loadingnya bisa lama banget
  • saya lebih suka membaca tulisan daripada melihat video
  • suka pusing kalau ada yang berusaha bikin tulisan panjang lebar di 1 posting instagram, tapi karena keterbatasan jumlah huruf di caption, dilanjutkan di bagian komen
  • upload dan edit di IG juga terasa gak semudah FB

Iya namanya selera ya bebas ya, kebanyakan orang di FB juga tidak suka membaca tulisan kalau tidak ada fotonya, sedangkan di IG kebalikannya, kita tidak bisa posting kalau ga ada gambarnya. Karena katanya sebuah gambar itu bisa mewakili ribuan kata. Tapi pertanyaanya, kalau begitu, kenapa masih repot-repot menambahkan tulisan panjang lebar sampai super kecil di IG?

Sama halnya saya tidak suka twitter, saya pusing melihat orang yang berusaha menjelaskan hal panjang lebar dalam banyak posting, yang nantinya bisa dibalas satu persatu dan akhirnya bingung ini asal mulanya dari mana ya.

Kalau mau baca artikel, saya lebih suka artikel yang utuh dan sukur-sukur terstruktur. Saya bisa langsung ke bagian yang saya butuh kalau memang tidak mau baca bagian depannya.

Makanya saya memilih menulis di blog kalau memang ingin menulis panjang lebar. Saya bisa tambahkan foto kalau mau, kalau tidak juga tidak masalah. Linknya tinggal dibagikan di FB kalau memang pengen dibagikan.

Untuk melakukan pencarian, lebih mudah mencari kata daripada mencari penjelasan sesuatu dalam video atau dalam gambar yang dikasih tulisan panjang lebar.

Satu hal lagi yang saya kurang suka, adanya pemaksaan untuk memfollow account IG tertentu dan ngetag orang lain untuk memberi tahu sebuah event tertentu.

Iya, saya tahu, namanya juga teknik marketing jaman sekarang ya seperti itu. Mau gak mau ya harus ikut aturan, kalau ga mau ya minggir aja.

Banyak orang tidak suka baca tulisan terlalu panjang memang, jadi tulisan ini saya akhiri sebelum kepanjangan.

Aplikasi Bank di Thailand

Tulisan ini bukan iklan, tapi cuma mau cerita sedikit pengalaman memakai aplikasi bank di Thailand. Siapa tahu ada yang berencana pindah dan menetap di Thailand dan buat jadi gambaran kalau mau dibandingkan dengan layanan perbankan di Indonesia.

Sejak kami tinggal di Chiang Mai, kami membuka rekening bank lokal. Awalnya sih, Joe, berikutnya supaya lebih mudah untuk saya ambil duit, saya juga bikin rekening sendiri. Waktu kami membuka rekening, persyaratan utama selain passport, harus punya ijin tinggal dan ijin kerja. Untuk Joe sih tidak ada masalah, karena memang dia bekerja dan bahkan gajinya ditransfer masuk langsung ke bank. Untuk saya yang datang dengan visa ikut suami gimana? Karena Joe udah punya rekening disitu, mereka minta passport Joe aja sebagai syarat tambahannya.

Sejak buka rekening, pastinya sudah bikin kartu ATM dan internet bankingnya. Tapi saya jarang buka internet banking. Agak panjang stepnya kalau harus selalu masukin user id, password, dan malas melihatnya kecil sekali di layar HP.

Aplikasi perbankan di HP sebenarnya sudah ada beberapa tahun, tapi saya jadinya sudah kebiasaan minta Joe yang eksekusi kalau ada kebutuhan transfer ini itu. Saya bukan orang yang suka belanja online jadi tidak merasa butuh sering-sering transfer, tapi ya kadang-kadang mulai terasa kalau butuh bayaran kursus anak-anak lebih mudah kalau saya yang lakukan karena saya yang lebih sering antar jemput anak-anak.

Beberapa bulan lalu, saya pernah mencoba untuk mengaktifkan aplikasi perbankan di HP, instruksinya sih disuruh ke ATM, tapi sudah beberapa kali dicoba, tidak berhasil dan disuruh menghubungi cabang bank terdekat. Akhirnya saya menyerah dan hampir lupa untuk meneruskan niat memakai aplikasi perbankan di HP.

Awal tahun 2020, di saat ada waktu luang, saya ingat lagi untuk ke bank membawa buku bank dan passport untuk mengaktifkan aplikasi perbankan di HP. Awalnya, si mbak yang bantuin ajak saya ke ATM untuk aktifkan (dan tentu saja gagal lagi). Akhirnya mereka melakukan pengaktifan secara manual.

Ada beberapa masalah sepertinya yang mengakibatkan saya tidak bisa mengaktifkan langsung dari mesin ATM. Nomor passport saya yang tercatat di sistem bank dan nomor passport saya yang sekarang sudah tidak sama (ya sudah lebih 5 tahun yang lalu sih buka rekeningnya). Masalah berikutnya: karena saya memakai dual sim card dan data internetnya bukan di nomor utama, sistem banknya tidak mengijinkan aplikasinya untuk login. Akhirnya saya harus menonaktifkan dulu nomor yang saya pakai untuk paket data internetnya.

Perjalanan panjang untuk bisa memakai aplikasi perbankan tidak sia-sia. Sekarang ini saya bisa merasakan berbagai kemudahan dari memakai aplikasi perbankan selain untuk kebutuhan transfer dana.

Ada beberapa fitur dari aplikasi perbankan di HP yang saya suka banget selain untuk transfer dana.

Lanjutkan membaca “Aplikasi Bank di Thailand”

Internet di HP: Beli Paket Data VS WIFI Gratisan

Saat ini, hampir semua orang sudah punya HP yang bisa akses internet. Hampir semua orang juga mengupayakan supaya HP nya bisa ‘on’ terus dan terkoneksi ke internet. Harga paket internet juga sangat beragam.

Saya ingat, di jaman awal punya HP yang bisa konek internet dulu, saya sering beli simcard yang lagi promosi demi bisa akses internet. Ada 2 pilihan: bayar volume data atau bayar jam pemakaian. Karena cuma punya HP 1, ya jadinya sering tukar-tukar nomor HP. Atau ya tukar kartu untuk bisa online, lalu tukar lagi untuk nomor yang dipakai.

Dulu pernah sengaja beli HP yang bisa dijadikan modem juga. Jadi akses internetnya tetep dari komputer/laptop. Lama-lama, mulai ada HP yang bisa akses ke WiFi. Tapi di Indonesia masa itu, masih sedikit tempat untuk akses wifi gratisan.

Sekarang ini, hampir semua orang pakai HP cerdas yang selain bisa koneksi internet dengan paket data yang disediakan provider, bisa juga terkoneksi melalui wifi. Sejak di Thailand, kami sudah sangat terbiasa mengakses internet 24 jam dengan kecepatan yang lumayanlah. Di rumah kami sengaja berlangganan internet yang terhubung dengan fiber optik, tapi kalau keluar rumah, untuk keperluan komunikasi kami berlangganan paket data lagi di HP. Kadang-kadang kalau dihitung-hitung, pulsa yang diisikan ke HP ya dipakainya hanya untuk beli paket data itu saja. Semua panggilan dan pesan disampaikan lewat aplikasi chat via internet.

Karena sudah terbiasa dengan HP konek 24 jam ke internet, kalau sedang traveling kami juga selalu mencari tahu bagaimana memperoleh paket data yang murah di tempat tujuan. Kalau pulang ke Indonesia, karena kami masih punya simcard Indonesia, kami tinggal perlu mencari paket mana yang akan dipilih. Kalau travelingnya dalam negeri Thailand, tentunya ga ada masalah. Nah kalau perginya ke negara lain selain Indonesia dan Thailand kami akan cari tahu bagaimana mendapatkan akses internet di HP yang termurah.

Pengalaman waktu ke Singapur, mereka menyediakan paket data yang sangat besar untuk turis selama 5 hari. Waktu ke Hongkong juga ada paket data untuk turis yang bisa dibeli di airport. Di Hongkong, beberapa hotel memberikan fasilitas peminjaman modem dan HP dengan nomor lokal gratis. Tapi waktu Joe ke Abudhabi kemarin, dia malah memilih roaming paket internet dari XL (karena kebetulan masih punya banyak pulsa di kartu XL nya).

Mungkin ada juga yang merasa gak butuh internet selama traveling dan cukup dengan mencari koneksi WiFI gratisan di hotel atau di tempat umum lainnya. Tapi buat kami, kadang-kadang mencari wifi gratisan ini tidak praktis.

Beberapa contoh internet dibutuhkan ketika traveling:

  • ketika mendarat di singapura, pesan grab bisa saja pakai wifi di bandara, tapi biasanya begitu keluar dari bandara koneksi terputus dan bisa susah untuk berkomunikasi dengan supir grabnya misalnya dia tidak berhenti di titik yang kita sebutkan ketika memesan
  • akses ke google map kalau lagi nyasar di jalan. Waktu di hongkong, kami juga mencoba naik MRT dan berjalan kaki untuk menuju ke tempat wisata. Kalau tidak ada google map, kayaknya saya bakal nyasar deh walau ada banyak petunjuk jalannya.
  • komunikasi sesama anggota keluarga. Kadang-kadang saya harus bawa 1 anak ke toilet, sementara Joe nunggu dengan anak yang 1 lagi, nah yang nunggu ini kan ga bisa diam di 1 titik, jadi ya paling setelah urusan ke toilet selesai bisa bertanya ada di titik mana buat bertemu lagi.
  • kalau janjian dengan teman (misalnya berencana bertemu teman yang tinggal di negara yang kita kunjungi), supaya gampang dan in case terlambat dari waktu yang sebelumnya diomongkan, ada baiknya bisa akses internet selagi di perjalanan. Waktu saya ke singapur, janjian dengan teman ketemu bukan di rumahnya, nah kalau ketemu di food court aja kadang suka bingung duduknya dekat dengan jualan yang mana, jadi ada baiknya kalau bisa bertanya setelah dekat dengan lokasi sebelumnya.

Memang kesannya jadi ketergantungan ya dengan internet. Tapi ya pernah juga nih, teman saya janji akan datang ke rumah. Di tunggu-tunggu gak ada kabar. Ternyata katanya dia ketinggalan HP dan ga ingat nomor telpon saya. Lalu dia juga ga punya akses ke internet walaupun bawa tablet. Jadinya dia menelpon teman saya yang dia ingat nomornya, lalu teman saya itu mengontak saya lewat FB chat. Nah kalau misalnya FB chat saya tidak diinstal atau kebetulan HP saya lagi gak konek ke internet gimana? Masalahnya adalah: teman saya yang menolong itu tidak mengirimkan nomor telepon yang dipakai untuk menelpon dia. Haduh ribet deh janjian jaman sekarang kalau HP ketinggalan hehehe.

Aduh jadi kemana-mana ini ceritanya. Kalau dipikir-pikir, dulu jaman belum ada HP ataupun internet bisa aja ya janjian ga pake ribet. Kenapa sekarang jadi ribet? karena ada HP dan bisa konek setiap saat, ada kecenderungan kita menggampangkan. Gampang ntar tinggal kabari. Gampang ntar di update udah sampai mana. Nomor HP teman ga perlu dihapal, kan semua ada di memori HP. Kalau tiba-tiba HP ketinggalan, baru deh jadi ribet hehehe. Atau kalau tiba-tiba koneksi internet terputus seperti masa FB dan WA down, baru deh pusing.

Nah kalau saya sih selalu pilih beli paket data daripada nyari-nyari WiFi gratisan supaya bisa konek internet dari HP setiap dibutuhkan. Sebelum pergi keluar rumah juga selalu memastikan kalau HP gak ketinggalan biar ga pusing hehehe. Kalau kalian kira-kira pilih mana?

Makin Banyak Penipu di dunia Maya

Waktu baru mengenal internet, dapat materi khusus mengenai etika berinternet dan perlunya berhati-hati di dunia maya. Dari dulu namanya orang jahat sudah ada, tapi di dunia maya sepertinya orang-orang jahatnya makin banyak dan makin kreatif cara menipunya.

Kalau dulu, orang-orang takut untuk bertransaksi online dengan menggunakan kartu kredit, sekarang ini belanja online sudah sangat mudah untuk dilakukan. Kita tidak harus pakai kartu kredit untuk bisa berbelanja online. Selain itu, dengan banyaknya bentuk uang digital, semakin membuat orang mudah sekali bertransaksi online.

Kalau dulu, orang jahat di dunia online yang dikenal cuma hacker (yang biasanya nguras kartu kredit ataupun nyebarin virus). Kebanyakan orang berpikir hacker ini harus jagoan komputer. Tapi sekarang yang namanya penipu sangat berbeda dengan hacker dan kebanyakan ya menipu dengan ‘ngomong doang’.

Penipu Identitas

Paling banyak itu menipu dengan mengaku sebagai orang lain. Dari jaman telepon saja, orang sudah sering telepon ke rumah bilang anggota keluarganya kenapa-napa dan harus kirim uang untuk biaya pengobatan. Setelah jaman sms, aplikasi chat dan media sosial, semakin banyak orang berusaha mengambil alih akun seseorang lalu dengan berbagai alasan berusaha meminta uang dari orang-orang yang ada di daftar kontak akun yang diambil alih tersebut.

Banyak juga penipuan dengan menyebarkan informasi perlombaan berhadiah tapi yang menerima harus kirim duit sekian persen dari hadiah.

Sebenarnya penipuan identitas ini bukan hal yang baru, dan saya tidak ingin menuliskan detail karena tidak ingin memberi ide, tapi intinya dengan adanya internet, orang jahatnya makin banyak dan makin bervariasi cara menipunya.

Penipu Sebagai Penjual

Dengan semakin gampangnya akses internet untuk semua orang, hampir semua orang bisa berjualan. Penjual penipu ini banyak berjualan di platform media sosial ataupun platform jual beli yang tidak menyediakan jasa penjamin transaksi.

Saya pernah baca teman saya membeli casing HP via FB dan setelah dia transfer uangnya, barangnya gak kunjung dikirim juga. Setiap kali teman saya bertanya di wall penjual tersebut, komentarnya selalu langsung dihapus dan akhirnya teman saya diblock sama penipunya supaya ga bisa komen dan komen yang tersisa di wall penjual ini seolah testimoni yang baik-baik saja.

Selain penjual yang tidak mengirimkan barang, ada juga penjual yang mengiklankan barang super murah dibandingkan toko lainnya, tapi ketika dikirimkan tidak sesuai dengan deskripsi. Pokoknya ada aja celah yang bikin gak bisa diklaim lagi walaupun itu dijual di platform yang ada penjamin transaksi.

Penipu Sebagai Pembeli

Nah untuk tipe ini saya baru dapat cerita dari teman saya. Jadi teman saya ini menjual benda yang sudah dia tidak pakai lagi tapi masih bagus. Begitu dia pasang iklan, 5 menit kemudian langsung ada yang bilang mau beli dan gak pake nanya banyak minta nomor rekening untuk transfer. Lalu dia akan nanya punya nomor rekening bank lain selain yang disebutkan sebelumnya gak.

Dengan alasan beda bank, dia kirim bukti transfer yang katanya pakai ponsel dan butuh diaktivasi untuk menerima duitnya masuk ke rekening. Beberapa yang saya baca di internet penipunya akan meminta kita memasukkan kode aktivasi di ATM.

Kalau dari cerita teman saya, orangnya bahkan menelpon untuk mendesak masukkan kode aktivasi yang diterima di SMS ke mbanking teman saya. Alasannya kalau tidak diaktivasi dana yang dia kirim jadi pending. Tapi setelah teman saya tidak mengerjakannya akhirnya dia diam dan ga mengontak lagi. Mungkin dia sadar ketahuan kedok menipunya jadi tidak meneruskan usahanya.

Aneh kan sebenarnya kalau ada orang mau beli udah transfer uang tapi gak bertanya lagi. Kalau orang itu beneran mau beli, pasti deh dia nanya lagi sampai transaksi selesai.

Kesimpulan

Mau di dunia nyata ataupun di dunia maya, kita harus hati-hati karena ya namanya orang jahat ada di mana-mana. Untuk transaksi online atau transfer uang, harus lebih berhati-hati. Kalau bisa punya 2 rekening terpisah, di mana 1 rekening untuk yang biasa digunakan transaksi online dan atm, dan rekening utama untuk menyimpan tabungan.

Perhatikan kalau ada usaha mengambil alih akun kita terutama akun e-mail yang kita pakai untuk daftar kegiatan perbankan kita. Bukan cuma pintu rumah yang perlu kunci ganda, kunci akun e-mail juga kadang-kadang perlu kunci lebih dari 1.

Ada yang mau berbagi pengalaman nyaris tertipu di internet?

Pengalaman Belanja di Tokopedia

Jaman sekarang ini belanja online sudah jadi hal biasa. Penyedia jasa untuk berbelanja online ini juga ada banyak, kita tinggal pilih saja. Dari sekian banyak yang ada, saya baru sekali ini mencoba belanja online di Tokopedia, di pesan dari sini untuk di kirim ke alamat Indonesia.

Kenapa milih Tokopedia? gak ada alasan khusus sih, namanya juga pengen nyoba aja hehehe. Ceritanya saya lagi nitip bawain kopi Aroma ke temen yang lagi pulang ke Indonesia untuk di bawakan ke Chiang Mai. Tapi si Kopi Aroma Bandung ini tidak dijual bebas di toko/swalayan, tokonya cuma ada di Bandung dan mereka tidak melayani penjualan secara online. Satu-satunya cara ya akhirnya mencari dari toko online.

Waktu mulai pencarian, ada banyak sekali toko online, akhirnya saya memilih toko online yang lokasinya di Bandung dan rating/jumlah pesananya paling tinggi. Kenapa saya pilih yang di Bandung? karena kopi aromanya dari Bandung, harapannya sih biar stoknya juga lebih murah.

Karena ini kali pertama memesan di Tokopedia, saya belum punya user-id. Untungnya, pendaftarannya sangat mudah, saya bisa login menggunakan Facebook saja.

Berikutnya ya cari barang, masukkan ke dalam keranjang belanja dan bayar. Untuk pembayaran ada banyak pilihan, untuk kami yang jauh bisa melalui internet banking dan proses pembayaran dengan internet bankingnya juga cukup mudah.

Ada notifikasi dalam setiap langkahnya

Berikutnya setelah pembayaran, saya mendapatkan notifikasi mulai dari menunggu konfirmasi, pesanan di proses, sedang dikirim, sampai akhirnya sampai tujuan. Saya memesan tanggal 12, diproses dan dikirim tanggal 13, hari ini sebelum jam 12 siang sudah sampai ke tujuan. Sempat kuatir telat sampai, karena tulisannya paket akan sampai 2 – 4 hari sejak dikirim, ternyata cukup cepat juga.

dipesan tanggal 12, selesai tanggal 15

Setelah barang diterima, kita diminta untuk memberi informasi kalau transaksi sudah selesai. Kalau ada komplain tentang barang yang dikirim, kita bisa mengadu ke Tokopedianya sebelum transaksinya selesai. Dengan adanya jaminan dari pihak Tokopedia ini, kita tidak perlu kuatir sudah transfer tapi barang tidak diterima.

kalau tidak kita klik selesai, nantinya akan ada proses otomatis untuk menutup transaksi

Di Thailand sendiri, kami sudah pernah mencoba memesan di shopee dan lazada lokal sini dan semua baik-baik saja transaksinya.

Saya pernah baca pengalaman teman saya berbelanja langsung ke “toko di medsos”, sudah transfer duit tapi barang tidak kunjung datang. Waktu di komplain, penjualnya menghilang atau selalu menghapus komentar kalau kita tulis di wall mereka.

Kalau dibanding-bandingkan harganya, memang toko di medsos kadang harganya bisa terlihat murah banget, tapi dengan adanya kemungkinan penipuan, lebih baik berbelanja di platform yang ada jaminan seperti Tokopedia ini.

Manfaat Ikut Komunitas Spesifik

Dahulu kala (duh kayak mau nulis dongeng) saya mengikuti banyak sekali miling list alumni. Mulai alumni SMA, alumni Kuliah, alumni angkatan dan grup-grup besar lainnya. Bergabung di komunitas online dengan terlalu banyak orang ternyata tidak cocok untuk saya. Bukan saya gak suka bergabung dalam sebuah komunitas, tapi sekarang ini saya menyadari kalau saya lebih suka gabung dengan komunitas yang spesifik.

Sekarang ini, komunitas online yang saya ikutin di Facebook grup ataupuan WhatsApp Grup lebih sedikit dan lebih terarah topiknya, antara lain: komunitas merajut, komunitas menulis, komunitas homeschooling dengan kurikulum yang sama dan juga ga ketinggalan komunitas penggemar kdrama hahaha. Oh ya saya bergabung juga di komunitas orang Indonesia di Chiang Mai karena jumlah kami hanya sedikit di sini dan tentunya supaya gampang kalau ada yang butuh info seputar Chiang Mai.

Lebih Fokus

Kalau jumlah anggotanya terlalu banyak dan tidak ada topik khusus, saya tidak bisa mengikuti setiap percakapan yang ada dan topiknya terlalu kemana-mana, sedangkan kalau komunitas dengan topik tertentu, biasanya pembahasannya gak akan terlalu jauh meluas dan melebar, walaupun kadang-kadang dalam grup menulis bisa jadi pembahasannya resep soto atau topik kdrama hahaha. Tapi sebenarnya topik tersebut masih berhubungan dengan dunia menulis, karena biasanya pencetusnya ada yang menulis soal resep, dan jadilah membahas gimana menulis resep yang menarik dan mudah dibaca. Bisa juga kalau ada yang menulis review soal film, jadilah yang lain merespon misalnya gimana menulis review yang menarik tanpa spoiler.

Lebih Produktif

Manfaat yang paling terasa bergabung dengan komunitas menulis sekarang ini saya bisa menulis setiap hari. Kadang-kadang ada rasa kehabisan topik karena tidak menemukan hal menarik untuk ditulis, tapi dengan obrolan yang ada di grup, biasanya jadi tetap bersemangat menggali ide-ide yang ada dan mengusahakan untuk tetap berlatih menulis setiap harinya.

Komunitas homeschooling juga memberikan perasaan senasib kalau membaca ada orangtua yang berkeluh kesah misalnya anaknya hari itu agak banyak melamun. Ada kalanya juga komunitas homeschooling memberikan ide bagaimana mengajarkan suatu topik tertentu yang sepertinya sulit untuk dimengerti. Ketika melihat anak-anak homeschool sukses menyelesaikan sampai jenjang sekolah menengah dan melanjutkan ke perguruan tinggi dengan beasiswa, disitu perasaan lelah menghomeschool tergantikan menjadi perasaan optimis.

Komunitas merajut lain lagi ceritanya, saya bergabung dengan komunitas lokal yang bertemu sekali seminggu. Nah minggu lalu akhirnya saya bisa datang ke pertemuannya, setelah sekian lama menunda memulai saya jadi lebih bersemangat dan memulai untuk merajut lagi. Rencananya saya akan tetap datang setiap minggu supaya semangatnya gak hilang lagi hehehe.

Belajar hal-hal baru

Dalam komunitas menulis yang saya ikuti, ada banyak alasan kenapa teman-teman saya itu menulis. Dari berbagai alasan, tentunya ada yang sudah lebih lama berkutat di dunia menulis dan ada yang angin-anginan seperti saya. Dari komunitas menulis ini saya mendapatkan banyak hal baru seputar dunia menulis. Mulai dari terminologi, tips praktis dan juga informasi kalau mau ikutan lomba menulis (walau yang ini belum kepikiran untuk ikutan).

Di komunitas homeschool, saya juga banyak belajar dari orang yang sudah lebih dulu menghomeschool anak-anaknya. Belajar mulai cara memilih kurikulum, merencanakan jadwal belajar, bagaimana nantinya mempersiapkan laporan nilai. Di komunitas homeschool yang saya ikuti, tidak ada yang merasa lebih dari yang lain. Kalau misalnya ada orangtua yang bingung kenapa pertanyaan jawabannya A dan tidak mengerti membaca penjelasan di kunci jawaban, anggota yang lain siap memberikan masukan dan bahkan link ke youtube kalau ada.

Di komunitas merajut, saya yang sudah lama gak baca-baca soal merajut juga jadi kembali diingatkan dengan berbagai terminologi merajut. Kadang-kadang bahkan jadi tau ada teknik spesifik yang saya belum pernah ketahui sebelumnya.

Bertukar Informasi Spesifik

Untuk hal ini sih setiap komunitas pastinya ada pertukaran informasi. Tapi dengan komunitas spesifik, tentunya informasinya lebih menarik untuk kita dibanding dengan informasi umum yang bisa di baca di situs berita. Kita bergabung ke komunitas spesifik karena kita menaruh minat terhadap topik spesifik tersebut otomatis informasi yang ada akan lebih menarik untuk kita.

Bebas Politik dan Flame War

Nah ini yang paling penting. Dulu sering kali dalam komunitas besar, ada saja yang suka mengirimkan berita politik ataupun memulai penghinaan (flame war) yang akhirnya bikin ribut. Hal ini gak pernah terjadi dalam komunitas spesifik. Setidaknya tidak terjadi dalam komunitas yang saya ikuti. Ada aturan tertulis ataupun tidak, biasanya anggota komunitas spesifik tidak suka memposting hanya untuk memancing keributan. Semua anggota fokus dengan topik yang diminati bersama.

Sekarang ini saya ikut komunitas kalau berasa manfaatnya saja. Kalau komunitas tidak ada manfaatnya dan hanya bikin rusuh, rasanya gak ada waktu buat membacanya. Kalau komunitas kdrama apa dong manfaatnya? ya itu sih buat tukar cerita aja kalau udah sama-sama nonton bahas bagus dan kurangnya apa, kalau belum nonton biar tau bagus tidaknya buat ditonton hehehe.