Kesalahan informasi dari penjual

Dulu tiap mau beli hp atau gadget, saya sering menghabiskan waktu lama buat nanya sama penjualnya. Tapi belakangan kebiasaan Joe menular ke saya untuk mencari tahu spesifikasi dan review dari internet dan kalau emang sudah yakin tinggal ke toko untuk membeli supaya ga perlu menunggu dan mendapat garansi lokal. Bagusnya mencari sendiri di internet kita bisa menemukan lebih dari 1 sumber dan tidak akan terjebak dengan ketidaktahuan penjual. Ini salah satu contoh penjual yang tidak mengerti barang yang dia jual dan membahayakan pembelinya. Ini spesifikasi car seat untuk bayi yang dia tulis dalam deskripsi produk, sepertinya copy paste tanpa mengerti maksudnya

image

Di atas disebutkan car seat untuk newborn sampai 24 bulan dan berat 20 kg, di situs lain untuk benda yang sama saya temukan carseat untuk sampai usia setahun dan berat 13 kg. Rata-rata car seat untuk bayi baru lahir model infant carseat merk lain bisa sampai 13 kg, saya pikir oke mungkin dia salah copy paste. Di deskripsi itu juga disebut posisi car seat rear facing alias hadap belakang dan disebutkan untuk tidak memposisikan car seat di kursi depan terutama yang ada airbagnya.  Lalu saya membaca bagian diskusi mengenai car seat ini antara penjual dan calon pembeli. Saya kaget banget karena penjualnya konsisten ga ngerti arti dari rear facing.

image

image

Saya sengaja memblurkan identitas toko maupun merk car seat nya karena tulisan ini sekedar buat mengingatkan kita untuk selalu mencari informasi sebelum membeli. Kalau kita tidak hati-hati, memakai car seat justru membahayakan buah hati kita.

Komunitas Indonesia di Chiang Mai

image

Berawal dari ajakan iseng ngopi bareng, akhirnya tadi pagi jadi seperti acara kumpul warga Indonesia di Chiang Mai. Ini belum formasi lengkap loh, masih banyak yang kebetulan lagi gak di Chiang Mai ataupun lagi ga ngopi. Biasanya kalau kumpul dengan tema makanan nusantara yang datang bisa lebih banyak lagi.

Setelah beberapa tahun di Chiang Mai akhirnya komunitas warga Indonesia yang menetap di sini semakin banyak di banding 8 tahun lalu. Tadi saya disindir karena makin jarang ngeblog soal Chiang Mai, padahal beberapa orang sebelum nyampe sini ternyata menemukan info mengenai Chiang Mai di blog kami ini. Memang belakangan jadi semakin jarang ngeblog, padahal koneksi internet dan apps buat ngeblog ada di hp (sesuatu yang dulu diharapkan bisa didapat waktu masih rajin ngeblog).

Kembali ke topik, komunitas ini memang tidak sebanyak komunitas warga Indonesia di Bangkok, belum lagi arus datang dan perginya sangat cepat terutama untuk mahasiswa yang study di chiangmai university. Dari sejak beberapa tahun lalu akhirnya kami bisa bertemu dengan beberapa orang yang memang bekerja dan menetap di kota ini, sesekali kami berkumpul dan bertukar makanan nusantara dan malah pernah arisan segala. Tapi belakangan jadi tambah ramai dengan adanya rombongan mahasiswa di chiangmai university.

Dari dulu kami tahu tiap tahun akan ada mahasiswa yang menetap setahun atau setahun setengah ataupun hanya 3 bulan, tapi mungkin karena ga nemu blog kami jadi ga tau ada kami di Chiangmai ya. Salah satu rekan yang pernah ngajar bahasa Indonesia di Chiang Mai University (CMU) akhirnya menyambungnya tali silaturahmi antara warga Indonesia yang sudah lebih lama dan betah di kota ini seperti kami dan warga mahasiswa yang sebenernya betah tapi mau ga mau harus pulang karena ada yang nungguin di Indonesia hehehe.

Komunitas kami ini sangat majemuk, tapi seleranya sama: makanan nusantara – ya iyalah ya soalnya langka di sini. Beberapa ada yang menikah dengan warga asing, beberapa merupakan pasangan Indonesia asli, ada juga pasangan Indonesia dan Thai. Salah satu pasangan Indonesia – jerman malah sudah menuliskan buku soal hal-hal yang bisa dilakukan di Chiang Mai. Sekalian promosi aja deh, soalnya kalau nunggu kami tulis blog post soal tempat2 untuk dikunjungi, ga tau kapan tulisannya akan selesai.

Anyway, karena saya sudah lama ga ngeblog kayaknya kemampuan menulis panjang di blog mulai berkurang. Singkat kata kalau sedang mencari tahu soal Chiang Mai untuk wisata, studi atau rencana menetap di sini silakan saja tinggalkan komentar, semoga ke depannya saya lebih rajin baca dan cek komentar blog hehehe.

Sebulan Joshua

Sebulan pertama dengan newborn merupakan masa penyesuaian baik untuk saya dan juga baby. Walaupun Joshua anak ke-2 dan seharusnya saya sudah punya pengalaman ngurus Jonathan tapi ternyata perjalanan ngurus anak pertama atau kedua masing-masing punya cerita sendiri. Sebelum lupa ada baiknya saya tuliskan proses kelahiran Joshua sampai sebulan hari ini. Puji Tuhan mama saya bisa datang ke Chiangmai untuk support saya selama sebulan pertama ini.

Masa hamil
Kehamilan Joshua ini hampir sama dengan masa hamil Jonathan, bahkan tanpa saya sadari berat badan pas awal hamil juga sama persis dengan pas hamil Jonathan. Total kenaikan berat badan juga hampir sama malah cenderung lebih lambat naiknya di 6 bulan pertama, 3 bulan terakhir naik lebih banyak sehingga akhirnya total kenaikan sama juga dengan kehamilan pertama yaitu sekitar 15 kg.

Trimester pertama berjalan mulus tanpa ngidam atau mual muntah kecuali pagi pas sikat gigi beberapa kali jadi muntah kalau terburu-buru untuk persiapan berangkat antar jonathan ke sekolah. Kalau kehamilan pertama saya ga nyetir sama sekali selama hamil, kehamilan kedua saya masih nyetir sampai seminggu sebelum melahirkan (minggu 38).

Secara umum kehamilan kali ini ga bisa terlalu manja juga soalnya mau ga mau ya tetap harus urus Jonathan, kerja (dapat kesempatan part-time lagi beberapa bulan sebelum hamil) dan sebulan terakhir sempat ambil kelas baca tulis Thai lagi. Bedanya di kehamilan Joshua, di Trimester terakhir tangan kiri mulai mengalami kesemutan yang masih terasa sampai sekarang sampai sebulan pasca melahirkan.

Selama masa kehamilan, Jonathan bertingkah manis menantikan adiknya. Dia mau membantu membuatkan susu untuk mamanya, dan ketika perut mamanya sudah semakin besar, dia sering kiss-kiss baby.

IMG_3138_resized
Continue reading “Sebulan Joshua”

Satu Windu (Delapan Tahun) di Chiang Mai

Tulisan ini tulisan yang terlambat 1 bulan. Kami tiba pertamakali di Chiang Mai 2 Mei 2007 dan sekarang sudah bulan Juni tahun 2015. Tidak terpikir sebelumnya kami akan tinggal di negeri ini sampai selama ini. Waktu pertama kali tiba di sini, kami bertemu dengan pasangan bule yang pernah tinggal di Indonesia dan sudah 8 tahun di Chiang Mai, waktu itu mereka bilang: sepertinya kalian akan betah lama di Chiang Mai. Dalam hati saya berkata: ah masa sih bisa betah di negeri yang susah bahasanya ini. Dan ternyata, semakin tahun tinggal di sini memang kami semakin betah saja. Apalagi sejak semakin bisa berkomunikasi dalam bahasa Thai, dan semakin banyak orang Indonesia yang juga menetap di Chiang Mai (walau beberapa orang ga bertahan selama kami), rasanya betah-betah aja di sini.

Chiang Mai sekarang sudah banyak perubahan di banding 8 tahun yang lalu. Waktu kami baru datang hanya ada 1 mall besar (Airport Plaza) dan 1 mall (Kad Suan Kew) yang sudah agak tua. Sekarang ini ada 3 Mall lebih baru (Central Festival, Promenada, Maya) dari mall besar yang ada 8 tahun lalu. Di setiap sudut kota ini juga sedang banyak pembangunan gedung apartemen ataupun toko ataupun renovasi bangunan yang sudah agak lama. Jam-jam tertentu jalanan mulai agak macet, tapi karena sekarang kami menyewa rumah dekat dengan kantor dan jam berangkat sekolah dan jemput sekolah Jonathan agak beda dengan jam padat, kami tidak terlalu merasakan efek dari kemacetan jalan kecuali di hari libur.

Masalah sekolah anak sempat jadi topik yang tiap hari bikin pusing. Pusing karena ada banyak pilihan dan sedikit kuatir salah memutuskan pilihan. Awalnya terpikir untuk homeschool saja, lalu memikirkan untuk mengirim ke sekolah Thai, lalu sempat mempertimbangkan sekolah Bilingual, sampai akhirnya mengirimkan Jonathan ke sekolah Internasional yang berharga lokal dan model pengajaran seperti homeschool (lebih banyak bermain daripada belajar dan tidak ada pr untuk tingkat preschool).

Kami tetap ingin Jonathan bisa berbahasa Thai dan fasih membaca dan menulis bahasa Thai nantinya, tapi untuk saat ini bahasa Inggris lebih penting. Kami tidak ingin kalau keburu berlidah Thai bahasa Inggris jonathan jadi Thaiglish. Kesempatan untuk belajar bahasa Thai masih ada karena setiap weekend kami masih membawa Jonathan belajar piano dan aerial silk di mana guru dan teman-temannya berbahasa Thai dan sejauh ini Jonathan tidak mengalami kesulitan untuk mengerti instruksi yang diberikan gurunya.

Di kota ini ada banyak sekali pilihan untuk kegiatan anak dan keluarga. Harga tiket masuknya juga tidak mahal karena kami sekarang bisa mendapatkan harga thai dengan menunjukkan surat ijin mengemudi ataupun dengan berbahasa Thai. Pilihan ada mulai dari taman kota yang gratis, night safari dengan sistem keanggotaan 500 baht (200 ribu rupiah) untuk akses gratis selama 6 bulan, zoo lengkap dan dengan biaya ekstra bisa masuk aquarium, melihat panda, berfoto dengan koala dan memberi makan penguin, taman bunga internasional, botanical garden yang menyediakan lunch buffet dan mini petting zoo seharga 199 baht (80 ribu rupiah). dan beberapa tempat menggratiskan biaya masuk untuk anak di bawah tinggi tertentu (sejauh ini Jonathan selalu gratis masuk tempat rekreasi). Pilihan untuk aktivitas sepulang sekolah ataupun di hari weekend juga ada banyak (seperti belajar piano, aerial silk, berenang, ruang bermain yang bayar perjam). Kadang-kadang sangkin banyaknya pilihan, rasanya capek juga nganter Jonathan kalau lagi ada maunya main-main keluar hehehehe.

Setelah 8 tahun tinggal di sini kami semakin terbiasa untuk tidak mencari makanan khas Indonesia (walaupun sebenarnya makanan Thai cukup dekat dengan makanan Indonesia). Tapi sesekali karena semakin banyak orang Indonesia di Chiang mai, kami masih bisa merasakan suasana dan makanan khas nusantara kalau lagi ada kumpul-kumpul warga Indonesia. Cukuplah untuk mengobati kangen kuliner Indonesia. Kalau dulu untuk makan tempe harus bener-bener bikin sendiri, sekarang kalau gak sempat bikin sudah ada pilihan untuk beli tempe beku (walaupun pastinya jadi lebih mahal daripada bikin sendiri).

Ada beberapa hal yang tidak kami temukan di sini yang mulai digemari Jonathan, misalnya meses Ceres. Sudah lama saya tidak kecarian ama meises Ceres, tapi sejak Jonathan tahu rasa meses Ceres, dia jadi suka nyariin dan akhirnya kalau mudik atau ada yang datang kami perlu nitip meses Ceres lagi. Selain itu sejak dia suka minum teh bikinan eyang, kami juga perlu menyimpan stock bubuk teh dari Indonesia (padahal orang Indonesia malah nyari teh ala thai hehehe). Tapi secara umum kami sudah tidak terlalu kecarian kalaupun misalnya stock Ceres ataupun teh habis.

Perbedaan paling signifikan setelah 8 tahun di Chiang Mai adalah, datang ke sini cuma berdua dengan 2 koper isi baju doang, tapi sekarang udah ada Jonathan dan sebentar lagi (beberapa hari lagi tepatnya) kami akan menyambut kelahiran adik Jonathan. Dengan adanya Jonathan (dan adiknya nanti) pindah rumah bukan hal mudah lagi bagi kami (apalagi kalau harus pindah negara), mudik ke Indonesia juga akan semakin terasa ongkosnya hehehe. Kalau ditanya mau selamanya di Chiang Mai? ya kami sih bakal jawab: tergantung Tuhan saja, tapi sejauh ini kami menyukai kota ini dan kota ini cocok untuk kami yang tidak terlalu tahan dengan kemacetan kota besar yang perlu berjam-jam untuk menempuh ke satu lokasi seperti Jakarta ataupun Medan. Tapi kalau Tuhan kasih kesempatan menjelajah ke kota lain, kami berharap kota itu lebih baik lagi dari Chiang mai.

Gadget Ibu Rumah Tangga

Udah lama ga nulis gara-gara lupa password, sekarang kepikiran topik yang related ama tulisan menggunakan teknologi. Kami bukan orang yang tergila-gila dengan teknologi, tapi kami sangat terbantu dengan adanya penemuan-penemuan baru dengan adanya kemajuan teknologi. Gak harus canggih, tapi intinya bisa mengurangi pekerjaan dengan otot dan lebih bisa menikmati hidup.

Sejak tinggal di Chiangmai, tanpa adanya luxury pembantu dengan gaji murah atau punya pembantu yang tersedia 24 jam, kami berkenalan dengan yang namanya vacuum cleaner. Awalnya saya masih prefer makai sapu daripada vacuum, soalnya pola pikirnya pake vacuum itu kan pake listrik, dan bayar listrik itu mahal, terus rasanya lebih afdol kalau di sapu terus di pel jadi lebih kinclong gitu. Lama-lama rasanya pegel juga ya sapu lalu pel dan juga pas nyapu kadang-kadang debu beterbangan kemana-mana waktu nyapu. Akhirnya sekarang saya bisa menerima kalau rumah ga harus disapu pel tiap hari, tapi cukup di vacuum bagian yang kotor misalnya kolong meja makan sehabis makan. Gak harus di pel biasanya juga sudah bersih. Ngepel ya bisa sekali atau dua kali seminggu tergantung di sini lagi musim apa. Musim dingin dan musim panas biasanya debu lebih banyak dibanding musim hujan, jadi ya tentunya harus lebih sering vacuum seluruh rumah.

Benda lain yang juga saya rasa sangat membantu dan wajib punya itu mesin cuci. Walaupun sebagian orang gak suka dengan mesin cuci karena katanya baju jadi lebih cepat rusak, tapi saya rasa kalau saya harus mencuci semua baju dengan tangan bisa-bisa saya patah pinggang. Sejauh ini baju saya walau ada yang tipe seminggu bisa dipake beberapa kali karena cuci kering di pakai tetep aja umurnya lebih dari setahun. Well baju saya bukan baju keluaran desainer ternama atau merk mahal yang sepersekian harga mesin cuci sih, jadi saya ga kuatir kalau rusak ya bagus malahan alasan buat beli baju baru lagi toh. Untuk baju yang emang harganya mahal tentunya saya lebih hati-hati mencucinya ga asal campur saja dan bahkan untuk baju yang butuh dry clean ya saya kirim ke dry clean (sejauh ini yang butuh dry clean cuma jas Joe yang sudah berumur 8 tahun! iya emang dia cuma punya 1 jas pas kawin doang hehe.)

Berikutnya yang paling terasa berguna itu microwave. Terutama untuk menghangatkan makanan. jadi kalau ada makanan yang bersisa, disimpan di kulkas bisa di freezer ataupuan di pendingin biasa dan besoknya bisa dihangatkan. Yang perlu diperhatikan menghangatkan makanan di microwave kadang seperti halnya masak di atas kuali, harus diaduk juga sesekali supaya panasnya merata. Kelebihan dari memanaskan menggunakan microwave saya ga harus mencuci wadah pemanasnya karena saya langsung panasin di mangkok saji yang tentunya memang aman untuk microwave. Oh iya saya juga menghindari menghangatkan makanan di wadah plastik walaupun ada tulisan microwave safe. Lebih aman membeli beberapa mangkok keramik atau kalau ada rejeki beli sejenis pyrex yang bahkan tahan untuk masak di oven. Ya saya tahu sebagian orang masih merasa takut menggunakan microwave karena katanya bisa ini itu. Well seperti sekarang wifi dan signal cellular berbahaya sebenernya semua ada plus minusnya. Menurut kami umur itu di tangan Tuhan, dan pengguna microwave sejak ditemukan sangat banyak dan tidak terbukti microwave itu membuat kanker. Tapi ya kembali lagi ke masing-masing saja sih mau makai microwave atau tidak. Salah satu tulisan mengenai fakta dan mitos soal microwave bisa dilihat di sini.

Chiang mai punya iklim yang agak ekstrim. Salah satu penemuan yang sangat terasa dibutuhkan di kota ini adalah Air Conditioner alias AC terutama wajib ada di kamar tidur. Di musim panas, suhu udara terkadang masih di atas 30 derajat celcius, dan suhu kamar kadang lebih panas dari suhu udara karena kalau kamarnya menghadap matahari, bisa jadi kamarnya masih lebih panas karena siangnya bisa sampai 44 derajat celcius. Indonesia sebenernya juga mirip-mirip panasnya, tapi mungkin juga karena sudah mulai kebiasaan di sini kalau tidur butuh AC, ya jadinya kalau pulang ke Indonesia kemungkinan kami bakal merasa butuh AC terutama di kamar tidur.

Kebalikan dari AC, di musim dingin butuh water heater buat mandi. Punya water heater di kamar mandi yang tinggal di putar langsung bisa byur itu sangat menyenangkan, kebayang dulu kalau mau mandi air hangat harus manasin air dulu, terus angkat air panas pake ember, terus kadang kalau ketunda dikit mandinya airnya keburu dingin lagi. Kalau pulang ke Indonesia, walaupun di Indonesia ga dingin-dingin banget, kayaknya kalau mau mandi terlalu pagi atau agak malam dibutuhkan juga tuh water heater.

Oh iya terkait dengan air, di Indonesia dulu sering sekali mengalami flow air yang sangat kecil karena dari perusahaan air nya lagi macet atau malah kadang kering sama sekali karena disedot sama orang yang pake pompa air. Di sini setelah 2 kali ngontrak rumah saya bisa lihat kalau orang Thailand punya mesin pompa air dan tanki penampungan air di setiap rumah. Tapi berbeda dengan di Indonesia yang menyedot air langsung dari pipa air atau sebagian lagi dari sumur, di sini orang menampung air dari perusahaan air ke tanki penampungan lalu pompanya digunakan untuk mendistribusikan air ke pipa dalam rumah terutama kalau misalnya rumah bertingkat, supaya airnya bisa naik ke bagian atas rumah. Waktu tinggal di kopo Bandung kami juga pakai air yang di sedot dari mata air dalam tanah lalu di tampung di tanki di atas rumah, lalu di filter di tankinya sbelom di distribusikan ke seluruh rumah. Yang kepikiran oleh saya nantinya kalau pulang ke Indonesia, mungkin kami perlu mengkombinasikan antara menampung air di letakkan di tanki yang letaknya tinggi di atas rumah (butuh pompa untuk membuat airnya naik ke atas), lalu kalau mau dipakai ga butuh pompa lagi deh (ini yang dilakukan mertua saya di depok). Jadi kalau di Chiang mai sini, kalau listrik mati kemungkinan besar air di rumah terutama bagian atas mati, untungnya kasus mati lampu di sini sangat sedikit jadi ga perlu terlalu kuatir, karena di Indonesia lebih sering mati lampu, lebih aman kalau tanki airnya disimpan di tempat yang tinggi supaya pas memakai ga butuh listrik lagi.

Ada beberapa hal yang sebenernya masih masuk daftar pengen punya tapi masih belum butuh banget. Misalnya Dishwasher alias mesin cuci piring. Saat ini belum butuh karena basically cucian piring saya ga banyak banyak amat, dan kalau pakai Dishwasher nantinya semua peralatan masak dan makan harus kompatibel dengan Dishwasher itu. Ya namanya juga pengen punya, kayaknya seneng aja kalau punya tapi belom butuh butuh banget, jadi sekarang ini saya belom bisa cerita banyak soal benda itu, tapi pastinya kalau ada yang beliin saya senang banget hahaha.

Benda berikutnya yang sempat jadi angan-angan itu dryer alias pengering cucian. Nah buat benda ini di Chiang mai ya seperti Indonesia yang matahari sangat cerah hampir sepanjang tahun ga terlalu butuh, tapi saya tertarik terkait dengan masalah tumpukan setrikaan. Ada teman yang bilang baju yang di keringkan dengan dryer itu ga butuh di setrika juga udah lembut, abis dari dryer langsung di lipat hasilnya ga kusut dan sama dengan seperti hasil setrika. Tapi ada juga teman yang bilang ga terlalu kering hasil dari dryer masih perlu di angin-anginkan juga. Ya karena masih kurang lengkap datanya dan memang dryer tergolong mahal, plus saya mulai bisa menerima kalau ga semua yang dicuci harus disetrika walau dijemur matahari, jadi masih bisa ditunda membeli dryernya, mungkin kalau ada teman-teman yang sudah menggunakan dryer bisa menambahkan faktanya dan bikin saya tambah pengen beli hehhe.

Untuk semua gadget rumahtangga yang saya tulis, semua butuh listrik yang kadang dayanya lumayan gede. Tapi ya seperti saya bilang, semua ada plus minusnya, mau pake otot yang banyak atau membayar listrik supaya bisa lebih banyak berkarya ataupun bermain dengan anak. Masih lebih baik membayar listrik untuk benda yang memang membantu keseharian daripada lelah kehabisan tenaga karena takut ini itu yang tidak terbukti lalu at the end jadi ga bisa menikmati hidup.

Oh iya, beberapa waktu yang lalu, kami menonton sebuah video singkat di mana akan ada masanya (sekarang sudah mulai) banyak pekerja yang mengandalkan otot akan semakin tidak dibutuhkan dan semuanya digantikan oleh mesin-mesin yang di program. Daripada kita tetep ngotot pake otot, mendingan kita menggunakan waktu untuk belajar mempersiapkan diri menghadapi masa di mana kita lebih memiliki value bukan karena otot kita tapi karena kita punya sesuatu yang ga bisa digantikan oleh mesin (misalnya memikirkan membuat mesin/teknologi yang kita butuhkan untuk membantu kita).

Happy 8th Anniversary

image

Sudah 2922 hari berlalu sejak kita mengucap janji pernikahan di depan Tuhan dan jemaat gereja. Sudah banyak kejadian yang kita alami bersama terutama sejak Tuhan menitipkan Jonathan kepada kita, dan kurang lebih 20 minggu lagi jika Tuhan berkenan kita akan bertemu dengan adik Jonathan.

Banyak hal yang telah kita pelajari bersama sebagai pasangan dan sebagai orangtua, dengan tambahan anggota baru kita masih harus belajar lagi supaya Jonathan dan adiknya nantinya bisa kita didik menjadi anak yang takut akan Tuhan dan berhasil di masa depannya. Puji Tuhan kalau kita selalu bisa sependapat dalam berbagai hal dalam rumah tangga kita selama 8 tahun ini.

Gak bisa membayangkan kalau semua urusan rumahtangga dan urusan anak diserahkan ke mama sendiri. Gak bisa membayangkan kalau ga punya teman diskusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan hidup terutama soal anak. Gak bisa membayangkan kalau gak bisa menceritakan semua unek unek yang ada dalam pikiran kepada papa, mungkin bisa jadi semua ketulisnya jadi di facebook :p. Syukur kepada Tuhan kalau papa mau membaca teori parenting dan kita bisa memilih mana yang kita sepakati buat diterapkan dan mana yang nggak. Terimakasih juga kalau sesekali papa mau terjun ke dapur dan sabarrrr menahan lapar kalau sesekali mama telat masaknya. Terimakasih juga kalau mengajarkan mama menjadi orang yang lebih sabar dan ga buang energi buat orang-orang yang kadang memancing emosi. Terimakasih mau selalu mendengarkan semua ocehan baik penting maupun ga penting dari mama. Terimakasih karena papa setiap hari mau mengajak Jonathan main walaupun papa sudah cape pulang kerja dan sebenernya masih pengen mrogram atau berkarya lainnya.

Setahun terakhir ini banyak hal yang mungkin ga semua ditulis di blog, mulai dari pindah rumah ke deket kantor, pulang ke Indonesia 2 x setahun, ditabrak orang dari belakang yang bikin mobil masuk bengkel selama 3 bulan (puji Tuhan kita ga kegores sedikitpun), Jonathan mulai masuk sekolah preschool, mama dapat kesempatan kerja part time lagi, eyang datang berkunjung ke Chiangmai dan Jonathan yang akan dapat adik. Semuanya itu susah ataupun  senang membuat kita tambah kenal satu sama dan semakin menambah kebahagiaan kita karena kita semakin solid bekerjasama dalam setiap hal. Semoga di tahun-tahun mendatang kita tetap satu hati dan Tuhan senantiasa memberkati pernikahan dan keluarga kecil kita.