Joshua dan Minecraft

Posting ini tentang kelucuan Joshua dan Jonathan main Minecraft bareng. Ini sekedar catatan jejak kehidupan, supaya nggak lupa di masa depan. Karena mamanya nggak main Minecraft, jadi saya yang nulis cerita perkembangan Joshua yang ini.

Joshua sekarang baru 5.5 tahun, tapi sudah bisa membaca/menulis/mengetik, berhitung (penjumlahan, pengurangan, perkalian sampai 12×12), walau kemampuan komunikasinya sampai saat ini masih kurang. Joshua sekarang ini juga sangat iseng/jahil dalam banyak hal. Sekarang Jonathan sudah 10 tahun, tapi masih cukup sabar bermain dengan Joshua.

Sudah lama Joshua suka main minecraft dan pernah ditulis sekilas waktu ulang tahunnya. Walaupun tidak main setiap hari, tapi Joshua suka melihat video minecraft dan melihat Jonathan main, jadi ilmu minecraftnya makin berkembang. Dia mulai bisa membuat redstone circuit, misalnya clock generator (mekanisme yang outputnya on/off secara periodik).

Beberapa hari yang lalu, saya mengaktifkan kembali server minecraft di rumah, dan saya pindahkan datanya ke Raspberry Pi, jadi tidak akan terganggu kalau saya harus restart komputer. Modenya saya set agar siapa saja jadi operator, alias bisa melakukan apa saja. Biasanya kami main di creative mode di mode ini kami bisa sekedar membuat apa saja, tidak bisa mati.

Di mode ini kadang Joshua manis sekali, misalnya membuatkan saya Shulker Box dengan tulisan “Lunchbox” dan diisi Cookie, Bread, Cake, dan Apel. Lalu dia memberi tahu bahwa kita bisa memakan cookienya.

Tapi akhir-akhir ini Joshua sering iseng, dia membuat mode game Jonathan atau saya jadi survival lalu datang dan membunuh karakter kami. Kalau saya biarkan berdua main, lucu sekali melihat lognya di server. Joshua sudah bisa mengetik dan menggunakan autocomplete (dengan tab) jadi bisa mengetik dengan cukup cepat.

Lanjutkan membaca “Joshua dan Minecraft”

Ulang tahun pernikahan ke-14

Hari ini sudah 14 tahun kami menikah. Saya bersyukur kami masih bisa bersama dan tetap rukun, memiliki pandangan hidup yang sama. Sejauh ini tidak ada hal yang membuat kaget dalam hubungan kami. Boleh dibilang kami memiliki titik awal yang baik, jadi perjalanannya terasa ringan.

Kami memilih pasangan sendiri dan bukan karena dijodohkan orang tua, jadi kami tidak merasa terbeban terhadap orang tua. Kami memiliki waktu untuk saling mengenal jadi tidak terburu waktu. Meski kami berbeda suku, tapi tidak ada masalah karena kami berusaha untuk saling mengerti. Kami memiliki banyak kesamaan sehingga banyak topik yang bisa dibicarakan. Kami juga memutuskan menikah setelah cukup yakin dengan situasi ekonomi kami.

Dulu sebelum menikah, kami mengikuti katekisasi pra nikah di gereja. Materinya cukup banyak dari mulai masalah teologi, ekonomi, sampai kesehatan. Kami pernah menuliskan soal katekisasi dulu di sini. Dengan katekisasi itu, kami jadi merenungkan berbagai pertanyaan sebelum ada masalah.

Sebagian orang langsung menikah dan berprinsip: kita lihat nanti lah. Mungkin dari sekedar masalah tinggal di mana, sampai masalah jumlah anak. Sebagian orang bisa hidup seperti ini, sebagian mempertahankan pernikahan walau tak bahagia, dan sebagian akhirnya bercerai. Memang tidak ada jaminan bahwa jika pernikahan dimulai dengan baik akan berakhir dengan baik, tapi bagi yang belum menikah: cobalah memulai dengan baik agar perjalanannya lebih mudah.

Tidak lama setelah kami menikah, kami pindah ke Thailand. Ini menjadi tantangan baru bagi kami. Saya merasa bersyukur tidak langsung dikaruniai anak sehingga ada waktu bersama berdua saja. Ketika sudah dikaruniai anak, semuanya jadi lebih mudah.

foto tahun 2021

Sejak menikah kami membuat tradisi-tradisi kecil keluarga, seperti pergi makan sekeluarga di hari spesial. Sejak dulu kami suka honey toast icecream, tapi hari ini kami memutuskan membuat sendiri saja, mengingat beberapa minggu lalu cukup ada banyak kasus COVID di Chiang Mai, walau saat ini sudah dinyatakan bebas selama 2 minggu.

Ini foto tahun 2010

Saat ini saya merasa bahagia setiap hari bersama Risna, menghadapi hidup dengan rutinitas sederhana yang menyenangkan. Sekarang perjalanan kami berikutnya adalah mempersiapkan masa depan anak-anak sambil mempersiapkan hari tua kami. Kami berharap masa depan kami juga bisa dihadapi bersama penuh cinta.

MacBook Pro M1

Setelah membahas laptop Windows ARM64 dan Linux ARM64, sekarang saya ingin membahas laptop macoS ARM64. Perlu dicatat bahwa di semua platform, sekarang ini perkembangannya masih sangat cepat, ketika saya menulis tentang Surface Pro X Minggu lalu, sekarang sudah ada perubahan baru: sudah mendukung emulasi Intel 64 bit. Di sisi macOS, perkembangannya juga sangat cepat. Tulisan ini saya cicil selama beberapa hari dan hampir tiap hari ada update baru, jadi jika Anda baca artikel ini beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, mungkin hal-hal sudah berubah.

Di tulisan ini saya akan menggunakan istilah “Intel” untuk arsitektur Intel x86/Amd64. Saya akan menggunakan Mac M1 untuk mencakup semua produk Apple yang saat ini memakai M1 (MacBook Pro M1, MacBook Air M1, Mac Mini M1). Saya akan menuliskan “Prosessor M1” karena terdengar lebih enak, meskipun secara teknis ini bukan sekedar prosessor tapi SOC (system on a chip), yaitu prosessor dan berbagai device lain (memori, RAM dsb) masuk ke satu chip.

Lanjutkan membaca “MacBook Pro M1”

Pinebook Pro setahun kemudian

Saya sudah pernah membahas mengenai laptop Pinebook dan Pinebook pro sebelumnya, tapi saya ulangi sedikit: kedua benda ini adalah laptop open source dari Pine64. Mereka ini membuat berbagai hardware terbuka. Misalnya saya pernah membahas mengenai PinePhone, ponsel Linux. Fokus utama mereka adalah menyediakan hardware, dan membiarkan komunitas yang mengurus bagian softwarenya.

Lanjutkan membaca “Pinebook Pro setahun kemudian”

Upgrade SSD Surface Pro X

Surface Pro X adalah tablet/notebook dari Microsoft yang memakai prosessor dengan arsitektur ARM64 (versi yang saya miliki prosessornya adalah Microsoft SQ1). Berbeda dengan kebanyakan tablet lain, SSD Surface Pro X bisa diupgrade sendiri dengan mudah dan murah. Harga dasar resmi Surface X adalah 999 USD untuk versi RAM 8 GB dan SSD 128 GB, dan jika kita memilih kapasitas SSD 256 GB harganya jadi naik menjadi 1299 USD, padahal kita bisa membeli SSD pengganti dengan kapasitas 512 GB kurang dari 100 USD.

SSD lama 128 GB vs 512 GB

Perlu dicatat bahwa tidak semua seri Surface memakai prosessor dengan arsitektur ARM64 (saat ini hanya seri Surface Pro X). Selain itu perlu diperhatikan bahwa saat ini yang sangat mudah diganti SSD-nya juga hanya Surface Pro X.

Lanjutkan membaca “Upgrade SSD Surface Pro X”

Notifikasi Bel Rumah ke Telegram

Posting ini cuma cerita singkat tentang bel rumah wireless tanpa batere yang dihubungkan ke Telegram via Raspberry Pi. Risna sudah menulis bahwa sekarang kami memakai bel rumah wireless yang tanpa batere. Setelah beberapa bulan, ternyata bel rumah ini bekerja cukup baik. Smembeli dua receiver: satu yang berbunyi normal supaya bisa didengarkan siapa saja (misalnya ketika pembantu kami di rumah), dan satu lagi saya hubungkan ke Raspbery Pi yang akan memberi notifikasi ke telegram jika bel ditekan.

Isi receiver

Kenapa tidak sekalian membeli bel pintar seperti Ring? pertama: kami malas menambahkan kabel untuk catu daya ke pagar. Kedua: saya tidak ingin bergantung pada Amazon. Apalagi ketika membaca berita: Amazon down, bel pintu jadi tidak berfungsi, Ring juga tidak punya layanan resmi di sini, bagaimana jika ada recall seperti ini?. Lagipula yang kami butuhkan hanyalah pemberitahuan bahwa belnya berbunyi.

Lanjutkan membaca “Notifikasi Bel Rumah ke Telegram”

Review PinePhone: Smartphone Open Source

PinePhone merupakan smartphone open source, salah satu proyek hardware dari Pine64. Tidak seperti smartphone Android, PinePhone ini dapat menjalankan sistem operasi Linux murni, dengan berbagai pilihan distribusi (distro) seperti di desktop dengan pilihan berbagai shell/desktop environment.

Organisasi Pine64 membuat berbagai hardware open source yang saat ini meliputi: SBC (Single Board Computer), Laptop , Tablet, Smartphone, kamera security, Solder pintar, SmartWatch, dan beberapa hardware lain. Di posting ini saya hanya akan membahas PinePhone, dan kali lain saya akan membahas berbagai hardware lain dari Pine64 yang saya miliki.

PinePhone dengan OS KDE Plasma

Sebelum Anda kecewa membaca sampai akhir, kesimpulan saat ini: smartphone ini belum siap dipakai umum, tapi cocok untuk para hacker (orang yang suka ngoprek) baik hardware maupun software. Pinephone ini bukan satu-satunya smartphone open source yang ada saat ini, tapi ini yang paling murah (versi termurah: 149 USD) dan paling banyak pengembangnya. Proyek hardware open source lain adalah Librem 5 dari Purism tapi harganya beberapa kali lipat dari PinePhone (749 USD) dengan spesifikasi yang tidak beda jauh.

Lanjutkan membaca “Review PinePhone: Smartphone Open Source”