Farm Food Project Chiang Mai

Hari Jumat, tanggal 28 Februari 2020 yang lalu, Joshua dan teman-temannya mengunjungi Farm Food Project yang lokasinya sekitar 30 menit dari rumah. Karena hari itu ada 1 guru yang tidak bisa hadir, saya diminta untuk ikut mengawasi anak-anak.

Farm Food Project ini sebenarnya sebuah restoran yang juga berusaha mengenalkan darimana sebenarnya makanan yang kita makan itu berasal. Selain restoran, mereka memiliki tanah yang cukup luas untuk tempat bermain, memelihara beberapa hewan, dan menanam berbagai jenis tumbuhan.

Tujuan field trip sudah tentu mengajak anak jalan-jalan sambil belajar . Harapannya membuat mereka tertarik dan ingat akan hal yang mereka lihat.

Sekitar jam 10.00 pagi, Joshua dan teman-temannya dan gurunya sudah berangkat dengan menaiki mobil Van ke lokasi Farm Food Project. Saya mengikuti dari belakang. Joshua tidak tahu sebelumnya kalau saya akan ikut juga ke acara jalan-jalan ini. Waktu dia melihat saya, dia senang sekali dan ya sudah ditebak, nempel sama saya dan gak mau dengerin gurunya lagi hahaha.

Lanjutkan membaca “Farm Food Project Chiang Mai”

Polusi dan Cuaca di Chiang Mai Februari 2020

Minggu lalu udara Chiang Mai tiba-tiba sangat dingin, dan beberapa hari ini mulai terasa panas lagi. Polusi udara tidak juga berkurang dan bahkan ada hari-hari di mana matahari terasembunyi dibalik kabut asap. Saya ingat, tahun lalu awal Februari masih tidak sepanas ini.

Hampir setiap hari polusinya ya begini

Akhir pekan ini, mulai hari Jumat sampai Minggu akan ada festival bunga di Chiang Mai 2020 yang merupakan kegiatan tahunan. Biasanya akan banyak sekali turis datang ke Chiang Mai untuk melihat acara ini.Taman kota juga sudah ditutup sejak minggu lalu untuk dihias dan mempersiapkan tempat acara akhir pekan ini.

udara akan semakin panas sampai akhir pekan ini

Biasanya, saya cukup semangat merencanakan melihat festival bunga ini walaupun sudah beberapa tahun tidak melihat paradenya. Paling tidak ya jadi kegiatan untuk melihat mobil hias dan juga bunga yang disusun di taman bunga. Saya ingat, festival bunga tahun lalu mama saya menyempatkan melihat event ini sebelum pulang ke Medan. Tapi tahun ini sepertinya ada keragu-raguan untuk melihat festival bunga.

selfi pake masker hehehe

Selain karena prakiraan cuaca yang sepertinya akan lebih panas dari beberapa hari ini, polusi udara juga mengurangi niat untuk berjalan-jalan di tengah keramaian. Bisa saja berjalan-jalan menggunakan masker dengan filter terhadap pm 2.5, tapi sepertinya kurang seru foto-foto pake masker begini hehehe.

Untuk mengakali cuaca panas, sebenarnya bisa saja pergi ke festival bunganya agak pagi. Tapi kita lihat saja bagaimana kondisi udara di hari Jumat sampai Minggu nanti. Kalau tiba-tiba udaranya bersih, bisa juga dipertimbangkan lagi untuk datang ke festival bunga.

Saya agak heran sebenarnya kenapa tahun ini polusi di Chiang Mai mulai sangat awal, biasanya juga mulai di akhir Februari. Padahal saya yakin banyak yang tertarik untuk liburan ke Chiang Mai untuk menghadiri festival bunga ini. Semoga tahun-tahun mendatang polusi di Chiang Mai tidak terulang lagi (walaupun ini menjadi harapan di setiap tahunnya).

Polusi Udara di Awal 2020

Kalau tahun lalu polusi di Chiang Mai terasa mulai akhir Januari, tahun ini polusi datang lebih awal lagi. Sejak bulan Desember 2019, sudah terasa ada hari-hari di mana terasa berkabut. Bahkan ketika kami berangkat ke Sukhothai tanggal 28 Desember, saya ingat udara di Chiang Mai terasa berbau asap.

Waktu itu saya merasa bersyukur kami memutuskan pergi liburan ke Sukhothai karena di sana udaranya lebih bersih. Untungnya ketika kami di Sukhothai, ada hujan deras yang membersihkan udara di Chiang Mai, sehingga ketika kami kembali ke Chiang Mai, udaranya terasa masih bersih.

Beberapa hari lalu, saya ingat melihat ke arah Doi suthep, pemandangannya sangat cerah. Saya pikir: ah untunglah polusinya tidak jadi datang lebih awal. Tapi ternyata saya salah. Sudah 4 hari ini, polusi kembali lagi. Awalnya polusi terasa hanya di malam hari, sedangkan di pagi hari dan siang udaranya cukup bersih. Tapi sudah 2 hari ini angka polusinya merah seperti hari ini.

Saya jadi harus meralat nih kapan waktu terbaik datang ke Chiang Mai. Suhu udaranya memang sekarang ini masih cukup terasa sejuk di pagi hari, tapi siang harinya sudah terasa menyengat. Mau jalan-jalan di kala polusi begini rasanya sangat tidak disarankan sekali. Iseng-iseng, saya mencoba mengecek bagaimana kualitas udara di Sukhothai dan Bangkok yang letaknya menjauh dari utara Thailand. Hasilnya, ternyata di Bangkok malah tidak lebih baik daripada di Chiang Mai.

Saya menemukan berita yang menyatakan kalau Bangkok malah menjadi ranking 3 dengan kualitas udara terburuk di dunia akibat polusi dari daerah industrinya. Jadi bertanya-tanya, kira-kira kalau polusinya lebih awal, apakah selesainya juga lebih awal? Tahun lalu sih polusinya cukup lama sampai sekitar akhir April dengan titik tertinggi di bulan Maret.

Karena sudah beberapa kali mengalami polusi, kami sudah punya persiapan beberapa filter dan juga alat pengukurnya. Tapi karena sudah dipakai beberapa tahun, waktunya untuk mengganti hepa filternya. Untungnya sekarang, hampir semua jenis hepa filter sudah ada yang jual di toko online yang di Bangkok. Pesanan filter beberapa hari lalu sudah tiba hari ini, dan langsung dipasang. Kami juga sudah membeli beberapa masker yang bisa pm2.5 untuk kebutuhan di luar rumah. Beberapa tahun yang lalu, filter penggantinya harus pesan dari luar Thailand dan menunggu beberapa minggu baru tiba.

Tapi biasanya, dengan adanya filter di rumah dan di mobil, kami sangat jarang memakai masker wajah. Kami juga menghindari banyak beraktifitas di luar rumah. Pergi ke mall, walaupun indoor, jadi dikurangi. Mall di sini tidak ada filter udaranya. Beberapa restaurant maupun coffee shop mulai mempersiapkan filter udaranya juga, biasanya tempat-tempat ini akan lebih ramai dikunjungi dibandingkan yang tidak ada filternya.

Biasanya, polusi udara jelek ini tidak selalu memburuk setiap harinya. Ada hari-hari di mana polusinya tiba-tiba berkurang, terutama setelah hujan. Tapi untuk amannya, pilih bulan lain untuk berlibur ke Chiang Mai daripada kecewa. Tapi kalau memang kebetulan harus tinggal di Chiang Mai selama bulan polusi, bisa mempersiapkan diri dan mengikuti tips yang pernah saya tuliskan. Intinya sih: jaga kesehatan, gunakan masker ketika di luar dan nyalakan filter udara di dalam rumah (pastikan pintu dan jendela tertutup rapat).

Kalau udara mulai polusi begini, setiap hari berharap turun hujan supaya udaranya bersih. dan semoga saja polusi tahun ini tidak berkepanjangan seperti tahun lalu.

Selamat Natal 2019 dari Chiang Mai

Tadi malam, kami tidak menghadiri ibadah malam Natal. Acaranya jam 11 malam, dan udara sedang agak dingin. Joshua juga kemarin tidak cukup tidur siangnya. Jadi daripada malah jadi berisik kalau dipaksa bawa malam-malam, kami putuskan ikut ibadah Natal nya saja.

foto di gereja mengikuti ibadah Natal tadi pagi

Tadi pagi, setelah buka kado Natal di rumah dan Jonathan buka jahitan bareng Joe ke rumah sakit (ini ceritanya lain kali), kami menghadiri ibadah Natal jam 10 pagi di gereja CMCC.

Hari ini, ibadah Natal di gereja di buka dengan lagu yang musiknya Bohemian Rhapsody dari Queen tapi diganti liriknya menjadi kisah Natal (Bethlehemian Rhapsody). Anak-anak yang hadir langsung menyimak dengan seksama.

Bethlehemian Rhapsody – sumber: https://www.youtube.com/watch?v=FYh2OU4vtIk

Seperti biasa, salah satu acara ibadah Natal di gereja adalah: anak-anak di minta maju ke depan dan diminta untuk berbagi cerita dapat hadiah Natal apa. Jonathan yang ikut maju ke depan dengan lantang menjawab: I got a banana – dan tentunya yang mendengar pada tertawa. Setelah anak-anak lain menjawab dengan berbagai hadiah yang mereka terima, lalu ternyata ada 1 anak yang menjawab dia mendapat apple. Jonathan bilang lagi kalau dia juga memberikan pisang ke kami – dan semua tertawa lagi mendengarnya.

Lihat betapa bahagianya anak yang menerima pisang ini – sumber: https://youtu.be/oBBQHExuuec

Sebenarnya, cerita tentang hadiah banana ini inspirasinya dari video di YouTube. Tentang anak kecil yang begitu bahagianya menerima pisang sebagai hadiah – dan langsung memakannya. Joe sedang mengajarkan ke Jonathan kalau hadiah Natal itu gak harus selalu sesuatu yang mahal, kadang hal sederhana seperti pisang saja sudah cukup. Hal yang tidak boleh dilupakan adalah: apapun yang kita terima, jangan lupa berterimakasih sudah diberikan hadiah. Kebetulan di rumah lagi ada pisang, jadilah Jonathan ikut-ikutan membungkus pisangnya dan letakkan jadi hadiah haha.

Selain dapat banana, sebenarnya kami sudah membelikan buku komik PokemonXY untuk Jonathan dan mainan mobilan remote control untuk Joshua. Kami juga membelikan alat mewarnai (gel pastel) supaya Joshua dan Jonathan lebih rajin mewarnai di rumah.

Pulang dari gereja, kami ke mall untuk makan siang. Selesai makan, anak-anak dan Joe naik kereta api gratisan keliling mall, sementara saya membeli hadiah Natal untuk diri sendiri (duitnya udah ditransfer hahaa).

naik kereta keliling mall

Joe udah beli sendiri beberapa benda yang dia klaim sebagai hadiah Natal. Kapan-kapan biar dia cerita sendiri hehehe.

langsung dipakai nulis blog hehehe

Saya menghadiahi diri sendiri laptop Asus VivoBook 14 inch. Alasan beli laptop juga karena macbook yang selama ini saya pakai sudah beberapa bulan ini rusak dan belum berhasil dibenerin. Macbook itu juga sebenarnya layarnya sudah terasa sangat kecil dan tidak nyaman di mata. Alasan lain juga: kan sudah rajin ngeblog selama setahun lebih, jadi ya anggap aja biar lebih rajin lagi nulisnya hahaha (alesan ya).

susah banget ya foto keluarga yang bagus hehehe

Sekali lagi selamat Natal 2019 buat kita semua, Natal itu bukan hadiahnya tapi ya kalau dapat hadiah tentunya disyukuri dan dimanfaatkan dengan baik (ini sih ngomong ke diri sendiri). Dan selamat menyambut tahun baru 2020. Untuk yang sedang berlibur, hati-hati di jalan dan jangan lupa berbagi cerita di blog masing-masing hehehe.

Bagaimana mengurangi pemakaian plastik?

Mulai 2020, menurut berita dari bangkokpost, Thailand akan menghentikan pemberian plastik sekali pakai setiap berbelanja ke berbagai tempat termasuk minimarket. Saya jadi ingat waktu ke Hongkong dan kaget setiap belanja ditanya mau bayar buat plastik atau tidak.

Belakangan ini, saya sudah membiasakan diri untuk membawa kantong belanja sendiri yang bisa dipakai berulang kali. Tapi ada kalanya memang saya masih lupa dan tanpa merasa bersalah ya menerima saja kantong belanjaan dari tempat belanja. Lagipula saya pikir, lumayan kantong belanjaannya nanti bisa dipakai untuk tempat sampah. Tapi ya, akhirnya memang tumpukan plastik lebih banyak daripada pemakaian saya.

Teringat beberapa tahun lalu, Indonesia juga pernah mengeluarkan kebijakan kalau pelanggan harus membayar setiap kali membutuhkan kantong plastik. Sayangnya, aturan itu tidak berlangsung lama. Para penjual sepertinya lebih kuatir pelanggan tidak jadi belanja karena harus membayar plastik, jadi mereka kembali lagi memanjakan pelanggan dengan memberi plastik belanja sekali pakai.

Saya jadi ingat obrolan dengan Joe seputar pemakaian plastik ini. Sebenarnya kantong plastik belanja sekali pakai ini cuma satu titik masalah dibandingkan dengan plastik yang dipakai untuk membungkus berbagai hal termasuk plastik kemasan makanan instan, botol minuman aqua, gelas plastik kalau beli kopi untuk dibawa pulang dan juga plastik kemasan berbagai hal yang dijual seperti plastik bungkus sayur, plastik ketika membeli daging atau ikan, plastik beli roti, plastik beli gorengan atau sebut saya plastik kemasan isi ulang.

Coba deh perhatikan kalau ke supermarket atau bahkan ke pasar. Rasanya ada plastik di mana-mana. Di rumah kita juga ada banyak sekali kemasan plastik, mulai dari botol sabun cair untuk mandi, kemasan lotion, kemasan kosmetik sampai botol minyak goreng (hanya minyak mahal yang pakai botol kaca). Jadi kepikiran, dulu sebelum ketemu plastik, gimana mereka menjual benda-benda itu semua ya?

Plastik memang memberikan kepraktisan, tapi ternyata kita juga harus mulai membatasi diri kalau tidak mau bumi ini dipenuhi dengan sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang itu. Saat ini sudah ada banyak kampanye untuk lebih mengurangi pemakaian plastik. Pertanyaanya: apakah kampanye itu saja cukup?

Selama tidak ada kebijakan dari pemerintah, rasanya kita akan terbiasa dimanja dan memakai pemakaian plastik dengan semena-mena. Beberapa orang yang saya kenal mulai sangat mengurangi pemakaian plastik sekali pakai ini, tapi kalau kemasan plastik untuk barang yang dibeli masih banyak, ya sepertinya efeknya akan sangat sedikit.

Apa perlu plastik dibikin jadi barang mahal? Belakangan ini sudah mulai banyak plastik yang bio-degradable, tapi itupun tetap saja butuh waktu untuk penguraiannya. Sedotan kertas, bambu dan atau stainless juga mulai banyak dikenalkan tapi kok ya rasanya tetep lebih enak pakai sedotan plastik? Saya sendiri sudah beralih ke sedotan yang bisa didaur ulang dan sekarang ini harganya hanya sedikit lebih mahal dari sedotan biasa.

Beberapa hal yang bisa dilakukan dari diri sendiri untuk mengurangi pemakaian plastik antara lain:

  • biasakan bawa kantong belanja yang bisa dipakai lagi (bahan kain atau plastik tebal)
  • ganti sedotan dengan sedotan biodegradable
  • biasakan bawa botol minuman atau gelas bertutup, jadi kalau beli kopi di warung kopi atau jus bisa minta mereka masukkan ke gelas kita daripada pakai gelas yang berakhir di tempat sampah
  • wadah plastik yang cukup tebal jangan langsung dibuang, cuci dan bisa dipakai lagi untuk belanja.
  • di sini kalau saya malas masak, saya beli lauk yang sudah jadi dan membawa kotak sendiri
  • bawa kotak plastik sendiri untuk belanja daging atau ikan. bagian yang ini kadang agak sulit, karena wadahnya perlu yang besar dan gak selalu ingat wadah besar untuk dibawa-bawa.

Saya akui, yang saya lakukan untuk mengurangi menambah sampah plastik sekarang ini masih sedikit sekali ya, dan masih belum konsisten juga. Ada yang mau berbagi ide lagi bagaimana untuk mengurangi pemakaian plastik?